Cinderella of The Year

Author: Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye

Main Cast:

Kim Jaejoong

Jung Yunho

Support Cast:

Park Yoochun

Lee Hyukjae

Cho Kyuhyun

Yesung

Lee (Choi) Taemin

Kim (Choi) Jonghyun

Genre: Romance, Fluff, Drama

Warning: Genderswitch! for uke, typo(s), cerita pasaran, dll.

DON'T LIKE? DON'T READ THEN!

LIKE? ENJOY READING^^

.

.

.

"Ne, mohon tunggu sebentar." Jaejoong membungkuk lalu bergegas kembali ke dapur.

Tanpa Jaejoong sadari, seorang kakek berkacamata hitam tengah mengawasinya sedari tadi. Dia menyesap kopi hitam yang tadi dipesannya.

"Jung Yunho, eoh?" Bibir kakek itu melengkung membentuk senyuman misterius. "Sepertinya menarik."

.

.

CHAPTER 2

.

.

Tak sampai 10 menit Jaejoong kembali ke depan mengantar pesanan. Dilihatnya dua namja itu tengah berbincang-bincang santai. Perlahan, Jaejoong meletakkan secangkir Coffee Latte dan Cappucino di atas meja, membuat mereka berhenti dan menoleh.

"Ini pesanan anda, silahkan dinikmati," ucap Jaejoong sembari tersenyum ramah. Salah satu namja yang berambut hitam membalas senyumnya, sementara namja satunya lagi hanya menatapnya tanpa suara. Dia lalu mengamati cangkir kopi di depannya.

"Aku tidak suka warna putih. Ganti yang hitam," ujarnya dengan nada memerintah.

Eh?

Jaejoong mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya. Baru kali ini ada yang komplain mengenai cangkir. Orang ini pasti banyak maunya, pikir Jaejoong. Tapi bagaimanapun dia tetap pelanggan. Akhirnya Jaejoong hanya mengangguk.

"Ah, begitu. Baiklah akan saya ganti. Maaf sudah membuat anda tidak nyaman." Sekali lagi Jaejoong membungkuk, lalu membawa kembali nampan berisi Coffee Latte itu ke dapur. "Astaga, namja itu diam-diam menghanyutkan," gerutunya.

"Lho, Jae? Kenapa dibawa ke sini lagi?" tanya Yesung, sang barista, begitu melihat Jaejoong memasuki dapur dengan kopi racikannya. Jaejoong mengangkat bahunya.

"Orang itu minta cangkir hitam."

"Eh?"

Setelah Yesung dengan terheran-heran membuat ulang Coffee Latte di cangkir hitam lengkap dengan latte art berbentuk gajah(?), Jaejoong kembali mengantarkan kopi itu ke meja mereka.

Namja itu menatap Coffee Latte di depannya tanpa ekspresi, sebelum akhirnya sebuah cemoohan keluar dari mulutnya. "Apa ini? Gendut dan jelek begini... Kau pikir aku anak kecil yang suka gajah?! Ganti dengan hiasan yang abstrak!"

Jaejoong membulatkan matanya. Apa-apaan namja itu, berani sekali dia mengejek binatang kesayangannya! Tanpa sadar Jaejoong meremas erat nampan yang dipegangnya. Tak punya pilihan lain, lagi-lagi Jaejoong hanya mengangguk.

"Algesseumnida."

Setelah mengganti latte art di Coffee Latte sesuai dengan keinginan namja itu, Jaejoong kembali mengantarkannya.

"Aish, kau ini! Mana bisa aku minum kopi sepanas ini?!" protes namja itu begitu menyentuh cangkir kopinya. "Kau ingin membuat mulutku melepuh, eoh?"

Sekali lagi Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya. Bukannya yang namanya kopi memang panas? Lagipula tadi dia pegang tidak panas-panas amat, kok. Suhunya pas untuk diminum. Tanpa sadar Jaejoong menyuarakan pikirannya.

"Tidak begitu panas, kok. Bisa langsung diminum."

Namja itu menatap Jaejoong. "Kalau aku bilang panas berarti ya panas! Memangnya yang mau minum kau? Ganti yang lebih dingin!" perintahnya lagi.

Jaejoong hanya bengong mendengarnya. Astaga, ternyata orang ini memang banyak maunya. Akhirnya dengan berat hati Jaejoong kembali membawa Coffee Latte 'gagal' itu ke dapur, membuat sekarang tak hanya Yesung yang menatapnya heran, melainkan juga Eunhyuk yang tengah berada di sana. Ryeowook? Ah, yeoja itu tengah sibuk dengan pastanya.

"Gwenchana, Jae? Sedari tadi kuperhatikan sepertinya Yunho sunbae tidak puas." Eunhyuk menghampiri Jaejoong dengan wajah khawatir. Jaejoong mengernyitkan keningnya.

"Yunho sunbae?"

"Aish, jangan bilang kau tak mengenalnya!" Eunhyuk menatapnya gemas dan lebih gemas lagi ketika melihat Jaejoong memiringkan kepalanya bingung. "Jung Yunho sunbae, mahasiswa tingkat akhir yang terkenal di universitas kita! Dan yang bersamanya itu adalah sahabatnya, Park Yoochun sunbae. Keduanya ada di fakultas ekonomi jurusan bisnis," jelas Eunhyuk panjang lebar.

Jung Yunho? Ah! Jaejoong ingat sekarang. Bukankah dia namja kaya dan terkenal yang banyak diidolakan para yeoja di kampus itu? Pantas saja wajah mereka berdua tidak asing.

"Kau masih mau melayaninya? Biar aku atau Myungsoo saja yang menggantikanmu. Kudengar dia orangnya mengerikan. Dia pasti sedang menindasmu sekarang," bisik Eunhyuk. Jaejoong hanya mengibaskan tangannya.

"Gwenchana... Dia malah akan berpikir aku takut padanya kalau kau menggantikanku."

Usai membuat ulang Coffee Latte –yang membuat Yesung menggerutu sebal, Jaejoong dengan was-was meletakkan kembali Coffee Latte baru itu ke hadapan Yunho. Berdoa dalam hati semoga ini adalah terakhir kalinya dia meletakkan secangkir kopi di meja mereka. Tapi sepertinya harapannya tak terkabul.

Yunho mencicipi Coffee Latte barunya, lalu mencecap lidahnya. "Kau sedang mempermainkanku, ya? Kenapa pahit begini, hah?! Aku mau yang manis!"

Lalu...

"Hey! kau mendengarkanku tidak, sih? Ini masih kurang manis!"

Dan...

"Ck, kau ini! Yang ini terlalu manis! Kau mau membuatku terkena penyakit diabetes?!"

Tuk. Jaejoong kembali meletakkan cangkir –yang sudah sesuai pesanan ke meja Yunho. Senyum masih menghiasi wajahnya kendati dalam hati dia sudah menggeram kesal. Namja ini benar-benar menindasnya. Temannya yang ia kira ramahpun sama saja. Bukannya membantu dia malah pura-pura tak melihat dan sibuk dengan ponselnya.

"Jangan besok chagi, besok aku ada kencan dengan Yuri.. bagaimana kalau lusa? Hmm.. ne.. kau bisa membeli apapun yang kau mau.."

Playboy, eoh? Jaejoong berdecak pelan dan kembali memfokuskan diri pada Yunho.

Yunho mulai meneguk kopinya, tapi tidak lama karena kemudian namja itu mendongak dan menatapnya dengan tidak percaya.

"Heh, kau mau meracuniku ya?"

Jaejoong menatap Yunho bingung. "Ne?"

"Kau ini buta atau tidak punya mata, sih?! Sampai tidak bisa membedakan mana yang gula dan mana yang garam?! Ini asin!"

O.O

Mwo? Asin? Sungguh Jaejoong ingin melempar nampan di tangannya ke kepala namja yang katanya bernama Yunho ini. Bagaimana bisa dia melontarkan alasan konyol seperti itu? Tidak mungkin Yesung salah memasukkan garam, kan? Tanpa sadar Jaejoong ikut mencicipi Coffee Latte itu. Manis kok.

"Ya! Kenapa kau minum minumanku?!"

Omo! Jaejoong langsung sadar dan buru-buru meletakkan cangkir itu ke meja.

"Cheosonghamnida, cheosonghamnida," ujar Jaejoong sambil membungkuk berkali-kali. Paboya! umpatnya dalam hati.

"Aish, dasar! Cepat ganti yang baru!"

Sebelum bisa dicegah, Jaejoong berkata, "Maaf sebelumnya, tapi yang ini sudah manis dan sama sekali tidak asin."

Yunho menatapnya kesal. "Itu di lidahmu! Di lidahku ini asin! Aish, bisa tidak sih kau melayani pelanggan?!" bentaknya keras, membuat semua pengunjung melihat ke arah mereka. Aigo, ini memalukan.

"Ah, ne.. saya mengerti tuan," ucap Jaejoong mencoba bersikap sabar. Namja itu pikir dia akan kalah begitu saja?

Tapi kenyataannya...

Tuk. Untuk ke sepuluh kalinya Jaejoong meletakkan cangkir di atas meja Yunho. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang dan para pelanggan mulai berdatangan. Kikwang sedang mengecek pesanan kopi di gudang, menyisakan Eunhyuk dan Myungsoo yang berlarian kesana-kemari melayani pelanggan. Kasihan mereka berdua, mereka tampak kewalahan.

Jaejoong menghela nafas. Sementara dia? Terjebak dengan pelanggan cerewet ini!

"Heh, kenapa kau berwajah masam seperti itu?" tanya Yunho, dia meletakkan kembali Coffee Latte yang hendak diminumnya. "Aish, kau membuatku jadi tidak berselera. Aku berubah pikiran, aku mau Mocca Blend saja," katanya dengan nada menyebalkan. "Dan ingat, jangan berwajah seperti itu jika sedang mengantarkan pesananku karena itu bisa mempengaruhi mood-ku, arra?"

"Ne." Jaejoong hanya bisa mengangguk. Tak lama dia kembali lagi dengan membawa secangkir Mocca Blend.

"Kalau sudah tidak ada yang tuan perlukan, saya permisi dulu. Saya masih harus melayani pelanggan lain," ujar Jaejoong akhirnya memberanikan diri.

Mata sipit Yunho membulat.

"Mwo? Melayaniku saja tidak becus masih mau melayani orang lain?!" serunya keras. Membuat para pelanggan lagi-lagi menoleh ke arah mereka. Aish, Jaejoong sungguh berharap bumi menelannya sekarang juga.

Jaejoong balas menatap Yunho dengan tenang, berusaha tidak menunjukkan gurat-gurat ketakutan. Dan sepertinya itu membuat Yunho makin kesal.

"Aish! Cafe ini benar-benar... katanya cafe terbagus disini. Tapi ternyata kualitas dan pegawainya sama saja! Ayo Chun!" Yunho meletakkan beberapa lembar uang ke meja dengan kasar lalu pergi begitu saja.

Yoochun hanya melemparkan senyum minta maaf pada Jaejoong sebelum akhirnya menyusul Yunho.

.

..GJ..

.

"Noona, kau mendengarku?"

Jaejoong tersentak ketika sebuah tangan melambai-lambai di depan wajahnya. Dia tampak seperti orang linglung sebelum kemudian menatap namja di hadapannya sambil tersenyum garing. "Hehe.. kau bicara apa?"

"Ck, apa yang kau lamunkan, eoh? Jangan bilang kau sedang melamunkan aku," ujar namja itu narsis. Jaejoong yang gemas segera menjitak kepalanya.

"Dalam mimpimu Tuan Cho Kyuhyun yang terhormat."

Jaejoong melirik Kyuhyun yang cemberut lalu terkekeh. Dia tahu diam-diam Kyuhyun memang menyukainya. Tapi tentu saja perasaannya tidak akan dianggap serius olehnya. Apa yang bisa kau harapkan dari bocah ingusan yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP? Bahkan dia sempat tertawa keras ketika Kyuhyun menyatakan perasaan padanya beberapa bulan lalu.

Aish, ingat itu membuat Jaejoong ingin tertawa lagi.

"Jelaskan soal nomor 5 ini noona, aku tidak mengerti."

Jaejoong melihat soal yang ditunjukkan Kyuhyun lalu mulai menjelaskan cara menjawabnya perlahan. Yah, beginilah pekerjaan part time-nya yang lain, menjadi guru les privat Bahasa Inggris seorang Cho Kyuhyun. Bisa dibilang kemampuan Bahasa Inggris Kyuhyun sangat parah, itulah sebabnya Jungsoo ahjumma –ibu Kyuhyun, memintanya untuk mengajari putra satu-satunya itu.

Jaejoong mengajar tiga kali seminggu, tiap hari Rabu, Sabtu dan Minggu pukul 7 sampai 9 malam. Gajinya pun lumayan besar, cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar sewa apartemen jika ditambah dengan penghasilan dari cafe.

Ah, ngomong-ngomong soal cafe dia jadi ingat namja menyebalkan itu. Beruntung Lee Seung Gi oppa –manajer cafe mereka adalah orang baik dan pengertian, ditambah lagi dia terlambat datang tadi hingga melewatkan kejadian dimana Yunho menistakan dirinya. Bagaimana jika tidak? Mungkin dia sudah dipecat karena membuat pelanggan marah. Grrr.. Dia bersumpah akan memukul kepala Yunho dengan PSP Kyuhyun(?) apabila Tuhan mempertemukan mereka lagi.

Tanpa sadar Jaejoong menekan bolpoinnya terlalu keras, membuatnya menancap di permukaan buku milik Kyuhyun. Kyuhyun yang melihat itu hanya mengernyit.

"Noona, gwenchanayo?"

"Gwenchana," jawab Jaejoong singkat. Segera dihapusnya bayang-bayang Yunho dari pikirannya. "Sampai dimana kita tadi, Kyu?"

"Err.. Past Perfect Tense?"

"Ah, ya..."

Mereka lalu melanjutkan belajar mereka dengan lebih serius. Bahkan Jungsoo ahjumma yang masuk membawakan minuman dan cemilan hanya ditanggapi singkat oleh mereka.

Jam menunjukan pukul 9 malam ketika Jaejoong bersiap-siap untuk pulang. Tapi sebelum dirinya membuka pintu kamar Kyuhyun, remaja maniak games itu menyodorkan buku paket ke hadapannya.

"Tolong kerjakan untukku, noona~" mohonnya dengan puppy eyes.

Jaejoong memutar bola matanya dan menatap Kyuhyun malas. "Dan membuatku begadang seperti kemarin malam lagi? BIG NO, Cho Kyuhyun. Itu PRmu jadi kerjakan sendiri!"

Kyuhyun terdiam sebelum akhirnya menyeringai evil. "Kau serius, noona?"

Jaejoong membelalakkan matanya saat melihat Kyuhyun mengambil sesuatu dari saku celananya. Ponselnya! Matanya tambah membulat saat namja bermarga Cho itu dengan santai melambai-lambaikan benda itu di atas akuarium mini miliknya.

"CHO KYUHYUN!"

.

..GJ..

.

"Hoaammmm~"

Jaejoong menguap lebar sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya. Kedua tangannya lalu mengucek-ngucek matanya serta menggaruk-garuk rambutnya yang acak-acakkan. Dia meraih alarm yang meraung-raung di meja nakas dan mematikannya.

Diliriknya sekilas jam itu. Hm, jam 6 pagi? Dia sendiri ada kuliah jam 10 nanti. Ah, masih ada waktu untuk bersantai-santai sedikit. Hari ini dia hanya ada satu mata kuliah dilanjutkan dengan shift siang dan malam di cafe.

Jaejoong bangkit dari single bed miliknya dan melakukan rutinitas bangun tidurnya –buang air kecil, sikat gigi dan cuci muka. Setelah itu dia menyalakan TV dan bergegas ke dapur membuat sarapan. Sepertinya dua potong sandwich cukup untuk mengganjal perutnya pagi ini. Ditambah segelas susu hangat.

Masih dengan pakaian tidur seksinya –hot pants dan tank top, Jaejoong duduk manis di depan TV menikmati sarapannya. Doe eyes-nya meredup kala melihat iklan komersial tentang sebuah tempat wisata keluarga. Tampak di layar kaca sebuah keluarga harmonis yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak mereka.

Tanpa terasa Jaejoong mengeratkan pegangannya pada gelas susu di tangannya. Wajahnya menunduk.

'Keluarga, eoh?' batinnya miris.

Dia tidak punya keluarga. Dirinya dibesarkan di panti asuhan sejak usianya 2 tahun. Dia tidak tahu siapa orangtua maupun kerabatnya. Dia tidak ingat apa-apa. Mungkin karena waktu itu ia memang masih sangat kecil.

Nama Kim Jaejoong yang disandangnya sekarang pun merupakan nama pemberian dari ibu kepala panti. Pernah dia bertanya bagaimana dia bisa berakhir di panti asuhan dan wanita tua itu menjawab mereka menemukan dirinya dalam keadaan sekarat di tepi sungai Han. Mereka menduga bahwa dia hanyut dan suatu keajaiban bahwa dirinya tak meninggal.

Sejak saat itu dia berpikir, mungkinkah orangtuanya yang membuangnya ke sungai? Tapi, kenapa?

Dia tidak dapat menemukan alasannya.

Dia hanya bersyukur dirinya dapat ditemukan dan diselamatkan oleh orang yang benar. Bersyukur karena dia diberi kesempatan untuk berteman dan bersekolah layaknya anak-anak lain. Hingga akhirnya lulus dari SMA, ia keluar dari panti asuhan dan mencoba hidup mandiri. Berbekal uang tabungan –hasil kerja part time selama SMA dan uang saku dari panti, dia menyewa sebuah apartemen kecil murah yang dekat dengan kampusnya.

Yah, terimakasih pada otak briliannya yang membuatnya selalu memperoleh beasiswa dari semenjak SMP hingga dirinya menginjak bangku kuliah seperti sekarang. Dia mengambil program studi Seni Theater di salah satu universitas bergengsi di Korea Selatan, Kyunghee University. Dia ingin sekali menjadi aktris musikal. Sekarang adalah semester keempatnya.

Ah, cukup membicarakan dirinya dan nasibnya yang tidak beruntung itu.

Jaejoong menghabiskan sarapannya dengan cepat, mencuci piring dan gelas bekasnya lalu kembali ke kamar. Matanya menyipit melihat jendela yang masih tertutup. Ck, dia bahkan lupa membuka jendela kamarnya. Dengan langkah terseret-seret dia membuka jendela itu.

Lagi-lagi matanya menyipit melihat pemandangan di bawahnya. Sepertinya dia harus memeriksakan matanya ke dokter setelah ini. Bagaimana tidak, dia melihat sebuah limousine terparkir dengan anggunnya di jalanan depan gedung apartemen kecilnya. Belum lagi mobil sedan hitam mengkilat yang berada di depan dan belakang limousine itu bak seorang penjaga.

"Apa ada kunjungan Presiden?" gumamnya konyol. Dia lalu mengangkat bahunya, memutuskan untuk tidak peduli. Lebih baik dia berganti baju dan bersepeda di luar.

Belum sempat Jaejoong beranjak ke lemari, seseorang mengetuk pintu apartemennya.

"Eh? Siapa pagi-pagi kesini? Apa Taemin ahjumma?"

Taemin ahjumma memang terkadang mengantar sarapan ke apartemennya. Tak ingin membuat ahjumma kesayangannya itu lama menunggu, Jaejoong bergegas ke depan membukakan pintu. Tapi betapa terkejutnya dia saat tidak mendapati seorang yeoja cantik paruh baya di depan pintunya melainkan sekumpulan orang berjas hitam yang sama sekali tak ia kenal.

Jaejoong menelan ludahnya gugup. Seingatnya dia tidak pernah berurusan dengan rentenir dan sejenisnya. Lalu, siapa mereka?

"Ng.. n-nu-nuguseoyo?" tanyanya memberanikan diri. Mereka membungkuk.

"Maaf jika menganggu pagi anda, nona. Tapi kami diperintahkan Presdir untuk menjemput nona sekarang."

"P-presdir?" ulang Jaejoong berharap telinganya tidak salah dengar. Tapi sepertinya tidak karena salah satu diantara mereka mengangguk membenarkan. Jaejoong mengernyit bingung.

"M-mianhae, sepertinya kalian salah orang, aku tidak pernah mengenal presdir kal-yah! Apa-apaan ini!"

Jaejoong berteriak kaget dan tidak sempat menghindar ketika orang-orang itu dengan sigap mengunci kedua tangannya dan membawanya pergi.

"Kyaa! Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan aku!" Jaejoong mencoba memberontak tapi tentu saja tenaganya kalah telak dengan dua orang pria kekar di kanan kirinya. Panik dan takut mulai menjalarinya saat mereka tetap menggiringnya pergi. Omo, salah apa dia, ya Tuhan?

"Lepaskan! Ya siapapun tolong aku!"

Brak. Sebuah pintu terbuka. Tampak pasangan ibu dan anak yang terbengong-bengong melihat pemandangan di depannya. Tapi tak lama karena kemudian wajah mereka berubah menjadi shock.

"Omo, Joongie!"

"Jae noona!"

"Ahjumma! Jonghyun! Tolong akuuu!"

"Noona!" Bak pahlawan kesiangan Jonghyun berusaha menerobos barikade pria-pria berjas hitam itu, namun gagal karena salah satu dari mereka dengan cepat menahan Jonghyun dan menarik namja berseragam SMA itu menjauh.

"Jangan bawa noona-ku pergi!"

"Nae dongsaeng!" Jaejoong menatap Jonghyun penuh harap.

"Setidaknya bisakah kalian membiarkannya berganti pakaian dulu?! Pakaianmu terlalu seksi, noona!"

Mwo?

"CHOI JONGHYUN!"

Astaga, kenapa namja di sekitarnya tidak ada yang benar?

.

.

.

To be continue...

Hehe..

ottoke chingu? ada yg bisa menebak ceritanya?

dan bagaimana menurut kalian chap ini? udah dua bulan ga nulis jadi gugup

maaf lama *kebiasaan*, aku harap kalian masih ingat fic ini. kalo lupa baca chap 1nya lagi ne :)