Rated: T

Genre: Drama, Romance

SasuSaku

Disclaimer: Masashi Kishimoto

"Sebenarnya apa yang lo rencanain sih bang?" tanya Sasuke pada Itachi. Sementara itu Itachi hanya tersenyum penuh arti.

"Apa ya?"

"Ck.. udahlah. Gue mau tidur dulu. Jangan ganggu gue, oke?" kata Sasuke datar. Lalu beranjak dari tempat duduknya menuju kamarnya.

.

.

"Saku.. Sakura," bisik Ino. Ia berusaha membangunkan Sakura yang masih lelap tertidur .

"Sakura… bangun," bisiknya lagi. Kini Ino mulai menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya itu.

"Hn.."

Brak!

Sontak hal itu membuat Sakura terbangun karena kaget. Dilihatnya Sizune sensei sudah berdiri di hadapannya. Terlihat pula wajah kesalnya itu.

"Haruno, sampai kapan kau akan terus tidur hah? Ini kelas, bukan hotel. Cepat sana kerjakan soal di papan tulis!"

Hal itu membuat anak-anak lain tertawa. Sedangkan Sakura sendiri hanya bisa berdecak kesal. Untunglah otak Sakura 'encer'. Jadi dia bisa mengerjakan soal-soal itu dengan mudah. Setelah selesai mengerjakan soal, Sakura kembali ke tempat duduknya.

"Kenapa tadi lo ngga bangunin gue sih?," bisik Sakura pada Ino.

"Yeee.. udah tau. Lo nya aja tidur kayak kebo."

"Bangunin apaan? Ngga berasa ah."

"Lagian tumben-tumbennya lu tidur di sekolah. Ada masalah ya?"

"Hah? Semalem gue ngga bisa tidur. Gara-gara Sasuke."

"Kenapa lagi dia?"

"Itu.. kemaren…"

"Haruno! Yamanaka! Kita ini sedang belajar kimia! Bukannya belajar nge-gosip. Cepat sana berdiri di luar kelas sampai bel pergantian pelajaran!"

Anak-anak kembali menertawai mereka berdua. Dengan langkah gontai, mereka segera berdiri di luar kelas.

.

.

"Aih.. sampai kapan mereka mau mengerubungi dia?" kata Sakura dengan wajah kesalnya.

"Biarin aja napa. Suka-suka mereka," kata Ino sambil mengunyah bekal makan siang nya.

"Apa gantengnya dia sih? Heran deh."

"Sakuraaa chan~" panggil seseorang dengan riangnya. Ia tak lain adalah Naruto.

"Sakura, hari ini aku bawa double sandwich loh. Mau ngga?" kata Naruto seraya menyodorkan bekalnya.

"Boleh nih?" tanya Sakura.

"Apa sih yang ngga boleh buat Sakura chan?" rayu Naruto.

"Heh, Naruto. Lo kan udah punya Hinata. Ngapain ngerayu-rayu Sakura lagi?" kata Ino jengkel. Ia masih mengunyah makanannya.

"Hahahaha ya ngga lah. Kita kan sahabat, yak an Sakura?" kata Naruto yang secara tiba-tiba memeluk Sakura.

"Naruto, lepaskan."

"Aduh, maaf ya. Aku lupa diri. Aku pergi dulu ya. Mau ketemu Hinata chan nih. Dahhh Sakura chan," kata Naruto sambil melambaikan tangannya pada Sakura.

"Dia udah ngga waras," kata Ino sambil menatap kepergian Naruto.

"Hahahaha biarkan saja. Dia emang gitu kan?"

"Eh eh, lo nyadar ngga sih? Dari tadi Sasuke kan ngeliat kesini tau."

"Ngelatin elo kali," kata Sakura cuek.

"Kalo ngeliatin gue, pasti kita tatapan langsung. Tapi ini ngga. Berarti dia ngeliatin elo," kata Ino heboh.

"Mana sih man…." Sakura terdiam. Kini matanya dan mata Sasuke bertemu. Mata yang dingin. Tapi entah kenapa Sakura merasa, di balik tatapan yang dingin itu ada kelembutan yang tersembunyi. Sakura kembali sadar dari lamunannya dan segera membuang muka.

"Mmm.. balik ke kelas yuk," kata Sakura gelagapan.

"Dih.. kenap.. woi tungguin gue," kata Ino lalu ia segera mengejar Sakura yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya.


"Aishh.. apa yang sebenernya gue pikirin sih? Kemarin di sekolah. Kemarinnya lagi di resto. Kenapa gue gelagapan tiap ngeliatin Sasuke? Dia aja nyantai-nyantai aja tuh. Akhhh!," teriak Sakura frustasi. Ia menjambak rambutnya dan sesekali menepuk-nepuk pipinya yang tembam itu.

Tok Tok

"Sakura, kau kenapa?," tanya Ibu dari luar.

"Ah.. ngga kok bu. Ngga kenapa-napa."

"Beneran ngga apa-apa?" tanya ibu dengan nada yang masih khawatir.

"Ngga apa-apa bu. Beneran deh."

"Ya udah, ibu tinggal ya."

Sunyi

Dert Dert

"Lagi ngapain? –Sasuke-"

"Sasuke?"

"Ngga lagi ngapa-ngapain," jawab Sakura.

"Hn."

Dert Dert

"Hari ini ada acara ngga?" tanyanya lagi.

"Ngga kok. Kenapa?"

"Mau jalan?"

Sakura kaget membaca sms terakhir Sasuke. Dia tak tahu harus merasa senang atau kesal karena mengganggu Minggu paginya ini.

"Mmm.. boleh deh."

Send.

.

.

Dan di sinilah Sakura. Di tengah keramaian taman bermain dan orang-orang yang berlalu-lalang. Sakura mengenakan kaos berwana putih dengan gambar Winnie the Pooh di tengahnya dan rok renda pink muda, yang sedikit di atas lutut. Ia juga memakai rompi warna pink muda serta topi kesukaannya.

10 menit

15 menit

30 menit

Muncullah seorang cowo berambut raven dengan mata yang dapat membuat semua wanita terpukau. Ia hanya memakai kaos biru dan jeans. Sakura menghela nafasnya pelan.

"Maaf nunggu lama."

"Sudahlah. Lupakan saja," kata Sakura acuh. Ia berjalan di depan Sasuke. Pandangannya lurus ke depan. Sementara itu Sasuke hanya menatap punggung gadis itu dari belakang.

"Kita mau naik apa?" tanya Sakura dengan wajah seolah tak terjadi apa-apa.

"Terserah."

"Jangan terserah dong. Kita kan disini mau have fun."

Sasuke masih saja terdiam. Sementara Sakura sudah tak sabar menunggu jawaban dari Sasuke.

"Perang bintang?" kata Sasuke yang akhirnya membuka mulut.

"Yuk!"

Arena perang bintang sudah penuh oleh para pengunjung. Mereka pun mengantri. Tak ada perbincangan yang keluar dari mulut mereka. Bahkan Sakura malah mengobrol dengan anak kecil yang baris di depannya. Tibalah giliran mereka menaiki semacam perahu.

"Ayo kita lomba. Siapa yang dapet skor terbanyak dia yang menang ya," kata Sakura.

"Hn."

Mereka pun bersiap-siap dengan senjata masing-masing. Sakura terlihat senang, padahal hatinya berkata sebaliknya. Selama permainan pun mereka tidak bicara satu sama lain. Hanya sesekali Sakura berteriak heboh karena berhasil menembak alien bertubuh besar. Sementara Sasuke? Ia hanya bisa menatap datar. Dan hanya menanggapi perkataan Sakura dengan "Hn."

Setelah itu mereka naik wahana lainnya. Seperti arum jeram, pontang-ponting, kora-kora, roller coster, dan wahana lainnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam. Sebagai penutup, mereka menaiki bianglala.

"Indah ya," kata Sakura yang masih takjub memandangi pemandangan malam dari atas.

"…"

"Laut nya bagus banget."

"…"

"Sakura, boleh tanya sesuatu," kata Sasuke.

"Apa?"

"Kenapa lo setuju dengan perjodohan ini?"

"… gue ngga pernah bilang setuju, ataupun menolak."

"Terus?"

"Terus apa?"

"Kenapa lo mau jalan sama gue?"

"Apa salah kalo gue jalan sama elo?"

"Ngga sih."

Suasana kembali hening. Waktu mereka sudah habis menaiki wahana itu. Mereka pun berjalan pulang. Selama perjalan pulang pun tak ada satu pun yang mencoba mencairkan suasana. Semua nya terdiam. Semua nya sunyi. Akhirnya mereka tiba di depan rumah Sakura.

"Makasih buat hari ini," kata Sakura sambil melemparkan senyum manis nya. Sasuke terpana melihatnya.

"Lo mau tau alasan gue mau jalan sama elo? Itu karena, gue pikir ngga ada salahnya mencoba. Tapi yang gue lihat, Cuma ada keterpaksaan di muka lo. Udah ya, gue masuk dulu."

Sasuke tidak mampu berkata-kata. Ia hanya terdiam. Mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Sakura. Dan saat ia ingin menjawab perkataan Sakura, cewek itu sudah masuk ke rumahnya. Ia pun mengurungkan niatnya.

.

.

"Gimana? Sukses ngga?" tanya Itachi yang sudah menunggu kepulangan Sasuke di teras rumah. Sasuke hanya terdiam. Menatap datar kakak lelakinya ini.

Itachi hanya bisa menghela nafas panjang. "Sasuke, harusnya lo bisa lebih manis sama cewek. Sampai kapan lo mau begini?"

"Ngga usah ikut campur urusan gue bang," kata Sasuke datar. Lalu segera berjalan pergi menuju kamarnya.

"Gue emang bodoh," kata Sasuke pelan. Ia kini sudah merebahkan tubuhnya pada kasur empuk.

"Maaf ya Sakura, gue emang bodoh."

.

.

"Gue tau ini ngga bakal berhasil," kata Sakura pelan. Ia hanya bisa menutupi wajahnya dengan bantal. Sakura terisak.

"Gue emang bodoh. Sebenernya, apa yang gue harapin?"


Sudah beberapa hari ini Sakura tidak berbicara dengan Sasuke. Jangankan secara langsung, smsan saja tidak. Hari ini sekolah mereka akan melakukan wisata alam. Mereka akan belajar cara bertahan hidup di hutan.

Sakura sudah mempersiapkan semuanya. Pakaian ganti, makanan ringan, mi instan, termos, obat-obatan + P3K, dan peralatan lainnya. Mereka berangkat dari sekolah pukul setengah 7 pagi. Setibanya disana, mereka langsung mebuat tenda dan merapikan peralatan. Lalu mereka dibagi menjadi beberapa kelompok.

"Baik selamat pagi semua."

"Selamat pagi sensei."

"Yak, hari ini kita akan belajar cara bertahan hidup di hutan. Kalian akan melakukan ekspedisi di hutan buatan ini, dan mencari harta karun yang disembunyikan," kata Kakashi sensei.

"Duit ya sensei?" celetuk Kiba. Sontak hal itu membuat anak-anak yang lain tertawa.

"Kau ini. Bukan, itu bukan berbentuk uang. Tapi yang pasti itu benda berharga yang dapat kalian bawa pulang, bagi yang menemukan. Ada 3 peti yang disebar di hutan ini. Tiap kelompok akan mendapat peta menuju tempat harta karun. Yang pastinya melewati jalan yang berbeda pula. Nah sensei akan menyebutkan pembagian kelompoknya. Kelompok pertama: Naruto, Tenten, Neji, dan Hinata."

"Yess! Gue sekelompok sama bebeb Hinataaaa~" kata Naruto. Tiba-tiba Neji menjitak kepala Naruto.

"Jangan coba-coba ya."

"Ampun kakak ipar"

"Hahahahahaha," tawa anak-anak yang lain.

"Kelompok kedua: Sasuke, Ino, Sai, dan Sakura."

"Kita sekelompok!" kata Ino histeris.

"Iyee bawel," kata Sakura datar. Pandangannnya tertuju pada Sasuke.

"Kelompok selanjutnya…"

Setelah semua kelompok dibagi, mereka pun berbaris berdasarkan kelompok masing-masing.

"Sakura sini," tarik Ino. Ia menempatkan Sakura di belakang Sasuke. Sasuke berdiri paling depan, karena Sasuke merupakan ketua kelompok. Sasuke hanya melirik sedikit ke arah Sakura yang kini sudah tepat berada di belakangnya. Sementara Sakura sendiri pura-pura tak menyadari tatapan Sasuke.

"Ayo berangkat!" kata Ino dan Sakura bersemangat. Sakura berusaha tak mengindahkan keberadaan Sasuke.

Kelompok 2 pun segera menyusuri hutan. Sasuke yang memegang peta, sementara yang lainnya memperhatikan jalan. Siapa tau mereka menemukan pita biru. Pita biru merupakan clue sebagai penunjuk jalan.

"Utara," kata Sasuke memberi perintah.

Dengan sigap Sai langsung melihat kompasnya dan menunjuk arah yang harus dituju.

"Lihat! Ada clue disitu," seru Sakura. Ia segera menghampiri pita biru yang menggantung di pohon. Pita itu melilit sebuah kertas.

"Jalan terus ke utara sampai menemukan pita biru lainnya. Temukanlah serat yang lebih kuat dari baja. Dia punya 8 kaki," ucap Sakura yang sedang membaca kertas itu.

"Serat yang lebih kuat dari baja? Apa itu?" tanya Ino.

"Entahlah. Yang pasti sekarang kita harus ke utara."

"Lewat sini," kata Sasuke.

Rupanya mereka berjalan cukup jauh. Mereka semua cukup kelelahan.

"Masih jauh ya? Gue udah ngga kuat," kata Ino.

"Ayo Ino, bertahanlah. Sebentar lagi," kata Sakura memberi semangat.

"Gue ngga ku.. auw!" rintih Ino.

"Kenapa?" tanya Sai menghampiri.

"Ya ampun Ino, kaki lo lecet gini," kata Sakura. Lalu ia segera membuka kotak obatnya dan meneteskan obat merah pada kaki Ino.

"Lo ngga pernah jalan sih," ledek Sai.

"Ish.. apaan sih," kata Ino jengkel.

Sakura hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua. Kemudian Sakura menghampiri Sasuke yang masih terliat serius melihat petanya.

"Sasuke, kita istirahat sebentar disini dulu ya," kata Sakura. "Kasian Ino."

Sasuke mengannguk dan segera menghampiri Ino dan Sai yang kini sudah duduk di dedaunan. Setelah merasa kuat untuk berjalan lagi, mereka ber 4 kembali meneruskan perjalanan mereka.

"Ini dia pita biru nya," kata Sai sambil menunjuk pita biru yang menempel di pohon.

"Ngga ada tali?" tanya Ino heran.

"Tunggu, serat yang lebih kuat dari baja dan 8 kaki. Mungkin hewan?" kata Sakura.

"Monster?" kata Ino pelan.

"Hahahaha dasar baka! Mana ada monster," kata Sai sambil tertawa puas.

"Laba-laba?" kata Sasuke.

"Ya! Jaring laba-laba! Ayo kita cari, mungkin ada di sekitar sini," kata Sakura. Ia mulai mencari ke sekeliling. Tapi ia tak menemukan apapun.

"Itu dia!" kata Ino tiba-tiba. Ia menunjuk sarang laba-laba yang tergantung di batang pohon, komplit dengan gulungan kertas berikutnya.

Sasuke dan Sai bekerja sama untuk mengambil gulungan itu. Setelah berhasil mengambilnya, mereka membuka kertas itu. Isinya ada liontin berbentuk kupu-kupu.

"Liontin?" kata Sasuke bingung.

"Coba kita ikuti peta lagi," kata Sai.

Mereka kembali melanjutkan perjalan. Berbekal peta dan kompas, mereka mencari pita biru yang menempel pada batang pohon. Kemudian mengikuti arah pita itu.

"Ino, apa kaki lo masih sakit?" tanya Sakura pada Ino. Tapi tak ada jawaban.

"Ino?" tanya nya lagi. Ia menoleh ke belakang, tapi tak menemukan Ino maupun Sai.

"Sasuke! Gimana ini? Ino sama Sai hilang!" kata Sakura bingung.

Sasuke segera menoleh ke belakang, dan benar saja. Mereka berdua tidak ada.

"Oke, kita tenang dulu. Mereka pasti bakal ketemu. Dan mereka pasti baik-baik aja," kata Sasuke menenangkan.

"Tapi.. tapi," kata Sakura dengan nada yang semakin khawatir. Ia sangat takut akan keadaan Sahabatnya itu. Sasuke segera menggenggam tangan Sakura. Sakura kaget, tapi membiarkan tangannya di genggam oleh Sasuke. Tangan Sasuke begitu besar dan hangat. Seakan-akan rasa takutnya hilang begitu saja. Hanya kehangatan yang terpancar dari tangan Sasuke.

"Tenang saja, kita pasti menemukan mereka. Gue janji."

.

.

.

To Be Continued

Aishh~ perjalanan panjang mencari inspirasi. Akhirnya selesai juga chapter 2 :D ditunggu lanjutannya yaaa. Selamat membacaaa & jangan lupa di review. Makasih semua ^o^