Seoul, Korea Selatan

"Akhirnya kaujawab juga teleponmu. Aku sudah mencoba menghubungimu berkali-kali selama tiga hari terakhir."

"Spring in London"

Jaehyun x Taeyong

Spring in London © Ilana Tan

NCT U & SM Rookies © SM Entertainmet

.

.

.

Kata-kata itu menerjang gendang telinga Jung Jaehyun bahkan sebelum ia sempat berkata "Halo". Ia bahkan juga belum sempat benar-benar menempelkan ponselnya ke telinga. Mengenali suara sahabatnya di ujung sana, Jaehyun terkekeh pelan. "Taeil Hyung, aku tahu kau rindu padaku, tapi tolong kecilkan sedikit suaramu. Aku tidak mau orang-orang mengira kita pacaran atau semacamnya."

Moon Taeil tertawa hambar, "Lucu sekali, Jae-ah," katanya datar.

Jaehyun berdiri menghadap kaca jendela besar di kantor itu, menatap jalanan Apgujeong-dong di bawah sana. Jalanan cukup ramai, orang-orang dalam balutan jaket tebal beraneka warna berjalan di sepanjang trotoar dan mobil-mobil berseliweran di jalan raya. Pemandangan yang sangat biasa. Pemandangan sehari-hari yang sering kali diabaikan kebanyakan orang. Namun Jaehyun menyukainya. Ia suka mengamati keadaan di sekitarnya, setiap pejalan kaki dan setiap mobil yang lewat.

"Sebenarnya aku tahu jika kau meneleponku," kata Jaehyun ringan, "Dan aku minta maaf karena tidak sempat membalas teleponmu. Kau sendiri penyanyi terkenal, jadi kau tentu tahu bagaimana rasanya saat jadwal kerjamu begitu padat sampai kau bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Aku harus berangkat ke London minggu depan, jadi semua pekerjaanku di sini harus selesai sebelum itu."

"Aku tahu kau mau pergi ke London," sela Taeil. "Karena itulah aku meneleponmu, Jae-ah. Aku butuh bantuan."

"Tentu, Hyung," sahut Jaehyun tanpa ragu, "Katakan saja."

"Aku ingin kau tampil dalam video musikku."

"Video musikmu?"

"Syutingnya akan di lakukan di London. Kau tahu siapa yang sudah setuju menjadi sutradaranya, Hyung?" Tanpa menunggu jawaban, Soonyoung melanjutkan, "Kim Jongin. Dan karena aku tahu kau akan pergi ke London untuk bekerja dengannya, kupikir kami tidak perlu mencari model pria lagi. Kau model pria yang sempurna, Jae. Bagaimana menurutmu?"

Seungcheol mendesah, pura-pura pasrah. "Apakah aku punya pilihan lain, Hyung?"

"Tidak," kata Taeil sambil tertawa. "Oke. Berarti kita sudah sepakat. Oh ya, Jae, asal kau tahu, wajahmu tidak akan terlihat sepanjang video musik itu. Hanya model wanitanya yang akan disorot."

Alis Jaehyun terangkat. "Apa? Kenapa?"

"Secara pribadi, menurutku kau terlalu tampan untuk video musikku," gurau Taeil. "Tapi tenanglah, walau pun hanya punggungmu atau bagian belakang kepalamu yang terlihat, seluruh Korea akan tahu bahwa Jung Jaehyun yang membintangi video musik Moon Taeil. Kalau kau keberatan, silahkan bicarakan dengan Jongin Hyung. Dia yang membuat konsep video musiknya."

Jaehyun kembali mendesah berlebihan, namun mulutnya mengulum senyum. "Taeil Hyung, aku ini orang sibuk, baik di sini mau pun di London nanti. Jadi katakan padaku, kenapa aku harus meluangkan waktuku yang berharga untuk tampil dalam video musikmu kalau wajahku tidak terlihat?"

Mengabaikan pertanyaan Jaehyun, Taeil malah balas bertanya, "Sibuk? Maksudmu sibuk pacaran?" Lalu ia terkekeh. "Kapan kau akan mengenalkan pacarmu kepadaku, Jae-ah?"

Alis Jaehyun terangkat heran. "Apa maksudmu? Pacar apa?"

"Gadis yang kulihat keluar dari restoran di Gangnam bersamamu kemarin malam. Apakah gadis itu yang membuatmu sibuk akhir-akhir ini?"

Sepasang mata Jaehyun menyipit begitu teringat kejadian kemarin malam. Dan beberapa kejadian sebelum kejadian kemarin malam. "Dia bukan pacarku."

"Oh, yang benar saja."

"Dia… bukan… pacarku," ulang Jaehyun, menekankan setiap kata.

"Lagi pula apa-apaan ini? Kau sudah beralih profesi menjadi wartawan atau apa?"

Taeil tertawa. "Hei, aku hanya bertanya."

Saat itu pintu kantor terbuka dan Jaehyun berbalik. Matanya terarah pada wanita bertubuh langsing dan berambut pendek yang berdiri di ambang pintu dan menatap dirinya dengan alis terangkat. Jaehyun yakin jika kakak perempuannya heran ia muncul di sini tanpa pemberitahuan. Ia mengangkat sebelah tangan tanpa suara menyapa kakaknya dan mengulas senyum singkat. Senyum yang sudah membuat banyak gadis penggemarnya luluh lantah.

"Aku harus pergi sekarang. Nanti kita bicara lagi," kata Jaehyun di ponsel. Tanpa menunggu jawaban dari Taeil, ia menutup ponsel dan menjejalkan benda itu ke saku celana jinsnya, lalu ia berpaling ke arah kakaknya. "Nuna harus bicara dengan Ibu," katanya langsung tanpa basa-basi.

Jung Jaehwan, yang sedang melepaskan topi menghentikan gerakannya dan menatap adiknya dengan heran, lalu tersenyum. "Selamat pagi juga, adikku sayang," katanya sambil menyisir rambutnya yang berpotongan modis dengan jari. "Dan apa yang harus kubicarakan dengan Ibu?"

Jaehwan lima tahun lebih tua daripada Seungcheol. Wajah kedua kakak beradik itu tidak mirip, tetapi mereka sama-sama memiliki wajah menarik yang disukai para fotografer, sama-sama memiliki bentuk tubuh jangkung dan ramping yang disukai para perancang busana, sama-sama memiliki senyum cerah yang menenangkan hati para klien, sama-sama memiliki kepandaian berbicara yang membuat mereka disenangi orang-orang yang bekerja sama dengan mereka. Semua itulah yang menjadikan mereka model terkenal.

Dulu Jung Jaehwan adalah model fashion yang menghabiskan waktunya berjalan di atas catwalk di seluruh penjuru dunia. Namun sejak lima tahun lalu ia mulai dikenal sebagai perancang busana dan butik-butiknya kini tersebar di Seoul dan Tokyo.

Jaehyun mengerang dan menjatuhkan dirinya di kursi berlengan di depan meja kerja kakaknya. "Nuna, aku benar-benar harus bicara dengan Ibu," katanya lagi, kali ini dengan suara yang terdengar tertekan. "Ibu tidak bisa terus berusaha menjodohkan aku dengan anak perempuan sahabatnya, atau saudara perempuan sahabatnya, atau saudara perempuan kenalannya, atau—seperti yang terjadi kemarin malam—keponakan perempuan orang yang baru dikenalnya di salon! Ini sudah kelewatan. Kenapa tiba-tiba saja Ibu begitu bersemangat ingin menjodohkan aku? Dan asal Nuna tahu, akhir-akhir ini aku sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk main-main."

Kalau kakaknya lebih dikenal sebagai model catwalk, maka Jaehyun lebih dikenal sebagai model iklan. Wajahnya sering terpampang di majalah-majalah dan iklan televisi. Menurut survei salah satu majalah remaja populer, Jung Jaehyun adalah salah satu bintang iklan paling diminati di Korea Selatan, walau pun akhir-akhir ini ia mulai memfokuskan diri pada impiannya yang lain, yaitu menjadi sutradara video musik.

Jaehwan tersenyum lebar dan memeriksa surat-surat yang diletakkan sekretarisnya dengan rapi di atas meja kerja. "Kurasa kencan buta yang diatur Ibu untukmu kemarin malam tidak berjalan mulus? Kau tidak suka gadis itu?"

Jaehyun mencondongkan badan ke depan, wajahnya serius. "Apakah Nuna percaya kalau kubilang gadis itu baru lulus SMA?"

Mata Jaehwan melebar menatap adiknya, lalu tertawa terbahak-bahak. "Astaga, Ibu benar-benar sudah kelewatan kali ini."

Jaehyun mendesah berat dan bersandar ke kursinya kembali. "Apa yang Ibu rencanakan? Kenapa Ibu ingin aku segera menikah? Aku tidak mengerti. Nuna harus membantuku menyadarkan Ibu. Kalau tidak, aku bisa gila."

"Kenapa bukan kau sendiri yang bicara dengan Ibu?"

"Aku sudah mencobanya, tapi Ibu tidak mau mendengarkanku," sahut Jaehyun. "Ibu beralasan bahwa dia hanya ingin membantu, karena aku terlalu sibuk bekerja sampai tidak sempat bersosialisasi. Katanya siapa tahu di antara gadis-gadis yang dikenalkannya kepadaku itu ada yang cocok untukku. Katanya dia hanya bermaksud baik dan aku seharusnya menghargai usahanya." Jaehyun terdiam, lalu menatap kakaknya dengan mata disipitkan. "Jangan-jangan Nuna dulu menikah juga karena dijodohkan Ibu?"

"Jung Jaehyun, jangan sampai kakak iparmu mendengar itu," Jaehwan memperingatkan sambil tertawa. "Dia sangat gencar mengejarku dulu."

Jaehyun tersenyum masam. "Aku tahu."

Jaehwan memandang adiknya yang sedang tertekan itu dengan perasaan geli bercampur kasihan. "Setelah tiga kali mencoba dan gagal, kurasa Ibu akan menyerah."

Jaehyun menggeleng cepat. "Oh, kurasa tidak. Kemarin Ibu bertanya padaku wanita seperti apa yang kusuka. Untuk memudahkannya mencari wanita yang tepat untukku, begitu katanya. Aku yakin dia masih belum menyerah."

"Lalu apa yang kaukatakan padanya?"

Kali ini Jaehyun tersenyum kecil. "Kukatakan padanya kami akan melanjutkan pembicaraan itu setelah aku kembali dari London."

Jaehwan mengangkat alis. "Oh, kau jadi pergi ke London?"

Jaehyun memang pernah bercerita kepada kakaknya bahwa ia akan pergi ke London untuk bekerja dengan Kim Jongin, salah seorang sutradara video musik terkenal di Korea. Seungcheol sudah beberapa kali bekerja sama dengan Jongin dalam pembuatan video musik dan ia sangat mengagumi pria yang lebih tua darinya itu. Sekarang Jaehyun kembali ditawari oleh Jongin sendiri untuk bekerja sama dengannya di London. Bukan sebagai model, tetapi sebagai asisten sutradara. Jaehyun tidak mungkin melepaskan kesempatan sebesar itu.

"Aku akan berangkat minggu depan," ujar Jaehyun.

"Ibu pasti uring-uringan," kata Jaehwan sambil tersenyum kecil dan menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. "Ibu tidak pernah merasa tenang saat kau pergi ke luar negeri. Kau pasti akan cukup lama tinggal di sana. Kau sudah memberitahu Ibu tentang ini?"

Jaehyun tersenyum lebar. "Oh ya, Ibu mengeluh panjang lebar dan terdengar sangat kecewa. Tapi tidak apa-apa. Yang penting aku bisa melarikan diri darinya untuk sementara."

London, Inggris
Satu minggu kemudian

Lee Taeyong membuka matanya yang terasa berat, lalu ia mengangkat tangan menutupi mata dan mengerang pelan. Sinar matahari yang menembus jendela kamar tidur menyilaukan matanya. Ia menguap lebar sambil merenggangkan lengan dan kaki dengan posisi yang masih terbaring di tempat tidur. Lalu ia memaksa diri berguling turun dari tempat tidur, berjalan dengan langkah diseret-seret ke meja tulis di depan jendela untuk mematikan lampu meja yang masih menyala dan memandang ke luar jendela.

Tidak biasanya langit kota London terlihat cerah. Sepertinya musim semi yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Taeyong membuka jendela dan menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paru dan seluruh tubuhnya yang masih lemas dengan semangat musim semi. Tetapi karena udara masih tersana dingin, Taeyong cepat-cepat menutup jendela dan menggosok-gosok kedua tangannya. Tiba-tiba matanya terarah ke jam kecil di atas meja dan ia pun terkesiap. "Ya Tuhan," erangnya.

Ia berlari ke pintu kamar tidur dan membukanya dengan satu sentakan cepat, mengejutkan kedua teman satu flatnya yang sedang duduk mengobrol di dapur, tepat di luar kamar tidurnya.

"Apa? Apa yang terjadi?" Gadis bertubuh tidak begitu jangkung, dan berambut hitam panjang, yang sedang menggenggam cangkir kopi dengan kedua tangan, menatap Taeyong dengan alis terangkat heran.

Walau pun penampilannya pagi ini lebih mirip penghuni panti rehabilitasi—piama bergaris-garis, jubah kebesaran, rambut acak-acakan, dan wajah mengantuk—Ten Chittaphon yang lebih muda daripada Taeyong sebenarnya adalah putri seorang pengusaha kaya dari Thailand yang lebih memilih mengejar mimpinya menjadi aktris panggung daripada masuk universitas. Dan selama beberapa tahun ini ia memang sering tampil di atas panggung pertunjukan di West End, meski pun hanya mendapat peran-peran kecil.

"Aku terlambat…," kata Taeyong panik sambil berlari ke kamar mandi di samping dapur. "Aku punya jadwal syuting video musik hari ini dan aku terlambat."

Ten megibaskan sebelah tangannya dan berkata, "Kau terlalu berlebihan. Kau tidak pernah terlambat. Paling-paling kau hanya terlambat bangun sepuluh menit. Dan aku tahu kau pulang ke rumah larut malam kemarin. Kau berhak bangun lebih siang." Ia kembali menyesap kopinya dan mendesah muram. "Aku kasihan pada orang-orang seperti kita bertiga yang tetap harus bekerja di hari Sabtu yang indah ini."

Taeyong menyerukan sesuatu yang tidak bisa dipahami dari kamar mandi karena ia sedang sibuk menggosok gigi.

"Hei, Sayang, kau mau wafel ala Johnny dengan selai apel buatan sendiri?" tanya laki-laki bertubuh tinggi, ramping, dan berambut hitam yang duduk di hadapan Ten. "Kau tahu benar selai apel buatanku bisa membuatmu merasa seperti melayang di angkasa."

Johnny Seo, yang berasal dari Chicago yang berprofesi sebagai koki di salah satu restoran terkenal di Soho, walau pun ketika pertama kali bertemu dengannya, Taeyong merasa Johnny lebih mirip preman karena penampilannya yang acak-acakkan tak berbentuk. Meski pun begitu Taeyong harus mengakui bahwa ia belum pernah bertemu preman yang memiliki wajah setampan Johnny dan preman yang memiliki mata hitam yang benar-benar hitam, mata yang bisa membuat wanita mana pun yang ditatapnya mendadak tidak bisa berpikir apa-apa. Tetapi sayangnya, Johnny tidak tertarik pada wanita.

Taeyong kembali menyerukan serentet kata-kata yang tidak jelas artinya.

Johnny menoleh ke arah Ten. "Apa katanya?"

Ten mengangkat bahu. "Mungkin dia tidak mau melayang di angkasa?"

Tepat pada saat itu pintu kamar mandi terbuka dengan suara keras dan Taeyong melesat kembali ke kamar tidurnya, disusul dengan suara pintu lemari dibuka dengan gaduh dan gantungan-gantungan baju berjatuhan ke lantai.

"Tolong jangan panik, Sayang," seru Johnny dari tempat duduknya di dapur. "Kau bisa melukai dirimu sendiri di dalam sana kalau kau membabi-buta seperti itu."

Kemudian terdengar bunyi gedebuk keras, disusul suara Taeyong yang berseru, "Aku tidak jatuh! Tenang. Aku tidak jatuh. Aku baik-baik saja."

Kedua temannya berpandangan dan mengangkat bahu.

Beberapa menit kemudian Taeyong muncul kembali dari balik pintu kamar tidurnya. Ia sudah berpakaian lengkap sampai ke sepatu bot dan topinya.

"Ngomong-ngomong," kata Ten, "Kau akan tampil di video musik siapa?"

Taeyong mengangkat bahu. "Aku tidak kenal," katanya sambil mengibaskan tangan tidak peduli. "Yang membuatku tertarik adalah konsep video musiknya. Mereka membuatnya seperti film pendek."

Ten menoleh menatap Taeyong, mata hazelnya bersinar cerah. "Apakah ceritanya romantis?" tanyanya, lalu mendesah senang. "Aku suka cerita romantis."

Taeyong mendesah tidak sabar. "Kurasa ceritanya tentang seorang pria yang diam-diam jatuh cinta pada seorang wanita. Selalu mengawasinya dari jauh. Diam-diam selalu membantu wanita itu tanpa pernah menunjukkan siapa dirinya. Kira-kira seperti itu," sahutnya.

"Hmm… bukankah itu romantis sekali?" desah Ten dan menatap Johnny. Yang ditatap mengangguk setuju.

"Kurasa agak menakutkan," gerutu Taeyong. "Coba pikir, diam-diam mengawasi si wanita dari jauh, diam-diam membantunya tanpa menunjukkan wajah. Memangnya itu tidak terdengar seperti orang sakit jiwa?"

"Astaga," gumam Johnny sambil menggelengkan kepalanya. "Kuharap sutradara video musik ini tidak menyesal sudah memilihmu. Seharusnya kau menjadi bintang film horor."

Taeyong tersenyum dan mendorong bahu Johnny dengan gerakan main-main. "Baiklah, teman-teman, aku pergi dulu."

"Kau yakin kau tidak mau makan sepotong wafel ala Johnny dengan selai apel ini?" tanya Johnny sambil menyodorkan piring penuh wafel.

"Kau tahu sarapan adalah makanan paling penting dalam sehari. Kau sudah cukup kurus sekarang. Jangan sampai kau berubah menjadi tulang berjalan seperti orang yang duduk di depanku ini."

"Ya Tuhan, lihat siapa yang bicara," kata Ten sambil memutar bola matanya. "Koki paling kerempeng sedunia."

Johnny tersenyum lebar. "Tubuhku memang tidak bisa gemuk walau pun aku makan banyak. Sedangkan kalian berdua kurus kering karena tidak makan."

"Model memang seharusnya kurus," gumam Taeyong sambil merogoh tasnya yang besar, memastikan semua barang pentingnya sudah ada di dalam. Dompet. Kunci. Ponsel.

"Apa?" tanya Johnny, tidak mendengar apa yang digumamkan Taeyong tadi.

"Tidak apa-apa." Taeyong menatap temannya dan tersenyum lebar. Ia tidak mungkin mengulangi ucapannya. Ia tidak berani. Johnny pasti akan mulai menceramahinya dan ia tidak punya waktu mendengar omelan itu saat ini.

"Aku ingin sekali mencoba wafelmu, tapi ini keadaan darurat," kata Taeyong cepat. "Aku benar-benar tidak sempat sarapan. Sekarang sudah pukul…," ia melirik jam tangannya dan terkesiap. "Astaga. Sepertinya aku harus berlari sepanjang jalan sampai ke stasiun. Dah, teman-teman!"

Empat puluh lima menit kemudian, Taeyong sudah tiba di lokasi syuting untuk hari itu dan sudah duduk di dalam tenda sementara yang didirikan di salah satu sudut Hyde Park, salah satu taman paling terkenal di London. Taeyong memandang sekeliling. Di sekitarnya terlihat para staf produksi yang sibuk dengan tugas mereka masing-masing, berjalan cepat dari satu tempat ke tempat lain, mengangkut sesuatu, memasang sesuatu, dan saling berseru membuat Taeyong tersenyum simpul.

"Ini tehmu."

Taeyong menoleh dan melihat penata riasnya—yang memperkenalkan diri sebagai Yoon—mengulurkan secangkir teh harum dengan asap yang mengepul. Senyum Taeyong mengembang. Saat itu ia baru teringat ia belum sarapan dan perutnya tiba-tiba berbunyi pelan. Ia menerima teh itu, menyesapnya, lalu mendesah senang ketika kehangatan teh itu menjalari tenggorokan, dada, dan tangannya.

"Kau juga lapar?" tanya Yoon pelan. "Mau makan ini?"

Taeyong menatap sekotak donat yang disodorkan ke depan wajahnya. Gemuruh di perutnya semakin keras. "Terima kasih banyak. Kau benar-benar penyelamatku," katanya sambil mengambil sepotong donat berselimut cokelat. Seorang model memang seharusnya kurus, tetapi seorang model tidak seharusnya mati kelaparan.

Penata riasnya yang sangat ramah itu meletakkan kotak donat di meja di depan Taeyong, membuat Taeyong bertanya-tanya apakah ia boleh mengambil sepotong lagi kalau ternyata ia masih belum kenyang.

"Ngomong-ngomong, kau sudah pernah bertemu dengan lawan mainmu di video musik ini?" tanya Yoon ketika ia mulai menggulung rambut Taeyong dengan rol-rol besar.

Taeyong mengalihkan pandangan dari kotak donat dan menatap wajah Yoon yang bulat di cermin. "Belum. Aku belum pernah bertemu dengannya. Aku bahkan belum tahu namanya," sahutnya dan kembali menyesap tehnya yang terasa sangat enak.

Mata Yoon yang sipit langsung berbinar-binar. "Jung Jaehyun," katanya singkat. Ketika melihat Taeyong menatapnya dengan pandangan bertanya, ia melanjutkan, "Lawan mainmu Jung Jaehyun."

Taeyong berhenti mengunyah donatnya.

Yoon memandang ke seliling. "Di mana dia ya? Tadi aku sempat bertemu dengannya." Ia mendesah dan kembali menggulung rambut Taeyong. "Mungkin kau tidak tahu ya? Tapi dia sering membintangi iklan dan video musik."

Karena Taeyong tidak berkata apa-apa, Yoon menambahkan, "Tidak perlu khawatir. Dia sangat baik. Oh, dan dia juga tampan. Benar-benar tampan. Kalau kau melihatnya nanti, aku yakin kau akan jatuh pingsan."

Taeyong masih diam. Hanya menunduk menatap teh kental yang mengepul di dalam cangkir kertasnya. Mendadak saja kehangatan yang dirasakannya tadi menguap begitu saja.

Tiba-tiba Yoon menepuk-nepuk pundaknya. "Hei lihat. Itu dia!" bisik Yoon dengan nada mendesak.

Kepala Taeyong berputar pelan dan matanya langsung menangkap sosok laki-laki berjaket abu-abu dan bertopi putih yang berdiri di luar tenda. Laki-laki itu melepaskan topi dan menyapa orang-orang yang mengelilinginya dengan senyum lebar, berjabat tangan dan membungkuk kepada beberapa orang.

"Ups! Hati-hati. Tehmu bisa tumpah."

Taeyong mengerjap kaget dan menyadari bahwa cangkir kertas yang dipegangnya sudah hampir terlepas dari pegangan. "Oh, astaga. Maaf," gumamnya pelan.

"Nah, kubilang juga apa?" kata Yoon sambil menepuk-nepuk pundak Taeyong lagi dan tersenyum penuh kemenangan. "Kau memang terlihat hampir jatuh pingsan."

Taeyong memalingkan wajah dan menatap cermin. Namun ia masih bisa melihat bayangan Jaehyun di sana. Tepat pada saat ia melihat Yoon berbalik mengangkat sebelah tangannya yang memegang sisir, lalu berseru, "Hei, Jaehyun!"

Taeyong membeku. Oh, tidak…

Jaehyun menoleh ke arah mereka. Ke arah Taeyong. Sedetik mata mereka bertemu di cermin. Mata laki-laki itu seolah-olah menatap lurus ke arah Taeyong. Hanya sedetik, sebelum Taeyong buru-buru mengalihkan pandangan, menatap Yoon yang tersenyum lebar padanya di cermin.

"Dia ke sini," kata Yoon. "Akan kuperkenalkan kau padanya."

Taeyong tidak bisa bernapas. Ia mencengkeram lengan kursinya erat-erat.

Ya Tuhan…


To Be Continued...


Note (1) : Hallo, Aza kembali dengan bawa chapter pertama xD

Gimana? Gimana? xD

Kalau ada typo, maafkan aku :" Aku ngetik di ponsel soalnya /ga/

Note (2) : Baiklah, waktunya jawab review xD

Eraaa : Sip, iya keren banget karyanya xD Eh, aku belum baca yang Summer, tinggal yang itu aja :"

Shim Yeonhae : Iya, maka dari itu aku pake cast JaeYong soalnya Taeyong kan dingin macem es doger gitu /gak/ Ini udah dilanjut, semoga memuaskan/? ^^

: Kekeke~ Iya, sengaja bikin GS /hnggg/ Ini udah dilanjut, semoga suka ya^^

Maiden Yun : Hehe, iya sih :3 Tapi tenang aja, aku udah punya konsep buat FF JaeYong mendatang, karya aku sendiri kok^^ Ditunggu ya~

Aku lebih muda ngomong-ngomong xD panggil Za aja, ^^

Jaeeeyong : Salam kenal juga xD Semoga suka ceritanya xD /iyalah, wong karyanya orang hebat xD

mybestbaetae : Iya xD Taeyong cimit cimit cem anak perawan xD Dingin, cantik, manis, bake s campur bertabur/? susu coklat xD

Note (3) : Ya ampun, aku seneng banget loh kalian udah mau repot-repot fav, follow, apalagi review /ketjup

Terima kasihh dan sampai jumpa di chapter depan~

Review? /ppyeong^^