Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : dark romance, OOCness, Typos, alur membingungkan?
Story created by : Intro Lawliet Vert
Pairing : MadaHinaIta
.
.
Trims atas smua review yg sangat berharga. Maaf atas telat update. Mari kita mengira-ngira usia madara sekitar 34, Itachi 28, Hinata 22.
.
Hope you'll entertained by this
.
.
Madara PoV
.
.
Itachi? Mau apa keponakan 'sialan' favoritku itu? Wanita itu, dia! Beraninya dia berkhianat?! Aku memandangnya, sosok Hinata yang bertelanjang kaki, berkemeja kusut, lehernya terbuka. ulahku, he. Dia terlihat sangat manis, tetapi aku tidak suka ada yang melemparkan tatapan pada Hinata.
"Itachi?" betapa sulitnya menahan diri untuk tidak menggeram.
"Kau belum menyelesaikan rapat hari ini, semua membutuhkan alasan mengapa nilai saham menurun- drastis."
Cih, alasan macam apa itu? Sebuah lelcon paling tidak lucu yang pernah ku dengar, kau lupa ya ada yang namanya ponsel? Atau kau lupa bahwa kau punya pesuruh? Aku tidak yakin itulah alasanmu kemari. Kau kemari ingin mencari gadisku? Jika itu yang kau inginkan maka bermimpi selamanya! dia milikku! Lihat saja semua ruam merah, goresan merah muda di kaki, jika kau melihatnya tanpa kemeja itu, mungkin kau akan terkejut betapa banyaknya warna merah. Tapi sepertinya kau tidak akan bisa, karena akulah pemiliknya.
Bocah, sebaiknya katakan saja, Tergambar jelas kau terlihat kesal Hinata berdiri kusut dengan surai berantakkan, helaian indigo beraroma lavender, kulit pucat mulus, lekukan indah tubuhnya , mata mutiaranya, semua sudah menjadi milikku. Dan apapun yang menjadi milikku, tidak akan ku berikan dengan alasan apapun. Aku lebih suka melihatnya membusuk daripada harus jatuh ke tangan orang lain. Kekuasaan adalah hakku bukan?
"Sampai mengejarku ke sini?"
Hinata mendekati kami setelah merapihkan baju dan rambutnya yang tetap dibiarkan tergerai, aku akan membunuhmu jika aku tahu ini ulahmu, Hinata. Dia melingkarkan lengan di pinggangku, tatapan Itachi tak terdefinisikan, kesal?
"Tempat pertama yang ku tahu akan kau kunjungi." Berdalihlah lebih baik, Nak.
"Pergilah, aku akan kembali dua jam lagi." Ini tidak akan berakhir menyenangkan Hinata..
"Kurasa, kau harus bergegas segera, jiisan. Aku tidak pulang dengan tangan kosong." Cukup punya nyali, dan aku menyukai tantangan.
"I-Itachi-san, tunggulah di lobi bawah, Madara-kun bilang dia lapar." Apa-apaan barusan? Pembelaan? Aku tidak suka bahkan saat kau mengeluarkan suara ke orang lain dengan manis.
"Iee, aku menunggu di sini saja."
Bocah keras kepala brengsek!
.
.
Hinata PoV
.
.
Dia terlihat gusar, perlahan tangan Madara-kun mengarahkanku ke belakang lalu dia membanting pintu di hadapan Itachi-san. Aku terkejut, tetapi kejutan sebenarnya barulah dimulai. Dia mendorong hingga kepalaku merasakan sudut mati, menghantam tembok, rasa berdenyut itu datang lagi, memar ini belum sembuh, dan firasatku mengatakan ini adalah kematian.
Tanganya menjadi kerangkeng, wajah itu meminta penjelasan, sorot frustasi dan cemburu? dia masihlah orang yang sama, begitu tampan memikat dengan segala kegelapan di sekelilingnya.
Dia menyusuri lekuk leher, menimbulkan rasa tergelitik, lalu berhenti di bawah dagu, perlahan cengkramannya menguat, oksigen menipis sementara aku mengap-mengap, dia mengendurkan sedikit, wajah kami berhadapan, scarlet itu menatap berkilat.
"Kenapa Itachi tahu kau tinggal di sini, Huh?"
Aku menggeleng, dadaku naik turun menghirup udara, dia terbakar sekarang, tapi aku tidak mengerti apa yang dia tanyakan, bukankah Itachi-san memang ingin mengajaknya pulang?
"A-aku tidak tahu."
"Tidak mungkin ada yang tahu aku di sini, aku tidak pernah memberi tahu siapapun, kemungkinannya hanya dua, kau memberi tahu dia, atau dia membuntutimu. Yang mana kira-kira?" napasnya menerpa wajahku, dia mendengus. Seringai itu membuatku takut, seolah menemukan hal yang paling dibenci sekaligus disukai.
"Kurasa yang kau temui tadi bukan Sakura?"
"A-aku memang ber-temu Sakura, Mada-kun."
"Tapi kau tidak bilang bertemu siapa setelahnya? Kau bertemu Itachi?"
Semua aristokrat Uchiha itu mengerikan. Seolah itu memang salahku bertemu dengannya, sengaja atau tidak. Suraiku kocar-kacir, terasa sakit tarik-menarik tangan Madara-kun.
"Di-dia, dia kebetulan ada di sana."
Puas, dia menarik kesimpulan. Matanya terlihat lebih kelam dari sebelumnya ada amarah terlihat jelas sedang tersulut, Madara-kun akan menghabisi Itachi-san! dia berjalan menuju pintu dengan tangan mengepal tinju, aku tidak ingin dia menyakiti siapapun demi aku.
Ku susul Madara-kun dan mengusap lengannya, berharap dia mereda.
"Mada-kun, tunggu! A-aku yang akan bicara dengan Itachi-san. dia mungkin akan mendengarkanku jika aku-"
Namun seperti api disiram minyak dia makin menjadi dan malah mendorongku hingga kepalaku terbentur dinding dekat dapur untuk kesekian kalinya. Mataku berkunang-kunang, semua terlihat berputar antara kuning dan hitam, kakiku tak sanggup menopang beban dan itu membuatku melorot. Samar-samar terdengar sesuatu retak di telingaku yang sedang berdenging keras.
Rasa sakit ini… rasa sakit yang memerlukan teriakan, tetapi lidahku kelu tidak sanggup bahkan mengeluarkan suara. Inikah akhir?
Ma da ra..
.
.
Flash back
.
.
Hinata melangkah turun ke ruang tamu yang merangkap ruang keluarga. Neji-niisan dan Hizashi-jiisan sudah pergi, membawa bento yang Hinata siapkan. Mereka berdua adalah lajang yang tidak mementingkan rutinitas sarapan, dan lebih memilih melakukannya di luar.
Hizashi tiba-tiba saja menelepon. Hinata tidak pernah membiarkan orang lain kesulitan, sekalipun dirinya yang harus bersusah payah, dia rela mengantar map berwarna cokelat muda itu sembari berlari kecil dengan sebelah tangan memegang payung lavender transparan. Cuaca terlihat cerah meskipun hujan tidak bisa dibilang kecil, Hinata tidak membiarkan tas kecil yang dia kenakan memeluk berkas berharga paman Hizashi, dia lebih memilih dekapan kaku melindungi yang semoga saja tidak membuat dokumen itu kusut.
Hinata tepat waktu, wajah Hizashi yang biasanya datar berubah sedikit cerah setelah melihat Hinata, menepuk-nepuk pucuk kepala gadis yang senang merasa berguna. Hinata baru saja akan bergegas pergi tiba-tiba lelaki dengan rupa identik seperti ayahnya menariknya masuk, tidak tega membiarkan Hinata berlari lagi di bawah hujan. Sebenarnya Hinata menolak, bukan sifatnya bisa mudah bergaul mengakrabkan diri.
Setelah yakin Hizashi tidak membiarkan gadis bersurai sepinggang itu ada dalam satu ruangan dengan orang-orang yang terlihat kaku dan berkuasa, Hinata mengiyakan. Surainya basah sebagian, warna indigo itu makin menggelap di beberapa sisi. Boots yang dia kenakan menjadi pelindung dari kemungkinan jari kakinya basah.
Ia tidak sadar ada sepasang mata memperhatikan dengan seksama tiap gerakan kecil yang dia buat, seperti menyesap cangkir teh, menggosokkan kedua tangan, lalu menggigit muffin.
Pergerakannya menarik perhatian, terlihat seperti kedinginan dan kesepian, wajahnya menekuri alphabet membentuk makna. Fokus lelaki itu berkurang, sesekali mencuri pandang, Hizashi sadar, membawa keponakannya ke sini adalah ide buruk. Hiashi sang kakak menitipkan Hinata dengan tujuan dijaga selama ia menemani Hanabi yang terpaut hanya lima tahun dengan Hinata, mendaftar chuugakkou di luar Tokyo. Bukan diumpankan pada serigala.
Madara memandangi kaca penghalang ruang rapat sekaligus menunggu wanita itu, ingin sekali menyelesaikan rapat yang buang waktu.
"Uchiha-san, saya rasa diagram ini tidak valid, Okuba-san telah melakukan kecurangan di-"
pandangan Madara tidak fokus, telinga tidak lagi berfungsi mendengar.
Persetan dengan tidak valid, urus sendiri, kalian dibayar untuk itu!
Sang aristokrat hanya diam dan berdecak kesal. Semua terperangah tatkala Madara yang digadang-gadang sangat workaholic meluncur tanpa ragu mendekati wanita yang menarik atensinya sedari tadi.
.
.
End flash back
.
.
Darah terlihat mengalir pelan dari lengan putih itu, matanya sayup-sayup melihat sekeliling. Semua terjadi tiba-tiba. Suasananya begitu kacau setelah lukisan berbingkai berat yang tertempel di dinding mendapat hentakkan dan jatuh menimbulkan bunyi yang sulit diredam hingga ke pintu.
Frame berat bersepuh emas itu pecah menghantam lantai, Hinata tidak bisa menghindar dari pecahan kaca yang terlempar mengenainya saat dia tergeletak begitu saja, rusuknya terasa tidak benar setelah menghantam dinding putih, kepalanya terbentur cukup keras hingga darahnya menodai dinding putih membentuk garis-garis kusut surai indigo itu.
Madara terbelalak, ini bukanlah hal yang dia prediksikan. Memberi sedikit pelajaran pada Hinata memang ada dalam niatnya semula, tetapi melihat sang gadis tergeletak tak berdaya membuat Madara bimbang. Itachi yang berdiri di depan pintu merasa perlu memeriksa apa yang terjadi, lalu dia terkejut. Saat itu yang ada dalam pikirannya hanyalah menghajar Madara setelah semua ini selesai. Madara benar-benar keparat!
Itachi mendekati tubuh Hinata yang tergolek dengan lengan tertusuk pecahan kaca. Dia ragu-ragu mendekatkan giginya untuk mencabut dengan efisien. Tiga potongan telah dicabut, darah merembes keluar membanjiri lantai yang bebas karpet. Sisa-sisa kesadaran Hinata membuatnya meringis, dia bahkan tidak punya cukup tenaga untuk berteriak. Itachi membebat lengan Hinata kuat dengan tangannya mencegah darah keluar lebih banyak, dia merasakan amis karat darah Hinata. Saat kepingan kaca terakhir terlepas, kerah baju Itachi ditarik dan disentak begitu kuat hingga terjungkal ke belakang.
Madara sudah pulih dari trance berdiri. Dia mengangkat tubuh Hinata dengan selimut tebal sebagai pelapis. Melarikannya ke dalam lift diiringi pandangan jijik Itachi. Jantungnya berdebar kencang, wajah cantik itu terkulai lemas menutup mata, bertahanlah Hinata, bertahanlah, kau akan baik-baik saja.
.
.
Lelaki yang menghampiriku dari ruangan rapat paman rambutnya gondrong, hitam tidak biasa. Ada tarikan untuk bisa menyentuh, apakah itu halus? Atau sebaliknya?
"Hyuuga-san?" maksudnya itu, aku? Melihatnya jadi teringat dongeng Snow White.
Jari ratu tertusuk duri mawar, lalu darah menetes ke permukaan salju. Saat itu ratu berpikir menginginkan seorang anak perempuan dengan rambut sewarna sayap gagak, kulit seputih salju,dan bibir memerah seperti darah. Gambaran lain putri salju ada dalam wujud lelaki, kegelapan yang rupawan.
Bedanya, bibir yang diidamkan ratu sewarna darah berganti menjadi iris mata merah menggelap menimbulkan kesan misterius pada pemiliknya. Dan lagi, bukankah dalam cerita Snow White, dia yang terlalu rupawan membawa keburukan bagi dirinya sendiri? Apa dia juga?
Saat itu juga aku tahu, bulatan merah gelap itu begitu memikat, senyumannya menghanyutkan, kepercayaan diri yang tinggi sangat terasa saat dia menjabatku. Tangannya dingin sedangkan tanganku basah dan aku gugup. Awal yang memalukan.
"Madara, Uchiha Madara-desu." dengan enggan ku menatap wajahnya lagi, terkesiap karena lelaki itu menatap tajam, tatapan yang sulit diartikan apa maknanya.
Mataku nanar mencari paman, aku berharap agar segera diselamatkan dari situasi singa dan kelinci, sayangnya paman Hizashi sibuk mengurus situasi yang tidak mengenakkan.
"Kau takut?" kugoyangkan kepala,berharap dia percaya pada aktingku yang payah.
Tanganku berpindah dari atas pangkuan ke genggaman tangan dingin itu, beberapa pasang mata tampak memperhatikan, aku yang ditarik dan tidak punya kuasa menolak, aku ingin berteriak tapi terlalu takut hingga tidak ada suara keluar. Payung transparan lavender yang diletakkan di tempat yang tersedia beralih ke tangan bebas lelaki yang sepertinya tahu itu memang milikku.
"A-ano, ki-kita mau kemana, Uchiha-san?"
Aku memandang punggung yang diselimuti surai menjuntai hitam sepinggang, tidak ada jawaban, langkahnya besar-besar dan aku kesulitan mengiringi kecepatannya karena tinggiku yang tak seberapa. Aku ingin menangis, dunia memang selalu mengacuhkan orang sepertiku, begitupun lelaki ini yang acuh pada pertanyaan tidak pentingku.
"A-ano, Uchiha-san, kita mau kemana?" kuulangi lagi mencari kepatian.
Pergerakan lelaki itu terhenti, aku menabrak punggungnya, ikut berhenti. Etalase-etalase memajang manekin dengan gaun indah, perhiasan dan aksesori lainnya, belum ada jawaban kemana dia akan membawaku malah dikejutkan dengan tingkah aneh dia ini. Laki-laki itu buka suara, terdengar setengah memerintah.
"Madara, panggil dengan namaku."
Ma-da-ra Ma-da-ra-kun..
.
.
"Bahkan setelah dia merusakmu begitu rupa, kau masih bisa mengharapkannya dalam mimpimu, Hinata."
Tatapan lelaki dengan ciri fisik tidak berbeda dengan Uchiha yang baru saja memasukkan Hinata ke kamar rawat itu tidak lepas dari gadis yang sedang terbaring. Saat tidur pun Hinata terlihat tidak nyaman. Mungkin karena selang infus yang menusuk punggung tangan, atu mungkin rusuknya menyesakkan saat bernapas, mungkin juga karena beberapa jahitan di tangan yang menimbulkan nyeri. Atau kemungkinan terburuk, dia masih menginginkan Madara di sampingnya saat ini.
Pikiran lelaki itu berspekulasi, berharap bukan opsi terakhir yang menjadi alasannya. Lagipula mana ada orang yang nyaman tinggal di rumah sakit?
Wajah cantik itu bersih dari luka, hanya saja lehernya membiru. Gambaran perlakuan buruk Madara. Sebenarnya mengapa dia masih bertahan dengan Madara? Gadis bodoh.
"Melihat kau menginginkan Madara, membuatku sakit. Cepat sembuh Hinata, kau akan melewati ini semua dengan cepat." Sebuah belaian lembut ke arah wajah berbingkai poni, cepat-cepat dia tarik karena enggan mengganggu tidur pulas sang putri.
"Jika kau sembuh, aku akan melindungimu dari Madara, dia harus menerima balasan perbuatannya padamu. Kau aman sekarang."
Pria itu hanya bermonolog, menghibur dirinya sendiri yang entah karena apa merasa punya tanggung jawab atas gadis yang penuh luka. Dia bertanya-tanya, jenis perasaan apa ini? Apa kasihan? Atau merasa harus menghentikan Uchiha Madara yang berubah menjadi seorang psyco?
Entahlah….
.
.
.
To be continue
Poor diksi, so sorry.
Membingungkan tidak? Bisa dimengertikah?
Mind to review, please?
