Another Day With Baekhyun

Domination

.

.

Rasanya tak bisa dijelaskan.

Terlalu buram, terlalu pusing.

Baekhyun mengerjap berkali-kali hanya untuk melihat atap ukiran teratai yang mengambang di atas kepala. Sejenak berpikir bahwa mungkinkah surga sesederhana ini? Bahkan atap apartemennya jauh lebih artistik.

Dan yang lebih aneh adalah, apakah surga juga menyediakan lelaki bertelanjang dada?

Tampan, dengan perut kencang dan wajah yang kebingungan. Baekhyun mengusap matanya lagi, tak mau tertipu oleh ilusi sehabis tidur panjang. Tapi lelaki itu memanglah nyata. Berarti Baekhyun masih hidup dan waras karena lelaki seperti ini hanya ada di bumi.

"Aku bingung harus mengatakan apa. Kau pasti masih shock," lelaki ini nyatanya sangat tinggi saat langkahnya sampai di samping tempat tidur.

Kelopak matanya bergelombang bak punggung angsa. Rambutnya hitam legam senada dengan alis dan bola mata. Dan warna suaranya, astaga...

"Mobilmu terguling di jalan tadi siang. Kepalamu terbentur, lumayan parah. Kau ingat?"

Satu detik, dua detik. Ingatan tentang mobil mahalnya yang terguling dengan dirinya sendiri berada di dalam langsung terputar jelas. Baekhyun habis mengalami kecelakaan. Tubuhnya sigap bangkit, hendak duduk untuk memeriksa diri sendiri.

Selimutnya langsung jatuh ke pinggang. Membongkar fakta bahwa dia hampir telanjang kalau tidak ada balutan perban di bahu kiri dan di kedua tumit. Tanpa sungkan, aktor itu memelototi pria tadi dengan tajam.

"Itu...aku...aku harus melepaskan pakaianmu untuk melihat apakah kau mengalami pendarahan dalam. Prosedur pertolongan pertama," pria itu membuat senyum segaris.

Tahu kalau pasien dadakannya itu tengah menaruh curiga.

Baekhyun mendengus. Tak mungkin ada pencuri yang mengaku bahwa dia kriminal. Pria ini mungkin telah menyentuh atau melakukan apa yang dia sukai selagi Baekhyun tak sadarkan diri. Tipikal pria mesum yang tak punya pelampiasan hasrat.

"Brengsek!" Baekhyun membatin.

"Ponselku?" tanya aktor itu sambil memijat pelipis.

"Ponselmu rusak. Sudah tak bisa digunakan."

Bagus. Baekhyun benar-benar tak punya alat untuk menolong dirinya sendiri saat ini. Rasa sabar yang sudah terkuras oleh ketelanjangannya itu semakin menipis.

"Kau...sudah menghubungi polisi?"

Pria itu menggeleng, "belum karena aku lihat, kau bepergian sendiri. Tanpa manajer atau kru televisi. Aku juga tidak langsung membawamu ke rumah sakit karena, kupikir kau sedang dalam pelarian."

Satu hal yang paling Baekhyun syukuri dari pria ini adalah bahwa dia masih memiliki otak untuk berpikir. Tipikal orang yang tak gegabah dan mudah dimakan panik. Meskipun Baekhyun masih menaruh sensi karena telah lancang melucuti bajunya, pria ini tidak menghubungi siapapun adalah kabar terbaik.

"Cukup rahasiakan kejadian ini, oke? Bisa gawat kalau sampai agensiku-argh!" aktor itu merasakan kedua tumit kakinya berdenyut ngilu saat digerakkan.

Sakit bukan main sampai pedihnya menjalar ke tulang kering. Dugaan selanjutnya adalah, mungkin dia mengalami patah kaki. Pria itu berdiri hendak menggendongnya dengan gelagapan.

"Kau mau ke rumah sakit? Jaraknya memang lumayan jauh tapi aku yakin-"

"Sudah kubilang jangan sampai ada yang tahu, bodoh! Telingamu sangat lebar tapi tak ada gunanya!"

Baekhyun menepis lengan yang sudah melingkari tubuhnya dengan kasar. Pria tinggi itu mundur selangkah dalam rasa takjub. Tatapannya tak lepas mampir di kedua bola mata Baekhyun. Aktor mungil itu menyadarinya dan memilih acuh.

"Bermulut pedas. Persis seperti yang televisi beritakan," tuduh pria tadi ditutup dengan senyuman.

Baekhyun mendengus sambil menarik kembali selimut untuk menutupi tubuhnya, "kenapa? Kau menyesal sudah menolongku?"

Angkuh adalah kata yang mengikuti nama Baekhyun sejak skandalnya satu persatu muncul ke permukaan. Bak tak punya malu, aktor ini terus bertingkah sesukanya.

Menulis, berucap dan berlaku sesuai dengan apa yang dia inginkan. Tak mempertimbangkan bahwa dia seorang publik figur yang tingkahnya diperhatikan. Sekecil apa pun, sedetail apa pun itu.

Pria ini terkikik geli.

"Karena kau tidak berpura-pura di depanku, jadi aku tidak akan berpura-pura lagi."

Baekhyun mendongak, mendapati pria itu membungkuk mendekati wajahnya.

"Aku menyukai sifat burukmu," bisik pria itu dengan hembusan nafas.

Mengalun membelai kulit telinganya yang bukan main sensitif.

"Chanyeol," lanjutnya berbisik, "teriakkan namaku-"

Tanpa sadar, kedua tangan mungil itu meremas kain selimut. Entah bagaimana, Baekhyun menangkap perilaku Chanyeol, pria ini, sebagai langkah yang lumayan seduktif.

Bodohnya adalah, dia terpengaruh. Tubuhnya kaku tak mau bergerak, takut kalau itu membuat dirinya dan Chanyeol bersentuhan. Baekhyun menelan ludahnya bersuara sampai yakin kalau kucing di halaman depan mampu mendengar.

Memperjelas seberapa gugupnya ia sekarang.

"-jika kau butuh sesuatu."

Setelah berhasil membuat Baekhyun salah tangkap, pria kurang ajar itu menegakkan tubuh atletiknya dan langsung pergi.

Meninggalkan si aktor yang sedang sibuk memaki diri sendiri karena mudah dibodohi.

.

e)(o

.

Kalau diingat-ingat, kecelakaan itu tak berakibat banyak terhadap kakinya.

Baekhyun ingat bahwa saat mobilnya terguling, kakinya aman bersama pedal gas dan rem. Bagaimana bisa sekarang kedua tumitnya terasa hancur begini? Bahkan untuk berpindah tempat, Baekhun harus mengelus lantai dengan tubuhnya.

Aktor itu menyeret diri menuju teras di samping kamarnya.

Chanyeol ada di sana, bersama seorang anak laki-laki berambut coklat gelap. Sedang membuat pagar sebagai tempat rambatan pohon anggur mereka.

Angin berdebu dari lereng pegunungan membuat Baekhyun terbatuk. Tanpa sengaja, menginterupsi kegiatan dua orang di halaman.

Aktor itu tersenyum saat bertemu tatap dengan si bocah lelaki.

"Semoga Paman cepat sembuh," ucap si kecil ditutup dengan senyuman.

Dua gigi susunya terlihat lebih besar dari giginya yang lain. Bocah ini, mengingatkannya pada seseorang.

"Anak semanis dirimu pasti punya nama," Baekhyun berucap.

"Paman Chanyeol selalu memanggilku Hana."

Agak aneh mengingat bocah ini adalah anak laki-laki tapi namanya identik dengan perempuan. Untung saja, Chanyeol hanya Pamannya, bukan ayah.

Kalau benar dia ayahnya, Baekhyun tak akan sungkan mengatainya dungu karena memilih nama itu.

"Halo, Hana. Berapa usiamu? Kau tinggi sekali."

"Eerr sepertinya tiga."

Chanyeol menahan tawanya yang hampir lolos. Pria itu lalu meminta Hana untuk mencuci kaki dan tangan sebelum pergi tidur siang.

"Kau sedang berpura-pura baik? Atau kau memang menyukai anak-anak?" Chanyeol melepas sarung tangannya yang dipenuhi tanah.

Duduk di samping Baekhyun sambil mengenyahkan butiran keringat di dahi. Pantulan sinar matahari mewarnai kulitnya jadi kemerahan. Mungkin terlalu lama terpapar panas.

Tapi tetap saja, Chanyeol selalu terlihat jantan. Bahkan saat dia berkebun, otot bisepsnya membentuk lekukan kencang. Baekhyun tersadar bahwa dia mengamati tuan rumah dengan kelewat detail.

Sudah seperti penguntit saja.

Tujuan awalnya ingin menemui Chanyeol langsung kembali.

"Dengar, aku ingin kita membuat kesepakatan."

Chanyeol melepas topi berkebunnya. Memelintir benda itu sambil mendengus tak suka.

"Kau rawat aku sampai sembuh, memperbaiki mobilku dan merahasiakan kecelakaan bodoh ini dari dunia, maka kau akan mendapatkan uang."

Ucapan itu berhasil memancing tawa Chanyeol. Bodoh kalau sampai pria itu menolak tapi nyatanya, dia memilih menjadi bodoh.

"Aku memiliki banyak uang. Punya imbalan lain?"

Aktor itu merengut sebal, "kau ingin memiliki saham di banyak perusahaan?"

Chanyeol mengernyitkan hidungnya tak suka, "itu terlalu rumit. Yang lain,"

"Kau mau mengujiku ya? Katakan saja apa yang kau inginkan!"

Sejenak Chanyeol terlihat berpikir. Ada banyak hal di dunia yang bisa dia jadikan kandidat imbalan. Kalau bukan mobil sport Mercedes Benz, mungkin pesawat jet pribadi juga boleh. Akan begitu jika orang yang Baekhyun hadapi adalah tipikal matrealistis.

Sayang, Chanyeol bukan.

"Aku tidak menginginkan apapun," pria itu mengedikkan bahu, tersenyum miring.

Tiba-tiba tubuhnya mencondong ke lawan bicara. Baekhyun mundur namun tak benar mundur karena tatapan Chanyeol bak mengikat tubuhnya untuk diam di tempat.

"Kau tahu, seekor singa tidak akan menginginkan rusa lain jika di taringnya sudah tertancap satu."

Perumpamaan yang lumayan keren, namun Baekhyun tak cukup cepat untuk memahami maknanya. Yang kini dia lihat hanyalah bibir Chanyeol yang senyumannya terasa menghipnotis.

Sempat membuatnya terpaku dalam, beruntung pria itu buru-buru menjauhkan diri.

"Mereka jahat, tapi tidak serakah," tutupnya.

Baekhyun mengernyit tak suka, "apa yang kau bicarakan?"

Awalnya, pria ini terlihat begitu sopan. Terlepas dari apa yang sudah Chanyeol lakukan, termasuk menelanjangi Baekhyun, pria ini adalah satu dari sejuta manusia di bumi yang berlabel baik, dan sedikit cabul. Kesan pertama Baekhyun yang tak bertahan lama.

Lihatlah sekarang. Sikap pria ini jadi seratus delapan puluh derajat berbalik. Dari yang sopan jadi sesukanya. Baekhyun pikir itu juga karena dia tak bisa berpura-pura baik jadi Chanyeol membalasnya.

Namun menjadi pria dengan cara tersenyum yang misterius, sepertinya adalah bakat Chanyeol sejak lahir.

"Hahaha," suara berat itu menggema dengan tawa, "pernahkah acara gosip membahas keseksianmu saat sedang curiga?"

Chanyeol menoleh dan Baekhyun sadar betul bahwa pria itu terpaku pada bibirnya.

"Kalau pernah, aku pasti akan menontonnya berulang kali."

Buru-buru, Baekhyun mengulum bibirnya sendiri dalam gugup. Sialan. Pria ini selalu begitu setelah Baekhyun membentaknya kemarin. Perilaku sederhana yang jatuhnya begitu menggoda. Entah perasaan Baekhyun saja atau efek rupa pria ini yang beraura panas.

"Aku harus masuk," Baekhyun langsung menyeret diri kembali memasuki kamar.

Belum sampai satu centi berpindah, Chanyeol langsung menggendongnya. Merengkuh tubuh mungil itu diantara lengannya yang kencang. Baekhyun menyembunyikan wajahnya yang dengan kurang ajar, bersemu merah jambu.

Sial! Sial! Sial!

.

e)(o

.

Malam harinya, Baekhyun seperti bermimpi.

Hujan. Anginnya keras menabrak jendela. Derak ranting pohon dan kaca menambah riuh petir yang mampir menit demi menit mengunjungi bumi. Baekhyun setengah sadar, merasakan kepalanya berputar-putar.

Pandangannya tiba-tiba saja menangkap seseorang di ujung tempat tidur.

Itu Chanyeol.

Hanya mengenakan celana jeans hitam yang sobek di bagian lutut dan rambut depan yang menutupi dahi. Pria itu bertelanjang dada lagi, di saat badai begini. Apa yang dia pikirkan?

Apa juga yang dia inginkan saat mendekati Baekhyun dan membungkuk di samping kepalanya.

"Tidur, Baekhyun..." bisiknya dingin di telinga kiri. Singkat namun terasa begitu mendominasi.

Baekhyun merasakan jantungnya sedang berdetak cepat, sudah hampir meletus di dalam. Kamarnya begitu gelap saat itu, dan apa yang dia rasakan adalah matanya yang dipaksa terpejam oleh telapak tangan Chanyeol.

Bak mengalami kelumpuhan tidur, Baekhyun tak mampu berucap apa-apa.

"Selagi kau masih bisa," Chanyeol tiba-tiba saja mengulum daun telinga Baekhyun.

Pria mungil itu sampai melonjak dadanya karena jilatan dan gigitan yang menyusul terasa seperti sengatan listrik.

Baekhyun dibuat terengah dalam rasa takut yang bercampur hasrat. Dirinya tenggelam semakin jauh ke dalam mimpi itu. Membuatnya terus terpejam seperti perintah Chanyeol, sampai pagi menjemput.

Aktor itu terbangun dengan keringat dingin. Dia demam.

Baekhyun menurunkan kedua kakinya ke lantai dengan hati-hati. Memikirkan mimpinya semalam yang sudah pantas disebut mimpi buruk. Pandangannya lurus ke jendela kaca, menembus keluar dan mendapati dedaunan dan ranting masih basah.

Itu berarti tadi malam memang benar badai.

Tapi tentang Chanyeol?

Baekhyun menggeleng ngeri. Langkahnya sempoyongan, berjalan menuju dapur yang kemarin Chanyeol tunjukan padanya.

Belum benar sampai, Baekhyun mendapati sang tuan rumah, terbaring di sofa dengan beberapa agenda kerja di atas tubuhnya. Dan sebuah laptop di meja, juga secangkir kopi hitam yang sudah tinggal ampas.

Pria itu juga lengkap memakai kaos dan boxer...

Mungkinkah semalam, Chanyeol selalu di sini? Sibuk dengan laptop, agenda kerja dan kopi?

Mimpi itu terputar kembali.

Chanyeol yang sekarang dia lihat begitu berbeda dengan yang semalam. Mungkin itu memang hanya mimpi. Hanya mimpi yang terasa nyata karena efek dari demam.

Ya, pasti seperti itu.

Tiba-tiba pria itu bergerak random. Chanyeol terbangun.

"Aah, badanku pegal sekali," pria itu meregangkan seluruh tubuhnya, dibarengi erangan kesakitan.

Efek tidur semalam di sofa. Itu berarti, dia memang tak mendatangi Baekhyun semalam.

Pemuda mungil itu berdehem sekali, membuat pria di depannya berbalik, "oh, selamat pagi."

Chanyeol refleks menyapa.

Pria tinggi itu langsung memperbaiki penampilan wajahnya. Menghilangkan kotoran mata, mengusap masing-masing pinggiran bibir dan tak lupa membenahi tatanan rambut, "kau butuh sesuatu?"

Tadi malam benar-benar hanya mimpi. Tentu saja.

"Air putih," jawab Baekhyun singkat.

Chanyeol mengangguk dan beranjak dari sofa untuk mengambil apa yang Baekhyun butuhkan.

Meninggalkan aktor itu yang sedang melegakan dirinya tentang mimpi semalam. Baekhyun butuh berkaca dan cuci muka untuk merasa lebih baik. Kebiasaannya yang hanya diketahui Sehun.

Baekhyun melihat sebuah cermin dengan ukiran merpati di pinggiran.

Baekhyun berkaca. Melihat beberapa luka lecet di wajah, perban di pelipis, lebam di bahu dan...

Astaga.

...bekas keunguan di telinga kirinya.

.

.

To be continued