SOULMATE

27-February-2012

Soulmate : ViN

Naruto : Masashi Kishimoto

|Pair : GaaHina and GaaSaku|Genre: Romance|Rate : +T, Rating may change|Warnings : AU,OOC, Typos, Etc.|

Don't Like, Don't read.

YOU HAVE BEEN WARNED!

.

.

|Balasan Review|

Oke dan akhirnya Chapter kemarin ada juga yang Review (^_^)

Saya senang ada yang bersedia membaca Fic saya, terimakasih banyak (^_^)

sasuhina-caem : Iya si panda penghancur hati berdarah dingin, teganya ninggalin Hinata (T_T)

Rama Diggory Malfoy : Wah..sama dong, saya juga suka GaaHina (^_^), Sasuke? hmm...iya maybe di Chapter-chapter selanjutnya.

SuHi-18 : Iya pasti, semua perbuatan pasti ada balasannya, Gaara pasti ngerasain kayak gimana ga enaknya di tinggalin (-_-), Sakura itu...yah..pasti akan kejawab setelah baca Chapter ini (^_^)

Wely : Oke...ini udah Update (^_^)


|Soulmate 2|Cherry Blossom Part I|

.

.

Sakura memandang heran pada layar ponsel Gaara, penelfon yang iseng membuang pulsa hanya untuk mengerjai orang ya? Benar-benar kurang kerjaan.

"Ada apa?" Gaara yang baru kembali dari meja kasir langsung menanyai Sakura yang masih memegang ponselnya.

"Maaf ya aku mengangkat telfon nya." Sakura menyerahkan ponsel itu pada Gaara.

"Tidak apa-apa." Gaara segera melihat daftar Log di ponselnya, ia mengerutkan dahinya ketika melihat 12 digit nomor yang tak di kenal.

"Kenapa?"
"Tidak, mungkin orang yang salah sambung." jawabnya enteng "Ayo ku antar kau pulang." Gaara berjalan keluar mendahului Sakura.

Sakura tak bisa berhenti memandang Gaara yang sedang berkonsentrasi pada jalanan, malam ini Konoha di guyur hujan, kerlip lampu dari berbagai bangunan di pinggiran jalan menghiasi Konoha, memperindah suasana sepanjang jalanan.

"Um..Gaara.."

"Ya." Gaara melirik Sakura.

"Aku kadang berpikir dan mengingat penyebab mengapa kita putus, yah...walaupun itu sudah lama sih." Semburat merah tampak pada pipi Sakura.

Gaara menyeringai "Coba kau ingat lagi masalahnya, kau yang meminta putus kan?"

Sakura terdiam sebentar, memang benar apa yang dikatakan Gaara barusan, ia lah yang memutuskan Gaara dan memulai hubungan baru dengan orang lain.

"Lupakan saja." Gaara merasa hal itu sudah tidak perlu di bahas lagi, itu hanyalah kenangan lama.

"Maafkan aku Gaara." Sakura meraih pundak Gaara.

Gaara melepaskan tangan kanannya dari pegangan setir, lalu memengang tangan Sakura yang menempel di pundak kirinya.

"Tidak apa-apa Sakura, kau tidak salah." Jade nya bertemu dengan Emerland gadis bersurai pink itu.

Gaara kembali berkonsentrasi pada jalanan. "Ketika sesuatu sudah terasa tidak nyaman, saat itulah seseorang harus berpindah ke tempat yang lebih nyaman. Kau maupun aku sama-sama tidak salah" Lanjutnya tanpa melihat Sakura.

Mobil Bugatti Veyron nya berhenti di sebuah rumah ber-cat merah muda.

Sakura menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil yang di dudukinya lalu memejamkan kedua matanya. "Gaara, terimakasih sudah mengantar ku." Ia menolehkan kepalanya pada Gaara yang juga tengah melihat ke arah Sakura.

Setelah beberapa menit mereka saling pandang, Gaara ikut menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobilnya, memandangi air hujan yang berjatuhan membasahi jendela mobilnya. Mata Jade nya memandang kosong pada jendela mobil dengan alat pembersih air hujan yang bergerak ke kanan dan ke kiri.

"Gaara." Sakura memanggil nya,

"Hn." sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela depan.

Cup..kecupan kecil Sakura mendarat di pipi kiri Gaara. "Terimakasih."

Gadis berambut pink itu keluar dari mobil dan berlari kecil membuka gerbang rumahnya, lalu menghilang di balik gerbang besi setinggi 170 cm.

Sementara Gaara masih termangu memikirkan kecupan yang Sakura berikan untuknya, rasanya seperti berada dalam suasana saat itu, dimana mereka masih menjadi sepasang kekasih.

Cinta semasa SMA, apakah mungkin akan terulang kembali?

.

.

|Soulmate 2|^Gie^|

.

.

Gaara membanting pintu mobilnya dan segera memasuki apartemennya.

Ia merasa kacau hari ini, memikirkan si Hyuuga yang mungkin sudah mengadu pada orang tuanya karena sudah ia abaikan, dan ketika semua kejadian itu sudah di adukan, entah apa yang akan terjadi, mungkin saja ia akan di ceramahi oleh omelan-omelan Karura yang membuat sakit telinga, ataupun...yah...Kazekage sang Ayah yang paling ia takuti.

"Gaara..." panggilan Ibunya membuat Gaara terpaksa untuk berhenti sejenak.

"Bagaimana acaranya?" Karura yang sedang menyulam memulai pembicaraan dengan putranya.

"Yeah...seperti biasanya." Gaara tak mau membahas tentang Hinata lagi, lagipula ia tak berkencan dengan Hinata, bertemu pun tidak. Ia hendak beranjak pergi meninggalakn ibunya yang masih ingin mengobrol dengannya.

"Ehem..." Kazekage berdehem ketika melihat anaknya mulai mengabaikan Karura.

"Ya Tou-san, aku menghabiskan waktu dengan Hinata, kita jalan-jalan dan makan di sebuah Cafe, menyenangkan sekali." sepertinya Gaara tahu apa yang harus ia lakukan ketika mendapatkan teguran kecil dari Ayahnya.

"Kau yakin?" suara berat Kazekage membuat nyali Gaara sedikit menciut, ia tak berani menatap mata Ayahnya.

Gaara membuang pandangannye ke arah jendela yang terbuka, melihat bunga Sakura yang bermekaran di luar sana. Mengingatkannya pada gadis bersurai pink yang kini memenuhi ruang hatinya kembali.

"Sudahlah Tou-san, mungkin Gaara lelah, jadi mengapa kita tidak membiarkannya masuk kamar dan beristirahat?." Karura menyadari perang dingin antara Ayah dan anak. "Ayo Gaara, cepat istirahat dulu." Karura tetap bersikap lembut pada anak bungsunya itu.

Gaara melangkahakan kakinya menuju kamar, ia diselamatkan oleh ibunya dari interogasi detail ayahnya itu.

Ia menghembuskan nafas beratnya ketika memasuki kamar nyamannya, menjatuhkan badannya yang lelah ke atas ranjang epuk tempat favoritnya.

Ada suatu dorongan yang membuatnya untuk mengecek menu pesan di ponselnya, terdapat 3 pesan baru di sana, dan sepertinya pesan yang masuk beberapa jam yang lalu. Sebuah nomor yang sama dengan nomor yang menelfonnya sewaktu di Cafe.

Ia membacanya dan menghapusnya begitu saja. Gaara terlalu lelah untuk memperpanjang urusan dengan si penelfon dan si pengirim pesan itu, ia tertidur tanpa mengganti bajunya maupun melepaskan sepatunya.

.

.

|Soulmate 2|^Gie^|

.

.

Hinata membereskan buku-buku yang bertumpukan di atas lantai, menyusunnya di rak-rak yang berjejer rapih, penambahan buku baru yang dilakukan setiap sebulan sekali oleh pihak pengelola perpustakaan umum Konoha membuatnya harus pulang terlamabat sore ini, jam tangan yang melingkar di tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 5 sore, itu berarti ia telat 1 jam dan Ayahnya pun akan memakluminya karena beliau juga mengetahui kalau setiap sebulan sekali Hinata mendapatkan jam kerja tambahan untuk membereskan buku-buku baru. Di sela kegiatannya yang tak terlalu berat, pikirannya melayang memikirkan 'teman kecilnya' yang kembali, ia memejamkan matanya membayangkan kenangan masa kecilnya dengan Gaara, senyuman kecil tersungging pada bibir merah mudanya.

"Hari itu telah datang, Gaara-kun benar-benar kembali." ia mengeratkan pelukannya pada sebuah buku tebal yang tengah ia bawa "Aku selalu percaya pada Gaara-kun, aku tak perduli perkataan orang, Gaara-kun tak pernah berbohong pada ku!"

Senyuman dan keyakinannya memudar perlahan saat ia mengingat kejadian itu. Pria bernama Gaara Sabaku yang kemarin berjanji untuk menjemputnya namun tak kunjung datang, seseorang yang selalu menjadi topik pembicaraan orang tuanya di rumah. Hinata mencoba untuk menyingkirkan pikiran-pikiran semacam itu ketika otaknya mulai mempertanyakan siapa suara gadis yang menjawab panggilannya kemarin. Apa mungkin Gaara sedang berkencan? Tapi mana mungkin secepat itu mendapatkan seorang gadis yang mau di ajaknya berkencan. Terbayang wajah serius Gaara yang ia perhatikan saat Dia menyetir mobil untuk mengantarkannya kemarin. Dia tampan, jadi mungkin saja dia mendapatkan teman kencan secepat itu.

Hinata mengunci pintu kaca perpustakaan setelah memeriksa dan memastikan semuanya sudah rapi, ia benar-benar menjadi sangat bad mood hari ini, kejadian kemarin terus terulang dalam pikirannya. Ia tidak suka dengan pengingkar janji, namun mengapa ia masih selalu berharap untuk bertemu kembali dan mendengar kembali janji Gaara? Membingungkan.

Mata Lavendernya melihat tepat ke arah jam 12 di depan gerbang Konoha Preschool, matanaya melebar ketika menangkap adanya sesuatu yang ia kenal, sebuah mobil BMW Hitam dengan seorang pria berambut Merah.

Gaara? Apa mungkin dia menjemputnya? Hinata mendekati pria berambut merah yang sedang bersandar di mobilnya sembari menghisap Cigarette yang tinggal setengahnya.

"Gaara-kun?" ia ragu untuk menyebut nama pria yang meninggalkannya kemarin.

"Anggap saja ini sebagai bayar hutang ku kemarin." jawabnya kalem,

"Ti-tidak apa-apa, aku tidak menganggapnya sebagai hutang." Hinata menundukkan kepalanya.

"Kau tidak sedang buru-buru kan? Aku mau ke Cafe dulu untuk makan sore." Gaara membuang Cigarette nya.

"Hei Hinata-chan..." seseorang dari arah gerbang Preschool berseru memanggil Hinata.

Mata Lavendernya terbelalak melihat seorang gadis yang memanggilnya tadi. Seorang gadis berperawakan Sexy yang mengenakan rok pendek di atas lutut dan T-shirt berwarna Pink.

Gadis itu melihat ke arah Hinata "Sedang apa kau di sini Hinata?" gadis itu mengerling pada Gaara "Kau mengenalnya?" lanjutnya.

"I-iya, ini Gaara-kun." Hinata memperkenalkan Gaara pada gadis itu dengan penuh keraguan "Gaara-kun, ini Sakura-chan." Hianta mengenalkan Sakura pada Gaara.

"Kita sudah kenal kok." Sakura berkacak pinggang " jadi mengapa kalian berdua berada di sini?"

"Aku kebetulan lewat sini dan bertemu Hinata." jawab Gaara datar.

Jawaban Gaara tadi sontak membuat Hinata kaget, bukannnya tadi ia bilang bahwa ia sengaja menjemput Hinata?

Dan lagi-lagi Hinata memilih untuk diam.

"Jadi apa aku boleh ikut?" Sakura berbicara pada Gaara namun pandangannya tertuju pada Hinata.

Gaara membukakan pintu depan untuk Sakura, dan tentu saja Sakura langsung masuk dan duduk di tempat yang sangat strategis untuk memandang wajah tampan Gaara.

Semantara Hinata, ia membuka pintunya sendiri dan duduk di kursi belakang dengan perasaan kesal berkecamuk dalam dirinya.

Di sepanjang perjalanan Hinata menghabiskan waktunya untuk merasaan kombinasi kesal karena menyaksikan Sakura yang terus-terusan mengajak ngobrol Gaara dan mengalihkan konsentrasi pria berambut merah itu.

Kekhawatiran semasa kecilnya memang benar-benar terjadi, dari dulu Hinata sangat takut kalau Gaara mempunyai teman baru dan melupakannya, dan sekarang...apa yang terjadi? Mengingat keberadaannya yang sedari tadi duduk di kursi belakang pun tidak, Gaara benar-benar sudah tidak pernah melihatnya, Dia sudah tak seperti Gaara yang dulu.

Mereka makan dalam satu meja yang sama, ini akan terasa lebih menyebalkan bagi Hinata, menyaksikan Sakura yang sepertinya begitu dekat dengan Gaara, yah...satu-satunya yang membuatnya lega adalah sikap dingin Gaara pada Sakura walaupun diperlakukan manis oleh Sakura, tapi...sifat dingin itu sangat berbeda, setidaknya jika dengan Sakura, Gaara masih selalu meresponnya walaupun dengan nada yang datar, tapi kalau dengan Hinata, yah...paling hanya berakhir di tinggalkan seperti kemarin.

"Eh Gaara, bagaimana kalu kita bermain bola basket di sana." Sakura menunjuk ke arah area bermain "Kita bisa dapat hadiah lho, aku ingin dapat boneka." Kini Sakura mulai mengganti posisi duduknya menjadi berdiri.

"Kau yakin?" Gaara memandang sakura " ini sudah malam."

"AH...tidak apa-apa, lagipula ini kan Friday night."

"Yah..apa boleh buat."

Hinata menyaksikan 'teman kecilnya' di bawa oleh gadis pink itu menuju sebuah area bermain, ia memperhatikan mereka yang sedang melemparkan bola basket ke keranjang, mereka mulai terlihat sedikit akrab, bahkan ia dapat melihat Gaara tersenyum pada gadis pink itu, terlihat seperti sebuah kencan.

Sementara Hinata, duduk sendiri dengan di temani oleh segelas susu coklat yang masih utuh. Gadis berkulit putih itu menghela nafas beratnya dan mencoba untuk berjalan menghindar dari pemandangan itu, pemandangan yang menunjukkan keakraban Gaara dan Sakura.

Ia melangkahkan kakinya menuju ke sebuah toko binatang peliharaan, mungkin ini akan sedikit menghibur, Hinata memang sangat menyukai hewan, matanya tertuju pada seekor kucing jenis Tabby cat berwarna Oranye yang masih kecil.

"Hei Hinata." gadis berambut pirang menyapanya.

"I-Ino-chan, selamat malam." Hinata membungkukkan badannya.

"Kau sedang apa di sini?" Ino melihat ke samping kanan dan kiri Hinata "Kau sendirian?"

"T-tidak, aku bersama seseorang."

"Haa~...kau sedang kencan ya?"goda Ino.

"T-tidak Ino-chan, aku tidak kencan, hanya saja-"

Hinata kembali teringat pada keakraban mereka berdua, bagaimana bisa ada yang mengiranya sedang berkencan di saat seperti ini? Bukan kencan namanya jika seseorang yang mengajak kita menemukan orang lain untuk di ajaknya bermain dan melupakan keberadaan kita.

.

.

|Soulmate 2|^Gie^|

.

.

Sakura memeluk sebuah boneka Gurita berwarna ungu, mata Emerland nya mengisyaratkan sebuah kebahagiaan. Mereka berdiri berdampingan di sebuah trotoar dan memandang mobil-mobil yang lewat.

"Kau yakin mau pulang naik Taxi saja?" Gaara membuka suara.

"Iya, lagipula rumah kita kan berbeda arah." ia merekatkan pelukannya pada boneka yang baru ia dapatkan "Terimakasih ya bonekanya." kepalanya ia sandarkan pada Bahu Gaara.

Gaara tak dapat berkata apapun, ia hanya bisa melihat ke arah gadis yang bersandar di bahunya, dan sebagai lelaki, Gaara tergerak untuk merengkuh bahu gadis itu.

"Aku masih bisa merasakan suasana kencan pertama kita, kau ingat itu Gaara?" Sakura mengenang masa lalunya.

"Hn." hanya itu yang dapat Gaara katakan di tengah kehangatan sebuah pertemuannya dengan 'manatan pacar'.

"Hubunganku sedang buruk dengan Naruto." Sakura mulai menceritakan masalah pribadinya. "Naruto itu pacar ku yang sekarang." jelasnya

"Jangan asal ambil keputusan sebelum berfikir." Gaara mengingatkan Sakura, ia sudah paham betul sifat ceroboh Sakura yang selalu mengambil tindakan sebelum berfikir.

Sakura melepaskan satu tangannya dari pelukan bonekanya dan memeluk pinggang Gaara. "Aku jadi berfikir bahwa kau pria terbaik."

Sebuah Taxi berhenti di hadapan mereka berdua dan membuat Sakura terpaksa melewatkan momen hangat itu. Gadis pink itu pergi.

Angin malam berhembus. Udara yang dingin membuat Gaara harus menaikkan seleretan jumper jaket hitam yang di kenakannya. Pikiran tentang Sakura perlahan menghilang ketika ia menyadari bahwa Hinata tidak dengannya. Ada sedikit rasa bersalah karena telah meninggalkannya begitu saja, sekarang Hinata menghilang dan ia yang bertanggung jawab atas gadis berkulit putih itu. Perasaan kesal memenuhi kepala pria dingin itu, ia terus berjalan dan melakukan pencarian dengan kedua mata tajamnya, sampai pada akhirnya ketika ia melewati sebuah toko hewan, ia melihat seorang wanita yang sangat ia kenal, tak salah lagi itu pasti Hinata, seorang gadis yang selalu memakai baju kebesaran, selera fashion nya pasti sangat buruk.

Gaara memasuki toko itu dan sudah tidak sabar untuk memarahi Hinata yang sembarangan pergi begitu saja.

"Kau kemana saja sih Hinata!" suaranya meninggi dan berhasil membuat gadis itu menoleh kaget.

"M-maaf Gaara-kun, tadi ku pikir seharusnya aku pergi saja." mata Lavendernya bertemu dengan Jade yang memancarkan kekesalan.

"Bukan begini caranya, kau sudah membuang waktu ku untuk mencari mu, sekarang kau enak-enakan di toko hewan." nadanya masih tetap meninggi, bahkan terdengar seperti bentakan.

Ingin rasanya Hinata berteriak, mencurahkan rasa kesalnya dan mengatakan 'Kau pikir kau tidak membuang waktu ku? Kau membiarkanku menunggu sementara kau asik dengan Sakura!' namun lagi-lagi kata-kata itu harus ia telan kembali, tidak ada yang bisa dilakukan oleh seorang Hinata Hyuuga selain 'menitikkan air mata'.

Pria yang tadi meneriakinya itu langsung saja meleleh ketika melihat tetesan air mata di sepasang mata Lavender nya.

"Sudahlah lupakan." katanya tenang "Cepat masuk ke mobil, ini kuncinya, aku akan menyusul." Gaara memberikan kunci mobilnya pada Hinata.

Hinata berjalan lesu menuju mobil milik Gaara, mungkin kalau ia jadi Sakura, pasti Gaara akan mengantarkannya dan membukakan pintu untuknya.

Sakura...gadis cantik sepupu Tsunade-sama pemilik Preschool tempat Hinata kerja, semua pria tertarik akan kecantikan dan keindahan tubuhnya, ironisnya Gaara juga begitu, termakan oleh pesona Sakura yang memang tak perlu diragukan lagi, dia benar-benar sempurna, cantik, sexy dan pandai bergaul. Hinata duduk di kursi samping pengemudi, ia meihat bayangan dirinya dari kaca jandela mobil. Hinata yang biasa saja, yang selalu menundukkan kepalanya, dan tidak sexy, sama sekali tidak. Ia memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil dan mencoba untuk menerima kenyataan itu.

Seseorang membuka pintu mobil dan membuat Hinata membenahi posisi duduknya, ia melihat Gaara yang sedang membawa seekor kucing dan sebuah kantung plastik di tangan kirinya.

Gaara menduduki tempatnya dan menutup pintu mobil kembali.

"Ini." Gaara menyerahkan anak kucing yang ia bawa "Anggap saja sebagai permintaan maaf karena meninggalkan mu tadi." ia menyalakan mesin mobilnya.

Hinata memangku anak kucing berwarna Oranye itu dan mengelus bulunya yang halus "Tadi aku sempat melihat ini di toko hewan, kebetulan sekali Gaara-kun membeli kucing yang ku inginkan."

Gaara tetap berkonsentrasi pada jalanan yang sedikit macet.

Hinata menelan ludah karena perkataannya tidak di respon. Sikap Gaara ketika dengan Hinata memang berbeda dengan sikapnya ketika dengan Sakura.

"Kau perlu memberinya nama." respon yang terlalu lambat dalam etika pembicaraan.

Hinata memikirkan nama yang akan ia berikan pada peliharaan barunya, memikirkan nama jenis bunga, nama tokoh kartun, nama-nama lainnya yang terdengar bagus. "Kucing jantan ya, A-akan ku panggil Friday ."

Mendengar Nama itu membuat Gaara memandang aneh pada gadis di sebelahnya "Kau aneh sekali ya?"

"A-ano Gaara-kun, hari ini kan hari jum'at." penjelasan yang sangat sederhana.

Gaara mengangkat alisnya, merasakan sebuah keanehan dalam diri gadis ini. "Baiklah terserah kau saja mau menamai apa."

Hinata memperhatikan pemandangan diluar kaca jendela mobil, di tengah-tengah keheningan, Gaara membuka pembicaraan dengannya.

"Kau kenal Sakura?"

Hinata yang merasa di ajak bicara pun langsung merespon seadanya "I-iya, dia sepupu pemilik Preschool tempat aku bekerja."

"Menurut mu, bagaimana dia?"

"Aku tidak begitu menyukainya." gumamnya

"Apa?" Gaara tidak dapat mendengar gumaman Hinata tadi "Bisakah kau berbicara lebih keras?"

"A-ano Gaara-kun, aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja aku tidak menyukainya." Hinata selalu jujur pada 'teman kecilnya' itu.

"Mengapa? Dia gadis yang baik." Gaara melakukan pembelaan.

"Iya, lebih dari itu, dia bahkan gadis yang sempurna." lirihnya.

Suara yang hampir seperti bisikan itu dapat terdengar oleh Gaara, ia menyeringai.

"Ba-banyak pria yang menyukainya, karena dia itu cantik dan pandai bergaul."

"Lalu mengapa kau membencinya?" Gaara sesekali memperhatikan Hinata dari sudut matanya.

"I-itu sudah lama, sejak 5 bulan yang lalu, se-seharusnya aku sudah bisa melupakan tapi—" Hinata menggantung kalimatnya.

"Apa dia mengambil seseorang yang kau sukai?"

Hinata langsung memandang kaget pada Gaara, pria itu seolah-olah dapat dengan mudahnya membaca lembar demi lembar rahasia yang ia sembunyikan, yang bahkan kedua orang tuanya pun tidak tahu.

"Apa benar begitu Hyuuga?" Gaara bertanya kembali dengan seringainya.

"I-iya." Hinata tertunduk lemas. "Sakura mengambil Naruto-kun yang pada waktu itu masih jadi pacar ku."

"Lalu mengapa kau tidak melakukan apa-apa?" Gaara mencoba untuk mencari tahu tentang sisi kehidupan gadis itu.

"T-tidak ada yang bisa ku lakukan saat pacarku memutuskan ku demi orang lain."

Hening...hampir setengah jalan menuju rumah dan mereka saling terdiam setelah kalimat dari hinata menutup pembicaraannya.

Gaara nampak sedang memikirkan sesuatu, rasa kasihan pada Hinata dan rasa kecewa pada Sakura karena sudah setega itu pada Hinata. Namun semua yang Hinata ceritakan itu tak dapat membuatnya berfikir buruk tentang Sakura, Dia tetap Saja mantan pacarnya yang pernah mengukir kenangan terindah bersamanya.

"Sudah sampai." kata Gaara datar.

Hinata langsung meraih tasnya dan mengambil sekantung plastik yang berisi makanan untuk kucing barunya, Ia memeluk Friday dan bersiap untuk membuka pintu mobil, Gaara meraih pundaknya untuk mencegahnya keluar.

"Sebentar..." suara beratnya terdengar kembali, mereka saling bertatapan, Hinata tampak sangat gugup dan mengigit bibirnya.

"A-ada apa?" Hinata menghindari tatapan mata Gaara, ia menundukkan kepalanya seperti yang biasa ia lakukan.

"Aku ingin mengatakan satu hal penting,"

Hinata masih belum berani menatap Gaara, ia mempermainkan ekor kucing yang ia pangku untuk menghilangkan rasa geroginya.

"Kau masih ingat kan ketika aku berjanji untuk kembali dan menikahimu?" Gaara mulai berbicara tentang hal yang serius.

Jantung Hinata berdetak semakin kencang mengingat janji itu, sebuah janji yang selalu ia ingat semenjak kecil, semenjak ia belum mengerti arti 'Menikah' sampai sekarang ia sudah mengerti arti 'Menikah', itu berarti Hinata akan hidup bersama pria berambut merah itu dan memiliki anak-anak yang lucu. Pipinya merona membayangkan hal itu dalam hidupnya.

"Ku rasa itu hanyalah janji seorang anak kecil yang—" Gaara mengantung kalimatnya dan menyeringai "Bahkan aku tidak tahu apa arti 'menikah' pada saat mengucapkannya." Nadanya penuh penekanan pada kata 'Menikah'.

"A-apa maksud Gaara-kun dengan 'janji seorang anak kecil'?" Hinata meminta penjelasan akan kalimat itu.

Gaara menghela nafasnya untuk mengatakan sebuah kejujuran "Bisa di bilang pada saat itu aku mengatakannya secara tidak sadar, dan ku harap kau lupakan saja janji konyol itu."

Hinata terkesiap akan kalimat terkhir yang terlontar dari mulut Gaara, wajah yang tadinya ia tundukkan sekarang sudah menatap tajam Gaara, ini pertamakalinya dalam sejarah seorang Hinata Hyuuga berani menatap tajam tepat di mata seorang pria. Hinata menelan ludah berkali-kali, mengatur nafasnya agar tetap tenang, hari ini sudah cukup ia di buat kesal oleh Gaara, dan bahkan saat akan pulang pun ia di beri oleh-oleh rasa kesal lagi.

"Dengar Gaara kun," Hinata menunjuk tepat di wajah Gaara "Itu hak mu untuk menepati janjimu ataupun tidak, Tapi jika kau mengatakan itu ialah janji yang konyol, aku tidak bisa terima, karena ada seseorang yang selalu percaya pada sebuah janji yang barusan kau katakan Konyol itu!kau mengerti Gaara? Mengerti?" Suaranya meninggi melebur dengan emosinya yang sedari tadi ia pendam, Hinata baru saja membentak Gaara. Ia langsung keluar dari mobil dan membanting pintunya, ia berlari memasuki gerbang rumahnya, menutup gerbang itu dan bersandar pada gerbang besi dibelakangnya. Ia memejamkan kedua matanya, air matanya mulai menetes di barengi oleh suara mobil Gaara yang pergi menjauh dari depan gerbang rumahnya.

Hinata megatur nafasnya dan mengusap sisa air matanya, ia tak boleh terlihat begini di depan orang tuanya.

"Tadaima..." suaranya agak serak .

Tak ada yang menjawab, mungkin orang tuanya sudah tertidur dan ia merasa beruntung karena tidak harus repot-repot mencari alasan penyebab matanya menjadi sembab.

Hinata memasuki kamarnya dan melihat Ibunya sedang merapikan buku-buku di atas meja belajar Hinata. Ia menghela nafas berat, mempersiapkan alasan mengapa ia terlihat sembab.

"Tadaima." Ia mengulaingi kalimat itu untuk menyadarkan Ibunya akan keberadaannya.

"Hinata-chan, kau sudah pulang? Apa itu?" Ibunya melihat ke arah seekor kucing yang ia peluk.

Hinata menurunkan anak kucing dari pelukannya, anak kucing itu langsung berlarian.

"Itu peliharaan baru ku, namanya Friday" jawabnya lemas sembari meletakkan tas jinjingnya ke atas meja belajar.

"Kau menangis?" Ibunya membelai rambut panjang Hinata.

"Tidak Kaa-chan, aku hanya sedikit kelelahan dan mengantuk."

"Kau di antar Gaara? Mana dia?"

"Dia sudah pulang." Hinata membuka kancing bajunya satu persatu.

"Ya sudah, sekarang mandilah dan istirahat." Masumi mulai meninggalkan kamar Hinata. "Jangan lupa besok ada acara penting." Sambungnya.

"Acara apa?" Hinata berdo'a dalam hati semoga saja bukan acara pertemuan Hyuuga dan Sabaku, karena besok ia sama sekali tidak mau bertemu dengan Gaara, ia masih kesal dengan perlakuan Gaara padanya seharian ini.

"Keluarga Uchiha akan berkunjung." Jawab Masumi sembari menutup pintu geser kamar Hinata.

Uchiha?

.

.

TBC


A/N :

Ya ampun, niat mau jalan berdua malah ada Sakura, kejadian yang menyebalkan di cuekin saat jalan-jalan plus di marahin lagi...ihh (=_=')

Jadi bagaimana menurut Minna-san tentang chapter ini?

Review penting sekali bagi Author, Mihihi (^^)v

Terimakasih yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca Fic ini,

I Freakin' Love You

|^GiE^|