Chanyeol menghela nafasnya ketika dia masuk ke apartemennya dan hanya menemukan kesunyian.
Hana mungkin sudah tidur duluan karena perempuan itu akhir-akhir ini selalu merasa lelah dan malas.
Chanyeol berjalan ke dapur berharap menemukan makanan ataupun apapun yang dia bisa makan, namun dia kembali menghela nafas saat tak ada apapun disana.
Bahkan yang ada cucian piring yang menumpuk adanya.
Dia lelah dan lapar. Roti melon tak membantunya sama sekali.
Uangnya mungkin semakin menipis setelah dipakainya untuk membayar pengacara perceraiannya dengan Baekhyun.
"Sial."
Malam itu, Chanyeol menahan semuanya dan tidur di sofa ruang tengah.
Dia tak ingin melihat Hana sedikitpun.
"Chanyeol, aku ingin beli baju baru, pakaianku sudah tidak muat semua gara-gara perutku membesar." Rengek Hana
Chanyeol yang sedang memasang dasinya menatap Hana dan menatap datar perempuan itu.
"Aku sedang tak punya uang."
"Kenapa? Bukankah si Byun itu selalu memberikanmu uang?"
"Aku sudah tidak bersamanya lagi Hana, jadi aku tak punya apapun sekarang."
"Lalu bagaimana dengan kita Chanyeol!? Bagaimana dengan bayi ini!?"
Chanyeol menghela nafasnya dan meraih tas kerjanya setelah memasang dasinya. "Aku akan pastikan semuanya baik-baik saja."
"Benarkan kataku!? Seharusnya kita gugurkan saja bayi ini! Kamu sudah tak punya apa-apa, tak ada gunanya aku mempertahankan bayi sialan ini."
"Cho Hana!" Chanyeol terkejut mendengar perkataan itu.
"APA!?"
"..." Chanyeol mengerti, ini bukanlah situasi yang baik untuk siapapun, terutama untuk calon anaknya.
"..."
"Tenangkan pikiranmu dulu," katanya, "aku pergi dulu, semuanya akan baik-baik saja, ingat itu."
Hubungannya dengan Hana semakin memburuk.
Dia kesal dan marah dengan perempuan itu.
Apartemennya berantakan sekali setiap dia pulang. Dia ingin istirahat, namun keadaan memaksanya untuk membersihkan semuanya terlebih dahulu.
Perempuan itu, apa yang dia lakukan selama di apartemen? Hanya makan dan tidur saja? Bekerjalah sedikit, tak masalah jika dia hanya mencuci piring yang penting satu pekerjaan telah berkurang.
Dia sangat lelah.
"Odengnya satu."
Saat itu dia memutuskan untuk mencari udara segar untuk menenangkan otaknya yang sudah sangat berantakan sekaligus mencari makanan. Dia sangat lapar.
Ketika dia melewati sebuah warung tenda kecil, dia ingin odeng.
Chanyeok terkejut ketika dia bertemu pandangan dengan Baekhyun ketika dirinya masuk kedalan warung.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini? Bukankah ini jauh dari rumahmu?" Tanyanya. Dan ini sudah sangat malam.
"Cukup dekat dengan kantor." Jawab Baekhyun
Awalnya Chanyeol mengerutkan dahi, kemudian dia mengerti, "Kamu kerja disana?" Chanyeol mengambil odengnya kemudian memakannya di tempat.
Baekhyun mengangguk. "Pengacaramu, sudah mengatakannya?"
Chanyeol mengangguk, "sudah." Dia bertemu dengan pengacaranya beberapa hari yang lalu. Tawaran yang menggiurkan, apalagi dia sudah sangat lelah dengan pencarian kerjanya.
"Kembalilah, aku tak masalah." Baekhyun tersenyum tipis, "aku hanya ingin perusahaan itu terus berjalan."
"Kalau gitu, nikah lagi, pasti banyak yang menginginkan posisi itu." Chanyeol mengambil tusuk odeng yang lainnya.
Baekhyun menggeleng, "itu-"
Chanyeol mengangkat alisnya, "apa?"
Baekhyun menggeleng, "tidak apa-apa." Kemudian perempuan itu mengalihkan pandangannya pada bibi penjual. "Bi, aku ingin odeng 10 tusuk, dibungkus ya bi."
Chanyeol mengerutkan dahi.
"Ini."
Baekhyun tersenyum lebar dan mengambil odengnya, "terimakasih bi, orang ini yang akan membayarnya."
"Apa!? Tunggu! Jangan seenaknya!" Chanyeol kaget mendengarnya.
Baekhyun tersenyum lebar dan menepuk punggung Chanyeol, "akan ku ganti nanti, terimakasih atas teraktirannya, bye Chanyeol."
Setelah malam itu, Chanyeol mulai menyadari kehadiran Baekhyun yang tiba-tiba selalu ada dalam jangkauannya.
Dia pernah melihat perempuan itu berhenti di sebuah toko dan hanya memandangnya dari luar. Tak ada yang dilakukannya, perempuan itu hanya menatap toko itu tanpa arti kemudian pergi begitu saja.
Lalu beberapa hari kemudian, dia melihat perempuan itu sedang duduk di bangku trotoar sambil memakan kue ikan.
Perempuan itu memakannya dengan lahap dan kepanasan.
Chanyeol tanpa sadar tertawa melihatnya ketika perempuan itu megap-megap karena panasnya kue ikan yang dibelinya.
Tapi perempuan itu tetap mengunyahnya dengan senyuman hingga matanya berbentuk bulan sabit.
Saat itu, Chanyeol tidak tahu.
Kenapa dirinya merasa sedih ketika melihat itu?
Baekhyun merapatkan mantel yang digunakannya dan itu membuat Sehun mengerutkan dahi.
"Ini di ruangan, anda bisa lepas mantel anda dan menggantungnya disana." Katanya sambil menunjuk tempat unruk menggantung mantel yang telah disediakan.
Baekhyun gelagapan, "ah, maaf, nanti akanku lepas."
Sehun menghela nafasnya. "Jadwal anda sudah saya kirim lewat email seperti yang anda minta, tolong liat dan siapkan semuanya."
Baekhyun mengangguk, "Terimakasih." Katanya dengan senyuman tipis.
Sehun menghela nafasnya, "cepatlah bawa direktur Park kembali kesini, anda menyulitkan semua orang yang bekerja." Katanya. "Saya akan kembali bekerja, permisi."
Baekhyun mengerutkan dahinya dan mengerjapkan matanya ketika telinganya mendengar suara gaduh di depan ruang kerjanya.
"... senang bisa melihat anda kembali..."
"... semuanya menjadi kacau..."
"... anda akan kembalikan?..."
Baekhyun menegakkan badannya dan mengambil mantel yang dia pasang pada kepala kursinya lalu memakainya dengan cepat.
Ada ketukan di pintu ruangannya.
"Masuk!"
Chanyeol masuk ke dalam ruangan itu dan tersenyum saat Baekhyun menatapnya dengan pandangan terkejut.
"Kamu kembali." Katanya.
Chanyeol mengangkat bahunya, "tawaranmu, masih berlaku kan?"
Baekhyun mengangguk dan berdiri dari kursinya lalu menghampiri Chanyeol, "tentu! Selamat datang kembali di perusahaan ini." Dia menjulurkan tangannya dan disambut baik oleh Chanyeol.
"Kapan aku bisa mulai bekerja?"
Baekhyun mengerjapkan matanya lalu menatap meja kerjanya. "Eumm, sekarang?"
Chanyeol mengerutkan dahi, lalu mengikuti arah pandang Baekhyun dan terkejut melihat tumpukan berkas yang menggunung disana.
Baekhyun mengalihkan pandangannya dan menatap Chanyeol dengan senyuman lebarnya, "heheheh, bisa?" Tanyanya.
"Jangan tertawa dalam kondisi seperti ini." Chanyeol berjalan menuju meja kerja itu dan melepas jasnya lalu menyampirkannya di bangku tempat Baekhyun duduk. "Bantal?" Chanyeol mengerutkan dahi dan menatap Baekhyun saat melihat sebuah bantal menjadi alas duduk disana.
"Heheheh, aku tidak bisa duduk lama-lama." Baekhyun mengusap lengan atasnya.
Chanyeol menghela nafas, kemudian duduk dikursi itu tanpa melepas bantal itu. "Oke, aku akan bekerja mulai sekarang."
"Terimakasih." Baekhyun tersenyum lebar. "Kalau begitu, aku akan pulang sekarang." Baekhyun berjalan ke samping Chanyeol, "aku akan membereskan barang-barangku dulu."
Chanyeol mengangguk, kemudian menjauhkan kursinya ke sisi lain dan membiarkan Baekhyun membereskan barang-barang perempuan itu.
Chanyeol menatap Baekhyun dari atas sampai bawah. Dia mengerutkan dahinya ketika merasa ada yang berubah dari perempuan itu.
Baekhyun lebih sering mengikat rambutnya sekarang hingga leher jenjangnya terlihat, ketika mereka serumah dulu, perempuan itu selalu menggerainya. Chanyeol tidak tahu kalau perempuan itu mempunyai leher yang cantik.
Kemudian dia menatap kebawah dan sadar apa yang berubah, "kamu-" katanya pelan.
Baekhyun telah selesai membereskan barangnya dan memutar tubuhnya untuk menghadap Chanyeol, "aku sudah membereskannya, kamu sudah bisa bekerja sekarang."
"Kamu semakin berisi."
Baekhyun langsung memundurkan dirinya ketika Chanyeol mengatakan itu, sementara pria itu menatapnya dengan penuh penasaran.
"Hanya perasaanmu."
"Tidak." Chanyeol menurunkan pandangannya dan itu membuat Baekhyun langsung merapatkan mantelnya. "Perutmu membesar." Katanya hati-hati.
Baekhyun tertawa, "tuhkan, mulai ngaco, sepertinya kamu bisa bekerja besok saja."
"Tidak, tidak, aku bisa bekerja sekarang." Chanyeol langsung gelapan.
Baekhyun tersenyum kecil. "Oke, kalau kamu memaksa." Chanyeol hanya mengangguk, "aku pergi kalau begitu, selamat bekerja."
Baekhyun membungkukkam badannya sedikit kemudian pergi dari ruangan itu.
Meninggalkan Chanyeol yang hanya diam menatap kepergiannya.
Mungkin dia salah.
"Kamu masih disini?"
Baekhyun menutup album yang dibuatnya dan menatap papa mertuanya yang masuk kedalam perpustakan dimana dia selalu berada jika datang ke rumah itu.
"Ya."
"Itu-" Baekhyun mengikuti arah pandang mertuanya itu ke album yang dibuatnya.
"Ah, ini albumnya Chanyeol."
Park Hyung Seung mengerutkan dahinya, namun dia mengabaikannya dan duduk pada kursi kerjanya ysng ada diruangan itu. "Pulanglah, aku ingin pakai ruangan ini."
"Ah, ya." Baekhyun berdiri dari duduknya dan menyimpan kembali album itu ke tempat semula. Dia memutar tubuhnya dan membungkuk kecil pada mertuanya itu. "Terimakasih untuk hari ini."
Hyung Seung hanya menggerakkan tangannya menyuruh Baekhyun untuk segera pergi dan hal itu langsung diikuti perempuan itu.
Baekhyun keluar dari ruang perpustakaan itu dan berjalan menuju pintu keluar.
"Akhirnya kau pulang juga." Baekhyun menghentikan langkahnya dan melihat ke samping dan menemukan ibu mertuanya sedang duduk di atas kursi meja makan.
"Ah, eomm-"
"Jangan memanggilku seperti itu!"
Baekhyun tersenyum tipis. "Ya, saya akan pulang, terimakasih telah membiarkan saya tinggal disini." Dia membungkukkan badannya.
"Aku berharap kamu tak menunjukkan ujung hidungmu lagi di sekitar sini." Ucap Hye Jin, dia melirik menantunya itu, kemudian melanjutkan makan malamnya yang sempat terhenti ketika melihat menantunya itu lewat.
Baekhyun tersenyum lebar kemudian berkata, "Selamat tinggal." Dan meninggalkan tempat itu.
Semuanya menjadi lebih baik.
Hana kembali seperti dulu ketika dia berkata sudah kembali bekerja.
Perempuan itu jadi manja padanya dan dia suka. Apalagi ketika perempuan itu menginginkan sesuatu dan dia dapat mengabulkannya.
Dia bahagia.
Sangat bahagia.
Meskipun Hana terkadang mengidam yang aneh-aneh, dia tak masalah.
Semuanya akan dia kabulkan demi calon anaknya itu.
"Saya lihat, anda akhir-akhir ini lebih banyak memakan roti melon dari toko kesukaan anda untuk makan siang."
"Oh ya?"
Chanyeol tidak tahu kenapa sekertarisnya mengatakan itu. Namun dia sadar, memang dia selalu ingin roti melon untuk makan siangnya.
"Anda seperti suami yang sedang mengidam saja."
Chanyeol berhenti membaca berkas yang dibawa oleh Sehun dan menatap sekertarisnya itu.
"Saya juga dulu seperti itu, ketika Luhan hamil, saya yang mengidamnya." Sehun tertawa mengingat saat-saat itu, tak mengetahui kalau Chanyeol terdiam mendengarnya. "Apakah Hana tidak mengidam?"
"Dia, ya."
"Ah, berarti kalian sama-sama mengidam. Saya baru tahu, mungkin ada juga hal yang seperti itu." Kata Sehun.
"Ya."
Chanyeol menyelesaikan tugasnya kemudian memberikan berkas itu pada Sehun.
"Jadwal selanjutnya, anda akan bertemu dengan tuan Feng."
"Baik."
"Jika begitu, saya permisi." Sehun membungkukkan badannya sekilas kemudian pergi keluar dari ruangan itu.
"Ah ya," Katanya ketika dia telah membuka pintunya dan akan keluar dari ruangan itu, dia membalikkan badannya dan menatap Chanyeol yang memandangnya dan kedua alis terangkat, "saya baru ingat, bukankah itu toko roti langganan nona Byun? Saya rasa, dia juga waktu itu terkadang memesan yang sama dengan anda ketika bekerja." Chanyeol menahan nafasnya tanpa sadar. "Saya permisi." Kemudian Sehun keluar dari ruangan itu.
Meninggalkan Chanyeol yang terdiam mendengar hal itu.
Yang dia tahu, "Dia, tidak terlalu menyukai roti."
Chanyeol pulang dengan senyuman lebar.
Semua proses persidangan berjalan dengan lancar dan dia sudah resmi bercerai dengan perempuan itu. Meskipun dia tidak melihat Baekhyun menghadiri persidangan keputusan itu, dia tidak peduli.
"Bagaimana?"
"Kita akan segera menikah!" Jawab Chanyeol ketika Hana bertanya tentang hasil persidangannya.
Hana tersenyum lebar dan memeluk Chanyeol dengan erat. "Terimakasih, terimakasih Chanyeol."
"Ayo kita pergi merayakannya!"
Hana mengangkat kepalanya dan menatap Chanyeol. "Heum!" Dia mengangguk dan tersenyum lebar ketika membalas perkataan kekasihnya itu.
"Eum, terimakasih."
Baekhyun menutup telepon dari pengacaranya kemudian memutar tubuhnya dan tersenyum pada seseorang yang ada disana.
"Saya, sangat menolak keputusan anda."
"Tapi semuanya sudah terjadi, Kyungsoo-ya."
"Nona!"
Baekhyun mendekati perempuan yang berpakaian formal itu dan memegang bahu kecilnya.
"Saya akan memberitahu mantan suami anda."
"Kalau begitu, aku juga akan memberitahu Jongin soal Taeoh." Baekhyun tersenyum lebar.
Kyungsoo menegang ditempat dan menatap Baekhyun, takut.
"Setiap orang punya alasan tersendiri Kyung, kamupun mempunyai alasan sendiri bukan?"
Kyungsoo tidak suka dengan perkataan yang diucapkan Baekhyun, "Saya tidak yakin ibu anda akan menerimanya." Kyungsoo melebarkan matanya ketika Baekhyun menatapnya dengan dingin. Dia tahu, dia telah salah bicara.
"Ibu tiri. Ingat itu." Kyungsoo menganggukkan kepalanya ketika mendengar nada dingin dan tidak suka pada suara Baekhyun.
"Aku mengerti."
