Pirate, Nusantara, Hogwarts


Summary: Sudah jadi rahasia umum diantara negara kawasan Asia Tenggara bahwa Nesia itu yandere, mempunyai sisi sadis. Keadaan akan menjadi tambah parah apabila Nesia menggunakan kekuatan gaibnya. Sadar akan keadaannya ini, Nesia menyurati England dan memintanya untuk mengajarinya bagaimana caranya untuk mengendalikan kekuatannya itu. Disaat yang sama, England ditawari mengajar sejarah di Hogwarts oleh Dumbledore. Apa jadinya Hogwarts saat kedatangan seorang profesor baru Sejarah Sihir yang mantan bajak laut dan asistennya seorang wanita Melayu yang anggun tetapi memiliki sisi sadis dan kekuatan sihir yang mungkin jauh lebih kuat dari Dumbledore dan lebih gelap daripada Voldemort? 5th year.


Disclaimer: I do not own HP dan APH

Note: OC, Tittle may change

Warning: Umbridge bashing

"Bahasa Inggris"

"Bahasa lain"


Chapter 2

Indonesia jauh lebih kuat darinya.

Itulah yang bisa England simpulkan pada 5 menit pertama latihan sihir mereka di rumah England, tepatnya di basement tempat ia biasa melakukan hal-hal yang berhubungan dengan sihir.

Pagi-pagi sekali dia menjemput Nesia di bandara Heathrow, kira-kira jam 6 pagi di London. Sebenarnya dia sendiri masih mengantuk tapi dirinya adalah seorang gentleman. Dia tak mungkin terlambat menjemput seorang lady seperti Nesia, mau sepagi atau selarut apa pun. Apa kata dunia nanti? Jadi dia dengan sabar menunggu di Arrival sambil beberapa menit sekali membisikkan kata-kata tidak sopan karena masih mengantuk. Tapi ketika Nesia muncul dari balik dinding Arrival, segala kekesalan dan rasa kantuk langsung hilang.

Seluruh dunia sudah tahu kalau Indonesia itu salah satu negara paling cantik di dunia walau keadaan negaranya itu amburadul. Tapi setiap sekali bertemu dengannya, pasti England akan mendapat senyum yang manis dan tulus. Saat menjadi Motherlandnya dulu, England selalu memperlakukan Nesia dengan baik karena senyumnya yang begitu indah walau saat itu dia jarang memberikannya senyuman, karena perlakuan Netherlands padanya. Nesia yang saat itu masih anak-anak selalu mengingatkan ia akan America sebelum merdeka, bedanya hanya dia itu perempuan dan kelakuannya lebih manis. Setiap kali melihat senyum Nesia saat itu, pasti ingin tersenyum juga. Dan seperti dugaannya, Nesia tumbuh dewasa yang sangat anggun dan cantik jelita.

Ketika keluar dari Arrival, England dan beberapa pria lainnya menahan napas. Walau pun wajahnya terlihat lelah, kecantikan Nesia tetap terpancar. Kecantikannya yang khas langsung membuat semua orang berpaling padanya. Rambut hitamnya yang panjang dan ikal menutupi punggungnya dan berkilat dibawah cahaya. Kulit sawo matangnya yang langsat terlihat sangat halus, walau lengannya dibalut perban yang sepertinya disebabkan oleh kecelakaan oleh kekuatan gaibnya. Mata coklat kehitamannya yang besar tetap memancarkan kepolosan walau negaranya selalu dirundung masalah. Badan moleknya yang berbentuk sintal dipeluk oleh sebuah dress batik coklat dengan lengan pendek dan sebuah ikat pinggang bewarna merah terikat erat di pinggangnya. Sebuah shawl sutra bewarna emas dilingkarkan di pundaknya. Suara selopnya yang menyentuh lantai samar-samar terdengar bersamaan dengan bunyi trolley.

"Arthur-san!" Senyum manis merekah di wajahnya dan Nesia berlari-lari kecil kearahnya sambil mendorong trolleynya. Tapi England sudah tahu kalau Nesia itu ceroboh dan benar saja, dia tersandung. Untungnya England dengan sigap menangkapnya, sehingga wajah Nesia menabrak dadanya. Pipi England langsung memerah saat dia menyadari dada Nesia menempel padanya. Refleks, England langsung memegang kedua pundak Nesia dan mendorongnya pelan.

"K-Kamu masih saja ceroboh. Padahal sudah dewasa..." Sambil malu-malu, mata hijaunya langsung memandang mata Nesia yang besar. Nesia hanya tersenyum dengan polosnya. "Biar kudorong trolleynya." England langsung mendorong trolley milik Nesia ke pintu keluar, dengan Nesia melingkarkan kedua tangannya ke lengan kiri England, membuat wajahnya memerah lagi.

Beberapa menit kemudian, mereka telah menaiki taksi dengan sang personifikasi Nusantara langsung tertidur sambil bersandar ke pundak personifikasi Britain tersebut. Wajah England langsung memerah lagi tapi karena tak tega membangunkan dirinya yang sepertinya sudah sangat kecapekan jadinya dia hanya bisa pasrah menjadi semacam bantal untuk Nesia.

Sesampainya di rumahnya, Nesia tidak bisa dibangunkan, membuat England tambah gondok. Jadilah dia menahan malu meminta supir taksi untuk membawa masuk koper Nesia dan dirinya menggendong wanita Melayu bridal style. England sedikit kaget dengan tingginya suhu dan berat badannya yang ringan, mungkin karena dia tidak makan dengan benar dan karena keadaan ekonomi negaranya yang amburadul. Belum lagi kekuatan gaibnya yang lepas kendali. England mau tidak mau bersimpati dengannya.

Dengan hati-hati dia membaringkan Nesia di sofanya dan teman-teman perinya menyelimutinya dengan selimut yang terbuat dari wool yang dia ingat dibeli tahun lalu. Tak lupa ia melepas selopnya. England terkekeh ketika peri-perinya berterbangan diatas Indonesia. Tak perlu ditanya lagi, mereka sangat suka Nesia. Sekilas cahaya berkelap-kelip mereka membuat paras Nesia menjadi lebih cantik. Pantas banyak Nation yang mengejarnya. Cantik begini. England tersenyum lembut dan membelai kepala Nesia.

"...Malaysia..." Nesia berbisik, mengigau. Setitik air mata menetes dari pelupuk matanya. England terperanjat. Malaysia... Saudara Nesia yang pernah ia jajah. Ia dengar sekarang hubungan mereka sedang jelek tapi... Sepertinya Nesia tetap menyayanginya. Dia jadi teringat America. Dengan lembut, England menghapus air mata tersebut dengan ibu jarinya dan mengelus pipinya.

"Tidak apa-apa," bisiknya lalu berdiri.

"Nah... Lebih baik aku masak sarapan... Sekalian bikin sandwich untuk makan siang ah..."


Nesia bangum pada jam makan siang. Sambil tersipu malu, dia minta maaf karena sudah ketiduran dan merepotkan England. England hanya tertawa kecil dan menawarkan Nesia sandwichnya. Karena bikin sandwich itu hanya tinggal potong-potong saja, England tidak punya masalah dengan ini.

"..." Nesia mengunyah sandwich buatan England dengan wajah serius.

"Bagaimana?" England bertanya gelisah.

"Rasanya... Apa ya? 'Decent...' Tidak enak tapi tidak parah..."

England menghela napas. Dia tahu kalau Indonesia itu jago masak dan tak pernah menyia-nyiakan makanan, karena itu makan sconenya England pasti habis, separah apa pun rasanya. Hal ini lumayan bikin heran Nation lain, bagaimana indera pengecap Nesia bisa tidak rusak walau sudah menghabiskan makanan England yang menjijikkan. Ketika ditanya, Nesia memandang mereka dengan pandangan penuh arti dan berkata, "Mana yang lebih parah? Scone Arthur-san atau kopi luwak punyaku?" Penasaran, America membawakan semua orang kopi luwak di World Meeting berikutnya (tapi tetap bayar padanya) dan semua orang mencicipinya. Benar-benar enak dan pahit khas kopi yang semestinya! Semua orang langsung tanya bagaimana cara membuatnya jadi enak begitu tapi Nesia hanya tersenyum penuh arti dan bungkam. Akhirnya Australia yang tidak tega memberitahu apa sesungguhnya kopi luwak itu. Setelah diberitahu, semua orang langsung minum bergelas-gelas air putih. Nesia memberikan pandangan penuh arti dan tersenyum misterius. "Munafik namanya kalau tidak makan makanan buatan Arthur-san tapi mengatakan kalau kopi luwakku itu kopi dengan... ' pengolahan biasa'." Sejak saat itu, tak pernah ada orang yang mengomentari selera Nesia. Herannya, tetap ada Nation yang selalu memesan kopi luwak dari Nesia seperti America dan Germany. Kalau America memang sudah rusak indera pengecapannya gara-gara England dan Germany...

"Lebih manjur daripada kopi biasa saat kerja lembur," katanya dengan suara datar. Tidak ada yang mengomentari.

Begitu sadar, Nesia sudah menyelesaikan sandwichnya dan menyeruput teh Earl Graynya.

"Seruni, mau mulai latihannya?"

"Baiklah."


England dan Nesia berada didalam 'Ruang Sihir' yang seperti namanya, ruangan dimana segala sesuatu yang berhubungan dengan sihir ada. England menyodorkan tongkat sihirnya, sebuah stick dengan bintang kecil, seperti mainan. Nesia tidak mengatakan apa-apa mengenai tongkat sihir England, karena alat-alat ilmu hitamnya jauh lebih parah.

"Coba ayunkan. Apa yang terjadi dari ayunanmu itu dapat menunjukkan seberapa kuat kekuatanmu. Dan saranku, jangan terlalu bersemangat."

Nesia hanya mengangguk dan mengayunkannya dengan pelan.

PRAAAANG

KRAAAAAK

BOOOOOM

BRAAAAAK

CTAAAARR

Semua botol-botol ramuan langsung pecah, cairan-cairan bewarna aneh langsung tumpah di lantai dan bercampur menjadi satu, membuat lantai bewarna hitam. Semua buku-buku di rak langsung berterbangan dan ada yang langsung robek. Semua laci terbuka dan segala isinya melayang dengan pesat dan menciptakan semacam typhoon. Meja panjang England langsung patah menjadi dua. Tembok dan lantai ruangan meretak dan retakannya makin panjang dan panjang. Lidah api keluar dari ujung tongkat sihir England dan membakar meja dan lemari yang hancur, membuat ruangan segera dipenuhi asap.

Aura hitam keluar dari tubuh Nesia, persis ketika sisi yandere Nesia keluar, bedanya kali ini Nesia sama sekali waras. England yang merasakan bahaya langsung merebut tongkat sihirnya sekalian memeluk Nesia. Dengan sigap dia menganyunkan tongkat sihirnya sambil meneriakkan mantra hujan, "PLUVIO!" (Plesetan kata Latin untuk hujan, pluvia.) Sedetik kemudian rintik-rintik air langsung berjatuhan dan semakin deras. England, masih memeluk erat Nesia, langsung berlari keluar. Matanya membelalak ketika aura hitam Nesia bergerak kearah api dan kobaran api makin dashyat. Tapi untungnya, hujan sihirnya makin deras dan api padam.

Trrr... Trrr...

England melihat ke tangannya yang menggenggam tongkat sihirnya dan melihat tongkatnya bergetar dan mengeluarkan cahaya hitam aneh. Refleks England menjatuhkannya dan sebelum tongkat itu menyentuh lantai, semburat cahaya hitam muncul dari dalam tongkat dan tongkat sihir England langsung patah menjadi 2, diiringi dengan bunyi 'KRAK' yang nyaring.

...

...

...

"Seruni..." England mengalihkan pandangan dari tongkatnya yang patah kepada wanita Melayu yang masih ia peluk. Wajah Nesia pucat pasi dan air mata menetes dari mata besarnya yang menyiratkan ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat dan kedua tangan kecilnya mencengkram kemejanya. Jelas sekali dia shock dengan kekacauan yang ia sebabkan. "Ssh... Ssh... Tidak apa-apa... Tidak apa-apa..." England memeluk wanita personifikasi Nusantara itu lebih erat lagi. Dia mencium kepalanya dan mengusap-usap punggungnya untuk menenangkannya. Mata hijaunya melirik Ruang Sihir yang sekarang sudah porak poranda. Kekuatan Nesia besar sekali... Dan hitam... Kalau dibiarkan, bisa terjadi yang lebih parah daripada kebakaran. Nesia harus dibawa kepada Dumbledore.

"Seruni..." Nesia mengangkat wajahnya yang masih berurai air mata. "Aku tahu kamu baru saja datang tapi sekarang kamu harus ikut denganku."

England merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kertas dengan stamp Hogwarts, Portkey darurat yang selalu ia bawa kemana-mana agar bisa ke tempat Dumbledore seketika itu juga. England meremas kertas itu dengan satu tangannya dan perasaan dihisap yang sudah lama ia tidak rasakan melanda dirinya dan Nesia. Dalam sekejap dia menemukan dirinya berada didalam kantor kepala sekolah Hogwarts, yang sekarang ini dipakai oleh Albus Dumbledore.


"Dan begitulah ceritanya..." England menyeruput tehnya sampai habis setelah selesai menceritakan semuanya pada Dumbledore yang mengangguk-angguk. Nesia yand duduk disebelah England menunduk malu ketika Dumbledore dan semua lukisan kepala sekolah Hogwarts melihat kearahnya. "Seruni sudah setuju untuk jadi asistenku dan selama kami disini, Anda bisa bantu melatihnyakan?"

"Aku dengan senang hati membantu," Dumbledore melirik Nesia, "dari ceritamu, kekuatan sihir Miss Majapahit itu lebih kuat darimu dan aku juga pada saat yang sama..."

"Hitam." Nesia menyelesaikan. "Tidak usah ragu mengatakannya. Aku tahu kekuatanku ini hitam." Dia memalingkan wajahnya.

"Dan putih," Dumbledore tersenyum. "Aku dapat merasakannya saat kali pertama melihatmu. Hatimu itu baik. Itu yang membuat setengah kekuatanmu putih bersih. Hanya saja kekuatan hitammu lebih menonjol." Dumbledore berdiri dan mengambil secarik perkamen dan pena bulu. Dia menulis sesuatu dan memberikannya kepada Fawkes. Fawkes langsung melesat keluar jendela.

"Aku sudah menyurati Ollivander, pemilik sebuah toko tongkat sihir. Aku berpesan agar dia membawakan semua tongkat sihir dengan... keunikan. Kalau kalian mau, kalian boleh jalan-jalan berkeliling Hogwarts. Masih ingatkan, Arthur?"

"Tentu saja." Arthur berdiri dan menyodorkan tangannya pada Nesia yang diterima oleh wanita itu. "Mungkin akan lebih baik kalau kami menghirup udara segar diluar." Dumbledore mengangguk. Kedua alisnya terangkat ketika kedua tangan Nesia memeluk lengan kiri England dan terkekeh.

"Cinta memang tak pandang umur..." Karena England lebih tua beberapa ratus tahun daripada Nesia. Walau pun usia Dumbledore sendiri 100 tahun lebih, mereka ribuan tahun lebih tua darinya.


Nesia menghirup udara dalam-dalam dan menghela napas. Sekarang mereka berdua berada di halaman Hogwarts. Mata Nesia terpaku pada hutan lebat didepannya. Dari kelihatannya dia sudah tahu kalau isinya ada macam-macam. Ananda, arwah prajurit Majapahit yang menunggui kerisnya, berdiri disebelahnya. Sejak tiba di Hogwarts, dia bisa kelihatan karena energi sihirnya. Biasanya hanya kelihatan oleh dirinya, adik-adiknya dan kadang, England (Ananda ogah muncul depan orang barat walau mereka ga bisa lihat). Ananda adalah seorang prajurit Majapahit yang dulu berperang di bersama Gajah Mada dan tewas dalam perang dan akhirnya menunggui keris yang sekarang menjadi miliknya. Badannya tegap dan tinggi, pembawaannya tegas dan penuh sopan santun, hanya berbicara ketika diajak bicara dan itu pun hanya berbicara seperlunya. Wajahnya juga tampan dan kalau masih hidup pasti populer diantara gadis-gadis Indonesia. Tidak kalah ganteng dari Jakarta. Pokoknya seorang pria Indonesia ideal!

"Ananda sabar ya disini." Nesia tersenyum lembut.

"Ndak apa-apa, Putri. Ini sudah tugas Ananda untuk melindungi Putri atas permintaan Pangeran Majapahit dan Penguasa Gajah Mada. Saya ndak akan melanggar permintaan terakhir beliau."

Nesia tersenyum. England memperhatikan Ananda. Beda dengan hantu-hantu Hogwarts yang bewarna perak, dia punya warna, terlihat seperti masih hidup. "Kamu benar tidak apa-apa? Kamukan... tidak suka orang kulit putih." Ananda melirik kepadanya dengan pandangan mendelik. Nesia menterjemahkan pertanyaan England padanya.

"Saya tidak apa-apa kok. Saya masih bisa tahan dengan anak-anak, tapi saya ndak mau terlalu terlibat dengan orang dewasanya."

"Dia bilang dia masih bisa toleransi yang hidup, walau tidak mau terlalu terlibat."

"Kalau hantunya?"

Ananda tidak mengatakan apa-apa tapi kelihatan sekali dari wajahnya kalau dia juga tak mau terlibat.


"Arthur, Miss Majapahit. Kenalkan, teman lamaku, Ollivander."

Pria tua bernama Ollivander itu membungkuk sopan dan mencium tangan Nesia. Dibelakangnya adalah dua peti besar berisi kotak-kotak panjang yang England tahu isinya adalah tongkat sihir.

"Lebih baik kau dulu Arthur."

Setelah melakukan pengukuran, Ollivander mengambil sebuah kotak dan membukanya. England disodori sebuat tongkat. Ketika menyentuhnya, England langsung menggelengkan kepala. Ollivander terkekeh dan bergumam, "Anda tahu apa yang Anda mau." Segera saja Ollivander mengeluarkan semua dari isi salah satu peti dan tidak ada yang cocok. Mengingatkan Ollivander akan Harry Potter.

"Ini," Ollivander menyodorkan tongkat pada Arthur. "Alder, 30 senti, sangat bagus untuk menyerang dan bertahan. Ideal untuk duel sihir. Tentu saja intinya spesial. Tongkat ini memiliki 2 inti. Sehelai rambut ekor Unicorn dan ulu hati naga. Harus kukatakan, tongkat yang mempunyai 2 inti itu sangat jarang. Nah, coba ayunkan."

England mengayunkan tongkat tersebut dan dari ujung tongkat tersebut keluar kembang api biru dan putih juga kelopa mawar merah, menciptakan confetti yang memenuhi ruangan. Dumbledore, Nesia, Ollivander dan semua lukisan bertepuk tangan meriah. Bahkan Ananda yang berdiri di ujung ruangan tersenyum.

"Yang ini." England tersenyum bangga dan senang. Ollivander terkekeh dan menuliskan bon. Personifikasi Britania Raya tersebut meraba tongkat barunya, sudah merasa sayang.

"Sekarang tongkat untuk Nona..." England dan Dumbledore langsung siaga, kalau-kalau Nesia lepas kendali lagi. Ollivander menyerahkan sebuah tongkat. "Jati, 25 centi, ulu hati naga. Bagus untuk Transfigurasi..." Nesia memandangnya dengan skeptis dan mengenggamnya.

KRAAAAAK

Tongkat tersebut langsung remuk menjadi serpihan-serpihan dan kilat hitam membakarnya. Semua orang dan lukisan kecuali Nesia dan Ananda langsung mengeryit. Ollivander terdiam dan memandang Nesia dengan pandangan penuh arti.

"Nona berasal dari negara mana?"

"Indonesia."

"Indonesia... Ah, aku tahu... Untung aku membawanya..." Ollivander mengeluarkan sebuah kotak tua yang sudah lusuh dari bagian dalam peti dan meniup debunya yang tebal. Matanya memandang sendu kotak tersebut sebelum berbalik kepada Nesia. "Dulu aku belajar membuat tongkat sihir pada seorang penyihir Belanda yang seorang spesialis tongkat sihir... Ibunya seorang Muggle dari Bali, Indonesia... Aku melihat lukisannya tempo hari. Cantik sekali... Kecantikannya benar-benar beda dari wanita Asia lain, khas... Istrinya juga seorang Muggle Indonesia dan putrinya juga cantik... Sayang sekali, mereka meninggal karena wabah penyakit... Sebelum meninggal dia pergi ke tanah kelahiran istrinya dan mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat tongkat ini... Tongkat terakhir yang ia buat sebelum ajal menjemput..." Dia berhenti sebentar. "Magnolia ("Kepelan," jelas Nesia pada Ananda yang terlihat bingung), 23 centi, mempunyai 3 inti..." Ollivander berhenti lagi...

"Mutiara yang konon berasal dari dasar Laut Jawa... Debu emas... Sehelai bulu Garuda..." Tongkat tersebut kini terekspos kepada semua orang. "Mempunyai sihir yang sangat hebat... Lihat..." Jari telunjuknya yang kurus menyentuh tongkat tersebut dan kilat putih langsung mengenai ujung jarinya. "Tak bisa kusentuh... Sampai saat ini aku ragu akan ada orang yang cocok dengan tongkat ini. Mungkin... Mungkin ini untukmu..."

Semua orang kini memandang Nesia. Nesia menghiraukan semua pandangan tersebut dan memandang tongkat tersebut. Tongkat yang berasal dari Indonesia, dibuat oleh seorang pria dengan darah Indonesia juga. Dia sudah tahu, tongkat ini sudah ditakdirkan untuknya. Tangannya gemetar dan menggenggam tongkat tersebut. Tidak terjadi apa-apa. Nesia mengayunkannya. Api bewarna-warni keluar dari ujung tongkatnya dan melesat ke udara, membentuk siluet burung elang yang mengingatkan Nesia dengan logo wisata Indonesia 2011, 'WONDERFUL INDONESIA'. Burung elang tersebut mengelilingi ruangan tiga kali sebelum lenyap. Semua orang, bahkan Ananda, tersenyum dan bertepuk tangan.

"Syukurlah..." Mata Ollivander berkaca-kaca, "Sekarang guruku dapat beristirahat dengan tenang..."

Nesia tersenyum dan melihat ke arah England. England- bukan. Arthur. Itu namanya yang harus dipakai selama di tempat ini. Arthur tersenyum manis padanya, membuat kedua pipi Nesia tersipu pink. Mungkin datang ke sekolah sihir Hogwarts ini bersama England adalah hal yang tepat.


Chapter 2 selesai. Saya butuh 4 jam untuk mengetik semua ini.

Ananda adalah OC saya dan sudah bersama Nesia sejak lahir dan menyaksikan sejarah Indonesia. Saya jujur tidak sabar melihatnya berinteraksi dengan murid-murid dan hantu-hantu Hogwarts, terutama Bloody Baron dan Peeves. Nanti dia juga akan membantu ditengah pelajaran memperhatikan siapa saja yang tidak konsentrasi dengan pelajaran.

Inti-inti tongkat sihir Nesia itu saya pilih dengan random. Mutiaranya dari Nyi Rolo Kidul... Bulu ekor burung Garuda di legenda Bali (atau Jawa?)... Debu emas? Saya lihat foto Monas terus saya ingat kalau di bara api di puncak Monas terbuat dari emas. Jadi saya masukkan debu emas.

Thank you for reading!

Please Review!
NO FLAME!