Vaughn POV
*Flashback*
Suasana kantin sangat ramai dengan berbagai gosip. Aku tidak peduli. Selama mereka tidak mengusikku aku juga tidak akan memedulikan mereka. Menurutku mereka semua sama kosongnya dengan udang karena yang ada di kepala mereka hanya trend baju, pacar, atau bagaimana cara mereka menghabiskan uang orang tua mereka.
Lalu aku melihat gadis itu bersama teman-temannya. Chelsea Egan. Salah satu murid popular yang lumayan pintar-dia selalu masuk 10 besar seangkatan-dan sangat kaya. Tapi bukan karena itu aku memperhatikannya tapi entah kenapa aku sering bertatap mata dengan gadis itu.
Gadis-gadis itu tampak bingung karena semua bangku sudah penuh kecuali bangku yang aku tempati karena memang tidak ada yang mau duduk di dekatku. Aku juga tidak ingin berdekatan dengan mereka, gerutuku dalam hati sambil kembali menikmati bubur di hadapanku.
"Senior, tempat ini kosong." Sebuah pernyataan bukan pertanyaan.
Aku mengangkat kepalaku dan bertatapan dengan bola mata biru. Chelsea tersenyum sambil menyuruh kedua temannya duduk di hadapanku sedangkan dia sendiri duduk di sampingku. Kedua teman Chelsea saling berpandangan takut tapi akhirnya mereka duduk dan menyapaku dengan seyum kaku.
"Senior tidak marah, kan?" Tanya Chelsea dengan suara agak kekanak-kanakan dan sedik, apa? Mesra? Nah, pastih itu hanya imajinasiku saja.
"Terserah."
Senyum Chelsea masih tersungging di wajahnya. "Senior, perkenalkan namaku Chelsea, yang pirang bernama Claire, dan yang berambut hitam bernama Mary."
Aku tidak memberi tahu namaku dan kembali meneruskan makanku. Tapi sepertinya aku terlalu meremehkan gadis itu karena dia terus saja bicara.
"Aku tahu siapa senior. Bolehkan aku memanggil senior dengan nama saja?"
Aku memberikan tatapanku yang paling menakutkan agar gadis itu terdiam dan tidak menggangguku lagi. Claire dan Mary tampak ketakutan dan memberi isyarat pada Chelsea untuk meninggalkan aku sendiri atau paling tidak berhenti menggangguku. Claire mengacuhkan kedua temannya.
Gadis itu terus berbicara tanpa peduli aku aku mendengarkannya atau tidak dan sesekali dia tertawa karena leluconnya sendiri. Diam-diam aku menghela nafas pelan. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa sangat lelah.
"Apa maumu?" tanyaku memotong cerita liburan musim panasnya di pertanian milik kakeknya.
Chelsea mengedipkan matanya dengan gaya lucu sebelum tersenyum malu-malu. "Aku ingin lebih dekat denganmu, Vaughn."
Aku menatapnya seakan-akan ada dua tanduk yang tumbuh di atas kepalanya. "A-apa?"
Wajah Chelsea semakin merah. "Aku... sepertinya aku menyukaimu."
*Flashback end*
Aku berbaring di tempat tidurku sambil mengingat awal perkenalanku dengan Chelsea, gadis menyebalkan yang selalu ingin bersamaku walaupun aku sudah berusaha menjauhinya. Tapi Chelsea sudah bukan gadis lagi, pikirku kecut. Chelsea seorang wanita dewasa.
Wanita dewasa dengan dua anak. Yang kemungkinan adalah anak-anakku mengingat kemiripan mereka denganku. Urg, tidak bisakah hari ini berubah menjadi lebih buruk lagi?
"Vaughn?" panggil Mirabelle sebelum membuka pintu kamarku. "Vaughn, aku tahu kau lelah tapi bisakah kau mengantar seekor sapi ke Moon Farm?"
"Moon Farm?" tanyaku bingung.
"Ada seorang wanita yang membeli perkebunan milik Taro. Wanita ini bernama Chelsea Egan. Dia tinggal bersama anak-anaknya. Mereka baru datang siang tadi."
Great! Catatan untuk diriku sendiri: jangan pernah menanyakan apakah hari ini akan menjadi lebih buruk lagi.
Kent POV
Cowboy itu datang dengan membawa sapi yang dipesan ibu tadi siang. Ibu yang sedang mencabuti rumput langsung bergegas menghampiri mereka dan mengarakan cowboy itu ke arah kandang. Aku dan Erika saling menatap. Tidak perlu menjadi orang paling pintar di dunia untuk tahu siapa cowboy itu sebenarnya.
Ayahku. Ayah Erika. Ayah kami berdua.
Ibu memang tidak mengatakan apapun pada kami. Dia hanya mengatakan kalau cowboy itu adalah seniornya di SMA. Tapi melihat bagaimana pipi ibu memerah aku tahu orang itu bukan hanya seniornya.
"Kent," panggil Erika sambil menatap kedua bola mataku.
Tanpa perlu dikatakan aku tahu apa yang ada di kepalanya. Aku mengangguk ke arahnya lalu berjalan hati-hati ke arah kandang sapi, Erika mengikutiku di belakang. Samar-samar aku dapat mendengar percakapan yang ada di dalam.
"Jadi… pekerjaanmu sekarang adalah menjual dan mengangkut hewan-hewan dari satu kota ke kota lain?" Tanya ibu yang disusul gerutuan si-cowboy-yang-kuduga-ayahku itu. "Kenapa kau tidak pernah ke Mineral Town?"
"Untuk apa? Bukannya sudah ada Barley?"
"Ah, ya. Tentu," gumam ibu.
Selama semenit mereka tidak mengatakan apapun.
"Umm," si-cowboy-yang-kuduga-ayahku membersihkan tenggorokannya. "Anak-anak itu…"
"Oh, Kent dan Erika. Ada apa dengan mereka?"
"Apa… apakah mereka… kau tahu… apakah mereka anak-anakku?" tanyanya kaku.
Lama ibu tidak menjawab pertanyaan itu tapi akhirnya dia menghela nafas pelan. Nada suara ibu terdengar sangat lelah.
"Ya, Vaughn. Mereka anak-anakmu."
