| Heart, Myth, Bond | | Another Stories |

| Partner |

- ariniad -

.

Summary: Kita bergandengan tangan, kita tersenyum. Suara bising tak lagi terdengar; kau tangkup dalam kedua tanganmu, dan kuhancurkan gemanya dengan deru suaraku.

Kita partner, dan akan selalu begitu.

.

.

Listening to: Snow Patrol– If There's a Rocket Tie Me To It

.


.

Katakanlah, bahwa tak ada yang namanya kekekalan― tak ada yang abadi. Tak ada yang stagnan. Lempeng Bumi setiap hari–setiap detik–bergerak. Bumi berputar mengikuti orbit tak tampak yang telah tercipta untuknya, manusia menyesuaikan diri dengan keadaan langit maupun tanah. Tak ada yang stagnan di dunia ini.

Hubungan ini tidak kekal; kita tahu. Kau maupun aku, kita bersama, mengerti. Ada kalanya kita akan saling melepaskan genggaman tangan dan membalikkan badan; mengkhianati bagai pecundang. Siapa yang tahu? Sosok kita bukanlah kita yang menentukan, kita tahu, tapi yang menjadi nahkoda kita. Siapa tahu?

Namun, apa kau tahu? Untuk sementara ini, aku merasa itu semua tak lagi perlu diperbincangkan. Tak perlu dibahas terlalu jauh. Pertemuan kita tak lama; aku menyempatkan diri menyicip udara dingin yang begitu membekukan di tempatmu hingga membuat sendiku kaku; kau tertawa riang di antara kecipak air di bibir pantai― kulitmu yang pucat nampak kemerahan. Ada sesuatu yang membuat kita sama dari semua perbedaan yang dipaparkan oleh Dunia, dan aku cukup tersenyum. Begitu juga engkau.

Dan itulah yang membuat kita setara; membuat kita mempunyai pemikiran yang sama. Tak peduli ada berapa selang waktu dimana kau menganggap kehidupan kita tidaklah berguna dan betapa aku merasa aku lebih cocok tenggelam di antara riuh ombak di tengah lautan; kita bertahan dengan kemampuan kita. ...Tidak. Kemampuan orang-orang kita― mereka berusaha hingga sejauh ini, mereka memperjuangkan eksistensi kita. Bisakah kaurasakan degub jantung mereka ketika lagu kebangsaan Nasional kita mereka perdengarkan hingga jauh? Berdegub begitu cepat, berdebar-debar, air matanya menetes-netes. Betapa indah.

Dan hubungan kita kini pun tak jauh dari hal tersebut. Perjuangan mereka; keinginan mereka agar kita tetap dekat― dapatkah kaudengar itu? Mengalun-alun bagai musik opera, menghanyutkan pendengarnya. Aku terharu, tidakkah engkau?

Aku menganggapmu penting. Dan mungkin itu akan bertahan untuk waktu yang cukup lama.

Karena aku mengerti harapan― aku tahu suara-suara yang terpendam. Gemuruh lautan menyampaikan padaku, stansa-stansa tertinggal dari mereka yang terlupakan, mereka yang mencintai. Mereka yang akhirnya tenggelam di lautan atau mereka yang menjadi puing di tebing-tebing curam bahkan hilang di lembah dalam― gemanya tersampaikan. Betapa cinta menjadi satu-satunya alasan hakiki, untuk saat ini.

Tidakkah kau juga begitu?

Hidup kita malang, aku percaya. Hanya dapat memerhatikan tanpa dapat berbuat banyak; betapa malang. Dadaku riuh oleh suara-suara parau, air mata tak dapat berhenti. Aku cinta kehidupan yang berdegub sembari mengalunkan namaku; cinta mereka dapat kudengar. Aku tidak tahu engkau, namun dari caramu menatap dan geletar yang nampak dari kedua tangan serta cermin matamu, aku percaya, kau pun berpikiran yang sama.

Hidup kita tak begitu penting; tapi demi merekalah kita tetap berdiri dan ada.

Demi merekalah kita tetap bergenggaman tangan.

.


.

"Aku ingin lebih kuat lagi... da."

Aku ingin menjawab hal yang sama, tapi kuyakin kau sudah tahu semua. Apalah guna bait kata ketika kau dapat menyampaikannya lewat pandangan mata ?

.

.

.


Degupmu. Degup jantungmu.

Hanyalah satu-satunya hal yang bisa kuingat.


.

.

.

Kita bergandengan tangan, kita tersenyum. Suara bising tak lagi terdengar; kau tangkup dalam kedua tanganmu, dan kuhancurkan gemanya dengan suaraku. Kita biarkan segala keburukan pecah di sekitar kita; kita tak acuh pada mereka, karena itu samasekali tak penting. Tangan ini bersatu―menyatu. Senyum ini bertahan; bertambah hangat. Hatiku membuncah diisi oleh emosi yang mendebarkan, seperti sehabis melompat dari pesawat dan menyaksikan pegunungan dan awan-awan beriringan. Angin menerpa dan membuat pipiku mati rasa, tapi kau ada disini; mengenggam tanganku.

Perlukah aku merasa takut?

Angin akan menggoyahkan 'tali' ini lagi. Ya. Namun itu samasekali tak menjadi masalah.

Karena kita partner, dan akan selalu begitu.

.


.

Baranya, bara apinya.

Bunyi retak dan letupannya bagaikan musik primitif yang liar.

.


.

End

.

Untuk Sarah O. Braginski! Tau sih ini rada absurd dan pendek, tapi semoga terhibur! It's so fun to try write down something with this kind of style. Tahu Kurniasih? Sedikitnya, aku make gaya yang sedikit?-agak-mendekati gaya menulisnya. OTL NO ACTUALLY. X'DD NOT EVEN AN INCH

Tapi, yeah... Ngga menampik kalo akhir-akhir suka bikin fic absurd. Stres, man. Stres... Muntahin apa yang ada dalam kepala waktu lagi dalam keadaan sadar-ngga sadar, deh jadinya.

(Actually, fanfic ini sudah selesai dari Desember kemaren.)

Cover Fic bukan punya Author.

Reviews are greatly appreciated. :)

Samarinda, 13 Januari 2013