Disclaimer : Kak Masashi Kishimoto

Summary : "Eh, anak baru itu aneh banget deh. Peralatan sekolahnya kok serba pink ya?"
"Padahal dia kan cakep plus cool juga. Tapi kasihan ya kepribadiannya melenceng."

Pairing : That's a secret for now

Warning : Sad, family, kagak sesuai sama kaidah kalimat efektif, gaje ending,

miss typo(s) anytime anywhere, and don't forget

DON'T LIKE DON'T READ READERS ;)

HAPPY READING MINNA :D

* Itachi Loves Pink *

By : Ayume Natsuki

...-o0o-…

.

.

.

Sebelumnya di chapter 1….

"RAZIAAAAAAAAAA!" teriak Hidan siswa sejadi-jadinya ketika ia masuk ke dalam kelas XII-IPA 1. Seketika itu juga para murid berhamburan ke bangku masing-masing (minus someone yang masih duduk santai dan memperhatikan kekacauan teman-teman sekelasnya) sembari mengamankan barang berharga bagi mereka namun dilarang oleh pihak sekolah. Biasanya sekolah akan merampas barang kosmetik, senjata tajam, kaset porno, dan memeriksa isi HP mereka satu per satu. Kemudian memberikan sanksi kepada murid yang barangnya disita.

"Gawat! Aku sembunyiin di mana nih kaset (porno)?" Pein bingung sendiri. Tapi sebelum ia berhasil menyembunyikan barang bawaannya itu, petugas razia sudah tiba di kelas mereka terlebih dahulu.

"Letakkan tas dan semua barang bawaan kalian termasuk HP di depan kelas, sekarang!"

.

.

Semua tas telah diperiksa, hanya tinggal satu tas lagi berwarna hitam yang terdapat sedikit garis pink dan juga HP touchscreen berwarna pink. Setelah petugas menggeledah semua isinya yang terbukti aman, petugas tersebut segera menyerukan sesuatu.

"Tas dan HP ini aman. Bagi pemiliknya silakan mengambil barang-barang ini."

Semua perempuan di kelas tersebut cengo. Bagaimana tidak, setelah mereka saling memperhatikan, ternyata semua tas, HP, dan barang-barang siswi sudah kembali ke tangan si empunya. Lalu, tas dan HP siapakah di depan sana? Mengingat seluruh barang yang ada di dalam tas berwarna pink, mustahil pemiliknya adalah laki-laki, namun itu tidak meutup kemungkinan bahwa barang-barang tersebut adalah milik salah satu teman laki-laki mereka di kelas ini.

"Tas dan HP itu milikku. Terima kasih sensei."

.

.

.

Bagaikan Miss Indonesia, semua mata tertuju pada mu. 'Mu' di sini bisa kita artikan seorang siswa yang berjalan ke depan kelas dengan santai dan watados mautnya. Siswa tersebut mengambil barang-barangnya yang lolos dari tim gegana.

#plaaakk

Maksud author lolos dari razia dadakan. Bahkan tim razia sama sekali tidak mengedipkan matanya saat melihat siapa siswa yang mengambil barang-barang miliknya.

"Eh, anak baru itu aneh banget deh. Peralatan sekolahnya kok serba pink ya?"

"Padahal dia kan cakep plus cool juga. Tapi kasihan ya kepribadiannya melenceng."

Kepribadian melenceng katanya?

Itachi, siswa yang diibaratkan Miss Indonesia, tidaklah tuli. Dia mendengar jelas bahkan sangat jelas percakapan antara dua siswi saat dia kembali ke bangkunya. Itachi mengeratkan pegangan pada tasnya sembari menahan emosi yang sedang bergejolak di Gaza. Eh, maksudnya di hatinya. Apa salah kalau dia memang suka warna pink?

.

.

CHAPTER 2 : I LOVE PINK (Chapter 2 dan 3 ini saya dedikasikan sebagai hadiah ulang tahun rival abadi saya)

'Lagi-lagi pink', batin Sasuke saat melihat dua bekal makanan di atas meja yang wadahnya berwarna biru dan pink. Tentu saja yang berwarna biru adalah milik Sasuke karena biru adalah warna favorit Sasuke dari dulu hingga kini. Tapi yang pink? Tentu saja itu adalah bekal makanan Itachi. Pink menjadi warna favorit Itachi entah sejak kapan? Sasuke tidak mau ambil pusing dan sama sekali tidak ada niatan untuk menanyakan pada Itachi kenapa ia bisa suka warna pink. Karena menurutnya itu adalah hak semua orang untuk menentukan warna favoritnya masing-masing.

"Maaf Sasuke, aniki hanya bisa masak nasi goreng spesial tomat untuk bekalmu. Sepulang sekolah kita mampir dulu di minimarket. Persediaan makanan sudah semakin menipis."

"Hn."

"Ayo berangkat."

.

.

"Hoooaaam. Aku ngantuk un."

"Memangnya kamu tidur jam berapa Dei-chan?"

"Jam 2 Konan-chan, habis Danna mengajakku begadang untuk menemaninya menyelesaikan urusan perusahaannya."

"Kalian berdua memang romantis ya? Aku jadi iri."

"Salah Dei sendiri. Kenapa dia mau menginap di rumahku."

"Kan danna yang memaksaku un."

"Aku tidak memaksamu. Aku cuma bilang tidak akan memberimu contekan fisika saat UTS nanti."

"Sama saja itu memaksaku un!"

"Tidak."

"Danna menyebalkan un!"

"Kau lebih merepotkan."

"DANNAA! POKOKNYA SENI ITU ADALAH LEDAKAN UN!"

Eh, kagak nyambung kali Dei. Memang sih kalau Deidara kalah debat dengan Sasori, dia akan langsung mengganti topik perdebatan dengan topik-seni adalah ledakan-nya.

Konan yang mendengarkan perdebatan mereka pun langsung sweat drop di tempat.

"Yo, selamat pagi menjelang siang minna!" sapa Hidan kepada seluruh makhluk di ruang OSIS dengan wajah yang berbinar-binar.

"Heh, nggak usah sok basa-basi. Mana pesananku?" Pein yang sedari tadi terlihat malas langsung sumringah melihat kedatangan Hidan. Dan setelah itu terjadi transaksi gelap kaset XXX antara Hidan (si penjual) dengan Pein (si pembeli). Dasar duo mesum.

Setelah menyelesaikan transaksi gelapnya, Hidan langsung mendudukkan dirinya di sofa panjang dalam ruang OSIS. Dia menyaksikan Itachi yang duduk di sebelahnya sedang membaca buku Biologi dengan tangan kanan yang memegang buku sedangkan tangan kiri bertumpu pada paha kirinya untuk menyangga dagu. Dilihat dari posisinya yang sedikit membungkuk, Itachi terlihat malas tapi tetap serius dengan bacaannya.

Hidan yang memang pada dasarnya tidak suka kesunyian, langsung menyapa Itachi agar dia mendapatkan teman ngobrol.

"Serius banget baca bukunya, Pinky boy?"

Merasa terganggu dan sedikit disindir dengan kata 'Pinky boy', Itachi segera menutup buku Biologinya kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.

"Namaku U-chi-ha I-ta-chi, bukan Pinky boy." Jawab Itachi dengan sedikit penekanan saat dia menyebutkan namanya yang asli.

"Hehe. Memanggil nama beken kan bisa membuat kita lebih akrab."

"Hn. Baiklah, aku setuju denganmu, otak mesum."

"Heh? Apa kau bilang?"

"Aku kira kau bukan seorang tuna rungu."

"Cih, dasar!" Hidan hanya bisa mendecih kesal saat mendapatkan julukan baru dari Itachi. Sebenarnya Itachi sangat ingin menertawai temannya yang satu ini, namun demi embel-embel Uchiha pada namanya, dia berhasil mempertahankan wajah stoic andalannya di depan Hidan.

.

.

Entah ini hanya perasaan Itachi atau bukan, sejak tragedi razia dua minggu yang lalu, Itachi merasa dirinya terasingkan oleh teman-teman sekelasnya. Mungkin karena mereka belum memahami benar kepribadian Itachi yang seutuhnya normal meskipun dia gemar sekali mengoleksi benda-benda berwarna pink.

Kalau diingat-ingat kejadian saat teman sekelompok Itachi yang terdiri dari lima anak termasuk dirinya, mereka mengerjakan tugas matematika di rumah Itachi. Karena anggota kelompok Itachi risih dengan perabotan di rumah Itachi yang sebagian besar berwarna pink, akhirnya mereka memutuskan untuk tidak sekelompok lagi dengan Itachi. Alasan yang sangat tidak logis. Itulah yang ada di pikiran Itachi saat Tsunade-sensei mengubah anggota kelompok Itachi dan pada akhirnya Itachi satu kelompok dengan Pein, Konan, Hidan, dan Kisame. Memang sih itu tidak buruk, namun hal itu sangat mengganggu Itachi dalam hal bersosialisasi dengan teman sekelasnya. Sebab sejak saat itu tidak ada yang mau sekelompok dengan Itachi dalam mata pelajaran apa pun.

Oh ya, author ingin berbagi info lagi. Saat jam istirahat, Itachi selalu ikut dengan Pein dan anggota OSIS lainnya untuk menghabiskan masa istirahat di ruang OSIS, meskipun Itachi tidak termasuk dalam daftar anggota OSIS. Bagi Itachi, hanya ada 10 orang yang bisa menerima Itachi apa adanya. Mereka adalah Pein, Konan, Sasori, Deidara, Kisame, Tobi, Hidan, Kakuzu, dan Zetsu selaku pengurus OSIS, dan orang yang kesepuluh adalah adik kesayangan Itachi yang bernama Sasuke.

Mungkin ada tambahan satu orang lagi yang memahami sifat Itachi, yaitu author sendiri. Karena saya lah yang membuat FF gaje ini sehingga saya juga yang mengatur alur ceritanya. Huahahahaha!

#ketawapaketoamasjid

Tapi diam-diam ada juga seorang yang selalu mengamati aktifitas Itachi dari kejauhan saat Itachi ada di sekolah.

.

.

Malam pun tiba. Itachi yang sedang tertidur lelap di dalam kamarnya yang terletak di lantai atas terlihat tenang dan damai. Namun sedetik kemudian, mimik wajahnya berubah menjadi gusar dengan nafas yang tidak teratur.

Kakak, lihat! Aku menggambar ini untuk kakak.

Aku tidak ingin membuat kakak sedih.

Kakak maafkan aku, aku tidak bermaksud membunuh nenek.

Aku tidak akan mengecewakan kakak lagi. Aku berjanji.

Kakak….

Kakak….

Kakak….

Aku sayang kakak.

"TIDAAAAAAAAAAAAAAKK! Hah…. Hah…. Sial, kenapa mimpi itu datang lagi?"

Setelah menarik nafas panjang untuk menenangkan diri, Itachi mencoba untuk tidur kembali. Tapi ia kembali membuka selimutnya kemudian turun dari kasurnya dan membuka pintu kamar. Tujuan Itachi saat ini adalah dapur.

Setibanya di dapur, Itachi segera mengambil gelas dan membuka lemari pendingin. Kakak dari Uchiha Sasuke itu duduk di kursi yang berhadapan dengan meja makan, kemudian ia menuangkan air dingin yang ada di dalam botol ke gelas yang sudah ia persiapkan lalu meminumnya. Setelah air dalam gelas itu habis, Itachi menaruhnya di atas meja. Mendadak kepalanya menjadi pusing dan reflek Itachi sedikit menjambak rambut panjangnya dengan tangannya sendiri. Seperti orang frustasi, Itachi kembali mengingat-ingat sudah berapa kali ia mengalami mimpi yang sama semenjak kepindahannya di rumah ini. Tak sadar, tetes demi tetes jatuh membahasi pipi Itachi. Ya, dia menangis.

"Maafkan kakak…."

.

.

.

Seperti biasa, jam istirahat Itachi habiskan di ruang OSIS, dan seperti biasanya juga orang yang selalu mengamati Itachi berada di sekitar ruang OSIS. Tapi ada yang berbeda dari wajah Itachi yang biasanya datar, sekarang menjadi sedikit gelisah. Pasalnya, adik semata wayang Itachi yaitu Uchiha Sasuke, sedang dirawat di rumah sakit. Entah kenapa penyakit langganan Sasuke waktu kecil kambuh lagi.

"Eh chi, ngelamun aja dari tadi? Ikutan ngobrol kek sama kita." Sedikit senggolan kecil pada tangan Itachi sukses menginterupsi lamunannya. Ia lirik sebentar temannya yang berambut merah yang duduk di sampingnya dengan enggan.

"Ada masalah ya Itachi un?" sahut pemuda berambut pirang panjang.

Itachi menghembuskan nafas terakhirnya, loh loh bukan, gomen lagi-lagi author salah ketik, yang benar itu Itachi menghembuskan nafasnya pelan dan menjawab ke-kepo-an teman-temannya tadi.

"Sasuke masuk rumah sakit."

DEG! 'Jadi itu penyebabnya.' batin seseorang di luar sana.

"HAH! Sakit apa dia un?"

"Penyakit tifusnya kambuh lagi."

"Kalau begitu kami boleh menjenguknya kan?" tiba-tiba Konan ikut serta.

"Terserah kalian saja. Aku mau ke kantin dulu."

Tanpa sempat berkata apa-apa, akhirnya Konan, Sasori, dan Deidara hanya bisa mendengus melihat perilaku temannya yang satu ini.

Hey, ini pertama kalinya Itachi ke kantin setelah satu bulan lamanya ia sekolah di SMA Konoha.

Menjadi pusat perhatian memang mengganggu. Setelah memesan hot cappuchino dan duduk di salah satu kursi di kantin yang elit nan berkelas ini, Itachi membuka hand phone 'pink'nya dan berniat membalas pesan yang baru saja ia terima dari Sasuke. Itachi lebih memfokuskan matanya agar telinganya menjadi tidak fokus untuk mendengar ejekan dan hinaan entah itu secara langsung atau tidak pada indera pendengarannya.

Setelah pesanannya datang, Itachi segera menyeruput hot capuchino di tangannya. Sedikit mendongak, Itachi kaget mendapati seorang perempuan duduk berhadapan dengannya.

"K-kau pasti Uchiha Itachi dari XII-IPA 1 kan?" sapa gadis tersebut malu-malu.

"Iya." Jawab Itachi apa adanya. Sepertinya ia sedang malas berbicara, meskipun saat hari-hari biasa ia juga irit bicara sih.

"A-aku dari XII-IPA 2, aku dengar adikmu sakit ya? Aku turut prihatin. A-apa aku boleh menjenguknya sepulang sekolah nanti, Itachi-san?"

W.O.W anak ini ternyata tahu banyak tentang Itachi, bahkan ia langsung menawarkan diri untuk menjenguk Sasuke di rumah sakit. Kenal juga baru beberapa menit yang lalu.

"Namamu siapa?" tanya Itachi dingin.

.

.

Tanpa mereka sadari, seseorang mengawasi mereka dari sudut kantin dengan wajah geram.

"Itachi…."

.

.

.

to be continue