Cerita sebelumnya, (akhirnya chap 2 nongol!)

Gokudera, err... Hibari yang bertukar tubuh dengan Gokudera itu mengacungkan jari telunjuknya ke arah Tsuna yang ketakutan. Sementara Gokudera yang berada di dalam tubuh Hibari melindungi Tsuna seketika tanpa disuruh, dan Tsuna merasa hal itu menjadi agak odd?

"HIIIIIEEY!"

Tsuna pusing maraton (?).


Dengan kecepatan tak terduga, Bianchi mengarahkan senjata andalannya yang bernama poison cooking itu ke tengah-tengah antara Gokudera (Hibari) dan Hibari (Gokudera). Tentu saja tubuh Hibari langsung collapse seketika dengan wajah yang memucat hampir seperti mayat di ruang visum.

"Hi-Hibari san?"

Tsuna melotot tak percaya, kenapa malah Gokudera tenang-tenang saja sementara Hibari melemah hanya karena melihat masakan Bianchi? Aneh!

'Jangan-jangan mereka bertukar tempat? Ahaha... mana mungkin! Itu hanya ada di cerita fiksi!'.

Tsuna cepat-cepat menghapus pikiran negative itu dari otaknya.

"Juudaime... maafkan sa... ya...!"

Hibari jatuh terduduk dengan lemas. Gokudera sama-samar mengucap kata tsk yang terdengar di telinga Tsuna. Haru yang berada di dekat Hibari tanpa pikir panjang langsung saja menempelkan telapak tangannya ke dahi sang carnivore itu.

"Hei kau, gadis yang tak ada hubungannya dengan Namimori, jangan sentuh kepalaku atau akan kukamikorosu!" bentak Gokudera.

"HAHI? Kenapa cowok bodoh marah-marah pada Haru? Yang Haru sentuh itu bukan cowok bodoh kan? Atau jangan-jangan... cowok bodoh cemburu melihat Haru seperti ini?"

"Ha-Haru...,"

Tonfa yang dipegang Gokudera berkilau seakan habis disemir, 'Ya ampun bahasanya!', dan terangkat tinggi-tinggi ke arah kepala Haru.

"Hayato-kun tidak boleh kasar begitu sama anak perempuan."

Tiba-tiba saja Nana membelai lembut ramput Gokudera. Tsuna terbelalak, ibunya bertingkah... err... konyol (?) kepada prefect Namimori yang sangat disegani, lebih tepatnya ditakuti, oleh murid-murid yang mengenalnya dengan baik, sangat baik itu.

"HIIIIIIIEEY... I-ibu!"

Reborn tersenyum, pasalnya dia tahu bahwa seorang Cloud Guardian Vongola tak akan mampu menyakiti seorang wanita dan gadis, kecuali kalau memang wanita dan gadis tersebut bukan termasuk salah satu anggota Vongola ataupun warga Namimori.

Semburat kemerahan muncul di pipi Gokudera, dan Tsuna yakin dirinya tak salah lihat! Sang prefect malu?

.

BRAK!

.

"SAWADA!"

Tsuna mengenal betul siapa pemilik intonasi nada panggil, 'kok jadi hape?', untuknya dari kakak kelas bernama Sasagawa Ryouhei, sang primadona boxing di Namimori-chuu. Tapi letak keanehan (lagi-lagi) yang didapatkan Tsuna adalah... suara itu berasal dari mulut sahabat dekatnya, sang Rain Guardian.

"Ciaossu, Sun."

"O-oi anak kecil, kenapa jadi seperti ini? Aku berada di tubuh senpai." Ujar Yamamoto yang berada di dalam tubuh Ryouhei panik terarah ke Reborn.

Ternyata dirinya datang bersama Ryouhei yang kini berada di dalam tubuhnya.

"Oniichan?" suara Kyoko terdengar merdu.

"Ciaossu, Rain. Kalau begitu... aku pergi dulu dame-Tsuna. Atasi masalah ini, aku mau belanja dulu. Ayo Bianchi, ajak Kyoko dan Haru serta."

"HE? Ke-kenapa aku, Reborn?"

"Karena kaulah boss mereka, bukan aku."

Reborn menjawab dengan enteng, dia tahu bagaimana cara membuat Tsuna semakin pucat pasi. Segera setelah Bianchi dan Reborn menggiring kedua gadis tak berdosa itu keluar kamar tempat Tsuna dirawat, Nana juga ikut-ikutan undur diri karena janjian kencannya bersama sang kekasih tercinta alias ayah Tsuna, Iemitsu. Dan untuk kedua kalinya, entah sengaja atau memang lemot, tangannya membelai kepala Gokudera lagi.

"Tolong jaga Tsuna ya Hayato-kun? Aku percaya padamu."

Bak anak penurut, Gokudera diam saja. Wajahnya terlihat semakin memerah seperti tomat dan mengangguk pelan hanya sekali. Se-ka-li! Sekali dalam seumur jagung... err... hidup. Setelah itu, Nana berjalan dengan gaya anak TK yang girang saat acara jalan-jalan mau dimulai ketika melewati pintu kamar dan menghilang, meninggalkan Tsuna yang tercengang melihat keempat guardiannya saling bertukar tubuh. Mimpi apa Tsuna semalam?

"Juu-Juudaime...,"

"Hi... ah salah... Gokudera-kun! Kau tak apa-apa?"

"Sa-saya tak apa-apa Juudaime. Si-sial! Kenapa harus selemah ini saat saya berada di tubuh si prefect gila itu?"

Gokudera berdiri dari posisi duduknya, dirinya menatap Hibari penuh kemarahan dan siap membabat habis si perak dari Itali tersebut. Tapi sepertinya Hibari tak gentar menghadapinya. Tsuna kembali panik, sementara Ryouhei nyengir kuda a la Yamamoto dan Yamamoto berteriak memberi semangat a la Ryouhei seperti biasanya.

"TO THE EXTREME, KEPALA GURITA!"

"Ahahaha... rasanya jadi aneh melihat kita saling bertukar tempat seperti ini. Tapi Tsuna tampaknya tak apa-apa. Syukurlah ya, Tsuna."

Yamamoto yang tersenyum melalui wajah Ryouhei terlihat bahagia dan hal itu membuat dada Tsuna, entah kenapa terasa perih. Pemuda mini yang memiliki title boss kesepuluh Vongola tersebut tak tega melihat teman-temannya menjadi seperti ini. Tapi dia bisa apa?

Tsuna menundukkan wajahnya, dadanya semakin perih. Hampir saja dirinya menangis tapi diurungkan niatnya itu gara-gara pukulan pelan tonfa yang dipegang Gokudera.

"Hei herbivore lemah, sebagai warga Namimori kau harus bangga menjadi diri sendiri. Jadilah kuat!"

"Benar Juudaime! Kali ini saya setuju. Juudaime adalah boss kami."

"SAWADA! Kau harus kuat dengan extreme! Aku... kami juga pasti membantu."

"Tsuna... aku tahu kau sedang bingung. Tapi hal seperti ini tak akan membuat kita semua terpecah belah bukan? Jadi tenang saja."

Tsuna terkejut, ternyata keempat guardiannya itu bisa memiliki pemikiran yang tak disangka-sangka. Lalu dia mengangguk sambil tersenyum, tapi tetap saja boss kecil itu menangis perlahan. Gokudera hanya menghela nafas, Hibari terlihat panik, Yamamoto berkacak pinggang, dan Ryouhei mengusap rambut jabrik Tsuna sambil tersenyum. Setelah beberapa saat berada dalam keheningan dan hanya terdengar isak tangis Tsuna yang volumenya mulai mengecil, Hibari baru menyadari sesuatu yang penting.

"Juudaime! Jangan-jangan alasan dibalik kami berempat bertukar... adalah... tanda dilarang masuk yang ada di pintu gua, tapi tetap kita terobos kemarin?"

"Masuk akal, rupanya herbivore sepertimu bisa berpikir juga."

"Ngajakin berantem lo HAH? Gue nggak takut meskipun lo ketua komite kedisiplinan paling angker sedunia!"

Dinamit dan bom bermunculan di sela-sela jari kedua tangannya saat si anak Italian itu menyilangkan kedua tangannya. Tsuna berusaha menghentikan Hibari, err... Gokudera yang berada di dalam tubuh Hibari maksudnya, tapi dia gagal. Tubuhnya terhempas ke tanah. Ya... Tsuna terjatuh dari tempat tidurnya dengan suara yang cukup keras. Pemuda itu tanpa disadari mengerang.

"TSUNA! Kau tak apa-apa?" teriak Ryouhei sambil bergegas membopong Tsuna a la tuan putri dan mengembalikannya ke atas tempat tidur, menatap tajam ke arah Hibari serta Gokudera. Yang lain terkesiap, paalnya si baseball maniac itu tak pernah terlihat marah, sekalipun selalu dibentak-bentak oleh Gokudera yang saat ini berada di dalam tubuh Hibari. Tapi kali ini, dia benar-benar marah.

"A-aaah... su-sudahlah... a-auw... a-aku yang salah, a-aku tak bisa jaga diri."

.

KHUFUFUFU~

.

"Suara ini...,"

Gokudera alias Hibari bersiap dalam sikap waspada, tonfa miliknya sudah berada di posisi masing-masing. Dia sangat membenci si empunya suara. Apalagi ketua komite kedisiplinan itu sudah berjanji pada ibu Sawada Tsunayoshi untuk menjaga anaknya yang payah itu.

"Lho? Kok suaranya Mist mengecil? Dimana sih dia?" Ryouhei celingukan mencari sumber suara.

"HIIIIIIIEEY! La-Lambo?"

"Apa kabar Sawada Tsunayoshi?"

Si sapi afro chibi itu menyapa Tsuna dari atas dadanya dan langsung disapa oleh ciuman tonfa yang mendarat telak di pipi Lambo, membuatnya terjatuh ke sisi lain tempat Tsuna berbaring.

"A-apa yang kau lakukan Go... eh... ma-maksudku Hibari-san? Lambo kan masih kecil?"

"Apa kau yakin dia adalah Thunder? Lihat baik-baik, dia adalah Mist!"

"APA?"

Tsuna, Hibari, Yamamoto, dan Ryouhei membelalakkan mata mereka tak percaya, menatap Gokudera yang sedang sibuk menutup telinganya sambil memutar bola matanya ke arah kanan. Kalaupun semisal dugaan Hibari tentang menerobos gua kemarin yang menyebabkan bertukarnya keempat guardian Tsuna itu benar, lalu Lambo dan Mukuro yang bahkan tak ikut ke pantai kenapa juga bisa bertukar tubuh?

Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Tsuna bisa sesial ini? Apakah para guardiannya dikutuk oleh dewa kuil yang menghuni gua? Jangan-jangan karena mereka melanggar batas lebih jauh?

"Sawada Tsunayoshi, kau pikir ini semua karena kesalahanmu?"

Astaga! Tsuna lupa kalau Mukuro yang sekarang tengah berada di dalam tubuh Lambo bisa membaca pikiran orang lain.

"Ta-tapi... memang ini semua salahku. Kalian jadi se...,"

"Jangan mengacaukan pikiran Tsuna, Mukuro, atau kau akan kuhabisi!"

Gokudera melotot ke arah Lambo yang tertawa dengan hawa mengerikan. Di saat keduanya hendak berkelahi...,

.

BRAK!

.

.

~ TBC ~


RnR please ^^

Hello2... saya datang lagi dengan chap 2...

mohon kritik dan saran... atau kalau perlu flame juga gpp biar saya jadi barbekyu #maksud lo?

selebihnya, maaph apabila fic saya ancur banget, maklum pemula *bows*