Naruto pun memasuki ruangan kelas, 3-4. Dengan langkah gontai dan bersiul-siul membuat Sasuke merasa aneh dan mempunyai firasat buruk.

"Hei, dobe!" panggil Sasuke mencegat langkah Naruto.

"Ada apa, teme?" tanya Naruto keheranan.

"Aku ingin bertanya..." ujar Sasuke terputus, "Apa kau tidak merasa aneh dengan si Hyuuga itu?"


Rules or Love?

Theme by : Nao Vermillion

Main Characters : Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata

Genre : Romance

Rate : T

Warning : AU, AT, OOC, typos, EYD kurang tepat. Dimohon kritik dan saran yang membangun.

Disclaimer : Naruto is Masashi Kishimoto's


.

.

.

"Apa maksudmu?" tanya Naruto mengernyitkan sebelah alisnya, "Memangnya Hinata kenapa?"

"Ah, tidak." gumam Sasuke kembali menunduk, "Hanya saja dia terlihat aneh, apalagi saat bicara denganmu." sambungnya.

"Tidak ada yang aneh kok dari Hinata menurutku." bantah Naruto menolak pendapat Sasuke karena menurutnya itu terlalu berlebihan, "Atau kau cemburu dengannya karena dia mendekatiku yaaa?" goda si pirang menyenggol pelan bahu maskulin sahabatnya itu. Sesekali si Uchiha menunjukkan raut jengkel sehingga Naruto senang sekali menggoda Sasuke seperti itu.

"Apaan sih. Aku serius dobe!" seru Sasuke menyadarkan Naruto agar memikirkan ulang akan perkataannya.

"Apa kau tidak menyadari bahwa si Hyuuga itu selalu ada di sekitarmu?"

"Waktu upacara?"

"Waktu les?"

"Saat pentas seni?"

"Saat natalan di sekolah?"

"Saat festival olahraga tahunan?"

"Saat-!" belum selesai Sasuke menanyakan pertanyaan yang bertubi-tubi, Naruto pun langsung membekap mulut si bungsu Uchiha di sampingnya.

"..." mata Sasuke terbelalak akan perlakuan yang mengejutkan dari Naruto barusan. Kemudian pemuda berkulit tan itu pun segera melepaskan bekapannya.

"Sasuke..." gumam Naruto memasang raut wajah takut.

"Aku ingat semuanya..." lanjutnya memegang kedua bahu Sasuke. Tanpa rasa segan, Sasuke pun menjitak kepala Naruto seperti yang sering Sakura lakukan kepada si pirang tersebut.

"Makanya. Sudah aku bilang bahwa gadis Hyuuga itu aneh." ujar Sasuke menenangkan perasaan Naruto yang sedikit cemas, "Lain kali jangan terlalu akrab dengannya. Bisa jadi dia itu seorang maniak."

Sasuke tidak tahu bahwa Hinata memang maniak si Uzumaki tanpa Naruto beramah-tamah kepadanya terlebih dahulu.

"Iya." jawab Naruto menggangguk pelan. Dan kemudian mereka berdua pun menuju ke bangku untuk melanjutkan pelajaran kedua nanti.

:chacha:

Kediaman Hyuuga.

Terdapat sebuah rumah megah dengan desain masih adat tradisional Jepang terdahulu. Di mana di rumah itu adat kuno nya masih kental sehingga tidak ada yang berani bermacam-macam di rumah yang hampir mirip dengan istana.

Hinata dengan rasa bosan tengah tiduran di kamarnya yang besar. Biasanya kalau sehabis pulang sekolah, Hinata pun langsung mengerjakan PR yang diberikan. Namun berhubung tidak ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan, gadis ayu tersebut hanya berdiam diri di kamarnya.

"-!" Hinata teringat bahwa ia belum membuka hasil foto yang ia cuci di studio foto beberapa hari yang lalu. Dengan rasa penasaran, gadis indigo itu langsung membuka laci belajarnya.

SREK! Laci meja belajar pun ditarik. Terdapat puluhan foto dari sang idola hatinya yang dia ambil dari sudut apapun sehingga hasilnya memuaskan. Hinata pun tersenyum-senyum sendiri saat menata foto sang bermata sebiru lautan. Ia merasa cukup puas meskipun hanya memandang Naruto dari berlembar-lembar foto saja.

Tentu saja, Hinata lebih banyak mendapatkan foto Naruto kebanyakan dari media sosial milik Naruto sendiri. Karena pemuda berkumis kucing tersebut cukup eksis di dunia maya sehingga mempermudah Hinata untuk mengambil foto Naruto kapanpun. Benar-benar gila.

Terdengar ketukan dari pintu kamarnya.

"Siapa?" tanya Hinata dari dalam untuk memastikan siapa yang mengetuk barusan.

"Aku, onee-sama." jawab suara cempreng dari luar kamar.

Hinata pun menghembuskan napas lega karena ia tahu bahwa itu adalah suara adiknya, Hanabi.

"Masuk saja. Tidak dikunci kok." jawab gadis bermata lavender itu mempersilahkan Hanabi untuk masuk. Dengan cepat, sang adik pun memutar kenop pintu kamar milik kakak tertuanya.

"Onee-sama, sudah aku teriak dari lantai dasar agar segera makan siang. Dengar tidak sih?" tanya gadis berusia 13 tahun tersebut menatap Hinata dengan kedua alisnya yang menaik, raut sedikit jengkel.

Namun belum sang kakak menjawab, kedua lavender milik Hanabi tertarik dengan foto-foto yang berada di jemari pucat milik Hinata. Kemudian ia pun merebut paksa foto tersebut.

"Ah, jangan!" cegah Hinata. Namun ia terlambat.

Hanabi pun mengecek dan memperhatikan satu persatu foto yang telah direbutnya barusan dan kemudian ia pun sweatdrop.

"Naruto-san lagi, Naruto-san lagi." gadis berambut coklat tua sepunggung itu pun menggelengkan kepalanya, "Apa onee-sama nggak capek apa menjadi maniak orang ini?!" tanyanya seraya menunjuk foto Naruto dengan senyum lima jarinya yang sangat lebar.

Hinata pun blushing, "A-aaaaaa... kenapa kau memperlihatkan fotonya yang paling tampan, Hanabi-chan?" teriak Hinata dengan suara cicitan seraya menutup wajah bulatnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.

Hanabi hanya bisa memasang wajah datar, "Lihat. Wallpaper ponsel kakak, meja belajar, album foto, kalender dan buku catatan semuanya foto si kuning itu!" seru Hanabi membongkar barang-barang Hinata. Sedangkan empunya hanya berdiam diri karena Hanabi memang sudah mengetahui semuanya, "Kalau otou-sama tahu bagaimana? Beliau saja sudah curiga." ujar Hanabi dengan raut cemas. Ia khawatir akan keadaan kakaknya yang bergitu tergila-gila terhadap pemuda Uzumaki tersebut.

"Hanabi..." gumam Hinata memegang pucuk cokelat milik adiknya, "Jangan khawatir. Kakak bisa mengatasi semuanya sendiri, oke?" tatapnya secara tersenyum tipis, membuat wajah Hanabi menjadi memerah melihat mengapa kakaknya seimut itu.

Si bungsu Hyuuga tersebut memalingkan wajahnya, "Y-ya sudah. Kalau ketahuan aku nggak mau tahu," ujarnya, "Ayo turun, makan siangnya sudah mendingin tahu!" ajak Hanabi kemudian turun duluan, dan sementara Hinata segera berberes kamarnya dan mengganti pakaiannya agar segera turun menuju ke meja makan.

:chacha:

Matahari telah sedikit menundukkan wujudnya, Naruto sendiri sedang bermenung di balkon belakang rumahnya. Seraya memandang perumahan dari ketinggian, ia pun sedikit kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh Sasuke di sekolah tadi siang.

Sesekali kedua manik safirnya berputar kebingungan, "Apa benar yang dibilang Sasuke soal Hinata yang seorang yang aneh?" gumamnya bermonolog dan ling-lung seperti orang bodoh.

"Tapi masa sih Hinata seperti itu? Dia kan anak yang manis, pintar, pendiam dan juga cukup popoler di kalangan anak laki-laki. Memangnya dia nggak ada pekerjaan lain selain membuntuti keberadaanku?" ujarnya yang penuh dengan berjuta tanda tanya di kepalanya. Merasa bingung dan sedikit stress, ia pun meremas rambut jabriknya dan kemudian bersender di tembok balkonnya itu.

"Semoga saja Hinata tidak seperti itu..." gumam pemuda Uzumaki tersebut memejamkan matanya dari cerahnya langit senja.


.

.

.

Beberapa waktu berlalu, Hinata pun membawa peralatan stalking-nya untuk mengamati keberadaan pujaan hatinya itu. Hinata benar-benar bermain dengan cantik. Dan tindakan gilanya ini tidak ada satu orang pun yang tahu di sekolahnya ini. Termasuk Tenten, kakak kelas sekaligus sahabat dekatnya.

Untuk melancarkan aksinya itu, Hinata lebih memilih rooftop yang menjadi lokasi ternyaman karena jarang orang yang datang ke sini selain untuk membolos dan pada waktu makan siang seraya menenangkan diri.

"Ah, sekarang waktunya istirahat. Dan di jam segini biasanya Naruto-kun sedang bermain sepak bola bersama teman sekelasnya." ujar Hinata kemudian mengeluarkan teropongnya agar bisa memandang Naruto dari jauh namun bisa melihat dari dekat.

Kemudian gadis Hyuuga itu celingak-celinguk untuk mencari sudut yang nyaman. Karena ia tidak mau sekaligus takut nanti jika ada seseorang yang tidak sengaja mempergoki dirinya sedang memandang sang idola dari kejauhan.

Setelah menemukan zona yang aman, Hinata pun dengan leluasa melihat si surai kuning tengah bermain sepak bola di atas rerumputan. Sesekali wajah Hinata memerah karena terpesona dengan ketampanan Naruto di bawah sinar matahari dalam keadaan berkeringat.

"Aduh seksinyaaaa..." gumam Hinata kemudian menjauh dari teropong karena merasa terlalu silau dengan kilauan yang terpancar dari Naruto.

Namun juga Hinata sedikit sweatdrop begitu melihat Naruto sering jatuh berguling-guling dan dijitak oleh tim bermainnya itu. Dan Hinata memilih untuk tertawa kecil melihat tingkah konyol dari sang pujaan hatinya tersebut.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Setelah puas mengamati Naruto dari balik teropong dan juga telah mendapatkan foto-foto Naruto yang terbaru, Hinata pun memasukkan perlengkapan tersebut di tas mininya agar orang-orang tidak curiga dengan tingkahnya.

Namun ketika Hinata hendak turun dari atap sekolah itu, betapa kagetnya si sulung Hyuuga saat kedua rembulannya bertemu dengan sepasang onyx yang kelam, yaitu Sasuke.

"U-Uchiha-san..." dan bibir ranum Hinata kembali terkatup setelah menggumam nama yang membuat Hinata mematung.

"Ah, Hyuuga-san," dan pemuda bertubuh jangkung tersebut kemudian mendekati Hinata dan melontarkan kalimat yang cukup membuat lawan bicaranya terkena stroke ringan, "Memang selama ini aku sudah menaruh curiga padamu.

To Be Continued


A/N : Huwaaaaa maaf banget kalau pendek banget. Chap selanjutnya yang terakhir. Maaf kalau mengecewakan bagi minna ataupun yang udah memberi tema ini T^T semoga tetap suka ya?

Review, please?

See you!

4 Mei 2018

Chacha Rokugatsu.