Disclaimer: I do not own Hetalia Axis Powers, it's belong to Hidekaz Himaruya-sensei

Warning :Out of Character a.k.a OOC, AU a.k.a Alternative Universe and Full OC

A/N :Seperti biasa standar Author's Note saya, don't like don't read. Banyak chara OOC yang muncul. RnR please :D

~~~Chapter II : Half Engaged

Indonesia menatap cermin besar di kamarnya, menatap refleksinya sendiri. Ini parah banget, pokoknya buruk deh. Apa kata Jakarta ama Bandung ama yang lain-lain kalo mereka tahu aku adalah calon istri Holland? Pispot Zeus! Indonesia terus merutuk dalam hati.

"Gaunnya emang cantik banget sih dan... yah, aku nggak pernah ngira kalo hari semengerikan ini bakal tiba. Aku dan Netherlands? Oke, gue mau tepar. " Dengan dramatis Nesia meletakkan telapak tangannya di dahi dan memasang ekspresi tersiksa.

Sesuai dengan yang dikatakan Netherlands, esok harinya acara pertunangan itu akan di selenggarakan. Dan dia ingin sekali mengomeli orang tuanya yang rupanya telah mempersiapkan acara ini dengan matang tanpa persetujuannya. Buktinya, sebelum ia berkata setuju dengan pasti ia sudah di hadapkan pada acara pertunangan. Yang benar saja. Ayah dan Bundanya telah bersekongkol merencanakan ini semua, dan dari jumlah tamu yang datang nyaris membuat Indonesia jatuh bengek.

Apa yang akan di katakan Jakarta nanti? Apalagi si tukang gosip Bandung, terus Surabaya bakal mengolok-olok aku. OHMAYGAT! Gimana kalo Aceh bakal mencincangku dengan rencongnya? Ini memang ide yang amat sangat buruk. Indonesia mondar-mandir dengan resah di kamarnya. Dan berkali-kali pula ia nyaris terjungkal karena gaun konyolnya. Oke, mungkin Indonesia mulai terkena pengaruh Bandung yang amat fashionable, tapi dia amat sangat membenci sepatu berhak tinggi. Oh terima kasih.

Pintunya digedor dari luar dan ia ngeri banget kalau ternyata Aceh juga Papua yang hendak melabraknya itu. Namun tak taunya itu adalah Bundanya yang mungkin rada sarap menjelang upacara pertunangan anaknya.

"Nesia, kenapa kamu... Nesia, kamu cantik sekali." Bundanya yang tadinya mungkin mau mengomelinya kini tercengang menatap putrinya yang memang... seperti Putri. Oh well, Cinderella dadakan, mungkin. "Gaun ini cocok sekali untukmu, sungguh."

"Bah, "Indonesia memutar bola matanya dengan kesal. "Jangan meledek aku, Bunda. Aku yakin pasti aku sudah seperti dako-chan. Rambut diuwel-uwel, gaun sesak, make-up badut, kalian jahat sekali padaku. Ihiks."

"Nesia, Bunda ama Ayahmu kayaknya nggak menurunkan sifat lebay dramatis kayak gitu deh. Kamu dapet gen resesif dari mana sih?" ekspresi ibunya terlihat seperti emoticon berikut =_="

"Habis—habis huhuhuhu~ Ihiks. Bunda ama Ayah udah menyiapkan semua ini dan aku malu, aku masih 16 tahun, aku nggak mau menikah dulu. Apalagi dengan Netherlands! " Indonesia memasang tampang "puppyeyes" pada ibunya.

"Halah, kamu sok menolak, padahal Bunda yakin kamu sebenarnya mau kan ama si Holland? Jangan sok nolak deh, Nesia. Tuh mukamu tuh nujukkin tampang mupeng kamu, sok jaim aja."

"Issshh, kok Bunda ngomongnnya gitu sih ama aku? Jahat banget!"

"Ya sudahlah, Nesia, kalau sudah siap cepatlah turun. Yang lain-lain sudah menunggumu—"

"Tunggu, Bunda! Yang lain-lain siapa?"

Indonesia tidak mendapat jawabannya, karena ibunaya langsung pergi begitu saja. Jantungnya udah dagdigdug, mungkin saudara-saudara dan teman-temannya diundang. Ohmaygat, ini baru pesta pertunangan konyol tapi tamu yang diundang sudah cukup membuat ia mau pingsan. Bagaimana—bagaimana jika dia dan Netherlands menikah nanti? Wait! Dia ama Netherlands nikah? Oh my, that's a NIGHTMARE! Nesia mematut diri untuk terakhir kalinya, mengutuki high heels yang membuat ia jalan bengkok-bengkok kemudian berjalan dengan hati-hati menuju lantai satu. Oh yeah, tamu-tamu itu sudah menunggu.

Musik apa itu? Suara tamu itu seperti lalat—oh bukan, seperti VUVUZELA! Dan—dan aku gugup sekali, mau pipis(?), penyakit gugup Indonesia kumat dan dia mulai keringat dingin. Benar saja, saudara-saudara sebangsanya datang, juga teman-temannya, dan ia tak menyangka orangtuanya begitu berniat mengadakan acara ini. Oh mungkin ini hanya formalitas saja, karena bisa-bisa dalam menghitung hari dia bisa satu rumah dengan Holland nantinya (baca: M-E-N-I-K-A-H). Jadi, ini baik atau buruk? Help!

"Wah, Nesia..."

Oke, siapa pula itu yang berbisik-bisik? Apakah penampilannya benar-benar seperti badut? Ouch! Hampir saja ia terpeleset jatuh dari tangga. Mungkin dia bakal butuh bantuan Bandung untuk mengajarinya berlatih memakai sepatu berhak tinggi. Dan—dan—ohmaygat, siapa cowok yang memakai tuksedo sederhana yang berdiri di taman belakang rumahnya itu? SIAPA? Kok—kok ganteng banget?

Nesia, sadarkan pikiranmu, itu Netherlands tau, dan kamu masih mau ngakuin kalo dia ganteng? Elo telat! Harusnya dari kemarin elo ngomong gitu. Indonesia menggeleng-geleng pasrah. Calon suami gue ganteng banget, mukanya udah mulai semerah tomat milik Romano.

Netherlands mendongak dari arah taman, menatap Indoensia. Oh yeah, hanya Indoensia di mata Netherlands saat ini. Begitu juga bagi Indonesia, bahkan tatanan ruangan tempat ia berpijak kini dan pandangan seisi tamu undangan tidak mencuri perhatiannya sama sekali. Bedanya, Indoneia menatap Netherlands dengan pandangan elo-bakal-mati-setelah-ini tapi justru si cowok bishie malah tersenyum macam orang lenjeh di tempatnya.

Netherlands mengulurkan tangan saat Indonesia masih berada dua meter jauhnya. Nesia yang sudah tidak tahan mengahadap siksaan sepatu hak tingginya memilih menyambar uluran tangan Netherlands saat masih jauh dari jangkauannya. Hasilnya? "Kyaaaaa! Ayamm ayaaaammm!" Indonesia menjerit karena ia terpeleset dan Netherlands dengan refleks yang jempolan menangkapnya. Bukan, bukan menangkap seperti kemarin-kemarin dimana dia yang menjadi alas, dia memang menangkap Indonesia.

"UWOOOH! SO SWEET~" Padang dengan heboh berteriak-teriak dan bertepuk tangan. "Ambo juga mau di gendong kayak begono!"

Dengan sigap Ambon menutup mulut si cewek gahar tersebut kemudian menariknya mundur. " Silahkan dimulai, beta akan menjaga beta punya pacar."

Indonesia makin merasa malu, kelewat malu karena insiden tadi. Dia berjanji akan membuat perhitungan dengan Padang nanti, lihat saja. Ia mendorong Netherlands supaya jauh-jauh darinya. Hukum adat Timur harus tetap di jaga dan dia nggak bakal mau dipeluk-peluk begitu saja oleh cowok macam Netherlands.

Tapi kok rasanya pidato ayahnya yang makin lama makin ngebosenin itu makin membuat anaknya malu? Ish nggak nyadar banget apa ya kalo acara macem begini udah cukup membuat image 'jaim' dan 'ke-Timur-an' Indonesia bakal tercoreng. Masalahnya ini Netherlands, tau kan? Cowok bishie bernama Netherlands yang kayaknya mirip-mirip si Russia. Indonesia nggak berani untuk mengedarkan pandangannya ke seisi taman dan rumahnya yang penuh tamu. Cukup sudah rasa malu yang ia terima. Ia tak mau melihat tatapan mengejek saudara-saudaranya padanya, biarkan saja. Dan hanya ada satu orang yang bakal jadi sasarannya. NETHERLANDS!

Mungkin Indonesia terlalu lama ber-cengo ria dan bermain dengan sikap sensi-nya karena tau-tau si Netherlands sudah mengambil cincin dengan sebongkah batu safir di atasnya. Dimata Nesia, Netherlands mengambil cincin dari box yang dipegangi oleh sang ayah bak gerak slow motion yang meledeknya dan ia jadi makin gemas. Cepatlah, cepatlaaaah, Indonesia memejamkan matanya.

VOILA! Cincin itu terpasang dengan sempurna di jari manis kirinya. Cincin yang cantik, cocok sekali untuknya. Nesia bertanya-tanya siapa yang memilih cincin ini karena well, ini cocok sekali. Indonesia menurunkan tangannya dan tiba-tiba saja cincin tersebut meluncur jatuh dari jemarinya.

"Eh copot, yah copooott. Itu cincinnya copot!" Demi apapun, Indonesia mengutuk hobi latahnya yang sudah keterlaluan itu. Dan Netherlands dengan sabar—sabar yang dipaksakan—membungkuk untuk mengambil benda berkilauan tersebut. Indonesia yakin banget kalau Netherlands sama menanggung malunya dengan dirinya. Bedanya, Indoensia malu dengan acara konyolnya ini, dan Netherlands malu dengan sikap dan tingkah Indonesia yang memang memalukan.

"Oh.. eh, makasih."

"Psst, Nesia, "ayahnya mendelik padanya dan melirik box cincin yang masih tersisa satu untuk Netherlands.

"Oh iya, " Berharap acara ini segera selesai Indonesia mengambil benda itu dan memasangakannya dengan paksa ke jari manis kiri Netherlands. Tunggu, tunggu dulu, kok nggak muat? Ini nggak bisa masuk, ya ampun. Nesia memaksakan lingkaran emas putih itu untuk menembus jemari Netherlands dan hasilnya sama sekali nihil.

"Indonesia.."

"Wait, aku bisa kok. Tunggu, tunggu bentar ini dikit lagi..." Oke mari tinggalkan gaya anggun yang dipaksakan ibundanya padanya saat acara berlangsung. Indonesia kembali pada sikap rewel dan ngambekkannya karena cincin itu masih saja bandel untuk menolaknya. Nesia mengangkat lengan Netherlands dan memutarnya, memuntirnya ke segala arah, ia terfokus pada lengannya, bukan jarinya. Itulah bodohnya Indonesia.

"Nesia." Bundanya hendak menghentikan tindakan anaknya yang mungkin saja bakal membuat keseleo lengan Netherlands tapi Indonesia menghindar.

"Ini dikit lagi tau!"

Dengan segenap tenaga dan dengan napsunya si Indonesia memuntir-muntir lengan kiri Netherlands, cowok itu sendiri bingung apa dia sengaja memperlakukannya begini karena... karena Indonesia hanya memainkan lengannya, bukan mencoba memasukkan cincin sialan itu.

Netherlands menahan Indonesia dan wajahnya bahkan lebih merah dari lipstiknya Gwen Stefani. Ia berkata, "Nesia, jangan main-main, dear." Kemudian si bishie membantu Indonesia memakaikan cincin pertunangan itu di jari manis sebelah kirinya dengan cara sedikit memutar-mutarnya dengan perlahan dan simsalabim! Cincin itu terpasang dengan sempurna.

Oh oke, aku sakit perut, aku mau pipis, demi codetnya Ares, aku malu tingkat dewa, batin Indonesia.

"Nah, kalian sudah resmi bertunangan sekarang." ucap sang ayah puas.

Tiba-tiba, tanpa permisi atau assalamualaikum, Netherlands mengecup pipi Indonesia. Lembut, tapi dalam waktu satu detik Indonesia yakin banget kalo cowok itu tersenyum. Kok dia yang seneng gitu? Oh jelas dia seneng, itu bukan mau Indoensia dan jelas Netherlands yang untung. Bukankah dia benar?

"Ne-Netherlands!"

Suara gumaman oooohh—uwoooooh—prikitiew—suitsuit berkumandang ke seisi rumah Indonesiadan seketika itu juga dunia Nesia jumpalitan guling-guling memeshikute(?) sejak hari itu. Sudah jelas.

Dia, Indonesia, yang baru berusia 16 tahun, telah bertunangan dengan seorang cowok yang tidak jelas umurnya, dan mungkin seorang pedo yang mengincar gadis-gadis muda sepertinya (Author: hei sadarlah, Nesia). Tinggal menunggu waktu sampa ia menyandang status: Indoland a.k.a Indonesia-Netherlands. Mungkin dia telah bertunangan, tapi mungkin itu hanya bagi Netherlands dan orangtuanya, baginya dia akan terus bernyanyi: I'm single and very happy~ uwouwooo!

"Indonesia!"

Sip, sekarang dia malah pingsan. Kayaknya si Indonesia butuh terapi untuk mengurangi respon dramatis lebay-nya itu, dan ah iya satu lagi. Dia butuh obat penghilang penyakit latah. Itu saja, terima kasih.

xxxxxxXxxxxxx

Oke, akhirnya selesai juga. Kelewat singkat dibanding chapter 1? Well, kali sengaja saya potong, kalo digabung-gabung bakal kepanjangan dan jadi nggak bagus. Oke-lah susah jelasinnya pokoke review aja yo, dear readers! \

A/N: Minna-san~ *dibekep* author's note-nya singkat kok cuma... please a review if you want to update soon. Thanks for reading =)