LOSSING YOU

Cast:

Do Kyungsoo (GS)

Oh Sehun

Genre : Romance, Hurt & Comfort (?), and Drama (?)

Rating : T-M

Length : Two shoot

Pairing : HunSoo

Loosing You

Copyright EXO 2015

Kirefa Present

Chapter 1~

Kyungsoo kembali memasuki ruangan itu, ruangan berwarna putih yang penuh dengan selang dan bau obat-obatan yang menyengat. Disana, ditempat tidur dengan pakaian khas rumah sakit terbaring seorang wanita peruh baya dengan selang sebagai alat bantu pernapasan. Kyungsoo menghela nafasnya berat, ibunya sudah 4 tahun terbaring lemah tak sadarkan diri dirumah sakit ini. Entah sudah berapa biaya yang Kyungsoo keluarkan untuk ibunya, tapi Kyungsoo tidak pernah mengeluh menjalani hidup meski kini hanya ada ibunya disampingnya. Kyungsoo tersenyum melangkah kearah tempat tidur ibunya. Sungguh, jika Kyungsoo bukanlah gadis yang kuat mungkin gadis itu kini sudah membusuk disalah satu sungai dikota Seoul ini, karena memang cobaan hidup Kyungsoo begitu berat. Dulu, 4 tahun yang lalu sebelum kecelakaan ini merenggut kakak dan ayahnya, keluarga Kyungsoo adalah keluarga yang sederhana. Mereka bukanlah dari kalangan kaya raya, sederhana tetapi mencukupi. Jika ingatan Kyungsoo kembali berputar 4 tahun yang lalu, saat itu ayah dan ibunya menjemput kakak tertuanya dibandara. Kakak Kyungsoo Do Luhan menuntut ilmu di China selama 4 tahun dan lulus sebagai sarjana terbaik, bagaimana tidak bahagia orang tua Kyungsoo saat itu sehingga mereka memberi kejutan saat menjemput putri terbaik mereka. Awalnya semua berjalan baik, hingga saat mereka ingin menjemput Kyungsoo untuk merayakan kelulusan kakaknya kejadian itu terjadi. Dihadapan Kyungsoo mobil kedua orang tuanya dan kakaknya bertabrakan dengan truk dan terguling saat itu juga. Kyungsoo yang masih kelas 2 Junior High School hanya bisa ternganga, belum mengerti apa yang terjadi tepat dihadapannya. Sampai saat itu tiba, dokter memvonis jika Kakak dan Ayahnya meninggal dunia sedangkan ibunya koma, belum bisa diprediksi kapan ibunya akan kembali 'ada'. Kyungsoo hanya dapat terdiam, gadis kecil seperti dirinya hanya dapat termanggu menatap keadaan ibunya. Setidaknya Kyungsoo masih beruntung, ibunya masih ada disisinya walau mata indah dan kelembutannya tidak bisa Kyungsoo rasakan. 1 bulan sebelum Kyungsoo menjalani Ujian Akhir Junior High School, Kyungsoo dihadapi masalah pelik. Keuangan keluarganya semakin menipis, dengan terpaksa Kyungsoo menjual seluruh harta yang dimiliki oleh ayahnya, rumah, mobil dan juga beberapa barang berharga. Kyungsoo rela pindah kesebuah flat kecil yang terletak sedikit menjorok dari kota, semuanya Kyungsoo jalani dengan senyuman. Gadis itu memang gadis yang kuat, dirinya tidak pernah lelah untuk menuntut ilmu, bekerja part time dan juga menjaga ibunya. Semua Kyungsoo lakukan untuk dapat melihat 'sinar' kelembutan dari ibunya, dan sampai sekarang Kyungsoo masih menunggunya.

Kyungsoo mendudukkan tubuh mungilnya disalah satu kursi tepat disamping tempat tidur ibunya, gadis itu belum mengganti pakaiannya, jas almameter salah satu Universitas di Soeul ini masih dipakainya. Kyungsoo memang seperti ini gadis itu menyempatkan sedikit waktunya setelah pulang kuliah untuk menjenguk ibunya, setelah ini Kyungsoo harus bekerja part time untuk mencukupi biaya kehidupannya sehari-hari karena Kyungsoo bertekat hasil penjualan barang-barang peninggalan ayahnya hanya akan digunakannya untuk pengobatan ibunya yang 'terlalu mahal' untuk gadis seusianya, lagi pula simpanan itu sekarang mulai berkurang. Karena itu Kyungsoo memutuskan untuk bekerja part time, walaupun hasilnya tidak seberapa tapi setidaknya cukup untuk biaya jajan dan juga sewa rumahnya, untuk biaya kuliah Kyungsoo tidak perlu takut, gadis itu mendapat beasiswa rekomendasi dari sekolahnya dulu sehingga dengan mudah dirinya dapat melanjutkan pendidikannya di Seoul University. Salah satu perguruan tinggi negeri terbaik dikota Seoul ini.

Kyungsoo menggenggam tangan ibunya yang masih terbalut sebuah selang infus "Eomma~ ini hari pertama Kyungsoo disemester dua, Kyungsoo sudah memutuskan untuk mengambil jurusan kedokteran Eomma~. Kyungsoo senang eomma, mereka tidak merendahkan. Mereka semua baik eomma." Kyungsoo selalu seperti ini, bercerita dengan ibunya tentang kehidupannya sehari-hari. Ya, hari ini adalah hari pertama Kyungsoo dijenjang semester 2, dulunya gadis itu mengambil jurusan bisnis tapi melihat kemampuan Kyungsoo dibidang anatomi tubuh yang bagus, para dosen pembimbing menyarankan Kyungsoo untuk mengambil jurusan kedokteran. Lagipula peluang pekerjaan untuk seorang Dokter lebih tinggi dari pada seorang pembisnis, mungkin itu lah yang membuat Kyungsoo memutuskan untuk mengganti prodynya. "Eomma~ doakan Kyungsoo nde. Semoga Kyungsoo bisa melalui ini semua dengan kuat. Oh iya eomma~ Kyungsoo kini tidak sendiri ada Baekhyun, gadis itu sangat ceria eomma berbeda dengan Kyungsoo. Kyungsoo senang Baekhyun mau berteman dengan Kyungsoo, dan Kyungsoo yakin eomma pasti ingin melihat Baekhyun kan?" Kyungsoo tetap melanjutkan ceritanya, tidak peduli meski ibunya tidak akan merespon sama sekali.

Kyungsoo mencium tangan ibunya yang pucat, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. "Eomma~ Kyungsoo sangat merindukan eomma. Kyungsoo sangat mencintai eomma. Kyungsoo pergi dulu eomma, dan saat Kyungsoo kembali eomma harus menyapa Kyungsoo. Yaksok?" Kyungsoo kembali mencium tangan ibunya sebelum beranjak dari kursinya. Ditatapnya wajah ibunya lekat, lalu dengan perlahan diciumnya kening wanita paruh baya itu. Kyungsoo tersenyum sebelum beranjak dari tempat duduknya. "Annyeong eomma." Lirihnya pelan.

000

Pemuda itu menatap dingin maid yang ada dihadapannya. Makanan tak bersalah yang sudah tersusun rapi diatas meja dijadikannya pelampiasan. "Jangan ganggu aku!" ucapnya dingin sambil meninggalkan seluruh maid yang tertunduk diam disana.

Tak berapa lama setelah pemuda itu meninggalkan dapur massion megah itu, wanita paruh baya datang terpogoh-pogoh kearah mereka. "Ada apa?" tanyanya. Tatapan matanya menelusuri lantai dapur yang kotor dan juga meja makan yang berantakan. "Oh astaga. Apa Sehun melakukannya lagi?" wanita itu kembali bertanya.

"Maafkan kami Nyonya, sepertinya kami melakukan kesalahan." Ucap kepala maid disana. Wanita yang dipanggil nyonya itu menatapanya heran. "Kenapa kalian bisa berbicara seperti itu?"

"Kami tidak sengaja membuat gaduh saat tuan muda sedang makan Nyonya" kembali kepala maid lah yang menjawab pertanyaan itu.

"Ya Tuhan~ kenapa kalian bisa seperti itu. Bersihkan saja ini, aku yang akan mengurus Sehun." Suruhnya. Dan semua maid yang ada disana menunduk hormat, dan langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh majikan mereka.

Langkah kaki wanita paruh baya itu melangkah melewati satu-persatu tangga dimassion megah itu. tepat setelah belokan tangga pertama terdapat sebuah pintu dengan tulisan "OH SEHUN". Wanita itu adalah ibu dari seorang Oh Sehun, anak tunggal Tuan dan Nyonya Oh.

"Hunna.. ini eomma sayang." Ucapnya sambil mengetok pintu kamar Sehun. Hening~ tidak ada reaksi sama sekali dalam ruangn itu. dengan keberanian Nyonya Oh membuka kamar anak tunggalnya itu. Pandangan pertama saat melihat ruangan anak tunggalnya ini memang berbeda dengan pemuda lainnya. Perpaduan warna merah darah dan juga hitam metalic hampir menghiasi seluruh ornamen dikamar ini, dan juga wangi citrus maskulin yang menguar bebas menyapa indra penciuman Nyonya Oh.

"Hun-ah, ada apa denganmu sayang?" tanyanya pelan saat melihat anak tunggalnya terduduk diam dipinggiran tempat tidurnya, "Bisakah kau hilangkan kebiasaan dinginmu itu nak? Jika kau tidak ingin melihat keramaian kau boleh makan dikamarmu." Lanjut Nyonya Oh.

Sehun hanya memberi tatapan dinginnya, walaupun dihadapannya ini adalah ibunya Sehun memang seperti itu, pemuda itu lebih sering memberikan tatapan datar dan juga dingin kepada siapapun. "Mereka bukan hanya membuat gaduh eomma. Mereka juga menggunjing ku!" ucapnya dingin,

"Kenapa kau bisa berbicara seperti itu nak?"

"Bukankah aku sudah berkata dengan Im ajummha jika hanya dia yang boleh masuk kekamarku." Balas Sehun, Nyonya Oh hanya mendengarkan apa yang diucapkan anak tunggalnya itu. "Tapi, saat aku selesai mandi, aku melihat maid baru itu merapikan kamarku. Dan tentunya eomma tau kan apa yang terjadi setelahnya?"

Nyonya Oh ternganga, ya memang Sehun hanya memperbolehkan salah satu maidnya saja yang boleh masuk kedalam kamarnya. Walaupun kamar Sehun sama seperti kamar pemuda lainnya, ada beberapa ornament yang terkadang membuat orang menarik nafasnya panjang. Kamar Sehun memang dihiasi oleh lukisan-lukisan tidak senonoh. Pemuda itu bisa dikatakan menggilai gambar-gambar yang menjurus kehal-hal negatif, dari mulai narkoba hingga gambar 'hubungan badan'.

Nyonya Oh tidak dapat berbuat banyak saat anaknya melakukan hal-hal itu, tapi untunglah Sehun tidak pernah melakukannya. Itu hanya menurut pendapat Nyonya Oh, sedangkan Oh Sehun? Tanyakan saja pada pemuda itu, tidak mungkin kan seorang pemuda tampan nan misterius seperti Sehun tidak melakukan hal-hal seperti itu? Iya kan?

"Lalu kau ingin eomma melakukan apa nak?" tanya Nyonya Oh lembut, seraya mengelus pundak anaknya.

"Pecat dia eomma. Pecat semua maid yang berhubungan dengannya!" jawab Sehun tegas.

Nyonya Oh membulatkan matanya. "Tidak semudah itu Sehun. Kau tidak mengerti rasa kasihan dengan orang lain. Apa hatimu sekeras batu eoh?" tanya Nyonya Oh keras.

"Apa eomma mau, keluarga kita tercoreng hanya karena mereka melihat isi kamarku. APA EOMMA TIDAK BERPIKIR SEPERTI ITU?" Sehun berteriak keras. Membuat nafasnya sedikit tersenggal-senggal. "Lagipula masakan yang dimasak oleh maid itu tidak enak." Lanjutnya,.

Nyonya Oh menarik nafasnya panjang. "Baiklah Sehun, eomma akan melakukannya." Putusnya. Sehun tersenyum tipis, jangan terlalu berandai-andai akan melihat Sehun tersenyum lebar, karena mungkin itu termasuk dalam salah satu keajaiban dunia.

"Terima kasih Eomma." Balas Sehun lirih.

000

Drrtt.. drtt..

Kyungsoo merasakan getaran disalah satu kantung celananya, dengan cepat gadis mungil itu membasuh telapak tangannya yang masih dipenuhi dengan tepung.

Ryeowook Eonni.

Kyungsoo menatap layar ponselnya dengan tatapan bingung, Ryeowook adalah salah satu perawat yang mengurus ibunya. Sudah 3 tahun Kyungsoo mengenal Ryeowook, Ryeowook sudah dianggapnya sebagai kakaknya. Entah mengapa perasaan Kyungsoo menjadi gelisah, dengan berat hati segera diangkatnya telepon itu.

"Ya?" tanya Kyungsoo halus.

"Soo-ya.. cepatlah kerumah sakit. Ibumu mengalami kontraksi." Terdengar jika Ryeowook juga panik diujung sana. Mata Kyungsoo membulat 'kontraksi' ada dua pengertian menurut ilmu yang dipelajari Kyungsoo. Entah mengapa perasaan gelisah itu semakin menjadi. "Baik Eonni." Ucapnya dan sambungan telepon itu terputus.

Kyungsoo melepas celemek yang dipakainya, gadis bersurai hitam sebahu itu melangkah cepat menuju tempat kasir. "Noona maafkan aku, tapi aku harus kerumah sakit." Ucapnya tepat setelah Leeteuk-pemilik toko kue ini menatapnya dengan pandangan bingung.

"Ada apa dengan ibumu Kyungsoo-ya?" tanyanya panik.

"Ryeowook eonni tadi menelpon, jika eomma mengalami kontraksi Noona." Jawabnya,

"Oh Astaga~ baiklah, tak apa. Cepatlah kerumah sakit. Jangan terlalu memikirkan imbalan. Aku tak akan pernah memotongnya Kyung."

Kyungsoo membungkuk tanda hormat pada Leeteuk, dan dengan cepat gadis itu melangkah pergi sambil berlari kecil mengejar bus yang sepertinya sebentar lagi akan berangkat. Leeteuk tersenyum menampilkan satu lesung pipi, "Kau memang gadis yang kuat Do Kyungsoo. Tuhan~ semoga dia baik-baik saja." Leeteuk menangkupkan kedua tangannya sambil berdoa. Leeteuk sudah mengenal Kyungsoo 4 tahun ini, saat masih kelas 2 Junior High School dengan pakaian sekolahnya Kyungsoo mengajukan pekerjaan ditoko ini. Jadi tidak heran jika Leeteuk amat sangat menyanyangi Kyungsoo seperti menyayangi adiknya sendiri, apalagi saat Leeteuk tau Kyungsoo berjuang seorang diri demi 'mataharinya'. Nyonya Do.

999

Kyungsoo terduduk tepat didepan kamar rawat ibunya, Dokter Lee tadi sudah memeriksa ibunya, kontraksi yang dilalui ibunya cukup lama, syukurlah semuanya baik-baik saja. Disampingnya Ryeowook – perawat Nyonya Do memeluk bahu Kyungsoo.

"Kau tak apa Soo-ya?" tanyanya pelan. Kyungsoo mengangkat kepalanya menatap Ryeowook. Setelah Dokter Lee dan perawat spesialis lainnya keluar dari ruangan ibunya, Kyungsoo hanya dapat terdiam. Menelungkupkan kepalanya tepat diatas kakinya yang ditekuk.

"Eonni~ aku harus bagaimana? Uang sebanyak itu, aku harus mendapatkanya dimana?" tanyanya lirih. Ryeowook menatapnya pedih, yeoja 25 tahun itu tidak dapat mengungkapkan perasaannya. Melihat Kyungsoo seperti ini membuat Ryeowook merasa prihatin.

"Eonni ada uang 100 juta Soo-ya, eonni bisa meminjamkannya padamu." Jawab Ryeowook lembut. Kyungsoo menatap Ryeowook dengan pandangan terima kasih.

"Tidak eonni. Aku harus mendapatkannya sendirian. Aku harus!" jawab Kyungsoo tegas. Ryeowook menghela nafasnya. Kyungsoo memang seperti ini. Gadis itu sungguh kuat, dan pantang menyerah.

Pikiran Kyungsoo melayang saat Dokter Lee memberitahunya, tepat saat Kyungsoo menginjakkan kakinya didepan kamar rawat ibunya.

"Ibumu harus segera dioperasi Kyung~" ucap Dokter Lee kala itu. Kyungsoo memberikan pandangan bertanyanya. Bukankah ibunya sedang koma, kenapa harus dioperasi?

"Operasi? Ada apa dengan eomma Dok?"

"Kontraksi tadi disebabkan salah satu usus ibumu mengalami penyumbatan, mungkin obat-obatan kemoterapi selama ini sedikit merusaknya."

Kyungsoo ternganga, bukankah dulu Dokter Lee yang menyarankan ibunya untuk menjalankan kemoterapi saat koma. Tapi.. kenapa sekarang harus seperti ini? "Berapa biayanya Dok?" jujur Kyungsoo belum siap mendengar berapa nominal yang harus dikeluarkan untuk biaya operasi kali ini. Tapi Kyungsoo harus melakukannya, untuk menyelamatkan nyawa ibunya.

"400 juta Kyung. Seluruh saluran pencernaan ibumu mengalami masalah. Penyumbatan terbesar diusus besar menghambat aliran vitamin yang kami berikan."

Mata bulat Kyungsoo semakin membulat. 400 juta? Dimana dirinya dapat menemukan uang sebanyak itu? "Aku akan memberimu waktu 2 minggu, karena batas penyumbatannya masih kecil. Namun lebih cepat lebih baik bukan?" Dokter Lee meninggalkan Kyungsoo disana, menatap punggung Dokter Lee yang dibalut kebanggaan para dokter.

Mata Kyungsoo tertutup, kepalanya mendongkak keatas. "Appa~ apa yang harus aku lakukan?" ucapnya lirih. Tes.. satu tetesan bening menetes dari pipi Kyungsoo. Gadis itu hanya dapat menatap ibunya yang terbaring di tempat tidur rumah sakit ini dari kaca luar.

"Eomma~ Kyungsoo sayang eomma. Saranghae eomma." Lanjutnya pelan.

000

Pagi itu dikediaman keluarga Oh tidak seperti pagi-pagi dihari sebelumnya, kini suasana lebis sepi. Karena separuh dari maid disana sudah diberhentikan oleh Nyonya Oh sesuai dengan permintaan putra tunggalnya. Sehun tentu senang, tidak akan ada keramaian saat sarapannya hari ini. Hanya ada Im ajjumha, maid kepercayaan Sehun.

"Selamat pagi tuan muda." Sapa Im ajjumha saat melihat Tuan Mudanya itu memasuki dapur. Sehun hanya diam, melangkahkan kakinya yang dibalut jeans hitam panjang kearah meja makan. Saat melihat Tuan mudanya akan menyantap sarapannya seluruh maid meninggalkan ruang dapur, membiarkan Tuan Mudanya menikmati sarapan ditemani dengan keheningan.

999

Kyungsoo sedikit bergegas saat melirik arloji ditangan mungilnya. Sudah pukul 08.30 sebentar lagi mata kuliah Choi sonsaengnim akan dimulai dan Kyungsoo masih berada diflat kecilnya. Kyungsoo hanya tidur 4 jam kemarin, gadis itu memang berniat untuk mencari uang untuk biaya operasi ibunya. Sepulang dari rumah sakit, Kyungsoo langsung mencari pekerjaan sampingan lainnya, disalah satu Pub terkenal dikota Seoul ini dan Kyungsoo harus merelakan waktu tidurnya untuk bekerja.

"Oh Astaga ya Tuhan. 15 menit lagi." Pekik Kyungsoo nyaring, untunglah flat sebelah sudah kosong karena ditinggal penghuninya bekerja, jika tidak mungkin Kyungsoo akan mendapat ceramah atau bahkan sumpah dari salah satu tetangganya.

Kyungsoo setengah berlari menuju halte bus, tubuh mungilnya dibalut kemeja hijau tosca dan rok pensil selutut. Surai hitam sebahunya dibiarkan terurai, membuat nya sedikit berantakan akibat tertiup angin.

000

Sehun menutup pintu mobil Merce hitamnya, pemuda itu melangkahkan kakinya kearah pelataran fakultas kedokteran Seoul University. Walaupun umur pemuda itu masih muda 20 tahun, tapi Sehun sudah berada dijenjang semester 6. Tepat saat Sehun melangkah dikoridor fakultasnya, Kyungsoo juga melakukan hal yang sama. Gadis itu kurang berkonsentrasi dengan apa yang ada didepannya, membuat tubuhnya menyentuh pelan pundak Sehun. Dan sudah dipastikan apa yang Kyungsoo dapatkan bukan?

Tubuh Kyungsoo melayang kekiri, membuat rambutnya sedikit terbang menutupi wajahnya. Sebentar Sehun merasa terpana, entah mengapa Sehun merasa baru kali ini melihat Kyungsoo difakultas ini.

"Maafkan aku, aku tergasa-gesa. Maaf." Kyungsoo membungkuk tanda meminta maaf pada Sehun, pemuda itu kurang menanggapi. Membuat Kyungsoo melanjutkan langkah kakinya kearah timur, berbeda dengan Sehun yang kearah barat.

Sehun menatap punggung Kyungsoo yang menjauh sambil menampilkan seringai andalannya. "Well, sepertinya menarik."

000

Mata kuliah Choi sonsaengnim sudah berakhir 10 menit yang lalu, Kyungsoo mendudukkan dirinya disalah satu taman fakultas ini. Gadis itu mengelurkan sebungkus roti dari tasnya, ini lah Kyungsoo sehari-hari, dirinya lebih memilih bersantai ditaman kampus daripada harus kekantin, menemui orang-orang kaya yang terkadang memandang Kyungsoo rendah.

"Kau sendirian?" seseorang menepuk bahunya, Kyungsoo menolehkan kepalanya, memandang Seokjin yang berdiri dibelakangnya, "Apa kau keberatan jika aku duduk disini?" tanya Seokjin lagi. Kyungsoo hanya termanggu, kepalanya mengangguk. Tatapannya tidak lepas dari Seokjin yang juga melakukan hal yang sama sepertinya, mengeluarkan kotak bekal dari tasnya. "Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku terlihat seperti anak kecil?" tanyanya polos. Kyungsoo menggelengkan kepalanya.

"Anniya~. Maafkan aku Jin-ah."

"Gwenchana Kyung." Jawab Seokjin, "Kau mau? Aku rasa aku akan sangat kenyang jika memakannya seorang diri." Tawar Seokjin pada Kyungsoo. Kyungsoo ingin menolak, tapi perutnya memang meninta sedikit asupan lagi, gadis itu tidak sarapan tadi pagi.

"Apa kau mendengar kabar dari Baekhyun?" tanya Kyungsoo. Gadis itu penasaran kenapa Baekhyun tidak masuk kuliah hari ini. Dirinya sedikit terlambat saat mata kuliah Choi sonsaengnim tadi.

Seokjin menggeleng. "Hyeri hanya berkata jika Baekhyun keluar kota selama beberapa hari. Kenapa Kyung?"

Kyungsoo menggelengkan kepalanya, Baekhyun sudah dianggapnya seperti kakaknya. Walaupun mereka sama-sama semester 2 tapi Baekhyun lebih tua 2 tahun dari Kyungsoo. Baekhyun dulu mengambil jurusan seni, tapi berubah dan mengambil jurusan kedokteran tepat ditahun yang sama dengan Kyungsoo. Perihal masalah eommanya, Kyungsoo ingin menceritakannya pada Baekhyun, meminta pendapat Baekhyun apa yang harus dirinya lakukan nantinya.

Kyungsoo tidak sadar dirinya sedang diamati, dari lantai 2 fakultas ini Sehun mengamati Kyungsoo. Entah mengapa pemuda itu seperti pernah melihat Kyungsoo sebelumnya, bukan.. bukan ditempat ini tapi ditempat lain. Ah ya.. Sehun baru ingat. Dirinya melihat Kyungsoo di Pub tadi malam. Apa yang gadis itu lakukan disana? Apa Kyungsoo termasuk wanita penghibur disana? Jika iya, Sehun ingin 'mencoba'nya. Sehun bisa merasakannya, tatapan wajah Kyungsoo membuat gairahnya meningkat.

000

Nyonya Oh memijit kepalanya yang terasa pening, wanita paruh baya itu berjalan sedikit limbung, dan tubuh rapuh itu tersampir kesamping.

"Anda tak apa Nyonya?" Kyungsoo menahan tubuh Nyonya Oh yang melayang kearahnya. Nyonya Oh seperti tersadar, dengan cepat Kyungsoo membantu tubuh Nyonya Oh dan mendudukkannya disalah satu bangku ditaman ini.

"Terima kasih anak muda. Siapa namamu?" tanya Nyonya Oh. Kyungsoo tersenyum menampilkan wajah ayunya yang sedikit kacau. Dari tadi setelah pulang kuliah Kyungsoo kembali mencari pekerjaan lain, 3 jam sebelum bekerja di Toko Roti 'Angle' milik Leeteuk ingin dipakainya untuk mencari pekerjaan tambahan.

"Do Kyungsoo Nyonya." Jawab Kyungsoo, Nyonya Oh seperti mengamati Kyungsoo.

"Aku Oh Sinhye. Ada apa dengan wajahmu Nak?"

Kyungsoo terkejut siapa yang tidak kenal dengan Oh Sinhye? Istri dari Oh Minho yang terkenal dengan jaringan bisnis mengguritanya itu. Kyungsoo bingung harus menjawab apa.

"Tak apa Nyonya. Saya hanya terkejut."

"Kyungsoo.. aku sedang bingung." Ucap Nyonya Oh, entah mengapa Nyonya Oh merasa nyaman saat bersama dengan Kyungsoo,. "Aku sedang mencari pembantu dirumahku."

Mata Kyungsoo berbinar, ini kesempatan emas bukan? Tak apa dirinya menjadi seorang maid, yang penting dirinya bisa mengumpulkan uang untuk biaya operasi ibunya.

"Saya sedang mencari pekerjaan Nyonya." Ucap Kyungsoo semangat. Wajah Nyonya Oh berbinar, tapi kemudian meredup.

"Tapi apa kau sanggup untuk tinggal dirumah ku Kyungsoo? Aku hanya hidup dengan anakku. Dan kau tau, dia berbeda dengan pemuda kebanyakan." Ucap Nyonya Oh pelan.

Kyungsoo terdiam. "Saya yakin saya bisa Nyonya. Tapi apakah Nyonya bisa membantu saya terlebih dahulu?" Kyungsoo bertanya hati-hati.

"Ya Kyungsoo?"

"Anda tidak perlu menggaji saya Nyonya, saya hanya meminta pembayaran dimuka." Ucap Kyungsoo.

Nyonya Oh menatapnya heran. "Maksudmu?"

"Saya memerlukan uang 400 juta Nyonya." Kembali wajah Nyonya Oh menampakkan wajah herannya.

"Untuk?" tanyanya.

Kyungsoo menggenggam ujung rok pensilnya. "Eomma saya harus dioperasi Nyonya. Jika Nyonya keberatan saya tidak apa-apa."

Nyonya Oh tersenyum menatap Kyungsoo. "Baiklah Kyungsoo. Aku akan mengabulkannya, tapi bisakah kau memulai pekerjaanmu hari ini? Ini alamat rumahku, aku tunggu kau pukul 5 sore. Bagaimana?" Nyonya Oh mengeluarkan kartu tanda pengenalnya. Kyungsoo menggenggam erat kartu itu , tubuh mungilnya berdiri dari kursi taman lalu membungkuk hormat.

"Terima kasih Nyonya."

000

Leeteuk menatap Kyungsoo yang berdiri dihadapannya. Yeoja berumur 30'an itu sedikit bingung, waktu bekerja Kyungsoo 1 jam lagi, tidak biasanya gadis itu datang kekedainya lebih cepat.

"Noona.. bolehkah aku berbicara?" tanya Kyungsoo. Ah.. Leeteuk baru sadar, pasti ada suatu hal. Makanya Kyungsoo datang lebih cepat.

"Ya Kyung? Ada apa?"

Kyungsoo tampak gelisah, sebenarnya dirinya tidak tega meninggalkan Leeteuk dan kedai ini. Sudah 4 tahun lebih Kyungsoo bekerja disini. Leeteuk yang ramah dan juga sikecil Insoo yang sering bermain dengannya. "Maafkan aku Noona, aku ingin mengundurkan diri dari kedai ini." Ucap Kyungsoo berat. Leeteuk menatapnya heran.

"Ada apa Kyung? Kenapa kau ingin berhenti sayang?" tanya Leeteuk. Kyungsoo menatap Leeteuk dengan pandangan bersalahnya.

"Eomma harus dioperasi Noona, aku memerlukan biaya lebih. Maafkan aku Noona." Kyungsoo terus mengelurakan kata permintaan maaf membuat Leeteuk tersenyum maklum.

"Apa kau sudah mendapatkan pekerjaan baru?"

"Ya Noona, aku sudah mendapatkannya."

Leeteuk tersenyum tulus. "Baiklah Kyung. Aku tidak dapat berbuat banyak. Tapi, aku masih menanggap kau sebagai karyawanku. Jadi, kalau kau merasa bosan dengan pekerjaanmu. Aku akan menerimamu dengan senang hati." Jawab Leeteuk. Kyungsoo mendesah lega, segera dipeluknya tubuh Leeteuk.

"Terima kasih Noona. Terima kasih, aku tidak akan pernah melupakan Noona." Jawab Kyungsoo, Leeteuk tersenyum haru hingga setetes air mata jatuh dipundak Kyungsoo. "Semoga kau baik-baik saja Kyung." Lirihnya dalam hati.

999

Kediaman Oh terasa sepi, ini hampir pukul 5 sore dan tuan muda mereka belum juga pulang. Nyonya Oh menunggu kedatangan Kyungsoo diruang tamu.

Ting Tong

Nyonya Oh beranjak dari tempat duduknya, membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang. Raut wajahnya menampilkan senyum saat melihat Kyungsoo datang menepati janjinya.

"Anyyeong Nyonya." Kyungsoo membungkuk saat melihat Nyonya Oh.

"Masuklah Kyungsoo-ya."

Kyungsoo memasuki massion mewah itu dengan pandangan terpana, dulu rumahnya tidak seperti ini. Rumah seperti ini hanya dilihatnya saat menonton drama-drama ditv yang sering menampilkan orang-orang kaya.

Nyonya Oh mengajak Kyungsoo untuk mengelilingi massion mewah itu, sepanjang lorong massion itu Kyungsoo melihat beberapa lukisan yang terasa dekat dimatanya. Langkah Kyungsoo terhenti saat melihat salah satu foto yang menampilkan wajah putra tunggal Tuan Oh, Oh Sehun. Kyungsoo dapat merasakan aura pemuda itu, misterius dan juga tampan. Walaupun dalam foto itu Sehun tidak tersenyum namun dengan melihatnya Kyungsoo dapat tersenyum dengan sendirinya. Nyonya Oh tidak sadar jika Kyungsoo tertinggal jauh dibelakangnya, sedangkan Kyungsoo masih asik mengamati foto-foto tuan mudanya itu. dimulai dengan foto masa kecil Sehun yang berada disisi kanan dinding massion ini, hingga foto Sehun saat kelulusan Sekolah Menengah.

Tangan mungil Kyungsoo menelusuri satu-persatu foto yang terpajang disana. Hingga matanya menangkap satu tulisan yang menarik perhatiannya.

'OH SEHUN'

"Apa yang kau lakukan disini?" suara itu menyapa pendengaran Kyungsoo membuat Kyungsoo sedikit menjauh dari salah satu figura. Tubuhnya menghadap kekanan, kearah sumber suara itu.

"A—akuuu sedang melihat ini." Jawab Kyungsoo pelan, "Maaf jika aku lancang." Lanjutnya. Kyungsoo masih belum sadar jika yang dihadapannya ini adalah Tuan Mudanya, matanya terarah pada salah satu figura dan wajah Kyungsoo berubah terkejut. Oh astaga ini kah tuan muda Oh secara nyata itu?

Sehun menatap Kyungsoo yang sepertinya sedang terkejut, mata sipit itu menelusuri tubuh Kyungsoo. Memandangnya seolah menilai, Kyungsoo sudah mengganti pakaiannya, gadis itu kini mengenakan rok denim hitam selutut dan kemeja putih lengan pendek, surai hitamnya diikat kuda rapi menampilkan leher jenjang miliknya. Oh.. Sehun ingin segera memberi tanda dileher putih itu.

"Kau Kyungsoo bukan? Mahasiswi beasiswa itu?" tanya Sehun datar. Kyungsoo mengerutkan dahinya pertanda bingung. "Apa yang dilakuakn rakyat kecil sepertimu dirumahku?" lanjutnya.

Kyungsoo menarik nafasnya kesal, sungguh sombong tuan muda ini. Jika tidak mengutamakan sopan santun ingin rasanya Kyungsoo memukul wajah datar tuan mudanya ini.

"Ak-kk—"

"Sehun? Kau sudah pulang nak?" Nyonya Oh menyapa keduanya. Kyungsoo tergagap. "Ya Tuhan Kyungsoo, aku kira kau dimana."

Sehun memberikan pandangan bingung pada ibunya. Nyonya Oh yang seolah mengerti dengan padangan Sehun menampilkan senyumnya. "Dia Kyungsoo Sehun, maid baru dirumah kita."

Sehun tersenyum, maid baru yaaa? Baiklah, akan mudah untuknya jika ingin 'merasakan' Kyungsoo.

"Annyeonghaseyo, Do Kyungsoo imnida." Kyungsoo membungkukkan badannya kearah Sehun, dan entah secara tidak sengaja Sehun bisa melihat sedikit bongkahan dada Kyungsoo. Tuhan.. Sehun butuh pelampiasan secepatnya.

"Aku memperbolehkan dia membersihkan kamarku eomma." Ucap Sehun. Nyonya Oh ternganga, tidak biasanya Sehun memperbolehkan orang lain masuk kedalam kamarnya. "Aku mengenalnya, dia adik tingkatku."

"Kau kuliah di Seoul University Kyungsoo?" tanya Nyonya Oh heran.

"Nde Nyonya." Jawab Kyungsoo, gadis itu masih bingung bagaimana Sehun bisa tahu jika dirinya salah satu mahasiswi disana. Apa Sehun juga kuliah disana.

"Ah benarkah? Sehun juga, Sehun mengambil prody Kedokteran. Bagaimana denganmu?"

Kyungsoo terdiam, Oh Sehun? Kenapa Kyungsoo tidak mengenal pemuda itu jika mereka berada disatu fakultas. "Dia semester 6 Kyungsoo." Benar saja Kyungsoo tidak mengenalnya.

"Saya juga prody kedokteran Nyonya, tapi baru semester 2." Jawab Kyungsoo,

"Aigoo~ aku harap kalian dapat berbagi ilmu." Ucap Nyonya Oh. "Ya kan Hun-ah?" Nyonya Oh melirik kesampingnya, namun kosong, dilihatnya anak tunggalnya itu sudah beranjak kekamarnya.

"Baiklah Kyungsoo, sesuai permintaan Sehun tadi. Kau bisa membersihkan kamar Sehun. Kamarnya ada dilantai dua." Nyonya Oh melangkah hendak meninggalkan Kyungsoo. "Ah ya aku lupa. Apa kau bisa memasak?"

Kyungsoo mengangguk pelan. "Bagus, kau bisa memasakkan Sehun besok."

"Dan untuk uang muka, ini ada cek 450 juta. Anggap saja sumbangan dariku. Aku tidak akan memotong besar gajimu Kyungsoo. Kau akan tetap mendapatkan gaji seperti yang lainnya."

Kyungsoo menerima cek yang diberikan oleh Nyonya Oh dengan tatapan harunya. Bagaimana bisa dirinya tidak bersyukur jika seperti ini. "Terima kasih Nyonya. Terima kasih banyak." Ucapnya sambil membungkuk.

000

Kaki mungil Kyungsoo menapaki mamer putih itu, hari ini Kyungsoo memang belum pergi menjenguk ibunya. Lagi pula Kyungsoo ingin mengurus biaya administrasi untuk operasi ibunya. Dirinya sudah berpamitan dengan Nyonya Oh, dan beruntungnya Nyonya Oh memperbolehkan Kyungsoo untuk menjenguk ibunya. Kyungsoo sedikit merasa santai hari ini, besok dirinya harus bangun pagi untuk bekerja, Nyonya Oh akan berangkat ke London besok menyusul suaminya, kemungkinan terbesar Kyungsoo hanya akan bertemu dengan tuan mudanya itu. mengingat Tuan mudanya, Kyungsoo merasa sedikit geram. Sombong sekali dia,

Ryeowook yang melihat Kyungsoo datang segera menghampirinya, "Aigoo Soo-ya darimana saja kau?"tanyanya.

Kyungsoo tersenyum menyadari Ryeowook yang mengkhawatirkannya. "Gwenchana eonni, aku sudah mendapatkannya." Jawab Kyungsoo senang, Ryeowook memberika pandangan bertanyanya. "Uang untuk biaya operasi eomma. Aku sudah mendapatkannya eonni" Kyungsoo memeluk tubuh Ryeowook yang sama mungilnya dengan tubuhnya.

"Benarkah Soo-ya? Bagaimana bisa?"

Kyungsoo melepaskan pelukannya. "Aku bekerja dimassion Tuan Oh Minho eonni, dan mereka mau memberikan uang muka untukku."

"Ya Tuhan terima kasih. Aku senang mendengarnya Soo-ya. Aku harap operasi ibumu berjalan lancar."

Kyungsoo mengangguk bahagia, tubuhnya berbalik memandang tubuh ibunya yang masih diselimuti selang "Eomma yang kuat nde? Kyungsoo yakin eomma pasti sembuh." Lirihnya pelan. "Anyyeong eomma."

999

Pagi hari dikediaman Oh, sudah 15 menit yang lalu Nyonya Oh berangkat kebandara untuk melanjutkan penerbangan pagi. Dirumah ini hanya ada ada Kyungsoo dan Im ajjumha, ketua maid disini.

"Anyyeong Do Kyungsoo imnida." Sudah kebiasaan jika Kyungsoo akan menunduk jika bertemu orang baru atau berkenalan dengan baru, jadi tentunya Kyungsoo akan melakukan hal itu lagi.

"Anyyeong Kyungsoo-ya.. Im Hyoseo imnida. Kau bisa memanggil Im ajjumha."

Kyungsoo tersenyum, gadis itu memakai rok denim coklat dengan kemeja cream lengan pendek, blezernya sengaja dilepas karena nanti akan dipakaianya jika pergi kekampus. "Aku dengar Sehun memperbolehkanmu masuk kedalam kamarnya. Baiklah, aku rasa tugasku sudah cukup untuk urusan dapur saja." Im ajjumha sengaja menggoda Kyungsoo. "Cepatlah kekamarnya Kyungsoo. Sehun biasnaya sedang mandi sekarang." Lanjut Im Ajjumha.

Saat Kyungsoo melangkah berbalik hendak meninggalkan dapur. "Ah ya Kyungsoo. Aku lupa satu hal, Sehun membenci keramaian. Jadi jangan sampai kau membuat gaduh saat membersihkan kamarnya, dan juga saat kau melihat kamar Sehun anggap saja seperti kamar pemuda pada umumnya.

Kyungsoo mengagguk dan segera bergegas pergi kekamar tuan mudanya itu.

Hal pertama saat Kyungsoo tiba disana adalah aroma citrus maskulin yang menguar menyapa indra penciumannya. Kyungsoo memandang kamar Sehun dengan pandangan kagum, warna merah darah dan hitam metalic. Sungguh pilihan warna yang pas untuk seorang 'pemuda'. Kyungsoo melihat kearah tempat tidur Sehun yang tampak berantakan. Suara shower yang terdengar saat Kyungsoo melangkah maju memang menandakan pemuda itu sedang mandi sekarang.

Kyungsoo merapikan tempat tidur pemuda itu, tepat saat gadis itu membalikkan tubuhnya mata bulat Kyungsoo semakin membulat. Dengan susah Kyungsoo menelan salivanya sendiri, mungkin ini yang dikatakan Im ajjumha tadi, gambar-gambar tidak senonoh dan juga, ya Tuhan ingin rasanya Kyungsoo menolak pekerjaan ini. Ini pertama kalinya Kyungsoo melihat gambar-gambar seperti ini,

Kyungsoo terlalu asik mengamati gambar itu hingga tidak sadar jika Sehun melangkah mendekatinya, Sehun berada dibelakang tubuh Kyungsoo sehingga membuat pemuda itu dapat menghirup aroma sakura yang menguar dari tubuh Kyungsoo.

"Apa yang kau lihat?" tanya Sehun, Kyungsoo membalikkan tubunya dan seketika dirinya tergagap. Apa tuan mudanya ini sudah lama dibelakangnya.

"Maafkan aku—mungkin aku terlalu lancang melihat semuanya." Jawab Kyungsoo seraya membungkukkan tubuhnya. Kyungsoo menatap Sehun yang hanya dibalut dengan handuk dari pusar hingga lututnya, membuat Kyungsoo dengan susah payah menelan salivanya. "Ya Tuhan bagaimana bisa kau ciptakan makhluk sepertinya?" tanya Kyungsoo dalam hati, bola mata caramelnya menjelajahi tubuh Sehun yang tampak sempurna.

"Kau manis Kyung." Ucap Sehun to the point, Kyungsoo menatapnya heran. Dan saat Sehun memajukan tubuhnya sontak tubuh Kyungsoo mundur selangkah. "Kau manis, dan juga kau membuatku bergairah Do Kyungsoo." Lanjutnya. Alarm dikepala Kyungsoo berbunyi, perasaannya menjadi tidak enak. Ada apa dengan tuan mudanya ini. Mata sipit Sehun menelusuri tubuh Kyungsoo lalu tersenyum.

"Berapa banyak lelaki yang sudah menidurimu? Berapa harga yang mereka bayar? Aku bisa membayar lebih."

Otak Kyungsoo masih berfikir seakan menebak apa yang dimaksud dengan Sehun. "Oww~ berlagak seperti tidak tau eoh?" Sehun semakin medekatkan tubuhnya membuat Kyungsoo terpojok didepan lemari Sehun. "Kemarin lusa, aku melihatmu diPub itu. kau wanita penghibur disana kan?"

Oh astaga Kyungsoo baru sadar dengan apa yang diucapkan Sehun, "Katakan berapa mereka membayarmu, aku bisa membayar lebih dari mereka." Ucap Sehun lagi,

Mata Kyungsoo membola ditatapnya Sehun dengan pandangan geram. "Tuan Oh yang terhormat, Aku bukan wanita yang seperti kau pikirkan. Dan berapapun kau membayarku, aku tidak akan pernah mau."

"Apa kau bilang? Kau tidak mau?"

Dan Cup~ Sehun mencium bibir Kyungsoo, menyapu bibir mungil Kyungsoo dengan bibir tebalnya, Kyungsoo memberontak,

Plak~

Satu tamparan dipipi Sehun, membuat pemuda itu menyeringai "BAJINGAN KAU OH SEHUN!" pekiknya nyaring. Sehun hanya tertawa,

"Berpura-pura sok suci? Apa karena aku bukan om-om berkantung tebal jadi kau menolakku?" tanya Sehun geram, Kyungsoo hanya diam. Ciuman pertamanya untuk suaminya kelak, dirampas pemuda sombong ini. Kyungsoo menyesali saat dimana dirinya mengagumi tubuh Sehun tadinya.

"Kenapa diam saja sayang? Katakan berapa aku bisa membayarmu." Sehun mulai kasar, kedua pergelangan tangan Kyungsoo di genggamnya kuat, membuat Kyungsoo sedikit meronta kesakitan.

"KEPARAT KAU!" Sumpah Kyungsoo lagi, Sehun kembali menyeringai.

"Kau memang menggoda sayang."

Sehun mendorong tubuh Kyungsoo kebelakang, saat bibirnya ingin mncium Kyungsoo, Kyungsoo memalingkan wajahnya. Tangan kanan Sehun mengangkat dagu Kyungsoo untuk manatapnya. "Kau menarik Do Kyungsoo."

Dan kembali bibir Sehun mendarat tepat di bibir mungil Kyungsoo, lidahnya menyapu permukaan bibir Kyungsoo perlahan. Kyungsoo dengan sekuat hati menolak apa yang Sehun lakukan, tahu Kyungsoo masih diam. Sehun mempererat genggaman tangannya membuat mulut Kyungsoo sedikit terbuka, dan Sehun dengan senang hati memasukkan lidahnya kedalam mulut Kyungsoo.

Oh astaga ini kenikmatan tak tertandingi yang pertama kali Sehun rasakan, sudah banyak wanita yang ditidurinya namun tidak pernah ada yang seperti Kyungsoo. Mungil tapi membuatnya bergairah, ranum Kyungsoo membuat adik kecilnya sedikit menonjol, membuatnya bersentuhan dengan paha Kyungsoo.

Kyungsoo ingin menangis, melawan pun percuma, kenapa dirinya harus seperti ini?

"Ya Tuhan tolong aku" lirihnya dalam hati

TBC~

Haiii annyeong xD

Chapter 1 Updateeee... huaaaa. Makasih banyak yang udah review. Ooww nggak nyangka kalau kalian tertarik sama FF absurd ini xD.

Gimana Chapter ini? Aneh yaa? Atau kecepetan? Berikan aja unek-unek kalian dikolom review. Hehehehe xD

Maaf ya kalau kurang kerasa feelnya soalnya saya masih baru di dunia Fanfic, apalagi adegan paling bawah itu. itu saya nulis apaan? T_T

Next chap, udah pasti lah puncak semuanya. Hehehe xD

Panggil aja saya Rere atau Refa, jangan Author, saya rada gimana kalau dipanggil Author, soalnya sata saya bukan Thutor#ini apapula hubungannya xD

Sekali lagi terima kasih yang udah review, follow dan juga favorit. X))

Saya mencintai kaliannnnnnnn.

Thanks yaaa #peluk semua J

Kim Refa, 29 Januari 2015