Disclaimer: Death Note © Takeshi Obata & Tsugumi Ohba, Another Note © Nishio Ishin. Kapan mereka akan berikan hak miliknya pada dirikuu..? ~_~'
Waning: Shou-ai, EYD sangat parah! GAJE selalu.. penggunaan tanggal semaunya! Tempat dalam fic ini ga selalu sesuai dengan manga death note, jadi silahkan berkhayal.. ^^
Pairing: LightxL
Rated: T (mungkin)
Genre: Romance, Drama, Family, Mystery, etc.
Summary: Ketika Light jenuh dengan kekasihnya, ketika Beyond harus kehilangan, ketika L menemukan cahayanya dan harus menerima kebenaran.
A/N (1): Pesan pertamaku, "DON'T LIKE? DON'T READ! PLEASE NO FLAME!"
Selamat membaca~!
.
.
FUYU no AI
.
o0o
Chapter 2: More Than 3 Times
o0o
Suara pintu tertutup dan terdengar langkah kaki masuk.
"Nii-san, kau kah itu?"
"Ya.. Aku pulang,"
"Selamat datang Light," seorang wanita yang sudah menginjak usia lanjut menyambut Light dengan senyum hangatnya. Dia Sachiko Yagami, ibu dari Light dan Sayu, juga istri dari Soichiro Yagami, kepala keluarga Yagami. Sachiko keluar dari dapur dan tampak celemek masih menggantung di lehernya dengan sedikit noda kekuningan di sana.
"Kaa-san buat nasi kare?"
"Waah.. nii-san memang hebat!" Sayu kemudian muncul dari belakang ibunya, "padahal baunya sudah hilang dari tadi." Sayu menghirup nafas dalam mencoba mencium lagi aroma kare yang mungkin tersisa, "ah, ternyata masih ada sedikit, pantas nii-san tau."
Light hanya tersenyum melihat tingkah adik perempuannya, "aku lelah, kalian makanlah duluan,"
"Tidak bisa Light."
"Iya! Tou-san akan pulang cepat malam ini, jadi nii-san harus dinner bersama kami.."
"Dinner?" Sachiko mendelik heran.
"Wah.. rupanya kemampuan bahasa Inggrismu sudah jauh melampauiku."
"Maunya begitu, tapi kurasa nii-san lebih unggul, karena sejak lahir, bahkan nama nii-san dieja dalam bahasa Inggris.." Sayu sedikit mengerutkan bibir mungilnya. "Lalu, kenapa namaku juga tidak dalam bahasa Inggris?" Kini Sayu menatap ibunya, "kenapa namaku tidak Angel? atau Jessica?"
"Sayu!" Light menginterupsi omongan adiknya yang mulai ngelantur.
"Kaa-san dan Tou-san memberikan nama kalian dengan makna tersendiri, menurut Kaa-san 'Sayu' itu lebih cocok untukmu, kau mengerti?"
Sayu bergumam tak karuan.
"Sudahlah, lebih baik kau bantu Kaa-san lagi menyiapkan makan malam! Dan Light, cuci tanganmu, Kaa-san akan memanggilmu begitu Tou-san tiba."
-lightloveLlovelight-
"Sayu, apa sekolahmu baik?"
"Ya Tou-san! Tapi aku sepertinya selalu membutuhkan bantuan nii-san setiap mengerjakan tugas," Sayu tersenyum lebar, ada kebanggaan tersendiri karena dia selalu mendapat pujian begitu teman-temannya melihat semua tugas Sayu memperoleh nilai sempurna karena Light yang bantu mengerjakannya. Light memang tau hal itu, tapi dia agak acuh karena dia merasakan sendiri, diberi pujian itu memang menyenangkan. Sedangkan Soichiro dan Sachiko yang mengerti hanya tersenyum tipis.
(Author: Lhaa.. like brother like sister, like father like son, like mother like daughter, like father like daughter, like mother like son, like husband like his wife, like-
Narator: Stoop! Ntar ceritanya ga kelar-kelar! #ngebekep-ngebius Author
Okelah, kita bek tu de stori aja..)
"Lalu, bagaimana perkembangan kasus yang Tou-san hadapi?"
"Hm.. kasus?"
"Hng.. jangan katakan Tou-san tidak mau menceritakannya padaku."
"Tapi kau tidak perlu repot ikut memikirkan hal ini," Soichiro menyeruput kopinya.
"Bukankah Tou-san pernah bilang bahwa suatu saat aku akan menggantikan posisi Tou-san?"
"Tapi bukan sekarang."
"Memang bukan sekarang, tapi aku harus melatih kemampuanku mengatasi kasus dari sekarang."
"Tugasmu sekarang hanyalah memperdalam akademikmu dulu."
Sachiko dan Sayu lebih memilih untuk tidak ikut campur apabila ayah dan anak ini mulai memperdebatkan sesuatu.
"Tou-san."
"..." Soichiro menghela nafas panjang, "kau pasti sudah tau inti permasalahannya."
"Ya, hanya saja aku ingin mendengarnya langsung dari Tou-san."
Soichiro menatap putra semata wayangnya, Light Yagami. Dari kilat matanya dia bisa melihat bagaimana seorang yang akan menjadi penerusnya itu memiliki ketegasan yang terbalut ketenangan dan memiliki obsesi untuk selalu unggul. Sekali lagi Soichiro menghela nafas.
"Kami akhirnya meminta bantuan 'dia' atas saran pihak interpol."
"Dia?"
"Dari ketiga pilihan yang diajukan, akhirnya kami memilih L untuk dimintai kerjasamanya, karena Deneuve dan Eraldo Coil sedang menangani kasus lain. Dan kami menimbang bahwa L memiliki kemampuan yang lebih tinggi."
"L.. Detektif Dunia itu?"
"Detektif yang diketahui memiliki catatan keberhasilan pemecahan kasus paling baik, di dunia."
"Ya, aku tau," Light tersenyum. "Aku kira kasus ini tidak serumit itu, sampai-sampai membutuhkan bantuannya, menarik."
"Kau juga tau, kasus ini sampai kuajukan pada pihak interpol, itu artinya pihak kita memang belum sanggup menyelesaikannya sendiri. Lagipula L langsung setuju. Padahal kukira kasus ini tidak menarik untuknya."
Soichiro kembali menikmati kopi malamnya (Narator: emang kopi adanya kapan aja ya?), sementara Light memperhatikan ibu dan adiknya yang sibuk membereskan peralatan makan.
"Tou-san pasti tau bahwa aku selalu tertarik pada analisis ketiga detektif itu."
"Hm.."
"Apakah.. aku boleh.."
Soichiro melihat Light dengan ujung matanya, sedikit terkejut, karena Light sendiri terbilang jarang meminta sesuatu padanya. Dan sekarang izin apa yang diinginkannya?
"Bertemu dengannya?"
Soichiro berpikir sejenak, "L adalah detektif di balik layar, belum tentu kami pun bisa bertemu langsung dengannya meskipun bekerja sama."
"Menurutku.. jika L berantusias dengan kasus ini, kemungkinan besar dia akan meminta bertemu dengan pihak Tou-san, jadi saat itu, izinkan aku bertemu dengan L."
"Kau ingin meminta tanda tangannya, Light?" Soichiro menutupi tawanya dengan senyuman bijak.
'Ng.. minta tanda tangan? ya kurasa tidak salah, tapi masa aku ini bisa sampai segitunya meminta tanda tangan pada L..' batin Light. "Bukan Tou-san, aku hanya ingin tau bagaimana analisanya bila dibandingkan dengan siswa 'terpintar se-Jepang'" Light beranjak dari kursinya, "aku mau belajar, kemudian istirahat, tolong jangan terlalu ribut, oyasumi nasai.." Light berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
"Ckck.. Nii-san memang rajin," Sayu kemudian meletakkan piring yang sudah dibersihkannya.
"Karna itu, contohlah kakakmu," Soichiro menanggapi komentar putrinya.
"Aku juga selalu berusaha Tou-san."
-lightloveLlovelight-
Light belum tertidur, ditatapnya lagit-langit kamarnya yang membiaskan cahaya lampu dari luar jendela. Hanya lampu itu lah yang menerangi suasana gelap kamar Light.
'Apa yang sekarang harus kulakukan pada B?
'Lucu juga mengingat betapa lugunya aku ketika menerima cintanya. Bahkan aku ragu kalau aku menerima cintanya dalam keadaan sadar. Dia bilang dia mencintaiku, eh? Kurasa dia hanya ingin bermain denganku. Padahal selama ini aku belum pernah memiliki hubungan cinta dengan siapa pun, siapa pun, bahkan dengan wanita saja tidak pernah, apalagi dengan.. sigh! Dan dia menghancurkan hubungan pertamaku itu.
'Yang paling kubenci, dia seenaknya memperlakukanku layaknya uke, dan dia selalu kasar padaku. Dia pikir aku ini selemah itu. Yah.. aku memang selalu menganggap yang menjadi uke itu adalah orang yang lemah. Tidak, bukan lemah, hanya aku memang tidak pantas memegang julukan itu.'
Light menghela nafas berharap pikirannya menjadi sedikit lebih ringan, dan itu berhasil.
'Kurasa, sudah lebih dari sebulan aku menjadi kekasihnya, tapi aku tidak merasakan apa yang orang-orang sebut dengan cinta. Aku rasa perbuatan-ku dengannya itu bukan karna cinta, hanya pelampiasan biologis.
'Sayu benar. Dia menyeramkan, lalu apa sebetulnya yang kuharapkan darinya? Bahkan rasa aman saja tidak kutemukan.'
Merasa bosan dengan posisinya, Light berbaring menyamping.
'Ini mungkin perasaan jenuh dengan kekasih, orang yang harusnya kucinta. Huh, lalu mau kuapakan rasa bosanku ini? Aku tidak mungkin terlepas begitu saja darinya.
Tapi aku harus berusaha menghindar, dan menemukan cara agar terbebas dari pelukannya.'
Light mencoba menutup matanya, tapi entah kenapa sebuah nama tiba-tiba terlintas di benaknya.
'Ryuzaki'
'Oh iya, pemuda dengan senyum menawannya itu. Dia mungkin bisa membantuku.'
-lightloveLlovelight-
Kediaman Ryuzaki, 14 Desember, 09:12 a.m.
"Apa keputusanmu sudah bulat, Ryuzaki?"
"Hm," Ryuzaki menggenggam kedua ujung lengan bajunya dengan masing-masing tangan lalu memeluk lututnya.
"Baiklah, akan saya sampaikan pada pihak Kepolisian Jepang bahwa anda meminta mereka bekerja di gedung ini dan bertemu dengan anda. Tapi, kenapa tidak biasanya? Apa tidak sebaiknya melihat perkembangan kasus ini terlebih dulu?"
"Itu terlalu lama, Watari. Saya hanya memiliki waktu 3 bulan, dan saya rasa kali ini adalah kasus yang sangat serius," Ryuzaki menatap Watari lurus-lurus, "bahkan tadinya saya ingin meminta bantuan Beyond-san."
"Beyond?"
"Ada yang salah Watari?"
"Tidak, hanya saja saya tidak terlalu yakin akan kemampuannya dibandingkan dirimu."
Ryuzaki diam. Masih menatap Watari. Kemudian dia beralih pada cake-nya.
"Kalau begitu tunggu apa lagi?"
Watari mengangguk pelan dan berjalan ke luar ruangan yang penuh dengan layar komputer itu.
-lightloveLlovelight-
"Eh? Yang benar? Apa kami bisa bertemu langsung dengan detektif dunia itu?" Seorang pemuda terlihat sangat antusias menanggapi perkataan orang di hadapannya.
"Waah.. Tidak sia-sia aku menerima pekerjaan ini! Aku ingin foto bersamanya!" Lanjutnya.
"Matsuda hentikan!" Soichiro akhirnya menegur polisi muda bawahannya yang tak lain bernama Matsuda.
"Memangnya kenapa komandan? Bukankah ini kesempatan langka?"
"Tapi itu tidak bisa kau lakukan anak muda," Watari berdehem sebelum melanjutkan, "Kerahasiaan identitas L sangat dijaga. Bahkan saya sendiri ragu L mau menerima permintaan Matsuda-san."
'ya, saya tidak akan mau.' Sebuah suara terdengar dari komputer jinjing dengan layar huruf 'L' yang dibawa Watari
"Aah.. sayang, padahal aku ingin menunjukkannya pada Yagami-kun,"
"Yagami-kun?" Tanya seorang anggota polisi lagi yang bernama Aizawa.
"Ya, dia pasti akan iri kalau melihatnya."
"Matsuda. Bukankah sudah kubilang padamu untuk diam? Atau aku harus mencari penggantimu sebelum kasus ini dimulai?"
"Ah, maaf komandan!" Matsuda membungkuk berkali-kali. "Maafkan aku,"
'Watari,'
"Baik L. Semuanya mari ikut saya."
Watari menutup komputernya dan berjalan diikuti Soichiro dan kelima anak buahnya, Matsuda, Aizawa, Mogi, Ide, dan Ukita.
-lightloveLlovelight-
Watari mengetikkan sebuah kode dan tak lama kemudian pintu terbuka. Dia lalu mempersilahkan keenam polisi itu untuk masuk. Soichiro mengangguk mengucapkan terima kasih. Terdengar suara langkah dari dalam. Kemudian munculah seorang pemuda berambut hitam, berkulit pucat, yang mengenakan kaos putih dan celana jeans yang keduanya berukuran terlalu besar. Pemuda itu berjalan bungkuk sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jeans besarnya itu. Mata hitam bundarnya yang berkantung tebal menatap intents pada orang-orang dihadapannya.
Keenam polisi itu terpaku, tak ketinggalan mulut mereka yang menganga lebar. Mereka memperhatikan sosok itu dari ujung kaki, perlahan, sampai ujung rambut, memastikan detil penampilannya, sementara pemuda itu dengan tenangnya malah menggosokkan telapak kaki pada permukaan celana jeans yang satunya.
Soichiro, diikuti yang lainnya menoleh pada Watari, menanyakan kepastian meskipun mereka tidak berkata apapun. Watari hanya mengangguk dan tersenyum. Kejadian ini sudah bisa diperkirakannya.
"Eu.. L?" Aizawa akhirnya membuka mulut.
"Mulai sekarang, panggil saya Ryuzaki."
"Selamat siang, Ryuzaki," sapa Ide dan Ukita.
"Selamat siang, selamat datang," Ryuzaki berbalik, "dan selamat bekerja. Saya mengandalkan kalian."
"Seperti yang tadi saya sampaikan, Anda sekalian akan bekerja disini, dan tugas yang biasa dilakukan sebagai polisi Jepang akan dihentikan sementara sampai kasus ini dianggap tuntas. Tapi kalian tetap memiliki wewenang atas Kepolisian Jepang. Kami akan mempersiapkan password untuk Anda sekalian. Apa ada hal yang ingin ditanyakan?" Jelas Watari.
"Tidak. Baiklah, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memecahkan kasus ini!" Matsuda mengepalkan kedua tangannya, diikuti anggukan Mogi.
"Mohon bantuannya," sekali lagi Watari membungkuk.
-lightloveLlovelight-
"Aku pulang!"
"Selamat datang nii-san!" Sayu melihat kakaknya sekilas sebelum melanjutkan kembali kegiatan membaca majalahnya.
"Light?"
"Ya?" Light melihat ibunya yang menghampiri.
"Tadi Tou-san menelepon untuk meminta bawakan berkasnya."
Light melirik adiknya, "Kenapa tidak Sayu?"
"Tou-san bilang berkas ini sangat penting dan jangan sampai dipegang anak ceroboh seperti aku," jawab Sayu malas karena merasa tidak diberi kepercayaan oleh ayahnya.
"Begitulah, Light. Jadi tolong ya?" Sachiko tersenyum.
"Baiklah."
"Bawakan juga makan malam untuknya, sepertinya malam ini dia akan lembur lagi."
"Ya, aku berangkat."
"Oh, Light! Kaa-san hampir lupa, Tou-san bilang antarkan berkasnya ke alamat ini."
Setelah Light menerima alamat pada secarik kertas, dia berbalik dan kembali pergi ke luar rumah.
-lightloveLlovelight-
Light melihat kertas itu lagi. 'Apa benar ini alamat kantor Tou-san?' Dilihatnya gedung yang begitu besar dan menjulang. Light sedikit ragu, namun akhirnya dia menekan bel itu juga. Sebuah suara baritone terdengar dari kotak interkom. Setelah memberitahukan keperluannya, tak disangka, gerbang itu terbuka dan mempersilahkannya untuk masuk.
Di pintu masuk, Light kembali berbicara lagi melalui kotak interkom.
'Sungguh merepotkan,' batin Light sedikit jengkel.
Dari sana dia diperintahkan untuk naik lift dan pergi ke lantai 9 menuju sebuah ruangan. Di depan pintu yang besar Light kembali bertemu dengan kotak interkom.
"Aku sudah sampai di depan pintu."
'Apa tidak ada yang mau menyambutku? Kalau aku seorang pencuri, aku bahkan bisa dengan leluasa menerobos masuk gedung yang hanya dihuni kotak interkom ini!' Light melihat sekeliling dan menemukan banyak sekali kamera. 'Terlalu banyak kamera' Light tersenyum dan menyapu poni yang sedikit menutupi matanya, 'lumayan..'
Pintu itu terbuka, dan Light langsung bisa mendapati ayahnya yang sedang berkonsentrasi membaca sebuah berkas di sudut sofa sambil menyanggakan dagu pada sandarannya.
"Konbanwa, Tou-san"
Soichiro menengadahkan kepala, "Light?"
"Mau diletakkan dimana berkas dan makan malam Tou-san ini?"
"Bisa kau taruh di atas meja sana, Light."
Light berjalan menuju meja yang dimaksud. Setelah itu dia sempat melihat sekeliling ruangan yang luas. Sebuah ruang kerja yang sangat hebat, bahkan kantor tempat ayahnya biasa bekerja tidak bisa dibandingkan dengan ruangan ini.
"Sekarang ini kantor, Tou-san?"
"Aku, belum menceritakannya padamu. Ya, selama Tou-san menyelesaikan kasus ini, disinilah kantor Tou-san."
"Tempat yang bagus."
"Terima kasih," sebuah suara terdengar dari arah pintu. Ayah dan anak itu pun menoleh.
"Oh, Ryuzaki. Perkenalkan ini putraku, Light Yagami."
"Kau?" Light sedikit menyipitkan matanya.
"Kau sudah mengenalnya, Light?"
"Belum lama."
"Selamat bertemu lagi dengan saya, Light-kun."
Light tersenyum, "sama-sama."
"Anakmu punya kemampuan yang hebat Yagami-san," Ryuzaki meletakkan ibu jarinya di depan bibir merahnya.
"Maaf?"
"82% dia bisa diandalkan."
"82% ?" Giliran Light yang bingung.
"Suatu saat mungkin saya bisa mengandalkannya."
"Bicara apa kau ini? Mengandalkanku? Memangnya kau ini siapa?"
"Saya sudah pernah memperkenalkan diri."
"Dia detektif itu Light."
"Apa?" Light melihat Ryuzaki dengan seksama, "Kau.. L? Detektif nomor satu itu?"
"Mungkin saya lupa menyebutkan bagian itu. Tapi ternyata kau sudah tau lebih dulu. Baiklah, cepat selesaikan urusan kalian karena Yagami-san harus kembali bekerja." Ryuzaki berbalik, "saya harap Light-kun tidak besar mulut, karna saya telah mengizinkan Light-kun melihat markas ini dan tau bahwa saya adalah L," dan dia pergi ke luar ruangan.
Light menghela napas, "Tou-san aku pulang dulu!"
-lightloveLlovelight-
Apartemen BB, 17 Desember, 04:15 p.m.
"Beyond, kau ada di rumah?" Light masuk apartemen itu dan langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa. Suasana sangat hening.
"Apa kau merindukanku?" Tiba-tiba Beyond memeluk leher Light dari belakang.
Light membuka matanya dan langsung menepis tangan Beyond, "diamlah!"
"Hm.. kenapa? Apa kau dikejar wanita lagi hari ini? Apa dia mengganggumu? Kalau begitu biar aku yang membereskannya." Beyond menjilati mulut toples selai, "kau mau aku apakan wanita itu?"
"Tidak ada wanita yang mengejarku hari ini," Light berbohong untuk memperpendek masalah. Nyatanya tadi siang Misa, pelayan cafe itu, terus menggodanya.
"Kalau begitu ada apa?"
"Aku bosan."
"Hm?" Beyond memiringkan kepalanya dan memasang tampang innocent.
"Jangan buat wajah menjijikan seperti itu di hadapanku!"
"Ya... aku juga sedang bosan.." Beyond menyeringai dan akhirnya duduk di samping Light.
"Hentikan sebelum aku benar-benar marah!"
"Ada apa kau ini?"
"Aku benar-benar bosan dan merasa kurang nyaman jika ada di sampingmu, kau tau?"
Beyond membelalakkan matanya.
"Aku ingin kita.. menghentikan dulu hubungan ini dan biarkan aku berpikir ulang untuk meyakinkan perasaanku, karena.."
'PLAK' Beyond menampar wajah Light.
"Apa-apaan kau ini!"
"Kau yang apa-apaan! Jangan meminta sesuatu yang tidak mungkin kukabulkan untukmu! Dan aku sama sekali tidak akan menyetujui hal itu!"
"Hng! Sudah kuduga kau ini benar-benar egois dan tidak pernah bisa mengerti perasaan orang lain! Memangnya selama ini kau pernah buat aku bahagia, HAH?"
'PLAK' Lagi-lagi Beyond menampar Light, dan kini Light benar-benar geram.
"Aku selalu buat kau bahagia!"
"Itu menurutmu! Tapi aku sama sekali tidak pernah merasakannya!"
Beyond hendak menampar Light untuk ketiga kalinya, namun cengkraman Light membuatnya tertahan. Mata kemerahannya terlihat berkilat menampakkan amarah.
"Atau sekalian saja aku minta untuk mengakhiri hubungan ini sampai disini?"
"Jangan katakan lagi hal yang tidak mungkin!"
'DUAGH!' Beyond menendang perut Light hingga dia terjatuh dari sofa.
"Kau tidak akan pernah kulepaskan!" Kini Beyond berdiri di atas sofa dan mengacungkan botol selainya pada Light.
-lightloveLlovelight-
Watari menekan bel beberapa kali dan tetap tidak ada jawaban. Namun dari dalam terdengar suara gaduh, sehingga dia yakin penghuninya tidak sedang keluar.
'PRANK!'
"Bunyi itu sudah dua kali terdengar, apa sebaiknya kita dobrak pintu ini, Ryuzaki?"
"Ya."
Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya pintu itu terbuka juga. (Author: uwaah watari tua-tua cabe rawit! #udah bangun. Narator: _ maksud?)
"Hey, apa yang kalian lakukan?" Watari disusul Ryuzaki menerobos masuk dan berusaha menghentikan Light dan Beyond yang sedang berkelahi. Keadaan ruangan itu sudah kacau balau. Benda-benda sudah tergeletak di tempat yang tidak semestinya. Light terlihat bersandar pada tembok dengan luka di sekujur tubuhnya, tak jauh berbeda dengan keadaan Beyond yang bersandar pada lemari besi di seberang Light.
Watari menghampiri Beyond, sementara Ryuzaki menghampiri Light.
"Light-kun?"
Light tersenyum getir, "tak kusangka!" Dengan napas yang terengah-engah, Light masih berusaha mengejar Beyond yang dirangkul Watari untuk dibawa keluar ruangan. Ryuzaki mencengkram kedua lengan Light.
"Tenanglah Light-kun!"
"Saudaramu itu benar-benar kurang ajar! Apa ini yang dia sebut cinta, hah? Shit!"
"Cinta?"
Light melirik Ryuzaki yang ada di hadapannya, dia menatap tepat pada biji mata Ryuzaki yang hitam pekat. "Dia yang menyebutnya seperti itu!"
"...Biar saya bantu Light-kun, kau harus segera diobati."
"Rumah sakit?"
"Ya?"
"Kurasa tidak perlu. Watari juga akan membawa Beyond ke rumah sakit, kan? Kalau kau membiarkan kami berada dalam satu mobil, emosiku bisa terpancing lagi."
Ryuzaki melihat luka Light, "Bagaimana dengan lukamu?"
"Aku bisa mengobatinya sendiri."
"Kalau begitu saya antarkan kau pulang,"
"Ke rumah sakit atau kerumahku itu sama saja."
"Tidak, saya sendiri yang akan mengantarkanmu, tidak dengan mobil yang sama dengan Beyond-san. Lagipula saya khawatir Light-kun pingsan di tengah perjalanan."
"Pingsan? Aku tidak selemah itu, detektif.."
"Kalau begitu saya antarkan Light-kun pulang sebagai permohonan maaf atas kelakuan Beyond-san."
Light menghela napas panjang.
-lightloveLlovelight-
"Tunggu sebentar!" Sayu berjalan menuju pintu, "Nii-san ya?" kunci diputar, setelah terdengar bunyi, 'klek', Sayu mendorong pintu ke arah luar. "Selamat da.." Sayu terkejut melihat Light yang dirangkul seorang pria, "..tang."
"Ini benar kediaman Light-kun?"
"Ah, i..iya. Nii-san kenapa Beyond-san?"
"Sebelumnya bawa Light-kun masuk dulu, udaranya sangat dingin di luar."
"Silahkan."
-lightloveLlovelight-
Sayu meletakkan kain basah di pelipis Light.
"Light-kun terluka karena berkelahi dengan Beyond-san."
"Nii-san, berkelahi? Tapi sebelumnya tidak pernah.."
"Daripada itu, bagaimana kondisi Light-kun?"
"Badan nii-san sangat panas. Mungkin ini juga karena nii-san kemarin berlatih tennis di tengah salju.."
"Pantas, dari awal kondisinya terlihat lemah."
"Nii-san terlalu bersemangat kalau soal tennis, jadi beginilah akibatnya."
Ryuzaki memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, "hm. Kalau begitu saya pamit. Semoga Light-kun cepat sembuh."
"Ryuzaki-san, terima kasih ya sudah menolong nii-san."
"Ya," Ryuzaki turun dari kamar Light dan menuju ruang tamu. Tapi kemudian terdengar langkah Sayu yang berlari ke arahnya.
"Oh, tunggu! Apa Ryuzaki-san mau kupinjami mantel?"
"Untuk apa?" Ryuzaki berbalik.
"Untuk apa? Tentu saja untuk melindungi tubuh Ryuzaki-san dari angin kencang dan udara dingin diluar! Bajumu yang seperti itu tidak akan cukup melindungi. Aku ambilkan ya?"
"Maaf merepotkan."
"Tak usah sungkan. Tunggu sebentar!" Sayu pergi sejenak kemudian datang lagi dengan mantel coklat di tangannya. "Ini mantel milik nii-san, nii-san pasti tidak akan marah kalau meminjamkan mantel pada orang yang sudah menolongnya. Pakailah!"
"Kalau begitu saya pinjam ini. Saya pamit, Sayu-chan."
"Ya. Hati-hati Ryuzaki-san!" Sayu tersenyum dan membukakan pintu untuk Ryuzaki.
-lightloveLlovelight-
Di bawah bayangan salju itu, Ryuzaki berjalan santai. Tadi dia tidak sempat meminta izin pada Watari jika dia akan mengantar Light pulang, akankah dia marah? Karena ini adalah pertama kalinya Ryuzaki berjalan sendirian tanpa ditemani Watari atau agen lainnya. Hanya seorang diri, berbaur dengan keramaian Tokyo. Tapi Ryuzaki hafal rute jalan menuju apartemen Beyond dari rumah Light, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Setidaknya sampai dia salah mengambil persimpangan.
Suasana pusat perbelanjaan itu sangat ramai. Ryuzaki 'duduk' di sebuah bangku di samping toko es krim(?) yang bisa-bisanya buka di tengah musim dingin bersuhu -2°C. Tanpa ketinggalan sebatang es cone cokelat bertengger di tangannya. Ryuzaki merasa lelah mencari jalan pulang, jadi dia putuskan beristirahat sembari menunggu Watari datang menjemputnya. Tapi karena Ryuzaki tak membawa uang sepeser pun (A/N: Percaya ga sih, sekaya apapun L, dia ga pernah pegang uangnya sendiri?), si penjual es krim menahannya untuk tetap tinggal di sana sampai orang yang dijanjikannya datang membayar kesemua es krim yang telah dilahapnya.
Kemudian seseorang menyapanya−tidak begitu menyapa, tapi akhirnya Ryuzaki menoleh juga ketika orang yang memanggilnya 'Beyond' itu menghampiri.
"Ah! Misa salah lagi, ternyata kau bukan Beyond, maaf ya.." Misa, gadis yang menyapanya dengan sebutan salah itu membungkukkan badan meminta maaf.
"Tidak masalah."
"Kau Ryuzaki kan?"
"Ya, Amane-san."
"Panggil aku Misa saja!"
"Akan saya usahakan, ...Amane-san."
Misa tersenyum kikuk, "Kalau begitu tidak usah dipaksakan!"
Ryuzaki kembali melanjutkan acara jilat-menjilat es krimnya.
"Apa Ryuzaki bertemu Light hari ini?"
"Kenapa?"
"Ah, tidak.. Misa sebenarnya ingin mengajak Light pergi berseluncur."
"Berseluncur?"
"Iya, menyenangkan bukan?" Misa menyodorkan sebuah brosur pada Ryuzaki. "Tadi Misa dapat itu saat keluar dari sebuah outlet, kurasa tidak buruk kalau mengajak Light kencan dengan Misa, iya kan?" Misa tersenyum dengan imutnya.
"Apa saya boleh ikut?"
"Eh?"
"Harga menyewa penginapan dan peralatan ski ini lumayan mahal, apa Amane-san bisa membayar semuanya?"
"I..itu.."
"Kalau saya ikut, mungkin saya bisa membantu Amane-san membayar 98%-nya."
"Eh?"
"Lagipula, ada hal yang ingin saya perbaiki."
"Perbaiki?"
"Hubungan Light-kun dan Beyond-san yang buruk."
"Memangnya ada apa dengan mereka?"
"Hari ini Light-kun dan Beyond-san berkelahi."
"Apa?"
"Karena itu, saya akan buat hubungan mereka kembali baik dengan mengajak mereka bermain seluncur."
"Tapi, kencan Misa akan terganggu!"
"Apa kau bisa membayar semua biaya itu, Amane-san?"
'Lagi-lagi kata itu! Memang kalau dipikir-pikir, aku tidak akan sanggup membayar semua.. tapi, mereka pasti akan mengganggu acara Misa dan Light kalau sampai ikut. Huh, daripada tidak sama sekali..'
"Amane-san?" Suara datar itu membuyarkan lamunan Misa.
"Ah, baiklah, kalian boleh ikut. Janji ya jangan ganggu Misa dan Light."
"Hm," Ryuzaki hanya berdehem penuh arti, kemudian memasukkan ujung corong es krim itu ke dalam mulut. Es krimnya yang kelima kini sudah habis.
"Tapi kau harus janji juga mau membayar 98% biayanya."
"Tidak masalah."
Tak lama, Watari datang dan membayar semua es krim Ryuzaki sebelum mengajaknya pulang.
"Hari Minggu, Amane-san." Ryuzaki berjalan mengikuti Watari di depannya, masih dengan cara jalan yang khas.
"Baiklah, sampai nanti!" Misa melambaikan tangan pada Ryuzaki.
o0o
|Tsuzuku|
o0o
A/N (2):
*Uwaah! Chapter dua nih.. bangganya! Gimana? Adakah perubahan yang readers rasakan?
Semakin seru? Semakin bosan? Atau semakin cinta?
Sebenarnya, di chapter ini intinya sih masih perkenalan, tapi biar keliatan panjang dijadiin 2 chapter gitu XD. Di chapter depan ada tantangan B untuk L, apakah itu? Hmm.. entahlah, bagian teka-teki sok misteri belum dimunculkan di fic ku, jadi ditunggu ya..
*Hoyaa! Saya belum ngejelasin, di fic ini ada Author yang namanya Namikaze dan Narator yang namanya Retatsu. Mereka punya dialog sendiri dan gunanya ya supaya mencairkan suasana, ngasih tambahan info, dan meramaikan fic-ku, penginnya sih gitu.. tapi mungkin jadinya malah nambah gaje.. x_x||| dan (A/N) bukan 'author note' tapi 'Author and Narator' (diubah seenaknya..).
Retatsu (Narator) + Namikaze (Author) = Retasu Namikaze = anak jenius = aku d∂_
#sigh abaikan.
A/N (3):
Hm, ini dia pesan terakhirku sebelum kalian close fic ini:
Gelar tiker
"ehem"
Ngangkat toa'
1.
2..
3...
"YA. DIREVIEW DIREVIEW DIREVIEW DIREVIEW DIREVIEW! KOMENTAR, KRITIK, PESAN, PUJIAN, PERTANYAAN!
AYO, REVIEW DIREVIEW DIREVIEW! SEKALI REVIEW SAYA SENANG. DUA KALI SAYA SAYANG. TIGA KALI SAYA CINTA. KEBANYAKAN SAYA BOSEN..."
"Eh, Narator ga beres! Review banyak juga ga papa kali.."
"OH, OKE BOS!" teriak masih pake toa'
'NGIING' Author budek sesaat
Satpol PP dateng.
3...
2..
1.
Author sama Narator ngacir.
"Jangan lupa reviewnya oke?"
Salam sobat dari Nami!
