Disclaimer
Naruto
Masashi kishimoto
.
.
.
.
.
Bus yang ditumpangi Sakura melaju dengan kecepatan sedang.
Sakura duduk dibagian belakang menyandarkan kepala pada kaca bus.
Tanggannya masih mengepal, ia menggigiti bibirnya menahan agar air matanya tidak meluncur.
Bayangan ketika Sasuke tersenyum pada Karin berkeliaran dikepalanya,
"Bahkan, kau tidak pernah tersenyum kepadaku Sasuke, " Batin Sakura.
Tes
Tes
Tes
Tidak kuat menahan lagi, setetes demi tetes air matanya meluncur melalui mata berwarna hijau teduhnya,
Sakura memegangi dadanya, hatinya bergemuruh.
Ia menangis dalam diam.
.
.
.
.
.
Drt... drt.. drt..
Getaran ponsel meja mengalihkan perhatian pemuda berambut merah bata Sasori,
"Tou-san..? " layar telepon menampilkan si
pemanggil dengan nama Tou-san tersebut, segera Sasori mengangkatnya.
"Moshi-moshi Otou-san, "
"Ah,.. kau dimana,? "
"Cafe, dekat Kampus.. ada apa? "
"Hari ini kakek pulang, bisakah kau menjemputnya di Bandara?, Ayah sedang ada meeting "
"Wakatta,.. " setelah mematikan ponsel Sasori bergegas keluar dari Cafe dan menjemput sang Kakek.
.
.
.
.
.
Ketika keluar dari Cafe, sesuatu jatuh dari saku celana Sasori ketika akan memasukan ponsel ke saku celana, Sasori tidak menyadarinya,
.
.
.
Seseorang mengambilnya yang ternyata adalah sebuah gelang.
Seseorang tersebut berteriak memanggil Sasori, tapi Sasori tidak mendengar.
.
.
.
.
"Tadaima,.. " Sakura tiba dirumah, kelelahan akibat panasnya cuaca ditambah suasana hatinya yang sedang gundah, dia menuju kamarnya.
.
.
.
.
.
"Kakek, ! Disini, " Sasori melambaikan tangannya kepada sosok pria tinggi berambut panjang berumur lebih dari setengah abad.
Hashirama Senju, Ayah dari Tsunade ini baru tiba dari Jerman, posisinya sebagai Presdir Senju Group mengharuskan ia menangani masalah cabang Perusahaannya yang berada di Jerman.
Bukan cuma di Jerman saja, cabang perusahaan Senju Grup juga menyebar di bagian benua Asia.
Pria itu menghampiri Sasori dan berjalan bersama keluar dari bandara.
"Kau rupanya yang menjemputku, dimana Ayahmu, "
"Ah, Tou-san sedang ada meeting dan kebetulan kuliahku kosong, jadi aku yang menjemput Kakek, bagaimana kabar Kakek, "
"Baik, seperti yang kau lihat, " mereka menaiki taksi dan menuju kediaman Haruno.
.
.
.
.
.
Malamnya,
Kediaman Haruno
"letakan makanan ini di meja makan, Sakura" Tsunade sang Ibu sibuk dengan masakannya dibantu dengan Sakura.
Sakura meletakan makanan yang dibawanya di meja dan duduk di sebelah Sasori.
"Eh, dimana gelangmu nii-san, tumben tidak memakainya,.. " Sakura memegang tangan Sasori yang biasanya terdapat gelang kini tidak ada, Sasori meliriknya.
"Ah, tertinggal dimeja kamar sepertinya, " Sasori menarik tangannya dan memegang tangan kirinya dia baru menyadari gelangnya tidak ada kalau Sakura tidak bertanya,
Sasori mengingat ingat dimana terakhir kali dia memakai gelangnya namun suara sang Ibu menghentikan ingatannya.
"Minna sebaiknya kita makan sekarang, " Tsunade datang membawa air dalam teko meletakkannya di meja makan dan duduk disebelah suaminya Dan, sementara sang Kakek duduk di ujung.
"Ha'i ittadakimasu.. "
.
.
.
.
.
"Urusan perusahaan Ayah di Jerman sudah selesai,? " Dan bersama sang Ayah mertua bersantai diruang Tv, sekedar bercakap-cakap.
"Hm, walaupun dengan perdebatan yang sangat alot, bagaimana perkembangan perusahaanmu, kudengar perusahanmu bahkan sebanding dengan Inuzuka Grup? " Hashirama melipat tangannya dan menatap Dan.
"Begitulah, Ayah perusahaan kami sedang dalam tahap perkembangan, " Dan tersenyum menatap sang Ayah.
"Aku bangga padamu, tidak kusangka perusahaan yang diperkirakan akan hancur tidak bisa diselamatkan, ternyata bisa berdiri lagi dengan otak cerdasmu, " Hashirama menepuk pundak sang menantu.
"Terima kasih, Ayah "
"Suamiku hebat kan Ayah, aku tidak salah pilih kan, " Tsunade datang membawa teh untuk 2 orang tersayangnya duduk disebelah sang suami dan merangkulnya dengan mesra.
"Ah, kau ini aku masih kecewa padamu kenapa kau tidak mau bergabung di Perusahaan, " Hashirama menatap putrinya.
"Sudah kubilang aku tidak suka mengurusi dokumen perusahaan, " tsunade melipat tangannya cemberut.
"Hahaha, dasar! Kau satu-satunya putriku yg menentang kehendakku, tapi aku juga bangga padamu bahwa kau bisa berdiri sendiri tanpa bantuanku, " yaa Tsunade adalah satu-satunya yang tidak mau bergabung diperusahaan Ayahnya, menurutnya dia tidak tertarik sama sekali dengan dunia Bisnis.
Tsunade hanya berfikir ia ingin mewujudkan cita-citanya sebagai seorang dokter dan terbukti Tsunade sudah menjadi dokter dan mempunyai 1 rumah sakit miliknya tempatnya bekerja.
Mereka bertiga mengobrol hingga larut dan memutuskan untuk beristirahat.
.
.
.
.
Esoknya,
"Kakek sudah mau pulang,? " Sakura menghampiri Kakeknya yang sedang berdiri disamping mobil Ayahnya, berbincang bersama Sasori.
"Yaa, masih banyak urusan yang belum kakek selesaikan, " Hashirama tersenyum dan membelai kepala Sakura.
"Semuanya sudah siap, ayo kita berangkat? " Dan datang bersama Tsunade di belakangnya.
Dan duduk di depan kemudi, Sasori di sebelahnya, sedangkan Hashirama di belakang bersama Sakura.
"loh, Kaa-san tidak ikut,? " Sakura bertanya kepada Ibunya yang masih berdiri.
"Kaa-san berangkat siang, kalian berangkatlah, "
"Ha'i ittekimasu.. "
"Itterasai" Tsunade melambaikan tangannya.
.
.
.
"Sudah sampai,.. " Sakura berseru sambil mencangklongkan tasnya dan membuka pintu mobil. Hashirama menurunkan kaca mobil dan melihat gedung sekolah Sakura.
"Ini sekolahmu,? "
"Ah, iya kakek, Yasudah Saku berangkat Kakek, Ayah, dan baka Nii-san. " Sakura melirik Kakaknya.
"Dasar! Itu tidak sopan seenaknya berkata aku bodoh, " Sasori menatap tajam Sakura.
Sakura yang ditatap tajam oleh Sasori hanya memeletkan lidahnya dan masuk ke dalam gedung sekolah seraya melambaikan tangannya.
000
Sakura masih melambaikan tangannya sambil berjalan mundur pada mobil yang dinaiki Ayah, Kakek, dan Kakaknya sampai mobil itu berbelok, ketika membalikan badan Sakura tidak sengaja menabrak orang hingga buku yang dibawa orang tersebut jatuh.
Bruk
"Ah, gommenasai, " Sakura segera membantu membereskan buku yang terjatuh dan memberikannya pada orang tersebut.
"Sasuke-kun?, " Sakura menyadari siapa yang ia tabrak, jantungnya berdetak tidak karuan,
Ia memandang Sasuke yang masih membersihkan buku yang terkena tanah akibat terjatuh,
Sakura sadar dan langsung memberikan buku itu pada Sasuke dan membungkuk minta maaf pada Sasuke,
"Sasuke-kun, gommenasai.. aku tidak sengaja, " Sakura menundukan kepalanya.
"Hn, tidak apa-apa. " Sasuke menatapnya dengan datar mengambil buku yang diserahkan Sakura dan berlalu pergi.
"Haaah.. " Sakura menghela nafas dan berjalan masuk ke kelasnya.
"Selalu seperti itu, kenapa kau selalu memperlihatkan muka datarmu, dan bicara sedikit padaku, apa kau membenciku Sasuke,? " Sakura berjalan sambil merenung.
"Sakura-chan. " Hinata datang dan berjalan di samping Sakura.
"Eh, Hinata-chan. "
"Ta-tadi a-aku melihatmu di-diantar oleh Dan Jii-san, da-dan si-siapa o-orang yang du-duduk di-dibelakang A-Ayahmu,? "
"Oh, Kakekku, semalam Kakek menginap dan paginya langsung pergi lagi, katanya masih ada urusan, " Sakura tersenyum kepada Hinata, untunglah ada Hinata sehingga ia bisa mengalihka pikirannya dari Sasuke batinnya.
Mereka berdua mengobrol sampai tiba dikelas.
.
.
.
.
Seorang pemuda berambut pirang jabrik berlari tergesa-gesa di lorong kelas takut terlambat.
"Ah, kuso!... kenapa alarm tidak berbunyi, " ia mengutuk alarmnya.
Sreet,.. cklek,
"Haaa, untung saja Ibiki-sensei belum datang, " menghela nafas Naruto memasuki kelasnya dan duduk di bangkunya bersama sahabatnya yang telah datang lebih dulu, Sasuke duduk dengan tenang membaca buku.
"Ohayou, Sasuke-teme,.. " Suara cempreng Naruto membuat penghuni kelas x1A menatap kearahnya.
"Ckk, suara bodohmu itu membuat telingaku sakit, " Sasuke mencibir.
"Hehehe, gomen minna-san. " Naruto membungkuk kecil pada penghuni kelas yang menatapnya.
"Ha'i, minna-san mohon perhatiannya, " Sang ketua kelas X1A Kankurou memasuki kelas membawa secarik kertas.
"Hm, hari ini Ibiki-sensei tidak bisa masuk karena sedang sakit, dan beliau memberikan tugas untuk kita, buka buku IPA halaman 171 soal yang A dan B, harap kalian jangan berisik, sekian, " Kankurou meletakkan kertas tugas tadi dimeja guru dan dia duduk dibangkunya,
"Woahh, kelas kita kosong.! " sorak Naruto dan teman lainnya.
Bletak!
"NARUTO! Bukankah aku sudah bilang jangan berisik! Kerjakan tugasmu, " Kankurou menjitak naruto,
"Iya-iya, aku mengerti tidak usah menjitak dong ketua, " Naruto meringis memegangi kepalanya.
"Hn, urusatonkachi. " Sasuke mengejek teman sebangkunya dan mulai mengerjakan tugas.
"APA! Dasar Teme!, " Naruto yang kesal tidak ditanggapi Sasuke,
Ia pun akhirnya menyerah dan mengerjakan tugas.
\^.^/
"Mm, oiya.. Teme., "
"Hn"
"Apa, gosip itu benar?, " tanya Naruto dengan hati-hati.
"Gosip apa?, " sahut Sasuke yang masih belum berpaling dari bukunya.
"Ngg.. tentang... hubunganmu dengan... Karin. " jawab Naruto pelan, Sasuke menghentikan acara menulisnya dan menatap Naruto.
"Kau sudah seperti perempuan saja bergosip, " Sasuke melanjutkan menulisnya dengan tenang walau agak tersentak ketika Naruto menyebut tentang Karin.
"Sasuke, aku serius, "
"Bukan urusanmu, "
"Bagaimana dengan Sakura?, " Tantang Naruto yang kini mulai serius.
"Sakura?, Kenapa dengan Sakura, " Sasuke sempat menghentikan menulisnya dan melanjutkannya lagi..
"Sakura menyukaimu Sasuke!, Kau tau kan, " Naruto terpancing emosi.
"Kenapa kau jadi membicarakannya, " Sasuke benar-benar menghentikan menulis-nya dan memandang Naruto.
"Bagaimana kalau Sakura-chan melihatmu berjalan dengn Karin. "
"Itu bukan urusanku, mau aku berjalan dengan siapapun itu bukan urusannmu!, jangan mencampuri urusanku, "
"Sasuke!," Naruto emosi karena Sasuke terkesan tidak peduli dengan Sakura, Naruto menarik kerah baju Sasuke.
"Hei, kalian.. Jangan berisik. " teguran sang ketua kelas membuat Naruto melepaskan cengkramannya pada Sasuke.
.
.
.
.
.
Jam istirahat pun berbunyi, semua siswa/siswi berhamburan mengisi perut mereka yang belum diisi, ada pula yang didalam kelas ataupun mengobrol bersama teman.
"Yo! Ayo ke kantin, " tenten datang bersama Hinata menuju tempat SakuIno.
"Hmm, ayo Jidat.., "
"Kalian duluan saja, aku harus menemui Kakashi-sensei, "
"Oh, baiklah nanti kau menyusul yaa.. " Ino beranjak menyusul Tenten dan Hinata yang sudah jalan dahulu dan Sakura hanya menganggukan kepalanya dan menemui Kakashi.
\^0^/
Sakura berada di perpustakaan sekolah KHS bersama Kakashi.
"Nah, Sakura aku minta bantuanmu untuk mengoreksi nilai matematika kelas X1A, aku ada rapat ke Suna bersama kepala sekolah, " ujar Kakashi dengan mata yang disipitkan akibat tersenyum, sayang senyuman itu ditutupi oleh masker yang selalu dipakainya.
"Hmm, aku mengerti. " sebagai seorang murid teladan Sakura melaksanakan perintah gurunya. ia menganggukan kepalanya.
"Arigatou na, " Kakashi mengusap rambut Sakura dan berjalan keluar perpustakaan.
\^.^/
Sakura meraih pulpen dan mulai mengoreksi Nilai matematika kls X1A, dengan suasana tenang dan sunyi hanya terdapat siswa/siswi yang sedang membaca dan penjaga perpus.
\^0^/
Seorang pemuda duduk di sebelahnya dan duduk tenang membaca buku,
Sakura hanya meliriknya sekilas dan melanjutkan mengoreksi lagi.
"Tugas dari Kakashi-sensei yah, " gumam pemuda disebelahnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang dibacanya,
Sakura menghentikan kegiatannya dan menoleh ke samping mengerutkan alis,
"Kau bertanya padaku?, " Tanya Sakura pada pemuda di sebelahnya yang kini meletakkan buku di meja dan menatap Sakura.
"Hn, kau serius sekali. " Pemuda tersebut melipat tangannya di meja dan melanjutkan membaca.
Sakura sempat terpana oleh pemuda di sampingnya, rambut berwarna merah mirip seperti Kakaknya, kulit putih, tinggi, terdapat tato Ai didahinya, namun hanya sebentar dan tertawa kecil.
"Ah, haha benarkah?, aku sedang mengoreksi nilai matematika.
Ng.. kau..?,..," Sakura memandang pemuda di sampingnya.
"Gaara. " Pemuda disampingnya tersenyum simpul dan menatap Sakura.
"Ah, Sabaku Gaara, adik dari Temari-senpai kan, salam kenal aku,- " Sakura mengulurkan tangannya pada pemuda disampingnya.
"Sakura, Haruno Sakura. " Ucapan Sakura dipotong Gaara dan membalas uluran tangan Sakura.
"Eh.. Kau tau namaku?, " tanya Sakura dengan bingung.
"Aku sering melihatmu di sini,. " Gaara menutup bukunya dan fokus menatap Sakura.
Mempehatikan kertas yang ada di meja Sakura.
"Benarkah,.."
"Hn, biar ku bantu. " Gaara mengambil kertas dan membantu Sakura mengoreksi.
"Ah, tidak usah Sabaku-san,.. aku.. aku.. "
"Gaara,... panggil aku Gaara saja, tidak apa-apa biar kubantu, " Gaara bersikeras membantu Sakura.
Sakura akhirnya mengalah, dan mereka menyelesaikannya bersama..
.
.
.
.
.
"Hinata,. " Pemuda dengan warna mata perak, berambut coklat panjang diikat dibagian bawah menghampiri Hinata, sepupunya.
"Neji-nii.. " Hinata menoleh,
"Senpai,.. " Ino menyapa, Tenten hanya tersenyum kemudian menundukan kepala.
Saat ini mereka sedang berada di kantin sekolah.
Neji menganggukan kepala ke Ino dan Tenten.
"Gomen, aku ketiduran sampai lupa mengembalikan bukumu ke rumah. " Neji memberikan buku bersampul coklat kepada Hinata.
"Hmm,.. Ti-tidak a-apa-a-apa ka-kalau Neji-nii ma-masih me-membutuhkan bi-bisa me-meminjam la-lagi pa-padaku. "
"Arigatou, ini sangat membantu..aku pergi "
"hmm,.."
"Ah-,iya nanti kau pulang duluan saja, aku ada latihan sore ini,..
Dan... Kau, sore ini club kita kumpul. " matanya melirik Tenten yang duduk di sebelah Ino, menundukan kepala.
"Ah, i-iya Senpai, " Mendadak gugup Tenten langsung menegakkan badan dan memandang Neji. Neji menganggukkan kepalanya dan beranjak pergi.
"Tenten-chan mukamu merah, kau sakit.? " Hinata yang duduk di depannya memandang khawatir Tenten.
"Eh,.. Ti-tidak ko' Hinata.. " Tenten mengalihkan pandangan,.
Ino di sebelahnya memperhatikan.
Dan Ino tau kenapa muka Tenten dihiasi warna merah.
"Are,.. Aah, sepertinya aku tau kenapa muka Tenten merah, pasti ada hubungannya dengan Neji-senpai kan,? " Ino mendekat ke arah Tenten menyeringai.
"Eh, Neji-nii,.. " Hinata memandang Ino dan Tenten bingung.
"A-apa? Siapa bilang aku menyukai Neji-senpai, " Tenten mengalihkan pandangannya dari Ino.
"Apa tadi aku mengatakan kau menyukai Neji-senpai? " Ino berkata dengan polos memiringkan kepalanya.
"Hahaha...,ketahuan kan kau,Tenten.., lihat Hinata, muka Tenten lucu sekali. " Ino tertawa memegangi perutnya.
"Kau! " Tenten menatap tajam Ino dan bersiap menyerang Ino, tapi tangan Hinata menahannya.
"Tenten-chan, su-sudah. Ino-chan ja-jangan me-membuat Te-Tenten-chan ma-marah, "
"Hinata, aku tidak membuatnya marah, tapi menggodanya, dia sendiri yang bilang menyukai Neji-senpai, " Ino mengedipkan matanya ke Tenten.
"A-aku ju-juga se-senang ji-jika Te-Tenten-chan me-meyukai Ne-Neji-nii, " Hinata menggenggam tangan Tenten.
"Huh, " Tenten mendengus, meraih gelas berisi jus jeruk dan meminumnya.
Menghentikan tawanya, dan berdehem Ino memandang Tenten.
"Tidak ada salahnya ko' meyukai seseorang, Sah-sah saja, tidak usah malu seperti itu Tenten, kau beruntung orang yang kau sukai masih bisa tersenyum padamu, memanggilmu, dan berbicara denganmu, " Ino tersenyum lembut.
"Sementara jauh disana ada seorang gadis menyukai seorang pemuda, tapi sayang si' pemuda tidak pernah memandangnya, tidak tersenyum padanya, tidak menyadari keberadaannya, " Ino memandang kursi kosong di sebelah Hinata.
Tenten dan Hinata memandang Ino dengan diam, entah apa yang sedang mereka pikirkan masing-masing.
.
.
.
.
.
"Sasuke,. " Naruto menghampiri Sasuke di lapangan basket sedang berlari mendribble bola basket sendirian.
Sasuke menghentikan larinya dan menangkap air minum botol yang Naruto lempar.
\^0^/
"Masalah tadi pagi, aku minta maaf, Tapi aku bingung, kenapa kau melakukan ini, maksudku Sakura-chan menyukaimu kan, kenapa kau malah mendekati Karin, "
Sasuke melirik Naruto sekilas, meminum botol air hingga botol air yang diminumnya tinggal setengah, Sasuke meletakkan botol air di samping kakinya dan lanjut mendribble bola di tempat.
" Aku bahkan tidak pernah melihatmu bersama Sakura-chan, mengobrol ataupun jalan-jalan. " Naruto masih mengajak Sasuke berbicara, tapi Sasuke mengacuhkannya.
Tatapan Sasuke mengarah pada ring bola basket, melemparkan bola basket ke arah ring.
Blasss
Bola dengan sukses masuk ke dalam ring, dan memantul di lantai,
Sasuke mengambilnya dan mendribble kembali di tempat.
Naruto memperhatikan,
"Apa terjadi sesuatu pada hubungan kalian, yang tidak aku ketahui? "
Sasuke melirik Naruto, masih mendribble..
" Kau berbicara seolah dia kekasihku, dan aku ketahuan selingkuh. " Sasuke melemparkan bola basket ke ring, dan lagi-lagi masuk.
Sasuke mengambil bola basket dan memegangnya, berjalan ke arah Naruto.
"Tapi- "
"Dengar yaa Dobe, aku tidak punya masalah dengan Sakura. sebenarnya siapa di sini yang menyukai Sakura? Kau kan? Kau yang terang-terangan menyukai Sakura, tapi apa yang kau lakukan? Kau bahkan tidak melakukan apa-apa." Sasuke menatap tajam Naruto yang memandangnya dengan serius.
"Sakura-chan tidak menyukaiku, dia menyukaimu.." Naruto menundukkan kepalanya.
"Tapi aku tidak menyukainya! Kau puas..! " Sasuke geram, membanting bola basket dan pergi meninggalkan Naruto.
Naruto hanya memandang kepergian Sasuke.
"Tidak menyukainya? "
0000
tbc
Aaaaa,... Gomen, (^/ \^) saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, melihat chapter kemarin yang ancur, masya Allah.. :(
jadi tu gini, sebelumnya sudah saya edit dan sudah saya koreksi, tapi entah kenapa pas di publish ko' jadi kaya gituu...
Banyak kata yang ilang, sempet kena internet positif juga, ketika akan mengirim documen Error mulu, :( ada aja halangannya :'(
Dan buat Eysha CherryBlossom & Kimura Megumi : terima kasih masukkannya, Buat Hayashi Hana-chan : terima kasih sudah mau mampir. Insya Allah bakal saya perbaiki..
Sekali lagi saya minta maaf, (^/ \^)
By : JJ cassei
