Truth or Dare?

Warning: OOC, typo(maybe), SasuHina, first fic, hancur, etc.

Disclaimer: Kishimoto-sensei

Pair: SasuHina, NaruSaku

Rated: T

.

.

.

.

.

Dilihatnya pesan itu oleh Sakura. Ia pun baru tersadar jika ia juga mengirim pesan kepada sahabatnya, Hinata.

From: Hinata-chan

Text: Kau kejam Saku-chan. Aku ditinggal sendirian. Apa katamu? Kemajuan dari mana? Aku saja langsung kabur ketika ada taksi lewat.

Sakura terkikik geli membaca pesan yang di kirim sahabatnya itu. Ia pun mengetik balasan pesan itu dengan cepat.

To: Hinata-chan

Text: hehe, gomen Hinata-chan. Kau payah, masa langsung kabur? Pasti ini karena dari kecil kau tak pernah mendekati seorang cowok pun :p atau jangan-jangan kau y*ri dan menyukaiku? XP

Sakura mengecek kembali pesannya sebelum mengirimnya ke Hinata. Ia terkikik sendiri membacanya, lalu ia mengirimnya.

Drt... Drt... Drt...

Sakura melirik lagi ke arah ponselnya.

1 New Message

Unknown Number

Dibukanya pesan itu oleh Sakura.

From: Unknown Number, 08XXXXXXXXX

Text: Aku akan mendekatkanmu dengan Naruto.

Mulut Sakura menganga tak percaya atas tawaran yang sangat menggiurkan itu. Wow, sungguh, rasanya ia ingin melompat-lompat saat ini. Dengan segera ia membalas pesan itu.

To: Unknown Number, 08XXXXXXXXX

Text: Ku jamin berhasil. Arigatou Sasuke-senpai.

Sungguh, saat ini Sakura sangat bahagia. Jika rencananya berhasil, ia akan mendapatkan keuntungan berlipat! Tentu saja keuntungan itu bukan hanya untuknya saja, tetapi kepada semua yang terlibat.

Drt... Drt... Drt...

Tanpa melihat siapa yang mengiriminya pesan, langsung saja ia membuka pesan itu.

From: Hinata-chan

Text: Apa? Jadi kau menganggapku y*ri? Enak saja! Aku masih normal dan menyukai lelaki tahu! Lagi pula, aku pernah kok mendekati pria, jadi jangan sok tau XP

Sakura kembali mengembangkan senyumnya. Walau kata-kata yang dipakai Hinata terkesan marah, tetapi ia mengetahui Hinata tidak mungkin secepat itu marah padanya. Merasa mengantuk, ia pun menguap dan melirik ke arah jam Hello Kitty yang terletak di atas meja belajarnya. Padahal jam baru menunjukkan pukul 8 malam, tetapi ia heran, mengapa ia sudah mengantuk? Dengan cepat ia membalas pesan Hinata.

To: Hinata-chan

Teks: Terserah.. Tapi aku tidak percaya loh! XP oyasumi, aku ngantuk nih..

Dengan ini berakhirlah percakapan antara Sakura dan Hinata.

.

.

.

Derap langkahnya terdengar dikarenakan sepinya koridor sekolah yang dilewatinya. Ia melihat ke sekelilingnya dan menghela nafas pelan. 'Pasti Sakura-chan belum datang.', pikirnya. Ketika sampai di depan pintu kelas, Hinata membuka sedikit pintu kelasnya, dan ia lumayan terkejut melihat seseorang yang ada di dalamnya.

"Hinata-chan.. Aku rindu padamu. Apakah kau tak merindukan seorang Hidan yang tampan ini?"

Glek! Hinata menelan ludahnya sendiri mendengar suara itu. Suara yang terkesan di buat-buat seksi akan tetapi malah menghasilkan suara yang menjijikan bagi Hinata. Apalagi melihat gayanya menopang dagunya dengan tangan sebelah kanannya dan wajah yang dibuat imut, membuat Hinata bergidik ketakutan. Tanpa berkata apapun, Hinata langsung berlari meninggalkan kelasnya. Sekarang ia mengakui bahwa ia sangat anti terhadap lelaki itu, Hidan.

Berlari bukan hal yang menyenangkan bagi Hinata. Apalagi ia sangat lemah dalam pelajaran olahraga dan yang lebih penting ia tak tau harus kemana sekarang.

"Hosh, hosh, hosh..." nafas Hinata memburu. Dilihatnya kebelakang, oh tuhan! Ternyata Hidan mengejarnya bak banteng yang sedang mengejar kain berwarna merah. Terlihat dari matanya yang melotot dan hidungnya yang kembang kempis membuat Hinata segera tancap gas tak peduli walau nafasnya masih terengah-engah. Koridor yang lumayan sepi juga membuat jejak Hinata mudah di kejar. Satu ide terlintas di otak Hinata. Mengapa ia tak ke atap sekolah saja? Tempat yang dapat dipastikan aman. Dengan sekuat tenaga Hinata berlari menuju atap sekolah.

Sret! Decit pintu terdengar ketika Hinata menggeser pintu atap sekolah. Tanpa melihat di dalam, Hinata langsung masuk dan menutup pintu sekaligus menguncinya karena ia pikir tak akan ada yang berada di atap sekolah se pagi ini.

"Hosh, untung selamat." ucap Hinata dengan mata tertutup disertai nafas yang terengah. Ia pun membuka matanya dan kembali dikejutkan dengan pemandangan di depannya.

"A-apa yang k-kau la-lakukan S-Saku-chan?" tanya Hinata dengan dahi mengernyit heran. Dua lelaki satu perempuan, membuat Hinata berpikir macam-macam. Apalagi dengan posisi duduk Sakura yang sangat dengat dengan dua lelaki itu. Dan ketika Hinata perhatikan, ternyata lelaki itu adalah Naruto-senpai dan Sasuke-senpai. Kali ini Hinata kembali menelan ludahnya karena tatapan yang diberikan Sasuke-senpai kepadanya.

"Harusnya aku yang bertanya padamu Hinata-chan. Kenapa kau terlihat seperti habis di kejar malaikat maut? Lihat dirimu, rambutmu acak-acakan dengan keringat yang tak berhenti mengalir, dan lagi..." belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya, Hinata sudah memotongnya duluan.

"A-aku habis di ke-kejar Hidan." sekarang ekspresi mereka terlihat menahan tawa. Oh, lebih tepatnya hanya Sakura dan Naruto yang menahan tawa.

"Hahaha..." tawa menggema di atap sekolah membuat ekspresi cemberut terpasang di wajah Hinata. Sedangkan Sasuke? Oh! Dia hanya tersenyum, sangat tipis memang, tetapi masih dapat di lihat oleh Hinata.

'Tampan.' tanpa sadar Hinata mengatakan kata itu di dalam hatinya ketika ia melihat senyum tipis Sasuke. Sangat berbeda dari wajah sangar Sasuke yang biasanya dilihat Hinata. Dengan segera Hinata menggelengkan kepalanya.

"Huh! Apa yang lucu?" tanya Hinata sebal.

"Hihi, aku hanya membayangkan bagaimana raut wajah Hidan saat mengejarmu, pasti sangat kocak." ucap Sakura. Sedangkan yang lain masih diam. Kembali, suara Sakura memecah keheningan.

"Ehm, ayo duduk di sini Hinata-chan." ucap Sakura menepuk tempat di sebelahnya dan Hinata langsung menurutinya.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini Saku-chan?"

Tiba-tiba wajah Sakura berubah memerah. Melihat Sakura blushing, membuat Hinata bingung.

"A-ah. Kau bisa ta-tanya pada Na-Naruto-kun." dahi Hinata mengernyit. Naruto-kun? Sejak kapan Sakura memanggilnya seperti itu?

"Ah, Hinata-chan. Kenalkan, namaku Naruto, kau bisa memanggilku Naruto-senpai. Jadi, tadi aku... argh, bagaimana aku menjelaskannya yah. Intinya, hari ini aku dan Sakura jadian. Sebenarnya pun aku sudah menyukai Sakura sejak lama." kali ini Naruto yang mengambil alih bicara. Kali ini Hinata tak bisa menahan senyumnya.

"Ah, se-selamat ya Sakura-chan, Naruto-senpai." ucap Hinata ikut berbahagia.

"Iya Hinata-chan. Wah, kalau kuperhatikan kita berempat terlihat seperti pasangan yah. Aku dengan Naruto-kun dan Hinata-chan dengan Sasuke-senpai. Wah, cocok sekali." ucap Sakura sambil mengerling jahil kearah Hinata. Sungguh, menurut Hinata ini adalah saat-saat memalukan baginya. Dengan wajah memerah, Hinata berkata.

"Sa-sakura-chan! Jangan me-mengada-ada!"

Sakura kini tak dapat lagi menahan senyum lima jarinya. Ia sangat senang dapat menggoda sahabatnya, Hinata.

"Hinata, wajahmu lucu sekali." ucap Sakura gemas dengan wajah Hinata yang sudah berubah merah. Apalagi saat ini Hinata memasang wajah cemberut, sungguh menggemaskan. Tanpa Hinata sadari, seorang lelaki sedang meliriknya melalui ekor matanya sambil tersenyum tipis.

.

.

.

Kring! Kring! Kring!

Suara itu menggema di seluruh bagian sekolah menyebabkan para siswa maupun siswi bersorak gembira. Ada yang segera berjalan ke kantin, ada yang mencari tempat lain untuk memakan bento yang di bawanya dari rumah. Sedangkan Hinata dan Sakura, mereka masih berada di dalam kelasnya yang sudah sepi itu.

"Hey Hinata-chan. Kau tak boleh lupa ya untuk menelpon Sasuke-senpai." ujar gadis bersurai merah muda sambil memegang bento bergambar Hello Kitty miliknya.

"Iya Saku-chan. Sudah berapa kali kau mengingatkanku? Aku bosan mendengarnya." ujar Hinata mulai membuka kotak bentonya dan terlihatlah empat potongan sushi yang kelihatan sangat lezat.

"Hehe, nanti kau lupa Hinata-chan."

Mereka berdua makan bersama dalam diam. Tak seperti biasanya, acara makan mereka yang selalu di iringi obrolan dan canda tawa. Sakura berfikir jika rencananya ini membuat Hinata susah. Akhirnya ia merasa kasihan kepada sahabatnya ini.

"Hinata-chan..." ucap Sakura dengan nada serius.

"Hm?" balas Hinata tanpa mengalihkan perhatiannya pada kotak bento miliknya.

"Ingat selalu kalimatku ini." kalimat Sakura barusan membuat dahi Hinata berkerut. Ia bingung, ada apa gerangan yang membuat Sakura menjadi serius.

"Maksudmu?" akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut mungil Hinata.

"Bersabarlah dan kau akan mendapatkan yang terbaik." ujar Sakura sambil menepuk bahu Hinata. Sedangkan Hinata semakin bingung. Bersabar? Memangnya Hinata terkena musibah?

"Aaa, aku tak mengerti maksudmu Sakura-chan." ujar Hinata kali ini menatap Sakura.

"Nanti kau akan mengerti." balas Sakura sambil tersenyum. Sedangkan Hinata masih dilanda kebingungan.

.

.

.

"Moshi-moshi?" suara yang hanya di dengar Hinata itu membuyarkan lamunan Hinata.

"Err, Saku-chan... A-aku... Apa kau yakin aku harus menelponnya?"

Suara di seberang sana menggema.

"Tentu Hinata-chan."

"Sebenarnya rahasia seperti apa yang harus kutanyakan? Tak mungkin kan seseorang hanya mempunyai satu rahasia?"

"Ah iya! Jadi Hinata-chan, ia pernah bilang ke banyak orang rahasia ke jeniusannya. Ia bilang rahasianya adalah rajin belajar..." belum sempat menyelesaikan perkataannya, Hinata sudah memotong kalimatnya.

"Tentu saja rajin belajar. Aku pun mengetahuinya Saku-chan."

"Jangan memotong kalimatku Hinata-chan. Jadi, ia menambahkan jika tak mungkin ia belajar tekun tanpa ada yang memotivasi dirinya. Ia bilang yang memotivasinya adalah seorang gadis cantik di sekolah kita."

"Oh, jadi aku harus mengetahui siapa gadis yang memotivasinya?" tanya Hinata.

"Yap! Lebih tepatnya orang yang disukainya!"

Deg! Tiba-tiba Hinata merasa lidahnya kelu. Orang yang di sukainya, ya, kalimat itu yang membuat matanya membola dan tubuhnya mematung.

"Ah, sudah dulu Hinata-chan. Jaa!"

Tut... Tut... Tut...

Sambungan itu terputus. Sedangkan Hinata baru dapat mencerna kalimat itu di otaknya.

'Kenapa rasanya sakit sekali?' tanyanya dalam hati. Ia pun menggelengkan kepalanya dan mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Berhasil! Ternyata metode untuk menenangkan diri yang diajarkan Sakura manjur terhadapnya. Sekarang tinggal mengetik nama di kontak ponselnya dan menyentuh kata 'call', mudah bukan?

Oh, ternyata hal itu hal yang sulit bagi Hinata. Ia yang sudah lihai mengetik di ponselnya menjadi kaku dan berakibat ia salah mengetik nama orang itu. Setelah berhasil, ia menyentuh tulisan 'call' di layar ponsel pintarnya.

Calling Sasuke-senpai...

Deg! Deg! Deg! Jantung Hinata berpacu dengan kencang ketika menunggu jawaban dari orang yang di telponnya. Mengapa menelpon seseorang harus sama gugupnya dengan berada sendiri di dalam ruangan gelap?

"Moshi-moshi?"

.

.

.

To Be Continued

Author Note: Hai! Ketemu lagi bareng tomo-chan! Kok semakin lama menulis fic ini tomo-chan merasa fic ini makin gaje ya? Maaf ya, maaf kalau hancur, pendek, dan mengecewakan. Tomo pun merasakan hal itu, dan tomo udah berusaha untuk memperbaikinya berulang ulang. Tapi, hasilnya tetep sama. Maaf ya kepada semua reader, maaf banget. Kali ini kalian boleh marahin tomo atau flame tomo, bakal tomo terima karena fic yang mengecewakan ini. Oh iya, maaf juga ya kepada rosalialuce yang minta humor, disini udah aku tambahin tapi hasilnya malah jelek banget, maaf ya.. Makasih untuk yang RnR di chap sebelumnya, jujur, aku gak nyangka bakal sebanyak itu, makasih ya! Maaf kalau ada yang gak di bales, tapi kubaca semua kok review kalian.. Maaf ya..

Review please?