Author's Note :
Terima kasih untuk delapan Reviewerku tercintaaah :3
Mian baru update *bow*
Pair : Roronoa Zoro x Sanji.
Genre : Boys-Love, Romance, Don't LIKE, Don't READ!
Disclaimer : ONE PIECE – Eichiiro Oda.
Summary :
"When love came true for a little boy who want to protect his master. The lost way to love someone coz he is boy. Roronoa Zoro want you, Sanji…"
"Garis turun temurun yang telah di terima untuk clan pelindung sama halnya dengan clan Roronoa. Dimana seorang Zoro harus di tugaskan melindungi anak bungsu dari Baratie."
MY FORTUNE
2
"Tsk." Zoro mendecak kesal sambil menggigit siku ibu jari tangan kanannya. Tak berapa lama, ia mulai mondar-mandir dari tempatnya terdiam dengan gundah itu. Terlihat jelas ia nampak menggelisahkan sesuatu, ah! Zoro masih teringat tentang peristiwa yang ia tak mau percayakan sama sekali seumur hidup tadi malam. 'Master Dofla dengan senior Croco?! Tidak-tidak-tidak! Aku mungkin salah lihat.'
Begitu seriusnya ia memikirkan hal yang begitu aneh baginya, ia sampai menabrak Sanji yang baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di belakang tempat Zoro sedari tadi berdiam diri dan sekarang mulai mondar-mandir.
"Ah! Dasar Marimo bodoh!" kesal Sanji sambil jatuh terduduk dihadapan Zoro. Aneh, selalu saja dia yang terlihat lemah. Jelas-jelas Zoro yang tak melihatnya, tapi justru dia yang terjatuh. 'Hiks, demi putri duyung di All Blue, kenapa Neptune memberikan badanku yang kecil begini~~'
"Maafkan aku master." Dengan Cool, Zoro berputar kearah belakang Sanji dan melingkarkan kedua tangannya dari sela-sela ketiak Sanji untuk membantu Masternya itu berdiri. Nampak seketika terlihat semburat merah dipipi Sanji. Ia sebenarnya merasa terganggu dengan keadaan ini. Untuk apa harus punya pelindung?! Meski ia sadar, kekuatannya untuk menjaga diri dari para pengincar bangsawan begitu berbanding jauh di bawah Zoro.
Dengan wajah Zoro yang selalu tak berekspresi, membuat Sanji merasa kesal dan malu sendiri, bahkan ia mengakui, wajah datar itu terlihat jauh lebih keren daripadanya. Sanji bahkan sempat ingin memujanya.
"Bhhff—" Sanji tersadar ketika wajah cool itu berubah menjadi wajah yang tengah menahan tawa. Pandangan kagum Sanjipun berubah menjadi cengok. "BUAHAAHAHA." Tawa Zoro meledak saat itu juga.
"He-Hei! Kau menertawakan apa, Marimo?!"
"Itu. Itu, alis, hahaha." Tampaknya Zoro asik benar menertawakan tuannya.
"Alis apa, bodoh!?" Kini Sanji mulai memukul-mukul pria berbadan kotak itu.
"Alis, alis tuan tetap—bfft—alis, hahaha. Meski mandi alismu master, tetap, keriting, haha."
"Ugght! Dasar kepala rumput berotak otot, tukang nyasar yang amat menyebalkan!" Umpat Sanji semena-mena namun Zoro masih tetap tertawa.
Sanji mulai berontak dan mulai asik mencaci Zoro sampai Zoro tertawa terbaring di lantai dan Sanji tanpa sadar menjatuhkan handuk di kepalanya hingga ia hanya mengenakan sehelai celana seperempat di tubuhnya saat ini. Tanpa sadar, Sanji yang menggelitik, mencubit dan memukul-mukul Zoro, menyalip kedalam jubah hijau yang di kenakan Zoro sehingga terekspos jelas dada bidang berkulit tan miliknya.
Saat itu, tangan Sanji terhenti dan matanya mulai menyayu. Luka jahit yang amat panjang di dadanya itu…
Zoro yang juga merasa aneh karena tak ada gerakan lagi dari masternya itu mulai berhenti tertawa dan mulai menutup jubahnya.
"Master. Waktunya anda ke dapur utama." Selanya agar Sanji tak teringat akan kejadian itu lagi. Kejadian 2 tahun yang lalu dimana terjadi lagi penculikan pada Sanji karena Sanji tak mau menurut untuk tidak pergi keluar. Dan Zoro yang masih hijau itu berusaha kuat untuk mengejar Sanji hingga ia nyaris kehilangan darah akibat luka itu. Membuat Sanji mau mentolerir untuk memberi darahnya pada Zoro sebulan sekali. Padahal awalnya, ia tak mau memberi darahnya setetespun.
Zoro yang merasa amat sangat menyesal, mulai perlahan membangunkan diri untuk duduk dan membangunkan tubuh masternya yang nampak diam dari atas tubuhnya itu dengan tenang. Padahal, sudah dua tahun ini Zoro berusaha untuk menutupi lukanya. Tapi apa daya, ia tak bisa menahan tawa setiap melihat barang berharga milik masternya itu.
"Master, ayo segera bergegas kekamar anda." Terang Zoro membuat keadaan yang hening ini, berjalan sebiasa mungkin. Belum ada respon beberapa detik dari masternya yang tengah menunduk itu.
"Kau boleh hisap darahku." Sanji mulai bicara. Membuat Zoro membulatkan bola matanya.
"Ma-maaf master?" Zoro sedikit mencondongkan kepalanya untuk memastikan perkataan tuannya barusan. Memang benar, masternya menyebut kata 'darah' saja sudah membuat dirinya tak terkendali. Setiap berada di dekat Sanji, darahnya tak pernah tak bisa untuk bergolak.
"Hisap darahku sekarang!" Sanji mulai memalingkan wajahnya kehadapan Zoro.
Zoro tertegun ketika melihat keseriusan wajah masternya. Dengan keyakinan yang begitu serius itu, Zoro harus tetap melaksanakan perintahnya.
Zoro mendekat perlahan kearah masternya dan mulai menapakkan tangan-tangan besarnya di kedua sisi leher Sanji. Pada saat itu, terlihat jelas benar Sanji menutup matanya karena takut. Tatapan Zoro mulai menyayu, ia menginginkan darah Sanji memang pasti, tapi ia tak mau akan keterpaksaan atau karena balas budi seperti ini.
Zoro mendekatkan wajahnya kearah Sanji, nampak terlihat jelas pejaman mata Sanji semakin terlihat dalam. Ia masih trauma, ia masih takut, dan…
Chuuu~
Zoro menapakan bibirnya di antara perpisahan antara alis kanan dan alis kiri masternya. Ya, Zoro mengecup dahi Sanji dengan mesra. Dengan perlahan namun meresapi.
"Aku tak ingin cara seperti ini. Semingu yang lalu master sudah memberikannya, berikan aku darahmu hanya sebulan sekali saja. Apapun yang terjadi, aku akan tetap melindungimu. Aku akan segera kembali mengambil baju chef untuk master" Terangnya yakin sambil mulai membuat tubuhnya menjadi tak terlihat lagi oleh Sanji. Namun saat itu, Sanji bisa mencium jelas aroma green Marimo itu mulai menjauh darinya…
0o0
Deg.
Jantung Zoro tertegun ketika ia berhasil menenangkan diri dan meninggalkan masternya dengan tenang. Namun, ia malah melihat suatu hal yang tidak mengenakkan…
"Ku-kumohon jangan, jangan disini master—" Crocodile berusaha untuk mencegah perbuatan masternya di bawah pohon sana.
"Oh, ayolah… kau mau membantah perintah mastermu, Croco-chan?" Jawab Dofla menghentikkan aksinya menelusup ke dalam kemeja Crocodile. Mereka terdiam sebentar sehingga…
TAK!
Sebuah bulu burung flamingo sampai tepat sasaran ke sebuah dinding kayu… tak berapa lama, terlihat sebuah kepala tak jauh beberapa centi dari bulu itu. Ya, begitu kagetnya dan nyaris saja, Zoro sampai tak bisa mengendalikan kekuatan buah iblisnya.
Doflaminggo mendekat padanya dengan wajah tak berekspresi, saat itu, Crocodile mulai merapikan kemejanya. Nampak, wajahnya memerah menahan malu.
"Apa yang kau lakukan disini bocah Roronoa?" Doflaminggo berjongkok menyamakan keadaannya berbicara dengan Zoro yang terduduk lemas.
"A-Aku.. aku tidak master…anu,," Zoro kehilangan kata-kata, Crocodile ikut mendekati mereka masih dengan wajah yang begitu merasa malu. Doflaminggo mengerutkan alisnya.
"Dengan ini, kau sudah dua kali memergoki kami, Roronoa." Ungkap Doflaminggo datar. Zoro terkesiap, berarti semalam, kakak masternya itu tahu kalau ia mengintip diam-diam perbuatan mereka? "Dan sepertinya kau sedang 'membesar', hm?" Goda Crocodile sambil menunduk kearah bawah Zoro.
"Uwaaa, anda salah paham master!" Zoro gugup dan menutupi apa yang dibicarakan dengan TEPAT oleh master seniornya itu.
Doflaminggo tersenyum tulus pada saat itu. "Tidak apa-apa, Roronoa. Nanti juga kau akan merasakan apa yang kita rasakan. Ikatan yang kita alami, bukan hanya sebagai pelindung dan master, kau boleh mengikatkan Sanji, adikku yang paling kusayangi kepadamu." Dofla beranjak dan mendekati Crocodile, mencium pelindungnya itu dengan mesra, dalam dan bersensasi sengaja di hadapan Zoro.
Zoro yang tadi gugup. Sekarang tahu apa maksud dari pada kakak masternya itu. Melihat mereka berciuman seperti itu, membuat Zoro yakin, mereka sama-sama ingin memiliki.
Tanpa sadar, Zoro hanya bisa melihat apa yang mereka lakukan hingga mendengar teriakan-teriakan meminta Crocodile dan nafas berat Dofla dengan mata kosong, hampa namun sayu.
Ada yang ia sadari…
Sanji bukan hanya masternya…
Dia menginginkan sosok Chef itu, Baratie Sanji…
0o0
SRING-SRING, SRANG-SRANG, NYESSH…
Suara penggorengan, kentang yang di masukan ke minyak panas dan semua benda-benda di dalam dapur utama mulai bergemuruh.
"Chef, untuk dessert, roti dari Paris belum datang." Seorang koki berbadan kecil menghampiri chef master utama di dapur itu.
Chef yang tengah menyicipi hasil masakannya langsung menoleh kepada koki yang menyahutnya.
"Buat roti kita sendiri." Ungkapnya.
Zoro yang baru datang dan hanya bisa mengintip dari sela pintu dapur utama tak bisa mengingkari penciuman tajam dan lapar perutnya. Tapi betapa terpaku ia ketika masternya, Sanji, sang chef master di dapur utama yang tengah menggunakan pakaian chef berwarna hitam dengan celemek merahnya itu sedang mondar-mandir bijaksana membantu rekan-rekan kokinya untuk menyiapkan sambutan pesta nanti malam. Zoro terdiam. Masternya terlalu sempurna untuk dimilikinya, Sanji begitu tidak pantas untuk menjadi milik Zoro seutuhnya. Dunia dan posisi mereka amat jauh berbeda. Tapi, kenapa Dofla bisa bicara sesantai itu untuk menyerahkan Sanji kepadanya?
SYUUT. TRANG!
Panah besi yang tiba-tiba langsung menghantam sisi pedang Zoro. Sanji yang reflex terjatuh kaget tak percaya bahwa pria berbaju jubah hijau itu sudah tepat ada di depannya. Beberapa koki menghentikkan aktivitas mereka hanya untuk membantu tuan muda mereka.
"Si-sial, apa barusan?" Gumam Sanji sambil dibantu berdiri dan merapikan baju chefnya.
Zoro yang memunggungi Sanji terdiam. Tiba-tiba saja, nafas Zoro terasa berat dan darahnya mulai berdesrir tidak karuan sehingga tubuh kekar si rambut hijau itu terjatuh.
"O-Oi, Marimo, kau kenapa?" Tanya Sanji cemas sambil menyentuh pundak Zoro dan sedikit membungkukkan badannya. Ia juga menyuruh koki-koki lain untuk segera menyelesaikan pekerjaan mereka dan membiarkan Zoro di tanganinya.
"Hhh, mas-master, menjauhlah." Terang Zoro sambil menutup hidung dan sebagian mulutnya dengan tangan yang tak sedang memegang pedang.
'Tidak, tidak, sial! Aku mohon jangan di saat seperti ini.' Batin Zoro. Terasa jelas harumnya darah sang master meski ia berusaha untuk menutup hidung dan mengendalikkan gejolaknya. Sanji terdiam dengan wajah cemas.
"Ukhh…" Zoro miris. Dia bingung. Kenapa ia tak bisa mengendalikan dirinya seperti biasa?!
"Sudahlah. Bicaralah Zoro!" ungkap Sanji benar-benar khawatir dan mulai berjongkok dengan manis di hadapan Zoro. Suara berisik di dapur membuat Zoro semakin tidak bisa berpikir lagi. Dengan berusaha keras mengendalikan jiwa pelindungnya, Zoro meraih pundak Sanji dan meremas kain yang di pegangnya sehingga wajah Sanji berada di samping wajahnya.
"Maafkan aku master. Aku benar-benar butuh darahmu…" Ucap Zoro tertahan. Sungguh, kali ini dia tak bisa mengendalikannya. Entahlah.
Sanji terkesiap dan langsung berdiri. Dia tidak mau, dia sudah memberikan darahnya bulan ini seminggu yang lalu.
"Hhh, uggh.."
Tapi melihat Zoro yang merintih tertahan itu bukan seperti Zoro yang biasanya dan tidak mungkin dia memanggil beberapa pengawal untuk mengawasinya di hari yang menyibukkan ini!
Sanji menelan ludahnya. Keberadaannya saat ini pulalah yang membuat Zoro tersiksa, akhirnya, Sanji yang baik hati itu, tak tega melihat pelindungnya dan dengan sekuat tenaga menarik Zoro yang dalam keadaan tengah bergulat dengan perasaannya pergi keluar dari dapur utama…
0o0
Sanji menutup pintu gudang yang tak jauh dari dapur utama ini pelan. Gudang kecil yang sudah tak terpakai ini setidaknya masih bisa memuat dua orang seperti Sanji dan Zoro, cemas juga jika tidak di awasi, tapi setidaknya, jika Sanji berteriak nanti, koki-koki yang ada di dapur utama setidaknya bisa mendengar teriakkannya. Lagipula, selain kondisi Zoro yang agak sulit untuk pergi ke kamarnya, dan ia juga yang harus lekas kembali ke dapur utama, setidaknya, gudang kecil ini bisa meminimalisirkan adegan memalukan dan menakutkan bagi Sanji ini.
Sanji mengendurkan sedikit dasi chefnya. "Zoro, a-ayo cepatlah." Ujarnya ragu.
Zoro masih tertunduk diam di hadapannya. Tak ada reaksi. Membuat Sanji yang tadi berani ambil tindakan itu takut saja.
Sanji berusaha mendekat pada Zoro sedekat mungkin. Dan baru satu langkah, Zoro menanggahkan kepalanya dan menatap Sanji dengan bola mata yang tak seperti biasanya. Bola mata Zoro berubah menjadi sepekat darah dan taring yang Sanji takuti selama inipun sudah muncul dan bertengger di sela-sela bibir Zoro.
BRUKK.
"Ugh~" Sanji meringis merasakan punggungnya terbentur keras keatas meja dan dihadapannya terasa berat ketika mengetahui, Zoro setengah menindih di atasnya.
"Maafkan aku master, aku sudah tidak tahan lagi." Ucap Zoro sebelumnya ketika ia melihat setitik air di masing-masing ujung mata Sanji.
Zoro membuka paksa dasi chef Sanji dan menyingkap kain yang menutupi leher yang luas itu. Sanji yang tak bisa berontak entah kenapa hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya dalam-dalam. Lagipula, saat itu, Zoro merentangkan kedua tangannya dan menindih kaki-kaki Sanji. Zoro pasti sudah tahu kalau Sanji bisa-bisa saja berontak dan lari. Maka dari itu, Zoro mencari solusinya.
Zoro perlahan menjilat dua titik bundar agak kemerahan di samping kiri leher Sanji. Itu bekas gigitan Zoro minggu lalu. Dan kemudian organ tanpa tulang milik Zoro itu berjalan melewati jakun sang master dan berpijak di samping leher kanan.
"Uhhmm.." Sanji mengerang kecil dan mengerutkan alisnya ketika merasakan taring Zoro mulai menancap kedalam lehernya.
"Unmmnmn, hh,," Suara kenikmatan Zoro mengalun. Sanji tak sedikitpun berani untuk membuka matanya apalagi melihat sosok yang berada di atas badannya sekarang. Ia tahu sosok Zoro yang memiliki mata merah sekarang ini. Ia sudah tahu.
"!" Sanji tertegun ketika merasakan bahwa ada sesuatu yang keras pada Zoro menempel di pahanya. 'Ada apa ini? Marimo itu kenapa?' fikirnya. Ia tahu benda keras apa itu karena ia juga memiliki dan pernah merasakannya ketika melihat wanita-wanita berbadan sexy di majalah kesayangannya. Tapi kenapa di saat seperti ini?
"Zo-Zoro… hen, hentikan." Perintah Sanji ketika tangan Zoro tak lagi menahan tangan-tangannya dan berusaha mendorong dada bidang itu tapi Zoro masih asik menghisap darahnya. Meski Sanji tahu bahwa sosok Zoro yang sekarang bisa terkendali, tapi kenapa Zoro tidak mau pergi?
Zoro sudah selesai dengan haknya. Dan wajahnya kini, berada tepat di atas wajah Sanji.
"Master…" panggil Zoro sehalus mungkin. Membuat Sanji tanpa sadar bersemu merah melihat ketampanan pelindungnya sedekat ini. Bahkan tanpa taring dan dengan bola mata merah yang mengagumkan itu, Sanji bisa merasakan dia juga berdebar berada di posisi seperti ini.
"Per-Pergi dariku, Marimo." Sanji bersusah-payah untuk menjadi dirinya yang biasanya dan sesegera mungkin memalingkan wajahnya dari wajah tampan Zoro.
Pada saat itu, tak ada reaksi dari Zoro yang tak mau bangun dari atas sang master. Justru saat itu, Zoro menelusupkan kedua tangannya di antara meja dan punggung Sanji, seakan-akan tengah memeluknya.
"O-Oi!" Sanji berdebar bukan main ketika Zoro mengendus bagian belakang telinga dan lehernya.
"Baumu harum master…" ungkap Zoro dan kali ini mulai mengecup-ngecup sekitar daerah itu. Membuat Sanji menggeliat tak nyaman. Dan yang membuat Sanji paling khawatir adalah 'barang' mengeras milik Zoro itu. Ia takut kalau ia yang akan di serangnya. Apalagi, selama ini Sanji tidak pernah melihat Zoro tertarik pada wanita satupun.
'Sebenarnya, apa yang membuatnya seperti ini?' batin Sanji ingin menangis saja.
"Aaah~ Zoro!" Sanji tertegun dalam hati ketika ia sadar ia mengeluarkan suara menjijikkan itu. Pikiran dan tubuhnya bergerak tak sesuai dengan biasanya.
"Aku menyukaimu, Master…" ungkap Zoro lagi sambil memyingkap baju Sanji dan kepala Zoro masuk untuk sekedar mencicipi organ kenyal yang ada di dalamnya.
"Ooh, aah, Zo—hh" erang Sanji ketika merasakan basah menjalar di puttingnya.
'O-Oi, apa yang kau lakukan! Pergi dari sini!" Jiwa Sanji yang merasa tidak terima mulai bergemuruh. Tapi tubuh Sanji pada saat itu tak mau mendengar. Mendengar Zoro menyukainya, membuat jiwa Sanji sedikit bingung, dia laki-lakikan? Apa karena saat ini Zoro tengah terangsang sehingga menyerang siapa yang ada di sekitarnya?
Dan itu KAU, Sanji Baratie.
Cukup lama bermain-main, melihat wajah Sanji yang begitu menggiurkan untuk Zoro, Zoropun tak segan-segan lagi untuk memaksa 'junior'nya untuk memasuki tubuh indah sang master yang untuk pertama kalinya, terekspos jelas dimatanya…
:: Zo-San ::
Hufft, huuft, huuft *author kebakaran*
Panas panas panasssssss! Zoro ayo buntingin Sanji! *di lempar api sama Ace*
Baaah, baah, makin Seru X3. ZOSAN is THE BEST! ZOSAN IS THE BEST! Mind to Ripiu?
