"Fuh, kau… kalau jalan perhatikan siapa depanmu sehingga tidak tertabrak seperti ini," Akaba berkata kepada seseorang yang berada diatasnya.
"Ma.. maaf," Mamori bangkit berdiri.
"Maaf sekali lagi aku benar-benar merasa bersalah," Mamori berbicara sambil berlari seperti tadi.
"Fuh, kenapa gadis itu? Seperti terburu-buru sekali," Akaba meneruskan perjalanannya.
MAMORI POV
Ya ampun… Aku sampai menabrak orang karena terburu-buru seperti ini. Tapi aku juga khawatir terhadap ibu. Karena tadi dia bilang ada yang gawat dirumah.
MAMORI POV END
"Aku pulang. Ibu? Kau dimana?" Mamori langsung mencari keberadaan ibunya.
"Ah! Mamo chan! Disini, ibu ada didapur," sahut ibunya Mamori.
"Ibu! Ada apa? apa ada hal buruk terjadi padamu? Apa kau baik-baik saja?" sifat khawatir Mamori yang berlebih pun refleks keluar.
"Tidak. Aku tidak apa-apa. hanya saja ini masalahnya," ibu Mamori menunjuk seorang anak kecil yang sedang makan kue pemberian ibunya Mamori. Anak laki-laki yang sangat imut berambut merah dan membawa gitar mainan.
'Melihat dia kenapa sama seperti orang yang aku tabrak dijalan tadi?' kata Mamori didalam hati.
"Mamo chan? Kau kenapa? Apa kau mengenal anak ini?" tanya ibu Mamori.
"Tidak bu. Hanya saja dia mirip seseorang. Ibu menemukan dia dimana?" Mamori mulai mendekati anak kecil itu.
"Aku menemukannya menanggis di depan gerbang rumah kita saat aku kembali dari toko kue ya sudah ibu bawa saja. Saat ku tanya kenapa dia bisa ada disana ternyata dia tersesat saat mengejar seekor kucing," Ibu Mamori menjelaskan.
"Oh begitu… nah, ee.."
"Namanya Nagashima ," sambung ibu Mamori.
"Nah Nagashima kun, kau ingat tidak rumahmu dimana?" tanya Mamori dengan senyum malaikatnya.
"Kalau aku tahu aku tidak akan tersesat kan. Hah.. kakak ini bagaimana," jawab Nagashima sambil terus makan kue yang diberi ibunya Mamori.
Mamori dan ibunya sweetdrop mendengar jawaban Nagashima.
"Ahaha.. benar juga ya. Tapi kenapa bisa tidak ingat dengan arah rumahmu sendiri? Seharusnya pasti ingat kan dimana rumahmu?" Mamori berkata.
"Aku hari ini baru pindah rumah jadi belum ingat jalan-jalannya. Saat ibuku membereskan perabotan kerumah baru kami aku melihat kucing lalu aku dekati kucing itu tapi dia berlari lalu aku ikuti saja kucing itu. Ternyata aku jadi tersesat," Nagashima mengangkat bahunya.
"Oh.. Kau baru pindah rumah.. Tunggu!" Mamori mengingat sesuatu.
"Ada apa Mamo chan?" tanya ibu Mamori.
"Tadi sewaktu aku mau berkunjung kerumah Suzuna chan ada yang menurunkan perabotan-perabotan rumah seperti orang pindah rumah. Salah satunya ada wanita paruh baya," Mamori berkata.
"Jangan-jangan…" ucap Mamori dan Ibu Mamori kompak.
"Nagashima kun ibumu yang berambut panjang berwarna coklat tua bukan?" Mamori mulai mengintrogasi Nagashima.
Nagashima agak sedikit terkejut "eh? iya benar," jawab Nagashima.
"Ingat tidak saat ibumu menurunkan perabotan dari sebuah mobil dia memakai baju apa?" tanya Mamori lagi.
"Hmm… dia pakai kaos warna biru tua dan memakai celana jeans warna yang sama dengan kaosnya," jawab Nagashima dengan ekspresi berpikir.
"Bingo! Itu dia. Aku tahu dimana rumah anak ini ibu!" Mamori menampakkan ekspresi senang seperti sudah memecahkan sebuah kode harta karun(?).
Nagashima hanya kebingungan melihat tingkah Mamori yang senang seperti itu.
"Jadi, apa kakak tahu dimana aku tinggal?" tanya Nagashima.
"Em! Nah Nagashima ayo kuantar kau pulang," Mamori berkata.
"ayo! Irama yang indah.. akhirnya aku bisa pulang juga. Yey…" nagashima terlihat senang lalu memetik senar gitar mainannnya.
Ibu Mamori dan Mamori kembali sweetdrop melihat betapa senangnya Nagashima.
'Tadi dia bicara apa? Kenapa ada kata-kata 'irama'? Memangnya ada hubungannya sama nada musik?' batin Mamori.
DITEMPAT LAIN….
"Nagashima… Kau dimana nak…?" Saki berjalan mondar-mandir mencemaskan keberadaan anaknya sekarang.
"Tuhan… Lindungi anakku dimanapun dia berada sekarang. Semoga dia bersama dengan orang yang baik. Akaba juga lama sekali datang," Saki mulai duduk disofa.
TOK TOK TOK
Saki sedikit terkejut dengan suara ketukan pintu rumahnya.
"Apa itu Akaba ya," Saki segera berjalan kearah pintu.
"Benar tidak rumahmu yang ini?" tanya Mamori meyakinkan.
"em! Aku yakin kok," Nagashima mengangguk.
Pintu pun terbuka dan muncullah seorang wanita cantik berambut panjang warna coklat tua seperti yang Mamori lihat tadi pagi. Ya dialah Saki ibu dari Nagashima.
"Akaba_ eh? Kau siapa?" tanya Saki ke Mamori.
"Aku Mamori Anezaki. Kedatangan saya kesini untuk mengantar Nagashima," Mamori menjelaskan dengan sangat sopan.
"Nagashima?" Saki melihat kebawah dan melihat anaknya yang tersenyum.
"Ibu! Aku pulang!" Nagashima memeluk ibunya.
"Nagashima.. Kau kemana saja nak?" tanya Saki balas memeluk Nagashima. Saki agak lega sampai air matanya mengalir.
"Aku tersesat saat mengejar kucing bu, sampai didepan gerbang rumah kakak ini," Nagashima menjawab.
"Terima kasih sudah mengantarkan Nagashima kesini Anezaki San," Saki tersenyum lembut.
"Iya sama-sama bibi," Mamori membalas senyum.
"Tapi kalau aku boleh tahu, Anezaki San bisa tahu rumah Nagashima disini dari mana?" tanya Saki.
"Ah, kebetulan aku tadi pagi aku melewati jalan sini aku melihat sudah ada yang menempati rumah ini ditambah lagi kata Nagashima dia baru pindah rumah didekat rumahku sini," Mamori menjawab pertanyaan Saki.
"Oh.. begitu. Oh iya Anezaki San masuk dulu saja," Saki mempersilahkan Mamori masuk kerumahnya.
"Ah tidak perlu sudah malam aku harus pulang bibi," Mamori menolak halus.
"Jawaban irama apa itu? Ayo kakak harus masuk dulu," Nagashima menarik Mamori masuk kedalam dan berjalan keruang tamu.
"Eh?" Mamori hanya bisa mengikuti tarikan Nagashima sedangkan Saki hanya tersenyum melihat tingkah anaknya dan ikut keruang tamu juga.
"Jadi Anezaki San rumahmu dekat sini ya. Kapan-kapan main saja kesini bermain dengan Nagashima," Saki tersenyum ke Mamori.
"Terima kasih atas tawarannya bibi," Mamori ikut tersenyum.
"Kakak! KakaK! sering main kesini ya?" tanya Nagashima yang duduk disamping Mamori.
"Iya anak manis," Mamori mengelus rambut Nagashima.
"Jarang sekali nagashima akrab dengan orang yang baru ia kenal. Oh iya, kakaknya Nagashima juga seumuran denganmu. Kapan-kapan bisa aku perkenalkan padamu agar kalian berteman akrab," Saki berkata.
Mamori hanya tersenyum ramah. "Ee.. Kalau boleh aku mau pamit pulang sekarang bibi," Mamori meminta izin.
"Oh.. Tentu saja boleh. Maaf merepotkanmu Anezaki San," Saki berkata.
"Tidak merepotkan kok bibi," Mamori mulai bangkit dari tempat duduknya begitu pula Saki.
BRAAK
Suara pintu rumah Saki yang terbuka sangat keras tanda dibuka oleh seseorang.
"Ibu! Apa nagashima sudah ditemukan?" Akaba berlari keruang tamu.
"Akaba kenapa baru sampai? Nagashima sudah pulang. Dia diantar seorang malaikat. Nah ini dia malaikatnya," Saki memperlihatkan Mamori yang tadi berada dibelakangnya.
"KAU!" ucap Akaba dan Mamori kompak.
"eh?" Saki kebingungan.
"KALIAN!" Nagashima ikut-ikutan.
"Fuh, kenapa kau jadi ikut-ikutan anak nakal," Akaba melihat adiknya.
Sedangkan adiknya hanya tertawa kecil. "hehehe,"
"Apa kalian sudah saling kenal?" tanya Saki.
"TIDAK!" jawab keduanya kompak lagi.
"wah.. kompak sekali ya mereka Nagashima?" kata Saki tertawa kecil.
"Iya. Hehehe.." Nagashima juga tertawa.
"Fuh dia ini hanya gadis aneh yang tadi sore menabrakku. Berlari sih berlari tapi lihat depan juga," Akaba berkata dengan gaya stay coolnya.
"Ap.. apa? aku kan tidak sengaja. Lagi pula aku sudah bilang maaf kan," Mamori membela dirinya.
"Sudah sudah jangan bertengkar. Nah, Akaba kebetulan Anezaki ini mau pulang tolong kau antarkan dia ya? Sudah malam tidak baik kalau gadis berjalan sendirian," Saki menyuruh Akaba.
"Apa? tapi_"
"Tidak ada tapi tapi. Sudah sana antarkan. Nah, Anezaki San sekali lagi terima kasih sudah mengantarkan Nagashima pulang dan hati-hati dijalan ya," Saki mengantarkan Mamori keambang pintu.
"Iya bibi. Aku pulang dulu ya bibi. Nagashima kakak pulang dulu ya," Mamori dan Akaba mulai berjalan.
…
…
Hanya ada kesunyian diantara Akaba dan Mamori selama perjalanan kerumah Mamori.
"Ano.. Apa kau masih marah soal tadi sore aku tidak sengaja menabrakmu?" Mamori mulai memecah keheningan diantara mereka.
"Fuh, sudahlah lupakan saja. Ngomong-ngomong aku juga berterima kasih sudah mengantar adikku pulang kerumah," Akaba berkata.
"Ya sama-sama. Ah itu rumahku, kurasa cukup sampai sini saja juga tidak apa-apa mengantarnya. Terima kasih eee…"
"Akaba Hayato. Panggil saja aku Akaba," Akaba memberi tahu namanya.
"Baiklah, terima kasih Akaba Kun sudah mengantar kan ku pulang," Mamori tersenyum lembut.
Akaba agak sedikit terpesona dengan senyum Mamori tapi dia dengan cepat menyembunyikan kekagumannya.
"Iya… Ya sudah sampai jumpa lain waktu," Akaba langsung berbalik kearah rumahnya.
"Hati-hati dijalan Akaba Kun," Mamori setengah berteriak. Akaba yang mendengar hanya bisa melambaikan tangannya tanpa berbalik kearah Mamori.
'Dia baik juga orangnya ya. Aku salah menilainya kalau dia menjengkelkan,' batin Mamori sambil masuk kerumahnya.
TO BE CONTINUE….
Akane : "update juga chapter 2. Sebelumnya maaf jika masih ada salah dalam pengetikan readers sekalin *sujud-sujud*"
Fumiki : "nah, sekarang saatnya balasan review. Pertama dari Suzuki Honoda dan.. Yue ya?, terima kasih atas pemberitahuannya. Namanya juga Akane baka. Hehehe.."
Akane : "hey! Wah terima kasih juga sudah dibilang keren .
Nah Suzuki dan Yue chan chapter 2 jangan lupa review lagi ya. Hahaha.."
Fumiki+Akane : "minna.. review please…"
