Pertama, bg kalian yg udh Fav atau follow crita, tsuki berterima kasih. sy udh khawatir bgt klo g ada yg respon.. jd skali lg terima kasih

entah kenapa sy suka bgt nyiksa kuroko jd klo ada yg g sk, gomen ne..

Re :

: iya, kasian ya.. akashi emank terlalu arogan. tp tetep aj tsuki suka. hahaha

Myadorabletetsuya : terima kasih. tsuki bersyukur klo Myadorabletetsuya-san suka (namanya panjang desu ne, sy bingung pgl apa)

Himawari Wia : Doumo.. ni lanjutannya. selamat membaca!

ellone23 : waah! saya g mw spoiler. terima kasih ya.. syukurlah klo suka. ni udh update.. silahkan dibaca! sarannya dengan senang hati tsuki terima, hanya saja di fanfic ini niatnya akan tsuki jadikan kumpulan cerita hurt/comfort, tragedi (gagal), dan angst-nya tsuki jadi kemungkinan tetsuya di chapter selanjutnya bukan adik akashi.. hehehe (tolong d maklumi author-mu yang sudah *peep*)

KakaknyaKurokoTetsuya : tsuki juga suka klo akakuro jadi sodara.. lbh gimana ggt. hahaha XD. semoga tsuki bisa memenuhi harapan KakaknyaKurokoTetsuya

salmaasuka : Iya, lanjut kok. maaf menunggu lama. jangan! Akakuro udh paten, g bs d bongkar lg.

Sagi Akabara : Ok! siap bos! ni udh d lanjut.. g bs.. ni udh d jatah solanya, gomen ne mengecewakan. g jd one-shoot tp tetep bakal d bikin pendek. harap pengertiannya *puppy eyes*

Jya, otanoshimi kudasai...!


"Tetsuya, aku pergi dulu ya. Istirahat dan jangan telat makan, ok"

Setelah terdengar suara pintu tertutup Tetsuya membuka kelopak matanya. Warna biru laut yang jernih terpantul indah di bola mata pemuda 13 tahun itu. Harus terus diam dan tetap rileks selama sepuluh menit agar acting 'pura-pura tidur'nya tidak ketahuan oleh sang kakak, membuat badan Tetsuya sedikit kaku dan tegang. Ia tahu, kalau kakaknya menyadari acting-nya tersebut, namun baik Tetsuya maupun Seijuurou sama sekali tidak mengubrisnya dan lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu.

Tapi, sampai kapan mereka akan bersikap tidak peduli?

xXx

Tidak terasa hari sudah sore saat Tetsuya kembali membuka mata dari tidur siangnya. Merasa badannya sakit karena seharian berada di kasur ia mulai bangkit dari kasur dan pergi ke ruang keluarga, tapi baru sampai di tangga, ia mendengar suara teman-teman klub basket-nya di halaman samping rumahnya.

Di sana Ia melihatnya. Mimpi buruk yang selama beberapa hari ini menghantuinya dan membuatnya tidak bisa tidur.

Ia melihat..

.

.

.

..kakaknya, Akashi Seijuurou, sedang..

.

.

.

..berciuman dengan Mayuzumi-kun.

.

.

.

"Ah! Tetsuyachi"

Teriakan salah seorang pemuda yang tidak lain adalah Kise Ryota itu pun segera memecah keheningan yang diciptakan pasangan baru itu. Akhirnya semuanya menyadari keberadaan sang bayangan dan memberikan salam mereka.

"ne..Tetsu-chin. Kau masih belum kelihatan sehat dan wajahmu sangat pucat. Sebaiknya Tetsu -chin istirahat..dan ini ku bawakan snack" ucap pemuda berbadan paling besar kepada Tetsuya seraya menyodorkan berbagai macam snack ke tangan kecil sang bayangan yang kemudian dilanjutkan oleh satu-per-satu anggota Kiseki no Sedaiplus Mayuzumi untuk memberikan bingkisan dan ucapan cepat sembuh kepada pemuda bersurai biru itu.

Tetsuya yang sedari tadi tetap diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun hanya bisa menunduk dan berkata, "terima kasih minna, tapi sepertinya memang aku masih sedikit pusing jadi aku ingin kembali ke kamar" dengan suara kecil dan datarnya lalu pergi meninggalkan Kiseki no Sedai.

Khawatir dengan kondisi partnernya itu, Aomine pun mengajukan diri untuk menemani Tetsuya sampai ke kamarnya yang langsung di setujui oleh hampir semua yang ada di situ. Ya, hampir karena.. itu tidak termasuk Seijuurou. Pemuda yang dijuluki Emperor itu hanya bisa menatap balik badan adiknya yang sedikit ditopang oleh pemuda berkulit gelap itu dengan mata memincing tajam dan penuh emosi yang tidak dikenali Mayuzumi yang kebetulan sedang melihat kearah wajah kekasihnya itu. Pemua bersurai abu-abu terang itu berpikir kalau kekasihnya hanya khawatir pada adik kembarnya itu kemudian mengelus tangan Seijuurou dan berusaha menghiburnya.

Seandainya saja.. seandanya saja ia tahu…

—AkaKuro—

Seminggu telah berlalu. Kondisi Tetsuya tetap tidak stabil. Satu hari Tetsuya terlihat sehat lalu keesokkan harinya ia tidak akan bisa bangun dari tempat tidur sama sekali. Berita ini pun akhirnya sampai ke telinga ibu mereka, Akashi Reiko.

Reiko adalah wanita yang tegar. Meskipun sudah ditiggal mati suaminya, tapi ia tetap setia pada suaminya tercinta itu. Bukan hanya itu, dapat terus mengurus perusahaan keluarga Akashi dan membesarkan kedua buah hatinya sampai besar adalah sebuah pencapaian tersendiri untuk ibu yang baru menginjak usia 38 tahun itu.

Parasnya yang cantik dengan rambut merah bergelombangnya yang panjang dengan iris mata berwarna senada yang mirip sekali dengan Seijuurou, serta bentuk bola mata yang indah lengkap dengan bulu mata panjangnya yang lentik dan struktur wajah oval sempurna yang diturunkan untuk anak bungsunya, membuat istri Akashi Seiichirou ini menjadi perpaduan antara kelembutan dan kekuatan yang membuatnya dikagumi sekaligus dihormati.

Walau sibuk dan hampir selalu berada di luar rumah bahkan di luar negeri, tapi Reikou sangat sayang dan selalu memperhatikan anak-anaknya. Bagi Reikou tidak ada yang lebih penting dari pada kedua buah hatinya, karunia terindah bagi Reikou dan suaminya. Selain itu, Reikou juga adalah orang yang sangat pengertian dan terbuka, membuatnya menjadi rekan bisnis favorit bukan hanya dikalangan pengusaha laki-lai, tapi juga perempuan. Hal ini juga lah yang membuat Tetsuya sangat menyangi ibunya dan selalu terbuka padanya, karena hanya pada ibunya lah Tetsuya bisa cerita tentang perasaannya pada sang kakak tanpa harus takut di nilai buruk.

Saat Reiko pertama kali tahu tentang hal tersebut, ia tidak bisa berbohong kalau ia cukup terkejut, tapi bukan Akashi namanya jika ia tidak bisa memprediksi atau sekedar melihat tanda-tandanya, bahwa cinta anak bungsunya itu sangat kuat. Namun, yang paling penting adalah ia tidak akan menilai buruk apalagi samapi membenci anaknya yang sangat manis dan penurut, Tetsuya. Ia juga tahu kalau ini adalah akibat dari kondisi anak-anaknya yang besar tanpa dirinya dan suaminya, membuat mereka tergantung pada satu sama lain dan akhirnya mencintai satu sama lain lebih dari sewajarnya.

Reikou senang putra kecilnya mau terbuka padanya dan untuk itu ia akan menerima, mendukung, dan melindungi anak tersayangnya itu.

xXx

"Baiklah. Di sana pasti sudah malam kan? Sebaiknya sekarang kau istirahat. Ibu tidak mau putra kecil ibu semakin sakit" ucap Reikou sambil menggenggam gagang telepon miliknya.

"ibuuu…." Terdengar suara rengekan Tetsuya dari ujung sana. Sang bayangan yang terkenal datar dan tanpa ekspresi itu memang sangat berkebalikan jika berhadapan pada keluarga, terutama ibunya.

"hahahah.. ya sudah ya. Kapan-kapan ibu telpon lagi. Oyasumi tet-chan"

"iya, ibu jaga kesehatan ya. Oyasumi"

Klik!

Sambungan telepon pun terputus dan Reikou hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tidak tahu apa yang ada di pkiran anak pertamanya. Biasanya Seijuurou adalah orang yang cerdas dan perhatian, tapi kenapa ia tidak bisa menyadari kalau sekarang ia sedang menyakiti Tetsuya.

Ia sangat khawatir pada keadaan Tetsuya. Ia takut kalau keadaannya akan semakin parah, sementara ia hanya bisa menghibur putranya melalalui telepon.

Memberikan saran, membimbing dan terus mendukung mungkin bagi sebagian orang sudah cukup, tapi Reiko tahu anaknya butuh sandaran saat ini. Orang yang bisa dipeluk dan dijadikan tempat menangis, mencurahkan seluruh perasaannya secara langsung.

Baiklah. Aku akan segera mengatur jadwal untuk bisa pulang ke Jepang. Pikir Reikou seraya memandang foto keluarga saat suaminya masih ada yang ia selalu bawa.

—AkaKuro—

Malam sudah tiba, tapi Tetsuya masih belum juga bisa tidur. Sudah beberapa hari ini ia tidak bisa tidur, membuat sakitnya semakin parah. Bayangan akan adegan ciuman antara Seijuurou dan Mayuzumi masih sangat segar di ingatan Tetsuya membuat lukanya yang sudah mati rasa, kini terasa seperti disiram alkhohol dan ditaburi garam, rasanya perih sekali.

Menyerah untuk menutup matanya mencoba tidur. Ia berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur.

"Tuan muda..?" Terdengar suara yang agak ragu dari kepala pelayang keluarga Akashi dari pintu dapur.

"Katsumoto-san" ucap Tetsuya kecil sambil mengangguk memberi salam.

"Apa yang Anda lakukan selarut ini? Apa Anda butuh sesuatu?" tanya pria berumur enam puluh tahunan itu seraya menghampiri tuan mudanya.

"Hm, aku tidak bisa tidur. Apa kau punya sesuatu yang bisa membantuku tidur? Aku sudah minum susu dsb, tapi tidak ada hasil"

"begitukah? Baiklah, saya akan bawakan obat tidur dan minumnya ke kamar Anda segera. Sekarang Anda bisa kembali ke kamar. Saya tidak mau Anda semakin sakit" ujar Katsumoto yang kemudian dituruti oleh Tetsuya.

XxX

Keesokan harinya, kembali terlihat suasana di Mansion kediaman Akashi yang selalu sunyi seperti biasanya, tidak terkecuali di ruang makan utama itu. Hanya suara garpu dan sendok yang beradu yang lagi-lagi terdengar mengisi ruangan besar itu.

Di salah satu sisi terlihat seorang pemuda bersurai merah yang tidak lain adalah Akashi Seijuurou yang sedang menyantap sarapannya dengan tenang. Dihadapan Seijuurou terlihat juga Akashi Tetsuya yang kondisinya sudah terlihat membaik sedang menyesap vanilla milkshake-nya dengan wajah yang tidak biasanya ceria.

"Tetsuya, ada apa?" tanya Seijuurou memcah keheningan.

Bingung, Tetsuya memiringkan kepalanya dan mengatakan, "Hah? Apanya yang kenapa?"

Menghela nafas, Seijuurou kembali bertanya lebih jelas, "Kenapa kau terlihat senang sekali? Ini tidak seperti biasanya"

"uum, bukan apa kok, nii-sama" jawab Tetsuya dengan senyum kecil yang masih terlukis di wajahnya.

Tetsuya kembali mengingat hal yang membuatnya sangat senang hari ini.

Pagi ini Tetsuya bangun dengan semangat. Setelah beberapa malam ia kesulitan tidur, akhirnya malam ini Tetsuya bisa tidur dengan sangat nyenyak. Dengan ajaib, tubuhnya terasa sangat sehat seperti tidak pernah sakit malam sebelumnya atau hari sebelumnya.

Itu semua dikarenakan mimpi yang dilihat Tetsuya semalam, mimpi terindahnya.

Dalam mimpi itu, Tetsuya dan Seijuurou hidup berdua sebagai pasangan kekasih. Hidup berdua dengan kakaknya itu tanpa harus di nilai buruk membuat Tetsuya sangat bahagia dalam mimpi itu. Kakaknya yang mencintai balik, menjalani hari saling mencintai, memulai dan menutup hari dengan sebuah ciuman dari Seijuurou, dan hal-hal lain yang membuat Tetsuya serasa berada di surga. Seandainya saja, mimpi itu tidak pernah berakhir.

"Baiklah. Setelah ini, kau istirahatlah lagi. Aku tidak mau adikku satu-satunya sakit lagi, ok" ucap Seijuurou sambil bangun dari tempat duduknya menuju Tetsuya lalu mengecup kening adik laki-lakinya itu sambil menepuk pelan kepala Tetsuya.

Tetsuya pun hanya bisa menunduk menyebunyikan wajahnya yang mulai memrah akibat perkataan dan perbuatan kakaknya.

Melihat hal itu, Seijuurou pun merasa lega. Sejujurnya Seijuurou merasa takut kalau Tetsuya tidak mau lagi berbicara lagi padanya, tapi melihat wajah Tetsuya yang senang dan sudah terlihat baik-baik saja membuat Seijuurou merasa tenang.

Selesai dengan sarapannya Seijuurou segera bergegas pergi, tapi langkahnya terhenti saat suara kecil adiknya memanggil namanya dan menanyakan kemana ia akan pergi.

"aku akan pergi ke rumah Chihiro. Hari ini kan hari minggu jadi ia memintaku ke rumahnya" ucap Seijuurou sambil sedikit merapikan rambutnya lalu terdiam sejenak, "kau tidak apa-apa kan ku tinggal, Tetsuya?" tambahnya setelah berpikir beberapa detik.

"Tidak, nii-sama" jawab Tetsuya. Sayangnya, Seijuurou saat itu tidak melihat ekspresi Tetsuya yang tiba-tiba berubah murung ataupun mendengar suara sang bayangan yang terdengar parau.

Seiring dengan perginya Seijuurou dari ruang makan yang disusul suara pintu yang tertutup, bersama itu pula air mata Tetsuya keluar.

Setetes demi setetes..

Isakan demi isakan..

Sampai akhirnya air mata Tetsuya mengalir deras dan isakannya kecilnya berubah menjadi tangisan yang keras.

Pikirannya kosong, tapi juga bercampur aduk. Dadanya sesak seperti asma.

kedua tangan Tetsuya mengepal dengan begitu erat sampai tanpa sadar kuku-kukunya sudah menancap dalam ke kulit putihnya dan darah segar keluar dari celah jari-jemarinya yang kecil.

.

.

.

Kini Tetsuya benar-benar yakin, bahwa mimpinya adalah mimpi semata..

Sebuah mimpi tetaplah hanya sebuah mimpi, tidak akan menjadi nyata..

.

.

.

"Kalau begini, aku tidak ingin terbangun…. dari mimpi indahku itu"

XxX

Kembali ke kamarnya, Tetsuya segera mengurung dirinya kembali. Para pelayan yang melihat kondisi tuan muda mereka hanya bisa memandang simpati dan berdoa yang terbaik untuk tuan muda tersayang mereka.

Namun, ada satu pelayang yang berpikiran lain dengan para pelayan itu, Katsumoto sang kepala pelayan tidak bisa membiarkan tuan muda yang sudah ia rawat dan jaga sejak kecil seperti anak sendiri untuk menderita lebih dari ini.

—AkaKuro—

Sementara di tempat lain…

'..—rou. ."

"—juurou.."

"seijuurou..!"

Berkedip.

"Sei-kun..!"

"Hah?! Apa..?"

"Kau melamun terus. Seperti bukan Sei-kun saja" ucap Chihiro yang langsung mendudukan diri di sofa bersama Seijuurou. Hari ini orang tua Chihiro sedang pergi dinas ke luar kota dan baru akan kembali besok malam jadi ia ingin sekali menghabiskan hari minggu ini bersama pacar barunya.

"Kenapa kau memanggilku 'sei-kun' sekarang? Bukabkah biasanya Seijuurou?" tanya Seijuurou dengan nada serius dengan tiba-tiba.

Chihiro yang bingung pun hanya menjawab, "karena lebih enak 'Sei-kun'. Kenapa? Kau senang ya di panggil begitu?"

"Lebih baik hentikan. Panggil aku 'Seijuurou' saja seperti biasa"

"eh! Kenapa? Padahal menurutku lebih cocok dipanggil 'Sei-kun'?"

"Kau tidak mengerti. Orang yang memanggilku begitu hanya Tetsuya. Jadi ubahlah kembali panggilanmu itu" ucap Seijuurou dengan nada memerintahnya.

Chihiro yang mendengarnya pun terdiam beberapa saat sampai.. "Tetsuya lagi.. Tetsuya lagi.. Tetsuya ini, Tetsuya itu. Selalu saja yang ada dipikiranmu Tetsuya-kun. Aku yakin, tadi kau melamun juga pasti memikirkan adikmu itu kan? Sebenarnya siapa sih pacarmu?" ucap Chihiro alis mengkerut.

Seijjurou yang melihat itu pun sadar dan mulai memijat keningnya yang mulai pusing. Ini lah sebabnya Seijuurou lebih suka menyendiri, ia suka dengan ketenangan.

Namun, melihat wajah Chihiro yang mulai sedih meluluhkan hati Seijuurou dan membuatnya menyesal. Dengan ragu-ragu Seijuurou mulai memeluk tubuh kecil Chihiro dan membisikkan kaa-kata maaf di telinganya yang lalu di balasnya, "tidak apa-apa, Seijuurou-kun. Aku mengerti, Seijuurou-kun pasti khawatir tentang keadaan Tetsuya-kun, tapi jangan di buat stress, ok?"

"hn, baiklah"

XxX

Sejak kapan?...

Sejak kapan Tetsuya tidak memanggilku Sei-kun lagi?

.

.

.

Aku tidak bisa mengingatnya..

—AkaKuro—

Konnichiwa minna-san! tsuki modotte kita (tsuki kembali)

hahahaha...

hm... sudah lama sekali.. entah knapa pdhl ide tu byk bgt, tapi bgt dpn laptop kayaknya langsung putus.

Niatnya ini kan one-shoot ya.. tp liat (nunjuk2 atas) malah jadi panjang gini..

tapi tenang, ni akan tetap pendek mgkn sktr 4-5 chapter doank.. jd yg berharap panjang.. gomen ne

satu lagi, mw tanya.. nama dpnnya mayuzumi chihiro yang mana ya?

sekian dari tsuki.. XD

jya, mata ne

Tsuki Aizawa