*Last Episode

BRAAAK!

Tubuh kucing itu terbentur lalu jatuh ketanah.

"Tapi kau tetap TAK BERGUNA, KUCING KU!Hahahaha!" Teriak si gadis sembari melenggang pergi.

.

PLAAAK!

"Itu bukan urusan mu, Fugaku!" Samar sang ayah bisa mencium bau alcohol yang menguar dari mulut sang anak.

Setelah berucap demikian, pemuda tersebut langsung meninggalkan sang ayah tanpa rasa peduli terhadapnya.

"Dasar anak itu" gumam sang ayah.

.

SREEEK

"Waaaw! Ini mainanyang mengasyikkan!" Seru si gadis sambil menarik-narik benda panjang nan lentur tersebut yang masih menempel pada organ lainnya.

Awan hitam pun kembali berarak tertiup angin. Menghalangi pancaran sinar sang rembulan. Gadis beriris emerald itu memandang langit.

"Kurasa sudah cukup." Gumam si gadis. Ia pun melepas isi perut korban itu dengan sembarang. Lalu ia menatap tubuh korban yang setengah hancur itu.

"Karya ku. . . Lumayan bagus!" Dengan seringainya, ia meninggalkan mayat itu dengan terlantar.

.

"Ternyata lumayan juga samurai ku ini! Tapi aku belum puas menyiksa kelinciku sampai MATI!" Serunya dan kembali menyiapkan kuda-kuda.

ZRAAAASH

Pemuda itu kembali menebas kepala pria itu dengan mudah. Kepala pria itu pun putus, terpisah dari badannya.

"Hehehehe! Seru sekali! Lain kali akan ku buat lebih tragis lagi! Hahahaha!"

Pemuda itu pun tertawa dan berlari melesat pergi. Mayat pria itu tergeletak tanpa kepala. Sedangkan kepalanya berada 10m dari mayat tersebut.

.Crime on The Night

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

By : Kei EzpeluzNante

.

Rated : M (Bloody)

.

SasuSaku . NaruHina

.

WARNING! OOC. AU. BLOODY SCENE. TYPO.

.

Chapter 1

.

* in Hyuuga Mansion

.

Sang surya kini telah menampakkan dirinya, perlahan sinar keemasannya pun mulai menyinari permukaan bumi. Cahaya hangat nan silau ini perlahan masuk melewati sela-sela jendela kaca sebuah ruangan bernuansa lavenderdan putih.

Sang pemilik kamar yang masih asyik bermain di alam mimpi dan masih bergelut dengan kasur yang empuk dan spring bed yang halus ini pun perlahan mengerjapkan matanya lalu merenggangkan otot-ototnya.

"Hm, jam berapa ini?" Tanyanya entah kepada siapa, ia pun melirik jam weker yang terletak di atas meja di samping kasurnya.

Di jamnya tertera angka 06.20

"Ternyata masih pagi sekali untuk hari libur ini," Gumam sang gadis berambur indigo ini. Lalu ia turun dari karus dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah kotor.

Gemericik air pun terdengar,wangi sabun yang khas milik gadis ini pun mulai tercium. Selang beberapa menit membersihkan diri, gadis ini keluar dengan masih memakai handuk yang dililitkan ditubuhnya. Ia berjalan ke lemari pakaian yang terbuat dari kayu mahoni. Setelah memilih baju yang tepat, ia pun mulai memakainya. Gadis ini memilih kaos putih simple yang bertuliskan 'Secret Love' dan untuk bawahan, ia memakai skinny jeans ¾.Selesai berdandan, ia pun keluar dan turun menuju ruang makan untuk sarapan.

"Ohayo, Hinata-neechan!" sapa seorang gadis cilik berambut coklat sepunggung.

"Ohayo, Hanabi-chan!" gadis ini balas menyapa Hanabi.

"Nee-chan sudah sarapan?" Tanya Hanabi disertai dengan senyum.

"Hmm. Belum. Ayo kita keruang makan bersama!" Ajak Hinata sembari menggenggam tangan mungil Hanabi.

*in theDining Room

Keheningang suasana keluarga di saat sarapan pagi ini, sudah terbilang wajar. Hanya dentingan sendok dan garpu yang menjadi alunan diantara keheningan keluarga Hyuuga. Sebagai keluarga terpandang sekagus dihormati dan disegani, semua anggota keluarga Hyuuga wajib menjaga imejdan sikapmereka.

"Aku sudah selesai." Ucap Hinata membersihkan mulutnya menggunakan tissue.

DUK DUK DUK

Tiba-tiba terdengar derap langkah yang mendekat. Mereka pun mengghentikan kegiatan mereka. Dan muncul lah Bibi Rika kepala pembantu di Keluarga Hyuuga.

"Maaf Hyuuga-san, jika saya mengganggu sarapan anda. Tapi, berita ini perlu disampaikan!" ujar bibi Rika yang masih mengatur nafas akibat berlarian.

"Tak apa, bi. Memangnya ada apa?" tanya pemuda berambut coklat panjang diikat satu.

Bibi Rika menghirup nafas dalam lalu membuangnya perlahan.

"Kucing Hinata-sama ma-ma–ti" ucap bi Rika terbata.

Semua yang berada disana pun kaget. Apalagi Hinata dia merasakan hal yang tak enak.

"Sh–Sherie, M–ma–mati? Kenapa?" Hinata mulai menjatuhkan air mata.

"Ya. Kondisinya pun juga tak wajar. Kucing Hinata-sama seperti di–dibunuh" ucap bi Rika dengan wajah murung campur takut.

DEG

Perasaan Hinata makin risau. "Di–dimana dia sekarang?".

"Di taman belakang Hinata-sama" jawab Bibi Rika. Hinata langsung berlari menuju taman belakang. Yang lain juga mengikuti Hinata.

Sesampainya di taman belakang, ada Paman Riku (suami Bibi Rika) yang sedang memandang mayat kucing Hinata yang bernama Sherie tersebut.

"Sheriiee!" Hinata mulai menangis dan berlari melihat mayat kucing kesayangan nya tersebut.

"Ke–kenapa Sherie?" Hanabi yang melihat kondisi Sherie mulai menangis dan dipeluk oleh Neji, pemuda berambut coklat panjang tadi.

"Hiks... hiks..hiks., She –sheriiee!" tangisan Hinata pecah, ia tak terima kucingnya mati dengan kondisi yang mengenaskan. Perut Sherie terbuka dan matanya yang hanya sebelah. Membuat siapa pun yang melihat pasti merasa jijik.

"Sudahlah Hinata-sama. Biar aku yang urus kucing Hinata-sama ini" ucap Paman Riku menenangkan Hinata.

"Itu benar, Hinata. Lebih baik kau menenangkan diri mu di kamar." Tutur Neji.

Hinata menggeleng. Ia masih ingin melihat Sherie. Tapi, Seorang menepuk pundaknya dan ternyata Hanabi. Dengan senyum tulus adiknya, Hinata pun luluh juga. Hinata berdiri dan berpesan kepada Paman Riku.

"Baiklah aku akan ke kamar. Ku percayakan Sherie kepada mu, Paman"

"Baik Hinata-sama".

Ketika berjalan melewati Neji, pemuda itu menanyakan hal yang membuat Hinata tersentak lalu diam sejenak. Dengan pelan tapi jelas Neji menanyakan..

"Apa kau tau siapa yang membunuh kucing mu itu?"

DEG DEG

Detak jantung Hinata makin cepat dan keringat dingin pun mulai membasahi pelipisnya.

'Siapa yang membunuh?'

Kata-kata itu seakan berputar dikepalanya. Lututnya melemas dan pandangannya mengabur.

BRUUUK!

Hinata terjatuh tak sadarkan diri. Mereka yang ada disana terkaget kecuali Neji, ia hanya berakting panik dengan wajah datarnya. Ia mengangkat Hinata dengan gaya bridal styledan membawanya ke kamar Hinata.

*FLASHBACK*

BRAAAK!

Tubuh kucing itu terbentur lalu jatuh ketanah.

"Tapi kau tetap TAK BERGUNA, KUCING KU! Hahahaha!" Teriak si gadis sembari melenggang pergi.

Gadis itu melenggang pergi tak tentu arah, ia hanya menuruti arah kakinya berjalan membawanya. Dengan tangan yang masih berlumur darah dan pisau lipat yang ia bawa untuk membunuh kucing malang itu, terlihat bahwa ia menyeramkan. Ditambah penampilannya yang acak-acakan. Rambutnya kusut,dresstidur berwarna putih itu ternoda dengan cairan merah pekat walau hanya sedikit, ditambah lagi matanya…

Matanya bukan lagi beririslavender,melainkan hitam. Tak ada sedikit pun warna lain hanya hitam seutuhnya. Kini Hinata masuk ke mansion megahnya. Kakinya membawanya masuk kedalam. Pikirannya kosong, munkin ia hanya ingin membunuh siapa saja yang menghalanginya.

"Hinata!" seruan itu membuat Hinata menoleh ke asal suara. Ternyata Neji lah yang memanggilnya.

Neji pun berlari dan langsung membekap Hinata dengan saputangan yang sudah dilumuri cairan khusus. Hinata kaget dan menghirup cairan di saputangan itu. Perlahan genggaman pada pisaunya mengendur dan matanya perlahan kembali menjadi semula.

TRIIING

Pisau lipat itu terjatuh ke lantai marmer dan menyebabkan dentingan yang cukup keras. Hinata pun pingsan didekapan Neji.

"Maaf Hinata, kau bisa membahayakan yang lain" ucap Neji sedih.

Neji membawanya kekamarnya. Neji membersikan hinata dari bercak-bercak darah. Mulai dari rambutnya yang ia sisir perlahan, lalu tangan dan kakinya yang kotor berlumur darah ia usap dengan air hangat dan mengoleskan sedikit wangi-wangian, dan dressnya yang sedikit ada bercak darah ia biarkan, ia hanya menyemprotkan parfum yang biasa Hinata pakai.

"Kenapakutukanitu harus terjadi kepada mu, Hinata?" ucap Neji parau, air mata pun menetes. Ia menangis tanpa suara. Seketika ia berhenti menangis dan pergi keluar kamar Hinata.

Ternyata depan pintu sudah ada yang menunggu. Pria itu menatap Neji serius.

"Sudah beres?" Tanya pria itu.

"Sudah,Paman"

* in Uchiha Mansion

TOK TOK TOK

Ketukan pintu –err atau bisa dibilang gedoran pintu dari seorang pemuda berambut hitam panjang yang ingin membangunkan si pemilik kamar.

"Bangun kau, Brengsek! Atau kau tak kan mendapatkan jatah sarapan!" Ucap pemuda itu kasar. Pemuda itu yangbernama Uchiha Itachi ingin membangunkan adik tersayangnya.

Sang pemilik kamar perlahan membuka matanya dan menggeliat. Dalam hatinya, ia merutuki si Itachiyang mengganggu tidurnya.

"Mengganggu saja kau, Itachi!" teriak pemuda berambut raven ini yang dikenal bernama Uchiha Sasuke "Terserah pada mu, kalau kau memang tak mau dapat jatah sarapan!" ujar Itachi sembari melenggang pergi.

"Hhh… Keluarga ini sungguh tidak harmonis apa lagi terhadap diriku"Hari Sasuke terasa sakit ketika mengingat keadaan keluarga nya yang jarang –err atau bisa dibilang hampir tak pernahmemberikan kasih sayang kepadanya. Itulah yang membuat Sasuke bersikap dingin, angkuh dan tak perduli pada lingkungan sekitar.

Mungkin Sasuke bisa dibilang anak yang mengalami broken home.

.

Setelah sarapan, Sasuke pun pergi keluar. Ia tak tau akan kemana, yang jelas ia tak mau berada dalam rumah besar bagai istana itu. Sasuke ingin pergi ketempat dimana ia bisa melepaskan beban dihatinya.

Selama ia bersekolah, Sasuke tak pernah punya teman dekat. Walau pun wajahnya tampan dan dikejar oleh banyak gadis-gadis, ia tak pernah mempedulikannya. Dan tak jarang yang menyapanya dan direspon dengan tatapan yang dingin.

Setelah berjalan lumanyan jauh, ternyata kakinya membawanya ke hutan yang lebat dengan pohon-pohon tinggi. Ditenggah hutan tersebut terdapat rumah kecil yang terbuat dari kayu yang sudah lusuh. Rumah itu lebih merim gudang yang sudah tak terurus. Perlahan Sasuke pun mendekati gudang itu, tak lama kemudian ia mencium bau yang tak enak.

"Ini.. Bau amis, seperti… darah?" perlahan namun pasti bau itu makin tercium ketika Sasuke makin mendekat ke gudang tersebut.

"Bau ini makin menusuk. Dan ada bau busuk." Ucap Sasuke sembari membekap mulut dan hidungnya dengan satu tangan.

Ketika sampai dipintu gudang itu, tangannya sudah tak sabar untuk membuka pintu itu. Saat pintu dibuka suasananya pun berbeda, suasana gudang itu makin mencekam. Gelap, kotor, dan sesak. Keadaan ini membuat Sasuke agak takut. Tapi segera ia lupakan rasa takut itu, ia pun berjalan masuk.

Mata Sasuke melebar melihat apa yang ada didalam gudang itu. Walau gelap tapi benda-benda yang ada disana masih kelihatan.

"M–ma–mayat? Ba–bangkai? Tempat apa ini sebenarnya?" ucap Sasuke terbata.

Pandangan Sasuke tertarik akan benda yang berada disudt gudang itu. Panjang sedikit berkilau terkena cahaya. Sasuke berjalan mendekati benda mengkilap itu.

"Pedang? Samurai?" ternyata disana ada setumpuk benda-benda tajam seperti yang disebut Sasuke dan semua benda itu berlumur darah.

BRAAAAK!

Tiba- tiba pintu dibanting oleh seseorang, Sasuke pun kaget dan refleks memegang samurai itu.

"Siapa kau?" Tanya orang itu. Wajahnya tak terlalu terlihat, hanya rambutnya berwarna kuning emas, dan matanya berwarna sapphire.Orang itu juga membawa samurai.

"…" Sasuke tak menjawabnya. Melainkan ia menyerang orang itu.

TIIIIING

Suara dentingan dari kedua samurai yang beradu itu seakan meramaikan suasana hutan yang sunyi ini. Pertarungan sengit ini membuat mereka berdua kehabisan tenaga. Keduanya kini masih mengatur nafas masing-masing.

"Ternyata kau lumayan juga, Teme."Ucap pemuda pirang itu.

"Ck. Teme? Kau juga tak buruk, Dobe!" ujar Sasuke seraya berdiri menatap pemuda itu.

"Dobe? Aku ini punya nama, raven! Nama ku Naruto Uzumaki, ingat itu!" omel si pemuda blonde.

"aku pun juga punya nama, fox!Sasuke, Sasuke Uchiha!" balas Sasuke dengan nada yang dingin.

"Jadi, mau apa kau ketempat persembunyian ku?" Tanya Naruto sembari memasukkan samurainya kesarung pedang yang ada di pundaknya.

"Hn? Aku tak tau. Tiba-tiba kaki ku mem bawa ku kesini. Kenapa ditempat mu itu banyak sekali mayat dan bangkai?" Tanya Sasuke sambil melihat gudang itu.

"Mereka semua mainan ku. Kalau kau mau, kau boleh ikut bersama ku untuk mencari mainan baru." Ajak Naruto ia pun melangkah masuk ke tempatnya itu.

"Membunuh orang maksud mu?" Tanya Sasuke dan mengikuti Naruto. Naruto pun berhenti sejenak, Sasuke otomatis juga ikut berhenti. Lalu Naruto menoleh ke Sasuke dengan mata yang merah dan taringnya yang panjang.

"Yak kau mau ikut? Itu Sangat Menyenangkanlhoo!" ucap Naruto dengan nada yang menyeramkan.

Melihat itu, Sasuke dengan susah payah menelan salivanya. Ia menggenggam samurai itu sekuat mungkin.

"Baiklah, aku ingin mencobanya. Tapi, untuk apa kau melakukan itu?" Sasuke masih penasaran dengan motif pembunuhan yang dilakukan Naruto.

"Ini hanya untuk kesenangan ku saja. Aku sudah bosan hidup tanpa perhatian dari orang tua ku. Jadi aku melakukan hal keji seperti ini." Naruto tersenyum miris.

DEG

Hati Sasuke seperti disayat dengan silet keadaan Naruto tak jauh berbeda dengannya. Hanya saja orang tua Sasuke dan Itachi tega untuk menyakitinya.

"Asal kau tau saja fox, kehidupan mu tak jauh berbeda dari ku" ucap Sasuke dingin, namun dalam kata-katanya yang dingin tersirat rasa kecewa dan sedih.

"Oh ya? Berarti nasib kita tak jauh berbeda. Dan kau juga cocok ikut dengan ku Sasuke. Kita akanbermain-main dengan orang yang bersalah maupun tidak." Naruto tersenyum senang sedangkan Sasuke hanya memberikan senyuman tipisnya.

"Hei.. Samurai dan pedang-pedang di sana untuk apa?" Tanya Sasuke sembari menunjuk ke tumpukan yang ada di sudut gudang itu.

"Oh itu, ayah ku seorang pembuat senjata tajam dan ibu ku… seorang pelacur.Senjata itu kudapat dari ayah ku dan ibu ku.. kadang tak perhatihan." Jelas Naruto dengan nada sedih dan miris.

"Wow… Maaf untuk hal itu. Aku tak tau." Sasuke yang merasa bersalah pun meminta maaf.

"Hahaha.. Tak apa, teme. Hei! Ceritakan tentang keluarga mu!" Naruto pun duduk di atas meja yang terletak disamping pintu.

"Hn. Baiklah.." Sasuke mengambil nafas dan membuangnya.

"Mulai dari ayah ku. Beliau direktur Uchiha Corp, suatu hari perusahaan kami bangkrut. Beliau stress berat dan saat itu sampai sekarang aku yang jadi pelampiasannya. Sejak saat itu ibu ku menikah lagi dengan seorang pengusaha dan pergi meninggalkan kami. Kakak ku juga sama saja, ia selalu bermain judi. Tapi, dia sama sekali tidak diomeli atau pun ditegur oleh ayah, hanya aku yang selalu dipukuli" cerita Sasuke membuat Naruto terpaku.

"Kehidupan kita memang tak jauh berbeda, teme!" ujar Naruto .

Tak terasa mereka berbincang terlalu lama. Dan sekarang sudah larut malam. Mereka ingin menjalankan rencana mereka untuk mencari mainan.

* in the Different Places

"Sakura, kau siap untuk misi mu selanjutnya?" Tanya pria berambut putih diikat satu dan berkacamata.

"Ya tentu saja! Aku siap kapan pun!" jawab gadis berambut pink sepunggung dengan ceria.

Pria berkacamata itu pun memberikan secarik kertas yang berisikan biodata seseorang. Sakura menerima lembaran itu dan langsung ia baca.

"Baiklah, Sakura target mu sekarang adalah Danzou. Ia seorang pengusaha yang mengoleksi lukisan mahal halis karya anak didiknya"

"Hmm… Lukisan ya? Memangnya sebagus apa lukisannya? Akan ku buat lukisan ku sendiri" ucap Sakura dengan senyum licik.

"Ya itu terserah kau saja mau kau buat seperti ada dia." Ucap pria bernama Kabuto itu.

"Baiklah! aku pergi dulu!" ucap Sakura ceria. Ia pun mengghilang dari tempat itu.

*in the Gallery

"Hhhh… Walau sudah malam, pengunjung galeri masih lumayan banyak. Kalau begini aku jadi susah membunuhnya" ucap Sakura kecewa.

Sakura mengambil data Danzou, ia kembali melihat fotonya untuk memastikan yang , mana orangnya. Lalu ia menoleh kesana kemari mencari sosok Dazou.

SET

Pandangan Sakura tertuju dapa dua orang yang sedang berbincang. Pria pertama tua keriput dan punya tanda 'X' di dagu, 'Yap! Itu pasti Danzou'Sakura berteriak riang dalam hatinya.

"Permainan baru dimulai!"ucapnya dengan nada yang licik.

Pertama Sakura melakukan penyamaran dengan memakai wig pendek berwarna hitam. Lalu memakai kontak lens berwarna coklat. Penyamaran selesai. Tinggal kostumnya. Ketika ada pria yang lewat ia membuatnya pingsan…

BUAAK

Tengkuk pria itu dipukul kelas oleh Sakura. Dan ia mulai membuka jas, kemeja, dan celana. Setelah berganti pakaian. Penyamaran Sakura benar-benar sempurna. Di saku dalam jas sebelah kanan, Sakura menaruh bola asap beracun, sedangkan disebelah kiri, Sakura menaruh sejenis suriken. Dan dikantongnya adalah tempat menaruh pisau belati kesayangannya.

Persiapan selesai, Sakura pun mulai masuk. Ia berusaha bersikap sewajarnya dan tetap rileks. Sakura verjalan mendekali pria tua itu. 'Langkah pertama. Hancurkan kamera CCTV.'Sakurea pun mulai melihat kesudut-sudut atas ruangan itu. 'Hmm…1,2,3,4… Ada empat CCTV', Sakura mulai mengambil surikennya dan…

TAAAR

Kamera CCTV itu pun konslet dan rusak ada kilatan listrik ketika tertancap suriken Sakura tadi. Pengunjung pun menyadari hal itu, 'Langkah kedua, membuat pengunjung pingsan dengan bola asap ku ini'.Sakura pun mengeluarkan bola asap itu dari saku jas dalamnya. Lalu melemparkannya kepara pengunjung itu.

BLUUUSH

Sakura pun lari membawa Danzou dengan menyeret kerah jasnya. Sakura terus berlari sampai kebelakang taman galeri itu. Sakura berhenti saat Danzou berteriak.

"Hei! Stop! Sebenarnya siapa kau?" teriak Danzou.

"Hm? Tak usah banyak bicara!" ucap Sakura digin. Sakura mengambil pisaunya dan segera menusuk perut Danzou.

JLEB

"Aaaaaarrghh!" Teriakan Danzou kini mnjadi melody dikesepian ini.

"Se–sebe..narnya … mau apa kau?" kemeja dan jasnya kini menjadi merah, darah yang keluar dari perutnya cukup banyak.

"Waaah… Darah mu cukup banyak ternyata. Tapi, aku belum puas!" ucap Sakura disertai seringgai yang menakutkan.

JLEB JLEB JLEB

Tiga tusukkan didada dan perut membuat Danzou meronta-ronta. Sedangkan Sakura hanya tersenyum seolah yang ia lalukan menyenangkan.

"Waaaaaa! Stooop!" teriakkan Danzou membuat Sakura menutup telinganya.

"Aaahh! Berisik sekali kau! Suara mu itu jelek, tau! Dan wajah mu yang keriput itu membuat ku muak!"

JLEB JLEB ZRAAASH

Sakura kembali menusuk wajah dan mulut Danzou, seketika itu Danzou pun terdiam. Jelas, karena wajahnya kini hancur dan mulutnya sudah tak terbentuk lagi.

"Hhmmm… Sudah mati kah? Tapi ini masih kurang." Sakura pun berpikir, kira kira apa yang kurang darilukisan nya ini.

"Dia terlalu sipit. Aku jadi ingin melihat bola matanya." Ucap Sakura mendekati tubuh Danzou yang sudah tak bernyawa. Lalu ia berjongkok dan memegang kelopak mata Danzou.

Perlahan ia membuka kelopak matanya dan mencabut bola matanya.

PLUP

Darah mulai berceceran dan mengotori tangan Sakura. Bola mata Danzou kini berada di tangannya. Lalu ia mengematinya dan melemparnya keatas dan ia tangkap lagi, berulang kali ia melalukan itu sambil mengucapkan…

"Haaaahh… Ternyata bola matanya jelek sekali! Aku menyesal telah mencabutnya! Huh! Ku tak membutuh kannya! Buang saja aahh.." Sakura membuang bolamata itu ke sembarang tempat.

JLEB

Satu tusukan di perut itu tak Sakura cabut, melainkan ia mengoyak pisaunya diperut sang korban. Ia mengoyaknya terus sampai robekkan diperut Danzou membesar. Lalu Sakura mencabut pisaunya. Cairan merah itu terus mengalir dari tangan dan pisau yang ia pegang.

"Huuuh! Lumayan juga misi kali ini.." ucap Sakura sembari mengelap peluh dipelipisnya.

"Tangan. Tangan yang digunakan untuk melukis," Sakura tersenyum ria.

JLEB SREEEET

Sakura menusukkan pisaunya dilengan bagian atas Danzou lalu ia tarik pisau itu sampai ketelapak tangan dan Sakura juga melakukannya di tangan yang lainnnya. Darah makin banyak yang berceceran.

Pandangan Sakura kembali ke perut Danzou yang terbuka dan memperlihatkan isi perutnya.

"Ini belum sempurna."

Sakura menaruh pisaunya dan mulai memain kan perut Danzou tersebut. Mengoyaknya dengan penuh nafsu tetapi ekspresinya tetap dingin. Menarik-narik ususnya yang masih menempel dengan organ lainnya.

"Wahahahaha! Seru sekali!" Sakura tertawa riang.

Sakura kembali menarik benda panjang itu dengan keras.

PLUP

Semua organ dalam itu hapir tertarik keluar, Sakura kembali memegang benda bulat sebesar kepalan tanggan.

"Hihihi… Jantung.."Sakura kembali memencet-mencet benda lonjong itu dengan nafsu. Saking kerasnya memencet, jantung itu sampai lompat karena licin.

"Uuuhh… ini sangat licin! Tapi aku suka memainkannya!" ucap Sakura seraya mendekati jantung itu yang terjatuh agak jauh. Tiba-tiba ada bayangan yang lewat di atas kepalanya.

ZEEEP ZEEEP

"Kami melihat semua itu,Cherry"

"Hah?" Sakura pun kaget dan langsung menoleh kebelakang. Sakura tetap santai tapi ia perlu was-was.

"Boleh kami ikut bermain?" Tanya orang itu. Wajahnya perlahan terlihat terkena cahaya rembulan dan mereka mulai mendekat.

"Hm? Dare?" Tanya Sakura dingin. Ia mengarahkan pisaunya kedepan.

"Kami adalah- "

- TO BE CONTINUED -

A/N :

Gomen minna kalo jelek… -_-"a #sujud

Kita udah berusaha biar gak mengecewakan reader semua! Dan kita juga minta maaf kalo gorenya kurang HOT! Hehehe.. kita juga bingung gimana caranya biar gorenya gak monotoooon aja..

Oh ya! Sebenernya kita itu berdua, dan jenis kita cewe (?)

Hehehe maaf ya? Bingung ya nama kita juga gak mendukung. Itu kita kasih namanya buru-buru. =_="

Dan maaf kalo ada typo, males ngedit lagi sih soalnya muehehe #duagh

Buat :

hihihi-san :Arigatou! Atas pujiannya! ^_^V. Sebenernya kita berdua dan jenis kita cewe (?)

zahra :Siip! Makasih untuk pujiannya1 ni dah updet! ^^b

Pink Uchiha:Maaf ya kita gak tau kamu suka kucing.. T^T. kita juga gak tau tiba-tiba kepikirannya makasih udah nge- rivew! Arigatou!

uchiruno :Wahahaha! Makasih untuk sarannya, kita coba buat memperbaiki trus kok! ^^b. Tenang aja kok1 aku pasti mampir! ^^V.

-vent :Makasih untuk saranya~ apa ini udah cukup panjang? =.=". Ya, bener ini 2 couple. Cuma pas publish kita buru-buru. Semuanya jadi kacau deh.. :'(

karinhyuuga : Hehehe… masih sih? Ini baru prolog lhoo! #nge-flyduluan. Ada typo ya? Maaf ya kita kurang teliti. Oh ya! Jangan manggil kita 'senpai' dong~ kita kan masih baru.. ^^a.

nigRum-cHan : Ini siapa? Kita kenal? Hahaha bercanda! ^^v #piece. Kok Cuma Nina yg disebut aku nggak~? Curaaang! #gaya kaya banci! =,=a.