Summary:
Berlatar tempat di sebuah sekolah bernama Konoha, aku, Hyuuga Hinata, sang Ketua OSIS yang tidak tegaan pada akhirnya terpaksa harus berhadapan dengan kembar tiga aneh yang mendadak menjadi murid di sekolah ini. Petualangan tak terduga yang terpaksa kujalani sepertinya patut untuk kuceritakan pada kalian.
Rate:
T+ (semi M 'maybe')
Genre:
Romance
Pairing:
NaruHina, MenmaHina, and Menma(fem)Naru
Disclaimer:
Kishimoto Masashi-sensei, the best animator & mangaka eveeeerrr
So, this is it! Anonymous Hyuuga presents:
.
.
.
.
.
.
"WEIRD TRIPLETS"
PART TWO
"Jadilah pacarku. Hari ini juga!"
Seisi kantin benar-benar hening saat ini. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan dengan takut-takut, dan mendapati orang-orang yang memandangi kami dengan tatapan aneh-aneh. Mereka juga mengeluarkan berbagai ekspresi yang sanggup membuatku terpingkal-pingkal jika saja aku sedang tidak dalam keadaan terpojok seperti ini.
Beberapa tampak menganga dengan mulut penuh makanan, sehingga makanannya sedikit ke luar; ada yang sedang menguap dan menghentikan aktivitasnya secara tiba-tiba sehingga mulutnya terbuka lebar; ada yang nyengir; dan bahkan ada yang memasang wajah sakaw.
"Hey, Hinata-chan!" panggil Menma sambil mengibaskan tangan di depan wajahku.
Aku pun menoleh ke arahnya, nyengir, lalu menutup wajahku—yang mulai memerah—dengan kedua tanganku. Kurasa Menma merasa heran dengan tanggapanku, karena ia mulai menarik kedua tanganku. Dengan segera, sebagai tanggapan, aku memundurkan wajahku dan menjerit.
"Memangnya aku hantu?" tanya Menma. Suaranya terdengar tersinggung. Dengan kasar Menma menarik kedua tanganku, sehingga kini aku bisa melihatnya—dengan jelas—tengah mengerucutkan bibirnya. Aku bertanya-tanya dalam hati, pergi ke mana Menma Sang Playboy? Wajahnya tampak imut saat ini. Bahkan sangat imut. Uh, makin memerah saja wajahku ini melihat wajah Menma yang kelewat manis.
"A-ano, b-bukan be-begitu! Ak-aku malu, Menma-san!" jawabku gugup dengan berbisik.
Menma membelalakkan mata, lalu mengerutkan keningnya. "Malu? Kau malu hanya karena aku memintamu menjadi pacar?" tanya Menma dengan nada tak percaya. Aku mengangguk ragu sebagai tanggapannya. "Biasanya gadis-gadislah yang menembakku. Jarang lho aku menyuruh gadis menjadi pacarku! Dan semua gadis yang kusuruh menjadi pacar pasti akan menjerit senang dan segera mencium atau memeluk aku. Kau benar-benar aneh, Hinata-chan!"
'kusuruh'? Apa maksudnya? Jadi menurutnya pacar itu adalah suruhan? Bodoh sekali dia. Dan bodoh sekali gadis-gadis 'suruhan' itu jika langsung menjerit dan mencium Menma hanya karena 'disuruh' menjadi pacar.
"Jadi, apa jawabanmu?" Menma mendesakku, membuat aku terhenyak.
Aku memutar otakku, dan membujuknya untuk bekerjasama dengan hati nurani dan perasaanku. Tapi sia-sia, dua hal itu tidak menemukan titik temu. Otakku selalu memberikan jawaban rasional seperti aku harus menerimanya jika tidak ingin menjadi 'tersangka pembangkrutan Konoha gakuen'. Sedangkan hati nurani dan perasaanku bilang bahwa aku tidak mencintainya, sehingga aku harus menolaknya.
Akhirnya aku menghela napas dan memutuskan untuk meleburkan secara paksa jawaban yang bertolak belakang itu.
"Menma-san, a-ano, m-maaf aku belum bis-bisa m-menerimamu. Mungkin lebih b-baik jika kita m-melakukan pendekatan dulu. Go-gomen kudasai," kataku akhirnya sambil memejamkan mata, takut melihat wajah Menma yang—menurutku—sudah pasti marah.
Setelah mendengar jawabanku itu, seisi kantin mulai berdengung mengeluarkan berbagi macam tanggapan.
"Hah, aku lega Hinata-chan tidak menerima pujaan hatiku itu!"
"Akhirnya kesempatanku, untuk mendapat perhatian Hinata-san, kembali!"
"Apakah Ketua OSIS serius? Mereka padahal cocok sekali! Sangat disayangkan, ya?"
"Cih, sok jual mahal sekali si Ketua OSIS! Aku tahu ia sebenarnya mau!"
Perkataan yang terakhir itu sungguh amatlah menohok hatiku. Enak saja ia berkata demikian! Aku bukannya sok jual mahal, Bodoh! Aku memang bukan gadis murahan sepertimu!
Dengan takut-takut aku membuka mataku dan menatap Menma, mengira ia akan marah atau merajuk karena kutolak. Namun aku salah. Senyuman yang sangat lebar terpatri di bibirnya. Aku pun melongo dengan suksesnya saat melihat itu.
"Yah, sebenarnya aku sangat kecewa karena ini kali pertama bagiku ditolak seorang gadis. Tapi tak apa, aku benar-benar suka Hinata-chan, jadi aku rela menunggu sampai kapanpun juga!" seru Menma dengan berapi-api, membuat aku sweat-drop-akut-tingkat-tinggi.
Kembali seluruh 'penghuni' kantin menatap kami dengan hening. Tapi kali ini aku yakin mereka bukannya berdebar-debar, tetapi justru sweat-drop-akut seperti aku.
Seperti tidak pernah terjadi apa pun sebelum ini, Menma kembali mengajakku berbincang-bincang dengan berbagai topic baru yang mengasyikkan. Seiring dengan kembalinya kami berdua bercakap-cakap dengan 'normal', seisi kantin pun seakan lupa dengan kejadian sebelum ini.
Tanpa sadar, pandanganku mengedar, dan aku mendapatkan sosok laki-laki bertubuh tinggi dengan rambut kuning jigrak tengah tersenyum lebar kepadaku. Ia melambaikan tangannya dan aku tersenyum sebagai tanggapannya. Laki-laki itu tampak sangat menarik perhatianku, sehingga tanpa sadar aku tidak mengabaikan Menma yang sedari tadi mengoceh. Entah mengapa, laki-laki yang tak lain adalah Naruto itu sanggup membuatku menatapnya lekat-lekat tanpa melepas pandang. Ah, sepertinya aku lebih tertarik padanya dibandingkan pada Menma.
-ooo-
"Gomen na sai, Menma-san," ujarku sambil berusaha menyejajarkan langkahku dengannya yang tengah berjalan cepat di depanku. Aku menghela napas. Menma ngambek karena aku tidak mengabaikannya tadi. Aku pun terus berjalan cepat menyusul Menma, sehingga aku tidak sadar Menma menghentikan langkahnya, membuat aku menabrak punggungnya.
Tiba-tiba Menma berbalik badan. Aku mendongak menatap matanya, dan sorot mata playboy itu pun kembali lagi. Ia mencengkeram kedua bahuku, merapatkan tubuhku ke sisi tembok. Aku memejamkan mata, dan merasakan pipiku memanas. Dengan takut-takut aku membuka mataku, dan mendapati wajah Menma yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahku. Ia tampak memejamkan mata sembari memiringkan kepalanya.
Hampir beberapa senti lagi bibir Menma menyentuh bibirku, dan Dewi Fortuna menyelamatkanku!
"Hinata-chan! Bantu aku membangun tenda untuk stan pameran, ya!"
Menma segera menjauhkan tubuhnya dari tubuhku, dan menoleh ke asal suara seperti halnya aku. Aku menghela napas lega saat melihat Sakura, yang sedang bersama Sasuke, tengah berdiri di dekatku sambil tersenyum membujuk. Aku tahu arti senyuman itu. Untung saja aku sering disuruh-suruh. Jika tidak, sudah dapat dipastikan ciuman pertamaku direnggut oleh Menma!
Laki-laki di depanku memberenggut kesal. Ia menarik tangannya lagi dan mengerucutkan bibir. Aku terkikik geli melihatnya. Sekarang aku sudah tahu kebiasaan Menma jika sedang merajuk. Ia pasti akan mengerucutkan bibir dan menampakkan wajah super cute.
"Gomen ne, Menma-san. Aku harus membantu Sakura-chan!" kataku sambil tersenyum ringan.
"Tapi kau harus membayar untuk itu," sahut Menma—cepat-cepat memperbaiki ekspresinya—sambil memasang senyuman menggoda yang membuat darahku mendesir. Ia mencolek daguku dan pergi meninggalkan aku dengan Sakura dan Sasuke.
"Ayolah, Hinata-chan!" kata Sakura tidak sabar sambil menarik lenganku. Aku pun mengangguk pasrah dan mengikuti Sakura—sebenarnya—dengan enggan.
Sasuke berjalan di sampingku—agak di belakang. Aku mendapati Sasuke tengah memandangku, dengan pandangan-entah-apa, melalui ekor mataku, namun aku memilih untuk tidak menghiraukannya.
"Nah. Pasanglah itu! Aku ingin berjalan-jalan bersama Sasuke-kun!" kata Sakura akhirnya saat kami tiba di pekarangan luas tempat pameran sekolah di laksanakan. Aku membelalakkan mata. Apa-apaan ini? Anak buah memperbudak ketua?
Aku hendak memprotes, namun Sakura segera berjalan menghampiri Sasuke tanpa memedulikan aku. Perasaan kesal menghampiri diriku. Bahkan sempat terbersit dalam pikiranku, sebaiknya ciuman pertamaku direbut Menma daripada aku harus diperbudak oleh anak buahku sendiri. Tak terasa air mata mulai menggenangi pelupuk mataku. Memang sudah menjadi kebiasaanku jika sedang sangat kesal, aku akan menangis.
Samar-samar aku melihat Sasuke menoleh ke belakang dan—sepertinya—memandang aku. Ia lalu menghentikan langkahnya dan berkata pada Sakura, "Kau harus membantu Hinata-san, Sakura-koi!"
Aku pun segera mengusap air mataku, yang belum sempat jatuh, dengan kasar.
Sakura terlihat memberenggut kesal. "Sasuke-kun membela Hinata-chan?" tanya Sakura dengan alis mata saling bertautan.
"Tidak. Bukan begitu! A—"
"Ah, sudahlah!" Sakura menyentakkan tangan Sasuke dan berjalan cepat menjauhinya.
Tampak dengan jelas Sasuke jadi serba salah. Di satu sisi ia ingin membelaku, namun di sisi lainnya ia tidak ingin bermusuhan dengan kekasihnya. Ia menatapku cukup lama, lalu ia bergumam pelan, "Gomen ne, Hinata-san."
Aku memaksakan senyuman, lalu mengangguk pelan. Setelahnya, Sasuke berlari mengejar Sakura, meninggalkan aku yang hanya bisa menghela napas panjang. Aku segera membalikkan tubuhku dan mengambil satu ujung kain terpal yang tergeletak di tanah. Baru saja aku hendak mengangkatnya, aku sudah merasa lelah karena kain terpal itu cukup berat, dan harus diangkat kira-kira tujuh orang Hinata.
Dengan perasaan bercampur aduk, aku menunduk memandangi kain terpal itu. Memikirkan siasat untuk mengangkat kain itu seorang diri tanpa kesulitan. Namun aku menyerah dan segera terduduk pasrah.
"Jangan cepat menyerah!" ujar seseorang sambil menepuk kepalaku dari belakang. Aku segera mendongak dan mendapati seorang laki-laki tengah tersenyum ramah kepadaku. Kemudian ia berjongkok di belakangku dan menepuk kedua pundakku. "Mari kubantu!"
Aku pun dibantu berdiri olehnya. Setelah mengucapkan terimakasih dan mengibaskan debu dari rokku, aku baru sadar bahwa laki-laki itu adalah Naruto. Entah apa yang terjadi, aku merasakan pipiku menghangat dan detak jantungku tidak keruan. Namun dengan segera aku menggelengkan kepalaku untuk mengenyahkan perasaan aneh itu.
Naruto mulai mengangkat salah satu ujung terpal, yang tadi sempat akan kuangkat, dengan mudahnya. "Ini diapakan?" tanyanya.
Aku memberi tahukan apa yang harus diperbuat, lalu dengan antusias Naruto mengangguk. Ia pun benar-benar membantu aku membangun tenda itu. Dan tanpa diduga-duga, Naruto yang tampak konyol dan murah senyum itu nampaklah sangat serius saat sedang membantuku. Ia menampakkan sisi lain wajahnya yang—ah—sangat tampan. Tanpa sadar, aku terus menerus menatap wajahnya, sehingga pekerjaanku terabaikan, dan membuat aku kehilangan kewaspadaan.
"Awas, Hinata-san!" seru Naruto saat kain terpal yang belum terpasang benar mulai jatuh menimpa diriku.
Aku memebelalakkan mata dan terjatuh sambil memejamkan mata. Namun tanpa diduga-duga, kain terpal itu sama sekali tidak menyentuh aku. Aku membuka mataku, dan mendapati Naruto tengah memposisikan dirinya di atasku sambil menghadapku, dengan kedua tangan di kedua sisi kepalaku. Wajahku memanas sekali saat itu, terlebih karena menyadari kami berdua benar-benar diselimuti kain terpal.
"Kau tak apa-apa 'kan, Hinata-san?" tanya Naruto dengan nada khawatir.
"I-iya. Go-gomen ne, Na-Naruto-san," kataku dengan sangat gugup, "Do-doumo arigatou."
Naruto tersenyum mendengar jawabanku. Kupikir ia akan segera berdiri dan membantu aku berdiri juga. Namun ternyata ia hanya diam sambil memandangi wajahku dengan sangat intens. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kali ini aku tidak takut seperti saat Menma hendak menciumku. Aku hanya memejamkan mata, sambil agak berharap Naruto benar-benar menciumku. Dan benar saja! Naruto mendaratkan bibirnya di bibirku! Ah, aku senang sekali! Ups, apa-apaan kau ini, Hinata?
Cukup lama kami berciuman. Dapat kurasakan napasnya menghembus di wajahku. Aku benar-benar pasrah saat ini. Aku rela bila Naruto menciumku! Bodoh, bukan? Aku bahkan sama sekali belum mengenalnya, tetapi aku segera saja merelakan ciuman pertamaku padanya. Kemudian, setelah beberapa detik, Naruto menjauhkan wajahnya, membuat aku merasa kecewa ia menghentikan ciumannya. Namun kekecewaan itu tak berlangsung lama, karena kenyataan menyenangkan itu benar-benar menabrakku. Ciuman pertamaku jatuh ke bibir Naruto. Di bawah terpal bau ini.
-ooo-
Sisa hari yang kulalui di sekolah hari ini benar-benar kuhabiskan dengan keceriaan yang tidak biasa. Yah, pasti teman-teman yang membaca ini tahu aku ceria karena apa. Tetapi yang tahu itu—selain teman-teman—tidak ada selain aku dan Naruto! Bayangkan, Naruto menyuruh aku merahasiakan hal ini dari yang lain. Senang sekali memiliki hal yang dirahasiakan berdua!
"Hinata-san, cepat sekali kau membangun tenda itu!" kata Sai dengan kagum. Aku hanya tersenyum lebar penuh arti. Tentu saja Naruto juga tidak memperkenankan aku memberitahu bahwa Naruto-lah yang membangun tenda itu.
"Hinata-chan pakai ilmu apa?" tanya Ino—pacar Sai—sambil menggaruk-garuk kepala dengan heran.
Aku hanya terkekeh geli dan menjawab, "Biasa saja, ah!" pandanganku teralih pada Sai, lalu aku segera berkata padanya, "Bantu aku membuat brosur, ya?"
"Baiklah, Hinata-san," sahut Sai sambil tersenyum—seperti biasa.
"Berdua saja?" tanya Ino sambil memberenggut.
Aku mengibas-ngibaskan tanganku dan berkata, "Ah, tentu tidak. Kau boleh ikut jika mau!"
Ino pun akhirnya setuju, dan kami bertiga berjalan bersama-sama ke perpustakaan untuk membuat brosur pameran sekolah. Di depan perpustakaan, aku melihat Naruko yang menatapku dengan pandangan tak suka. Aku berhenti sejenak sambil mengerutkan keningku.
Tanpa di sangka, Naruko berjalan mendekatiku. Ia tersenyum meremehkan dan berkata dengan sengit, "Kuharap kau menjauhi Menma-kun!" Setelahnya ia pergi meninggalkan aku yang terheran-heran.
Ada beberapa pertanyaan yang akhirnya timbul di benakku. Pertama, memangnya mengapa jika aku dekat dengan Menma? Mengapa ia harus melarangku, padahal ia adalah saudara kembarnya? Kedua, apa-apaan dengan suffix '-kun' untuk Menma dari Naruko?
-ooo-
"Hinata-chaaan!" Menma berseru sambil memelukku dari belakang. Suaranya cukup keras saat itu, sehingga seisi ruangan perpustakaan mendelik ke arahnya, namun segera membungkam mulutnya saat sadar yang berisik adalah Menma.
Aku berjengit saat kurasakan napasnya berhembus di tengkukku.
"Menma-san!" aku berseru dengan suara berbisik.
"Kau sedang apa?" tanya Menma sambil mengecup pipiku, membuatnya memanas tentunya.
"B-bukan urusanmu. Sudah sana pergi! Aku sedang sibuk!" tukasku cepat sambil melepas paksa pelukan Menma. Aku memang sedang sibuk saat ini. Terlebih lagi aku tidak ingin terlibat masalah dengan Naruko yang sudah memperingati aku agar tidak dekat-dekat saudara kembarnya yang satu ini. Jujur saja, kalau boleh memilih aku memang tidak ingin berdekatan dengan Menma dan lebih baik dekat dengan Naruto. Tetapi mau bagaimana lagi? Menma terlalu ngotot untuk mendekatiku!
"Kau kenapa sih, Hinata-chan? Kau habis ciuman ya?" tanya Menma sekenanya, namun pas sekali kena hatiku.
"Dari mana kau tahu?" tanyaku tanpa sadar dan segera menutup bibirku dengan kedua tangan. Sai dan Ino pun menatap aku dengan pandangan mata terbelalak. Mereka tak menyangka Ketua OSIS mereka yang cukup polos ini sudah berciuman dengan laki-laki.
Menma terdiam sejenak. Ia menarik aku untuk ke luar dari perpustakaan. Setelah kami berada di depan pintu perpustakaan bagian luar, Menma menahan aku di antara dinding dengan dirinya dengan menyentuh bahuku.
"M-Menma-san… k-kau mau apa?" tanyaku takut.
"Kau berciuman dengan siapa?" tanya Menma dingin. Aku takut sekali melihat matanya saat ini. Ia terlihat tidak seperti Menma yang biasanya.
Aku bungkam tak juga menjawab pertanyaan Menma. Aku justru memalingkan wajahku agar tidak melihatnya. Haruskah aku memberitahunya?
Menma menarik paksa daguku sehingga otomatis aku kembali menatap wajahnya. Ia mencium bibirku secara paksa. Aku memberontak namun sia-sia saja. Setelah itu ia melepaskan ciumannya dan bertanya hal yang sama lagi, dan lagi-lagi aku tidak menjawabnya. Menma kembali mencium bibirku dengan kasar.
"Jawab aku!" bentak Menma dengan emosi. Mengapa aku harus menjawabnya? Memangnya ia ada hak apa untuk memaksaku menjawabnya? Dan memangnya ia punya hak apa untuk cemburu atau semacamnya? Lama aku tak menjawab, Menma kembali mencium aku, namun kini aku segera menarik diri darinya.
"Lepaskan aku!" seruku sambil meronta-ronta namun sia-sia. Menma semakin erat mencengkeramku membuat aku tak berdaya.
"Kau harus menjawabku dulu," desis Menma tajam.
Aku membuang pandang dan berkata dengan sedikit berdusta, "Aku berciuman dengan sepupuku. Sekarang lepaskan aku."
Menma benar-benar melepas cengkeramannya, dan aku segera mengusap-usap bahuku yang terasa sangat sakit. Laki-laki di depanku menatap aku dengan mata hitamnya dan bertanya, "Siapa nama sepupumu? Biar kuhajar dia!"
"Hey, apa-apaan kau ini? Aku—aaaah!" perkataanku terputus karena Menma segera menarik aku entah ke mana.
"Dia bersekolah disini, 'kan? Kelas mana?" tanya Menma.
Aku ragu-ragu sejenak dan berkata pasrah, "Kelas 3-4."
Tanpa banyak bicara, Menma menggeret aku menuju kelas 3-4, dan melongokkan kepalanya ke dalam. Aku berdoa dalam hati, berharap Hyuuga Neji—sepupuku—akan membantuku.
"Yang mana orangnya?" tanya Menma dingin. Dengan spontan aku menunjuk sepupu laki-lakiku yang berambut hitam kecoklatan yang tengah memunggungi kami. Menma pun dengan geram berderap ke dalam kelas yang masih banyak orangnya itu. Dengan kesal Menma menarik kerah baju Neji dan menariknya ke luar kelas.
"Hey, apa-apaan ini?" tanya Neji kesal. Ia menepis tangan Menma dan melotot ke arahnya.
"Kau mencium Hinata-chan ya?" tanya Menma langsung to the point.
Neji menoleh ke arahku, dan hanya kubalas dengan cengiran. Kurasa Neji mengerti karena ia segera memutar bola matanya dan beralih pandangan pada Menma.
"Memangnya kenapa, hah?" tanya Neji galak.
"Aku tidak suka!" jerit Menma tak sabar. Wajahnya memerah karena marah. Sungguh aku sebenarnya agak merasa tersanjung juga ada orang yang sebegitunya menyukaiku hingga seperti itu.
Neji tersenyum jahil dan mulai memanas-manasi Menma, "Yah, bibir Hinata-chan sangat manis, lho!"
Aku ingin tergelak saat ini juga, karena Neji sama sekali belum pernah menciumku sekalipun di pipi, terlebih karena melihat wajah Menma yang benar-benar memerah karena kesal.
Menma melayangkan tinjunya ke wajah Neji namun sepupuku segera mengelak sehingga tinju Menma mendarat di tembok.
"Ah!" rintih Menma kesakitan.
"Sudahlah, Menma. Ayo pergi," kataku untuk melerai mereka yang mungkin saja akan bertengkar. Tanpa banyak bicara Menma segera menyetujui aku dan segera berjalan mendahului aku setelah sebelumnya mengancam Neji. Aku menoleh ke arah Neji, mengecup pipinya dan berbisik, "Arigatou, Neji-nii."
Sebelum benar-benar berbalik badan, aku menangkap rona merah di pipi Neji. Ah, kakak sepupuku itu manis sekali!
-ooo-
"Huaaahhmm!" aku menguap sambil merengangkan otot-ototku. Sambil mengerjap-ngerjapkan mata, aku mendudukkan diriku di atas tempat tidur.
Dengan enggan aku turun dari tempat tidurku karena melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Hari ini aku benar-benar malas ke sekolah. Malas karena harus mengerjakan tugas OSIS yang sangat menumpuk karena pameran sekolah akan berlangsung tiga hari lagi. Dan terlebih karena aku harus bertemu dengan Uzumaki Menma dan Uzumaki Naruko. Ah!
"Ohayou gozaimasu!" kataku, saat sudah keluar kamar, pada Neji yang baru saja keluar dari kamar mandi. Aku membelalak saat melihat ia bertelanjang dada. "Aaaah, Neji-nii! Pakai bajumu!"
"Heh, memangnya kenapa? Aku kan laki-laki, Bodoh!" kata Neji sambil memukul pelan kepalaku.
Aku pun menyadari kebodohanku, dan mulai menggaruk-garuk kepala dengan salah tingkah lalu terkekeh. Lalu, tanpa berkata-kata lagi, aku segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
-ooo-
"Ohayou!" kataku dengan senyum lebar dan mata berbinar-binar. Setelah aku mencium pipi Ayah dan mengacak rambut Hanabi—adikku, aku duduk di salah satu bangku di sebelah Neji. Kemudian aku mengambil makanan yang sudah tersedia di atas meja.
"Kau sepertinya hari ini sangat bersemangat, Hinata-chan," kata Ayah setelah menelan makanannya. Wajahnya terlihat bingung.
Aku mengunyah makanku dan bergegas menelannya. Setelahnya aku menjawab Ayah, "Justru kebalikannya, Tou-san."
"Tetapi Hinata-nee terlihat ceria sekali," kata Hanabi sambil tetap berkutat pada makanan di hadapannya.
"Ohya? Entahlah," timpalku acuh tak acuh.
Kami kembali makan dalam diam, karena sudah menjadi kebiasaan keluarga Hyuuga untuk tidak banyak berbicara selama berada di meja makan. Dan aku sudah cukup terbiasa dengan itu, sehingga jika ada yang terlalu banyak berbicara saat sedang makan, aku akan merasa sangat risih.
Sesaat setelah keheningan kami, Neji berkata, "Ji-san, hari ini aku saja yang mengantar Hinata-chan."
Aku menoleh bingung ke arahnya, namun Neji segera memandangku dengan penuh arti, dan hanya kusambut dengan kikikan geli.
"Tak biasanya kau mau mengantar Hinata, Neji," Ayah berkata sambil mengelap mulutnya, dan mendorong mangkuknya yang sudah kosong.
"Um, tak apa-apa, Ji-san. Hanya sedang ingin," sahut Neji sambil cengengesan.
"Kurasa Neji-nii punya maksud terselubung," kataku sambil terkikik, membuat Ayah dan Hanabi terheran-heran.
Memang selama ini aku tidak pernah berangkat bersama Neji sekalipun kami tinggal satu rumah. Aku biasanya akan diantar Ayah sekalian mengantar Hanabi, sedangkan Neji akan naik mobilnya sendiri menuju sekolah. Mungkin banyak yang bertanya-tanya mengapa ia tidak pernah mengantar aku padahal kami satu rumah. Tetapi aku tahu alasannya. Neji tidak ingin kembali mencintaiku.
Ya. Benar. Neji pernah sempat mencintaiku selama beberapa bulan pertama ia tinggal di rumahku, saat kedua orangtuanya meninggal. Namun tiba-tiba ia tersadar bahwa kami bersaudara, sehingga ia memutuskan dengan cepat perasaannya itu. Mungkin saja jika kami tidak saling menjaga jarak, aku pun sudah jatuh cinta padanya.
"Sudah selesai. Ayo Hinata-chan, kita berangkat!" kata Neji sambil berdiri.
"Oke! Jaa mata!" kataku sambil menyambar tasku yang kuletakkan tak jauh dari meja makan, lalu melambaikan tangan dan berlari ke luar rumah.
Sesaat setelah masuk ke dalam mobil sedan berwarna putih milik Neji, aku segera memasang sabuk pengaman dan memposisikan diriku senyaman mungkin.
"Aku tidak sabar melihat tanggapan Menma," kata Neji sambil menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya.
"Kau benar-benar jahat, Neji-nii!" kataku sambil tertawa geli.
"Ini semua gara-gara kau, Hinata-chan," dengus Neji, lalu ia tertawa.
"Gomen ne, Neji-nii. Saat itu aku hanya memikirkan namamu," aku menjelaskan.
Neji mengerutkan kening tidak mengerti, lalu ia bertanya, "Memangnya ada apa?"
"Ah, i-itu, Menma bertanya padaku siapa yang merebut ciuman pertamaku, dan aku bilang 'sepupuku'," jelasku lagi sembari menggaruk tengkuk, salah tingkah.
"Aku ternyata sangat berpengaruh dalam kehidupanmu, ya?" tanya Neji sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku, dan aku hanya diam sambil tersenyum salah tingkah.
Kami berdua pun berbincang-bincang selama perjalanan. Padahal aku adalah tipe orang yang tidak begitu banyak bicara, dan Neji juga adalah orang yang cukup serius. Tetapi jika kami sedang berdua, apapun dapat kami perbincangkan. Mulai dari berita kriminal yang kerap kali muncul di televisi, hingga gosip terhangat di sekolah kami.
Akhirnya mobil kami sampai di depan sekolah. Niat Neji yang sebenarnya adalah membuat Menma marah dan cemburu, tetapi ternyata kami berangkat terlalu pagi, sehingga sekolah masih sepi, dan belum banyak yang datang.
"Sepertinya kita terlalu pagi," kata Neji sambil menggaruk tengkuknya.
"Ya. Uzumaki bersaudara itu kurasa akan datang agak telat," timpalku menyetujui.
"Hah, yasudahlah pulang nanti aku akan membayar ini," ujar Neji sambil menyeringai. "Sudah sana turun. Aku ingin memarkir mobil."
Aku pun mengangguk dan segera turun dari mobil, lalu berlari menuju gedung sekolah. Dan seperti biasa, saat aku melewati koridor sekolah, beberapa anak yang sudah datang sibuk menyapaku, dan terkadang beberapa tampak senang sekali saat kusapa balik.
Setelah itu, aku bergegas menuju kelasku, meletakkan tasku di laci meja, dan duduk di bangku dekat jendela, sehingga aku bisa melihat keadaan di luar. Dalam diam aku memandang ke luar jendela, menikmati semilir angin sejuk yang membelai wajahku. Aku menyandarkan kepalaku pada bingkai jendela sembari tetap melempar pandang pada jalanan sepi di lantai bawah. Kulihat sudah mulai banyak murid-murid Konoha yang datang. Tetapi masih tidak cukup untuk memenuhi sekolah raksasa ini.
Suasana pagi hari yang masih agak sunyi pun dipecahkan oleh deru halus mesin mobil di ujung jalan. Aku menegakkan tubuhku, dan senyuman kecil terpatri di bibirku ketika samar-samar melihat kepala berwarna kuning di dalam mobil limo yang baru saja berhenti di depan pagar sekolah.
Tak lama, tiga sosok remaja keluar dari dalam mobil itu.
Yang pertama, satu-satunya yang berambut hitam keluar dengan gaya cool. Ia membalikkan badan dan, entah karena apa ia mengetahui keberadaanku, ia mendongak dan menatap aku dengan cengiran lebar sembari mengedipkan sebelah matanya, dan hanya kubalas dengan senyuman. Ia pun berjalan ke dalam gedung sekolah, dan terdengar seruan dari beberapa siswi yang sudah datang.
Yang kedua, satu-satunya yang berjenis kelamin perempuan keluar dengan gaya angkuh. Ia membalikkan badan dan mengikuti arah pandangan Menma. Gadis itu pun membuang muka dan berjalan acuh tak acuh, dan aku tidak peduli. Lalu terdengarlah suara seruan dari siswa laki-laki yang sudah datang.
Yang ketiga, satu-satunya dari Kembar Uzumaki yang kusuka. Ia melirik sejenak kepadaku, lalu ia sibuk celingukkan untuk memastikan tak ada orang. Setelah—mungkin—ia merasa aman, ia kembali mendongak ke arahku dan tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya, sambil melambaikan tangan dengan bersemangat, dan kubalas dengan lambaian tangan dan senyuman yang tak kalah lebarnya.
Kemudian ia berjalan ke dalam gedung sekolah dan seruan ketiga yang terdengar lebih keras pun terdengar dari lantai bawah. Aku tersenyum mendengarnya. Ah, betapa kerennya ia mempunyai banyak penggemar yang lebih terkesan universal dari pada penggemar Menma atau Naruko.
"Hinata-chan!"
Aku tersentak saat mendengar seruan yang sudah tidak asing lagi itu. Aku pun mendongak dan mendapati Menma yang tersenyum miring padaku tengah memegang tasnya yang disampirkan di pundaknya. Ia berjalan mendekatiku dan mengerutkan keningnya saat menyadari aku tidak duduk di tempat kami.
"Kau sudah pindah tempat duduk?" tanya Menma setengah memberenggut.
"Ti-tidak, Menma-kun. Aku ha-hanya ingin melihat k-ke luar jendela," jawabku sambil tersenyum.
"Oh, begitu," sahut Menma sambil manggut-manggut. Ia pun meletakkan tasnya di atas mejanya, dan kembali berjalan ke arahku. Ia berdiri tepat di belakangku yang tengah duduk menghadap jendela. Setelahnya ia menyentuh kedua pundakku dan sedikit menunduk, sehingga dapat kurasakan napasnya membelai telingaku. "Aku sangat berharap kau menerimaku, Hinata-chan," bisik Menma, lalu ia mencium daun telingaku.
Kurasakan darahku mendesir. Wajahku memanas sekali saat ini.
"M-Menma-kun…" ujarku lirih.
"Kau mau terima aku, 'kan?" tanya Menma sambil memaksa aku menghadap ke arahnya.
Mau tak mau kepalaku memutar menghadap wajahnya. Ia memandangku dengan sangat intens. Kurasakan darahku mendesir menatap mata hitamnya yang tampak tidak alami itu. Ia mulai mendekatkan wajahnya padaku, sedang aku yang sudah terpojok pun hanya memejamkan mata sembari meminta pada Tuhan agar Menma tidak sempat menciumku.
"Maaf, Hinata-chan, kau dipanggil Tsunade-sama!"
Aku menghela napas lega saat kudengar suara Sai yang memanggilku. Menma pun secara otomatis menjauhkan dirinya dari diriku. Aku melihat Menma yang tengah memberenggut dengan kesal karena rencananya untuk menciumku gagal untuk yang kedua kalinya.
"Gomen ne, Menma-kun. Sumimasen," aku berkata sembari beranjak dari tempat dudukku.
"Jawab aku setelah kau kembali," kata Menma sambil menarik tanganku untuk menahan aku.
"T-tapi…" aku segera membungkam mulutku saat Menma melepaskan tanganku dan beranjak pergi. Aku pun hanya mengangkat bahu dan berjalan ke pintu untuk menghampiri Sai.
-ooo-
"Ohayou gozaimasu, Tsunade-sama. Ada perlu apa memanggil saya?" tanyaku dengan sopan sesaat setelah aku dipersilakan masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.
"Kau tahu bukan, tiga hari lagi pameran klub sekolah akan dilaksanakan?" tanya Tsunade-sama, membuat hatiku mencelos karena itu artinya kesibukanku hari ini benar-benar dimulai.
"I-iya," timpalku.
"Aku ingin kau mempersiapkannya bersama tim OSIS yang lain. Hari ini kalian diberi dispensasi untuk tidak mengikuti pelajaran. Tetapi, paling tidak delapan puluh lima persen persiapan harus sudah siap hari ini," kata Tsunade-sama dengan nada menuntut.
Benar, 'kan?
"Yasudah, sekarang kau boleh keluar dan panggil semua pengurus OSIS untuk menjalankan tugas masing-masing," lanjut Tsunade-sama sembari membereskan berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
"I-iya. A-arigatou," kataku sambil membungkukkan badan dan berjalan keluar ruangan.
"Bagaimana?" tanya Sai, yang menungguku di depan ruangan, sesaat setelah aku menutup pintu. Aku terkejut karena Sai menegurku secara tiba-tiba. "Eh, kau terkejut? Gomen ne," sahut Sai sambil menggaruk tengkuknya.
"A-ah, t-tidak apa-apa," ujarku sambil tersenyum, lalu aku menjawab Sai dengan lesu, "Tsunade-sama bilang aku dan pengurus OSIS yang lain harus mengerjakan delapan puluh lima persen persiapan untuk pameran klub sekolah tiga hari lagi."
"Oh, baiklah. Aku akan membantumu memanggilkan seluruh pengurus OSIS yang sudah datang, dan kita akan mengerjakannya bersama. Kau tenang saja," kata Sai sambil tersenyum ramah.
"A-ano, t-tapi b-bagaimana dengan I-In—"
"Oh, soal Ino? Tenang, aku akan mengurusnya. Kalau perlu aku bisa mengajaknya ikut serta. Kau tidak keberatan, bukan?" tanya Sai dengan sangsi.
"Keberatan? Kau bercanda? Semakin banyak yang bekerja, semakin ringan pekerjaannya!" timpalku cepat, "Ah, ngomong-ngomong, terimakasih, ya?"
"Tak masalah. Ah, kau panggil dari kelas satu, dan aku memanggil dari kelas dua, ya?" kata Sai.
"Hai!" sahutku bersemangat. Mendengar Sai akan membantu pekerjaan OSIS, semangatku kembali seperti semula.
Sai pun berbalik badan dan pergi setelah sebelumnya tersenyum ramah padaku. Kemudian, dengan langkah ringan, aku menghampiri satu persatu ruangan kelas satu untuk memberitahu pengurus OSIS soal pekerjaan hari ini.
-ooo-
Pekerjaanku hari ini ternyata lebih dari berat. Tak hanya satu atau dua yang meminta bantuanku, tetapi hampir semua pengurus OSIS melimpahkan sebagian besar pekerjaan mereka kepadaku. Dan seperti biasa, aku tidak bisa menolak karena—kalian tahu—aku adalah orang yang tidak tegaan.
Mereka seperti tidak berperasaan, karena mereka menyuruhku tanpa melihat waktu yang tepat. Sebagai contoh, saat aku sudah duduk di pinggir tanah lapang, seorang adik kelasku mendatangiku sembari membawa beberapa peralatan pertukangan. Aku menghela napas dan berpikir, Pekerjaan datang, Hinata.
"Hinata-senpai, tolong—"
"Gomen ne, Konohamaru. Aku lelah," timpalku cepat sebelum adik kelasku yang bernama Konohamaru itu meminta bantuanku.
"Tapi, Hinata-senpai, aku harus melakukan pekerjaan lain," Konohamaru bersikeras.
"Tidak," aku menjawab cepat.
"Tapi—"
"Kalau kubilang tidak, ya tidak! Mana perasaanmu, hah? Dari tadi kalian selalu melimpahkan pekerjaan kalian padaku! Memangnya aku ini apa?" aku menunjuk Konohamaru sambil berdiri, "Asal kau tahu, seharusnya aku yang memerintahmu!" tanpa sadar aku membentak Konohamaru yang membelalak. Tak menyangka seorang Hyuuga Hinata yang biasanya terlihat lemah mendadak menjadi galak. Aku mengedarkan pandangan dan mendapati seisi tanah lapang terpaku menatap aku. Aku pun terduduk kembali dan berkata dengan berbisik, "Gomen na sai. Aku hanya lelah."
Setelah itu, dengan lesu aku berjalan masuk ke dalam gedung sekolah, dan pergi ke kelasku dengan langkah tersaruk-saruk. Sepertinya aku memang butuh pelajaran untuk mengistirahatkan tubuhku yang benar-benar sudah menjadi mesin-tak-kenal-lelah-nya pengurus OSIS. Pelajaran? Mengapa harus pelajaran? Ya, itu keanehanku. Dengan belajar, tubuhku bisa menjadi segar kembali. Yah, memang otakku tidak menjadi segar. Justru semakin suntuk.
Aku mengetuk pintu kelas dan membukanya.
"Permisi, Kakashi-sensei. Bolehkah aku belajar?" tanyaku seperti orang setengah sadar. Energiku benar-benar terserap habis.
"Belajar saja meminta izin. Kau aneh sekali," kata Kakashi-sensei sambil berjalan mendekatiku. Ia mencubit pipiku, namun karena sudah tidak memiliki kekuatan untuk berteriak 'senseeeeeei' seperti biasanya, aku hanya diam seperti orang sakaw.
Tubuhku mulai limbung dan hampir saja terjatuh. Tetapi dengan cepat, Menma yang semula duduk sambil menatapku cemas pun berjalan ke arahku dan menahan tubuhku yang hendak jatuh.
"A-arigatou, Menma-kun," kataku lesu.
"Kau sebaiknya ke ruang kesehatan. Aku tidak mau kau sakit," bisik Menma cemas.
"Ah, t-tidak apa-apa. Dengan belajar, d-dijamin energiku akan pulih," jelasku setengah bergumam.
Akhirnya Menma pun hanya menghela napas dan mengangguk. Kemudian ia berjalan ke tempat duduk kami sambil memapah aku yang benar-benar sudah tak punya tenaga. Seisi kelas menatap kami—lagi-lagi—dengan berbagi pandangan yang sudah tak perlu kujelaskan lagi macamnya.
"Bisa kita mulai lagi pelajarannya?" tanya Kakashi-sensei sesaat setelah menutup pintu dan kembali berdiri di depan papan tulis.
Sepanjang pelajaran, aku mendengarkan dan menuliskan yang diucapkan Kakashi-sensei dengan giat. Aku memperhatikannya dengan sungguh-sungguh tanpa sekalipun mengalihkan perhatian kepada Menma yang memanggilku untuk meminta jawaban pernyataan cintanya. Dan benar saja, hal itu membuat energiku kembali seperti sediakala.
-ooo-
Bel istirahat berbunyi. Aku pun bersiap-siap untuk kembali melakukan persiapan untuk pameran klub sekolah tiga hari yang akan datang. Baru saja aku hendak melangkah keluar kelas untuk melakukan itu, Menma menahan pergelangan tanganku. Aku pun menatapnya dengan heran.
"Jangan pergi dulu! Kau harus makan. Aku tidak mau kau kewalahan seperti tadi," ujar Menma dengan nada khawatir yang ia sembunyikan. Ah, sungguh hatiku benar-benar tersentuh saat ini. Tetapi bagaimana? Aku memang harus melakukan kewajibanku!
"Ah, t-tapi M-Menma-kun—"
"Tak ada tapi-tapian! Kau harus makan siang bersamaku," sahut Menma tanpa ampun. "Lagipula kau belum menjawab aku."
-ooo-
Aku pun digiring Menma menuju kantin untuk makan siang. Beberapa kali pengurus OSIS yang melewati kami meminta pertanggung jawabanku sebagai Ketua OSIS, dan Menma berhasil mengenyahkan mereka dengan ancaman yang cukup ampuh. Ternyata Menma berguna juga ya!
Kami pun sampai di kantin dan duduk di tempat kesukaan kami. Tumben sekali hari ini Menma tidak membawa bekal. Padahal biasanya ia membawanya untuk berhemat—katanya.
"Hari ini aku tidak bawa bekal karena Kaa-chan sedang sakit kepala. Kau jangan ke mana-mana, aku ingin membeli makanan!" perintah Menma sambil beranjak dari tempat duduknya.
Aku pun hanya mengangguk lalu menopangkan daguku di atas telapak tangan.
Tak lama kemudian, sebuah suara dari arah jendela di sebelahku mengejutkanku, "Pst, Hinata-chan!"
Aku menoleh dan mendapati Naruto tengah tersenyum lebar padaku. "Na-Naruto-kun?" sahutku dengan wajah berseri-seri.
"Kemarilah! Tetapi lewat pintu itu saja," kata Naruto sambil menunjuk pintu yang terletak tak jauh dari tempat kami. "Agar tak ketahuan Menma-chan!"
Dengan geli aku mengangguk dan mengikuti perintah Naruto. Tak lama kemudian, kami sudah bersama di taman sekolah. Aku mengedarkan pandangan dengan heran, mengapa Naruto mengajakku ke tempat ini.
"Aku baru saja menemukan tempat ini—meskipun aku tahu kau pasti sudah beberapa kali ke mari," kata Naruto menjelaskan. "Aku suka sekali tempat ini. Bagaimana denganmu?" tanya Naruto sambil melirik ke arahku, meminta persetujuan. Aku pun mengangguk dan segera ditimpali olehnya, "Bagaimana jika ini kita jadikan tempat rahasia kita?"
Aku mengerutkan kening. Ini 'kan tempat umum? Masakan Naruto mengusulkan untuk menjadikan ini tempat rahasia?
"Yah, konyol memang. Ini tempat umum. Tetapi sepertinya tempat ini jarang didatangi. Kau mau, 'kan?" tanya Naruto seakan mengerti apa yang aku pikirkan.
Senyumanku pun mengembang. Bagaimana ini? Jantungku berdebar-debar saat mengetahui kami berdua memiliki satu lagi rahasia yang hanya diketahui oleh kami berdua!
"I-iya, N-Naruto-kun.." jawabku sambil tersipu malu.
"—lihat Hinata-chan?"
"Heh, sepertinya Menma-chan mencarimu," kata Naruto. Aku melihat kilatan di matanya meredup dan wajahnya tak seceria tadi. "Kembalilah sebelum ia mencarimu kemari."
"T-tapi, Naruto-kun. A-aku ingin di sini saja. Menma-kun sering m-memaksa aku menjawab pernyataan cintanya," aku memprotes.
Kemudian Naruto menepuk kepalaku dan tersenyum lebar, "Ah! Itu mudah saja. Kau tinggal menolaknya dan beres, bukan?"
"T-tidak s-semudah i-itu! Ak-aku yakin ia akan terus memaksaku!" tukasku sambil geleng-geleng kepala.
"Yasudah, ikuti kata hatimu saja. Sekarang temui dia. Aku tak ingin mendapat masalah dengannya," kata Naruto sembari bergidik ngeri.
Dengan setengah memberenggut, aku pun meninggalkan Naruto di tempat rahasia kami dan berjalan ke dalam melewati pintu di sisi lain kantin, sehingga aku terkesan baru balik dari toilet.
"Kau dari mana saja?" tanya Menma kesal.
"A-aku d-dari toilet," ucapku malu-malu. Padahal aku tidak benar-benar ke toilet, tetapi jika mengatakan 'dari toilet' atau 'ingin ke toilet' kepada laki-laki bisa membuatku sangat amat malu. Aneh ya?
"Mengapa kau tidak bilang padaku?" tanya Menma dengan memberenggut.
"Aah, m-memangnya aku ha-harus mem… memberitahumu?" tanyaku dengan pipi memanas.
"Yah siapa tahu kau ingin aku temani."
BLUSH!
"Eheey, aku hanya bercanda. Mengapa pipimu memerah seperti itu?" tanya Menma dengan santainya.
Aku pun hanya menggeleng dan duduk di tempat duduk kami tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi. Menma terlihat heran akan tingkahku, namun lama kelamaan ia tidak mengatakan apa pun lagi karena mengerti mengapa aku begitu terlihat malu.
"Hinata-san! Kau dipanggil Kakashi-sensei!" seru salah satu kakak kelasku yang bernama Sabaku no Temari. Kulihat ia dekat sekali dengan Uzumaki Naruko sejak kembar Uzumaki masuk ke sekolah ini.
"A-ah, i-iya, Temari-senpai!" kataku sambil mengangguk sopan. Kemudian Temari pun berbalik badan dan pergi. "Gomen ne, Menma-kun," kataku pada Menma sambil menutup kotak makanku.
"Tapi kau belum makan! Cepat makan dulu, baru kau boleh pergi," tukas Menma cepat dengan nada kau-harus-mengikutiku.
"T-tapi—"
"Kau ingin kucium, hah?" tanya Menma kesal.
Heh, tahu saja laki-laki playboy ini kalau dicium olehnya adalah mimpi burukku saat ini!
Aku pun segera membuka lagi kotak makanku dengan kesal dan mulai makan dengan bersungut-sungut. Karena terburu-buru, aku pun tersedak dan terbatuk-batuk. Menma dengan panik segera menyambar gelas berisi air mineral yang paling dekat dengan kami, dan memaksa aku meminumnya.
Setelah meminum air-siapa-aku-tidak-tahu itu, batukku pun mereda, sehingga aku bisa berbicara meskipun sisa-sisa batukku masih ada sedikit. "M-Menma-ku—uhuk—kun, ak—uhuk—aku m-mau pergi sekarang saja!" seruku terbatuk-batuk sambil menutup kotak makanku yang isinya sudah tinggal sedikit.
"Ya sudah! Sana, pergilah!" kata Menma dengan wajah cemberut yang sangat manis. Sebelum aku benar-benar meninggalkan Menma, aku mencium singkat pipinya yang detik berikutnya memerah. Lalu aku terkikik geli, dan berjalan menjauhi kantin.
-ooo-
Aku mencari-cari Kakashi-sensei, tetapi tidak juga menemukan guru berambut perak yang terkenal pedofil itu. Sudah lima koridor—dari koridor lantai satu hingga lantai lima—kulalui, tak kunjung kutemukan guru itu.
Hingga akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk kembali ke lantai dua—bermaksud kembali ke kelas untuk meletakkan kotak makan yang sedari tadi kubawa-bawa, aku bertemu dengan Temari yang tengah menyeringai kejam ke arahku. Aku mengerutkan kening, heran mengapa ia menatapku sedemikian kejamnya.
"Naruko-chan, mangsamu sudah di sini!" kata Temari sambil terkekeh.
Tiba-tiba, dari balik tubuhnya Naruko menampakkan dirinya sambil menatapku tajam. Ia sedikit mendorong Temari yang mendengus, dan berdiri di depanku. Tubuhku sedikit menciut melihat ia menjulangkan tubuh semampainya di depanku yang sedikit lebih pendek darinya.
"N-Naruko-san… a-ada apa?" tanyaku dengan gelagapan.
"Cih. Kau sok suci sekali, Ketua OSIS!" desis Naruko dengan kebencian yang tak dapat ia sembunyikan dari nada bicaranya.
"A-aku t-tidak mengerti," gumamku tidak jelas.
Rupanya Naruko emosi melihat tanggapanku yang—mungkin—menurutnya terkesan sok suci, karena ia segera menarik kerah bajuku, dan mendorong aku sehingga terbentur dinding cukup keras. Napasku seperti terhempas keluar rasanya, sehingga dadaku terasa cukup sesak. Hampir saja aku menangis karena kesakitan. Namun aku tak ingin Naruko semakin memandang rendah aku.
"Jangan sok suci!" jerit Naruko. Cengkeramannya pada kerah bajuku naik ke leher. Kini ia mencekik aku. Napasku benar-benar hampir habis saat ini. "Harus berapa kali kukatakan jangan dekati Menma-kun!"
To be continued.
Jeduuuunggg~ Aku kembalii~ *nebar bunga lagi*
Ah, lega rasanya bisa mengapdet cerita kacangan yang jelek banget ini -_-
Daripada banyak ba to the cot, aku akan membalas balasan ripiuuu kalian~ Cekidot!
-Amanojaku Miyanoshita: Tidaaakk~ tenang saja ini bukan MenmaHina~ Nanti akan ada NaruHina di chapter-chapter selanjutnya, dan dijamin porsinya sedikit lebih banyak dari MenmaHina xD Ditunggu yaah~ Arigatou!
-lavender sapphires chan: Whhooaah, aku authornya aja ngiri T^T Menma kan ganteng, kece, jago pulaak. Kalo Naruto, baik, perhatian (meskipun kadang gak peka xD), udah gitu penuh semangat~ dan dua-duanya ada di sini untuk 'menyerang' Hinata. Huwee huweee.. SERANG AKU JUGAA~ *di dai rasenringu sama Menma* *di rasen shuriken sama Naru* Keep reading yaa~ Arigatou!
-Fran Fryn Kun: Waah, tenang sajaa.. ini NaruHina kok! xD keep reading yaah~ Arigatou!
-ArisaKinoshita0: Aye aye captain! Wakarimashita! Arigatou!
-LS (guest): Wah, makasih atas pujiannya. Um, menurutku semua orang punya selera pairing masing-masing deh. Jadi yaudahlah gapapa kalo gasuka cerita ini karena pairingnya. Tapi kok aku agak gak setuju ya, kamu bilang NaruHina itu pairing pecundang? Menurutku mereka punya nilai manis tersendiri. Hm, yasudahlah. arigatou!
-Sapotan (guest): Waahh iya niih, Naru belom keluar di chap sebelomnya xD Perlawanan pemaksaan kehendak ya? Hm, sebenarnya ada dua alasan Hinata ga bisa ngelawan kehendak. Satu, karena dia takut jadi tersangka 'pembangkrutan sekolah' xD dan kedua karena dia bukan tipe yang gampang nolak x( jadi gitu deeh. Tenang saja, Naruto akan membuatmu berkata 'waaah' xD Keep reading! Arigatou!
-Guest (guest): Iya nih trio kwek kwek wakakakak xD Hinata suka siapa yaaa? Kasi tau ga yaa..~? dibaca aja deh biar tau jawabannya xD Keep reading! Arigatou!
-Soo (guest): MenmaHina boleh sih, NaruHina apa lagi.. tapi kalo femNaruHina ah... maaf, aku ke toilet dulu ya *mules* wakakakakk Okeee~ aku segera mengapdetnyaa! baca terus yaa, arigatou!
Oke, cukup banyak untuk permulaan. Wah, udah ada flame.. Flame-nya bukan sepenuhnya untuk fiction ku :( tapi untuk pairing NaruHina :'( Huweee.
Hiks. Yaudah deh, segini aja ocehanku. Keep reading and thanks for the RnR & for silent readers out there~
Never stop trying to be better, and better.
-Anonymous Hyuuga-
Katsu! *Boom* *meledak*
