Reason Not to Shopping

.

Vaughn x Mark

.

YAOI—Fic, If you feel you might like it then you can read but If you feel you dislike it, you can go back now. It's never too late to back out before you get disappointed by the story, but mostly please enjoy your time.

.

Home Sweet Home

Piip Piip Piip Piip Piip!

Suara jam alarm yang terus saja terdengar di dalam kamar mengusik suasana hening yang damai ini.

"Hng…" gumam Mark membuka matanya perlahan memandang langit-langit ruangan sambil mengucek-ucek matanya yang masih mengantuk kini terpaksa terbuka, yah—Mark adalah tipe cowok yang selalu bangun tepat pada waktunya walaupun ia masih kelelahan, ia akan otomatis terbangun begitu mendengar bunyi alarm jam weker yang sudah dipasangnya.

Mark berniat untuk turun dari ranjangnya tetapi kemudian ia baru menyadari sesuatu menghalangi dirinya untuk bisa meninggalkan ranjang, Mark segera menarik selimut sehingga kini menampakan sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya memeluknya dengan erat ditambah dengan hembusan napas seseorang disampingnya—tanpa menebak ia sudah bisa menebak siapa itu…

"Hmmm~ Nyemm~ Nyemm~ Maarrkk~ hemmh…" sebuah suara seksi memanggil namanya layaknya kini ia sedang bersenang-senang di alam mimpi

Mark memutar bola matanya, dasar Mesum… Ia tidak habis pikir kenapa dari 1 milyar orang sepertinya, hanya dirinya yang memiliki pacar se-Mesum Vaughn—walaupun Vaughn sama sekali tidak menunjukannya di luar maupun di tempat ia syuting dan sebagainya, tapi lain halnya di dalam rumah, Mark harus bersiaga 24 jam kalau-kalau Vaughn langsung menerjangnya saat ia lengah dan menyerangnya seketika dengan alasan, 'Aku merindukanmu bidadari kecilku—memikirkanmu di tempat kerja membuatku honry dan kau harus bertanggung jawab Marrk-Love~' bahkan Mark berpikir bahwa Vaughn adalah seorang penipu yang ulung dan sangat,sangat berbahaya—kau tidak tahu apa yang disembunyikan setiap orang dari topengnya kan?

"Perv—!" gumam Mark kesal sambil mencoba melepaskan tangan Vaughn yang masih memeluknya itu, kalau ini dilanjutkan lagi bisa-bisa ia akan mengalami Dead End-nya sendiri, ia bisa merasakan jari-jari mulus itu menggelitik tubuhnya

Vaughn yang masih terlelap tetap tidak mau melepaskan dekapannya yang kuat itu disekitar Mark, Ia sedang menikmati mimpinya dan lebih menikmatinya lagi kalau orang yang menjadi obyek mimpinya itu bisa ada disampingnya dan mendampingi dirinya, Oh—mungkin setelah ia bangun nanti ia bisa mempraktekan apa yang baru saja terjadi di mimpinya pada Mark, khukhukhu~

"Hemmhh… 1 ronde lagi Markk~" ucap Vaughn mengigau tapi entah kenapa memasang senyuman predator di wajahnya

Mark hanya menelan ludah horror sebelum kemudian berusaha melepaskan diri dari cengkraman sang makhluk buas ini dan bebas… Apa yang menyenangkan memiliki pacar seorang artis terkenal apalagi Vaughn si bintang Hot itu? Jawabannya sudah pasti TIDAK ADA, karena apa yang menyenangkan bersama dengan otak mesum seperti dia!, itulah batin Mark yang masih berkelut melepaskan tangan Vaughn dari tubuhnya.

"Bebasss!" seru Mark kecil sambil melempar kembali tangan iblis Vaughn kembali kepada sang Majikan yang masih terlelap kini bukannya memeluk Mark, ia malah memeluk batal yang sudah di sediakan Mark sebagai ganti dirinya sementara Mark merayap turun dari ranjang dengan sangat hati-hati keluar melalui pintu kamar sebelum kemudian menutupnya perlahan-lahan.

Mark melangkah perlahan menuruni tangga menuju dapur—tidak seperti sang Tuan pemalas di tempat tidur, Ia memiliki kewajiban yang harus dilakukan setiap harinya, yaitu memasak sarapan, mengerjakan pekerjaan rumah dan melanjutkan kembali tugas-tugasnya di ruang kerja, meskipun Vaughn seorang artis terkenal dan kaya, Mark menolak untuk bergantung dengan uang hasil jerih payahnya, memangnya dia pikir ia tidak bisa mencari uang sendiri apa, Ia tidak mau menjadi orang pengangguran yang hanya bisa duduk di sofa dan bermalasan sepanjang hari tidak melakukan apa-apa, No Thank you!

Mark melangkah perlahan sambil menyiapkan beberapa peralatan di etalase dapur untuk memulai membuat Sarapan pagi, sebelum kemudian ia membuka lemari es hanya untuk menyadari persediaan makanan mereka sudah habis—dan ia lupa untuk mengisinya kembali.

"Ck… sudah kubilang untuk selalu membuat daftar…" gerutunya sendiri sambil menutup kembali lemari es kemudian mengambil secarik kertas dan mulai menulis sesuatu, sambil melihat ke arah jam dinding menunjukan pukul 08.15 "…Sepertinya aku harus berbelanja—!" gumam Mark sebelum kemudian

"Dengar, Mark-Love! Aku melarangmu untuk berbelanjar sendirian! Kalaupun kau harus berbelanja atau apapun itu, kau harus pergi bersamaku, bangunkan aku dan aku akan menemanimu berbelanja…"

Mark hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Vaughn yang pada waktu itu sedang Bad Mood karena ia melihat seseorang yang menggoda dirinya saat berbelanja di suatu tempat terbuka, untung saja Mark berhasil menyeret Vaughn meskipun dengan susah payah kembali ke Rumah demi menghentikan dirinya yang bersiap untuk menghajar pemuda yang berani menggodanya itu—mana mungkin ia akan membiarkan hal itu terjadi dan membuat SCANDAL baru dengan nama Vaughn tertera di atasnya, No way in hell.

Dan…

Terima kasih atas kejadian itu, Vaughn memberinya ditensi untuk tidak berbelanja ataupun keluar rumah—satu langkah keluar rumah sekalipun ia dilarang, bahkan ketika ia pergi ia selalu memastikan rumah terkunci aman begitu juga dengan pintu pagar sekalipun!—Neraka yang jauh lebih mengerikan dibandingkan harus berurusan dengan honry Vaughn, ugh! Untungnya hanya sehari saja setelah Mark melemparnya dengan panci besar di kepala.

"Fuuh~ Mana mungkin karena hal seperti itu aku dilarang berbelanja seumur hidupku…" gumam Mark "Lagipula aku punya kehidupan dengan berbelanja ditambah lagi…" ucapnya sambil menyipitkan mata "…Alasannya kenapa dia melarangku membuatku terhina!" tambahnya sambil berdecak kesal

"Tentu saja karena disana ada banyak sekali orang jahat dan juga mata keranjang yang mungkin saja ingin melecehkanmu, koi~ Aku melakukannya dengan niat baik! Lagipula kau ini kan lemah, mana mungkin bisa menghadapi mereka sendirian, jadi sudah diputuskan tidak ada kata BERBELANJA SENDIRIAN! Atau aku akan menghukummu!"

Enak saja dengan mudahnya ia mengatakan dirinya ini lemah! Layaknya wanita! Memangnya dia pikir dia itu siapa!

Mark langsung beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju pintu depan dan tidak lupa mengambil jaketnya yang tergantung di samping pintu, Ia membuka pintu dengan lebar dan melangkahkan kakinya keluar—tidak ada yang bisa mencegahnya untu berbelanja bahkan pacar sendiripun tidak bisa melarangnya untuk berbelanja, lagipula ia ini LAKI-LAKI, walaupun posisinya sebagai Uke tapi laki-laki tetaplah laki-laki, ia bisa menjaga dirinya sendiri dan tidak perlu penjangaan apapun.

~Store~

Untunglah, Toko-Toko masih buka pada jam segini—biasanya mereka hanya akan buka sampai jam 8 dan jam 12 baru akan buka kembali, karena biasanya para pengunjung akan ramai mengunjungi Toko mereka di jam makan siang dan sebagainya.

Mark melangkahkan kakinya memasuki salah satu Toko langganannya,

"Wah—Tumben sekali baru berbelanja di jam seperti ini Mark…" ucap sang pemilik Toko yang kini sedang mengurusk stok sayurannya yang ada di dalam rak

Mark hanya mengangguk sambil menggaruk kepalanya "Heheh—Aku lupa memastikan persediaan makanan di rumah, jadi baru bisa berbelanja di jam seperti ini…" ucapnya memulai "Jii-san masih buka kan?" tanyanya

"Hoho—Tentu, kau bisa berbelanja di Toko Jii-san, pilihlah bahan makanan yang bermutu dari sini… Sayurannya juga bagus-bagus lho…" ucapnya sambil menunjukkan lobak yang besar

"Arigatou, Jii-san—maaf merepotkan…" ucap Mark sambil mengambil keranjang belanjaan dan mulai berjalan melintasi beberapa rak-rak di dalam toko memilih bahan-bahan makanan untu 1-2 minggu kedepan.

Ada sayuran, bumbu dapur dan peralatan-peralatan dapur di dalam Toko ini, juga sebagai tambahan sang pemilik Toko tidak lupa membangun sebuah stand music yang berguna bagi para pengunjung/pelanggannya untuk membeli kaset atau CD music dari beberapa artis yang sedang booming saat ini, mereka juga bisa mendengarkannya dulu melalui headset yang sudah di sediakan.

"Hemm… aku ingin membeli album Vaughn yang baru…" gumamnya sambil memasukan 2 kubis yang lumayan besar kedalam keranjangnya disusul beberapa wortel dan juga paprika segar kemudian melangkah menuju stand music yang berada di seberang ruangan, Mark meletakan kembali keranjang belanjanya di sampingnya dan kini mulai memilah-milah CD yang akan ia coba dengarkan, tidak sulit mencari CD keluaran Vaughn yang baru karena CD tersebut selalu diletakan di tengah-tengah rak dengan tanda nama yang besar sehingga mudah dilihat para pengunjung.

Mark mengambil salah satu CD yang ada sebelum kemudian melirik jam yang terpajang di dinding Toko, 08.35—hemm, ia masih punya banyak waktu karena ia tahu Vaughn masih tertidur saat ini dan untuk seterusnya akan bangun sekitar jam 9-10, ia tidak merasa khawatir sama sekali. Mark memasukan CD tersebut kedalam music player kemudian memasang headset di kepalanya mencoba mendengarkan suara lagu tersebut sekali lagi.

Darlin I need to know…

Wether I worthy for you, Cause I only know that I'm just a liar in your eyes…

But the thing you must to know…

Even we're apart…

Though we're separate in a long way…

You'll always own the key..

Hmm… To my heart…

Mark hanya tersenyum, lagu ini memang sangat bagus walaupun sudah berkali-kali ia mendengarkannya—tidak sedikitpun ia merasa bosa dengan lagu ini, lagu yang begitu manis terdengar di telinganya, hemm… terkadang Vaughn bisa juga menjadi orang yang romantic dibalik sifat mesumnya itu… satu point bagus untu Vaughn.

~Skip Time~

Pada akhirnya Mark malah mendengarkan lagu itu sampai 7 kali melupakan waktu—dan begitu ia menyadari jam sudah menunjukan pukul 09.20—Oow, berharap saja Vaughn masih tetap tertidur pulas, Mark melangkah keluar Toko setelah membayar semua belanjaan dan juga CD miliknya, ia ingin cepat-cepat pulang tapi…

"Hei…" ucap seorang pemuda aneh yang muncul tiba-tiba kini berdiri di hadapannya begitu juga dengan dua orang temannya yang berdiri di belakangnya menjaganya agar tidak kabur

"…Kau manis juga…" ucap salah satu pemuda kini berniat menyentuh pipi Mark, tetapi tangan Mark segera menepisnya

Mark menatap tajam rombongan pemuda tersebut "Jangan sentuh…" ucapnya tegas sebelum kemudian mencoba untuk melangkah keluar dari rombongan pemuda yang mengelilinginya tapi..

"Jangan marah-marah begitu donk~ Kami kan hanya ingin berkenalan dengamu…" ucap yang dibelakang Mark sambil memegang pundaknya, dengan instant Mark langsung memukul orang tersebut—berani-beraninya dia menyentuhnya.

Sementara salah satu dari mereka meringis kesakita akibat pukulan dari Mark—yang lainnya bukannya merasa takut ataupun jera malah semakin bernapsu untuk bisa mendapatkan dirinya, terbukti karena mereka berdua langsung bergerak samba memegang tangan Mark agar ia tidak bisa melawan dan juga menginjak kakinya sehingga ia tidak bisa menggunakkannya untuk menendang mereka—belanjaan Mark terjatuh di atas tanah sementara Mark berusaha untuk meloloskan diri dari kedua orang bejat tersebut, tapi apa daya—ia tidak bisa melakukan apa-apa dengan posisi seperti ini, ditambah lagi ia tidak mempunyai apa-apa untuk mempertahankan dirinya.

"Lihat—meskipun dia cowok tapi mukanya sudah jelas terlihat feminim seperti wanita…" ucap salah satu sambil mengelus pipi Mark

Mark langsung memalingkan mukanya sambil menatap tajam orang tersebut "Dasar pengecut… Kalau kau berani hadapi aku secara jantan…" seru Mark dengan oktaf tinggi masih meronta melepaskan diri "Kalian bertiga hanya ayam-ayam penakut—sungguh rendahan dan sama sekali tidak…"

PLAK!

Sebuah tamparan tepat melayang di pipi Mark yang mulus itu—rupanya ada salah seorang dari mereka yang sepertinya sudah terbawa emosi atas ucapan Mark barusan, bercak merah di pipi itu sangatlah jelas dan terlihat sedikit darah mengalir di pojok bibir Mark.

"Diamlah! Seenaknya saja kau mengatai kami pengecut!" serunya dengan muka garang langsung menjambak rambut Mark membuatnya meringis kesakitan "Kau itu tidak tahu apa-apa girly-boy! Mulutmu itu sama sekali tidak tahu sopan santun rupanya…" tambahnya dengan kini tangan yang mengelus-elus bibir Mark

Grrttt!

Mark tidak terima dengan perlakuan pemuda tersebut yang sudah seenaknya memperlakukannya seperti ini ditambah lagi ia tidak menyukai tangan itu menggerayangi tubuhnya—HELL! Memang dia pikir dia itu siapa—Ia harus cepat-cepat keluar dari situasi seperti ini sebelum semuanya terlambat, Mark menggigit jemari tangan itu dengan sangat kuat berharap ia bisa mematahkannya seketika, pemuda itu hanya menggerang kesakitan karena Mark sama sekali tidak mau melepaskan jemari itu dari gigi-giginya, para teman yang lain berusaha membantu dengan menarik rambut Mark dan mendorong tubuhnya menjauh hingga membentur tiang listrik di belakangnya.

"KURANG AJAR!" serunya murka sambil berjalan dan berniat untuk memukul Mark dengan keras tapi…

"…Kalian bertiga sudah tidak betah hidup lagi rupanya…" ucap sebuah suara menghampiri, ucapannya meskipun datar tapi mengandung banyak sekali emosi tersimpan di dalamnya

Mark memalingkan mukanya hanya untuk mendapati sosok Vaughn yang sudah berdiri tepat di depan ketiga pemuda yang sedang mengeroyoknya ini, di dalam hati Mark sudah bersorak akhirnya datang juga bantuan untuk menyelamatkannya tapi di sisi lain ia juga harus menelan ludah takut karena ia tahu akan terjadi sesuatu yang buruk setelah ini semua selesai nanti.

Vaughn yang kini hanya mengenakan kaos dan celana piyamanya berdiri di depan ketiga pemuda yang sebentar lagi akan ia habisi nyawanya itu—sepertinya ia sudah terburu-buru keluar rumah begitu menyadari Mark sudah tidak ada di dalam rumah mereka dan tentunya ia tahu Mark akan pergi berbelanja, Hell—padahal ia sudah bilang untuk membangunkannya kalau ia berniat untuk berbelanja, mengingat lingkungan tempat tinggal mereka sangat rawan dengan para berandalan-berandalan yang berkeliaran mencari mangsa. Mata Silvernya menatap wajah Mark yang hanya menatapnya dengan pandangan terbelalak tidak percaya—mata silvernya seakan murka begitu melihat bercak merah yang kini ada di salah satu pipi Mark dan juga darah kecil yang ada di pojok bibir kekasihnya itu, berbagai kalkulasi kilat dilakukan oleh Vaughn saat itu juga, ketiga orang ini sudah mencegat kekasihnya, dan mereka sudah berani menyentuh property yang hanya bisa dimiliki olehnya seorang ditambah lagi—mereka sudah berani melukai Mark dimana seharusnya hanya ia yang diperbolehkan untuk melakukan itu!—Grr…

"Huh—Sepertinya aku pernah liat orang sok berani ini—Ugh!"

BHUAGH!

Vaughn langsung menghukamkan pukulan yang sangat keras tepat di perut pemuda itu sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya—amarah memang sudah menyelimuti dirinya yang tidak peduli lagi apa yang akan ia lakukan selanjutnya, terlihat pemuda malang itu terkapar diatas tanah samba terbatuk-batuk.

"Hoi! Berani-beraninya—ARGH!"

BUGH!

Suatu keuntungan menjadi seorang artis adalah ia mendapatkan latihan spesifik untuk melatih tubuhnya—otot bukanlah yang terpenting dalam segalanya dan lagipula meskipun tampak biasa-biasa saja dari luar, Vaughn juga memiliki keahlian dalam berbagai bidang atletik dan ilmu bela diri—harus pikir-pikir dulu sebelum macam-macam dengannya kalau tidak mau Ambulans datang menjemput mereka ke UGD nanti.

"…Seharusnya aku yang mengatakan hal itu…" sahut Vaughn dengan nada mengerikan sambil memainkan jarinya yang kini mengepal tidak tahan untuk segera memukul babak belur ketiga tikus rendahan ini "Berani-beraninya kalian menyentuh apa yang bukan menjadi milik kalian…" tambahnya dengan geraman yang sangat berbahaya layaknya binatang buas

"Ck—memangnya apa pedulimu! Kami melakukan apa yang kami mau! Lagipula pemuda lemah yang tidak bisa apa-apa itu hanya sebuah pajangan saja dan hanya sebuah sampah nantinya.." sahut teman si pemuda sambil menyiapkan ancang-ancang untuk menyerang Vaughn

Sampah…

Pajangan…

TWITCH!

"Rasakan ini orang sok berani!" serunya kini berniat memukul wajah Vaughn yang nampak terdiam tidak bergeming

Mark yang melihat hal itu berniat untuk segera beranjak dari posisinya dan membantu kekasihnya yang sepertinya berada di alam pikirannya itu, Tapi…

GREB!

Dengan mudah Vaughn dapat menghentikan pukulan tersebut samba menggenggam dengan sangat erat pergelangan pemuda di depannya—sangat erat bahkan kalau perlu ia bisa menambahkan kuku-kukunya untuk menembus kulit pergelangan tangan itu dan mengoyaknya.

"ARGGHH!" seru Pemuda itu kesakitan mencoba untuk membuat Vaughn melepaskan tangannya sambil memukul tubuhnya dengan kaki dan tangannya yang masih bebas, pecuma saja ia melakukan itu, Vaughn sama sekali tidak mempedulikan serangan sia-sia itu dan tetap meremas pergelangan tangan Pemuda itu bahkan ia tetap cuek saja meskipun ia sudah merasa mematahkan sebagian tulang pergelangan tangan Pemuda itu—itu masih belum cukup untuk meredakan amarahnya

"LEPASKAN DIA!" seru teman-temannya berusaha menyerang Vaughn secara serempak

Tanpa melepaskan cengkramannya, Vaughn masih bisa menyerang balik dan malahan kini menggunakan tubuh Pemuda itu sebagai tamengnya saat menghadapi tendangan dari teman-temannya, sangat praktis juga..

"EARRRGGHHH! TANGANKUU! TANGANKUU!" jerit Pemuda itu kesakitan

"…Kau seharusnya menjaga mulutmu sebelum mengatakan sesuatu tentang 'kekasihku' di depan mataku…" ucap Vaughn dengan nada dingin

Ctak… ctak… Trrkk…

"ARRGGHHH!" seru Pemuda itu kesakitan dengan jeritan yang sangat keras

Mark hanya menelan ludah dengan tubuh yang bergetar dengan horror-nya, belum pernah ia melihat Vaughn dalam temperament yang seperti ini—mengerikan dan sangat menakutkan melihatnya dalam situasi seperti ini terlebih lagi sepertinya dia tidak main-main akan membunuh ketiga Pemuda itu sekarang juga—Ini… Harus… Dihentikan, dan itulah yang langsung membuat Mark susah payah beranjak berdiri dan menghampiri Vaughn.

Mati…

Mati…

Akan kupastikan kalian bertiga mati setelah apa yang kalian lakukan pada Mark-love…

Kalian harus membayar mahal apa yang sudah kalian lakukan…

Kalian harus—

Greb!

Sesuatu dari belakang kini mendekapnya—sepasang tangan kini memeluknya mendekat, tangan yang mungil itu melingkar dan memeluknya dengan kehangatan yang sangat familiar di ingatannya…Ini…

"Hentikan Vaughn… Kumohon…" ucap sebuah suara memohon kepada dirinya yang saat ini

Vaughn mengerjapkan matanya tetapi tidak mau melepaskan mangsanya yang sudah ada di tangannya itu "Dia pantas mendapatkan semua ini… setelah apa yang sudah dia katakan…" ucapnya menolak

"Vaughn… Kumohon…" ucapnya lagi lebih memohon "A—Aku baik-baik saja… lepaskan mereka…" tambahnya lagi berusaha menyakinkan Vaughn

Vaughn menggeleng sebagai balasan

Mark menghela napas "Kalau kau tidak mau melepaskan mereka—Aku akan… akan pergi…" tambahnya sambil melepaskan dekapannya "Ini semua terjadi karena salahku… kau seharusnya tidak ikut terlibat dalam masalah seperti ini… lebih baik aku pergi dan tidak melibatkanmu dalam masalah apapun…" tambahnya lagi

Vaughn tahu Mark tidak berbohong dengan ucapannya—Dia ingin membuatnya untuk menghentikan semua ini, Dia terlalu baik… itulah sifat Mark yang paling ia benci, Kenapa dengan mudahnya ia bisa memaafkan orang yang sudah menyiksanya layaknya hal yang mereka sudah lakukan hanyalah masa lalu untuknya? Arrghh…

Mark bersiap untuk pergi sambil mengambil kembali kantung belanjaannya yang sempat terjatuh…

Vaughn menghela napas sebelum kemudian melempar tubuh pemuda itu dengan santainya layaknya barang bekas ke tanah dimana kedua teman-temannya itu langsung memapah Pemuda malang yang tangannya sudah berlumuran darah kemudian kabur begitu saja—benar-benar pengecut…

"Mark!" panggil Vaughn berbalik menyadari kini Mark sudah berjalan jauh di depannya, mengacuhkannya

Oh—well, Apa ini balasannya? Tidak ada ucapan terima kasih setelah ia menolongnya barusan?

"Mark, pelankan langkahmu!" seru Vaughn di belakang berusaha menyusul Mark di depannya, tapi Mark sama sekali tidak mempedulikan ucapan Vaughn dan tetap melangkah, Vaughn hanya mendengus kesal "Mark—!" ucapannya terputus

"…Seharusnya kau tidak perlu melakukan hal seperti itu pada mereka bertiga!" ucap Mark memulai membuka mulut dengan nada marah dalam setiap ucapannya meskipun tidak memandang wajah Vaughn

"…Bukankah seharusnya kau berterima kasih padaku—" dan lagi ucapannya terputus

Mark menghentikan langkahnya sementara Vaughn masih tetap berjalan untuk mendekatinya,

"Jangan mendekat!" seru Mark yang sepertinya menyadari Vaughn berniat mendekatinya

Vaughn hanya menghela napas kemudian menghentikan langkahnya, kini ia berada sedikit lebih dekat dengan tubuh ramping kekasihnya itu, "Katakan padaku Mark—Apa yang salah dari tindakanku barusan, Aku melindungimu dari mereka bertiga dan—"

Hiks…

Vaughn menatap punggung Mark—barusan ia tidak salah dengar kan?

Mark hanya bisa menahan isakannya itu sambil menyeka matanya agar air mata tidak mengalir deras begitu saja menuruni pipinya—tubuhnya bergetar, semuanya yang terjadi saat ini salahnya, Ia memikirkan bagaimana ia sudah menyusahkan Vaughn dengan kejadian ini, membuatnya terpaksa harus memukul ketiga Pemuda itu, lagipula sepertinya salah satu dari mereka mengenali wajah Vaughn dan—dan…

Hiks…

"…Mark?" panggil Vaughn sedikit cemas "Kau kenapa? Kau tidak terluka kan?" tambahnya lagi

Mark menggeleng tanda 'tidak' sambil tetap mengucek-ucek matanya berusaha untuk bisa terlihat normal, "…Seharusnya—Kau tidak memukul mereka… Bagaimana kalau mereka sampai menyebarkan semuanya ke Media—Mereka akan menyerangmu lebih parah lagi… Lalu—Lalu mereka akan…" ucapan Mark terbata-bata

"Ssshh~ Kau terlalu khawatir Mark…" sahut Vaughn menenangkan kekasihnya, mendekapnya dengan hangat dari belakang sambil menyandarkan kepalanya di bahu Mark dan berbisik di telinganya "Aku tidak akan khwatir kalau masalah ini sampai terbawa ke Media—bukankah aku sudah pernah bilang padamu, mereka itu bukan apa-apa… dan aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan mereka katakan nanti…" tambahnya

"…Bodoh—Kau sama sekali tidak merasa malu ataupun takut! Bagaimana kalau mereka tahu kalau Vaughn berkelahi—!"

"—Demi melindungi seorang Pemuda cantik yang adalah Kekasihnya?" potong Vaughn sambil tertawa pelan "Kalau mereka megatakan itu justru aku tugasku menjadi ringan—aku tidak perlu lagi menutupi semuanya karena mereka sudah membeberkannya ke masyarakat luas, kalau kau adalah milikku, Marrkk~" tambahnya sambil menjilat pelan daun telinga Mark yang hanya bisa gemetar merasakan sensasi seperti itu.

"…"

"Baiklah, karena ucapan penjelasan sudah selesai saatnya pulang—!" ucap Vaughn enteng sambil melepas rangkulannya hanya kemudian langsung membopong Mark

"T—TUNGGU!"

"Kita harus bicara 4 mata tentang pelanggaranmu hari ini Mark dan juga hampir membuatku shock jantung di pagi hari—atau mungkin kita bisa melakukan hal lain sebagai hukumanmu nanti hmm—aku suka ide yang kedua lebih daripada ide yang pertama~" ucap Vaughn member tahu dengan seringaian licik sebelum kemudian menampakan wajah serius "…Dan aku tidak akan main-main kalau kau mencoba melanggar lagi aturan ini Mark…"

GLEK!

Mark hanya bisa membatu saja sepanjang perjalanan pulang, sementara Vaughn berjalan layaknya ia sedang membopong karung beras kembali ke rumah sambil bersenandung ria tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya terhadap Mark~ melupakan ia memiliki ribuan jadwal menunggu…

Hari ini akan menjadi hari yang panjang untuk Mark…