Meskipun sudah berusaha untuk menutup matanya, Sasuke sama sekali tidak bisa tidur. Di dalam kepalanya berkutat kegetiran tentang kata-kata yang diucapkannya pada sang ayah tadi sore. Ia memang tidak sengaja membakar ruangan basket indoor itu.
'Salahkan tirai dan angin sialan itu.'
Sasuke menyandarkan dirinya di ranjang kamarnya. Tangannya meraba-raba nakas – mencari suatu benda berbentuk persegi panjang berwarna putih. Sebuah remote tv.
Pik
Sasuke menekan tombol on. TV plasma 24 inch itu menyala – menampilkan channel TV nasional yang tidak terlalu menarik baginya. Jari-jarinya bergerak mengganti-ganti channel tv, berharap ada suatu acara menarik yang dapat menghilangkan penatnya.
"Shit! Tak ada yang menarik!" umpatnya pelan.
Kini channel sedang menampilkan berita tentang prestasi-prestasi yang diraih remaja Jepang. Sasuke baru saja akan beralih ke channel selanjutnya jika tidak mendengar nama sekolah barunya disebutkan.
"Siswi kebanggaan Konoha Gakuen berhasil mendapatkan juara pertama di kompetisi balet tingkat nasional. Berikut cuplikan selengkapnya."
Layar datar TV itu kini menampilkan sosok gadis tengah menarikan tarian balet dengan begitu gemulai. Kedua tangannya memegang pita dan menggerak-gerakkannya dengan lincah. Sasuke menaikkan satu alisnya, kedua iris onyx-nya menatap layar dengan serius. Pandangannya tak lepas sedikit pun dari layar kaca.
'Seperti pernah lihat.'
.
Ballerina and the Beast
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing: Sasuhina
Genre: Romance, Hurt&comfort
Warning: AU, OOC, crackpair, typo, Language, dll.
Chapter 1
Meet the Dangerous Boy
.
.
Happy reading
Setelah beberapa saat, akhirnya Sasuke terlelap. Televisi yang masih menyala kini menampilkan acara berita-berita malam. Sebuah memori masa kecilnya muncul dalam mimpi pemuda berusia 17 tahun itu.
at dreamland
Bintang-bintang berkelip di malam hari terlihat di atas ballroom hall yang dipenuhi keramaian. Keluarga Hyuuga sedang mengadakan pesta – untuk merayakan ulang tahun putri pertama mereka yang ketujuh. Semua rekan bisnis Hyuuga Corp diundang dalam acara ini, termasuk keluarga Uchiha.
Gadis kecil sang birthday girl – Hyuuga Hinata terlihat cantik dalam gaun berwarna biru muda. Gadis cilik berambut pendek itu terlihat sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu. Kedua orang tua dan kakaknya setia mendampingi gadis cilik itu.
Seorang anak berumur 7 tahun yang lain – Uchiha Sasuke dengan rambut spike dalam balutan kimono dan hakama biru tua memasuki ruangan pesta berserta kedua orangtua dan kakaknya. Sambil berjalan menuju gadis yang ber-ulang tahun, Sasuke meneliti setiap sudut ruangan. Dahinya berkerut, menandaka dirinya sedang kesal. Ia benar-benar tidak menyukai keramaian.
"Sasuke, cepat berikan kadonya." Ucapan sang ibu menyadarkan Sasuke kalau mereka telah sampai di tempat sang gadis.
Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah gadis cilik di hadapannya.
'Pasti ini Hyuuga Hinata,' batinnya dalam hati.
Memang mudah mengenali Hinata – karena hanya gadis itu satu-satunya yang tidak mengenakan kimono.
"Selamat ulang tahun."
Sasuke menyerahkan bingkisan kado pada si gadis, membuat gadis itu menampakkan rona merah di pipi chubby-nya.
"Arigatou…" sahut Hinata mau-malu.
"Hitomi, lama tak jumpa. Hinata sudah besar, ya?" Mikoto mengelus puncak kepala Hinata lembut.
"Iya, Mikoto. Oh, dan ini putramu yang kedua?" Tatapan Hitomi tertuju pada Sasuke. "Dia tampan."
Pujian yang dilontarkan ibu Hinata membuat Sasuke sedikit merona. Ia berusaha tetap memasang ekspresi cool – yang ditirunya dari sang kakak – namun gagal.
"Putrimu juga cantik sekali. Kudengar Hinata pintar menari balet, benarkah itu?" Mikoto menatap Hinata penuh kagum, membuat pipi gadis cilik itu makin merah.
"Benar. Sebentar lagi putriku akan menampilkan kemampuannya."
Selang beberapa saat, setelah penampilan beberapa penari dan penyanyi yang diundang Hiashi, Hinata pun bersiap menampilkan tariannya. Gadis itu naik ke atas panggung, pakaiannya kini telah berganti menjadi gaun balet berwarna putih. Sebuah tongkat dengan tali sepanjang 2 meter berada di tangan kirinya. Musik mulai terdengar –bersamaan dengan itu Hinata memulai tariannya.
"Bagaimana, Sasuke? Dia cantik, kan?" Mikoto mengedipkan matanya ke arah Sasuke. Bocah itu hanya menatap ibunya heran, kemudian melanjutkan kegiatannya –menikmati tarian Hinata.
End of dreamland
B&B
Pada saat yang sama…
Kelopak mata yang tadinya tertutup kini terbuka, memperlihatkan manik putih keunguan milik Hyuuga Hinata. Gadis itu bangkit, lalu berjalan menuju meja belajarnya. Tangannya meraih laci dan membukanya perlahan.
Seulas senyum muncul di wajahnya saat mendapati benda yang dicarinya masih tersimpan rapi di dalam laci. Hinata mengambil benda itu dengan hati-hati –karena benda itu memang berharga untuknya.
Kembali ke atas ranjang, Hinata merebahkan tubuhnya yang masih lelah. Dibukanya benda berbentuk kotak itu perlahan. Suara musik mulai terdengar.
The Waltz – Saint Saens
Bersamaan dengan musik yang mengalun, sebuah miniatur gadis penari balet pun berputar-putar. Hinata memejamkan matanya lagi, kembali terlelap dengan lagu The Waltz menjadi lullaby-nya.
B&B
Massimo Tamburini tipe Agusta Superbike F4 R 312 berwarna putih milik Sasuke melaju dengan kencang, menembus angin dingin pagi hari.
"Fuck! Gara-gara mimpi tak penting itu." Lagi-lagi Sasuke mengumpatkan kata-kata kasar di balik helm yang dipakainya.
Hari pertamanya masuk sekolah baru dan Sasuke bangun kesiangan. Bukannya takut mendapat hukuman – mengingat banyaknya pelanggaran yang lebih parah pernah dilakukannya , hanya saja pagi ini ia merasa sedang malas mencari masalah.
Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Sasuke sampai di Konoha Gakuen. Ia memarkirkan motornya sembarangan di halaman sekolah. Beruntung bel masuk belum berbunyi, jadi gerbang sekolah belum ditutup. Baru saja Sasuke melepas helm-nya, ada seorang satpam berlari menghampirinya.
"Maaf, Nak. Motormu bagus, tapi sayang sekali tidak diperbolehkan membawanya ke sekolah," tegur satpam itu.
"Aku tak peduli," jawab Sasuke singkat, mengabaikan peringatan dari penjaga keamanan sekolah tadi.
Satpam bernama Izumo itu tampak mengernyitkan alisnya – sedikit terkejut dengan jawaban yang diberikan murid laki-laki itu. Ia mengamati Sasuke dari atas sampai bawah, kemudian sadar bahwa anak di hadapannya itu adalah murid baru.
"Hm… kau anak baru itu, ya? Baiklah… karena ini hari pertamamu aku bisa maklum. Tapi jangan diulangi." Setelah mengatakan itu Izumo berbalik –kembali ke basecamp-nya di samping gerbang sekolah.
Sasuke hanya memandang punggung satpam muda itu dengan tatapan bosan.
"Tch."
Mengedarkan pandangannya ke tiap sudut sekolah, Sasuke tidak menemukan sesuatu yang menarik. Ia tidak mengerti kenapa ayahnya selalu mencarikan sekolah baru untuknya, padahal hasilnya selalu sama. Pada akhirnya Sasuke akan dikeluarkan dari sekolah karena kenakalannya yang tak bisa ditoleransi lagi.
Sasuke memasukkan kedua tangannya di saku celana, lalu berjalan pelan menghampiri peta sekolah yang terletak di dekat pintu masuk gedung. Manik hitamnya mencari dimana kelasnya berada. Setelah mendapatkan gambaran, Sasuke segera berlalu memasuki gedung sekolah – menuju kelas barunya dengan langkah malas.
Merasakan berpasang-pasang mata tengah menatapnya, Sasuke hanya menghela nafas. Ia berani bertaruh kalau dirinya akan menjadi topik pembicaraan hari ini di sekolah. Dan hal itu sudah biasa baginya.
Riiiingg
Bel berbunyi sebagai tanda semua siswa harus memasuki kelas. Sasuke tetap berjalan dengan santai, tak berniat mempercepat langkahnya. Lagipula kelas barunya sudah dekat. Kelas 2-3.
Suasana kelas yang tadinya ramai menjadi hening saat Sasuke melangkah masuk. Semua siswa tampak terkejut melihat kedatangan Sasuke.
Mereka memang mendengar akan ada siswa baru, tapi sama sekali tidak tahu di kelas mana anak itu akan ditempatkan. Murid laki-laki tampak memandangnya heran, sedangkan murid-murid perempuan memandangnya dengan kagum. Mereka jelas tahu rumor yang mengatakan kalau anak baru itu sering membuat onar, tapi bagaimanapun harus diakui kalau Sasuke memang tampan. Ralat –sangat tampan.
"Ehm."
Suara dehaman membuat perhatian semua siswa kini beralih ke sumber suara – yang ternyata adalah seorang sensei berambut perak yang mengenakan masker. Hatake Kakashi – wali kelas 2-3 sekaligus guru Bahasa Inggris di Konoha Gakuen.
"Anak-anak…" Kakashi berjalan menghampiri Sasuke yang berdiri di depan kelas. " … ini Uchiha Sasuke."
Kakashi menoleh ke arah Sasuke, mengisyaratkan agar ia memperkenalkan dirinya. Sasuke hanya memutar matanya, kemudian memandang seisi kelas. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
"Tidak ada yang ingin kau katakan pada teman-teman barumu, Sasuke?" tanya sensei itu memastikan.
"Tidak." Hanya ini jawaban Sasuke, membuat para siswi mengeluh kecewa.
"Kau yakin?" tanya Kakashi lagi.
"Hn."
Jawaban datar itu membuat Kakashi menghela nafas. Berurusan dengan anak yang memiliki masalah kedisiplinan memang sedikit merepotkan.
"Kau bisa duduk di bangku itu." Kakashi menunjuk bangku di deretan paling belakang yang kosong.
Sasuke baru saja berjalan, namun tangan Kakashi menahannya. Sensei berumur 27 tahun itu menunjuk kemeja seragam yang dikenakan Sasuke.
"Kancingkan bajumu dengan rapi!"
Sasuke menoleh ke arah guru barunya itu lagi. Satu alisnya terangkat, lalu melanjutkan langkahnya tanpa mematuhi perintah sang sensei.
'Berisik!' batin Sasuke.
Lagi-lagi Kakashi hanya menghela nafas, namun tak ada kata-kata yang diucapkannya. Tak lama kemudian, pelajaran pun dimulai.
Sasuke mengamati penghuni kelasnya satu persatu. Semua memakai seragam dengan rapi sesuai aturan dan tampak memperhatikan papan tulis dengan seksama. Ia sedikit heran, bagaimana anak-anak itu bisa begitu serius memerhatikan papan tulis.
'Benar-benar membosankan.'
B&B
Hyuuga Hinata duduk di bangkunya – melamun – tak mendengarkan sepatah kata pun kalimat-kalimat yang diucapkan Ino, sahabatnya. Mimpinya tadi malam benar-benar mengusik pikirannya.
Hinata tak menyangka kenangan itu akan muncul lagi. Memori saat ulang tahunnya sepuluh tahun yang lalu, dimana ada anak laki-laki seumurnya memberinya kado sebuah kotak musik dengan miniatur ballerina yang masih disimpannya sampai sekarang. Sayang, itu merupakan pertemuan pertama dan terakhirnya dengan anak laki-laki itu. Hinata tak pernah bertemu dengannya lagi. Kabarnya keluarga anak itu pindah ke kota lain.
Seiring berjalannya waktu, wajah anak itu pun tak lagi Hinata ingat. Memori yang tersisa hanyalah warna mata kelam anak itu. Iris mata yang sangat kontras dengan miliknya. Di mimpinya pun, Hinata tetap tidak bisa melihat jelas sosok pemuda kecil itu.
Hahh…
Menghela nafas karena tetap tak bisa mengingat, gadis itu menetakkan dagunya di atas meja. Ino yang melihat Hinata tak biasanya mengeluh itu menjadi heran.
"Ada apa, Hun?"
Hinata menggeleng pelan. Belum sempat Ino bertanya lebih jauh, Lee – si ketua kelas tiba-tiba memasuki kelas sambil berteriak.
"Yosh, teman-teman! Pengumuman penting. Yamato-sensei tidak bisa hadir hari ini, jadi beliau akan mengirimkan tugas ke e-mail kita nanti malam. Untuk hari ini, pelajaran kelas kita cukup sampai di sini. Tapi kita tidak boleh berisik, lho!"
Sorakan langsung terdengar dari kelas 2-1 ini. Namun Lee segera meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, sebagai isyarat tidak boleh berisik. Anak-anak lain pun mengikuti perintah ketua kelas mereka yang nyentrik itu.
"Hinata, bagaimana kalau kita ke salon?" usul Ino seraya memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
"Umm… gomen, Ino-chan. Sepertinya aku tidak bisa. Nanti ada latihan" tolak Hinata halus.
Ino mengerucutkan bibirnya, namun sedetik kemudian senyuman muncul di wajah cantiknya. Bagaimanapun, ia tahu pasti kalau jadwal Hinata memang padat. Apalagi setelah mendapatkan juara di kompetisi balet kemarin.
"Um… well, kalau begitu aku duluan. Bye, Hunny!"
"Hati-hati, Ino-chan…" Hinata melambaikan tangannya. Gadis itu lalu membereskan alat-alat tulisnya. Setelah merasa tak ada sesuatu yang tertinggal, Hinata segera melangkah keluar kelas –menuju tempat favoritnya di Konoha Gakuen ini.
B&B
Sasuke sedang berjalan mengelilingi sekolah – lebih tepatnya mencari tempat yang nyaman untuk membolos. Kelas memasuki pelajaran ketiga dan hari semakin siang. Rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya dan tak bisa ditahan lagi. Sasuke pun memutuskan untuk membolos.
Masih mencari tempat untuk membolos, tiba-tiba indra pendengarnya menangkap sebuah musik yang terasa tak asing baginya. Musik yang menarik perhatiannya hingga tanpa sadar menuntunnya untuk mendekat ke sumber suara. Ia berhenti di depan ruangan yang bertuliskan 'ruang latihan dansa'.
Sasuke membuka pintu ruangan yang terletak paling ujung di gedung sekolah itu. Ia mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan.
Seorang gadis seusianya terlihat sedang menari kesana-kemari. Tampaknya gadis itu sedang berlatih balet. Tubuhnya yang terbalut kaus dan celana panjang longgar menari dengan lincah.
Ada sesuatu yang membuat Sasuke enggan mengalihkan pandangannya. Ia merasa kejadian ini seperti déjà vu. Gerakan tarian gadis itu seperti pernah ia lihat. Sasuke memasuki ruangan penuh kaca itu, tanpa mengalihkan pandangannya.
'Ini gadis di TV semalam.'
Teringat liputan tentang gadis itu yang dilihatnya semalam tak membuat rasa penasaran Sasuke berkurang.
Sepertinya sang gadis terlalu fokus pada tariannya, sehingga tak menyadari ada sepasang mata yang tengah menatapnya intens.
Sasuke semakin mendekat. Seperti ada magnet di tarian ballerina itu yang membuatnya ingin melihat lebih dekat.
Setelah sekitar berjarak satu meter antara keduanya, barulah Hinata sadar ada orang selain dirinya di ruangan itu.
Saking terkejutnya, Hinata yang tengah melakukan gerakan memutar dengan satu kaki tidak bisa mengendalikan keseimbangannya. Tubuh gadis itu limbung ke kiri.
"Kyaa!"
Refleks, Sasuke langsung bergerak maju –meraih tangan Hinata secepat yang ia bisa.
Greb
Sayangnya Sasuke tak ingat kalau sepatu yang ia pakai tidak cocok berada di atas lantai ruang latihan dansa ini.
Brugh
Keseimbangan pemuda bersurai gelap itu pun goyah. Alhasil, terjatuhlah keduanya bersama-sama.
"Aaa…ittai…" gumam Hinata sambil mengelus dahinya.
Perlahan didongakkan kepalanya ke atas. Kedua manik pearl-nya langsung bertemu pandang dengan dua manik kelam. Hinata merasakan nafasnya tercekat. Iris hitam di hadapannya itu benar-benar indah, namun terasa berbahaya. Mata itu seakan-akan bisa menembus pikirannya, berpaling, Hinata malah merasakan dirinya semakin terhipnotis dengan onyx itu. Hening menyelimuti keduanya.
"Minggir! Kau berat!"
Hinata seketika tersadar akan posisinya sekarang. Ia jatuh dengan menimpa pemuda tak dikenal. Wajah mereka berjarak begitu dekat.
Hinata bergegas berdiri. "Go-gomenasai…" ucapnya sambil membungkuk.
"Tch!" Sasuke merapikan kemejanya – walaupun sedari awal sudah tidak rapi.
"Arigatou," ucap Hinata pelan.
Kedua pasang mata berbeda warna itu bertemu lagi. Sasuke menatapnya heran. "Untuk apa?"
"Karena menolongku agar tak jatuh."
Sasuke memutar matanya. "Lupakan."
Merasa pakaiannya telah bersih, tubuhnya berbalik – bersiap meninggalkan ruangan.
"Tunggu. Apa kau anak baru? Aku belum pernah melihatmu." Pertanyaan Hinata menahan pemuda itu untuk pergi.
"Hn." Sasuke menyahut seraya menoleh.
"Kalau begitu… Selamat datang di Konoha Gakuen!" kata Hinata seraya mengeluarkan senyum tulusnya.
Sasuke terdiam. Ia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan tubuh mungil itu. Ia tidak tertarik untuk dekat dengan murid Konoha, termasuk gadis ballerina di hadapannya itu.
"Tak perlu sok baik. Lagipula aku tak akan lama tinggal di sekolah membosankan ini." Kata-kata tak sopan yang keluar dari mulut Sasuke membuat iris Hinata sedikit melebar.
"Huh?"
Hinata masih tak mengerti sikap kasar murid baru itu. Sadar kalau ini adalah waktunya pelajaran, lagi-lagi Hinata menahan kepergian pemuda itu.
"Tunggu!"
Sasuke yang hampir mencapai pintu menoleh dengan kesal. "Apa?"
"Kamu bolos, ya? Ini kan, belum waktunya pulang sekolah." Teguran Hinata membuat Sasuke memelototinya.
"Bukan urusanmu." Nada suara yang dikeluarkan bungsu Uchiha itu semakin menandakan kekesalan.
"Aku salah satu anggota komite kedisiplinan. Jadi aku berhak memperingatkanmu."
Tatapan Sasuke semakin tajam, namun Hinata tak bergeming sedikit pun. Dengan langkah pelan, pemuda itu mendekatinya.
"Bukannya kau sendiri juga bolos?" Pertanyaan Sasuke hanya disambut senyuman oleh Hinata.
"Kelasku memang sudah selesai," sahutnya santai. "Kau harus masuk kelas!"
Tch!
Sasuke benar-benar benci jika ada yang mengaturnya. Ia meraih dengan kasar bagian depan kaos Hinata dan menariknya hingga wajah keduanya saling berhadapan.
"Aku hanya akan mengatakannya sekali." Tatapan Sasuke makin tajam, namun Hinata tetap bertahan.
"Pertama. Aku tidak mengenalmu. Kedua, apa kau tak punya urusan lain selain ikut campur urusanku?" Suaranya terdengar begitu dalam dan penuh dengan ancaman. "Mind your own business! Atau akan kubuat kau menyesal, Nona!"
Iris pearl Hinata benar-benar menampakkan keterkejutan kali ini.
Dilepas cengkramannya pada baju Hinata, membuat gadis berambut panjang itu jatuh terduduk.
BRAKK
Suara pintu yang dibanting Sasuke menimbulkan gema. Hinata menatap datar pintu itu, kemudian ia tertawa kecil. Ini pertama kalinya ia diperlakukan seperti itu oleh anak laki-laki.
B&B
Dua jam yang tersisa sebelum sekolah usai dihabiskan Sasuke untuk tidur di atap. Mood-nya hari ini memburuk gara-gara gadis ballerina yang ditemuinya tadi.
Ia sedang menyusuri koridor saat mata onyx-nya menangkap sosok gadis yang membuatnya kesal. Gadis itu terlihat sedang becanda dengan murid laki-laki berambut pirang di depan kelas.
"Hei, kau!" ia memanggil seorang siswa yang tengah mendorong troli berisi bola tenis.
"Ada apa?" tanya siswa berambut model mangkok terbalik itu.
"Itu siapa?" telunjuk Sasuke menunjuk ke arah Hinata.
"Oh. Kau pasti anak baru itu, ya? Pantas tidak tahu." Lee meletakkan tangannya di dagu sembari mengangguk.
"Cepat jawab."
"Sabarlah, kawan. Dia Hyuuga Hinata. Teman sekelasku, kelas 2-1. Kemarin baru saja memenangkan kompetisi balet nasional. Tapi jangan harap kau bisa mendekatinya," jelas Lee dengan semangat.
"Kenapa?"
"Kau lihat anak berambut pirang jabrik di sampingnya? Dia Namikaze Naruto. Dia mantan yankee. Dia juga pemegang sabuk hitam taekwondo. Dia tidak akan membiarkanmu menyentuh Hinata sedikit pun."
"Hanya itu?"
"Biasanya akan ada kakaknya Hinata. Namanya Neji, ketua klub karate. Dia mengidap sister complex. Bisa dipastikan kau akan masuk rumah sakit kalau menggoda Hinata."
Sasuke menatap Lee dengan pandangan tak percaya.
Jadi dia tipikal nona muda yang dikelilingi bodyguard. Benar-benar menyebalkan.
Merasa ada yang memerhatikan, pandangan Hinata kini beralih ke arah Sasuke. Ia melambaikan tangannya. Sasuke yang melihatnya hanya menyeringai.
"Well… aku mau bukti," gumamnya.
Tangan kanan Sasuke mengambil raket yang dipegang oleh Lee, sedangkan tangannya yang lain mengambil satu bola tenis dari troli.
"Kau mau apa?" Lee menatapnya dengan curiga.
Sasuke bersiap memukul bola itu ke targetnya. Ia mengayunkan raketnya dengan kekuatan penuh.
"Hei, anak baru! Tidak boleh bermain-main dengan bola tenis."
Tak
Terlambat. peringatan Lee tak didengar sedikit pun oleh Sasuke.
Ia memukul bola dengan kuat, tepat ke arah Hinata yang masih menatapnya. Lee tentu saja hanya bisa menganga melihat aksi anak baru yang berani itu.
Greb
Dengan gesit Naruto menangkap bola berwarna hijau itu. Mata birunya kini menatap si pelempar bola penuh marah. Dengan langkah cepat ia segera menghampiri Sasuke. Hinata berlari kecil di belakangnya, berusaha menahan Naruto.
"Brengsek! Apa yang mau kau lakukan pada Hinata?" hardik Naruto begitu sampai di depan Sasuke.
"Tanganku licin." Sasuke menjawab dengan santai, membuat amarah Naruto semakin memuncak.
Naruto bersiap melayangkan tinjunya, namun dengan cepat Hinata menahannya.
"Ja-jangan, Naruto-kun. Aku tak apa-apa."
Naruto berbalik menatap Hinata setengah tak percaya.
"Kau bilang apa? Dia hampir saja melemparkan bola ini ke wajahmu, Hinata!"
Hinata menggeleng, berusaha meyakinkan kalau Sasuke memang tak sengaja. Ia merasa sedikit bersalah karena sebelumnya membuat pemuda raven itu marah. Ia juga tak ingin ada keributan. Beruntung Neji dan Ino – yang lebih overprotective dari Naruto –tak ada di sini.
Lee yang jelas tahu kalau Sasuke sengaja melempar hanya diam. Ia juga tidak mau ada keributan.
"Dia pasti tak sengaja. Ayolah, Naruto-kun. Lebih baik kita pulang. Aku lapar."
Melihat ekspresi memohon Hinata membuat Naruto tak kuasa menolak. Ia pun mengangguk, namun sorot matanya menajam saat bertatapan kembali dengan Sasuke.
"Lain kali, jangan harap kau bisa selamat." Setelah mengatakan itu Naruto menarik tangan Hinata untuk pergi.
Menghela nafas dan menyeringai, membuat Sasuke semakin menampakkan sisi bad boy-nya.
"Whatever."
t.b.c
Sasuke ngeselin banget nggak disini? Atau kurang nyebelin? Ahaha ~~~~
Bosan kalo sasuke yg ngejar hinata mulu… jadi di fic ini sasunya jual mahal gitu. Padahal sebenernya ngebet banget lho dia ama hinata. wkwkwk :DD
Ini rate M karena berbagai alasan *halah*. Karena kata2nya, konflik n untuk chap2 depan. ^^
Special Thanks to ::
Yamanaka Emo, Sabaku no ligaara, n, lavender hime chan, RK-Hime Unlogin, SuHi-18, natsume, Hyou Hyouichiffer, M. K, uchihyuu nagisa, fleurslanoire, lonelyclover, Airin Aizawa, Mikky-sama, Uciha Tiffany, Lollytha-chan, Sasuhina-caem, mari isozaki, Mei Anna AiHina, Yukio Hisa, , mewmew, Animea Lover Ya-ha, daisuke, My Lavender and all silent readers.
Thanks for reading, reviewing, fav, dll. :DD
Oke, biar nggak terlalu banyak wordnya, sekian dari saya.
Komen, review, kritik, dll akan saya trima dengan senang hati. *kecuali kritik ttg pair.* :D
Jaaaa~~~
Regards,
Ayuwaza Shia
.
.
Click the review button, please? ^^
