dangerouSHIRO present :

"Lonely Prince"

All chara own by SMent

This fanfic using MALExMALE story

So, if you DON'T LIKE that thing…

Make it simple!

DON'T READ my fanfic!

Dedicate for my sister RUN MAHARANI

I DON'T NEED FLAMER OR BASHING!

( ¯ _ ¯!)

And if you don't like all pairing in this story,

Just GO AWAY!

XOXOX

Sepeninggal Leeteuk dari kamar Kyuhyun, pelayan Shim yang datang untuk melihat keadaan tuan muda kecilnya itu langsung mengernyit kaget ketika dirinya melihat pintu kamar Kyuhyun terbuka lebar. Namja paruh baya itu buru-buru melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar tersebut, dan betapa terkejut dirinya ketika ia mendengar suara tangis yang terdengar aneh milik Kyuhyun.

Pelayan Shim pun dengan segera menghampiri box mungil yang ada di sudut ruangan. Mata namja paruh baya itu langsung terbelalak ketika ia melihat tubuh Kyuhyun mengalami kejang yang begitu hebat. "Astaga!" Pekiknya ketika ia melihat keadaan Kyuhyun yang sangat mengenaskan.

Dengan segera, pelayan Shim mengangkat tubuh mungil Kyuhyun ke dalam gendongannya. Namja paruh baya itu memeluk tubuh mungil tuan muda kecilnya dengan begitu erat, "Tuan Muda...apa yang terjadi? Astaga, kemana semua pelayan di rumah ini!" Ujar pelayan Shim dengan panik. Ia membawa Kyuhyun keluar dari kamar dengan terburu-buru ketika ia melihat busa putih mulai keluar dari dalam mulut kecil milik Kyuhyun.

"Tuan Muda, bertahanlah..." Bisik pelayan Shim sembari menuruni anak tangga.

Sesosok maid yang melihat pelayan Shim menuruni tangga dengan terburu-buru sambil menggendong Kyuhyun, langsung menghampiri namja paruh baya itu dengan wajah panik. "Tuan, ada apa dengan tuan muda? Kenapa tuan muda─"

"Jangan banyak bicara! Cepat panggilkan supir untuk segera menyiapkan mobil, aku akan membawa tuan muda Kyuhyun ke rumah sakit." Perintah pelayan Shim pada maid tersebut.

Tanpa perlu mendengar perintah untuk kedua kalinya, maid itu langsung berlari keluar kamar untuk memanggil supir, sementara pelayan Shim berlarian menuju pintu utama mansion keluarga Choi. Ketika namja paruh baya itu berlari melewati ruang keluarga, dirinya melihat sosok Donghae yang tengah terduduk dalam diam disebuah sofa.

Namja kecil berusia sepuluh tahun itu tampak tengah memandangi sebuah album foto dengan mata yang menerawang. Pelayan Shim ingin sekali mendekati tuan mudanya yang satu itu, namun niatnya terhenti ketika kejang yang ia rasakan dari tubuh mungil Kyuhyun semakin terasa kencang.

Pelayan Shim pun memilih untuk mengabaikan Donghae dan meninggalkan namja kecil itu sendirian, di ruang tengah yang sepi. Sebersit rasa bersalah kini terselip di dalam hati namja paruh baya itu, "Maafkan saya tuan muda Donghae..." Gumamnya dalam hati.

XOXOX

Sarapan pagi kali ini dilewati oleh Donghae dengan kesendirian. Namja kecil itu mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruang makan, tak ada lagi sosok orang tuanya─apalagi kakaknya, Leeteuk. Donghae memandang kosong pada makanan-makanan yang tersaji dihadapannya, "Sooyoung-noona?" Panggil Donghae pada seorang maid yang berdiri disampingnya─yang bertugas menemani Donghae sarapan, atas perintah Leeteuk tentunya.

Yeoja muda berambut panjang itu mendekat kearah Donghae, lalu merundukkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi sang tuan muda. "Ada apa tuan muda? Apa anda mau menu sarapan yang lain?"

Donghae menggeleng sambil masih menatap kosong kearah meja yang penuh dengan makanan. Entah kenapa kali ini Donghae merasa tak ada niat sama sekali untuk menyentuh semua makanan itu, walaupun makanan itu terlihat sangat enak.

Sooyoung menatap prihatin tuan mudanya itu, ia mengerti bagaimana keadaan Donghae yang secara drastis langsung berubah. Sooyoung bukan tak mengenal bagaimana Donghae, yeoja muda itu sangat mengenal namja kecil itu karena dialah pelayan sekaligus nanny yang merawatnya sejak ia balita.

"Tuan muda─"

Donghae menengadahkan kepalanya untuk menatap Sooyoung, "Kemana Leeteuk-hyung? Dia tidak sarapan?"

"Tuan muda Leeteuk pergi pagi-pagi sekali, tuan muda. Tadi dia sudah sarapan lebih du─" Kata-kata Sooyoung terputus ketika ia melihat Donghae sudah menurunkan tubuhnya dari atas kursi.

Namja kecil itu berjalan menjauh untuk keluar dari ruang makan. Sooyoung menatap punggung mungil Donghae dengan tatapan sedih, sekilas yeoja itu melihat kalau punggung Donghae bergetar. "Mungkin anak itu menangis," Gumam Sooyoung ketika dirinya benar-benar sendirian diruang makan.

Sooyoung menatap kearah kursi kosong yang biasa di duduki oleh Siwon dan Kibum dengan tatapan nanar, "Tuan...kalian berdua pergi begitu cepat. Andai kecelakaan itu tak pernah terjadi, kalian pasti masih bisa duduk di atas kursi itu."

XOXOX

Choi Corp Town...

"Apa ini tidak terlalu cepat, Yunho-ahjussi?" Tanya Leeteuk pada sosok seorang namja yang kini tengah duduk dihadapannya. Namja tampan bernama Yunho itu tersenyum getir ketika mendengar pertanyaan Leeteuk, "Leeteuk-ah...ini sesuai dengan apa yang ditulis dalam wasiat Appamu." Jawab Yunho lembut.

Mendengar jawaban dari seseorang yang merupakan teman terdekat dan terpercaya ayahnya, Leeteuk tak mampu berkata apa-apa lagi. Namja muda berusia tiga belas tahun itu hanya bisa meremas celana panjang berbahan kain yang ia kenakan dengan erat, "Tapi aku masih terlalu muda untuk menggantikan Appa."

Yunho menghela nafas panjang, lalu bangkit dari kursi kerjanya. Namja tampan bermata tajam itu berajalan mendekati Leeteuk, lalu memeluknya. "Aku tahu ini semua memang terlalu cepat untukmu, Leeteuk-ah. Tapi bagaimanapun juga, tidak ada yang bisa mewarisi ini semua selain dirimu." Kata Yunho lembut, mencoba untuk memberikan penjelasan.

"Tapi ahjussi, ini terlalu berat. Aku masih dalam masa berduka, aku juga masih syok dengan semua kejadian yang menimpa Appa dan Umma. Lalu tiba-tiba aku harus mewarisi semua aset Appa─termasuk menjadi presdir perusahaan ini. Apa semua ini tidak terlalu berlebihan?" Leeteuk mencoba protes, namun Yunho hanya bisa menepuk-nepuk pelan punggung namja muda itu─mencoba memberikan semangat.

Leeteuk memang tidak bisa menerima keputusan dewan komisaris dan beberapa petinggi di perusahaan ayahnya, yang menyuruhnya untuk segera menggantikan posisi dari mendiang ayahnya. Semua terlalu tiba-tiba, membuat Leeteuk merasa terhimpit beban berat hingga ia tak bisa bernafas sama sekali.

Leeteuk kehilangan orang tuanya dengan begitu tiba-tiba. Ketika di pagi hari sebelum kecelakaan pesawat itu terjadi, ia masih bisa melihat senyuman kedua orang tuanya, ia masih bisa mendengar suara merdu sang ibu yang mengingatkannya untuk menjaga sang adik─Donghae, dan segala macam kenangan yang terlalu cepat berakhir. Hingga ketika pemakaman pun, Leeteuk sama sekali tak mengeluarkan air mata─entah karena ia terlalu kaget atau memang tak mampu menangis.

Leeteuk sempat mengira kalau semuanya adalah mimpi buruk, namun ketika ia terbangun keesokan harinya...semuanya memanglah kenyataan. Tak ada lagi orang tuanya, yang ada hanya dirinya─sendirian.

"Kalau kau merasa berat, ahjussi akan membantumu hingga kau mampu memimpin perusahaan ini nantinya."

Leeteuk melepaskan pelukan Yunho, ia tatap mata tajam bak musang milik namja tampan itu dengan sendu. "Kalau aku tidak bisa?"

Yunho tersenyum lembut pada Leeteuk sambil mengelus pelan surai madu yang tumbuh di kepala namja kecil itu. "Ahjussi yakin, kau pasti bisa. Kau ini hebat seperti ayahmu, kau juga pantang menyerah...seperti ibumu."

XOXOX

Pelayan Shim yang tengah tertidur disebuah kursi yang ada di dalam kamar rawat Kyuhyun, kini mulai terusik dengan cahaya matahari yang mulai merangsek masuk ke dalam ruangan tersebut. Namja paruh baya itu mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengumpulkan kesadaran, "Sudah pagi?" Gumamnya pada diri sendiri.

"Astaga! Aku belum pulang sama sekali ke mansion!"

CKLEK!

Pelayan Shim menolehkan kepalanya ketika ia mendengar pintu kamar terbuka, tak berapa lama matanya menangkap sosok seorang dokter bersama seorang perawat yang tengah tersenyum padanya. Pelayan Shim pun langsung berdiri dan membungkukkan tubuhnya sedikit pada kedua orang tersebut.

"Kami ingin memeriksa keadaan pasien, tuan." Ucap sang perawat yang sudah berada disamping ranjang Kyuhyun.

"Ah, silahkan uisanim..."

Pelayan Shim membiarkan dokter dan perawat itu memeriksa keadaan tuan mudanya. Namja paruh baya itu dengan seksama memperhatikan gerak-gerik sang dokter, hingga tanpa ia sadari, sang dokter dan perawat sudah selesai dengan tugas mereka.

"Tuan?"

Pelayan Shim terlonjak sedikit ketika ia mendengar suara bass milik sang dokter. Namja paruh baya itu menatap dokter tersebut dengan tatapan menuntut penjelasan, "Bagaimana keadaannya uisanim?"

Dokter muda berkacamata itu menatap prihatin pada sosok pelayan Shim, "Sepertinya...anak anda memang menderita kelainan sejak lahir, apakah saya benar tuan?" Tanya sang dokter, membuat pelayan Shim mengerutkan kening karena bingung.

"Maksud uisanim apa?"

Dokter tersebut menepuk pundak pelayan Shim beberapa kali, "Anak anda adalah pengidap autisme. Dan karena kelainan otak itu, anak anda juga mengidap epilepsi."

"..."

"Epilepsi adalah penyakit yang berbahaya jika anda tidak memberikan perhatian lebih pada si penderita, tuan. Maka dari itu, mulai sekarang tolong perhatikan keadaan anak anda. Saya permisi tuan..."

Mendengar penjelasan sang dokter, pelayan Shim kini terdiam bagai patung. Namja paruh baya itu tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ia ingin menganggap bahwa dirinya hanya salah dengar saja. Namun ketika ia mendengar tangisan lirih yang dikeluarkan oleh Kyuhyun, pelayan Shim pun kembali pada kenyataan.

Namja paruh baya itu mengalihkan pandangannya pada sosok Kyuhyun yang tengah menangis dengan suara yang terdengar aneh, ia pejamkan matanya erat-erat karena ia masih berharap bahwa semuanya adalah mimpi. Namun ketika ia membuka matanya kembali, semuanya masih sama. Dan semua yang telah ia dengar...adalah sebuah kenyataan pahit, yang harus ia hadapi.

XOXOX

Leeteuk tak menjawab apapun ketika malam itu pelayan Shim datang menemuinya untuk membicarakan sesuatu. Setelah Leeteuk mendengarkan semua perkataan dari pelayan Shim, namja muda keluarga Choi itu mematung.

Melihat reaksi yang diberikan oleh tuan mudanya itu, pelayan Shim pun tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya bisa memandang Leeteuk yang kini pandangan matanya terlihat menerawang, kosong, serta tak mampu dibaca.

"Tuan muda," Panggil pelayan Shim pada akhirnya.

Leeteuk masih dengan tatapan matanya yang kosong, mencoba untuk menatap pelayan kepercayaan keluarganya itu. "Buang Kyuhyun!"

"Ap-apa?"

Leeteuk menatap nyalang pada pelayannya itu, "AKU BILANG BUANG ANAK MENJIJIKKAN ITU!" Teriak Leeteuk sembari membanting sebuah vas bunga yang ada di dekatnya.

Bunyi pecahan porselen pun terdengar memenuhi ruang kerja─yang dulunya milik Siwon. Pelayan Shim pun memejamkan matanya untuk menguasai rasa kagetnya akibat tindakan Leeteuk.

"Buang anak itu, dan jangan pernah perlihatkan dia lagi ke hadapanku apapun yang terjadi! Jangan pernah biarkan publik tahu kalau anak itu adalah pewaris keluarga Choi, jangan pernah perlihatkan dia ke hadapan publik!"

"..."

Leeteuk membalikkan tubuhnya membelakangi sosok pelayan Shim. Namja muda berusia tiga belas tahun itu memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit dan sesak yang kini memenuhi dadanya, "Aku akan buat berita kalau putera terakhir keluarga Choi sudah meninggal." Kata Leeteuk dengan nada sarkatis, untuk menyembunyikan isakan yang hampir keluar dari mulutnya.

"Tuan muda..."

Leeteuk menggigit bibir bawahnya, "Aku tak ingin seorang authisme yang mengidap epilepsi...ada diantara silsilah keluarga kami."

Pelayan Shim tak mampu berbuat apa-apa ketika Leeteuk telah mengucapkan hal tersebut. Kini, dirinya hanya bisa menuruti saja tanpa perlu berbicara banyak. Namun tanpa Leeteuk atau pelayan Shim sadari, ada sesosok tubuh kecil yang telah mendengarkan percakapan mereka sedari awal.

Tubuh kecil yang di miliki oleh Donghae, kini tengah mematung di depan pintu ruang kerja milik Siwon dengan mata yang membelalak. Tak sulit bagi Donghae untuk mengerti inti dari percakapan hyungnya itu dengan salah satu pelayan kepercayaan keluarganya. Kini tubuh kecil Donghae bergetar dalam kesunyian malam, ditengah gelapnya koridor rumah mewahnya, Donghae berdiri sendirian tanpa ada teman sama sekali.

XOXOX

Seminggu setelah pelayan Shim menyampaikan detail keadaan Kyuhyun pada Leeteuk─dan malah mendapatkan perintah kejam untuk membuang Kyuhyun, pelayan Shim pun membawa Kyuhyun yang sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit ke rumahnya sendiri.

Namja paruh baya itu kini tengah berdiri diam di depan pintu rumahnya sendiri. Ia sedang memikirkan keputusan yang hendak di ambilnya sembari meyakinkan hatinya sendiri. Dan setelah beberapa saat berpikir, pelayan Shim pun mulai memutar kenop pintu rumahnya dengan sebelumnya ia menghela nafas panjang. "Aku pulang sayang..." Kata pelayan Shim ketika pintu rumahnya terbuka.

"Oh, kau sudah pulang? Aku baru saja selesai memandikan Changmin," Sapa seorang yeoja cantik yang baru saja keluar dari dalam kamar sambil menggendong sesosok bayi laki-laki.

Pelayan Shim tersenyum lembut pada istrinya, namun senyum lembutnya malah di balas dengan tatapan bingung ketika ia melihat sang suami tengah menggendong seorang bayi laki-laki tak di kenal. Yeoja cantik itu segera mendekati sang suami, "Sayang...siapa anak ini? kenapa dia begitu pucat dan─"

"Mulai sekarang, hingga dia berusia lima belas tahun...kita akan merawatnya."

Yeoja cantik itu semakin bingung mendengar perkataan suaminya, "Maksudmu?"

Pelayan Shim mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun kecil yang ada di dalam gendongannya, dengan tatapan sedih ia menatap bayi itu lekat-lekat. "Namanya Choi Kyuhyun," Ujar pelayan Shim dengan senyuman getir yang terhias di wajahnya. Kembali namja paruh baya itu menatap kearah istrinya, lalu beralih pada sang anak yang ada di dalam gendongan sang istri. "Changmin-ah...mulai sekarang, jagalah Kyuhyun seperti Appa menjaga keluarganya. Jadilah teman yang baik dengannya, ne?"

"Jadi...anak ini─"

Pelayan Shim mengangguk, "Iya sayang. Anak ini, adalah anak keluarga Choi yang di asingkan oleh kakak tertuanya hanya karena anak ini adalah seorang auhtisme yang mengidap epilepsi."

XOXOX

15 tahun kemudian...

Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gedung Choi Corp. Ketika pintu mobil tersebut terbuka, tampaklah sesosok namja berwajah tampan yang memiliki surai sewarna almond. Namja berusia dua puluh lima tahun itu menjejakkan kakinya di pelataran depan gedung Choi Corp dengan angkuh, sembari membenarkan jasnya ia berjalan masuk kedalam lobi.

Beberapa orang yang berpapasan dengannya, terlihat membungkuk dengan hormat. Beberapa ada yang memberikan ucapan salam─yang terkesan basa-basi, yang langsung di acuhkan oleh namja tampan tadi.

"Kesombonganmu itu belum berubah ya...Choi Donghae?"

Namja tampan yang tak lain adalah Donghae, langsung menoleh ketika ia mendengar suara yang amat familiar di telinganya. Donghae tersenyum ketika ia melihat siapa yang telah berdiri tak jauh dari dirinya, "Suaramu masih saja seperti itu, Hyukkie?"

Eunhyuk, langsung berlari menghampiri Donghae ketika namja tampan di hadapannya itu tersenyum padanya. Eunhyuk langsung memeluk Donghae dengan erat, "Lama tak berjumpa semenjak Hae pergi ke Russia. Aku merindukan Hae-fishy!"

"Aku juga merindukanmu, anchovy!" Kata Donghae sembari mengacak-acak rambut Eunhyuk.

Eunhyuk dan Donghae pun tertawa ketika masing-masing dari mereka menyadari betapa konyolnya mereka saat ini. Eunhyuk menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan salah tingkah, "Hae tumben kesini, mau ketemu Leeteuk-hyung ya?"

Donghae mengangguk, "Iya. Aku mau bertemu dengan si workaholic itu, hitung-hitung sebagai pemberitahuan kalau aku sudah kembali."

"Iya! Leeteuk-hyung selalu gila kerja. Bahkan ketika hari libur, dia masih datang ke kantor untuk mengerjakan laporan-laporan menyebalkan itu. Aku saja sudah muak dengan laporan-laporan itu, tapi Leeteuk-hyung sama sekali tidak terlihat muak!" Kata Eunhyuk panjang lebar sambil memajukan bibirnya.

"Siapa yang kalian gosipkan di depan lift seperti ini?"

Donghae dan Eunhyuk langsung gugu ketika mereka melihat sosok Leeteuk telah berdiri di dekat mereka dengan wajah yang dibuat kesal. Leeteuk berjalan menuju kearah Donghae, lalu memukul kepala dongsaengnya itu dengan sepenuh hati. "Untuk apa kau kesini? Ini bukan taman bermain, asal kau tahu saja Choi Donghae!" Kata Leeteuk disertai dengan sebuah senyuman di wajahnya─yang terlihat amat terpaksa.

Donghae tak menjawab pertanyaan Leeteuk. Namja tampan itu menatap wajah hyungnya itu dala-dalam, dan sebuah senyum tipis tersungging diwajahnya ketika ia menyadari senyuman Leeteuk masih seperti dulu─terkesan palsu dan terpaksa.

'Sudah lima belas tahun berlalu, kenapa hyung masih seperti ini? Apa luka itu terlalu dalam dan sakit untuk hyung lupakan?'

XOXOX

Disebuah swalayan yang ada di kota Gwangju, tampak sesosok pemuda bertubuh kelewat tinggi tengah menghela nafas berkali-kali ketika ia melihat tingkah namja lain yang duduk di dalam troli yang sedang ia dorong. Changmin, menepuk tangan Kyuhyun yang tengah memegang-megang snack rasa cokelat di barisan makanan ringan. "Kyu! Aku sudah pernah bilang, jangan terlalu banyak makan cokelat. Nanti kalau gigimu bolong bagaimana?"

Namja lain yang ternyata adalah Kyuhyun, hanya bisa memajukan bibirnya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. "Cokelat...Kyu mau cokelat!"

"Jangan merengek, kau itu sudah lima belas tahun Kyuhyun!"

Kyuhyun tak mau perduli dengan semua perkataan Changmin, namja manis itu kini malah tengah berusaha untuk keluar dari dalam troli yang sudah penuh oleh bahan-bahan makanan dan kebutuhan lainnya. Setelah berhasil keluar dari dalam troli, Kyuhyun segera berlarian menuju ke barisan mainan yang letaknya tak begitu jauh dari barisan makanan ringan.

Changmin hanya bisa menghembuskan nafas panjang melihat tingkah Kyuhyun yang tidak setara dengan usianya. Kyuhyun kini telah tumbuh menjadi remaja laki-laki berusia lima belas tahun, namun karena namja manis itu adalah seorang pengidap authisme, sikapnya malah lebih mirip dengan anak berusia lima tahun.

Changmin mendorong trolinya dengan kesal, namun ada senyuman yang tersungging di wajah tampannya. "Kyu~~tunggu aku! Kalau kau tidak menuruti perintahku, aku tidak akan membelikanmu buku bergambar lagi!"

Kyuhyun hanya bisa tertawa-tawa ketika dirinya terus berlari menuju kearah rak mainan, ketika dirinya sudah berada di depan ratusan mainan yang terpajang, namja manis itu hanya bisa ternganga takjub. "Uwaaaa...bagus! Kyu mau yang robot! Ada lego juga! Puzzle~!" Girangnya.

Namja manis dengan rambut berwarna cokelat halus itu tampak bingung dengan mainan-mainan yang dilihatnya. Namun hanya satu mainan yang menarik perhatian Kyuhyun, karena mainan tersebut adalah mainan favoritnya sejak dulu. Kyuhyun menatap mainan itu dengan mata berbinar-binar, "Hyung~Kyu mau lego...tapi kenapa legonya tinggi?"

"Kau mau ambil mainan yang mana anak manis?" Tanya seorang namja yang kebetulan berdiri di dekat Kyuhyun.

Kyuhyun menunjuk mainan lego yang ia inginkan tanpa menoleh kearah namja tersebut. Dan ketika namja itu meraih mainan lego yang di tunjuk oleh Kyuhyun, barulah ia menolehkan kepalanya. "Terima kasih hyu─eh? Hyung siapa?"

Namja tampan berambut sewarna almond yang sedang menatap Kyuhyun itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah polos yang ditunjukkan oleh Kyuhyun. "Namaku Choi Donghae, kalau namamu siapa?"

Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menatap Donghae, "Namaku Kyu..." Kata Kyuhyun dengan polosnya sambil memeluk lego yang tadi diambilkan oleh Donghae. Kyuhyun tertawa lebar sambil mengulurkan tangannya, "...Choi Kyuhyun!"

T B C

Chapter 2 akhirnya kelar juga...

Buat readers yang udah komen di chapter kemaren, saya ucapin~

TERIMA KASIH

Sumpah saya ga bisa ngomong apa-apa

Ngeliat komen yang antusias sama fanfic abal macem sinetron buatan saya ini.

Hahaha...

Well,

Saya sadar di chapter kemaren ada begitu banyak kesalahan.

Begitupun di chapter ini...

Jadi saya mohon maklum ya.

Saya kan manusia biasa,

Ga lepas dari kesalahan dong?

Buat yang ga suka sama karakter Donghae & Leeteuk disini...

Tolong ngerti, saya buat karakter mereka yang kejam karena tuntutan plot cerita.

Jadi kalo ga suka,

Ya...mau gimana lagi?

So?

Tanpa banyak omong lagi...

Mind to leave me some review?

But, PLEASE BE POLITE!