My Lover is Mermaid!

Author: Lynhart Lanscard

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance/Humor

Pairing: NaruHina

Chapter 2 : My Day with Hinata

"Na...Naruto-kun..."

"Hi...Hinata apa yang kau lakukan?"

"A...aku sudah ti...tidak tahan lagi Naruto-kun..."

"Ba...Baka! Jangan di sini! Jangan lepaskan semuanya di sini!"

"Ta...tapi aku sudah tidak tahan..."

"Kuso! Baiklah tak ada jalan lain!" Naruto langsung berlari menggendong Hinata menuju kamar mandinya. Rupanya kejadian tadi adalah saat Hinata membutuhkan air, karena pada dasarnya bangsa duyung adalah makhluk air tentu saja mereka tetap membutuhkan air untuk bertahan hidup. Para pembaca jangan berpikir yang tidak-tidak ya...

"Mou! Lain kali kalau butuh air bilang saja! Jangan menindihku tiba-tiba begitu! Bahaya tahu!"omel Naruto pada Hinata.

"Bahaya seperti apa?"tanya Hinata polos.

"Ya...eto...seperti...Aaah! Pokoknya bahaya sudah jangan tanya lagi!"

"Baiklah, tapi arigatou Naruto-kun. Kau telah menyelamatkan hidupku untuk yang kedua kalinya,"ucap Hinata sambil memegangi pipinya yang bersemu merah.

"Bu...bukan apa-apa kok! Sudah aku keluar dulu, kau tenang-tenang saja disini dan jangan buat keributan. Mengerti? Pakaian untukmu juga sudah kusiapkan di atas tempat tidur,"

"Baik."

Naruto segera menutup pintu kamar mandinya, takut kalau Hinata melihat wajahnya yang juga memerah.

"Naruto! Cepat turun dan sarapan!"panggil Kushina.

"Baik Kaa-san! Aku segera turun sebentar lagi!"sahutnya.

Naruto pun segera turun untuk menikmati sarapannya, tentu saja setelah mandi terlebih dahulu. Setelah selesai menggunakan kamar mandi (bergantian dengan Hinata), Naruto mendatangi Hinata yang kini duduk mengamati akuarium kecil milik Naruto.

"Hei Hinata,"panggil Naruto.

"Oh ada apa Naruto-kun?"

"Begini aku mau berangkat sekolah, jadi untuk beberpa jam ke depan aku tidak ada di rumah. Nah kau jangan membuat keributan ya! Atau Kaa-san akan curiga,"Naruto memberi peringatan.

"Baik, tapi aku akan cepat bosan kalau tidak ada apa-apa."

"Kau boleh menonton TV atau DVD di kamarku kalau kau mau."

"DVD? TV? Apa itu?"tanya Hinata polos.

"Masa kau tidak tahu!"

Tentu saja Hinata tidak tahu Naruto, mana mungkin di laut ada TV dan DVD. Akhirnya dengan penjelasan panjang dan lebar, Naruto menjelaskan tentang keajaiban teknologi manusia kepada Hinata yang bernama TV dan DVD.

"Kau sudah mengerti kan cara pakainya?"tanya Naruto sekali lagi untuk memastikan.

"Iya! Rasanya tak sabar aku melihat manusia yang ada dalam kotak cerita DVD Player," ucap Hinata tak sabar.

Jangan tanya saya mengapa Hinata berkata seperti itu, tanya saja pada Naruto! Kan dia yang menjelaskan tentang TV dan DVD pada Hinata! Oke kita kembali ke cerita. Naruto akhirnya dengan berat hati menyerahkan keselamatan kamarnya pada Tuhan, semoga Hinata tidak mengacaukan kamarnya.

Naruto pun segera turun dari kamarnya di lantai dua menuju ruang makan di lantai satu, tempat dimana sarapan yang lezat telah tersedia.

"Lama sekali kau Naruto! Apa saja sih yang kau lakukan!"omel Kushina.

"Tadi aku beres-beres sebentar dan mengecek buku untuk ke sekolah, Kaa-san,"ujar Naruto memberi alasan.

"Sudahlah Kushina, toh Naruto terlambat gara-gara menyiapkan persiapan untuk ke sekolah...Tunggu dulu sejak kapan kau jadi rajin seperti itu Naruto!"tanya Minato terheran-heran.

"Aduh Tou-san ini, bukannya aku selalu seperti ini? Bagaimana Tou-san ini tidak pernah memperhatikan anak sendiri,"ucap Naruto tenang.

"Seperti yang sudah kukatakan semalam, Naruto menjadi aneh dari kemarin,"bisik Kushina.

"Menurutmu apa penyebabnya Kushina?"balas Minato yang ikut berbisik.

"Mungkin kepalanya terbentur karang sehingga aneh seperti itu. Kudengar darinya dia terjatuh ke laut kemarin."

"Apa yang kalian bicarakan berbisik-bisik begitu? Kalian sedang membicarakanku ya?"tanya Naruto sambil mengambi sebuah roti di depannya.

"Ti...tidak kok Naru-chan! Kami tidak membicarakanmu!"ucap Kushina gugup.

"Yasudah kalau begitu. Oh iya bagaimana kalau kita berangkat sekarang Tou-san. Aku tak mau ketinggalan pelajaran saat kelas dimulai."

"Hah! Tidak biasanya kau memikirkan jam masuk, kukira kau tak perduli kalau telat,"ucap Minato tak percaya.

"Bukannya tak baik kalau telat? Kan Tou-san dan Kaa-san yang mengajariku seperti itu,"sahut Naruto.

"Benar juga. Ayo kita berangkat Naruto, kami berangkat dulu Kushina. Ittekimasu!"ucap Minato sambil mencium pipi istrinya.

"Itterashai!"balas Kushina.

"Aah semoga Naruto bisa bersikap dewasa seperti itu terus,"harap Kushina.

Pasti anda semua bertanya-tanya mengapa Naruto bisa bersikap "normal" seperti itu, sepertinya dia bersikap normal untuk menghindari kecurigaan akan orang tuanya terhadapa Hinata. Namun dia sendiri tidak menyadari bahwa sikap "normal"nya itu justru membawa kecurigaan pada dirinya sendiri. Kembali pada cerita, setelah mengantar Naruto ke sekolah Minato langsung menuju ke kantornya yang cukup dekat dari sekolah Naruto.

"Hah! Bagus sekali Kaa-san dan Tou-san tidak curiga padaku sama sekali! Kurasa sikapku tadi agak sedikit berlebihan, ya tidak apa-apalah!"kata Naruto pada dirinya sendiri.

"Hoi dobe! Kalau kau mau bertingkah seperti orang idiot jangan di depanku!"ucap seseorang dari belakang.

"Apa sih kau teme! Membuatku kaget saja! Kau mau aku mati berdiri disini!"ucap Naruto pada Sasuke, sahabat sekaligus musuh abadinya.

"Oh itu akan membuatku lebih mudah, aku tinggal mencari tempat untuk mengubur mayat bodohmu itu lalu aku tidak perlu mendengar ocehan bodohmu itu lagi selamanya."

"Kau ini! Ngajak berantem ya!"ucap Naruto sambil menarik kerah Sasuke.

"Kalau iya kenapa?"sahut Sasuke tak mau kalah.

BLETAK! BLETAK! Sesorang menjitak mereka dengan cukup keras dari belakang.

"Hentikan kalian berdua! Kalian ini pagi-pagi sudah bertingkah seperti orang-orang idiot saja! Apa kalian tidak bisa dewasa sedikit saja!"ternyata Sakura yang menceramahi dan sekaligus memberi "sarapan" mereka berdua. Dia adalah teman Naruto dan Sasuke juga, mereka bertiga telah bersahabat sejak masih kecil.

"Dia dulu yang mulai Sakura-chan!"ucap Naruto sambil memegangi kepalanya yang masih sakit.

"Kalau kau tidak berdiri di depanku sambil berbicara sendiri aku tidak akan mengataimu dobe,"balas Sasuke santai.

"Hentikan kalian berdua! Kalian mau kepala kalian kuadu dengan tiang bendera!"teriak Sakura sambil mengeluarkan aura setannya.

"Te...tentu saja ti...dak! Ma...maaf telah membuat anda kesal Sakura-sama!"ucap Naruto dan Sasuke bersamaan.

"Bagus kalau begitu, sekarang ayo ke kelas,"ucap Sakura yang kini sudah tenang.

"I..iya!"jawab Naruto dan Sasuke.

Dalam perjalanan menuju kelas mereka terlihat Naruto dan Sasuke berbicara mengenai sesuatu yang penting. Ingin tahu? Mari kita dengar percakapan bodoh mereka berdua.

"Dobe kau tahu? Sakura yang sedang marah sungguh mengerikan,"kata Sasuke memulai pembicaraan.

"Benar teme, aku yakin kalau dia berniat sungguh-sungguh tadi akan menghancurkan kepala kita dengan tiang bendera,"sahut Naruto.

"Aku yakin pasti lebih buruk, sebelum dia menghancurkan kepala kita dia sudah lebih dulu mencekik dan menguliti kita,"kata Sasuke dengan antusias.

"Haha! Kau benar teme, untuk kesekian kalinya aku setuju mengenai pendapatmu tentang Sakura-chan,"balas Naruto tak mau kalah, tak sadar ada yang mendengar percakapan mereka berdua.

Sedang asyiknya bercakap-cakap, tiba-tiba mereka merasakan aura kegelapan yang amat sangat mencekam dari arah depan mereka atau dari Sakura lebih tepatnya.

"Kenapa kalian hanya bisa cocok dan akrab saat menjelek-jelekkan aku saja? Dasar para idiot! Mati sana! Shanarooo!"teriak Sakura hendak melayangkan tinju andalannya.

"Tu...tunggu Sakura..."omongan mereka langsung terpotong oleh adegan berikut.

BUAK! BUAK! Sakura langsung menghajar mereka berdua dengan pukulan mautnya, sehingga Naruto dan Sasuke terpental dan langsung mendarat di pintu kelas mereka sendiri.

"Apa yang kalian lakukan? Pagi-pagi sudah malas-malasan di depan pintu, mendokusai,"ucap Shikamaru sang raja pemalas di Konoha Gakuen, yang merupakan teman sekelas Naruto dan Sasuke juga.

"Huh! Aku tidak mau dibilang pemalas oleh orang paling pemalas sepertimu Shikamaru!"ucap Naruto sambil memegangi pipinya yang masih merah akibat pukulan maut Sakura.

"Hei sebelum kau mengataiku lebih baik kau berterimakasih dulu padaku."

"Memangnya apa yang kau lakukan untukku sehigga aku harus berterimakasih padamu?"

"Ini dompetmu bodoh! Kau meninggalkannya sewaktu pulang sekolah kemarin. Entah apa yang terjadi kalau bukan aku yang menemukannya,"ucap Shikamaru sedikit kesal.

"Te...terimakasih Shikamaru! Aku pikir aku akan kelaparan selama satu bulan ini sehingga harus makan kotoran! Terimakasih!"ucap Naruto yang terharu sambil memeluk Shikamaru.

"Oi! Hentikan baka! Kau membuat orang berpikir yang tidak-tidak! Dasar merepotkan!"kata Shikamaru sambil berusaha melepaskan diri dari Naruto.

"Hei! Namikaze-kun! Nara-kun! Kalau mau bermesraan lebih baik lakukan nanti setelah pulang sekolah. Kalian membuatku jijik tahu,"ucap seseorang mengejutkan mereka berdua.

"A...Anko-sensei! Bu..bukan begitu! Aku hanya mengekspresikan rasa terima kasihku pada Shikamaru saja kok!"sanggah Naruto.

"Sudah! Aku tak mau mendengar alasanmu! Lebih baik kalian cepat duduk kelas akan dimulai sebentar lagi!"perintah Anko.

Hari di sekolah terasa sangat menyiksa bagi Naruto, dia terus mengkhawatirkan Hinata yang ada di kamarnya. Dia takut Hinata akan membuat kegaduhan di kamarnya sehingga kamarnya kan terlihat lebih berantakan dari biasanya. Karena itu begitu bel pulang berbunyi dia segera meraih tasnya dan bergegas menuju rumahnya.

"Oi Naruto kau mau kemana?"teriak Kiba dari kelas, namun terlambat Naruto sudah tidak mendengarnya.

"Tumben dia pulang cepat biasanya dia kan mampir dulu bersama kita untuk jalan-jalan,"timpal Chouji sambil mengunyah keripiknya.

"Mungkin dia ada urusan mendadak. Sudahlah tidak usah ikut campur urusannya merepotkan tahu,"sahut Shikamaru.

"Sepertinya ada yang disembunyikan olehnya,"Sakura ikut bergabung dalam pembicaraan.

"Iya sepertinya begitu. Dari tadi aku melihatnya wajahnya terlihat gelisah dan cemas,"ujar Ino.

"Kalian ini benar-benar bodoh, satu-satunya yang dikhawatirkan si bodoh itu adalah amukan ibunya, untuk apa khawatir pada si idiot itu?"kata Sasuke memberi opini.

"Benar juga, tapi kalau kalian benar-benar khawatir kenapa tidak melihatnya sendiri?"saran Sai.

"Ooh benar juga! Kenapa tidak terpikirkan olehku! Ide bagus Sai,"kata Sakura bersemangat.

"Kalau begitu siapa yang mau ikut mengawasi Naruto?"tanya Ino kepada teman-temannya.

"Aah aku tidak ikut merepotkan, jaa minna,"ujar Shikamaru sambil keluar kelas.

"Shikamaru! Dasar bocah pemalas! Sudah biarkan saja dia, ada yang mau ikut?"tanya Ino lagi.

"Aku juga tidak ikut,"kali ini Sasuke yang bersuara.

"Sasuke-kun! Kau kan teman baiknya kenapa tidak ikut?"tanya Sakura.

"Mengawasi si idiot itu? Melihatnya setiap hari saja sudah membuat kepalaku sakit, jadi jangan harap aku ikut!"Sasuke langsung keluar kelas mengikuti Shikamaru.

"Ehem, aku juga tidak ikut ya. Aku sedang ada keperluan untuk penelitian seranggaku,"ujar Shino.

"Eh Shino, kau masih di sini? Kukira sudah pulang?"ucap Ino langsung menusuk hati Shino yang paling dalam, dan dengan kekecewaan yang sangat besar karena tidak dianggap oleh teman-temannnya Shino keluar dari kelas. Kita tinggalkan Shino beralih ke yang lain.

"Baiklah Shino yang terakhir! Kalau ada yang tidak mau ikut lagi silahkan bilang! Tapi aku tidak akan membiarkan kalian kelas dengan selamat!"ucap Sakura dan Ino sambil mengeluarkan aura hitam mereka.

"Mereka benar-benar menyeramkan! Bagaimana ini Kiba?"tanya Chouji yang panik.

"Aku tidak tahu denganmu tapi yang jelas aku akan kabur duluan, Sai, Chouji kuserahkan masalah ini pada kalian, "kata Kiba sambil berlari menuju keluar kelas.

"Tu..tunggu aku Kiba!"teriak Chouji yang kini berlari menyusul Kiba dengan susah payah.

"Sial! Aku lupa kalau Kiba itu larinya cepat sekali! Kita tidak bisa membiarkan prajurit kita berjatuhan lagi Sersan Sakura! Kita harus mencegah mereka kabur menghindari medan pertempuran!"Ino berkata layaknya seorang jendral yang menghadapi pertempuran besar.

"Baik Jendral Ino! Takkan kubiarkan kau kabur lagi wahai prajurit terakhir! Sekarang hanya tinggal kau seorang Sai!"kini Sakura bersiap sambil mengeluarkan kuda-kuda Judonya.

"Baiklah aku setuju untuk ikut dengan kalian, tetapi aku mohon buka kota ini dulu,"kata Sai sambil menyerahkan kotak yang ada di tangannya.

"Apa isinya Sai-kun?"tanya Ino malu-malu.

"Buka saja dan nanti kau akan tahu, kotak ini kubuat khusus untuk gadis cantik seperti kalian,"ucap Sai sambil mengeluarkan senyum andalannya.

Begitu Sakura dan Ino membuka kotak dari Sai, alangkah terkejutnya mereka karena yang keluar dari kotak itu adalah kecoa yang banyak sekali jumlahnya yang jelas membuat bulu kuduk mereka merinding seketika.

"KYAA! KECOA!"teriak mereka berdua, sementara Sai langsung berlari menuju keluar kelas sambil tertawa mendengar teriakan Sakura dan Ino.

"Terimakasih Sakura dan Ino yang telah mau menemrima hadiah dariku! Sampai besok ya! Hahaha!"teriak Sai dari halaman sekolah.

"Sial Sai membohongi kita! Awas kau Sai! Shanaroo!"teriak Sakura sambil menghantam tembok kelas dengan tinjunya.

Sementara itu Naruto yang dipenuhi rasa khawatir akan Hinata terus berlari menuju rumahnya, namun begitu sampai di kawasan pertokoan di dekat rumahnya tiba-tiba dia teringat sesuatu dan segera berbalik arah dan memasuki salah satu toko di perokoan tersebut.

"Irashaimase! Anda mau beli apa?"ucap penjaga toko tersebut sopan.

"Tidak usah menyapaku sopan begitu Sara,"balas Naruto.

"Loh Naruto-nii! Tumben kau kesini, mau bertemu Kaa-san dan Tou-san?"tanya Sara yang tak lain adalah sepupu Naruto. Lalu toko yang didatangi Naruto ternyata adalah butik pakaian milik bibinya.

"Tidak, aku hanya ingin memebeli beberapa pasang baju untuk temanku yang akan berulang tahun nanti."

"Ooh begitu. Yasudah pilih saja sendiri lagi pula aku sedang malas, Kaa-san malah memaksaku menjaga toko lagi,"ucap Sara malas.

"Hei kalau kau malas begitu, nanti akan kulaporkan Haruka Ba-san baru tahu kau,"canda Naruto.

"Cerewet! Bwee!"balas Sara sambil menjulurkan lidahnya.

"Ngomong-ngomong Sara, apa kau bisa memberi sedikit diskon?"

"Apa kau ingin membuat toko kami bangkrut? Harga di sini sudah murah dibanding di toko lain! Kalau kau mau yang lebih murah lebih baik belanja di toko lain sana!"seru Sara.

"Huh dasar pelit! Lain kali aku tidak akan meminjamkan komik dan game ku padamu lagi!"

"Biar saja, ngomong-ngomong Naruto-nii, kalau aku tebak sepertinya baju itu untuk pacarmu ya?"

"Ba...baka! Apa yang kau bicarakan sudah kubilang tadi ini untuk temanku yang sedang berulang tahun!"bantah Naruto.

"Tapi itu terlihat jelas di wajahmu Naruto-nii,"goda Sara lagi.

"Cukup! Aku mau pulang! Ini uangnya dan sampaikan salamku pada Nagato Ji-san dan Haruka Ba-san!"kata Naruto sambil mengambil beberapa pakaian dan menyerahkan uangnya pada Sara.

"Iya, dasar Naruto-nii masih pemalu saja"

"Cerewet!"balas Naruto sambil menutup pintu toko.

Naruto yang kini sudah sampai di rumah langsung menuju kamarnya di lantai 2, sepertinya di khawatir dengan Hinata atau mungkin kamarnya.

"Huwaaa! Naruto-kun!"teiakan Hinata menyambut Naruto yang baru saja masuk ke kamarnya.

"Hei ada apa? Kenapa kau menangis seperti itu!"

"Kotak cerita yang kau sebut DVD player ini banyak menceritakan kisah-kisah sedih! Aku tak tahan lalu menangis karena ceritanya terlalu sedih!"jelas Hinata masih sambil menangis.

"Terang saja sedih, yang kau lihat kan film drama. Tu...tunggu dulu kenapa aku bisa punya film drama. Bukannya koleksiku hanya film action? Sial ini pasti Sara yang menyelundupkan film ini! Awas kau Sara!"

"Benda apa yang kau bawa itu apa Naruto-kun?"tanya Hinata

"Oh ini, ini hadiah kecil dariku untukmu. Lihat saja sendiri,"ujar Naruto sambil menyerahkan kantong belanja berisi beberapa pakaian untuk Hinata.

"Wah kawaii! Ini untukku semuanya?"ucap Hinata senang.

"Ya semuanya untukmu Hinata."

"Senangnya. Hei Naruto-kun apa aku boleh mencoba baju-baju ini sekarang?"

"Tentu saja, oh iya bagaimana kalau kita sekalian keluar? Aku kan belum mengajakmu melihat-lihat dunia manusia, bagaimana?"ajak Naruto.

"Iya! Tapi tunggu sebentar aku akan ganti baju dulu!"Hinata yang terlihat senang langsung menuju kamar mandi untuk berganti baju yang baru saja dibelikan Naruto.

"Iya tapi jangan lama-lama!"sahut Naruto.

Tak berapa lama Hinata keluar dari kamar mandi dengan penampilan barunya yang membuat Naruto terkejut, bagaimana tidak terkejut melihat Hinata yang tampil cantik mengenakan gaun casual berwarna lavender dan dipercantik dengan bando yang berwarna sama.

"Nee, bagaimana Naruto-kun? Apa aku sudah terlihat seperti manusia?"

"Sugoi...Kawaii..."Naruto terus bergumam tak jelas melihat kecantikan Hinata.

"Naruto-kun?"panggil Hinata lagi.

"Aah iya cantik, maksudku kau sangat cocok dengan pakaian itu, bu...bukan maksudku kau terlihat seperti manusia,"ucap Naruto gugup.

"Hehehe, baguslah kalau begitu. Ayo kita pergi sekarang."

Setelah bersusah payah, akhirnya Naruto berhasil mengajak Hinata untuk keluar melihat dunia manusia yang dia tak pernah bayangkan sebelumnya dan ini mungkin akan jadi kencan pertama bagi mereka berdua.

"Naruto-kun! Ayo cepat aku sudah tidak sabar!"teriak Hinata sambil melambai-lambaikan tangannya pada Naruto yang jauh tertinggal di belakangnya.

"Sial! Kenapa aku merasa seperti kencan? Apa aku memang suka dengan Hinata ya? Aah tidak mungkin!"sepertinya Naruto mengalami konflik batin dalam dirinya sendiri.

"Ada apa Naruto-kun? Kenapa mukamu merah seperti itu?"

"Bu..bukan apa-apa kok, ini hanya pengaruh cuaca. Ngomong-ngomong kau sudah memutuskan mau pergi kemana?"

"Heem, kemana ya? Aah bagaimana kalau kesana?"ujar Hinata sambil menunjuk sebuah restoran mewah di depannya.

"Tidak-tidak! Jangan kesana, itu tempat yang berbahaya untukmu!"jawab Naruto panik.

"Kenapa? Apanya yang berbahaya dari tempat itu? Aku mencium bau masakan yang lezat dari tempat itu,"kata Hinata.

"Pokoknya itu tempat yang tak baik untukmu! Jangan kesana!"ujar Naruto sambil menakut-nakuti Hinata.

"Tapi aku ingin kesana. Boleh ya? Kulihat di drama yang kutonton pasangan-pasangan dalam cerita itu sering sekali makan di tempat seperti itu,"kata Hinata sambil mengeluarkan jurus "puppy eyes"nya.

"Sial dia imut sekali! Aku tidak sanggup menolaknya! Tapi bagaimana ini? Masa aku harus merelakan isi dompetku terkuras untuk makan di tempat seperti itu! Apa kubilang saja ya aku tidak punya uang? Ah tidak! Itu akan menurunkan derajatku di depan Hinata!"batin Naruto.

"Nee Naruto-kun... Bagaimana? Apa kita bisa makan di sana?"tanya Hinata lagi.

"Baiklah kalau kau tetap tidak mau menjawab! Aku akan tetap pergi ke tempat itu!"kata Hinata dengan lantang.

"Apa? Kumohon jangan pergi Hinata!"teriak Naruto sambil memegangi tangan Hinata, namun Hinata tetap bersikeras pergi hingga Naruto kini hanya bisa bergantungan pada kakinya.

"Apa yang kau lakukan di situ Naruto?"tanya seseorang yang mengejutkan mereka berdua.

"Ero-jiichan! Apa yang kau lakukan di sini?"tanya Naruto setengah berteriak.

"BLETAK!"

"Panggil aku yang benar baka! Aku ini kakekmu!"bentak Jiraiya sambil memukul kepala Naruto.

"Ittai! Jii-chan sakit tau! Kau kan tidak perlu memukulku sekeras itu!"protes Naruto.

"Salahmu sendiri memanggilku tidak benar, ngomong-ngomong siapa gadis manis yang di sampingmu itu?"tanya Jiraiya sambil menunjuk Hinata.

"Aah dia Hinata, dia ini..."

Belum sempat Naruto mengenalkan Hinata tiba-tiba Hinata memotong ucapannya, "A..aku pacarnya Naruto, Hi...Hinata desu, yoroshiku onegaishimasu."

"HAH! Hei Hinata kau ini bicara apa sih?"bisik Naruto pada Hinata.

"Aku menonton di drama ketika ada orang dewasa yang menanyakan siapa dirimu, si wanita selalu menjawab bahwa dia pacarnya, Naruto-kun,"Hinata memberi penjelasan pada Naruto.

"Tapi itu kan di drama! Lagipula kau tahu artinya pacar?"tanya Naruto lagi.

"Tidak,"jawab Hinata singkat, polos, dan tentunya membuat Naruto kesal setengah mati.

Ketika asyik berbisik-bisik tiba-tiba Jiraiya memotong "Hei tidak sopan berbisik-bisik seperti itu, tapi nona apa benar kau pacar cucu bodohku ini ? Kalau benar pasti dia sudah merepotkanmu dengan kebodohannya selama ini."

"Apa katamu?"teriak Naruto.

"Ti...Tidak kok dia sudah banyak membantuku, bahkan memperbolehkanku ting...Hmmmph!"belum selesai Hinata berbicara Naruto langsung menutup mulutnya.

"Memperbolehkan apa?"tanya Jiraiya penasaran.

"Maksudnya memperbolehkannya main ke rumahku Jii-chan,"potong Naruto sigap.

"Lebih baik kita membicarkan ini sambil makan di restoran itu bagaimana?"tawar Jiraiya sambil menunjuk restoran yang Hinata tunjuk sebelumnya.

"Eeh yang benar! Kebetulan tadi kami ingin kesana, tapi Naruto-kun tidak memperbolehkan,"kata Hinata

"Hei Naruto kau ini payah sekali, baiklah untuk merayakan ini aku yang akan mentraktir kalian"kata Jiraiya.

"Arigatou... etoo aku harus memanggilmu apa?"tanya Hinata.

"Panggil saja aku Jiraiya Jii-chan sama seperti bocah bodoh ini memanggilku."

"Baiklah Jiraiya Jii-chan!"

Akhirnya mereka bertiga makan di restoran mewah itu, Hinata yang tidak tahu harus memesan apa menyerahkan menu pada Naruto untuk memilihkan makanan yang kan dimakannya, namun Jiraiya salah mengartikan tindakan mereka dan melihatnya sebagai sebuah kemesraan anak muda.

"Aah enaknya jadi anak muda bisa bermesraan seperti itu,"ujar Jiraiya tiba-tiba.

"A...apa sih Jii-chan ini! Ka...kami tidak bermesraan kok!"bantah Naruto.

"Kau harus memperhatikan dan memperlakukan kekasihmu lebih baik Naruto, rasanya kau masih perlu banyak belajar pada kakekmu ini,"kata Jiraiya menyombongkan diri.

"Jii-chan sendiri kan sering ditolak wanita dulu! Kenapa aku harus banyak belajar padamu!"

"Apa siapa yang bilang begitu padamu?"

"Baa-chan, siapa lagi memangnya? Oh iya ngomong-ngomong Baa-chan mana? Biasanya kan kau selalu diseretnya kemana-mana,"ujar Naruto asal.

"BLETAK!"satu jitakan lagi mendarat ke kepala Naruto.

"Jaga bicaramu anak bodoh! Dia sudah ku telepon. Mungkin sebentar lagi kesini."

"I..ttai. Ooh begitu, ngomong-ngomong Jii-chan, siapa yang menyatakan cintanya terlebih dahulu, kau atau Baa-chan?"tanya Naruto sambil mengelus-elus kepalanya yang masih terasa sakit.

"Tentu saja Baa-chan! Dia sampai mengemis cinta padaku dan memohon-mohon di kakiku selama 7 hari 7 malam karena kasihan aku jadi menerimanya,"sombong Jiraiya.

"BLETAK!"kali ini jitakan keras meluncur ke arah Jiraiya dari seorang wanita di belakangnya, sudah tahu bukan wanita itu siapa. Tentu saja Tsunade, yang tak lain istri Jiraiya.

" Bukannya ceritanya terbalik 180 derajat Anata, kenapa kau menceritakan sebuah kebohongan pada cucu kita?"kata Tsunade yang memperihatkan aura hitam di sekelilingnya.

"Tsu...Tsunade? Naruto kenapa kau tidak bilang dia sudah datang?"bisik Jiraiya pada Naruto.

"Pembalasan, terima saja Jii-chan hukuman dari Baa-chan! Hehehe!"ucap Naruto dengan puasnya tertawa melihat kesengsaraan yang akan diterima Jii-channya.

"Kurang ajar kau Naruto! Tsu..Tsunade maafkan aku! Aku tidak bermaksud berkata seperti itu! Aku sungguh-sungguh minta maaf!"

"KREK! KREK!"Tsunade mempersiapkan tangannya untuk menghajar Jiraiya sambil berkata,"Apa yang kau bicarakan Anata? Kenapa mesti minta maaf? Tak ada yang perlu dimaafkan, karena kau akan menerima balasannya sekarang!"

"Na...Naruto-kun siapa perempuan itu? Dan kenapa dia memukul Jiraiya Jii-chan?"tanya Hinata penasaran.

Tsunade yang mendengar pertanyaan tersebut langsung menjawab sebelum Naruto,"Aah jadi kau pacar Naruto yang dikatakan oleh suami bodohku ini, perkenalkan aku adalah neneknya Naruto namaku Namikaze Tsunade, yoroshiku. Terimakasih karena telah menjaga cucuku ini. Oh iya kau boleh memanggilku Tsunade Baa-chan sama seperti Naruto memanggilku."

"Aah bu...bukan apa-apa kok, malah Naruto yang selalu membantuku kok Tsu...eh maaf Tsunade baa-chan,"jawab Hinata gugup.

"Haha tidak apa-apa, wajar kalau kau gugup. Ngomong-ngomong siapa namamu Ojou-san?"

"Hi...Hinata desu, yoroshiku onegaishimasu."

"Hinata, kalau dilihat-lihat kau sepertinya akan jadi istri yang baik untuk Naruto loh, cucuku ini sangat membutuhkan wanita sepertimu,"goda Tsunade.

"Eh?"kaget Hinata.

"Baa-chan! Apa-apaan sih bilang seperti itu? Aku kan masih sekolah dan belum ingin menikah!"kata Naruto.

"Aku kan hanya bercanda Naruto, lagipula siapa yang menyuruhmu menikah? Aku kan hanya bilang Hinata akan menjadi istri yang baik saja. Dasar kau ini geer saja,"goda Tsunade yang langsung membuat wajah Naruto cemberut.

"Hei sudah Tsunade, ayo ini sudah sore akan kuantar kalian pulang. Ngomong-ngomong rumahmu dimana Hinata-chan?"tanya Jiraiya.

"Rumahku..."

Lagi, saat Hinata akan mengatakan lokasi rumahnya Naruto langsung memotong,"Rumahnya di dekat rumahku Jii-chan! Jadi Jii-chan cukup mengantar kami sampai rumahku saja, nanti biar aku yang mengantarnya sampai rumah."

"Baiklah kalau begitu, kau memang lelaki sejati Naruto,"puji Jiraiya.

"Dan jangan lupa calon suami Hinata juga,"goda Tsunade lagi.

"Mou! Cukup Baa-chan!"

Akhirnya Jiraiya dan Tsunade mengantar mereka berdua ke rumah Naruto, beruntung mereka berdua tidak mengetahui bahwa Naruto dan Hinata hidup dalam satu atap. Jika itu terjadi entah apa yang akan dikatakan mereka berdua.

"Hari ini sangat menyenangkan Naruto-kun! Terimakasih ya telah menunjukkanku berbagai hal yang menarik di dunia manusia. Aku harap kita bisa pergi lagi suatu saat nanti,"ucap Hinata.

"Y..ya! Ba..baguslah kalau kau senang, sekarang ayo cepat kita masuk ke kamarku sebelum kaa-san tahu,"sahut Naruto yang bersusah payah menahan rona merah di wajahnya.

Begitu mereka berdua akan membuka pintu belakang, tiba-tiba pintu itu terbuka dan tentu saja kejutan terbesar dalam hidup Naruto, yaitu Kushina muncul dari balik pintu dan bertanya,"Siapa itu Naruto?"

"Celaka!"batin Naruto.

Chapter 2 End

RnR ya... (^^)