To:

han hye yoo: Terimakasih atas reviewnya. Makasih udah mau nunggu chapter 1 nya

NanaMithrEe: Terimakasih atas reviewnya. Iya… Naru emang harus berjuang sekuat tenaga. Tetep happy ending, kok nantinya *semoga*

Ashahi kagari-Kun: Terimakasih atas reviewnya. Kalo gak kebayang, ikutin aja cerita ini terus ^^ *promosi nih ceritanya* Semoga ini bisa dibilang update kilat :p

Nasumi-chan Uharu: Terimakasih atas reviewnya. Hehe… mau gimana lagi, Naka udah ditegur sama salah satu reader supaya buat femnaru dengan chara Naruko -_-

Yashina Uzumaki: Terimakasih atas reviewnya. Ok, ini chap 1 nya udah keluar ^^ SasuNaru, kok… pairnya aja SasuNaru… tapi liat mood Naka dulu ya, abis Sasu di manga makin lama makin nyebelin*garukin lantai*

Naru3: Terimakasih atas reviewnya. Iya SasuNaru, tapi liat nanti kedepan… siapa tau Sasu makin bikin Naka gondok di manga-nya.


Copyright by Masashi Kishimoto

I Hate My Life

By: Shiho Nakahara

Warning: OOC, Naruko's Pov, Sedikit adegan kekerasan yang gak patut ditiru, Gak bermaksud nge-bashing, ini demi cerita...


Kenapa kasih sayang itu tidak pernah abadi?

Kasih sayang hanya suatu perasaan semu yang membuat kita bahagia sesaat… membuat kita tenggelam terhadap kehangatan yang diberikan sebuah kasih sayang. Membuat kita terus berharap… terus memberikan harapan yang sia-sia. Itulah yang membuatku membenci kasih sayang. Namun, walaupun aku benci dengan kasih sayang, aku akui aku tetap membutuhkannya. Jika kita sudah mengenal yang namanya kasih sayang, maka kita harus siap mengenal yang namanya disakiti dan pengkhianatan.

Awalnya kehidupanku sempurna dengan keluarga yang kusayang. Ayah yang bijaksana dan selalu menyayangi kami dengan caranya sendiri, seorang Ibu dengan sejuta kasih sayang yang dilimpahkannya kepada kami, serta seorang kakak yang sangat melindungiku serta selalu ada untuk menolongku. Ya, aku memiliki semua itu. Semua hal yang didasari oleh kasih sayang.

Namun… semua berubah karena kedatangan wanita dan anaknya itu. Mereka mengubah semua hal yang kuanggap telah sempurna itu. Mengubah Tou-san yang bijaksana menjadi sadis dan dingin, mengubah Kaa-san yang dulu selalu tersenyum namun kini hanya bisa mengeluarkan raut sedih dengan tatapan pilu. Bahkan mengubah aniki yang tegas dan kuat menjadi seorang yang hanya bisa pasrah dengan keadaan. Dan yang paling penting… mereka MENGUBAH HIDUPKU. Membuatku membenci hidupku sendiri.


I HATE MY LIFE

1 December xxx, 23.00

Malam itu, di mana angin musim gugur yang dingin berhembus cukup kencang mengggurkan daun-daun yang hinggap nyaman di ranting pepohonan. Dedaunan bewarna coklat yang siap gugur. Malam yang begitu tenang, hingga…

"Pergi dari rumah ini sekarang dan bawa Kyuubi!"

Aku terbangun dari tidur nyenyakku. Suara Tou-san yang menggelegar tiba-tiba masuk ke dalam indera pendengaranku. Membuat jantungku berpacu dua kali lebih cepat, merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Dengan cepat aku turun dari ranjang empukku, berlari ke lantai dasar untuk melihat peristiwa yang sedang terjadi.

Tampak olehku seorang pria yang sangat mirip denganku mendorong dengan kasar tubuh Kaa-san dan Kyuu-nii. Lelaki yang sudah 14 tahun kupanggil Tou-san. Lelaki yang sangat kukenal dengan sifat bijaksana dan kelembutannya. Namun itu dulu…

Kulihat sekilas raut wajah Kaa-san… mata violetnya berangsur-angsur mengeluarkan air mata, raut wajah Kyuu-nii terlihat sangat marah karena tak terima atas perlakuan tak layak dari Tou-san.

"Kaa-san? Kaa-san mau ke mana?" aku berlari mencoba menggapai Kaa-san yang sudah berada di ambang pintu. Tak peduli raut terkejut yang diberikan ketiga manusia di hadapanku.

"Na-Naru? Ke-kenapa…" belum selesai Kaa-san berbicara, aku sudah memeluk erat tubuhnya, berharap ia tak pergi.

"Lepaskan wanita itu, Naru! Mulai sekarang dia bukan Ibumu, dan kau ikut dengan Tou-san!" suara Tou-san yang berada di belakangku.

"Gak mau! Kaa-san tetep tinggal di sini! Dia bagian dari keluarga kita! Kyuu-nii juga mau ke mana?" aku mengalihkan safirku ke ruby milik Kyuu-nii. Namun Kyuu-nii hanya memperlihatkan tatapan sedihnya padaku.

"Kau anak kecil, sebaiknya diam!" suara Tou-san semakin meninggi, lalu dengan cepat ia menarik paksa lenganku.

"Gak! Kita masih tetep satu keluarga! Mana Tou-san yang dulu? Apa karena wanita brengsek itu Tou-san berubah?" aku berteriak sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Tou-san di lenganku.

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi meneteskan air mata yang telah lama tak keluar dari kedua safirku.

.


22 December xxxx, 08.00, Konoha

Awal musim dingin… musim di mana langit menjatuhkan butiran-butiran kristal salju putih nan dingin. Kata orang, salju itu putih bersih dan lembut. Melambangkan lembutnya hati manusia. Putihnya melambangkan kesucian. Namun, di balik itu semua salju tak lebih dari sosok munafik yang ingin membekukan bumi! Dia datang dengan rupa yang cantik, namun ia membekukan semuanya! Seperti hati manusia yang beku… ia juga datang membawa badai kehancuran. Seperti dua makhluk yang ada di hadapanku. Membawa kehancuran.

Aku memandag lurus pemandangan yang ada di hadapanku. Seorang laki-laki dengan rambut pirang yang sama seperti diriku tengah menyambut 'tamu' barunya dengan sangat gembira. Seorang anak laki-laki yang berada di samping wanita yang menjadi 'tamu' Tou-san ku itu kini menatap datar diriku.

"Naru, mulai sekarang dia menjadi Kaa-sanmu, dan ini Sasuke, kakakmu… mereka akan tinggal di sini mulai hari ini," kalimat yang baru saja meluncur dengan mulus dari bibir Tou-san membuatku membelalak terkejut.

"Jadi ini yang namanya Naru? Lucunya…" Terlihat olehku, senyuman wanita itu… senyuman yang memiliki arti berbeda, entah apa itu aku pun tak bisa menebaknya.

Aku… harus tinggal serumah dengan mereka? Bagaimana jika 'Kaa-san' menyiksaku? Ya, kalian tahu, kan bagaimana sifat kebanyakan Ibu tiri? Dan… apa-apaan itu tatapan datar anak yang disebut Sasuke oleh Tou-san? Tatapan datar namun terlihat mengintimidasiku.

"Tidak! Naru tidak mau! Kaa-san Naru tetep satu! Namikaze Kushina! Dia bukan Kaa-sanku!" aku menatap tajam safir milik Tou-san… safir yang sama dengan milikku. Aku tidak mau mempunyai Ibu seperti itu! Aku merasakan sesuatu yang tak menyenangkan akan terjadi jika mereka menjadi bagian dari keluarga kami.

"Apa? Hey! Jangan bicara yang tidak-tidak! Dan jangan membantah Tou-san!" Tou-san mulai meninggikan suaranya. Aku tahu Tou-san sedang marah, namun aku tetap tak peduli. Aku tetap kukuh pada pendirianku.

"Biar! Aniki Naru juga Cuma Kyuu-nii! Bukan laki-laki pantat ayam yang bahkan Naru saja tak kenal seperti itu!" baiklah, aku tetap akan mempertahankan ego-ku.

"Kenapa kau seperti ini? Dia itu Ibumu sekarang! Hormatilah ia seperti kau menghormati MANTAN Kaa-sanmu!" ucapan tajam Tou-san cukup membuat kami semua yang di sana terbelalak.

"Gak! Naru gak punya mantan Kaa-san! Kaa-san Naru Cuma satu! Naru benci Tou-san!" aku berlari menuju lantai dua, lantai di mana kamarku berada.

.


22 December xxxx, 14.00, Konoha

Suasana ruang makan kini begitu tegang, hanya ada suara kayu yang terbakar di perapian, di bakar oleh api yang kini kian membara, sama seperti hatiku yang sakit karena terbakar oleh semua kenyataan ini… kenyataan yang menyatakan bahwa hidupku harus menderita kedepan nanti…

"Naru… mulai besok lusa, kau akan pindah sekolah… kau akan sekolah di tempat yang sama dengan Sasuke mulai besok," satu kejutan lagi dari Tou-san untuk hari ini. Membuatku syok seketika.

"A-apa? K-kenapa…" belum aku selesai merangkai kalimat yang ada di otakku, Tou-san sudah menyelanya,

"Ya, lagipula sekolah barumu lebih elit dengan kualitas pendidikan yang tinggi. Mulai besok kau akan berangkat dengan Sasuke."

Aku melirik 'saudara' baruku sekilas lalu kembali menatap tajam Tou-san.

"Aku tau, Tou-san gak mau kan kalo aku ketemu sama Kyuu-nii di sekolah lama? Tou-san bener-bener berubah!" aku menautkan kedua alisku hingga membentuk guratan-guratan di dahiku.

Apa-apaan ini? Kenapa secepat ini? Aku bahkan belum pamit pada teman-temanku di sekolah! Mereka benar-benar ingin membunuhku secara perlahan. Padahal di sekolah lama aku memiliki banyak teman yang peduli padaku…

.


Dan, kini aku harus menjalani kehidupan baru di sekolah baruku. Sekolah yang terbilang cukup- tidak! Maksudku sangat elit dan megah.

Baru saja sampai di gerbang sekolah, beberapa siswi sudah menyapa Sasuke dan hanya dibalas dengan tatapan datar Sasuke. Satu kata, sombong. Tidak! Aku tidak mau punya saudara yang sangat sombong seperti dia! Dia bukan saudaraku! Dia tak sama dengan Kyuu-nii!

Kulangkahkan kakiku setapak demi setapak, seirama dengan langkah kaki Sasuke yang ada di sebelahku. Tangannya memegang pergelangan tanganku. Aku hanya bisa menunduk merutuki semua kenyataan ini.

"Lepaskan! Jangan berlagak akrab denganku!" aku berusaha menepis cengkaraman tangan Sasuke dari tanganku sembari menatap dingin wajahnya.

"Mulai sekarang aku Anikimu, dan aku harus menjagamu sebagai adikku," ia semakin erat memegang pergelangan tanganku.

"Aku tidak butuh penjagaan dari orang sepertimu! Aku benci kau! Lagipula kau hanya lebih tua 3 bulan dariku, jadi jangan sok mengaturku," aku menatapnya semakin tajam dengan penekanan di setiap kata-kataku.

"Aku tak peduli! Diam dan ikuti saja aku! Kita akan ke ruang kepala sekolah! Aku tak mau kau tersesat dan membuatku repot nanti," lalu dengan paksa ia menarikku, membuatku semakin menekuk wajahku.

Beberapa siswa yang melihat pertengkaran kami hanya memasang wajah heran. Ada yang menatap tak suka ke arahku, dan tatapan aneh lainnya. Membuatku sedikit takut untuk bersekolah di sini.

XOXOXO

"Perkenalkan, nama saya Uzumaki Naruko, pindahan dari SMP xxxx… mohon bantuannya," aku berusaha terlihat ceria di hadapan teman-teman baruku. Dan, aku sengaja menyebutkan Uzumaki sebagai margaku. Aku tak sudi memakai Namikaze sebagai margaku.

"Oke, Uzumaki-san bisa duduk di sebelah Hyuuga Hinata," ucap sensei yang ada di sebelahku sembari menunjuk seorang gadis cantik berambut indigo yang duduk di barisan nomor dua paling kanan. Entah mengapa aku merasa dia anak yang baik.

Dengan segera aku melangkahkan kakiku menuju bangku di samping anak yang bernama Hinata itu.

"Hai… aku Uzumaki Naruko, panggil saja Naru," aku tersenyum padanya.

"Hinata, pa-panggil saja begitu," ia membalas sapaanku sembari tersenyum kecil.

Semoga saja aku mendapat banyak teman di sini.

.

'Kriiing'

Akhirnya bel istirahat berbunyi…

"Hinata! Mau menemaniku berkeliling di sekolah ini?" ajakku pada Hinata yang masih sibuk membereskan alat tulisnya.

"I-iya, tunggu sebentar."

Tiba-tiba sebuah tangan pucat menarik paksa diriku. Dan ternyata orang itu adalah Sasuke. Kenapa sih dia selalu memperlakukanku dengan kasar? Baru menjadi saudaraku selama 3 hari saja sudah belagu.

"Apaan sih? Lepas!" aku berusaha melepaskan tangan pucatnya dari lenganku.

"Kenapa! Kenapa kau memakai marga Uzumaki diperkenalan tadi?" dia membentak dan menatapku tajam.

"Apa pedulimu? Aku memang keturunan Uzumaki!" aku memincingkan mataku menatapnya benci.

"Cih! Kau itu seorang Namikaze! Uzumaki… nama macam apa itu?"

PLAAKK!

Sebuah tamparan telak mendarat di pipi Sasuke. Baiklah, aku sudah tak bisa menahan amarahku sekarang. Siapa suruh dia menghina marga Kaa-san? Dia saja memakai nama Namikaze padahal bukan keturunan Namikaze.

"Jangan pernah menghina nama itu atau kau akan MATI!" ucapku sambil menatapnya dingin. Dengan cepat aku menghentakkan tanganku melepaskan cengraman tangannya. Kemudian berlari meninggalkannya yang masih diam mematung menatapku yang semakin menjauh.

TBC or End?


A/N: ini fic Narunya OOC amat yak? Sasu, Minato, dll juga-_-

ficnya juga kerasa pure banget… oh iya! Naka mau ngucapin

Merry x-mas and Happy New Year^^ sama Happy Holiday:)

Chap depan bakalan panjang! Jadi jangan khawatir*khawatir apaan?*

Dan lagi, Naka sekarang lagi kena GaafemNaru syndrome-_-gara-gara Sasu makin lama makin bejad di manga nih… doain aja nanti endingnya SasuFemNaru, deh-_-v

NB: yang sekuel Demi Nee-chan… Naka kena WB nih-_- bagi yang mau nyumbangin ide, silahkan PM Naka^^ contact lewat FB juga boleh^^

Gomawo, Shiho Nakahara