Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 2

Training

Sasuke sedang menatap kesal ke arah taman yang ada di belakang perpustakaan. Sesekali diliriknya jam dinding yang saat ini menunjukkan pukul sembilan lewat. Hampir tiga puluh menit ia menunggu dan gadis pink itu belum juga muncul, padahal ini baru hari pertamanya.

Sasuke sendiri sebenarnya sudah menduga bahwa gadis itu kurang becus. Dilihat dari kuku-kukunya yang terawat dan kulitnya yang mulus tanpa cacat, Sasuke tahu betul tipe gadis macam apa Sakura.

Baru saja hendak keluar untuk mencari gadis merepotkan itu, Sakura muncul dari balik pintu, dengan pakaian olah raga yang matching dari atas ke bawah, lengkap dengan sepatu senada.

"Kau tahu ini pukul berapa?" tanya Sasuke geram. Sakura mengangguk dengan wajah tak bersalah. Ya...karena Sakura memang merasa tidak ada yang salah sejauh ini. Bukankah ia hanya terlambat lima belas menit? Bagi Sakura itu belum seberapa, biasanya ia butuh waktu lebih lama untuk berdandan.

"Sebaiknya kau punya alasan masuk akal untuk ini," lanjut Sasuke dengan wajah kesal yang sebisa mungkin disembunyikan. Melatih Sakura adalah sebuah bencana baginya, dan beraninya gadis itu datang terlambat dihari pertamanya.

"Emm...sebenarnya aku bingung harus memakai pakaian yang mana. Ada banyak sekali pakaian di lemari. Aku mencoba mencari pakaian yang sesuai untukku, tak kusangka itu butuh waktu yang lama," terang Sakura sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Kau pikir apa yang hendak kau lakukan eh? Peragaan busana? Apa kau seorang model?" bentak Sasuke, membuat Sakura tersentak dan menunduk takut. "Tatap aku saat aku bicara Haruno!"

"Mmaafkan aku Sasuke. Aku kan hanya terlambat sebentar, apa kau tidak terlalu berlebihan?" sahut Sakura berkilah.

"Sebentar kau bilang? Bayangkan berapa nyawa melayang dalam waktu sebentar versimu itu? Kau pikir kau ada di sini untuk apa hah? Aku heran, apa yang kau lakukan saat mereka membantai keluargamu? Apa yang bisa kau lakukan untuk membela diri? Kau itu lemah, manja dan tak memiliki tanggung jawab. Beginikah cara orang tuamu membesarkanmu?" Sasuke benar-benar marah sekarang.

"Jangan sangkut pautkan semua ini dengan orang tuaku. Kau pikir kau siapa hah? Kau bahkan tak pernah mengenalku," bentak Sakura yang tak terima mendengar almarhum orang tuanya dibawa-bawa.

"Kalau begitu buktikan padaku bahwa ucapanku salah. Katakan padaku apa yang bisa kau lakukan untuk mereka semasa mereka hidup!" tantang Sasuke.

Sakura terdiam, ia marah bukan karena ucapan Sasuke asal, ia marah justru karena apa yang dikatakan Sasuke memang benar adanya. Semasa kedua orang tuanya masih ada, yang bisa dilakukannya hanya menghabiskan uang jajan yang mereka berikan. Membeli barang – barang yang sebenarnya tak begitu dibutuhkan, meminta ini itu dan semua yang ia mau harus terlaksana. Ya, Sasuke memang benar, dan Sakura benci mengakuinya.

Saat ini mereka masih saling pandang. Sakura kini menatap Sasuke murka yang hanya dibalas dengan tatapan merendahkan oleh Sasuke. Matanya mulai buram akibat air mata, namun Sakura berusaha keras menahan tangisnya. Menangis hanya akan membuat pemuda di hadapannya semakin senang mempermainkannya.

"Dengarkan aku, ini baru permulaan Sakura. Hal pertama yang harus kau ingat adalah disiplin. Bagaimana kau akan menghadapi musuh dengan sikap leletmu itu?"tanya Sasuke yang hanya ditanggapi decihan sinis oleh Sakura. "Kau harus sadar, mulai detik ini, tak ada lagi kehidupan menyenangkan seperti dulu. Kau harus membiasakan diri. Benci aku sesukamu, tapi kau harus ingat, yang aku ucapkan tak pernah salah," jelas Sasuke percaya diri.

Sakura masih terdiam. Dicernanya ucapan Sasuke dalam-dalam. Nampaknya setelah ini hidupnya benar-benar akan sulit di tangan pemuda yang kini menatapnya angkuh.

"Kenapa diam? Tak ingin membela diri hah?" tantang Sasuke sinis. "Baiklah, kau mungkin butuh waktu untuk meratapi nasib tragismu. Temui aku di ruang multimedia setelah kau selesaikan tangisan bodohmu," tungkas Sasuke sebelum akhirnya berlalu.

Sepeninggal Sasuke, Sakura masih terdiam. Kata-kata Sasuke membuat air matanya yang tadi hendak mengalir menjadi sirna. Ia tak lagi ingin menangis, justru rasa kesal kini sedang menguasai hatinya. Pemuda itu benar-benar meremehknnya dan menginjak-injak harga dirinya. Tangannya mengepal kuat, seumur hidup belum pernah ada satu orangpun yang merendahkannya seperti ini. Ia bersumpah dalam hati akan memberi pelajaran pada pemuda itu.

Disadari atau tidak, Sasuke telah membuat sifat cengengnya perlahan terkikis.

####################

Sasuke sedang duduk sambil membaca komik kesayangannya saat Sakura tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan wajah sebalnya. Sasuke sendiri sedikt mengerenyiit heran saat tak dilihatnya jejak-jejak air mata yang mulanya seakan hendak meluber dari emerald itu.

"Aku siap memulai latihan," ucap Sakura tegas.

"Hn," sahut Sasuke malas sambil memberi kode pada Sakura untuk duduk di salah satu bangku yang ada di depannya. Ruangan ini lebih mirip bioskop dibanding ruang multimedia.

"Untuk saat ini aku hanya akan menjelaskan hal-hal dasar. Jadi gunakan otak cerdasmu untuk mengingat apa yang kukatakan. Aku tak suka mengulang," ucap Sasuke datar. Sakura hanya memutar bola matanya sebal. Kenapa pemuda di hadapannya ini tak pernah bersikap baik padanya?

Sasuke menyodorkan atau lebih tepatnya melemparkan sebuah dokumen ke hadapan Sakura.
"Di dalamnya sudah kurangkumkan segala sesuatu yang perlu kau ingat dan kau pelajari beserta jadwal latihan untuk beberapa hari kedepan," terang Sasuke, kemudian layar raksasa di hadapannya menampilkan berbagai gambar. Mulai dari gambar denah rumah, profil masing-masing anggota, sampai profil musuh besar mereka –Akatsuki. Sakura mencoba sebisa mungkin merekam segala yang dikatakan Sasuke.

"Baiklah, istirahat lima belas menit, temui aku di lapangan belakang. Kali ini jangan sampai kau terlambat," ujar Sasuke menyindir sebelum kemudian keluar dari ruangan tersebut. Sakura membenturkan kepalanya ke meja, yang akhirnya hanya menambah pusing di kepalanya.

Saat menuju lapangan belakang, Sasuke tanpa sengaja berpapasan dengan Sasori.

"Jangan terlalu keras padanya," ucap Sasori yang berhasil menghentikan langkah Sasuke. "Dia masih baru, tak seharusnya kau terlalu keras melatihnya."

"Cih... diamlah, aku tahu apa yang kulakukan," sahut Sasuke sekenanya.

"Dia hanya seorang gadis Sasuke,"

"Ucapanmu terdengar merendahkannya. Kau tak percaya kemampuannya? Hmmm..yaa...kau benar, dia memang gadis yang tak berguna," ucap Sasuke asal.

"Aku tak berkata demikian," ujar Sasori tak terima. "Aku hanya tak suka kau kasar kepada wanita," lanjutnya kemudian.

"Mengenang masa lalu eh?" cela Sasuke dengan nada sinis. "Sebaiknya berhentilah mencampuri urusanku, atau kau ingin mengambil milikku seperti dulu? kawan lama?" lanjutnya kemudian.

"Sasuke!"

"Jangan sebut namaku dengan mulut busukmu," potong Sasuke. "Sebaiknya kau berkonsentrasi pada misimu sendiri daripada mengurusi gadis bodoh itu," tungkas Sasuke, kemudian berlalu sebelum Sasori bicara lebih banyak. Sasori hanya memandang punggung Sasuke yang kian menjauh. Begitu bencikah Sasuke padanya?

#############

"Kau terlambat," ucap Sasuke datar tanpa memandang Sakura, ia tengah sibuk dengan korannya sekarang.

"Bagaimana mungkin? Aku langsung kemari sepuluh menit setelah kau meninggalkanku di ruang multimedia," terang Sakura mencoba membela diri.

Sasuke kemudian menyodorkan jam digital kesayangannya.

"Kau terlambat tiga menit nona, kalau ditambah dengan waktu yang terbuang untukmu mengomel, mungkin kau sudah terlambat tiga menit dua puluh detik," jawab Sasuke enteng.

"Apa kau bilang?" tanya Sakura tak terima.

"Aku takkan mengulangi ucapanku nona. Tiga putaran, ikuti saja rute yang sudah kubuat," perintah Sasuke datar.

"Rute apa?" tanya Sakura yang hanya dijawab dengan tunjukan jari Sasuke yang ternyata mengarah ke sebuah bukit yang dipenuhi pepohonan di belakang lapangan. Nampaknya sengaja dibuat untuk latihan.

"Waktu terus berjalan nona, jangan sampai kutambah rutemu," terang Sasuke sambil menunjukkan stopwatch yang mulai menghitung detik demi detik. Sakura segera memulai untuk putaran pertamanya. Diam-diam Sasuke tersenyum puas telah membuat Sakura menurut padanya.

Medan yang Sakura tempuh ternyata tak semudah yang terlihat. Jalanan yang licin dan medan yang tidak rata membuatnya sedikit kesulitan. Berkali-kali ia hampir tersandung bebatuan. Yaa...Sakura memang tak pernah melakukan olah raga berat. Biasanya ia hanya sesekali berjoging, itu pun hanya mengelilingi sekitar rumahnya.

Satu putaran ia masih kuat, pada putaran kedua staminanya mulai turun, kakinya terasa menghilang sekarang. Sedangkan Sasuke malah duduk santai sambil menikmati jus jeruk dingin, sesekali dilihatnya stopwatch di tangannya.
"Hmmm...lambat," gumam Sasuke.

Beberapa saat kemudian Sakura muncul dari dalam hutan. Wajahnya merah padam, nafasnya tersengal, rasanya ia mau mati saja. Ia jatuh tersungkur di hadapan Sasuke, tak kuat lagi menopang tubuhnya. Sasuke berjongkok di depan wajah Sakura, kemudian menyiramnya dengan air mineral dingin, membuat Sakura terlonjak kaget.

"Kau ini apa-apaan sih?" ucap Sakura kesal.

Sasuke menunjukkan stopwatch di tangannya. "Rekor waktu terlambat yang pernah kulihat, bahkan mobil tua Sakumo bisa bergerak lebih cepat darimu. Aku mennyuruhmu berlari, bukan merangkak. Ulangi!" perintah Sasuke tegas.

"Kau gila? Aku hampir mati kelelahan," tolak Sakura sebal.

"Kalau begitu buat dirimu lebih lelah, kalau perlu sampai mati sekalian,"sahut Sasuke sambil mengambil pemberat dan memasangkannya di kedua pergelangan kaki Sakura. "Pakai ini selama kita latihan," lanjutnya kemudian.

Sakura memandang Sasuke nanar. Pemuda ini benar-benar tak pernah bosan berusaha mempersulit dirinya. Lihat saja, Sasuke kini tengan memandangnya santai kemudian kembali duduk di kursi kayunya dan berkonsentrasi membaca koran. Tangan kanan Sasuke terangkat dan menunjukkan stopwatch yang mulai menghitung waktu, membuat Sakura panik dan segera kembali berlari.

Hari pertama terasa begitu berat bagi Sakura, padahal ini baru setengah hari. Menurut jadwal, masih ada tiga pelatihan lagi yang harus ia ikuti, padahal tubuhnya sudah terasa remuk sekarang. Kakinya sedikit terkilir saat berlari tadi, bahkan kulit mulusnya terpaksa harus merelakan diri untuk ternodai dengan berbagai goresan luka akibat terkena semak berduri.

Saat ini Sakura sedang terbaring tak berdaya di atas rerumputan lapangan, nafasnya benar-benar habis, ia nampak seperti ikan yang diangkat dari air.

Peluhnya sudah seperti mata air sekarang, tubuhnya terasa terbakar dan kakinya mati rasa. Dipandangnya langit yang seolah sedang mengejeknya dengan teriknya matahari. Beberapa saat kemudian sebuah siluet menutupi pandangannya.

"Hmmm...istirahat tiga puluh menit. Setelah itu temui aku di computer room," ucap Sasuke, kemudian berlalu.

Sakura menghela nafas tak percaya. Rasa lelahnya musnah sudah, digantikan rasa sebal yang amat sangat. Dihentakkannya kepalan tangan dan kakinya kesal. Ia benar-benar membenci pemuda itu sekarang. Baginya, perlakuan Sasuke benar-benar kelewatan.

"Hei...hei, kau hanya akan menambah rasa lelahmu jika seperti itu," ucap suara rendah di belakangnya ramah, membuat Sakura terduduk kaget.

"Hm?" Sakura memandang pemuda di hadapanya yang nampak tak asing.

"Namaku Sasori, kita bertemu dihari pertama kau datang. Ingat?" terang Sasori seolah membaca pikiran Sakura.

"Kau haus?" tanya Sasori sembari menempelkan minuman kaleng dingin ke pipi Sakura.

"Hn, terimakasih," ucap Sakura tulus.

"Nampaknya Sasuke terlalu keras padamu," ucap Sasori membuka pembicaraan.

"Haah...mungkin memang aku yang lemah. Kenapa harus Sasuke yang melatihku?" sahut Sakura dengan nada memelas, membuat Sasori terkekeh ringan.

"Ya...Sasuke memang begitu, ia memang sangat menyebalkan dan keras kepala. Tapi yang paling menyebalkan, harus kuakui bahwa dia memang hebat," ujar sasori dengan tatapan menerawang.

"Maksudmu?" tanya Sakura yang tak mengerti.

"Aku berhutang nyawa padanya," sahut Sasori, sengaja menggantung kalimatnya ."Kalau bukan karena Sasuke, aku tak mungkin bisa bicara denganmu seperti ini sekarang," lanjut Sasori menerangkan. "Dia...memberikanku kesempatan untuk memperbaiki hidupku."

Flashback...

Darah mengucur dari potongan-potongan tubuh yang berserakan. Menghadiahkan aroma khas yang memualkan. Di sini, di sebuah hotel ternama Konoha, telah terjadi pertempuran antara Akatsuki dan lawan tangguhnya Exterminator. Entah berapa anggota Akatsuki yang telah kehilangan nyawa akibat tindakan ceroboh mereka karena berniat membunuh ketua Exterminator, Sakumo.

Sebuah misi yang dipimpin oleh Akasuna no Sasori yang nampak tak terancang sempurna, sesungguhnya memang tak perlu terlalu diwaspadai. Menggingat jumlah pasukan yang tak seimbang dan penyusunan taktik yang kurang terorganisir membuat aksi mereka mudah saja dilumpuhkan. Rasanya seperti membunuh macan buta saja.

Aneh memang, sebuah organisasi setingkat Akatsuki bertindak ceroboh dengan mengirimkan orang-orang berkualitas rendah untuk membunuh seorang Sakumo Hatake, yang pastinya tak pernah pergi tanpa kawalan ketat dari para anggotanya.

Suasana begitu mencekam saat ini, anggota Akatsuki yang tergabung dalam misi itu dalam sekejap tumbang, menyisakan sang ketua misi –Sasori.

Sebuah samurai tengah menempel di lehernya, Sasori tengah berhadapan dengan mesin pembunuh dan tanpa senjata di tangan. Sepasang mata semerah darah tengah memandangnya remeh. Jantung Sasori rasanya tak sanggup lagi berdetak, ia gagal memimpin pasukannya, lima nyawa melayang sia-sia akibat keegoisan dan kebodohannya.

Samurai di lehernya terasa begitu dingin menyentuh kulitnya, di belakang Sasuke muncul beberapa anggota Exterminator yang masih menunggu Sasuke menyelesaikan tugasnya.

"Akan kau apakan bocah ini teme?" tanya seseorang berambut kuning dengan seringai khasnya, yang kini kita ketahui bernama Naruto.

"Cih..aku tak sudi mengotori tanganku dengan membunuh seseorang yang lemah sepertinya," jawab Sasuke sembari menarik samurainya dan memasukannya ke tempatnya. "Lawan aku saat kau sudah kuat," ucap Sasuke setelah membalikkan badan. "Dan nikmati penyesalan atas kematian rekan-rekanmu akibat tindakan bodohmu.," lanjut Sasuke pedas.

"Jadi harus kita apakan dia?"

"Hn, terserah kalian saja," jawab Sasuke sembari berlalu. Setelah itu Sasori merasakan pukulan di tengkuknya kemudian yang diingatnya hanya kegelapan.

Semenjak kejadian itu. Sasori secara resmi bergabung dengan Exterminator. Ia mendapatkan pelatihan keras, langsung dari tangan Sakumo. Di sini, ia benar-benar diajarkan makna dari seni membunuh yang sesungguhnya.

Bukan untuk mencari materi, bukan untuk mencari kepuasan semata, melainkan untuk meluruskan sesuatu yang tidak pada jalannya. Membunuh, adalah sebuah seni yang sakral dan tak semua orang boleh memainkannya. Itulah yang dipelajari Sasori...

Flashback end...

"Jadi mereka memberimu kesempatan?" tanya Sakura heran setelah Sasori mengakhiri kisahnya.

"Ya...sama sepertimu, aku juga mengalami masa-masa berat di awal. Bahkan Ayah sendiri yang melatihku dengan tangan dinginnya. Jika aku boleh jujur, dibanding Kakashi, Sasuke memiliki lebih banyak kesamaan dengan Ayah," terang Sasori jujur. Sakura hanya tersenyum masam menanggapinya.
'Setidaknya Sakumo-sama bisa bersikap ramah sesekali,' ucap Sakura dalam hati.

"Hey, bukankah kau ada janji dengan Sasuke?" tanya Sasori mengingatkan.

"Aaah," Sakura tersentak dan melihat jam di tangannya. Masih ada waktu sepuluh menit. "Maaf Sasori, aku harus segera pergi sekarang," ucap Sakura undur diri. Ia segera berlari secepat yang ia bisa.

"Semoga berhasil Sakura," gumam Sasori.

#############

Berlari sekencang apapun rasanya memang percuma bila berhadapan dengan Sasuke. Ia tetap saja terlambat. Dengan ragu Sakura memasuki ruangan yang lagi-lagi membuatnya tercengang. Sebuah ruangan dengan komputer yang dirancang sedemikian rupa sehingga layarnya saling berkesinambungan. Beberapa monitor tersusun secara bertingkat, menampilkan program-program yang tak dimengerti Sakura.

Sasuke memandang Sakura yang masih melongo bingung, didekatinya gadis itu dan dijitaknya dahi lebar Sakura, membuatnya mengaduh pelan. Sakura tak berani memprotes, ia hanya menatap kedua onyx Sasuke kesal, membuat Hinata yang ada di belakang Sasuke hanya terkekeh ringan.

"Duduk di sana dan perhatikan," perintah Sasuke sembari menunjuk sebuah bangku di samping Hinata. Sakura menurut patuh, enggan berdebat dengan Sasuke yang nampak tak bersahabat.

"Hinata akan menunjukkan beberapa program dasar yang harus kau pelajari. Aku akan meninggalkan kalian berdua. Saat aku kembali, akan ada tes kecil untukmu," terang Sasuke sembari mendorong dahi Sakura dengan telunjuknya. "Seriuslah," pesan Sasuke dingin sebelum akhirnya pergi.

"Dia itu iblis atau apa sih?" gumam Sakura entah pada siapa.

"Kau siap untuk memulai Sakura? Waktu kita tak banyak loh," ujar Hinata mengingatkan.

Sakura mengangguk dan tersenyum manis. Latihan-pun dimulai. Hinata menunjukkan berbagai program dasar yang harus dipahami Sakura. Salah satunya adalah cara membobol berbagai macam sandi. Sebelum pergi Sasuke berpesan pada Hinata bahwa Sakura harus menguasai itu sebelum ia mengetesnya nanti.

Sesekali Hinata melirik Sakura yang nampak begitu serius, atau mungkin takut? Sejak awal Hinata memang khawatir kalau Sasuke yang akan melatih gadis manis itu. Mengingat Sasuke begitu keras, tak terkecuali pada seorang gadis. Baginya gender hanyalah pembeda jenis, bukan kemampuan.

"Kenapa susah sekali?" eluh Sakura. "Bagaimana aku bisa menguasainya dengan cepat?" gumam Sakura sebal.

"Kau harus bisa Sakura-chan. Kalau tidak Sasuke akan menghukummu," baru saja Hinata selesai bicara, Sasuke muncul dari balik pintu bersama seorang pelayan yang membawa sebuah alat yang menyerupai helm namun terdapat kabel yang terhubung dengan sebuah alat.

"Kau tak berniat menggunakan alat itu kan Sasuke?" tanya Hinata ngeri, ia tahu betul alat apa itu.

"Hadiah untuk muridku yang cerdas," jawab Sasuke ringan sambil menatap Sakura yang nampak ketakutan.

"Ayah akan marah jika kau menggunakan alat itu," cegah Hinata yang hanya disambut senyuman mengerikan Sasuke.

"Ayah mengizinkanku menggunakan peralatan apapun yang kubutuhkan. Kau tak perlu khawatir," terang Sasuke.

Sasuke menghampiri Sakura yang masih berdiri kaku diikuti pelayan di belakangnya. Didudukannya kasar tubuh Sakura, kemudian dipasangkannya helm itu yang langsung melekat kuat di kepala Sakura. Sasuke kemudian mengatur alat tersebut sedemikian rupa setelah sebelumnya dihubungkan dengan listrik. Beberapa saat kemudian layar alat tersebut memunjulkan angka, sepertinya timer.

"Aku rasa Hinata sudah mengajarkan apa yang perlu kau ketahui. Sekarang saatnya tes," ucap Sasuke sebagai pembuka.

"Sasuke. Ini baru latihan pertama, jadi wajar kalau nantinya Sakura belum menguasai dengan benar," terang Hinata mencoba menghalangi Sasuke.

"Ikuti saja metode pengajaranku. Atau kau ingin mengambil alih tugasku?" tawar Sasuke tulus.

Hinata menggeleng lemah. Kalau sudah seperti ini Sasuke memang tak pernah bisa dibantah.

"Siapkan data simulasi yang harus dia buka," titah Sasuke. "Waktumu dua menit untuk membobol arsip itu," terang Sasuke pada Sakura.

"Kalau aku gagal?" tanya Sakura takut.

"Kita lihat saja nanti," jawab Sasuke dengan senyuman iblisnya.

Sakura benar-benar gugup, ia tak yakin akan berhasil melakukannya. Diliriknya Hinata yang hanya memandangnya khawatir.

"Mulai!" perintah Sasuke sembari mulai menyalakan penghitung waktu.

Sakura panik, semua yang diajarkan Hinata lenyap dari pikirannya. Waktu terus berjalan sedangkan ia belum melakukan apa-apa. Sesekali diliriknya Hinata, mencoba mencari bantuan. Keringat dingin mulai muncul dari pelipisnya. Sakura benar-benar bingung harus bagaimana sekarang. Telapak tangannya berkeringat dan jemarinya bergetar hebat.

Sasuke hanya menatap gadis di hadapannya datar. "Waktumu kurang dari tiga puluh detik lagi Sakura," sentak Sasuke semakin membuyarkan pikiran Sakura.

"Kau ini mengajarinya atau mengajaknya bermain?" gumam Sasuke pada Hinata yang kini hanya menunduk takut. "Kalian berdua sama bodohnya," lanjut Sasuke kejam. Hinata yang sudah terbiasa mendengar tutur kasar Sasuke hanya menghela nafas pendek.

Sakura memutuskan pasrah dan turut menghitung mundur. Ia sudah pasrah apapun yang terjadi.

Waktu habis, Sakura merasakan sengatan di kepalanya. Membuatnya merasa seperti ribuan semut merambati tubuhnya. Ujung-ujung jarinya terasa kesemutan. Sakura menjerit pilu, rasanya benar-benar menyakitkan. Tubuhnya terasa terbakar sekarang. Dilihatnya Sasuke masih menatapnya datar, sedangkan Hinata memalingkan wajahnya, tak berani menatap Sakura yang nampak begitu kesakitan.

"Kumohon hentikan Sasuke. Kau bisa membuat syaraf-syarafnya putus," ucap Hinata sembari menarik-narik kaos Sasuke.

Sasuke masih belum bergeming. Ia benar-benar menikmati ekspresi kesakitan Sakura.

Setelah merasa cukup, Sasuke menghampiri Sakura yang nampak menahan sakit, kemudian mematikan alat kejam itu. Dipandanginya Sakura dengan senyuman iblisnya.

Sakura terengah, seluruh tubuhnya terasa mati sekarang. Dipandangnya Sasuke yang kini menatapnya remeh, seolah dirinya sampah.

"Kau harus tahu, aku tak pernah main-main dengan ucapanku. Jika kau tak kunjung menunjukkan keseriusanmu, lebih baik bersiaplah untuk menjadi santapan Himi," bisik Sasuke sinis. (Himi adalah buaya kesayangan Sakumo).

"Bawa dia ke ruang kesehatan!" perintah Sasuke pada Hinata dan beberapa pelan yang di belakangnya yang muncul setelah mendengar jerit kesakitan Sakura. "Latihan hari ini sampai sini saja."

######################

Sakura tengah memandang langit-langit ruang kesehatan saat ini. Aroma obat-obatan sedikit mengganggu penciumannya. Saat ini wajah stoic Sasuke memenuhi pikirannya. Mengingat pemuda itu membuat perasaannya serasa terbakar amarah.

"Kau baik-baik saja?" tanya Hinata khawatir sembari membantu Sakura duduk untuk meminum obat. "Ini penghilang rasa sakit, tubuhmu pasti masih mengalami trauma akibat kejadian tadi," tutur Hinata penuh perhatian.

Sakura meminum pil yang diberikan Hinata patuh. Ia ingin secepatnya pulih dan membalas Uchiha sialan itu. Kepalanya masih terasa pening, namun rasa panas di tubuhnya mulai berkurang.

"Aku akan meminta izin kepada Ayah agar latihanmu disudahi dulu sampai kondisimu pulih. Kalau perlu aku akan mengusahakan agar pelatihmu diganti saja."

"Jangan!" tolak Sakura tegas. "Itu hanya akan membuat Sasuke semakin merasa menang. Aku takan membiarkannya," tutur Sakura geram.

"Tapi Saku-"

"Biarkan. Aku takkan tumbang hanya karena pisau kecil mengiris dahanku. Akan kubuktikan padanya bahwa apa yang dia pikirkan tentangku salah," potong Sakura penuh emosi. Di lain pihak, Sasuke yang mendengarkan ucapan Sakura dari balik tirai tersenyum senang. Ternyata memancing niat gadis itu tak sesulit bayangannya.

"Buktikan padaku Sakura," gumamnya pelan kemudian berlalu.

########################

"Aku dengar kau hampir membunuh Sakura hari ini," ucap Sakumo sembari menatap putra angkat kebanggaannya datar. Menunggu bocah yang kini menjelma menjadi remaja tampan yang dingin.

"Kau melebih-lebihkan paman," jawab Sasuke enteng. "Itu hanya kejut listrik bertegangan rendah."

"Kau tahu betul tubuhnya lemah," bela Sakumo.

"Hn, hanya karena kalian berfikir kegitu," sahut Sasuke santai.

Sakumo memandang Sasuke heran. Apa yang sebenarnya direncanakan pemuda itu? Sakumo benar-benar tak memahaminya. Bahkan Sasuke tak menunjukkan rasa bersalah sedikit-pun.

"Yang selalu meragukan kemampuannya itu kalian sendiri kan?" Sasuke menjeda kalimatnya sejenak. "Jika kau mempercayakannya padaku, biar aku yang melatihnya. Aku tahu apa yang kulakukan," lanjutnya santai.

"Ini baru hari pertamanya. Harusnya kau bisa memahami kalau dia masih memiliki keterbatasan."

"Justru karena ini hari pertamanya. Aku ingin dia sadar, dia disini bukan untuk bermain-main," sahut Sasuke enteng. "Jika kau memanggilku hanya untuk pembicaraan bodoh ini, aku undur diri," lanjut Sasuke sembari pergi dari ruangan itu, meninggalkan Sakumo yang hanya menggelengkan kepalanya pasrah.

##########################

Sasuke tengah menikmati secangkir kopi hangat di teras belakang. Ia nampak sangat menikmati liburanya selama seminggu ini –dalam rangka melatih Sakura. Pagi ini cuaca mendung ditemani gerimis yang membuat hawa malas menyelimuti tiap manusia. Tak terkecuali Sakura yang kini sedang terggopoh-gopoh karena bangun sedikit terlambat. Untunglah ia sampai ke tempat latihan tepat waktu.

Sakura berdiri di hadapan Sasuke lengkap dengan segala artribut yang diperlukan, termasuk pemberat di kedua kakinya. Tanpa disuruh, ia bergegas memulai untuk berlari seperti yang ia lakukan kemarin. Sesekali Sasuke memperhatikan stopwatch di tangannya. "Kemajuan," gumamnya senang, diam-diam ia tersenyum puas atas perubahan Sakura.

Tak ada lagi keluhan dari bibir manis Sakura. Ia bahkan menurut saat Sasuke menyuruhnya push up saat ia terlambat hadir di computer room. Meskipun begitu, Sakura tetap belum berhasil melewati tugas Sasuke dan kembali mendapat sengatan dari alat penyiksa itu.

Sasuke juga melatihnya memegang senjata. Melatihnya menggunakan pistol, samurai, panah, bahkan pisau lempar. Dari semua alat itu, Sakura paling menyukai pisau lempar. Beberapa kali ia berhasil mengenai sasaran yang Sasuke berikan. Tapi tetap, Sasuke mewajibkannya untuk mampu menggunakan semua alat itu. "Kau takkan bisa mengalahkan peluru besi hanya dengan pisau mini-mu itu," begitulah kata Sasuke. Yaa...tidak mengherankan, mengingat Sasuke menguasai semua senjata itu.

Ingin rasanya melempar wajah rupawan itu dengan geranat yang ada di tangannya kini. Kapan pemuda itu bisa melihat usahanya?
"Nanti, saat semut bisa tertawa," begitulah jawab Sasuke saat suatu ketika Sakura menanyakannya.

Sasuke sering menggunakan cara-cara keras untuk melatih ketahanan fisik Sakura. Sepeti saat ini, ia mengikat tangan Sakura ke sebuah tiang yang memang sengaja ia persiapkan dan membiarkannya dalam keadaan menyedihkan itu selama seharian. Padahal cuaca sedang hujan deras, dan Sakura tak kuat dengan udara dingin. Namun ia sudah berjanji takkan pernah mengeluh kepada Sasuke, karena ia tahu itu hanya akan membuat Sasuke semakin kejam padanya. Semua ini berawal hanya karena Sakura menolak keras saat diperintahkan latihan tembak dengan sasaran seekor kelinci –binatang kesukaan Sakura.

Seluruh anggota Exterminator hanya memandang miris Sakura dari balik pintu kaca.

"Kau keterlaluan Sasuke, ia bisa mati beku kalau kau membiarkannya lebih lama," ujar Naruto mengingatkan.

"Kalau membunuh kelinci saja ia tak sangup, bagaimana nanti kalau dia harus membunuh manusia?" sahut Sai yang berada di pihak Sasuke.

Sasuke hanya menggonta-ganti acara di layar televisi, sambil sesekali memandang jam dinding.

"Hinata, siapkan air hangat dan suruh pelayan untuk membawa Sakura masuk. Mandikan dia dan siapkan sup hangat untuknya. Aku mau tidur," titah Sasuke sembari berlalu. Hinata segera melaksanakan perintah Sasuke dengan tergesa.

"Kenapa dia selalu seenaknya begitu sih?" gumam Naruto kesal.

"Biarkan saja, dia juga seperti itu saat melatihku memanah. Berkali-kali tanganku harus merasakan tamparan rotan," sahut Sai enteng yang dihadiahi lemparan bantal oleh Naruto.

"Jadi itu alasanmu berada di pihaknya? Agar Sakura merasakan yang kau rasakan eh?" tanya Naruto sinis. Sai hanya mengendikkan bahu menjawab pertanyaan Naruto.

######################

"Misi berikutnya akan dipimpin Sasuke. Sasaran kita adalah Yamato. Salah seorang menteri yang berkali-kali terbebas dari dakwaan pelecehan seksual dan sodomi yang ia lakukan. Banyak anak-anak telah menjadi korban dan semua kasusnya ditutup begitu saja," terang Sakumo saat rapat pagi ini. "Selain itu, ia dikenal sebagai orang yang licik. Ia rela mendepak saingan dalam hidupnya dengan berbagai cara," lanjut Sakumo. Nampak Sasuke memikirkan ucapan Sakumo sembari membuat catatan kecil dalam notes mininya. Di sampingnya, Sakura sedang mati-matian menahan kantuk dengan menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya. Tak sadar semua mata tengah memperhatikannya geli. Sasuke yang menyadari tingkah Sakura akhirnya menyeltil dahi Sakura keras untuk membangunkannya, sukses membuat gadis itu terlonjak kaget.

"Aku akan berlari lebih cepat Sasuke," ucap Sakura spontan sambil berdiri, membuat Sasuke hanya menggeleng sebal. Tingkah Sakura tak ayal mengundang gelak tawa anggota lain, tak terkecuali Sakumo.

"Kau nampak kelelahan, kau boleh beristirahat jika diperlukan," tawar Sakumo hangat. Sakura awalnya hendak menerima tawaran itu, namun ia urungkan saat mendapat tatapan horor Sasuke.

"Aku baik-baik saja Ayah," sahut Sakura lirih.

"Aku berencana memasukkan Sakura dalam misi ini," ujar Sasuke tiba-tiba. Membuat anggota lain terdiam kaku. Memang hak Sasuke untuk memilih anggota, tapi bukankah Sakura terlalu dini untuk terjun ke medan perang?

"Kau gila? Itu sama saja memerintahkan anak SD mengerjakan skripsi anak kuliahan," sahut Sasori geram.

"Aku rasa aku berhak memerintahkan siapapun, meski anak TK sekalipun," balas Sasuke enteng.

"Sasori benar Sasuke. Itu hanya akan mempersulit misi ringan ini," timpal Naruto mencoba menengahi.

"Tenten juga mengalami hal yang sama saat pertama hadir diantara kita. Ia hanya mendapat latihan selama seminggu, dan langsung masuk misi."

"Tentu itu beda, Tenten punya dasar bela diri. Setidaknya fisiknya siap dan kuat," ujar Neji ikut-ikutan.

"Cih..jadi kalian setuju denganku bahwa Sakura tak mumpuni sebagai anggota?" tanya Sasuke sarkatis. Semua terdiam, memandang Sakura yang kini menunduk dengan wajah merah. Ya..ia merasa benar-benar disepelekan sekarang.

"Aku bersedia menerima misi ini, kalian tak perlu khawatir," sahut Sakura yang sendari tadi hanya diam membisu. "Aku yakin aku mampu," lanjutnya mantap.

Sakumo memperhatikan anak-anaknya prihatin. Dalam hati ia juga menghawatirkan Sakura, tapi gadis itu terlanjur terpancing umpan Sasuke. Dilihatnya Sasuke yang kini tersenyum menang, ia nampak senang berhasil menguasai keadaan.

########################

Sakura terlihat seolah memperhatikan Sasori dengan seksama, padahal pikirannya sedang berlari entah kemana. Pemuda itu sedang mempraktikan cara menembak sasaran dengan tepat, menggantikan Sasuke yang sedang sibuk mempersiapkan rencana bersama Kakashi.

"Kau gugup?" tanya Sasori yang sendari tadi memperhatikan Sakura yang melamun.

Sakura mengangguk lemah. Misi kali ini memang tergolong ringan. Hanya menghabisi satu orang, seharusnya takkan sulit kan? Hanya empat agen yang akan tergabung dalam misi ini. Sasuke, Hinata, Naruto dan tentu saja dirinya.

"Aku yakin kau mampu," ujar Sasori berusaha menenangkan.

"Aku belum mahir memegang senjata. Aku bahkan tak sanggup membunuh binatang. Bagaimana bisa aku membunuh manusia nanti?" ujar Sakura pesimis.

"Apa Sasuke pernah melakukan kesalahan saat menjalankan misi?" tanya Sakura antusias.

Pertanyaan Sakura membuat Sasori menegang dan menghentikan kegiatannya. Dipandangnya gadis pink itu dari balik kaca mata pelindungnya. Belum sempat menjawab pertanyaan Sakura, Sasuke muncul dari balik pintu ruang latihan tembak.

"Kita terbang ke Suna satu jam lagi. Bersiaplah!" perintah Sasuke datar. Sakura hanya bergumam tak jelas, kemudian mengikuti Sasuke dari belakang, meninggalkan Sasori yang hanya tersenyum geli melihat tingkahnya.

"Semoga berhasil Sakura!" teriak Sasori mencoba memberi semangat.

#######################

"Hinata akan melumpuhkan sistem keamanan dan kamera pengintai, soal itu kita jelas tak perlu khawatir. Naruto akan masuk melalui pintu belakang dan membereskan penjaga keamanan yang ada, sedangkan kau, Sakura tugasmu adalah menyamar sebagai wanita bayaran yang dipesan Yamato. Kami sudah mengatur segalanya, yang perlu kau lakukan hanya mengalihkan perhatiannya," terang Sasuke panjang lebar, saat ini mereka tengah rapat singkat dalam mobil box yang telah disiapkan sebelumnya. .

Sakura memandang Sasuke ragu. Segalanya bisa terjadi jika Sasuke terlambat menyelamatkannya nanti. Bagaimana kalau Yamato benar-benar akan memaksanya melayani pria itu? Ia sama sekali belum pernah melakukan kontak fisik dengan pria manapun, dan sema ini membuatnya sedikit ketakutan membayangkan segala sesuatu yang mungkin terjadi nanti.

Ketiga anggota lain –minus Sasuke- menatap Sakura khawatir, ini pasti takkan mudah untuk Sakura. Tapi tugas semacam ini akan sering ia hadapi kedepannya.

Melihat Sakura yang tak kunjung bersua, Sasuke akhirnya menyerahkan sepasang pisau lempar miliknya.

"Aku takkan memberikan pistol kepada anak-anak. Jadi gunakan ini saat situasi mendesak," ucap Sasuke ringan. "Kau harus tahu, aku tak pernah gagal dalam misi, jadi tak ada yang perlu kau khawatirkan," lanjutnya percaya diri.

Sakura meraih pisau itu ragu. Dipandangnya onyx Sasuke, mencoba mencari kekuatan dari sana. Untuk pertama kalinya Sasuke tersenyum padanya, meskipun sebenarnya lebih bisa disebut sebagai seringai iblis, namun itu cukup membuat Sakura memantapkan hatinya.

Saat ini Sakura mengenakan sebuah gaun selutut warna merah dengan lengan spageti, sangat sesuai dengan perannya. Sejujurnya ia sedikit merasa kurang nyaman dengan pakaian minim itu, apalagi busana itu menonjolkan lekuk tubuh ranumnya yang menggoda. Sakura benar-benar nampak seperti kuncup bunga yang baru saja merekah.

Sasuke mengenakan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh bagian tubuh bidangnya, lengkap dengan penutup wajah yang siap dikenakan. Bahkan kedua telapak tangannya tertutup sarung tangan tebal. Pakaian serupa juga dikenakan oleh Naruto.

"Doakan aku Hinata," bisik Naruto, diakhiri dengan ciuman mesra mereka, melupakan dua onggok manusia yang sedang membuang muka risih. Mereka nampak begitu menikmati kegiatan tersebut, merasa dunia milik sekitar satu menit berlangsung, Sasuke yang kesal akhirnya menarik Naruto paksa, membuat sahabatnya itu manyun tak terima.

"Semakin cepat kita selesaikan ini semakin cepat kalian bisa menghabiskan malam sepuasnya," ujar Sasuke geram. "Sakura, kau turun duluan," titah Sasuke sembari melemparkan mantel hitam untuk menutupi tubuh Sakura.

Sakura mengangguk patuh dan turun dari mobil yang terparkir berjarak sekitar 5 rumah dari tempat eksekusi. Sakura turun disusul dengan Naruto yang langsung lompat ke atap-atap rumah dan menghilang dalam kegelapan malam. Sakura terus berjalan sambil sesekali mengeratkan mantelnya, ia benar-benar gugup. Suasana sangat sepi, mengingat ini sudah jam tidur bagi manusia normal.

Sesampainya di depan rumah Yamato, Sakura menekan tombol bel rumah. Seorang pria bertubuh tegap muncul dari balik pintu utama, sekilas ia memandang Sakura yang nampak asing di matanya. Sakura menatap kedua mata pria itu angkuh, berusaha menirukan gaya Sasuke bila sedang menatapnya. "Aku di sini untuk menikmati malam bersama tuanmu," ucap Sakura spontan. Ia sendiri terkejut dengan ucapanya.

"Hmm...kau terlambat, tuan besar sudah menunggumu dari tadi," ucap pria berotot itu tanpa curiga sembari membukakan pintu. Sakura menghela nafas lega setelah berhasil masuk. Diliriknya pria berotot yang kini tengah mengantarnya menuju kamar manusia laknat itu, membuat jantung Sakura semakin berdegup kencang.

Di lain tempat Sasuke sedang melihat aksi kedua rekannya melalui monitor komputer Hinata yang terhubung dengan kamera keamanan rumah Yamato, entah bagaimana caranya. Terlihat Naruto mulai beraksi melumpuhkan penjaga satu per satu. Aksinya begitu rapi sehingga tak sampai mengundang perhatian.

"Sebaiknya kau segera turun Sasuke," pesan Hinata yang cemas karena Sasuke tak kunjung melakukan aksinya, sedangkan Sakura mulai memasuki kandang singa.

"Hn, misi mudah seperti ini takkan menantang jika cepat-cepat diakhiri Hinata," sahut Sasuke enteng. "Aku bisa menghabisinya sendiri, tapi itu takkan menarik kan?" lanjutnya santai.

"Sesuatu yang buruk bisa terjadi pada Sakura Sasu," ujar Hinata kesal.

"Santai dan nikmati saja Hinata," tutur Sasuke ringan sembari mengisi pistolnya dengan peluru. "Ini misi pertamanya, jadi biarkan ia nikmati aksinya."

Hinata menatap Sasuke ngeri. Kedua iris Sasuke telah berganti warna sekarang. Ditambah dengan ekspresi dinginnya saat memandang pistol di tangannya membuat Hinata merinding ngeri. Hinata tahu, misi ini sebenarnya tak membutuhkan banyak agen dan bisa dengan mudah diselesaikan Sasuke. Tujuan utama Sasuke sebenarnya adalah mengajari Sakura seraca real karena ia merasa teori yang diberikan sudah cukup. Pria macam Yamato dengan mudah bisa dihabisi dengan pisau lempar sekalipun, jadi kehadiran Sasuke di sana sebenarnya tak perlu, mengingat di sana juga ada Naruto. Ia hanya mengisi peluru untuk jaga-jaga.

Selain membunuh Yamato, tujuan mereka yang lain adalah mencuri arsip mengenai beberapa kasus yang dibekukan, itu adalah tugas Naruto. Itulah sebabnya, sebenarnya dua agen di lapangan sudah cukup.

Sasuke tahu, jauh di dalam diri Sakura, ia memiliki kemampuan yang luar biasa. Dan Sasuke ingin melihat sejauh mana Sakura mampu memanfaatkanya, karena yang dibutuhkan Sakura hanyalah niat dan kesadaran untuk membangkitkan kemampuan terpendamnya.

Kau tahu kenapa Sasuke begitu yakin? Ya...karena Sasuke memang tak pernah salah.

TBC...

Author's place :

Maaf atas keterlambatan saya dalam mengupdate... =.="

Ceritanya kepanjangan yaa? Maaf kalo mengecewakan atau ngebosenin. Baru kali ini bikin cerita model gini. Jadi ga begitu ngerti gimana caranya biar bisa seru. Tapi author janji akan belajar sebisa mungkin.

Beberapa hari ini author juga jalan-jalan (?) untuk belajar dari karya-karya author lain agar tahu gimana caranya memunculkan adegan-adegan action yang seru. Tapi belum berhasil yaa kayaknya? Hoho..maaf yaa readers... pasti ceritanya berkesan rada lebay ya?

Awalnya ragu buat update, tapi akhirnya nekat deeh..
Hhe...

Makasih yaa readers yang udah meninggalkan saran dan review...

Mohon saran yang membangun yaa...

Sebisa mungkin pertanyaan readers tentang cerita akan dijelaskan seiring berjalannya waktu... : )

Soal pairing, enaknya Sakura sama siapa ya?

^^R.E.V.I.E.W pleace^^