Gomenne, bagi minna yang sudah menganggap ini SongFic. Sebenarnya aku tidak bermaksud membuat ini menjadi songfic tapi bila ada yang menganggapnya demikian, tidak masalah. Dan maaf Minna, Aku tidak bisa menjelaskan semua dichapter ini, mungkin semua penjelasannya akan terkuak di Chapter Akhir.
Spesial Thanks for review di chapter 1
yassir2374, Lilliana Hikari, , nelsonthen52, hanifah, mc-kyan, Raoul492,NururuFauziaa
And, Spesial thanks to my best friend Stevi for many idea. And to My Boyfriend Fauzan for supporting me.
HAPPY READING! DAN JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAKNYA.
.
.
MANNEQUIN
Genre : Horror, Mystery, Angst
Chapter 2 : Kedua Sahabatku.
Pair : Sakura H, Sasuke U. Tapi maaf ya minna, Sasuke Belum keluar disini, mungkin di Chapter depan^^
.
.
.
Sakura berjalan perlahan menuju ruang tamunya. Ia menyiapkan beberapa makanan hidangan diatas meja saji yang sudah ia hias. Sebelumnya Ia telah mendapat pesan dari Sahabatnya, Ino dan Hinata. Mereka akan berkunjung untuk sekedar melepas penat sehabis sekolah. Sakura menerima mereka dengan senang hati karena memang hari ini adalah hari bebasnya, tidak ada kegiatan ataupun pekerjaan yang menantinya.
"Setidaknya aku telah menutup semua sumber kecurigaan. Aku tidak ingin dicurigai siapapun," gumamnya pelan saat meletakkan beberapa piring makanan yang telah ia masak.
"Ruang bawah tanah. Tidak ada yang boleh mengetahuinya. Aku tidak suka boneka berhargaku dilihat manusia menjijikan seperti mereka," Sakura berjalan kearah ruangan gelap dimana pencahayaan disana sangat minim sekali. Karena memang sengaja agar tidak ada yang berminat menginjakkan kaki disana.
Gadis itu kembali merapihkan dan mengecek ulang apa benar benar pintu itu sudah terkunci dengan rapat. Lalu ia menutupnya dengan kain hitam agar tidak ada yang memperhatikannya.
"Chichi, Haha. Tunggulah sebentar disana. Akan ada tamu, dan jangan bersuara." Bisiknya diselah selah pintu yang ia kunci.
Ia menunggu dengan duduk manis dimeja makan yang telah rapih. Ia duduk termangu menunggu Orang yang mengaku sebagai sahabatnya. Ia mempunyai pikiran untuk membuat Hinata dan Ino menjadi Mannequin barunya. "Mereka Cantik. Dan aku yakin mereka pasti sangat diminati," senyum mengerikan itu kembali muncul diwajah porselen bak boneka Barbie yang dulu ia sukai.
Tak lama ia menunggu, ia mendengar ketukan pintu dan menyerukan namanya.
"Mereka datang," bisiknya entah pada siapa.
Ia berjalan santai menuju pintu utama yang berada di Istananya itu. Lalu ia mengeluarkan beberapa kunci untuk membuka pintu megahnya itu dan mempersilahkan kedua Sahabatnya itu masuk.
Pintu terbuka, Kini dihadapannya Hinata dan Ino yang keliatan terengah-engah seperti dikejar-kejar oleh sesuatu.
"Kau lama sekali sih Saku!?" seru Ino kesal. Disambuh kekehan dari Hinata.
"Ah, selama itukah? Seingatku, aku hanya berjalan selama kurang dari 5 menit," balas Sakura sembari mempersilahkan mereka masuk kedalam. Dibalas lirikan tajam Ino. Baru saja Ino ingin berteriak Hinata sudah mengambil alih pembicaraan membuat Ino makin kesal.
"Sakura, bagaimana dengan kuliahmu?" ucap Hinata lembut disertai senyuman lembut keibuan dirinya. Sakura teriam sejenak lalu menoleh dan tersenyum.
"Kuliahku baik baik saja, bagaimana dengan kalian? Apakah Ujian sudah berlangsung?" Hinata dan Ino duduk di sofa panjang yang berhadapan dengan perapian dan TV LCD besar.
"Ya tentu saja baik Forehead. Kau ini bodoh sekali sih, sudah tau malah bertanya," Ucap Ino dengan perasaan masih kesal. Hinata hanya memandanginya bingung.
"Ahaha, kau tidak perlu semarah itu Ino," kekeh Sakura. Lalu melirik kekiri dan kanan untuk mencari dimana remote untuk menyalakan tv.
Ino menggembungkan kedua pipinya kesal. Membuat niat Sakura menjadikannya sebagai boneka semakin meningkat. Mata Sakura menatap lurus kearahnya seakan tidak ada jiwa didalamnya.
Ino menatapnya bingung lalu lambaikan tangan didepan wajah Sakura. "Hei, kau kenapa Saku? Kau tidak enak badan?" ucapnya membuat Sakura tersadar lalu menggelengkan kepalanya.
"Ma-maaf, aku memang sedang sedikit tidak enak badan." Sakura berdiri dari duduknya lalu berjalan pelan kearah kamarnya.
"Hari ini si Forehead terlihat aneh. Ada apa dengannya," batin Ino.
Lalu Sakura kembali dengan wajah basah sehabis mencuci muka. Lalu ia tersenyum manis pada Hinata dan Ino.
"Kau baik baik saja Saku?" Hinata menatap Sakura khawatir.
"Kau seperti sedang kerasukan Saku, kau habis membunuh seseorang ya? Haha," ucapan Ino sukses membuat dada Sakura terguncang dan membuat wajahnya pucat pasi. 'Dia mengetahui?' DEG.
"Aku hanya bercanda. Tidak perlu setegang itu Saku. Tidak mungkin sahabatku ini membunuh," tawa Ino sembari merangkul Sakura yang terlihat duduk dengan tegang.
"Tentu saja, aku tau. Memangnya kau ingin kubunuh juga?" Sakura melirik Ino dengan tatapan membunuh. Dan tidak ada yang sadar akan lirikan Sakura tersebut.
"Benarkah? Bunuh saja kalau kau bisa, dasar jelek." Ino berlari kebelakang Hinata sambil menjulurkan Lidahnya. Hinata hanya tersenyum melihat kedekatan kedua sahabatnya ini.
"Hei, aku sudah menyiapkan beberapa sajian untuk kalian. Jarang jarang bisa makan di istana kan? Siapa tau ini jadi yang terakhir kali," ucap Sakura santai dan berjalan kearah ruang makan. Dan lagi tidak ada yang menyadari ucapan bermakna lain yang Sakura ucapkan.
Hinata dan Ino sudah duduk dengan rapih dan didepannya sudah ada beberapa hidangan yang tersedia. Mereka tidak melihat tanda tanda keberadaan Sakura. Dimana Sakura? Tentu saja sedang berkutik dengan peralatan yang akan digunakan untuk mempoles kedua sahabatnya ini.
Sakura dengan tiba-tiba muncul dihadapan mereka dengan pakain Maid. Ino menengguk ludah dengan susah payah.
"Kenapa kau berganti pakaian Saku?" Tanya Ino bingung.
"Aku ingin jadi pelayan sekali sekali. Ehehe, maniskan?" ia berputar untuk menunjukkan bajunya kepada kedua Sahabatnya itu.
Mata Hinata berbinar sangat indah. "Aku suka baju itu. Waa, buatkan untukku Satu Saku!" Seru Hinata dengan keras. Dengan sigap Hinata berlari kearah Sakura untuk menyentuh pakaian ala maid yang indah dengan warna dasar Hitam dan dihiasi oleh renda putih. Sangat manis.
"Tentu nanti akan ku buatkan untukmu, Boneka manis," senyum Sakura yang mengerikan membuat Hinata memundurkan langkahnya takut. entah kenapa Hinata merasa ekspresi Sakura berubah jadi menyeramkan. Begitu menakutkan, sampai membuat bulu kuduknya berdiri.
"Ada apa denganmu, Hina-chan? kenapa kau menjauhiku?" Sakura berjalan perlahan kearahnya dengan senyum mengerikan yang masih bertengger manis disana. Benar-benar pembunuh yang hebat. Hinata terus berjalan mundur bahkan saking ketakutannya ia tidak mampu untuk sekedar berbalik badan dan berlari menjauh. Seakan senyum itu menyedot segala energinya dan segala keberaniannya.
"Sa-saku? ja-jangan menakutiku." Sakura dapat mendengar dengan jelas ada getaran takut dibalik suara Hinata. Senyumnya semakin mengembang seraya melihat wajah ketakutan Hinata yang amat manis baginya.
"Saku? apa yang kau lakukan?" Seru Ino yang sedari tadi memperhatikan tingkahnya yang aneh.
Entah gerakan kilat seperti apa. Sakura melempar pisau tepat ke arah Ino. Dan Gotcha! tepat mengenai perut Ino dan membuat Ino terjatuh dan bersimbah darah. Melihat itu Hinata menjerit dan jatuh terduduk. Menyadari itu Sakura langsung menatapnya dan berbisik, "Sstt, jangan berteriak. Aku tidak akan menyakitimu,"
Ino masih berteriak kesakitan akibat dalamnya pisau tersebut menancap, entah Sudah berapa banyak darah yang keluar. dan Hinata masih menatap Sakura ketakutan dan terus mundur hingga terpojok. "aku ingin sedikit bermain-main denganmu." gumam Sakura pelan membuat Hinata bergidik ketakutan.
"Apa yang akan kau lakukan padaku!" Jerit Hinata. Air matanya sudah menganak seperti sungai dipipinya yang kemerahan itu, membuat Sakura menjilat bibirnya melihat mangsa semanis ini.
"apa yang ku lakukan? mudah saja, aku akan membunuhmu." ucapnya pelan bahkan seperti bisikan.
"Hinata, kau tau? dibalik baju yang kau katakan manis ini, aku menyembunyikan alat-alat yang akan membuatmu terbunuh."
Jrassssss, Sakura membuka paksa bajunya hingga robek dan berserakan dimana-mana. Kini hanya menyisakan Bra dan Celana dalam hitamnya. Hinata menjerit saat melihat apa yang ada dibalik baju Sakura tersebut. Sakura menggantungkan banyak macam pisau ditubuhnya. Bahkan menyebabkan tubuhnya terluka kecil akibat tergores pisau pisau tersebut.
Sakura berjalan menjauhi Hinata dan mengambil jarum suntik yang sudah ia siapkan khusus disebuah nampan emas dimeja dapur. Dan dengan gerakan kilat ia melempar suntik jarum tersebut dan sukses menancap di dada Hinata. Hinata terjatuh karena kehilangan kesadarannya. Sedangkan Ino? ia sudah terdiam sejak tadi ditempat itu. Darahnya sudah tergenang disekitarnya. Lalu Sakura menghampiri Ino dan menendangnya. "Sudah mati eh? lemah sekali." Ujar Sakura Sarkastik. Lalu Sakura menyeret mereka berdua sekaligus sampai kedepan pintu dan membuka kain Hitam yang sengaja tergantung disana untuk menutupi pintu tersebut.
Selesai membuka pintu yang dipenuhi gembok itu, Ia melihat ke bawah tempat dimana ia menyimpan semua dosanya. Ia melempar Hinata dan Ino kebawah dan ia mendengar suara lenguhan kesakitan dari Hinata. Ia menuruni tangga dengan tatapan dinginnya yang menakutkan. "Dasar tidak berguna," Sakura menendang Hinata yang tidak sadarkan diri hingga terlempar cukup jauh.
Gadis itu kembali melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan kepala kedua orang tuanya dengan mengikat mereka berdua terlebih dahulu. Tapi dengan sedikit berbeda. Sakura mengikat mereka disalah satu kayu yang menopang tempat berdebu yang dipenuhi bau anyir tak sedap itu.
Sakura mengikat mereka layaknya mereka sedang berpose, ia menyatukan 2 tangan dalam satu ikatan dan ia menggantung mereka. Sebelumnya Sakura sudah melepaskan baju seragam ke dua gadis ini. Benar-benar seperti model model yang ia lihat di buku majalahnya.
Tak butuh waktu lama sampai Hinata tersadar, Penglihatannya belum jelas dimana ia berada sekarang. Sakura menyadari pergerakan kecil dari Hinata dan tersenyum Simpul. "Mannequin, mannequin. Inilah permainanku, bongkar pasang. Inilah keinginanku." Alunan lembut tersebut membuat Hinata membelalakan matanya dan mulai menjerit. ia melihat Sakura sedang bermain-main dengan salah satu koleksi pedang yang ia miliki, terlihat jelas sedang mengasahnya dengan mesin pengasah yang sangat tajam.
"Kau sudah sadar Hina-chan?" ucapnya lembut sembari melirik Hinata lewat ekor matanya. ia belum berbalik ia masih tetap berkutik dengan pekerjaannya. Saat menyadari posisinya Hinata kembali memberontak dan berusaha melepaskan diri dari ikatannya.
"Ah, aku melupakan salah satu alatku. Tunggulah disini, aku akan segera kembali." Sakura berjalan perlahan menaiki tangga dan keluar ketempat dimana ia meletakkan alat yang ia maksudkan.
"Aku harus pergi dari sini." Ia menoleh kesamping dan berteriak saat melihat Ino tergantung dengan perut yang terbuka lebar dan isi perutnya sudah berceceran kemana mana dan darah terus mengalir. Hinata mulai menangis. 'Ino, maafkan aku. Tapi berdoalah agar aku bisa terlepas lalu melaporkan Sakura ke polisi agar kau dapat tenang Ino.' isaknya.
Hinata terus menggoyang goyangkan tangannya kasar dan berharap ikatan tali ini mengendur agar ia dapat bebas. "Sedikit lagi," bisiknya dengan terus melirik kearah pintu yang masih terbuka.
Dan gotcha! tali itu terlepas dan Hinata dangat bersyukur karena itu dan mencoba melepaskan tali yang mengikat kakinya juga. Tak lama tali tersebut terlepas dan ia berlari agar bisa selamat. Baru saja Ia menaiki tangga, Sakura sudah ada dihadapannya.
"Apa yang kau lakukan Hina-chan? mencoba kabur dariku?" ucap Sakura pelan. DEG! Hinata menatap keatas dan melihat tatapan kosong dari Sakura. Air matanya mulai menyeruak keluar. ia memundurkan langkahnya hingga terjatuh dari tangga tersebut. ia terus memundurkan langkahnya ketakutan.
Sakura terus menyeret sebuah kapak dan ia dapat melihat ada pistol di tangan kirinya. "Kemarilah Hina, jangan takut padaku." Sakura tersenyum puas saat melihat Hinata sudah terpojok didinding.
"Kau tau Hina? mencoba kabur dariku adalah kesalahan fatal. Kau tidak akan bisa lakukan itu padaku!" Teriak Sakura keras membuat Hinata makin menggigil ketakutan.
Sakura ngambil Salah satu cairan Asam yang sangat berbahaya yang ia miliki disalah Satu tabung. Kalian tau apa yang terjadi bila Cairan asam menyentuh permukaan kulit? yup, benar. Akan menghancurkan kulit kalian. ya Cairan AgNO3 atau disebut Silver Nitrate. Senyawa kimia ini dapat menyebabkan luka bakar atau kulit melepuh, entah darimana ia mendapatkan itu.
Lalu Sakura dengan cepat menyiramkan itu pada Hinata tepat diwajahnya, dan sukses membuat Hinata menjerit tidak karuan. "Sa-sakura! Kami-sama, Tolonglah aku!" teriaknya.
"Sayang sekali, ruangan ini kedap Suara Hinata. Dan kau tau? Kami-sama mendukungku." Sakura tertawa lepas saat melihat Hinata menggeliat kesakitan diatas lantai ruang bawah tanah ini.
Wajah Hinata sudah hancur tak berbentuk lagi. Namun Sakura tau, bahwa Hinata masih hidup dengan melihat nafas naik turun di perutnya. Sakura menyiramkan lagi Cairan tersebut disekujur tubuh indah Hinata. Membuat Hinata makin menggeliat dan menjerit kesakitan.
Kini tubuh Hinata telah rusak, sudah tidak ada lagi tanda tanda kehidupan darinya. "Dan lagi, aku harus mempoles mereka berdua." Sakura menyeret kapak tersebut dan mengalunkannya dengan Indah di atas kepala Hinata. Kepala Hinata menggelinding dan menyebabkan darahnya tumpah dan berserakan dimana-mana. Dan kini Sakura berjalan kearah Ino lalu mengalunkan kapaknya dan kearah kaki Ino.
Crasss, Kaki Ino belum terputus dengan sempurna dan Sakura mengeryit bingung. Dengan kesal Sakura menarik kaki Ino menariknya terus sampai terputus. Sanyumnya mengembang. Ia tersenyum puas melihat semua hasil karyanya. "Kalian cantik," gumamnya pelan dan mengambil Kepala Hinata yang menggelinding. dan kembali menaruhnya dinampan yang telah Ia siapkan. Setelah kedua Kaki ino terputus, ia meletakkan kaki tersebut di salah satu Lemari yang ada diruangan gelap yang menakutkan itu. Lalu Sakura bermain dengan darah yang ada disana, melompat kegirangan lalu ia berjongkok, menangkup darah tersebut di kedua tangannya dan melemparnya layaknya seorang anak kecil yang bermain dengan air didanau yang tenang. Kebahagiaan tercekat jelas diwajahnya itu, ia tersenyum menyeramkan dan bangkit dari jongkoknya itu dan tersenyum memandang Hinata dan Ino yang sudah tergeletak tanpa nyawa di sisinya lalu kemudian ia tertawa keras, keras sekali.
Sakura duduk di kursi yang sudah ada disana dan mengeluarkan beberapa pisau bedah untuk mempoles kedua boneka barunya ini. Ia menggenggam kepala Hinata dan Menusuk matanya setelah itu dia menyabutnya dengan keras dan Sakura mengcongkel kedua mata indah milik Hinata yang masih kalah indah dengan mata Emeraldnya. Ia memasukkan mata boneka Palsu pada rongga mata Hinata yang kosong.
Setelah lelah, Sakura berpikir untuk melanjutkannya besok. Ia tersenyum saat menutup Pintu ruang bawah tanah tersebut. Dan beristirahat sampai besok karena besok ia harus masuk kuliah. Dan akhirnya Hidangan yang ia siapkan Sia-sia, karena memang tidak ada yang memakannya. Mungkin besok akan ku berikan pada boneka-bonekaku yang kelaparan. pikirnya.
"Ini adalah festival kematian, dimana Dia menunggumu untuk menguburkan dirimu sendiri. Hitam, merah dan, misterius. Boneka Manusia buatanku. Mari menari bersamaku, merayakan festival kematian yang akan dikenang seluruh Boneka sebagai kematian paling menyedihkan yang pernah ada. Rasa Sakit, Jerit pilu, Tetesan darah adalah makananku sehari-hari. Dan Kamu adalah Sasaranku selanjutnya. Tunggu saja disitu, aku akan datang kekamarmu dan mencongkel kedua matamu. Selamat tidur dan mimpi indah." Alunan Lagu tersebut Alunan yang membuat bulu kuduk setiap pendengar akan berdiri dan berlari ketakutan.
.
.
To Be Continue
.
.
A/N
Yo, Minna-chan. Maaf ya chapter 2 cuma segitu doang, karena Otak Bell lagi buntu nih, ehehehe..
Mungkin fict ini akan sampai chapter 5 saja, uhmm mungkin ya. Soalnya bisa lebih dan Bisa kurang juga ehehe tergantung Otaknya Bell nya deh.. ehehe
Bell engga Tergila-gila sama review kok, tapi Bell hanya mengharapkan saran dan kritik saja supaya selanjutnya Karya Bell akan lebih bagus dan menyenangkan kalian. Tapi bagi Minna yang sudah Fav dan Follow Karya Bell, Bell berterimakasihhh dengan sangat ya. Oh iya, Bell sudah fast update nih, semoga Minna-chan semua senang dengan Chapter ini, Bila ada yang tidak puas boleh ditorehkan di Review dan bila ada yang puas boleh juga ditorehkan. Bell sangat bersyukur dengan Minna yang sudah mendukung Bell dan terus mengikuti Fict Bell ini, Hontou Ni Arigatou Gozaimasu ya minna-chan.
Kalau pembunuhannya kurang seru, Minna boleh tuliskan Saran untuk Chapter depan dan Bell akan dengan senang hati menulisnya Dan Terimakasih buat Minna yang sudah membuang waktunya untuk membaca Fict nista Bell ini. Sampai Jumpa dichapter depan ya Minna^^
"BELLE"
