That Man
Chapter 1
000
"Apa-apaan orang itu?!" teriakku kencang.
000
Seorang laki-laki berumur kurang lebih 20 tahun berjalan masuk ke dalam galeri yang sama. Ia berjalan santai, saat tiba-tiba suara teriakan terdengar dari dalam. Ia berlari terbirit-birit. Mengapa? Karena galeri itu miliknya.
"Ecchan! Ada apa lagi?! Babi tetangga sebelah masuk lagi?!" seru Kankuro panik.
"Bukan! Tadi ada orang kurang ajar yang seenaknya menghina lukisan sensei, dan dengan santainya kabur. Dasar bencong!"
"Bencong? Maksudmu si Masti yang suka ngamen itu? Atau germo sebelah?! Mampus, dia ingat utangku!" Kankuro mengeluarkan semuanya tanpa sadar. Ecchan terdiam. Kankuro memandangi Ecchan yang melihatnya dengan jijik.
"SENSEI MESUM!"
000
"Jadi… seperti apa laki-laki itu…?" Kankuro bertanya pada muridnya dengan salah tingkah, Ecchan sangat kesal. Dan itu pertanda buruk. Terakhir kali Ecchan marah, koleksi Barbie-nya dibuang ke selokan. Padahal hampir saja ia mengalahkan kolektor top dunia, Sasori Akasuna.
"Hmmhh…" jawab gadis remaja itu. Ia masih kesal dengan tingkah laku laki-laki tadi, ditambah kelakuan senseinya… hmm…
"Ayo, lah… err… maaf deh…"
"Ya sudah…" Ecchan menarik nafas, "…pokoknya orangnya aneh. Rambutnya merah, pakai maskara, ada tato aneh di dahinya. Lalu…"
"Err… Ecchan… itu…" Kankuro berusaha memotong omongan Ecchan.
"LALU, ia menghina lukisan sensei! Waktu aku memarahinya, dia diam dan langsung pergi!" tambah Ecchan penuh nafsu.
"Er…"
"Orang macam apa itu?! Dasar…"
"Ecchan…"
"…kurang ajar! Sialan…"
"Ecchan…"
"…kalau ketemu lagi…"
"Ecchan!"
"…akan…"
"HOI!" Akhirnya. Habis juga kesabaran Kankuro.
"Ya, sensei?" Ecchan menjawabnya dengan ringan.
"Dia… adikku."
Keheningan menyelimuti toko itu…
…tak lebih dari 5 detik.
"HAH?! Adik sensei… berarti… dia Gaara? Yang kata sensei pengusaha kaya gitu?!" Ecchan panik.
"Ya…" Kankuro menyeringai, pasti setelah tahu orang yang ia temui tadi adalah adiknya, Ecchan akan malu setengah mati. Hehehe.
"Kurang ajar itu orang! Seenaknya aja menghina lukisan kakak sendiri dia pikir dia dewa apa?!" dendam Ecchan berlanjut.
'APA?!' Kankuro menampar pipinya sendiri.
"Mana orangnya?! Aku mau bicara langsung dengannya!"
"Hei… hei… Ecchan, sabar… tunggu dulu… jangan marah… hei… kami kakak adik, yah, ledek-ledekan kan biasa…" Kankuro panik dan menarik tangan Ecchan yang sudah siap mencari Gaara.
"Enak saja! Ia menghina lukisan sensei!"
'Aduuh… ini anak satu keras kepala setengah mati… diapain yah… Oh! Hmm…' Akal licik Kankuro mulai bekerja. "Ecchan, berarti…"
"He?" gadis yang dimaksud membalik badan.
"Kamu sayang sensei dong… Peduli sama sensei…" Kankuro asal main peluk, membuat Ecchan bertambah gusar. 'Mampus. Rencana. Gagal.'
"MESUM!" teriak Ecchan sambil memukul muka Kankuro.
000
…di kediaman keluarga Sabaku…
"Hatshi…!" Gaara bersin. Hmm, udara sedang panas-panasnya, dan ia sedang tidak terkena flu… Berarti ada yang membicarakannya…
"Nii-san kenapa?" tanya adik angkatnya, Ryoushin, yang sedang bermain biola.
"Tidak apa-apa… Sudah, lanjut saja. Kita harus tampil sempurna untuk jamuan makan malam minggu depan, sebagai tuan rumah kita tidak boleh memalukan. Para elit kota ini datang semua…" Gaara mengeluarkan saputangan dari balik jaketnya untuk membersihkan hidungnya. Tiba- tiba ia menyadari seuatu, saputangannya tidak ada di kantungnya.
"Ada apa, nii-san?" tanya Ryoushin menyadari kakaknya tampak risih.
"Aku tidak sengaja meninggalkan sapu tanganku di galerinya Kankuro… aku mau pergi sebentar untuk mengambilnya," jawab Gaara sambil bangkit dari kursinya.
"Ooh. Kalau begitu, hati-hati di jalan yah, nii-san!" seru Ryoushin.
"Ya, aku tidak lama kok…"
000
"Ecchan… aduuuuhhh…" ringis Kankuro sambil mengusap bengkak di wajahnya.
Ecchan memandangi Kankuro yang jatuh terduduk. Semacam perasaan iba menghampirinya, "Sensei juga, asal peluk orang. Pasti marah, lah!" Ecchan membungkukkan badan sambil menarik tangan Kankuro, membantunya berdiri.
"Iya… maaf… maaf, muridku tersayang…" kata Kankuro bercanda, yang dengan sukses menghasilkan bekas tamparan di pipi kirinya.
Ecchan berjalan balik menuju mejanya dan merapikan kertas-kertas yang berserakan. Sebenarnya ia ingin merapikan kertas-kertas tersebut tadi siang, tetapi karena kejadian tidak menyenangkan itu rencananya batal semua.
"Sensei… sebenarnya kenapa sensei membuat galeri di daerah seperti ini?" tanya Ecchan sambil menaruh sebuah palet di raknya.
"Karena sewanya murah," jawab Kankuro sambil menghindari palet yang melayang ke arahnya.
"Pembohong," sahut Ecchan sambil mengambil palet yang ia lempar tadi.
"Karena dekat dengan rumah…" Menunduk ke bawah.
"Bohong."
"Err… Karena dekat dengan ruamhmu…" Lompat ke kiri.
"Rumahku di tengah kota."
"Dekat sama ger…" Plak. Tepat di muka.
"Guru mesum."
'Cring, cring' Pintu depan terbuka lagi. Kankuro mengelap sisa cat yang tadi dilempar Ecchan sambil berjalan menuju pintu.
"Ah, aku saja," Ecchan mendahului Kankuro. Kankuro mengintip dari balik punggung Ecchan, melihat siapa yang datang. Jaket coklat, rambut merah… 'EH?! Kenapa dia ke sini?!'
"Uhm, aku saja…" Kankuro berlari menuju pintu dan dengan terburu-buru mebukanya, di hadapannya adalah adiknya sendiri.
"Kankuro aku mau…" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, omongan Gaara langsung dipotong Kankuro.
"Kenapa kamu ke sini?! Gawat… cepat, kamu mau apa?!" bisik Kankuro sambil mendorong adiknya keluar. Ia lalu berteriak pada Ecchan di dalam, "Ecchan, aku keluar sebentar yah… Err… tamu ini… err… teman SMA-ku..."
Suara bantingan pintu menjawabnya.
000
Gaara menatap kakaknya –yang sedang menariknya jauh dari tujuan awal—dengan bingung. Entah azab apa membuat kakaknya seperti ini. Biasanya Kankuro hanya berlaku seperti ini jika, Satu: dikejar-kejar hutang yang salah satunya adalah hutang dengan seorang… ah, jangan berpikir seperti itu. Dua, galerinya dimasuki babi tetangga. Tiga, Temari bertengkar dengan Shikamaru.
Tetapi kali ini pilihan di atas tidak ada yang benar.
"Huff… sampai juga," Kankuro bernafas lega. Sekarang mereka sedang berada di sebuah taman.
"…" Gaara tidak menanggapai apa-apa.
"Gaara… kenapa kamu tadi ke galeri? Ampun… untung muridku tidak melihatmu tadi…" keluh Kankuro sambil mengajak Gaara duduk di salah satu kursi kosong.
"Memangnya ada apa?" tanya Gaara.
"Kamu tadi siang datang ke galeriku dan bilang lukisanku jelek di depan muridku yah? Dia marah besar, tahu! Gawat kalau dia marah! Koleksi Barbie-ku yang baru sudah tinggal sedikit lagi mengalahkan Sasori!"
"Dan itu artinya…" Terkadang Gaara bingung dengan keberadaan kakaknya sebagai laki-laki atau perempuan.
"Kalau Ecchan ngamuk, nanti kejadian yang dulu terjadi lagi! Koleksi Barbieku bisa-bisa dibakar semua!" seru Kankuro dengan muka yang sangat meyakinkan bahwa ia adalah salah satu korban masa kecil kurang bahagia.
"…" Gaara tidak peduli.
"Oke… Sebenarnya, kenapa kamu ke galeriku tadi?" tanya Kankuro, berusaha menenangkan diri.
"Sapu tanganku tertinggal di sana sepertinya."
"Ya sudah, kamu tunggu sini, aku ambilkan saputanganmu," kata Kankuro sambil melangkah pergi.
000
Ecchan mencari bungkus keripik kentangnya, seharusnya benda itu ada di laci meja. Tetapi setelah dicarai ke mana-mana ia tidak dapat menemukan keripik.
'Hmm… Kankuro-sensei tidak akan marah kalau aku tinggal galeri ini sebentar untuk ke toko dekat taman…"
000
Kankuro masuk melalui pintu belakang, ia langsung menuju rak pajang depan dan mencari saputangan milik Gaara. Sapu tangan abu-abu itu ternyata terjatuh dan masuk ke dalam kolong rak.
"Ecchan… aku pergi lagi yah… Sebenta…" 'Tunggu. Ecchan di mana?'
Panik menyerang Kankuro jangan-jangan Ecchan pergi keluar rumah. Jangan-jangan nanti ia bertemu Gaara. Gawat.
"ECCHAAAAAAAAAAANN!"
000
Taman tersebut sekarang kosong. Hanya Gaara duduk sendiri di pinggir kolam. Karena tidak ada kerjaan, Gaara mengambil sebuah batu kecil dan melemparnya ke dalam kolam. Sayang batu tersebut salah sasaran dan mengenai kaki seseorang.
"Hei! Hati-hati dong! Ini tempat umum!" seru orang tersebut.
000
Ecchan berjalan lenggang menuju toko kecil langganannya, toko tersebut menjual koleksi makanan kecil yang lengkap. Kali ini ia memutuskan memotong jalan dengan melewati taman. Perjalanan singkatnya damai dan sejahtera sampai sesuatu (atau seseorang) melemparkan sesuatu ke kakiknya.
"Hei! Hati-hati dong! Ini tempat umum!" seru Ecchan.
"Hn," balasnya.
Ecchan memandangnya untuk berbicara.
'nya' balas memandang Ecchan.
Ecchan menyadari siapa 'nya'.
'nya' tetap diam.
000
A/N: Wew, membuat ini dari jam 20.30-23.30 (diselingi nonton TV, dll sih). Moga-moga memuaskan, apalagi bagi yang request.
Review replies:
Riku: Iyah, iyah. Ini biar jelas ada chapter 1 nya
Ecchan-sensei, Eunike, dan Toya: :p
Oh ya
Disclaimer:
'NARUTO' is © Masashi Kishimoto
but Uzumaki Naruto is mine!
Review please.
