Fate/Stay Night
Chapter 2
I will be your sword
Universitas Tokyo adalah sekolah Shirou saat ini. Sudah satu setengah tahun yang lalu semenjak pertarungan itu. Pertarungan dalam memperebutkan cawan suci dan berakhir dengan perpisahan dirinya dengan Saber, yang menjadi servantnya.
"Uwaaaa…. Sakura-chan! Kau semakin hebat dalam memasak!" Mata kak Fujii bersinar-sinar menatap hidangan yang sudah tersedia di atas meja. Ada sup, tahu, telur dadar dan ikan bakar. Begitu sederhana namun ditata dengan cantik. Shirou baru datang setelah berbenah sebentar.
"Terima kasih. Tapi aku hanya memasak yang sedrhana saja."
"Tapi bagiku ini luar biasa! Kau benar-benar cocok jadi ibu rumah tangga!" balas kak Fujii. "Benar kan, Shirou?" Kak Fujii menanyakan pendapat Shrirou.
"Ah, iya. Benar." Jawab Shirou sambil memberikan senyum kepada Sakura.
"Ah! Ti-tidak sebegitunya….." Sakura senang bisa dipuji oleh Shirou. Wajahnya yang keibuan langsung memerah. Cepat-cepat ia sembunyikan perasaan tersebut dengan mengambil nasi dalam rice cooker.
"Oh iya. Kenapa akhir-akhir ini Ilya tidak pernah dating lagi?" Tanya Shirou.
"Ilya?" Kak Fujii menatap Shirou heran. "Kau lupa atau tidak tahu?"
"Apa maksdudmu?" Tanya Shirou.
"Dia pulang ke negaranya." Jawab Sakura sambil menyerahkan mangkuk berisi nasi hangat.
"Pulang?" Shirou mengangkat satu alisnya. "Kok aku tidak tahu?"
"Memangnya dia tidak berpamitan denganmu?" Kak Fujii balik bertanya.
Shirou berusaha mengingat-ingat. Ia kemudian menggeleng, "Tidak."
"Aneh. Harusnya dia berpamitan dulu denganmu." Kak Fujii berkomentar.
"Tapi biarlah. Nanti dia juga balik lagi."
Jam menunjukkan angka tujuh. Shirou sudah berada di dalam gedung sekolah. Shirou mengambil jurusan teknik.
"Hei, Shirou." Matou Shinji dating menjinjing tas. "Hai Shinji." Shirou balik menyapa. Tapi ia tertegun melihat penampilan Matou Shinji yang jauh berbeda dari biasanya. "Uhm… Shinji? Kenapa penampilanmu…..?"
Shinji tertawa, "Kau kaget ya? Seorang pria agar bisa memikat para gadis, harus bisa menunjukkan daya tarik kita…."
"Errr iya.. terserah kamu deh." Balas Shirou. Ia paling ogah dengan yang seperti itu. Lagi pula Shirou sama sekali tidak bisa melihat apa bagusnya dari penampilan Shinji yang terbilang aneh bin ajaib itu.
"Kau ini." Shinji merangkul Shirou dan kemudian berjalan bersamanya. "Memangnya tidak ada gadis yang kau incar? Atau kau memang sudah naksir dengan adikku?"
"Bukan begitu! Aku…" Shirou terdiam sesaat. Matanya terlihat sayu.
Shinji memandangnya. Antara mengerti atau tidak dengan isi hati Shirou. Tapi dia tersenyum seolah-olah mengerti. Nyatanya tidak! "Aku mengerti. Nanti ikut aku."
Kemana?"
"Sudahlah. Ikut aku saja nanti."
Hot and Cold Café
"Shinji." Panggil Shirou datar.
"Kenapa?" Tanya Shinji
"Kenapa kau membawaku ke sini?" Shirou protes
"Lho? Memang apa salahnya?" Shinji balik bertanya.
Shirou merasa tidak nyaman berasa di sana. "Bukan begitu, aku-hanya-TIDAK senang kalau kondisinya seperti ini!"
Belasan mahasiswi berkerumun disekitar mereka.
"Mereka ini para fansku. Harusnya kau berterima kasih kepadaku karena sudah mengajakmu bersenang-senang."
Shirou membuang muka ke arah luar jendela Café. "Tetap saja aku…" Shirou yang sekilas memandang ke arah keramaian di depan café, tak salah lagi!Sesosok tubuh yang ia lihat melintas di sana. "Mungkinkah?" detik berikutnya, Shirou melompat dari kursi dan berlari keluar.
"Shirou! Kau mau kemana? Hei!" Shinji berseru. Ia merasa heran dengan tingkah laku Shirou.
"Apakah aku salah lagi? Ataukah karena aku terlalu memikirkan dia?" Shirou berusaha mencari. Pandangannya mengarah pada seluruh penjuru tempat. Ia masih berdiri di depan café tersebut. Cukup ramai yang berlalu lalang, tapi tak satupun yang ia lihat yang merupakan objek pencariannya.
Jantungnya kembali berdegup keras, berharap pada harapan palsu. Berharap hanya satu menit saja bisa bertemu dengannya, meraih tangannya kemudian memeluknya untuk yang terakhir kalinya, hanya satu menit saja!
TBC...
