The Forgotten Memory

Rate: T

Genre: Romance and tragedy

Main chara: VenVan / VanVen

Kingdom hearts™ punya kak Tetsuya Nomamura

a/n: yang merasa sudah mereview cerita sebelumnya, jawabannya akan muncul di FB, Twit saya, atau PM kalian.. RnR ya?

Hari-hari kulewati dengan keanehan pada mimpiku. Kenapa selalu berakhir pertarungan? Lalu, Vanitas.. dia.. membunuh kak Cloud dan Roxas. Tapi, Roxas berhasil kabur dan menghilang entah kemana. Semenjak Vanitas masuk ke sekolahku dan sekelas denganku. Tragedy tentang terbunuhnya kak Aqua terulang lagi. Lalu, aku melihat seorang perempuan berambut blond dan seorang pria berambut blond tewas terbakar di dalam rumah yang terbakar. Siapa mereka? Mengapa rumah itu terbakar? Dan apa penyebabnya? Kepalaku pusing untuk memikirkan jawabannya. Bisa-bisa aku jatuh pingsan dan tak sadarkan diri lagi. Pagi ini, aku tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Hari ini hari Selasa. Hari terakhir untukku bersekolah juga. Setelah itu, libur! Aku sedang menyiapkan bekal untuk kak Cloud. Hari ini dia tidak sempat sarapan karena ia tugas pagi-pagi sekali. Aku memasukkan sushi di bekal kak Cloud, lalu tak lupa saus cabai hijaunya. Err.. aku tak tau apa namanya. Yah, sejenis itulah. Saat aku menutup tutup bekal yang berisi sushi, sebuah suara memanggilku. "Kak Ven!"

Aku menoleh kearah suara itu. Ternyata Roxas sedang menuruni tangga dengan tergesa-gesa. "Kak Ven!" panggilnya lagi. "Ada apa?" sahutku. Kulihat Roxas tengah mengatur nafasnya. "Mana.. bekal.. kak.. Cloud?" tanyanya sambil mengatur nafasnya. Aku menyerahkan kotak bekal yang ada makanannya. Roxas mengambilnya lalu meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Aku berjalan menuju tangga yang menuju kelantai atas. "Sama-sama!" seruku. Aku tunggu beberapa detik. Tiba-tiba ada sahutan "terima kasih" dari sana. Itu suara Roxas. Aku tersenyum sekilas lalu pergi menuju kamar mandi. Aku ingin mandi.

Selesai mandi, aku memakai seragam sekolah putih biru. Aku mengambil baju putih dan celana biru yang tergantung di lemariku. Setelah memakai seragam, aku mengambil dasi dan ikat pinggang lalu memakainya. Kukeluarkan sepasang kaus kaki putih dari laci tempat aku menyimpan pakaian dalam. Aku melihat Roxas tengah bersiap-siap juga. Hari ini kami disuruh masuk pagi oleh pak guru bidang kesiswaan, pak Xemnas, guru bidang kesiswaan yang bisa dibilang, si abu-abu pemarah. Kenapa disebut abu-abu pemarah? Karena, pak Xemnas cepat naik darah lalu marah seketika. Roxas pernah bercerita kalau dia hampir di hajar oleh pak Xemnas gara-gara, saat pak Xemnas berbicara tidak ada yang mendengar. Aku masuk pagi gara-gara di sekolahku diadakan 'pesantren kilat' oleh pak Xemnas. Beliau bilang, kami hanya mmemperdalam agama saat orang-orang yang muslim sedang beribadah atau melaksanakan 'sanram'. Aku tidak tau apa kepanjangan 'sanram'. Tapi mereka menyebutnya demikian. Jadi aku hanya ikut-ikutan saja. "Roxas! Kau sudah siap belum?" tanyaku agak berteriak. Soalnya, dari tadi Roxas belum turun-turun. Aku jadi khawatir. Apa yang dilakukannya ya? Dan mengapa dia lama sekali? "Sebentar kak!" sahut Roxas lalu aku mendengar pintu ditutup agak kencang. Kulihat Roxas turun dengan sebuah tas selempang kecil disampingnya. "Aku ambil sepatu dulu!" ucapnya lalu berjalan menuju rak sepatu dan sandal yang berada di sebelah pintu keluar rumah. "Sudah bawa apa yang dibutuhkan?" tanyaku. Roxas mengangguk lalu mengenakan sepatunya. Tiba-tiba aku mendengar sapaan dari suara yang sangat familiar di telingaku beserta suara motor. "Roxas, Ven!" aku menoleh kearah asal suara tersebut. Ternyata Sora dan …. Vanitas. Mereka sedang berada di motornya masing-masing. "Bareng yuk?" ajak Sora. aku menatap Roxas. Roxas mengangguk lalu berjalan menuju Sora. Berarti, aku harus naik motor Vanitas. Aku menghela nafas sambil mengunci pintu rumahku, lalu berjalan menuju Vanitas yang tengah menggas motornya berulang kali. Itu tandanya dia sedang buru-buru atau dikejar waktu. Ya, kami sedang di kejar waktu. Karena sebentar lagi jam setengah tujuh. Dan artinya kami harus ngebut dalam perjalanan. "Sudah siap?" tanya Vanitas. Aku mengangguk lalu memeluknya. Wajahku merah padam. "Oke.. kalau begitu, pegangan! Karena aku akan ngebut!" ucap Vanitas. Aku memeluk Vanitas dengan erat sambil menggigit bibir bagian bawahku. Tanpa ba-bi-bu lagi, Vanitas langsung mengegas motornya dengan kecepatan penuh.

Setibanya di sekolah, tubuhku bergetar. Bukan karena gempa atau semacamnya. Gara-gara Vanitas ngebut dengan kecepatan 89 km/j jadi,kami masih punya waktu beberapa menit lagi. Aku hampir terselungkur kebelakang. Tapi Vanitas menggapai tanganku dengan sigap. "Kau tak apa?" tanya Vanitas sambil menarikku. Aku mengangguk. "Ya.. aku baik-baik saja.." ucapku lalu melemparnya dengan senyuman. Kulihat wajahnya memerah. Lucu sekali. Aku ingin mencubit pipinya saat ini juga. Tiba-tiba aku tertawa terpingkal-pingkal. "Vani.. kau lucu.." ucapku sambil tertawa. Aku memegang perutku yang sakit karena kebanyakan tertawa. "Shut.. up!" serunya. Aku tak bisa menahan tawaku. Aku masih melihat rona merah di wajah Vanitas. "Aku bilang diam!" teriaknya lalu menarikku sampai mendekati wajahnya. Aku diam seketika. Tak bisa tertawa lagi. Tubuhku ikut membeku seketika. Jarak antara aku dan dia hanya 4-5 cm saja! Pikiranku mulai dipenuhi hal-hal yang aneh. "Kita.. bisa terlambat.." ucapku kemudian lalu mendorong Vanitas menjauh dariku. Aku belari menuju kelas. Tapi aku sempat mendengar Vanitas memanggil namaku berulang kali. Aku pura-pura tidak mendengarnya. Aku belari menuju kelas 7-1. Tempat dimana anak-anak non-muslim berkumpul untuk menunggu guru agama datang. Sesampainya aku melihat Lea tengah berbincang-bincang bersama Isa, dan Barig. "Eh, Ven.. tumben telat satu detik.. untungnya gurunya belum datang.." ucap Lea saat dia melihatku. "Maaf.. aku.." aku tak bisa melanjutkan perkataanku lagi. Aku keahbisan kata-kata. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang merangkulku dari belakang. "Gurunya sudah datang?" tanya suara yang sangat familiar di telingaku. Aku juga melihat sebuah rambut bewarna hitam disebelahku.

"Belum, Van.. kalian bareng lagi?" Lea bertanya balik. Vanitas mengangguk lalu tersenyum padaku. Aku hanya memalingkan wajahku yang sudah mulai memerah lagi. Aku ini kenapa sih? Gumamku dalam hati. Aku melihat kesekeliling. Sudah mulai ramai. Beberapa menit kemudian, sang guru agama datang. Maka, kamipun masuk kedalam kelas 7-1.

(~^w^)~ Rokuso ~(^w^~)

Pukul 11:30 A.M, kami pulang. Aku hanya menghela nafasku saat melihat Roxas mengemasi barang-barangnya. Agak lama juga dia merapihkan al-kitab dan buku catatan agamanya. Aku yang sudah tak tahan lagi, segera menghampirinya. "Ayolah! Cepat sedikit!" ucapku sambil membantunya membereskan buku-bukunya. Roxas tersentak kaget. Kurasa, dia baru saja melamun. "kau melamunkan siapa sih?" tanyaku. Roxas menatapku.

"Umm.. Sora.." jawabnya agak gugup. Aku menatapnya. "Kenapa dengannya? Ada yang salah, atau kau suka padanya?" aku menyergapnya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.

"Ah! Tidak! Aku.. tidak menyukainya! Hanya saja.." jawab Roxas lalu menggantungkan perkataannya. Sudah bisa di duga, kalau dia menyukainya. Tak kusangka adikku adalah seorang gay. Aku tertawa pelan. "Sudahlah Roxy! Akui saja!" godaku. Roxas menatapku dengan wajah yang sudah merah padam. "T-tidak kak! Aku tidak menyukainya!" tukasnya. Aku tertawa lagi. "Ya, sudahlah.. soal itu jangan di bahas.. ayo pulang!" ajakku lalu mengambil tasnya yang—menurutku—enteng itu. Roxas membuntutiku dari belakang. Saat kami berdua jalan beriringan, Roxas menatapku lalu berkata, "kakak.. apa.. kakak mempunyai seseorang yang paling kakak cintai?" tanyanya. Aku menggeleng. "Hum.. kakak rasa tidak.. kenapa?" aku bertanya balik.

"Aku.. hanya bertanya.. um.. kupikir kakak suka pada Vanitas.." jawab Roxas. Wajahku memerah seketika. "Ma-mana mungkin!" tukasku. Roxas menatapku dengan wajahnya yang polos. "Kukira.. kakak suka padanya.." ucapnya lalu menoleh kea rah lain. "Padahal Vanitas menyukai kakak.." ucapnya lagi. Apa? Vanitas menyukaiku? Ada-ada saja.. pikirku. "Kau.. tau dari siapa.. Roku?" tanyaku.

"Aku tau dari Vanitas langsung.." jawab Roxas. Mataku terbelalak seketika. Apa ini.. bagian dari mimpi burukku juga? Ya tuhan! Sadarkan lah hambaMu ini dari mimpi buruk yang diterima olehnya! Tiba-tiba aku teringat pada mimpiku. 'Vanitas adalah kekasihku yang sudah lama menghilang..' apa ini yang dimaksud oleh mimpiku ini? Aku adalah kekasihnya? Taklama kemudian, kepalaku sakit sekali. Kini sakitnya luar biasa. Bukan sakit kepala yang biasa aku alami. Roxas cepat-cepat mengambilkan aku obat lalu menyodorkan obat tersebut kepadaku dengan air putih. Aku langsung mengambil obat tersebut dan meminumnya bersama airputih yang diberikan oleh Roxas. Kurasa obat ini hanya membantuku sedikit saja. Sakitnya masih terasa sedikit. "Kakak tidak apa-apa?" tanya Roxas. Aku bisa merasakan, kalau dia sedang mencemaskanku.

"Ya.. lagi pula.. hanya sakit pusing biasa.. sama seperti yang kualami sebelumnya.." jawabku lalu berdiri. Aku menatap Roxas yang sedang menundukkan kepalanya. "Sudahlah.. jangan bersedih! Bergembiralah!" ucapku sambil menngelus-elus rambut blond milik Roxas. Dia mengangkat kepalanya lalu menatap mataku. Beberapa menit kemudian, dia melemparkan sebuah senyuman kepadaku. "Ya.. kau benar juga, kak.." ucapnya. Aku tersenyum untuk membalas senyumannya. "Ayo.. kita pulang! Lalu membereskan baju-baju!" ucapku. Roxas mengangguk lalu berjalan menuju rumah bersamaku.

Setibanya dirumah, aku terkejut saat mengetahui kalau pintu rumahku tidak terkunci. Saat aku membuka pintu, terlihatlah wajah seseorang yang aku kenal. Kak Cloud.. dengan.. kak Zack berada di rumah? Sedang apa mereka? "Oh.. hai.. Ven, Roxas!" sapa kak Zack. Roxas tidak menjawabnya. Melainkan menatap kak Zack seakan-akan dia telah berbuat sesuatu. "Hey! Aku hanya menyapa! Aku tak melakukan sesuatu kok!" ucap kak Zack lalu mengelus-elus rambut Roxas. "Jangan sentuh aku!" ucap Roxas sambil menangkis tangan kak Zack lalu berjalan menjauh dari kak Zack. Sebetulnya, Roxas membenci kak Zack dari pertama dia menjadi pacar kak Cloud. Entah kenapa dia sangat membenci kak Zack sejak itu. "Halo.. juga.. kak Zack!" balasku sambil melempar senyuman kepadanya. Kak Zack membalas senyumanku. "Hey.. bagaimana kabarmu?" tanyanya lalu menepuk punggungku.

"Baik.. kakak sendiri?" aku bertanya balik.

"Baik.. kurasa, hubunganku dengannya tidak baik.." jawab kak Zack sambil menggaruk kepalanya. Aku mengangkat sebelah alisku lalu menghembuskaan nafas jengkel. "Kenapa kak?" tanyaku.

"Entahlah.. dia sangat begitu membenciku.." jawab kak Zack lalu mengambil tasnya. "Bilang pada Cloud.. aku pulang.." tambahya seraya berjalan menuju pintu rumah lalu melambaikan tangannya. Aku mengangguk. "Uh.. ya.." ucapku lalu mengunci pintu. Sebelum aku menutup pintu, ada seorang berambut hitam spike berdiri disitu. Aku menatap tajam pemuda itu. "Apa maumu.. Vanitas?" tanyaku.

"Hey, jangan dingin begitu.. mana Roxas?" dia bertanya balik.

"Ada didalam.. sebentar.." jawabku lalu masuk kedalam rumah untuk memanggil Roxas. "Roxas! Kau dipanggil oleh Vanitas!" ucapku. Kulihat pintu kamar Roxas terbuka dan terlihatlah Roxas yang setengah lemas. "Kau kenapa, Roku?" tanyaku. Roxas menatapku lalu menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja.." jawabnya lalu berjalan menuju Vanitas yang berada di ruang tamu. Lalu, taklama kemudian mereka pergi. Tidak tau kemana. Mereka pergi. Aku sendirian.

(~^w^)~ Rokuso ~(^w^~)

Saat aku bermain PS sendirian dikamar, tiba-tiba ada sebuah ketukan pintu lalu disusul sebuah teriakan. Aku cepat-cepat mempause gameku lalu belari menuju lantai bawah. Kulihat Roxas tengah mengetuk-ketuk kaca. "Tunggu sebentar!" ucapku seraya membukakan pintu untuk Roxas. Setelah pintu terbuka, dan tanpa ba-bi-bu lagi, Roxas langsung membanting pintu lalu naik keatas. Kenapa dia? batinku. "Kak! Jangan beritahu Van ya, kalau aku sudah pulang!" teriak Roxas dari kamarnya. Aku mengangkat sebelah alisku lalu aku ingin menjawab. Saat aku hendak membuka mulutku, tiba-tiba pintu rumah di buka secara kasar. Aku melompat karena kaget. Kulihat Vanitas yang membuka pintu rumahku dengan kasar. Aku melotot kearahnya. Dia hampir merusak pintu! Bayangkan! Kalau saja kak Cloud tau, aku pasti sudah dimarahi habis-habisan. Wajahnya yang tadi setengah ngos-ngosan, menjadi datar. "Hey, mana Roxas, kau melihatnya?" tanyanya. Aku mengangkat bahuku. "Tidak.. lalu, apa maumu kemari?" aku bertanya balik."Hmm.. menurutmu?" dia bertanya balik. Sebelum aku sempat menjawab, Vanitas merangkulku pada bagian pinggangku lalu mendekatkan tubuhku padanya. Wajahku memerah. "Ma-mau apa kau?" tanyaku seraya menatap wajahnya. Dia tersenyum licik lalu menjilat bibirnya. "Bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?" dia bertanya balik LAGI. Dia mendekatkan bibirnya pada telingaku lalu membisikkan sebuah kata, "I love you.." wajahku memerah padam. Dia.. menyukaiku? Apakah ini yang dibicarakan Roxas tadi? Apa dia benar-benar menyukaiku? "Maaf.. aku.. tidak suka.. padamu.." ucapku. Aku tau ini pasti akan mengiris hatinya. Apa boleh buat kalau aku tidak suka padanya? Aku pikir, Vanitas akan pulang ke rumah saat itu juga lalu membenciku. Tapi, takdir berkata lain. Dia mengecup pipiku lalu tersenyum. "Aku akan menunggu.." ucapnya lalu pergi meninggalkanku. Tubuhku kaku. Tadi.. dia bilang.. akan menungguku? Maksudnya, sampai aku menyukainya juga? Apa dia gila? Aku tak mungkin menyukainya. Tapi, setiap kali aku bertemu dengannya, hatiku selalu berdegup kencang. Kalau bersamanya, aku merasa nyaman. Apa arti ini semua? Aku membuang pertanyaan itu jauh-jauh lalu mengunci pintu rumah. Setelah itu, aku berjalan menuju kamar Roxas. Setibanya, aku melihat Roxas sedang tiduran di kasurnya dengan kepala ditutupi bantal. "Hei.. kau kenapa sih?" tanyaku sambil mengambil stick PS yang kugeletakkan di depan TV. Roxas menaruh bantal yang menghalangi wajahnya lalu duduk dan menatapku. "Um.. kakak jangan beritau siapa-siapa ya?" ucapnya. Aku mengangguk sambil menstart game yang ku-pause tadi lalu mengecilkan volume agar aku bisa mendengar Roxas bercerita. "Tadi.. aku.. hampir diperkosa olehnya.." ucap Roxas. Suaranya agak mengecil. "Apa? Kau tidak bercanda kan?" tanyaku tidak percaya.

"Tidak.. ini kenyataan.. makanya, aku lari dari rumahnya lalu kemari dan mengatakan kalau aku tidak ada di rumah kepadamu.." jawab Roxas sambil menjelaskan kejadian yang dialaminya. Aku tidak percaya. Aku pikir dia orang yang baik dan agak dingin. Ternyata.. dia.. berani melakukan ini kepada Roxas! Ugh! Kalau aku bertemu dengannya, aku akan menghajarnya habis-habisan. Aku membencinya. Sangat membencinya. Aku menghembuskan nafas jengkel lalu memberikan stick PS yang kedua kepada Roxas. "Ayo main.. nanti urusan ini akan kakak yang tangani.." ucapku. Roxas mengangguk lalu mengambil stick pemberianku. Maka, kami bermain bersama.

Pada pukul 6 tepat, kami turun kebawah untuk makan. "Hari ini kakak yang masak ya?" tanya Roxas sambil mengambil dua buah piring lalu mengambil dua buah sendok makan lalu meletakkannya di meja makan. "Huh? Bukankah kak Cloud?" aku bertanya balik sambil mengambil penggorengan dan spatula.

"Kak Cloud 'kan belum datang.. perjanjiannya kan kalau yang dapet giliran masak belum datang, diganti hari berikutnya!" jawab Roxas sambil mengambil dua buah daging dan meletakkannya di sebelahku. "Loh, masak daging bakar lagi?" tanyaku sambil menuang minyak kedalam penggorengan.

"Oh.. aku salah mengambil!" jawab Roxas lalu mengembalikan daging yang diambilnya dan mengambil tiga buah telur dan keju. "Ini kak!" ucapnya sambil menaruh telur dan keju yang dipegangnya di sebelahku. "Terima kasih, Roku.." ucapku. Roxas tersenyum lalu berjalan menuju meja makan. Aku harus memasak telur keju hari ini. Ini adalah bahan makanan yang tersisa selain daging. Berarti, kami harus berbelanja bahan makanan esok. Tak lama kemudian, telur keju pun jadi. Aku meletakkan telur goring tersebut di piring. Hasilnya agak banyak juga. Kami bisa kekenyangan kalau memakan ini hanya berdua. Maka kami sisakan agak banyak untuk kak Cloud. "Kakak lama!" gerutu Roxas sambil mematikan TV yang ditontonnya. "Hehee.. maaf deh.." ucapku sambil meringis lalu meletakkan telur keju yang berada di piring ke meja makan sementara Roxas mengambil kecap. Roxas sangat menyukai kecap. Sementara aku.. tidak terlalu menyukai kecap. Aku hanya menyukai saus sambal dan sambal cabai hijau. Yah, rasanya pedas-pedas gimana gitu(?).

Setelah selesai akan, Roxas mencuci piring sementara aku mencuci wajan penggorengan. Roxas tidak bisa mencuci wajan. 'Berat'. Dia selalu berkata seperti itu saat disuruh. Selesai mencuci, aku segera menggantungkan kunci rumah yang masih menyangkut di lubang kunci, ke paku yang sengaja di pasang di pintu lalu menyusul Roxas yang sudah berada di kamarnya untuk bermain PS lagi. "Hei, kakak punya CD game yang baru dong!" seruku lalu mengambil CD game yang masih ada di plastic dari tasku. Judul gamenya 'Fatal Frame'. Kata teman-temanku seram bila dimainkan pada jam 11-12 malam. Aku penasaran, lalu kubeli saja. "Kau berani sampai besok pagi?" tanyaku sambil menunjukkan CD game tersebut. Roxas melihat cover-nya sebentar lalu dia mengangguk.

"Beranilah! Ayo main!" jawab Roxas sambil mengambil CD yang kupegang lalu memasukkannya kedalam tempat PS lalu memainkannya. Openingnya agak seram. Aku membeli yang fatal frame 3. Kalau aku membeli game, aku tidak pernah dari pertama. Selalu dari terakhir atau tengah-tengah. Supaya penasaran. Itu jawabanku kalau ditanya 'kenapa?'. Dikisahkan seorang perempuan yang mencari arwah pacarnya yang tertindih bangunan. Seperti kuburan. Lalu kami disuruh mencaari arwah cowoknya. Sesampainya di tempat yang sulit—menurut teman-temanku—karena ada 'hantu kapak' yang bila di foto dia mengejar. "Aku takuut!" jerit Roxas lalu memberikan stick PS yang dia pegang kepadaku yang setengah bengong. 'Hantu kapak' tersebut menyerang perempuan yang sedang kami pakai dengan kapak. Aku menggerakkan perempuan ini ke sebuah lorong yang tadi ada seorang cowok lewat. Kami tiba di sebuah pintu. Ada orang yang mirip boneka disini. "Kak.. itu.. hantu.." ucap Roxas sambil memeluk bantalnya erat-erat. Dia ketakutan. Kami masih dikejar 'hantu kapak' yang tadi. aku menggerakan perempuan tersebut untuk mengambil kameranya lalu memfoto hantu tersebut. Roxas benar! Itu hantu! Aku cepat-cepat menggerakkan perempuan ini untuk membuka pintu sebelum nyawanya habis.

Pukul 23:00. Kami baru sampai di tempat ke tiga. Apartemen. Tugas kami disuruh untuk mencari hantu sebanyak-banyaknya. Aku mengcek semua pintu yang ada di sana sampai menemukan sebuah kaca besar. Aku menggerakan cewek ini menuju kaca lalu mengeluarkan kamera untuk melihat-lihat. Aku berkali-kali memfoto tempat itu. Aku hanya mendapat beberapa foto hantu. Tidak ada yang mengerikan disini. "Kakak.. aku mengantuk.." ucap Roxas. Aku menatapnya. Matanya sudah sayup-sayup dan terlihat sangat berat. "Oke.. kau tidur duluan…" ucapku. Roxas menggeleng lalu meraih tanganku. "Matikan! Sudah malam kak!" ucapnya. Aku menghela nafas sambil mengesave game tersebut lalu mematikannya dan membereskannya. Setelah semuanya beres, aku tidur bersama Roxas. Dia yang memintaku untuk menemaninya malam itu juga. Maka, kami tidur bersama.

(~^w^)~ Rokuso ~(^w^~)

Paginya pada pukul 7, Roxas bangun. Aku sudah bangun dari jam 6 tadi. Aku tak bisa tidur lama-lama. Rasanya tidak enak.

"Ossu.. kak Ven.." sapa Roxas yang masih setengah tidur dengan membawa handuk di pundaknya. Aku menoleh kearahnya. "Oss yoo, Roxas.." balasku sambil melihatnya berjalan menuju kamar mandi. Hari ini hari sabtu. Aku libur sampai tanggal 28 nanti. Tak ada yang bisa kulkukan pagi ini. Tiba-tiba, kak Cloud memanggil namaku dan Roxas. "Ven, Roxas! Kalian dicari oleh Sora dan Vanitas!" ucapnya. Ugh, aku paling benci saat namanya di sebut-sebut. Aku terpaksa turun kebawah karena Roxas sedang mandi. Aku turun kebawah untuk menghampiri Sora. Bukan Vanitas tapi Sora. Setibanya dibawah, aku melihat Sora berdiri di ambang pintu sambil mengutak-atik jam tangannya. Reaksinya berubah saat melihatku. "Yo, Ven! Kau mau ikut ke took buku tidak?" tanyanya.

"Um.. boleh.. tapi, Roxas masih mandi.. maukah kau menunggu sebentar?" pintaku. Sora mengangguk lalu tersenyum. Aku membalas senyumannya lalu mempersilahkan dia dan.. Vanitas masuk. Saat vanitas masuk, aku buru-buru memalingkan wajahku dari hadapannya lalu belari keatas untuk memanggil Roxas. Setibanya diatas, dan aku berpas-pasan dengan Roxas yang sudah mandi dan berpakaian. "Kak, Sora sudah datang?" tanyanya. Aku mengangguk. "Ada dibawah.. tunggu aku ya?" pintaku. Roxas mengangguk lalu meninggalkan kamar. Aku membuka almari yang tak jauh dari pintu masuk kamar. Aku mengambil baju putih hijau dengan pola kotak-kotak dan celana jeans yang agak nyaman dipakai. Setelah berpakaian, aku turun menuju Roxas dan Sora yang sudah menungguku. "Nah, sudah siap.." ucap Sora lalu kami berpamitan dengan kak Cloud yang berada di ruang tamu. Dia sedang menonton acara kesukaannya, 'Master Chef Australia', sambil meminum teh hijau kesukaannya. Setelah kami berpamitan, Roxas menaiki motor Sora dan aku.. harus menaiki motornya? Ya, aku terpaksa naik motornya Vanitas. Saat aku naik, dia memberikanku helm bewarna hijau. Hah? Dia bahkan tau warna kesukaanku! Darimana dia tau? Aku mengambil helm tersebut lalu mengenakannya. "Terima kasih.." ucapku dengan nada suara yang dipaksakan manis. "Sama-sama.. pegangan yang erat, atau kau akan jatuh.." ucapnya. Aku mengangguk lalu melingkarkan tanganku di pinggangnya. Wajahku memerah. Biasanya, saat aku naik motor berdua dengannya tidak seperti ini. Biasa saja. "Kau manis sekali, Ven.." goda Vanitas. Wajahku makin memerah. Dia tau kalau wajahku memerah dari spion motor. "S.. shut up.." ucapku sambil memalingkan wajahku dari tatapannya. Dia tertawa. "Ya, ya.. oke.. kita berangkat.." ucapnya sambil mengegas motornya lalu berlalu dengan kecepatan penuh.

Setibanya, aku turun dari motor Vanitas atau yang bisa kusebut, 'lahan kematianku'. Karena dia selalu ngebut. "Hey, Venny.. kau baik-baik saja?" tanyanya.

"Aku.. baik-baik saja.. memangnya ada apa?" aku bertanya balik.

"Wajahmu dari tadi merah.. kau sakit?"

"Tidak.. aku baik-baik saja.." jawabku sambil memalingkan kepalaku dari hadapannya. Aku melihat Sora datang menghampiri kami dengan kecepatan yang wajar. "Hey, Ven.. kau kenapa?" tanyanya.

"Aku baik-baik saja.. sudahlah, jangan mengkhawatirkanku.." jawabku. Sora mengangguk lalu melepas helmnya. Begitu pula dengan Roxas. "Ayo.." ucap Vanitas sambil melipat tangannya didepan dadanya. Kami masuk kedalam toko buku, lalu kami berpencar. Sora dan Roxas menuju buku dan alat tulis, Vanitas menuju alat-alat musik, sementara aku menuju kumpulan buku-buku terbaru. Mataku tertuju pada sebuah buku yang berjudul '9 Summers 10 Autumn'. Aku melihat harga buku tersebut. "58000 munny.." gumamku. Aku mengambil dompetku. "Hum.. cukup.." gumamku lalu mengembalikannya kekantongku. Sora dan Roxas menghampiriku. "Kami sudah dapat apa yang kami cari.. kau?" tanya Sora.

"Sudah.. bagaimana dengan saudaramu, Sora?" aku bertanya balik.

"Kurasa dia sudah dari tadi.." jawab Sora sambil menghembuskan nafas jengkel. "Oh.. begitu.. ayo, kita bayar!" ajakku lalu berjalan menuju tempat kasir. Selesai membayar, Vanitas menghampiri kami. "Sudah selesai?" tanyanya.

"Yup! Loh, kau tidak membeli apa-apa?" aku bertanya balik sambil menatap tangannya yang kosong.

"Tidak.. aku hanya melihat-lihat alat music.. mungkin ada yang bisa kubeli.. tapi tidak.." jawabnya. Selesai menunggu Sora dan Roxas membayar, kami pulang menuju rumah kami masing-masing.

To be continue..

Hiyaaa! 3,369 kata! :D

Enggak nyangka deh..

Oh ya, trims untuk para readers yang udah ngereview cerita saya..

BIG THANKS TO:

A-dhan Ramadhan, yang sudah menganjurkan saya untuk menjadikan cerita ini menjadi komik.. akan di usahakan deh.. x3/

Yami no Sora, yang sudah menyemangati saya dan memberi tau kesalahan saya..

x-x-Aqua-x-x, yang sudah memberikan saya ide~ ^w^

Ibu saya yang sudah mendorong untuk tetap menulis.. :3

Dan saudara saya yang sudah meminjamkan computer selama saya dirumahnya~ :D

Oh ya, saya ingin memberitau, kalau cerita My Friends Are My Power! and I'm Theirs!-nya di DISCONTINUE.. karena authornya lagi kena WB.. xD

Tetap RnR yaa~ ^^/