A Regret (Please, Come Back to Me)
Cast: Park Chanyeol dan Byun Baekhyun
Pairing: ChanBaek
Genre: YAOI/Shounen-ai, Drama, dan Hurt/Comfort
Rating: T (mungkin)
Warning: OOC, typo, bahasa berantakan, alur terlalu cepat, bisa menyebabkan sakit mata dan mual-mual. Waspadalah!!
Disclaimer: Maunya sih mereka itu punya saya, namun fakta yang ada mutlak mengatakan kalau mereka itu punya Tuhan. Tetapi cerita ini hasil dari otak saya sendiri. Jangan ditiru apalagi ngaku-ngaku. Kalau mau buat cerita pakai otak masing-masing. Intinya jangan menyakiti perasaan orang lain dengan tindakan yang tidak bertanggung jawab!
Summary: Pada akhirnya penyesalan mampu mengoyak kehidupan seorang Park Chanyeol.
.
.
.
Sequel of The Betrayal (ChanBaek Vers)
.
.
.
Selamat membaca :*
.
.
.
"Sejauh apapun kaki-kakiku melangkah melewati lampu redup, aku tidak akan menemukan satu yang terang jika airmata masih menghadangaku dalam bentuk lautan hujan."
.
.
.
Satu tahun sudah terlewati semenjak Baekhyun memutuskan untuk membawa dirinya pergi dari apartemen Chanyeol, juga dari kehidupan lelaki itu. Kehidupan Baekhyun berjalan sama seperti sebelum-sebelumnya. Hanya saja kini ia dapat bernapas lega karena tidak ada lagi sosok lelaki tampan yang dengan sukses membuat batinnya tertekan. Meski begitu, Baekhyun tidak bisa memungkiri jika beberapa bulan setelah ia memutuskan untuk meninggalkan sosok lelaki tampan bernama Park Chanyeol, ia masih merasa sulit untuk melupakan sosok yang dulunya sangat ia cintai itu.
Ingatannya akan selalu mengenang moment-moment manis yang mereka ciptakan, yang selalu membuat airmatanya kembali mengalir di kedua pipinya. Sampai sekarang ia masih tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaannya, kenapa Chanyeol tega melakukan hal itu padanya?
Entah hal ini bisa disebut sebagai trauma atau tidak. Tetapi, semenjak Chanyeol menggoreskan luka yang begitu dalam di hati Baekhyun, membuang kepercayaan yang ia berikan untuknya, Baekhyun menjadi sosok yang jauh lebih pendiam dari sebelumnya. Ia juga berubah menjadi sosok lelaki mungil berparas manis yang lebih sulit untuk memercayai orang lain (kecuali orang terdekatnya).
Baekhyun akan memikirkan hal yang aneh-aneh ketika seseorang yang tidak terlalu mengenalnya mengatakan sesuatu kepadanya. Walaupun kepalanya mengangguk dan mulutnya mengucapkan kata 'iya', sesungguhnya hati Baekhyun sedang berperang untuk lebih memilih memercayai orang tersebut atau tidak.
Luhan sempat bertanya, kenapa ia masih saja sendiri padahal kejadian yang ia alami sudah terlewati selama satu tahun? Mendengar pertanyaan itu, Baekhyun hanya menjawab dengan gelengan kepala atau ia akan mengatakan jika belum ada yang mampu membuatnya tertarik.
Luhan juga pernah mengenalkan Baekhyun pada beberapa teman dekatnya di rumah, namun lelaki manis itu langsung menolaknya mentah-mentah. Ketika Luhan kembali bertanya kenapa Baekhyun selalu menolak lelaki yang ia kenalkan—Luhan yakin, semua lelaki yang berusaha ia kenalkan pada Baekhyun adalah lelaki baik-baik—Baekhyun dengan lancar menjawab jika mereka bukan tipenya, dan Luhan hanya dapat mengangguk pasrah ketika mendengar jawaban Baekhyun yang selalu sama setiap harinya.
.
.
.
.
.
Ryeoby Rin
.
.
.
.
.
"Indraku tertancap puluhan bisikan hujan. Mereka berperang di dalam otakku saat aku terdiam mengutuk semua yang pernah rusak oleh tanganku."
.
.
.
Baekhyun sedang duduk di kursi panjang yang ada di depan kelasnya ketika tiba-tiba saja Luhan datang dan langsung memeluknya. Lelaki berparas nyaris cantik itu membenamkan wajahnya di leher Baekhyun—yang langsung membuat Baekhyun bergerak gelisah—seraya mengeluarkan suara yang tidak dapat didengar Baekhyun.
Baekhyun melepaskan pelukan Luhan dan sedikit terkejut ketika melihat kedua mata Luhan yang memerah. Baekhyun yakin, pasti Luhan sedang bertengkar dengan Oh Sehun, kekasihnya.
"Ada apa, hyung? Kenapa matamu memerah begitu?"
Mendengar nada bicara Baekhyun yang begitu lembut, Luhan kembali memeluk Baekhyun, kali ini lebih erat.
Baekhyun membalas pelukan Luhan sambil salah satu tangannya mengelus pelan punggung lelaki cantik itu, berusaha menenangkannya.
"Se—Sehun, marah padaku, Baek…" jawab Luhan dengan suara yang sedikit parau. Ia melepaskan pelukannya pada tubuh Baekhyun kemudian menatap wajah manis sang sahabat.
Baekhyun yang melihat wajah Luhan sedih begitu, jadi ikut merasa sedih.
"Apa yang membuat si manusia datar itu marah padamu, hyung?"
Luhan terdiam. Kepalanya tampak menunduk. Lelaki cantik itu berusaha mengalihkan tatapannya dari wajah Baekhyun. Ia ingin menjawab pertanyaan lelaki mungil itu, tetapi ia takut, karena sungguh, Baekhyun akan sangat menyeramkan jika sedang marah dan berakhir dengan mengoceh panjang lebar kepadanya.
"Ke—kemarin malam… ke—kemarin malam aku pergi bersama Yi Fan," kata Luhan pelan seraya memejamkan matanya. Kedua tangannya bergerak untuk menutupi telinganya, bersiap menerima ocehan Baekhyun yang akan membuat telinganya berdengung sakit.
Melihat pergerakan Luhan yang seperti itu, Baekhyun hanya dapat menghela napas pelan. Ia berusaha menahan emosi yang langsung muncul ketika mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Luhan.
Selama beberapa menit hanya keheningan yang terjadi di antara keduanya. Luhan memberanikan diri untuk membuka kedua matanya dan hampir terjungkal ke belakang ketika melihat wajah Baekhyun yang cukup dekat dengan wajahnya, dengan kondisi mata yang melotot dan tangan yang berada di kedua sisi pinggang rampingnya. Luhan menelan ludah susah payah dan menunjukkan cengiran lebarnya dengan gugup. Tangannya ia gunakan untuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau berulah lagi, Xi Luhan!" ujar Baekhyun sedikit berteriak.
Luhan merasa nyalinya seketika menciut mendengar nada bicara Baekhyun yang—ugh—menyeramkan di telinganya.
"Tapi kami hanya berteman, Baekhyun, tidak memiliki hubungan khusus!" Luhan mengelak. Menjawab perkataan Baekhyun dengan nada yang berusaha ia atur senormal mungkin. Ingat! Baekhyun sangat menyeramkan ketika marah.
Baekhyun menaikkan sebelah alisnya mendengar jawaban Luhan.
"Ya, kau memang menganggap lelaki-lelaki yang pernah pergi berdua bersamamu hanya teman, tetapi tidak untuk mereka, hyung! Kau itu bodoh atau apa? Sudah berapa kali kukatakan padamu untuk tidak menyetujui ajakan para lelaki itu, tetapi kau dengan keras kepalanya mengiyakan ajakan mereka dan pergi berdua. Kau tidak tahu? Mereka itu menyukaimu! Mereka berusaha mendekatimu dan menghancurkan hubunganmu bersama Sehun! Kau harusnya sadar akan hal itu!" Baekhyun berujar marah. Ia paling tidak suka ketika Luhan kembali melakukan hal yang membuatnya bertengkar dengan Sehun.
Luhan hanya dapat menundukkan kepalanya mendengar apa yang baru saja Baekhyun katakan. Luhan salah, ia sadar akan hal itu.
"Maaf, Baek..." ucap Luhan pelan.
"Hyung tidak perlu meminta maaf padaku—" kata Baekhyun mulai memelankan nada suaranya.
"—minta maaflah pada Sehun, kau bersalah padanya. Aku yakin, ia pasti sangat marah padamu saat ini," lanjutnya seraya mengelus pelan surai merah muda milik Luhan.
Luhan mengangkat kepalanya dan tersenyum manis pada Baekhyun. Walaupun Baekhyun marah padanya, hal itu tidak akan berlangsung lama.
"Terima kasih, Baekhyun-ah, " kata Luhan seraya kembali memeluk tubuh Baekhyun yang dengan senang hati dibalas oleh lelaki manis itu
.
.
.
.
.
Ryeoby Rin
.
.
.
.
.
"...atau sebut aku bodoh. Terjebak mencari jalan keluar dari badai hujan, tanpa memedulikan tanganmu yang saat itu memberiku sebuah mantel dan payung."
.
.
.
Chanyeol menatap kosong boneka rilakkuma berukuran besar yang ada di atas tempat tidurnya. Ia sedikit terkekeh ketika mengingat sosok yang memiliki boneka tersebut. Namun tidak lama kemudian ekspresinya berubah sendu dengan airmata yang kembali mengalir dari kedua sudut matanya.
Lelaki jangkung itu berteriak kencang—frustasi—dengan tangan besarnya mencengkeram kuat helaian rambut abu-abu miliknya, menariknya dengan kuat yang menyebabkan beberapa helai rambut tersebut lepas dari kulit kepalanya. Ia kembali meneriakkan nama sosok sang terkasih dengan kencang, berharap teriakannya kali ini akan membuat sosok itu datang menemuinya dan memeluknya dengan erat.
Chanyeol berharap. Sangat berharap.
Park Chanyeol seperti tidak memiliki arah hidup semenjak sosok yang dicintainya memutuskan untuk pergi meninggalkannya satu tahun lalu, meninggalkan begitu dalam sebuah penyesalan yang hingga saat ini masih setia memenuhi seluruh isi hati dan kepalanya. Sekadar informasi, kalau Kyungsoo sudah menikah dengan anak dari sahabat kedua orangtuanya.
Oh, tentu saja Chanyeol tidak peduli dengan hal tersebut. Yang ia lakukan hanya memikirkan cara complete bagaimana seorang Baekhyun yang manis bisa bersamanya kembali.
Chanyeol merasa kacau ketika Baekhyun tidak lagi berada dalam jangkauan hidupnya. Ia tidak dapat bernapas dengan baik ketika mengingat bagaimana terlukanya wajah Baekhyun saat itu. Ketika dirinya yang dengan lancang menggoreskan begitu banyak luka di hati lelaki berparas manis itu.
Kehidupan Chanyeol berubah jauh dari kehidupan sebelumnya. Ia tidak peduli lagi pada kuliahnya. Walaupun masih tetap berkuliah, tetapi Chanyeol tidak pernah memerhatikan apa yang dijelaskan oleh dosennya. Apartemen Chanyeol pun tidak luput dari perubahan yang ditimbulkan oleh dirinya sendiri. Ia membiarkan apartemennya kacau balau. Sampah-sampah berada di sekitar ruang tengah dan kamarnya, beberapa barang berbahan kaca yang pecah juga turut serta berserakan. Lelaki jangkung itu tidak berniat untuk membersihkan apartemennya yang sudah dipenuhi debu yang cukup tebal. Ia tidak peduli.
Chanyeol malah seperti orang gila bersama hidupnya yang baru. Tertawa bodoh setiap harinya ketika menyadari ia sudah tidak mempunyai cinta murni yang dahulu ia rancang akan menjadi pendamping hidupnya di masa depan. Tetapi sekarang rencana itu terasa pudar. Mungkin iya bagi Baekhyun. Namun Chanyeol? Oh, bahkan ia memaksa semua angan-angan imajinasinya bermain. Memikirkan tiga tujuan.
Mencintai Baekhyun.
Membawa Baekhyun ke kehidupannya.
Memberi kebahagiaan baru untuk Baekhyun.
Namun jika kenyataan Baekhyun menolak? Maka Chanyeol akan diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa untuk hal itu. Sungguh, ia berada di jalan yang buntu.
.
.
.
.
.
Ryeoby Rin
.
.
.
.
.
"Di tanganku ada sebuah magic. Magic yang bisa membuat hujan sialan ini berhenti. Berhenti agar aku dengan leluasa menguasaimu melalui semua jalanku. Jalan yang sudah kubagi untukmu. Jalan kita berdua."
.
.
.
Baekhyun melangkahkan kakinya dengan santai di sepanjang koridor kampus untuk menuju ruang perpustakaan. Sesekali tubuh mungilnya sedikit membungkuk dengan senyum yang terulas manis di bibirnya ketika orang-orang yang berada di sekitar koridor menyapanya dengan ramah. Lelaki berbibir tipis itu hampir saja merasakan tubuhnya akan terjatuh ke depan jika tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik. Baekhyun melihat ke bawah dan menemukan simpul tali sepatu sebelah kirinya terlepas. Ia mendengus ketika tahu hal itulah yang menyebabkan dirinya hampir terjatuh.
Membawa tubuhnya untuk menepi agar tidak menghalangi jalan, Baekhyun lantas berjongkok dan kembali membuat simpul pada tali sepatunya yang terlepas, tanpa tahu jika sudah ada seseorang yang berdiri di hadapannya, memerhatikan gerak-geriknya seperti penguntit gila.
Baekhyun sudah berdiri dan terkejut saat menemukan sosok yang dulu dicintainya kini berdiri tepat di depannya, dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Baekhyun menatap sebentar wajah mantan kekasihnya itu dan hatinya sedikit meringis ketika menyadari jika Chanyeol telah berubah. Sangat berubah.
Tubuhnya yang dulu berisi (bukan gemuk), kini terlihat sangat kurus. Pakaiannya yang dulu selalu rapi dan bersih , kini terlihat lusuh dan berantakan. Wajah tampannya yang dulu selalu Baekhyun kagumi, kini menjadi pucat dengan sedikit bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar dagu dan rahangnya. Bibirnya pun tidak kalah buruk kondisinya, pucat dan kering. Mata tajam Chanyeol yang dulu selalu digunakan untuk menatapnya, kini terlihat sangat menyeramkan, dengan kantung mata berwarna hitam tepat di bawah matanya. Terakhir, rambut abu-abunya yang dulu terurus rapi, kini menjadi berantakan dan mulai memanjang.
Baekhyun tahu, Chanyeol tidak lagi mengurus dirinya dengan baik.
'Hentikan tindakanmu ini, Chanyeol-ah...' lirihnya dalam hati.
Mengabaikan rasa sedih yang tiba-tiba muncul di hatinya ketika mata sipitnya kembali melihat Chanyeol dengan keadaan yang sekacau ini, Baekhyun menatap lelaki jangkung itu datar. Seolah tidak peduli, ia bersiap untuk melangkahkan kembali kakinya, sebelum pergelangan tangannya dipegang erat oleh Chanyeol.
"Baek," Chanyeol memanggil Baekhyun dengan suaranya yang serak. Ia hampir kehilangan suaranya karena terus-menerus ia gunakan untuk meneriakkan nama Baekhyun selama setahun terakhir.
Baekhyun tidak merespon panggilan Chanyeol. Matanya menatap tajam pergelangan tangannya yang digenggam kuat oleh lelaki jangkung itu sebelum menyentaknya dengan kuat dan sukses membuat tubuh rapuh Chanyeol terhuyung ke belakang.
Chanyeol terkejut dengan tindakan Baekhyun—yang jujur sangat kasar menurut Chanyeol. Namun ia mengerti, Baekhyun seperti itu karena perbuatannya. Chanyeol mencoba untuk kembali meraih pergelangan tangan Baekhyun, namun belum sempat ia menggenggamnya, Baekhyun kembali menyentakkan tangan itu dengan kuat. Kali ini tangan Chanyeol sukses mengenai wajahnya sendiri.
Chanyeol menatap nanar wajah Baekhyun. Bibirnya mengukir senyum miris saat lagi-lagi Baekhyun melakukan penolakan terhadap dirinya. Dadanya pun tidak luput untuk merasakan kesakitan karena penolakan Baekhyun, kembali disayat dengan cepat menggunakan pisau tak kasatmata.
Baekhyun masih menatap datar wajah lelaki brengsek di hadapannya.
"Baekhyun, kumohon beri aku kesempatan sekali lagi. Aku mencintaimu, Baek. Aku sangat mencintaimu," masih dengan suara yang serak, Chanyeol kembali memohon.
Lagi—Baekhyun hanya diam dengan pandangannya yang datar. Terus seperti itu. Perkataan Chanyeol seolah tidak bermakna untuknya, meskipun lelaki tampan yang dulu menjadi kekasihnya itu terus berusaha mengatakan tujuan yang sama. Mencintainya dan memintanya kembali.
"Kembali padaku, Baek. A—aku… aku tidak bisa hidup dengan baik tanpa kau di sisiku. Kumohon, kembali padaku, sayang..." lanjut Chanyeol. Ia mengutarakan semua perasaannya di hadapan orang yang pernah ia sakiti dengan airmata yang sedikit mengalir di kedua pipinya yang mulai tirus.
Tidak ada jawaban apapun yang terlontar dari makhluk berparas manis di hadapan Chanyeol. Baekhyun memang tidak berniat untuk berbicara pada Chanyeol, dan Chanyeol tahu akan tindakan Baekhyun. Berusaha mengabaikan sedalam apapun.
"Hidupku berantakan sejak kau meninggalkanku, Baek," Chanyeol kembali berbicara, kali ini suaranya terdengar—cukup—pelan.
Indra pendengaran Baekhyun menangkap setiap ucapan Chanyeol. Ia menaikkan satu alisnya, seolah risih dengan perkataan-perkataan Chanyeol yang seolah menjadikan semuanya menjadi mudah jika ia kembali kepada lelaki itu.
Merasa muak dengan lelaki di hadapannya, Baekhyun memutuskan untuk berbicara pada Chanyeol.
"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk membuat hidupmu sendiri berantakan, Park Chanyeol!" dengan suaranya yang terkesan dingin, Baekhyun menjawab ucapan Chanyeol tadi. Tatapannya tidak berubah, tetap datar tanpa ekspresi.
Chanyeol merasa ada tangan besar tak kasatmata mencubit hatinya yang sebenarnya sudah terluka. Kembali membuat luka itu semakin dalam, yang menyebabkan lelaki berparas tampan itu mencengkeram dada sebelah kirinya dengan kuat. Ucapan Baekhyun telak menohok ulu hatinya.
Chanyeol menggelengkan kepalanya, berusaha untuk menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba saja datang menyerangnya.
"Maaf, Baekhyun-ah. Maafkan aku. Aku mencintaimu, aku mencintaimu. Kumohon, kembali padaku dan kita ulang semuanya dari awal, Baek" pinta Chanyeol memelas.
"Aku sudah tidak mencintai Kyungsoo, aku sudah melupakannya, Baek."
Baekhyun membuat ekspresi berbeda dari sebelumnya. Ingatan dahulu kembali menyeruak bagai putaran drama bergenre hurt. Mengingatkan ia dengan adengan-adengan kisah cinta Chanyeol, yang diumbar secara terbuka bersama Kyungsoo di hadapannya sendiri. Begitu gamang dan sadis. Kali ini mata sipitnya menatap sosok Park Chanyeol dengan pandangan meremehkan. Mulutnya ia gunakan untuk mengeluarkan suara decihan yang cukup keras sebelum mengeluarkan kata-kata yang sudah tersusun di otaknya.
"Bagus jika kau sudah melupakan Kyungsoo—" ekspresinya memang sudah berubah, namun tidak untuk nada bicaranya. Baekhyun kembali mengeluarkan suaranya yang terkesan dingin dan sinis secara bersamaan.
"—dan aku pun sudah melupakanmu, Park Chanyeol brengsek!"
Tepat setelah mengucapkan sebaris kalimat yang sukses membuat Chanyeol membeku di tempatnya, Baekhyun melangkah cukup cepat, meninggalkan seorang Park Chanyeol yang kini menatap punggung sempitnya dengan tatapan penuh luka.
Kenyataannya, Baekhyun membencinya terlalu dalam.
Chanyeol menjatuhkan tubuhnya ke lantai yang dipijaknya dengan keras, mengabaikan rasa sakit yang ditimbulkan akibat lututnya yang membentur lantai. Lelaki jangkung itu menundukkan kepalanya dengan satu tangan kembali mencengkeram dada sebelah kirinya kuat-kuat. Senyuman penuh luka tertoreh di bibirnya yang pucat dan mengering. Airmatanya pun mengalir tanpa bisa ia cegah. Chanyeol merasakan sakit yang luar biasa ketika mengetahui orang yang dulu begitu mencintainya kini berbalik membencinya. Ia tidak menyalahkan Baekhyun jika sekarang lelaki mungil berparas manis itu membencinya. Ia tahu jika dirinya memang pantas mendapatkan balasan akibat perbuatannya satu tahun lalu.
Chanyeol memegang kepalanya yang terasa semakin pusing. Lelaki bertelinga unik itu mengerang sebentar dengan suara lemahnya sebelum pemandangan yang gelap mengambil alih kesadarannya.
"Bagaimana jika Baekhyun tetap menolak?" tanya Joonmyeon, sahabat dekat Chanyeol, tempo lalu. Mengingatkan Chanyeol yang terlalu memaksa kehendak jika lelaki mungilnya mempunyai pribadi baru. Membenci seorang Park Chanyeol hingga titik terdalam.
"Aku... tidak tahu," jawabnya lirih. Ia membaringkan diri di atas tempat tidur, mengabaikan Joonmyeon yang sudah bersusah payah mengirimkan makanan cepat saji untuknya. Tatapan mata Joonmyeon menajam. Ia tahu Chanyeol sangat sakit, sungguh ia tahu. Hubungan keduanya sudah dekat semenjak mereka kanak-kanak.
"Kau yakin ingin menyerah, Chanyeol-ah?"
Chanyeol tidak sadarkan diri dengan perkataan yang terbayang di kepalanya. Kesadarannya yang sudah hilang memaksa ia untuk terkujur di tempat. Membiarkan angin yang melewatinya mengejek, seolah mengatainya jika air hujan benar akan dirinya.
Seorang pecundang.
"Baek, kau lihat di tanganku ada mawar merah. Arti bunga yang mengatakan aku bergairah telah mencintaimu. Sungguh manis, bukan? Tetapi, tidakkah kau ingin melihat benda apa yang ada di balik genggaman tangan kiriku? Dia basah oleh hujan dan menyilaukan. Tebak sedikit, kau akan terkejut. Percayalah..."
.
.
.
.
.
Ryeoby Rin
.
.
.
.
.
Joonmyeon menatap wajah Chanyeol yang terpejam dengan pandangan prihatin. Tangannya sesekali ia gunakan untuk mengusap airmata Chanyeol, yang anehnya masih saja keluar padahal lelaki jangkung itu sedang tidak sadarkan diri.
Joonmyeon tahu hal apa yang sedang Chanyeol alami. Dulu, sebelum keadaan Chanyeol separah ini, Chanyeol selalu bercerita jika dirinya masih mencintai Baekhyun dan menginginkan lelaki mungil itu kembali ke sisinya. Ia tidak bisa berbicara apapun ketika itu. Yang ia lakukan hanya memberi nasihat untuk Chanyeol atau menyarankan lebih baik Chanyeol mencari pengganti Baekhyun.
Chanyeol yang mendengar saran Joonmyeon seperti itu tentu saja menolak dengan tegas. Baekhyun yang terbaik untuknya—begitu ia berucap. Sementara Joonmyeon hanya menghela napas pelan sambil menyemangati Chanyeol, berdoa semoga Baekhyun dapat menerima dirinya lagi. Namun ternyata doa Chanyeol maupun doanya tidak—mungkin belum—dikabulkan oleh Tuhan. Chanyeol masih saja mengharapkan Baekhyun, tanpa peduli pada hidupnya yang semakin kacau setiap harinya.
Pergerakan yang dilakukan tangan Chanyeol sukses membuat Joonmyeon—yang tadinya membenamkan wajahnya di kasur tempat Chanyeol berbaring—terkejut. Joonmyeon mengangkat kepalanya dan menemukan Chanyeol sedang menatapnya dengan sendu. Airmatanya masih sedikit mengalir di sudut mata sebelah kanannya.
"Joonmyeon hyung... a—aku di mana sekarang?" Chanyeol bertanya dengan suaranya yang lemah.
Joonmyeon mengusap peluh yang berada di dahi Chanyeol dengan kain kompres dan tersenyum miris melihat kondisi lelaki jangkung itu. Sungguh! Joonmyeon merasa sakit melihat sahabat yang sudah ia anggap seperti adik sendiri mengalami hal semenyakitkan ini.
Tidak! Joonmyeon juga tidak menyalahkan Baekhyun karena sudah membuat Chanyeol seperti mayat hidup begitu. Ia tahu semuanya. Ia tahu ketika Chanyeol menjalin hubungan dengan Kyungsoo. Ia tahu saat Chanyeol menyakiti Baekhyun, dan ia tahu, Chanyeol kacau karena Baekhyun tidak berada di sisinya lagi.
"Kau berada di ruang kesehatan, Chanyeol-ah. Kau pingsan di koridor tadi. Sekarang beristirahatlah, tubuhmu sangat lemah," jawab Joonmyeon pelan.
Chanyeol hanya mengangguk. Mengabaikan apa yang Joonmyeon perintahkan untuknya, ia lebih memilih untuk menatap seluruh isi ruang kesehatan. Tubuhnya seketika menegang saat mata sendunya melihat seseorang.
I—itu Baekhyun.
Baekhyun sedang berdiri di sebelah kasur yang berjarak tidak jauh dari tempatnya berbaring sekarang. Lelaki mungil itu sedang tersenyum manis padanya dengan satu tangan melambai seolah-olah menyuruhnya untuk mendekat.
"Baekhyun..." gumam Chanyeol pelan. Bibir pucat dan keringnya berhasil mengulas senyum manis setelah melihat sosok yang dicintainya berada di ruangan yang sama dengannya.
Joonmyeon mengernyit mendengar Chanyeol menggumamkan nama Baekhyun. Lelaki berparas tampan itu mengalihkan pandangannya untuk melihat isi ruang kesehatan dan mengerutkan keningnya ketika matanya tidak menangkap adanya tanda-tanda keberadaan sosok lelaki mungil yang memiliki kegemaran menyanyi itu. Yang Joonmyeon dapatkan hanya seorang lelaki cantik sedang duduk di samping kanan kasur yang di atasnya sedang berbaring seorang lelaki tampan dengan kompres menempel di dahinya.
"Baekhyun sayang..." sekali lagi Chanyeol menggumamkan nama Baekhyun. Tubuh lemahnya sudah bangun dari posisi berbaringnya dan akan menggunakan kakinya untuk mendekati sosok Baekhyun yang masih saja tersenyum manis padanya.
Joonmyeon dengan sigap menahan pergerakan yang dilakukan Chanyeol saat matanya sudah kembali pada posisi semula—kembali memandang Chanyeol.
"Le—lepas, hyung! Aku ingin mendekati Baekhyun di sana, jangan biarkan Baekhyun berdiri lama. Ia bisa lelah—" Chanyeol meronta di dalam dekapan Joonmyeon seraya menunjuk di mana posisi Baekhyun berada.
Joonmyeon melihat arah yang ditunjuk Chanyeol dan lagi-lagi yang didapatkannya adalah seorang lelaki cantik yang sedang menjaga lelaki tampan yang tadi sempat ia lihat sebentar, bukan sosok Baekhyun.
Joonmyeon dapat menangkap satu hal yang sedang Chanyeol alami saat ini. Chanyeol sedang berhalusinasi.
Joonmyeon mendongakkan kepalanya, berusaha menahan lelehan airmata yang siap meluncur dari mata tajamnya. Park Chanyeol, sosok sahabat sekaligus adik yang ia sayangi tidak mungkin kehilangan akal sehatnya, kan? Oh, atau dia sudah gila?!
"Tidak, Chanyeol! Itu orang lain, bukan Baekhyun, " masih dengan tangan yang mendekap tubuh lemah Chanyeol, Joonmyeon mencoba memberitahu pada lelaki jangkung itu bahwa sosok yang dilihatnya bukanlah Baekhyun, tetapi orang lain.
Chanyeol mengelengkan kepalanya dengan kuat. Ia tidak terima dengan ucapan yang terlontar dari mulut Joonmyeon. Sosok itu memang Baekhyun, bukan orang lain.
"Tidak! Itu Baekhyun, bukan orang lain. Kumohon, biarkan aku ke sana. Aku ingin meminta maaf padanya, dan aku ingin meminta agar ia kembali ke sisiku. Tolong… lepaskan aku…" kali ini suara Chanyeol terdengar lebih keras dari sebelumnya. Tubuhnya masih mencoba untuk melepaskan dekapan erat Joonmyeon.
Lolos. Airmata Joonmyeon dengan suksesnya meloloskan diri dari mata tajam sang empunya. Tidak peduli dengan dirinya yang sedang menangis saat ini, Joonmyeon berusaha dengan kuat untuk menenangkan Chanyeol yang masih saja meronta dalam dekapannya. Mulutnya terus meracau, mengucapkan kata maaf dan permohonan agar Baekhyun kembali ke sisinya.
Oh Tuhan, Chanyeol memohon? Sungguh bukan pribadi yang ia kenal.
Cukup sudah ia melihat Chanyeol bertindak gila seperti ini. Cukup!
"LEPAS! AKU INGIN BERTEMU BAEK-"
BUGH
Tangan Joonmyeon memukul Chanyeol telak. Meninjunya keras, seolah ingin menyadarkan tindakan gila adiknya itu yang berhasil membuat airmatanya mengalir. Sial! Ia menangis hanya karena kisah cinta Chanyeol?! Dasar sialan.
"Hentikan tindakan gilamu, brengsek!" maki Joonmyeon seraya memegang kuat kerah kemeja Chanyeol yang kini tampak kusut karena perbuatannya. Ia harus melakukan sesuatu untuk menyadarkan orang gila di depannya ini. Sesuatu yang sedikit memaksa.
"Apa yang kau-"
"Dengarkan aku, Chanyeol!" sekali lagi Joonmyeon berteriak marah. Ia menahan Chanyeol untuk tetap menatap mata tajamnya yang miris melihat keadaannya. Ia bergumam pelan, mengisyaratkan sesuatu yang menghipnotis pikiran Chanyeol tanpa sadar, dan—
"Jika Baekhyun masih menolakmu, maka... racuni dia!"
—sesuatu yang terbilang gila.
.
.
.
.
.
Ryeoby Rin
.
.
.
.
.
"Suara dan bau hujan seakan membuatku trauma. Tusukan setiap ucapanmu menjadikanku seorang ahli baru. Ahli pencipta racun, yang memaksa seorang penolak untuk melihat apa yang ia tolak. Bukankah ini menarik, sayang?"
.
.
.
Makan malam sudah selesai beberapa menit yang lalu. Sekarang Baekhyun lebih memilih menapakkan kakinya pada anak-anak tangga untuk menuju kamarnya daripada bergabung dengan Ayah dan Ibunya yang saat ini sedang menonton televisi di ruang keluarga.
Memasuki kamarnya dengan langkah santai, Baekhyun membawa kakinya untuk mendekat pada meja belajarnya dan mengambil novel yang belum selesai ia baca. Setelah mendapatkan novel yang dicarinya—dengan membawa kacamata baca juga—Baekhyun kembali melangkah menuju kasur king sizenya, mendudukkan dirinya di atas kasur dengan sebuah bantal yang ia gunakan untuk sandaran pada punggung sempitnya.
Baekhyun sedang serius dengan acara membacanya ketika tiba-tiba saja ponselnya yang ia letakkan di atas nakas tempat tidurnya bergetar cukup kuat selama beberapa detik. Ia menaikkan sebelah alisnya saat mata sipitnya melihat ada satu pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
Siapa yang mengiriminya pesan dengan nomor baru?—begitu pikir Baekhyun.
Memilih membuka pesan yang tidak ia ketahui siapa pengirimnya, Baekhyun segera membacanya dengan teliti hingga suara decihan yang berasal dari bibir tipisnya menjadi satu-satunya sumber suara yang ada di dalam kamar tersebut.
Baekhyun lantas membanting ponselnya cukup keras ke atas nakas. Ia sangat kesal ketika tahu siapa pengirim dari pesan tersebut.
Park Chanyeol, sosok yang pernah menyakitinya.
.
Baek... aku merindukanmu. Aku tidak bisa menata hidupku dengan baik semenjak kau pergi dari sisiku. Kumohon, kembali padaku... dan bantu aku untuk menata hidupku lagi. Aku mencintaimu, Baekhyun-ah.
.
.
Baekhyun memilih melanjutkan acara membacanya daripada membalas pesan—tidak penting—dari Chanyeol. Namun tidak lama kemudian Baekhyun harus menahan geramannya ketika ponselnya terus-menerus berbunyi, menandakan adanya pesan dan juga telepon untuknya.
Baekhyun meniup poninya dengan keras seraya tangannya bergerak membuang boneka rilakkumanya yang berukuran kecil ke sembarang arah. Chanyeol kembali mengganggunya.
Mengambil ponselnya dengan kasar, Baekhyun lantas melihat siapa yang meneleponnya dan menemukan nomor asing yang ia tahu itu milik Chanyeol yang kembali mengganggunya.
Baekhyun beralih pada tiga pesan yang diterimanya—
.
Maafkan aku, Baekhyun-ah... kumohon, maafkan aku.
.
Aku mencintaimu. Kau berbohong kan ketika kau mengatakan kau sudah melupakanku? Kumohon, katakan jika itu hanya omong kosongmu, sayang.
.
Aku sudah banyak berubah. Kembali padaku dan kita memulai sesuatu yang manis kembali tanpa masalah itu terulang lagi. Aku berjanji, Baekhyun-ah...
.
Baekhyun kembali mendecih setelah ia selesai membaca pesan tersebut. Jari-jari lentiknya bergerak lincah untuk mengetik sesuatu pada layar ponselnya. Setelah selesai ia lantas mencabut baterai ponselnya dan menyimpannya di laci nakas. Ponselnya ia sembunyikan di bawah boneka rilakkumanya yang berukuran besar.
.
Dalam mimpimu saja, Park Chanyeol!.
.
.
.
.
.
Ryeoby Rin
.
.
.
.
.
"Jangan memancingku bertindak nekat. Deras guyuran hujan bukan tidak bisa membuatku bertemu denganmu. Aku hanya terdiam sebentar memikirkan apa yang harus kulakukan untuk menemui benda terang yang kumaksud."
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat ini. Namun sosok lelaki mungil dengan paras manis yang teridentifikasi bernama Byun Baekhyun itu masih saja betah berada di area kampusnya. Bukan tanpa alasan Baekhyun masih berada di kampus ketika langit sudah mengganti cahaya terangnya dengan warna gelap yang lebih pekat. Ketika Baekhyun akan keluar dari gedung kampus, tiba-tiba saja air yang berasal dari atas langit tumpah dengan derasnya, menyebabkan ia harus berlari secepat mungkin ke dalam gedung kampus jika tidak ingin tubuhnya basah kuyub karena siraman air yang tiba-tiba itu.
Sebenarnya Baekhyun tidak terlalu peduli jika memang tubuhnya basah kuyub karena hujan. Baekhyun lebih peduli pada buku-buku pelajarannya. Hei! Jika Baekhyun kehujanan, ia bisa langsung mandi jika sudah sampai di rumah dan pakaiannya pun bisa dicuci, kemudian dijemur sampai kering. Selesai, kan? Tetapi, jika buku-buku pelajarannya yang kehujanan, ia tidak tahu harus melakukan apa agar buku-bukunya itu bisa kembali seperti semula. Intinya sih Baekhyun tidak mau ambil risiko.
Mencoba menghalau rasa dingin yang berusaha masuk ke tubuhnya, Baekhyun memilih menekuk kedua lututnya di atas kursi panjang yang saat ini sedang ia duduki—kursi itu berada di depan kelasnya. Memeluk kedua lutut tersebut seraya membenamkan kepalanya. Ia mengembuskan napasnya sedikit keras ketika rasa dingin itu tidak kunjung berkurang, malah semakin bertambah.
Pergerakan yang diakibatkan oleh kursi yang sedang Baekhyun duduki membuat lelaki mungil itu mengangkat kepalanya, kemudian menoleh untuk mencari tahu siapa orang yang kini duduk di sebelahnya. Baekhyun langsung membuat ekspresi datar ketika tahu siapa orang yang saat ini duduk di sebelahnya. Itu Park Chanyeol, mantan kekasihnya.
Bergegas menurunkan kakinya yang berada di atas kursi panjang itu, Baekhyun hendak melangkah pergi sebelum satu tangannya digenggam oleh Chanyeol. Baekhyun menatap datar tangan Chanyeol, kemudian menatap tajam lelaki jangkung itu seolah menegaskan jika ia tidak suka dengan perbuatan lelaki itu saat ini.
Namun Chanyeol tidak peduli, ia malah menarik cukup kuat tangan Baekhyun, menyebabkan tubuh Baekhyun sedikit terhuyung dan berakhir dengan dirinya yang kini terduduk di pangkuan Chanyeol. Chanyeol bergegas melingkarkan kedua tangannya pada perut ramping Baekhyun. Ia tidak akan membuang kesempatan seperti ini.
Baekhyun meronta dengan kuat di pangkuan Chanyeol ketika otaknya sudah bisa menangkap apa yang terjadi saat ini—tadi itu otaknya sempat tidak berfungsi dengan baik karena terkejut dengan perbuatan Chanyeol yang tiba-tiba. Semakin kuat Baekhyun berontak, semakin kuat juga Chanyeol memeluk perut Baekhyun.
Kelelahan, akhirnya Baekhyun memilih untuk meminta pada Chanyeol agar melepaskan pelukannya.
"Lepas!" pintanya dengan suara sinis.
Chanyeol menggelengkan kepalanya. Indra penciumannya lantas bereaksi untuk menghirup dalam-dalam aroma shampo yang menguar dari helaian rambut Baekhyun sampai sekitar perpotongan lehernya.
"Kubilang lepas, Park Chanyeol! Jangan bertindak kurang ajar!" Baekhyun kembali berucap sinis. Ia berusaha menahan emosinya untuk tidak berteriak pada Chanyeol. Namun Chanyeol tetap kembali menggelengkan kepalanya. Lelaki jangkung itu menahan pergerakan Bakehyun yang mengganggu aktivitas yang sudah lama tidak ia rasakan dalam menciumi pundak mulus mantan kekasihnya. Intinya Chanyeol candu akan hal itu.
Baiklah. Chanyeol sendiri kan yang meminta Baekhyun untuk melakukannya? Lelaki manis itu mengambil napas dalam-dalam, sebelum—
"KUBILANG LEPASKAN PELUKANMU DARI PERUTKU, PARK CHANYEOL! Jangan bertindak kurang ajar padaku! Hentikan apa yang kau lakukan!" —berteriak tepat di hadapan Chanyeol setelah sebelumnya tangan lentiknya dengan kasar melepaskan tangan Chanyeol yang melingkari perutnya.
Tubuh Chanyeol menegang ketika Baekhyun berteriak sangat keras ditambah matanya yang menampakkan kilatan amarah yang—begitu—besar. Chanyeol memilih untuk diam, melihat penolakan apa yang selanjutnya akan Baekhyun lakukan.
Baekhyun mendecih sebelum beranjak pergi. Tetapi lagi-lagi Chanyeol menginterupsi langkahnya.
"Maafkan aku, Baek…" Chanyeol bersuara. Suaranya yang lemah teredam oleh suara hujan yang saat ini masih saja turun dengan deras.
Baekhyun tidak merespon.
"Maafkan aku. Aku menyesal telah menyakitimu, Baek. Sungguh! Aku menyesal" menahan sesak di dadanya, Chanyeol berusaha untuk berbicara dengan suara yang terdengar normal. Kali ini ia lebih mengeraskan suaranya agar lelaki manis itu dapat mendengar suaranya dengan jelas.
Kembali, Baekhyun tidak memberikan respon apapun.
"Kumohon… kembali padaku, Baekhyun-ah..." Chanyeol membiarkan dirinya lagi-lagi menangis ketika memohon pada Baekhyun untuk kembali padanya. Entah sebuah kebetulan atau tidak, namun air hujan pun turun semakin deras, seolah ikut menemani airmata yang mengalir dari kedua mata sendunya.
Kali ini Baekhyun merespon. Ia membalikkan tubuhnya untuk melihat sosok lelaki yang satu tahun lalu sukses mengisi relung hatinya. Lelaki berparas manis itu memandang sendu keadaan Chanyeol saat ini. Matanya sudah memerah, tenggorokannya pun tercekat ketika ia berusaha mati-matian menahan airmatanya agar tidak meloloskan diri dari kedua mata sipitnya.
"Kau sendiri yang melepaskanku, Chanyeollie. Kenapa sekarang kau memintaku untuk kembali padamu?" Baekhyun berucap dengan suara parau. Sungguh, ia tidak bisa melihat keadaan Chanyeol yang semakin berantakan seperti itu.
Baekhyun mulai luluh. Oh... permainan yang mengesankan.
Chanyeol terdiam ketika mendengar ucapan yang terlontar dari Baekhyun. Dalam hati ia membenarkan apa yang Baekhyun katakan. Lelaki mungil itu tidak akan meninggalkannya jika ia tidak membuat ulah. Namun sekian banyak penolakan yang ia dapat dari Baekhyun, hal itu kembali membutakan ia dari segala ucapan Joonmyeon tempo lalu. Pemikirannya bermain di sini. Tiga tujuan yang masih ia genggam:
Mencintai Baekhyun.
Membawa Baekhyun ke kehidupannya.
Memberi kebahagiaan baru untuk Baekhyun.
Namun jika Baekhyun masih menolak? Kali ini Chanyeol tidak berdiam diri.
Chanyeol berseringai di balik tundukkan kepalanya yang tidak diketahui Baekhyun. Perlahan ia mencengkeram pergelangan tangan kirinya dengan kuat. Menancapkan kuku jarinya yang sudah panjang ke kulitnya, menyebabkan kulitnya mengeluarkan sedikit darah.
"Aku menyesal, Baek. Maafkan aku, da—dan… dan kembali padaku, karena aku mencintaimu!" Chanyeol mengangkat kepalanya, menatap wajah Baekhyun dengan pandangan tegas. Tidak lagi dengan airmata, tetapi membiarkan darah menggantikannya. Tidak sakit, mungkin setelah ini akan sakit.
Baekhyun terdiam. Ia bernapas pendek-pendek melihat apa yang Chanyeol lakukan. Ia mencoba mendekati Chanyeol, melangkahkan kakinya perlahan-lahan. Matanya masih fokus memandang sendu ke arah Chanyeol, seolah terpancing iba akan tindakan lelaki tampan di hadapannya. Setelah sampai, Baekhyun lantas menarik tubuh rapuh Chanyeol ke dalam pelukannya dan mengeluarkan airmatanya di ceruk leher lelaki jangkung itu. Menangisi kebodohan Chanyeol yang mampu membuat ia benci dan cemas secara bersamaan.
Baekhyun menangis? Akhirnya...
Setelah beberapa menit adegan pelukan itu terjadi, Baekhyun melepaskan pelukannya pada tubuh Chanyeol. Membawa kakinya melangkah mundur, Baekhyun kembali menatap Chanyeol dengan sendu. Airmatanya masih sedikit mengalir di kedua pipinya.
"A—apa pelukan itu berarti… ka—kau mau kembali pa—" Chanyeol belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika melihat sosok lelaki mungil yang berada di hadapannya menggelengkan kepalanya pelan.
Baekhyun masih menolak.
"Satu tahun sudah berlalu. Harusnya kau membuat hidupmu jauh lebih baik, Yeol..." Baekhyun mulai bersuara.
"Sudah tidak ada hal yang harus diperbaiki di sini. Semuanya sudah selesai. Kau dan aku sudah tidak terikat dalam hubungan apapun," sedikit mengusap airmata yang kembali mengalir, Baekhyun kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku sudah tenang dengan kehidupanku saat ini. Aku merasa jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Aku hanya belum siap untuk menerima luka yang kapan saja bisa aku dapatkan kembali…" Baekhyun semakin terisak dalam tangisnya. Ia memilih logika dan hatinya yang sudah trauma akan tidakan Chanyeol dahulu. Begitu sakit, hingga ia bisa membenci lelaki tampan yang dulunya sangat ia cintai.
"Kau tidak menerimaku lagi?" tanya Chanyeol seraya mengubah wajah memohonnya dengan wajah datar dan terkesan dingin kepada Baekhyun.
Baekhyun menggelengkan kepalanya yakin. Ia tidak ingin kembali pada Chanyeol untuk mempunyai hubungan seperti dulu. Ia ingin hidupnya yang tenang dan utuh tanpa sentuhan airmata.
"Tidak. Aku tidak mau, " lanjut Baekhyun seraya mengusap pelan pipi Chanyeol kemudian memberi kecupan singkat di sana sebelum melangkah pergi dari tempat lelaki jangkung itu berada.
"Bagaimana jika Baekhyun tetap menolak?"
"Aku... tidak tahu."
"Kau yakin ingin menyerah, Chanyeol-ah?"
"Lalu apa yang harus aku lakukan?!"
"Jika Baekhyun masih menolakmu, maka... racuni dia!"
"CUKUP!" Chanyeol berteriak kencang. Teriakannya dapat mengalahkan deras air hujan di luar kampus, juga langkah terburu-buru dari Baekhyun.
Tubuhnya menegang ketika ia berdiri dari duduknya. Skakmat! Baekhyun terpaku tepat beberapa meter dari jarak ia berada. Ia tahu Baekhyun mendengarnya, ia tahu lelaki manis itu baru saja menolak seorang Park Chanyeol.
Chanyeol tidak bisa diam! Ia akan pergi merebut Baekhyun kembali, merebut apa yang dulu menjadi miliknya, dan merebut ciuman candu yang dahulu pernah mengisi setiap relung hatinya.
Ia harus memaksa Baekhyun!
"YA! Chanyeo, kau-"
Grep
Tangan Chanyeol memeluknya dari belakang, mengeratkan tubuh lelaki manis itu agar lebih dekat dengan jarak tubuhnya, sehingga menimbulkan efek sesak pada Baekhyun. Chanyeol tidak peduli, lelaki ini harus kembali kepadanya apapun keadaannya.
Terbiasa dengan hal gila semenjak Baekhyun pergi, membuat Chanyeol buta akan kehidupan normal yang seharusnya ia dapat terima.
"Chanyeol, hentikan! Lepaskan!" Baekhyun meronta dari pelukan kasar Chanyeol yang kini berubah menjadi ancaman ketika mulut basah lelaki jangkung itu menghujani leher dan bahunya dengan ciuman.
"Ini tidak boleh terjadi!" batin Baekhyun berteriak.
Ia mencoba banyak pergerakan untuk menghadang tindakan gila Chanyeol sebelum pandangannya meremang ketika satu benda berkilau berada di leher putihnya.
"Chan—Chanyeol..." ujarnya gugupnya. Tanpa sadar ia menitikkan airmata dengan tindakan Chanyeol yang belum pernah ia dapatkan.
Sebilah pisau tajam yang menahan gerakan menolak darinya. Pisau berkilau yang memenjarakan ia ketika dipaksa untuk tidak bergerak. Jika bergerak sedikit saja, pisau yang Chanyeol genggam tepat di posisi depan lehernya akan langsung menusuk kulitnya tanpa ampun.
Chanyeol benar-benar berubah.
"Kau masih ingin pergi, sayang?" benda tajam itu semakin mendekat ke perpotongan leher Baekhyun, mengabaikan tetesan airmata Baekhyun yang semakin membanjiri pipinya.
Chanyeol masih berada tepat di belakangnya, memeluknya erat, sesekali mengendus telinga Baekhyun dengan kata-kata ancaman untuk lelaki mungil itu.
"Jawab aku!" gertak Chanyeol keras.
"Ti—tidak."
"Bagus. Kau masih ingin menolakku setelah aku terus memohon padamu, Baekhyun-ah?" senyum Chanyeol mengembang ketika jawaban yang ia nantikan terucap dari bibir tipis Baekhyun. Ia tidak peduli jika jawaban itu adalah bentuk ketakutan karena tindakannya. Ia tidak peduli, sungguh.
"Hen—hentikan... Yeol..." tangisan Baekhyun semakin pecah. Pisau itu berhasil memotong rambut hitamnya yang memanjang di sekitar telinga. Sedikit lagi ia berpindah posisi, maka nyawanya dalam bahaya.
"Katakan jika kau mencintaiku!" perintah Chanyeol seraya mengusap kasar airmata Baekhyun. Baekhyun membulatkan mata tidak percaya.
Ia tidak bisa. Mencintai seseorang tidak boleh melalui pemaksaan!
"Tidak! Jangan-"
Cras
"AKH!" pisau di leher Baekhyun menggores kulit di bawah telinganya. Perih menjalar ketika kata 'tidak' tertangkap oleh indra pendengar Chanyeol. Mata Chanyeol berubah gelap menyadari perasaan Baekhyun yang benar-benar menghilang untuknya. Ia menekan pisau di tangannya dengan geram, mencoba membunuh Baekhyun secara perlahan akibat penolakan itu.
"Katakan, ya!" gertaknya lagi seraya memundurkan tubuh mungil Baekhyun ke dinding yang ada di belakangnya. Ia menghimpit pergerakan Baekhyun, memenjarakan lelaki manis itu untuk dua pilihan.
Mati atau hidup.
"A—aku tidak bisa—Akh!" airmata Baekhyun semakin deras. Perih di tubuhnya bertambah karena luka sayatan hasil perbuatan Chanyeol.
Malam semakin mencekam di sana. Beruntung tindakan ini tidak diketahui oleh siapapun kecuali Chanyeol dan Baekhyun. Jika ada orang lain yang mengetahuinya, Baekhyun yakin jika Chanyeol akan membunuh orang itu.
Chanyeol benar-benar gelap mata karena penolakan.
"Katakan!" ujung pisau itu benar-benar berada di depan leher Baekhyun. Tatapan sendu Baekhyun bertemu dengan guratan amarah di wajah Chanyeol. Baekhyun menangis. Ini bukan Chanyeol yang dahulu ia kenal.
Perlahan-lahan tangan lentik Baekhyun mengusap pipi Chanyeol yang berada dekat dengan wajahnya. Lelaki manis itu tersenyum perih mendapati orang yang dahulu ia kenal hangat berubah menjadi sosok mengerikan. Sosok tampan yang ada di hadapannya nekat mencoba membunuhnya.
Elusan tangan Baekhyun di pipi Chanyeol semakin melembut, ia berusaha membuat lelaki jangkung itu tersadar. "Kau memang tampan, Chanyeollie..." kata Baekhyun lirih, seolah keadaan mereka dalam keadaan baik-baik saja.
Tanpa tangis, luka, dan ancaman.
"Aku menemukan cinta di sini," tunjuk Baekhyun pada bibir Chanyeol kemudian mengusapnya dengan penuh kelembutan. Chanyeol tidak menolak setiap gerakan yang Baekhyun lakukan. Ia melonggarkan jarahannya dari Baekhyun, membiarkan dirinya kembali menghangat.
"Aku sangat menyukai Park Chanyeol yang lembut," kembali Baekhyun mengusap mata tajam Chanyeol. Kondisinya lebih bengkak, mungkin kebanyakan menangisi dirinya.
Terbuai akan usapan sayang yang Baekhyun lakukan padanya, tanpa sadar tangan kiri Baekhyun menuntun tangan Chanyeol yang memegang pisau agar menjauh dari lehernya. Ia tersenyum ketika melihat Chanyeol kembali menurut. Matanya kembali meneteskan airmata. Ia berusaha menyembunyikan senyum miris di bibirnya, namun sayangnya hal tersebut tidak berhasil. Ia menyesali semua yang telah terjadi, menyesali keadaan mereka yang seolah dibatasi dinding yang sulit untuk dihancurkan.
"Dan aku mencintaimu, Park Chanyeol..."
Cup
Cras
Bersamaan dengan dorongan yang Baekhyun lakukan pada tubuh Chanyeol, ia menarik tengkuk lelaki tampan itu agar mengeliminasi jarak mereka berdua, menekan lelaki jangkung itu agar lebih menyentuhnya tepat di bibir, dan membiarkan fakta baru yang sengaja ia lakukan. Membiarkan tangan Chanyeol yang memegang pisau tajam menusuk perut rampingnya, tanpa disadari lelaki itu.
"Hiks... a—aku mencintaimu, Chanyeol-ah..." gumam Baekhyun di balik lumatannya sebelum pandangan matanya mulai memudar akibat darah yang mengalir keluar.
BRUK
Chanyeol terpaku. Astaga, Tuhan! Kesadaran yang mulai penuh membangkitkan ia dari tindakan bodohnya. Apa yang barusan ia lakukan?! Dia tidak menyadari pisau yang tertancap di perut Baekhyun.
Secepat mungkin ia memeluk tubuh Baekhyun meskipun ketakutan mulai menjalar di hatinya. Ia menangis kencang melihat tindakan gila yang ia lakukan.
"Baekhyun, bangun! Baekhyun, sadarlah!" gerakan mengguncang tidak menghasilkan apapun. Baekhyun tetap diam, tidak bergerak atau memberontak ketika ia memeluk lelaki mungil itu dengan erat.
Chanyeol menangis semakin kencang. Napas Baekhyun mulai putus-putus. Tubuh mungil lelaki itu mulai mendingin. Tidak. Mungkin ini hanya hawa dingin yang ditimbulkan oleh hujan. Lelaki manisnya tidak mungkin pergi. Tidak! Ia tidak percaya. Lelaki manisnya akan baik-baik saja. Ya, Baekhyun akan baik-baik saja.
"AAGGRRHH!" teriaknya kencang sebelum mengangkat tubuh mungil Baekhyun, melewati derasnya hujan demi sampai di tempat dirinya memarkirkan mobil dan secepatnya membawa lelaki manis itu ke rumah sakit. Ia harus melakukan tindakan benar kali ini. Ia tidak ingin merasakan penyesalan untuk kedua kalinya. Baekhyun harus selamat.
Sebelum memasukkan Baekhyun ke mobilnya, ia berhenti sejenak tepat di samping kursi penumpang. Tatapannya semakin menyendu saat melihat wajah Baekhyun semakin memucat. Airmatanya tersamarkan dengan derasnya air hujan. Ia tersenyum begitu miris sebelum menempelkan bibirnya dengan bibir Baekhyun, melumatnya sejenak sebelum memasukkan Baekhyun ke mobilnya, dan ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, demi Baekhyun.
"Maafkan aku, Chanyeol-ah. Seharusnya aku tidak menyarankan hal itu padamu. Seharusnya aku tahu jika kau akan nekat melakukan apapun demi mendapatkan apa yang kau inginkan. Jangan menangis, Chanyeol-ah. Jangan menangis. Baekhyun akan selamat, ya, dia akan selamat." gumam seseorang yang sejak tadi melihat apa yang Chanyeol lakukan. Ia mengusap setitik airmata yang jatuh menuruni pipi sebelah kirinya, kemudian melangkah pergi keluar kampus, meninggalkan sebilah pisau yang berkilau dengan sedikit darah yang mengotori kedua sisi pisau tersebut. Ia menyesal sudah membuat pisau tersebut menjadi saksi bisu tindakan nekat yang Chanyeol lakukan, juga sudah membuat seseorang hampir kehilangan nyawanya.
.
.
.
Terkadang satu luka dapat menyebabkan kebencian.
Kebencian pun dapat membuat seseorang menyimpan dendam, dan dendam pun dapat mencelakakan seseorang.
Penyesalan sudah tidak ada gunanya ketika semua telah terjadi.
Penyesalan hanya bisa dinikmati dengan perih hati yang mengikuti.
Jaga dan hargailah apa yang telah kaumiliki, sebelum penyesalan datang menanti.
...karena ketika penyesalan itu datang, kau hanya dapat merenungi semuanya tanpa bisa memperbaiki.
.
.
.
End
.
.
.
Hayo, yang kemarin-kemarin minta sequel siapa? Coba angkat tangannya. But, kok ini sad end lagi sih? Aku pun tidak tahu :D Maafkan aku, ya...
Oke. Aku akan beritahu satu hal pada kalian. Sebenarnya sequel di atas bukanlah sequel yang aslinya. Katakanlah sequel di atas sebagai sequel versi kedua sebab sequel versi pertamanya masih tersimpan rapat di laptopku. Jika kalian penasaran, kalian bisa lihat sequel ini di list storiesku dengan main cast KaiSoo. Sequel di atas merupakan hasil kolaborasiku dengan temanku. Secara keseluruhan apa yang kutulis di sini sama dengan sequel versi pertama, hanya saja ada beberapa adegan dan ending yang diubah. Tapi endingnya sama-sama gantung kok, juga sama-sama sad end untuk sequel versi pertama. Hehehe
Bagi kalian yang sudah mengikuti karyaku sejak awal, mungkin kalian bisa sedikit mengenali bagaimana gayaku menulis. Plot seperti di atas bukanlah gayaku, sungguh. Aku bukan orang kreatif yang sampai bisa memikirkan plot segila itu :D but, berkat bantuan temanku akhirnya aku memiliki satu cerita yang kurasa sedikit berbeda dari ceritaku yang lain. Well, kupikir susunan kalimat dari cerita di atas pun sedikit berbeda dari tulisanku yang sekarang sebab, yeah, sequel ini sudah kubuat dua tahun lalu, hehehe. Aku selalu berharap semoga tulisanku semakin baik ke depannya dan selalu bisa membuat kalian terhibur, amin.
Satu hal lagi, untuk sequel versi pertama, aku sudah menyiapkan sequel lain, ada dua chapter. Berhubung aku pakai sequel yang baru, aku tidak bisa menjanjikan jika aku akan membuat sequel lagi. Untuk sequel yang kumaksud pun tidak bagus, terlalu membosankan ceritanya, menurutku.
Oke. Sepertinya cuap-cuapku sama panjangnya dengan cerita di atas :D sudah, ya. Semoga kalian menikmati tulisanku ini.
Sampai bertemu di ceritaku selanjutnyaaaaaaaaa.
.
.
Big Thank's To:
[The Betrayal (ChanBaek Vers)]
aizahputri ll khakikira ll fks24 ll Byun Eunmi ll guest ll bbh ll LittleOoh ll sunh736 ll parkbaexh614 ll cici fu ll Lastrie964 ll byunlovely ll realgph ll laxyovrds ll missoh ll Soomay ll xxjjwwminorealllpcy ll Dian2091
.
.
Terima kasih kalian sudah meluangkan waktu untuk membaca dan memberikan komentar pada ceritaku. Mohon maaf aku tidak membalas review kalian, tetapi aku sangat senang mendapat respon yang baik dari kalian. Sekali lagi terima kasih, ya ^^
.
.
.
Yang berkenan dan ikhlas...
Bisa memberikan reviewnya untukku?
Kritik dan saran diterima dengan lapang dada dan tangan terbuka :*
.
.
.
Terima kasih ^^
