warning! boys' love. mentions of homophobic. single dad!Ong.


"Hari ini mama masak apa?"

Seongwoo mengedip bingung kepada Woojin yang menggenggam tangannya seraya mereka berjalan pulang. "Hah? Kamu tahu dari mana hari ini mama akan masak?"

"Habis mama jemputnya lebih awal."

Woojin berbicara sambil mendelik ke tas kain berisi bahan makanan. Dia ingin menunjukkan bahwa jawabannya juga datang dari tas yang sedang dibawa Seongwoo. "Kok aku kesannya jadi mama yang jahat, jarang menjemputmu tepat waktu dan hanya jemput tepat waktu kalau ada acara spesial?" tanya Seongwoo bercanda.

"Mama kan memang begitu." Seongwoo tertohok mendengar jawaban Woojin. Begitu dia mau membalas, Woojin sudah menyahut lagi; "Tapi karena mama kerja keras buat Woojin mama jadinya sering datang telat. Jadi nggak apa-apa, sih."

Senyuman Seongwoo mekar dengan kesan yang lembut. "Oh, ya?" katanya melirik ke Woojin yang berjalan sambil menggandeng tangannya. "Kamu sepi nggak, sih, kalau ditinggal sampai sore begitu?" tanya Seongwoo penasaran.

"Nggak ada teman," jawab Woojin. "Mereka sudah pulang semua. Tapi aku boleh gambar-gambar di sana dan main setelah tugasku selesai."

"Guru di sana baik nggak sih?" tanya Seongwoo lagi. Kemudian Woojin kembali menjawab. Tahu-tahu saja, mereka sudah sampai di rumah. Seongwoo membuka kunci pintu dan membiarkan keduanya masuk ke rumah yang sepi. Woojin pergi ke kamarnya untuk membereskan buku dan mandi. Seongwoo bergegas ke dapur, mengeluarkan bahan makanan yang telah ia beli dan mencuci tangannya untuk bersiap memasak.

Tiga tahun berlalu dengan cepat. Woojin tumbuh menjadi seorang anak kelas dua SD yang gentleman dan cerdas. Dia sudah bisa merelakan tempat duduknya untuk para ibu hamil dan lansia di kereta ketika mereka sedang bepergian, dan itu sejujurnya tidak akan bisa menahan Seongwoo untuk tidak membungkuk dan mencium dahi anaknya bangga. Dia juga mengerti kondisi Seongwoo yang berjuang sendirian mencukupi kebutuhan mereka, dan tidak ngambek ketika dia harus pulang ke penitipan anak sampai Seongwoo beres kerja baru mereka bisa pulang ke rumah.

Sejak awal kelas dua SD, Seongwoo memang sudah mengajarinya untuk berjalan sendiri ke tempat penitipan anak. Semenjak anak itu kelas dua SD, jam pulang sekolahnya menjadi lebih siang. Yang berarti melewati jam makan siang di kantor Seongwoo, dan sang mama tidak bisa keluar dari kantor selain pada saat jam makan siang. Maka akhirnya Seongwoo memutuskan, mungkin ini saat yang tepat untuk mengajari Woojin bepergian sendiri. Tempat penitipan anak itu tidak terlalu jauh dengan sekolahnya.

Seongwoo menata makanan yang sudah masak di meja makan dan menutupnya dengan tudung saji. Lantas dia bergegas ke kamar Woojin dimana anaknya itu sedang berbaring sambil membaca buku. "Woojin," tegur Seongwoo, memeriksa meja belajarnya. "Kamu sudah membereskan peralatan untuk besok?"

"Sudah," jawab Woojin. "Aku lapar."

"Oho?" Seongwoo menjawab sambil mengangkat alis. "Tumben, biasanya kamu susah diajak makan. Kamu mengintip ketika aku masak, kan? Jadi kamu tahu kalau hari ini menunya makanan kesukaanmu semua?"

Woojin hanya nyengir. "Baunya kecium sampai sini, ma."

Seongwoo hanya menyeringai lalu mengendikkan kepala mengajak Woojin. "Ya sudah. Makan dulu, yuk."

Menu hari ini simpel, tapi Woojin suka sekali udang goreng buatan Seongwoo. Seongwoo tak pernah bisa dan tak pernah niat untuk memasak sesuatu yang mewah atau rumit dimasak. Sejak ibunya pindah kembali ke kota asalnya, Seongwoo dan Woojin lebih sering makan dari luar dibanding makan masakan sendiri. Tahu begitu, Seongwoo mengusahakan sebaik mungkin untuk memasak di waktu senggangnya.

"Besok kamu pulang jam berapa, Jin?" tanya Seongwoo sambil makan mengingat-ingat jadwal kerjanya. Besok dia ada urusan kerja di hotel dengan klien, kebetulan perjalanannya melewati banyak kafe dan toko kue. Sekalian dia ingin membelikan sesuatu untuk Woojin. "Besok mama ada kerja, sepertinya akan mampir di kafe. Kamu mau dibelikan apa?"

Mata Woojin berbinar. "Kukis cokelat."

Seongwoo mengangguk, lantas membereskan piring kotor. Mereka sudah selesai makan. Dia mencuci piring di dapur sementara Woojin di sampingnya memegang kain lap dan menata piring bersihnya di rak. "Kamu ada tugas yang belum selesai nggak?" tanya Seongwoo.

Woojin mengangguk. "Ada tugas mat, tapi aku nggak ngerti." kemudian anak itu berjinjit ikut cuci tangan di samping Seongwoo, "Mama nanti ajarin Woojin?"

Seongwoo mengangguk, tangannya yang sudah kering mengelus rambut Seongwoo. "Iya, sayang. Mama mandi dulu, ya."


Seongwoo menghempaskan badannya ke ranjang tepat jam sembilan malam. Woojin sudah tidur di kamarnya. Dia menghela nafas sambil menatap langit-langit kamarnya. Hening sekali. Di saat seperti ini kegelisahan suka menyelinap dan mulai menuduh kalau Woojin sebenarnya tidak bahagia. Dia masih kurang sekali dalam menjadi orang tua yang baik.

Ponselnya berdering menyala. Seongwoo mengecek hanya untuk menemukan ponselnya dipenuhi oleh pesan spam nomor tidak dikenal. Seongwoo mendesah dan meletakkan ponselnya ke samping. Dimatikan. Tidak apa-apa, tidak akan ada yang panik. Tidak akan ada yang mencarinya.

Seongwoo bergelung dan menarik selimut menutupi tubuh. Tidak apa-apa. Dia tidak kesepian. Tidak apa-apa, besok matahari masih terbit.


"Sampai jumpa nanti ya, sayang," kata Seongwoo melepas gandengannya di tangan Woojin. Gedung sekolah dasar itu sudah ramai anak-anak yang akan sekolah. Seongwoo jongkok merapikan seragam Woojin dan mengecup dahinya. "Mama pergi kerja dulu."

Woojin mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Seongwoo. "Jangan lupa kukisnya, ma!" teriak Woojin.

Seongwoo hanya tertawa ringan dan mengangguk. Dia turun ke stasiun kereta bawah tanah, sambil menelepon rekan kerjanya bertanya apa dia sudah sampai di sana.

"Aduh!" keluh Jonghyun, suara menepuk dahinya terdengar dari seberang. "Aku lupa beli kopi. Kamu tolong belikan, deh. Nanti akan aku ganti uangnya."

"Boleh-boleh saja. Tapi aku nggak tau kopi seleramu dari tempat yang mana," jawab Seongwoo. "Aku sekarang lagi di kereta, nih. Nanti aku jalan kaki ke hotelnya, tapi aku kurang tahu kafe mana yang bagus. Biasanya beli di mana?"

Jonghyun diam sebentar untuk berpikir-pikir. "Ada satu kafe yang bagus, tuh. Lumayan sudah lama berdirinya. Kalau kamu naik dari stasiun, kamu langsung mengarah ke hotel, terus..."

Seongwoo menyadari kereta sudah sampai dan hendak turun. Dia menyarankan Jonghyun berbicara pelan-pelan supaya Seongwoo bisa mengikuti arahannya. Searah dengan hotel, hanya berjarak beberapa blok, Seongwoo tahu-tahu sampai di satu gedung. Jonghyun dari seberang sepertinya menyadari karena Seongwoo tiba-tiba berhenti berbicara.

"Kamu sudah sampai? Nama kafenya Big Bun."

"Sudah. Kamu mau apa?" tanya Seongwoo masuk ke dalam kafe, ikut mengantre. Dia melihat juga ada beberapa kudapan dijual, mengambil catatan mental supaya nanti pulang membelikan beberapa untuk Woojin.

"Kopi seperti biasanya saja. Sampai nanti, oke. Aku urus kedataan dulu," pamit Jonghyun. Lantas hubungannya dimatikan dan Seongwoo mendapat waktu untuk mengamati kafe seraya menunggu gilirannya memesan.

Seleranya Jonghyun bagus. Kafe itu autentik kuno tapi ada sentuhan modern dengan interiornya. Beberapa fotografi polaroid tergantung di tempat yang sudah disediakan, sepertinya kenang-kenangan. Lumayan banyak juga yang datang ke sini untuk sarapan, tergolong masih pagi tapi kafe ini sudah buka.

"Selamat pagi, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya satu pelayan dari balik konter kasir. Seongwoo menoleh menuju bar menu. "Empat double shot espresso, terima kasih. Tolong untuk dibawa keluar."

"Baik, tuan. Saya ulangi, empat double shot espresso dan dibawa keluar?" ulang pelayan itu, tangannya gesit menerima uang dan mencetak bon, memberikannya kepada Seongwoo. Lantas dia sibuk sendiri membuat pesanan Seongwoo dan bersiap menerima pesanan lain. "Silahkan menunggu di samping, tuan."

Seongwoo sendiri sibuk mengecek ponselnya dan memastikan apabila dia tidak telat. Tak lama, sepak kardus dengan empat gelas mengepul panas diberikan. Seongwoo tersenyum berterimakasih dan segera pergi dari kafe. Waktunya tidak banyak.


Jonghyun sudah menunggunya di lobi ketika Seongwoo sampai. "Seleramu lumayan bagus. Kafenya menarik," komentar Seongwoo menyerahkan pak kopi itu kepada Jonghyun. Lantas Jonghyun cengengesan dan menerima kopi itu sambil menggumamkan terima kasih. "Kan?" timpalnya setuju.

"Di sana ada kudapan dijual, jadi kupikir nanti sebelum pulang aku mampir ke sana lagi untuk membeli kudapan." ujar Seongwoo. Keduanya berjalan menuju lift.

"Oh," tanggap Jonghyun pendek. "Biskuit yang mereka jual memang terkenal enak. Tapi sebaiknya jangan kemalaman karena mereka tutup sore menjelang malam."

Seongwoo mengangguk. "Kuanggap itu sebagai izin pulang lebih awal."

Jonghyun melotot. Tentu saja tidak ada yang boleh pulang sebelum urusan dengan klien selesai. Seongwoo hanya mengangkat bahu acuh. "Single daddy yang muda pasti selalu dapat izin dari bos." katanya sambil menunjukkan percakapannya dengan atasannya di ponsel. Percakapan itu berbunyi sang atasan mengizinkannya pulang lebih awal apabila urusan dengan klien berlanjut terlalu larut.

Seongwoo hanya menyeringai senang melihat wajah sebal Jonghyun. "Kamu pasti selalu dapat izin dari bos."

"Tentu saja, bos tahu yang mana yang berkualitas sehingga boleh pulang duluan. Prioritas." jawab Seongwoo. Dia tertawa melenggang meninggalkan Jonghyun.


Di tengah pekerjaannya mengurus berkas, Seongwoo mengecek jam tangannya. Sudah jam empat lewat. Seongwoo harus berangkat sekarang atau Woojin akan menunggu lama. Dia beranjak beberes barang-barang dan mengambil beberapa berkas untuk dikerjakan di rumah. Jonghyun yang menyadari menoleh kepadanya.

"Kamu sudah mau pulang?" tanya Jonghyun. Agak kecewa mungkin karena ditinggal temannya. "Ya sudah, hati-hati di jalan."

Seongwoo mengangguk, menepuk bahu Jonghyun. "Aku duluan."

Langkah kaki Seongwoo ringan. Entah, hari ini merupakan hari yang baik untuknya. Seongwoo berbelok ke jalan tertentu, menuju kafe yang tadi pagi ditujunya. Seongwoo berjalan masuk dan menghampiri rak-rak berisi kudapan. Jonghyun benar. Banyak sekali kue-kue yang kelihatannya lezat, dan diantara banyak varian itu sekantung kukis cokelat pesanan Woojin bersinar seperti minta dibeli.

Seongwoo memutuskan untuk tidak membeli banyak. Satu saja cukup, makanan yang manis-manis tidak akan pernah bersahabat dengan anak kecil macam Woojin apabila kebanyakan dimakan. Dia berjalan menuju konter, meletakkannya di meja kasir dan mengecek menu sekali lagi. "Ini dan teh hijaunya satu, terima kasih."

"Dibawa pulang, tuan?"

Seongwoo mengalihkan pandangannya kepada pelayan dan mengangguk. Lantas menyerahkan uang kepada pelayan dan membiarkan pelayan itu memproses transaksi. "Silahkan tunggu di samping, tuan."

Kali ini dia tidak memainkan ponselnya. Seongwoo hanya cepat-cepat menerima pesanannya dan pulang.


Woojin senang dengan kukis cokelatnya. Seongwoo melarang Woojin langsung memakannya, jadi baru hari itu Woojin mau makan makanan yang sebenarnya dia tidak terlalu suka dan mengerjakan semua tugasnya sebelum makan. Barulah sesudah makan keduanya duduk di depan televisi, Seongwoo menonton Woojin yang asyik mengunyah kukis seolah itu makanan paling enak sedunia. Sedikit melukai harga dirinya sebagai orang yang menyiapkan makanan Woojin.

"Enak?" tanya Seongwoo agak sebal. "Tahu begitu sudah kubelikan setiap hari, supaya kamu pintar begini."

Woojin hanya mendelik dan melanjutkan makan kukisnya sambil menonton televisi. Seongwoo melirik kantung kecil yang bersisa sekeping dua keping kukis, "Aku boleh minta ngga?"

"Nggak," jawab Woojin anteng, menyingkirkan kantung itu dari jangkauan Seongwoo. "Ini kan punyaku, mama membelikannya buatku semua."

"Hei!" kata Seongwoo, matanya membeliak merasa tidak adil. "Yang membelikannya itu aku, tahu. Aku berhak mencicip satu keping!"

Woojin hanya melet. Seongwoo gemas dan menimpa Woojin bercanda-canda, minta setengah saja. Setelah beberapa menit berguling-guling di sofa Seongwoo akhirnya mengalah dan melepaskan kantung yang selama ini diperebutkan. "Memang rasanya seenak itu, ya?" tanyanya.

Woojin ragu beberapa detik sebelum menjawab. Seongwoo menunggu anak itu mengeluarkan jawaban.

"...rasanya mirip kukis dari kak Dan waktu aku dititipkan."


Seongwoo tidak bisa fokus kerja. Woojin sedang tiduran di sampingnya sambil membaca buku, keduanya sedang di kamar Seongwoo sementara Seongwoo sendiri mengerjakan berkas yang tadi dibawanya pulang. Akhirnya, dia menjedukkan kepalanya ke meja, dan Woojin berjengit lalu berteriak, "Ih, mama aneh!"

Benar. Benar. Pelayan yang tadi melayaninya tak lain adalah Daniel hanya dengan rambutnya yang sudah dicat kembali menjadi warna coklat terang. Seongwoo mulai bertanya-tanya kenapa tadi pagi dia tak menyadarinya, mungkin terlalu sibuk berkutat dengan ponsel.

Mana dia mengerti situasinya! Mau menyapa tapi tidak begitu dekat. Apalagi kejadian tiga tahun silam sebelum Daniel hilang membuat dia semakin tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Apalagi Woojin memohon supaya dibelikan kukis lagi. Apalagi Jonghyun minta supaya besok juga dibelikan kopi di tempat yang sama keesokan harinya. Aaargh! Seongwoo menjedukkan kepalanya sekali lagi. Woojin kini sudah berteriak ngeri karena mamanya bersikap seperti orang sakit jiwa.

"...Maaf, ya," kata Seongwoo sambil memeluk Woojin di bawah selimut. Setelah kejadian Seongwoo menjedukkan kepalanya ke meja, akhirnya dia memutuskan untuk mematikan laptop dan berangkat tidur lebih awal. Keadaannya jauh lebih ricuh karena Woojin takut.

Woojin mengubur muka di badan Seongwoo, mengantuk-antuk. "Hmm." lalu sesat hening dan Woojin menenggak menghadap Seongwoo hendak mengatakan kalimat terakhir sebelum tidur; "Besok mama belikan lagi kukis cokelat, ya?"

Mana bisa menolak, muka Woojin sedang lucu-lucunya? Akhirnya Seongwoo mengangguk, mengecup dahi Woojin selamat tidur. "Iya, besok mama belikan lagi."


Daniel langsung mengenalinya dan cengar-cengir begitu Seongwoo menyapa. "Iya, aku ingat. Walinya Lee Woojin yang suka datang telat."

Muka Seongwoo memerah padam karena malu. Memang reputasinya sejelek itu? "Kemarin aku juga datang ke sini."

Daniel mengangguk sambil menyiapkan pesanan Seongwoo. Kopi pesanan Jonghyun dan klien. "Aku tahu, aku ingin menyapa tapi ternyata kamu sudah melakukannya duluan hari ini."

Pak berisi empat gelas kopi diserahkan. Daniel tersenyum sambil memproses uang yang diberikan Seongwoo. "Bagaimana kabar bocah itu, Lee Woojin?"

"Baik," jawab Seongwoo pendek. "Dia menangis beberapa hari setelah kamu pindah. Dan dia juga suka kue dari sini karena katanya rasanya mirip dengan apa yang diberikanmu kepadanya tiga tahun silam."

"Oh," Daniel terlihat terkejut. "Dia menangis karena aku pindah?"

Seongwoo hanya menyeringai dan mengangguk. Sepertinya keberadaan Kak Dan penting bagi anak itu. Seongwoo melirik jam tangannya, dan pamit duluan. Daniel mengangguk dan kembali tersenyum sambil mengucapkan salam selamat tinggal.

Ketika pulang, Daniel memberikan Seongwoo satu kantung kukis cokelat ekstra. Katanya anggap saja sebagai permintaan maaf karena pindah secara tiba-tiba dan membuat Woojin menangis. Woojin tentu saja senang menerima dua kantung itu, tetapi tetap ada larangan—tidak boleh habis dalam waktu seminggu.

Sejak saat itu, meski tidak beli kudapan, Seongwoo jadi seperti langganan dari kafe Big Bun. Setiap pagi dia selalu menyempatkan diri untuk membeli kopi. Daniel juga jadi terbiasa dengan Seongwoo datang, paling tidak hanya butuh satu anggukan dari Seongwoo memastikan kalau pesanannya sama sebelum menyiapkannya dengan cepat. Tapi Woojin belum tahu kalau Daniel ada di kafe itu. Dia pasti rewel ingin ke sana bertemu dengan Daniel.

Kejadian ini terjadi beberapa minggu setelah Seongwoo terbiasa mengunjungi kafe Big Bun. Sore-sore itu dia menenteng tas kerjanya, agak santai karena Woojin bermain di rumah temannya, jadi dia leluasa menjemput tanpa perlu khawatir. Seongwoo awalnya ingin membeli kukis cokelat untuk Woojin. Begitu sampai tak jauh dari bangunan kafe, Daniel keluar dari kafe sambil membawa tas duffel. Seseorang di pintu kafe melambai kepada Daniel, memberi gestur supaya Daniel cepat pergi.

"Maaf teman, pacarku nanti marah kalau tahu kau tinggal di sini!" teriak orang itu. Daniel hanya mendengus. Menyodorkan jari tengahnya kepada sang teman. Kemudian dia berbalik, dan menangkap basah Seongwoo di tempatnya, berdiri kaku.

"Hai," kata Daniel. "Maaf ya, kafenya tutup lebih awal."

Seongwoo mengangguk cepat-cepat. Tanda tidak masalah. Tapi Woojin pasti ngambek kalau tidak dibawakan sesuatu, jadi Seongwoo harus cepat mencari gantinya sebelum terlalu malam. "Bisakah kamu bantu aku cari tempat lain untuk beli biskuit cokelat, aku tidak terlalu tahu daerah ini."

Daniel menyanggupinya. Tentu saja. Dan sesaat kemudian mereka duduk di meja salah satu kafe, menunggu kukisnya selesai dipanggang. Seongwoo melirik Daniel yang bermain ponsel di hadapannya. "Aku masih belum tahu kenapa kamu pindah."

"Oh?" Daniel mematikan ponselnya, meletakkannya di samping dan beralih menatap Seongwoo. "Ya, aku ada urusan. Sebenarnya aku kabur dari jangkauan ayahku, tapi bisa dibilang itu urusan."

Seongwoo mengangguk, tidak mau menggali lebih dalam. "Sekarang kamu tinggal di mana?"

"Aku tinggal di kafe," jawab Daniel. Seongwoo terkejut, karena kafe itu sepertinya tidak punya tempat tinggal yang memadai. "Bukan punyaku, kafe milik teman. Aku cuma nebeng sementara karena belum menemukan tempat tinggal."

"Tapi tadi kamu keluar," kata Seongwoo. "Bagaimana?"

"Biasa, temanku ingin berduaan dengan pacarnya di kafe. Pacarnya pasti nggak suka kalau mengetahui fakta ada seseorang homo tinggal di kafe pacarnya." jawab Daniel. "Paling beberapa hari ini aku akan menginap di sauna sampai pacarnya pergi lagi."

"Kenapa... kamu nggak tinggal... bersama kerabat?" tanya Seongwoo hati-hati.

Daniel terdiam sebentar sambil mengangkat alis jenaka, lalu tertawa memalingkan wajah ke arah jendela. "Kalau yang bagian itu nanti saja diceritakannya, kalau kita sudah jadi teman dekat."

"Lalu," kata Seongwoo pelan. "Aku bisa menyediakan tempat untuk tidur di rumahku."

Gila. Seongwoo tahu itu gila. Daniel juga sama terkejutnya, matanya membeliak dan kemudian menggeleng. "Nggak deh, aku nggak mau ngerepotin."

"Seriusan ini," kata Seongwoo. "Anggap saja balas budi menjaga Woojin selama aku lembur dulu. Lagian bukan selamanya, cuma tiga hari."

Daniel bimbang. Seongwoo menambahkan, "Woojin dari dulu ingin sekali ketemu dengan kamu."


"Lee Woojin! Anak ini. Cepat mandi atau aku yang akan membawa kamu sendiri ke sana!"

Woojin nyengir dan buru-buru kabur ke kamarnya. Daniel hanya tersenyum riang, senang juga main dengan Woojin. Dia mengikuti Seongwoo yang mengomel ke arah dapur. "Dasar! Tahu begini nggak akan kubawa ke dalam rumah."

Daniel berdeham, duduk di kursi meja makan. Dia menunggu Seongwoo yang sedang memasak di dapur sampai keluar. "Terima kasih untuk bantuannya."

Seongwoo menata makanan di meja, melirik Daniel sebentar sebelum masuk ke dapur lagi. "Sama-sama," jawabnya. "Beruntung sekali kamu bertemu dengan orang baik hati nan ramah ini."

Daniel tertawa. "Beruntung sekali, ya."

"Kak Daaaaan!" Dari kamarnya Woojin lari-lari dengan baju yang sudah ganti dan rambut lembab sehabis mandi. Dia langsung duduk di pangkuan Daniel. "Kak Dan menginap kan? Kan? Kan?"

Daniel mengangguk. "Iya, Jin. Tapi—"

"Aduh, kamu!" omel Seongwoo yang baru keluar dari dapur. Dia duduk di kursi dan mengisyaratkan Woojin menghampirinya. "Sini."

Woojin nurut saja, duduk membelakangi Seongwoo. Seongwoo mengambil handuk yang tersampir di bahu Woojin dan mulai mengeringkan rambut Woojin yang lembab. "Coba ceritakan ke kak Dan gimana rewelnya kamu nangis berhari-hari karena kak Dan pindah."

"Mama!" protes Woojin malu. Tapi kemudian dia menimpali; "Habisnya kak Dan pindah tanpa bilang-bilang. Aku kan, aku kan kangen."

Suaranya mengecil di akhir dan senyuman Daniel makin lebar kelihatannya. Kentara sekali lelaki itu suka dengan bocahnya Seongwoo ini. "Oh ya? Woojin kangen kak Dan?" tanya Daniel mengulang. "Woojin kan bisa ke kafe tempat kak Dan kerja."

Giliran Woojin yang mendelik ke Seongwoo. "Mama nggak bilang!"

"Kalau aku bilang pasti kamu rewel pengen ke sana, padahal kamu masih sekolah," kata Seongwoo membela diri. Dia mengusak-usak rambut Woojin saking gemasnya.

"Tapi mama, besok kan libur," protes Woojin. "Jadi hari ini aku boleh main sama kak Dan ya? Ya?"

Seongwoo diam saja menatap muka memelas Woojin. Akhirnya dia memalingkan muka, tidak mau terperangkap dengan jebakan mukanya. "Nggak boleh terlalu malam. Dan harus habiskan makan dulu."

Woojin sudah bersorak senang.


"Ceritakan aku satu cerita lagi, satu cerita lagi," rengek Woojin. Anak itu ketagihan cerita-cerita lucunya Daniel. Tangannya menggenggam baju Daniel erat dan tidak memperbolehkan dia dibawa pergi kemana-mana. Di sisi lain, Seongwoo menggeleng. Malam sudah semakin pekat. Waktunya tidur.

"Sudah jam setengah sepuluh, sayang. Besok-besok lagi mainnya, lagipula besok kau nggak sekolah. Kasihan kak Dan." kata Seongwoo tegas, membereskan buku-buku dan mainan milik Woojin. "Ayo, Woojin."

Woojin merengek sekali lagi, berharap hati Seongwoo akan luluh. Tetapi Seongwoo tegas sambil menjulurkan tangannya, mengajak Woojin ke kamar tidur. Akhirnya Woojin menyerah, turun dari pangkuan Daniel dan menghampiri Seongwoo. Seongwoo tersenyum, mengangkat Woojin ke dalam gendongan.

"Besok aku main lagi sama kak Dan," kata Woojin kecil.

Seongwoo tertawa ringan. "Lama-lama kamu mulai lupa dengan aku, hm?"

"Mama boleh ikut main kalau mau."

Sekali lagi dia tertawa. Seongwoo berjalan ke kamar mandi dan mendampingi Woojin sikat gigi, cuci kaki dan segala persiapan sebelum dia berangkat tidur. Sebelum masuk ke kamar Woojin, dia melirik Daniel sebentar yang sedang menatap keduanya. Membisikkan kata 'tunggu sebentar' sebelum dia masuk ke kamar Woojin.

Daniel hanya mengangguk.


Daniel sedang bermain ponsel ketika Seongwoo keluar. Dia tersenyum kepada Seongwoo yang duduk di dekatnya di sofa. "Sepertinya kamu gampang luluh kepada Woojin, ya." katanya sambil tertawa. "Coba tadi Woojin membujukmu sekali lagi, tampaknya kamu kalah dan membiarkan dia main sebentar lagi."

Seongwoo mendelik. "Kemana perginya seluruh sopan santun yang ada di taman kanak-kanak dan kafe itu?"

"Nah, itu hanya formalitas," kata Daniel singkat. "Aslinya aku seperti ini. Penuh ceplas-ceplos tapi banyak yang suka. Itu fakta."

Seongwoo memasang ekspresi ingin muntah. Kemudian dia kembali seperti semula. "Jadi kamu mau tidur di mana?"

"Lah, kok tanya ke aku. Yang punya rumah kan kamu." tanya Daniel geli. "Jadi aku tidur di mana?"

"Sebenarnya ada kamar tamu," kata Seongwoo ragu. "Tapi itu masih jadi gudang dan belum dibersihkan, pasti ada banyak debunya."

"Aku tidur di sofa saja," kata Daniel. "Sofanya lebar dan empuk, enak buat tidur."

"Jangan, masa kamu tidur di sofa," sanggah Seongwoo. Daniel sudah ambruk ke sofa, mendesah nyaman dan menggeleng tidak apa-apa. Seongwoo mendelik untuk memastikan, lalu akhirnya mendesah. "Ya sudah, tapi besok kamu tidur di kamar tamu."

Daniel mengangguk. Seongwoo beranjak karena sudah malam dan dia ingin tidur lebih awal mumpung besok libur. "Aku ke kamar ya," kata Seongwoo. "Kamar mandi ada di sebelah kamar Woojin kalau kamu mau mandi. Asal jangan berisik karena nanti mengganggu Woojin tidur."

Sekali lagi, dia memastikan bertanya, "Kamu beneran nggak apa-apa tidur di sofa?"

"Duh, diberi tempat tinggal saja aku sudah berterima kasih."

"Oh. Ya sudah. Selamat malam."


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Seongwoo sudah dibangunkan oleh Woojin yang sudah mandi dan segar. Seongwoo yang masih ngantuk, lantas mengira kalau itu mimpi dan beranjak tidur lagi. Nggak mungkin Woojin bangun sendiri dan secara ajaibnya sudah segar mandi di pagi hari tanpa disuruh.

"Mama! Mama!" teriak Woojin menggoyang-goyangkan badan Seongwoo. "Kak Dan mengajak aku jalan-jalan bareng ke taman. Boleh nggak?"

Hoh. Ternyata kejadian nyata. Seongwoo lupa kemarin ada Daniel yang tidur di sofa rumahnya. Seongwoo bangkit dari tidur, mengucek-ucek mata. Woojin duduk di pangkuannya sambil menatap berharap. "Ya sudah, hati-hati jalan-jalannya. Bilang ke kak Dan minta tolong ikat tali sepatumu kalau kamu bingung. Jangan jauh-jauh dari kak Dan."

Woojin bersorak. "Terima kasih, mama!" katanya mengecup pipi Seongwoo. "Woojin pergi dulu."

Seongwoo mengangguk. "Hati-hati, sayang."

Setelah itu suara Daniel terdengar samar pamit pergi. Seongwoo bergelung dan tidur lagi. Enak juga rasanya ada Daniel, Woojin dibawa pergi untuk bersenang-senang sementara dia kedapatan bagian senangnya juga, istirahat yang cukup. Seongwoo tidak begitu khawatir titip Woojin ke Daniel, dari dulu lelaki itu sudah bisa diandalkan.

Tiga puluh menit kemudian alarmnya membangunkan. Seongwoo berjalan diseret-seret ke arah kamar mandi di dalam kamarnya, mencuci muka untuk menghilangkan kantuk. Dia mandi dan berganti baju kemudian ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Seongwoo menyiapkan nasi dan mengeluarkan beberapa lauk dari kulkas. Dia ingat Daniel juga ikut sarapan.

Sesudah memasak dia menonton televisi di ruang tengah sambil bermalas-malasan. Sudah lama sekali dia tidak bermalas-malasan di pagi hari sambil menonton televisi, yang biasanya waktu itu diisi dengan bermain bersama Woojin atau mengajak Woojin jalan-jalan menghirup udara pagi.

Ini me time yang sempurna. Sudah lama sekali dia punya waktu pribadi seperti ini. Seongwoo menghabiskannya dengan menonton acara yang sebenarnya tidak terlalu menarik tetapi dia menikmatinya. Seongwoo mengingatkan diri untuk berterimakasih kepada Daniel karena membantunya mengurus Woojin.


Daniel dan Woojin pulang satu setengah jam kemudian. Muka keduanya cerah dan Seongwoo menyambutnya ikutan senang. Woojin bercerita mereka mengunjungi tempat adopsi hewan dalam perjalanan pulang, kak Dan membantunya menggendong kucing. Kak Dan punya kucing di kampung halamannya, jadi dia bisa menangani kucing dengan baik. Sarapan jadi ramai.

Setelah itu Daniel ditelepon temannya. Katanya karena masih hari Sabtu, kafenya buka. Daniel disuruh datang untuk membantu. Giliran Daniel yang melirik ke Woojin. Woojin melirik ke Seongwoo, merengek tanpa kata. Dia ingin ikut Daniel.

Seongwoo mendesah panjang. "Aku juga ikut, tunggu aku ganti baju. Kamu juga ganti baju dulu, Woojin, dan kamu harus janji nggak akan rewel di sana."

"Oh, aku cuma sebentar di sana, cuma sampai jam makan siang," sahut Daniel. "Kalau dia bosan dia boleh masuk ke konter kasir."

Seongwoo memelototi Daniel karena Daniel secara tidak langsung memperlebar jalan Woojin untuk diberi kebebasan. Bukannya apa-apa, memang pada umumnya bocah lelaki seumuran Woojin suka penasaran dan mengutak-atik tanpa tahu bagaimana cara memperbaikinya lagi. Bikin rusak peralatan, istilahnya.

Daniel mengangkat bahu sambil tersenyum.

Mereka sampai di kafe yang waktu itu baru saja dibuka. Daniel masuk ke ruang ganti khusus staff dan keluar lagi dengan apron, berjaga di konter kasir. Seongwoo dan Woojin duduk di sudut kafe. Woojin yang takjub dengan segala desain kafe itu asyik melihat-lihat foto yang terpajang di bulletin di dekat mereka. Sementara itu, Seongwoo melihat-lihat menu.

"Kamu mau apa, Woojin?" tanya Seongwoo. "Kamu mau susu?"

Woojin mengangguk. "Aku ingin kue cokelat, ma."

"Satu susu plain, kue cokelat dan double shot espressonya satu. Itu saja," kata Seongwoo kepada pelayan. Kemudian dia menoleh kembali kepada Woojin yang melarak-lirik senang. Tentunya pengalaman pertamanya ke kafe yang seperti itu dan dia tidak bisa menyembunyikan rasa semangatnya. "Kamu suka ke sini, hmm?"

"Woojin kalau sudah besar juga mau kerja di kafe," kata Woojin tiba-tiba saja. "Woojin mau seperti kak Dan. Kak Dan keren kalau sedang kerja."

"Jadi maksudmu aku nggak keren?" tanya Seongwoo pura-pura tersinggung.

"Mama nggak pernah ngasih lihat Woojin mama kerja seperti apa." jawab Woojin pendek. "Woojin juga mau lihat mama kerja."

Tangan Seongwoo terjulur mengelus rambut Woojin sementara satunya lagi menumpu dagu. Dia tak lepas-lepas menatap anaknya. "Nanti kamu di sekolah ada kegiatan seperti itu, mama dan orang tua yang lainnya datang menunjukkan profesi kami."

"Oh ya?" tanya Woojin tertarik. "Lalu? Lalu?"

Seongwoo tertawa. "Ya, begitu saja. Bagus kan, supaya kamu tahu jenis-jenis pekerjaan apa saja."

Woojin dengan mengejutkannya berperilaku baik. Tidak terlalu heboh meski dibawa Daniel ke konter kasir. Dia menonton di samping Daniel yang sibuk menerima pesanan dan membuat minuman-minuman. Kadang-kadang, satu-dua pelanggan melirik kepada Woojin dan tersenyum karena bocah itu lucu. Seongwoo di sudut jadi bangga sendiri, siapa dulu yang mengurusnya? Huh. Tentu saja tak lain dari seorang single dad ganteng Ong Seongwoo.


Suatu malam itu cerah. Woojin duduk di lantai sambil menangis meraung-raung keras, sikap yang biasa ditunjukkannya ketika dia sedang protes terhadap sesuatu. Seongwoo mengusap dahi di sofa tak jauh dari bocah itu, dan Daniel yang tidak nyaman melihat Woojin menangis. Dia ingin menenangkan Woojin tetapi dilarang oleh Seongwoo.

"Woojin-a, kak Dan menunggu izinmu supaya dia bisa kerja lagi di tempat semulanya, kenapa kamu melarangnya pulang ke rumahnya sendiri?" kata Seongwoo pelan, beranjak dari tempatnya dan berjongkok di dekat Woojin. "Jangan duduk di lantai, ayo kita antar kak Dan ke depan."

"Nggak mau!" teriak Woojin menepis tangan Seongwoo yang akan menggendong tubuhnya, menangis lagi lebih keras. "Kak Dan jangan pulang, mama mengusir kak Dan. Kak Dan di sini saja bareng Woojin, tinggal bareng Woojin dan mama."

"Woojin, bukan begitu maksudku," ujar Seongwoo.

"NGGAK MAU!" teriakan Woojin semakin menggelegar. "Aku mau kak Dan di sini. Mau kak Dan."

Kalau begini jadinya, Seongwoo jadi semakin frustasi. Sudah semakin malam, Seongwoo tidak enak kepada Daniel yang terus menunggu Woojin selesai menangis sambil menenteng tas bajunya. Woojin mengambek juga bukan urusan mudah, akan susah membawanya ke sekolah kalau dia semalaman terus menangis.

Siang-siang itu memang Daniel sudah beres-beres barangnya. Begitu ditanya, ternyata pacar teman Daniel sudah pulang dan berarti itu waktunya bagi Daniel untuk kembali ke kafe. Pulang. Ya, pulang. Dan Woojin tidak setuju dengan gagasan Daniel akan pergi dari rumah mereka. Meski sudah dibujuk akan bertemu rutin per minggu di kafe sekalipun, dia mengotot ingin tinggal dengan Daniel. Jadinya seperti ini.

"Aduh, kamu ini..." ujar Seongwoo pelan, sudah di ujung kesabarannya. Siap-siap untuk memarahi Woojin yang bersikap merepotkan.

Tangan Daniel menyentuh pucuk kepalanya sekilas. Seongwoo mengadah. Tas Daniel sudah terletak di sudut ruangan, kini lelaki itu berjongkok di hadapan Woojin dan mengangkat tubuh sang bocah dengan gerungan pelan. "Aigu. Kamu ini sudah besar, jangan menangis di lantai."

Daniel duduk di sofa dan membiarkan Woojin memeluk tubuhnya sambil menangis. Pelan-pelan tangisan itu meredup dan berubah menjadi sesenggukan. "Aku nggak jadi pindah, aku akan di sini terus." bisik Daniel, mengusap-usap punggung Woojin. "Jangan menangis lagi. Sudah cukup menangisnya."

Daniel mengintip raut muka Woojin yang sembab sehabis menangis. Kemudian dia tersenyum geli sendiri. Seongwoo yang melihatnya bertanya 'kenapa?' tanpa suara, dan Daniel menjawab muka Woojin lucu dilihat. Seongwoo mendengus pelan, kemudian melanjutkan menonton Daniel dan Woojin sedang berbicara pelan-pelan.

"Karena sekarang sudah malam, Woojin harus tidur, yah?" bujuk Daniel lembut. "Woojin sudah mandi, sudah makan, sudah menangis. Pasti lelah, Woojin harus tidur supaya besok kuat sekolah."

"Kak Dan nggak bakal pergi?" tanya Woojin, menempel erat kepada Daniel. "Kalau Woojin tidur nanti kak Dan hilang besoknya."

"Nggak bakal, Jin," janji Daniel. "Besok pagi aku yang mengantar ke sekolah. Aku janji."

Dengan begitu Woojin bisa dibujuk masuk ke kamarnya. Seongwoo menunggu di ruang tengah, menunggu Daniel datang. Ketika akhirnya lelaki itu duduk di hadapannya, Seongwoo memasang muka memelas. "Aku sungguh minta maaf, astaga, maaf karena ngerepotin..."

"Nggak apa-apa," jawab Daniel buru-buru. "Aku yang mesti minta maaf karena menumpang kelamaan."

"Nggak," sanggah Seongwoo lagi, lemah. "Sesungguhnya, aku akan senang sekali kalau kamu mau tinggal di sini permanen."

"Maaf?" tanya Daniel terkejut.

"Serius," kata Seongwoo. "Aku nggak keberatan. Apapun identitasmu, urusanmu, ini tulus. Kebetulan ada satu kamar, aku sempat bilang kemarin. Meski belum dibersihkan, kamu bisa menempati di sana... Tentunya jauh lebih baik daripada tidur di kusi kafe."

"Aku nggak akan tinggal di sini secara gratis," protes Daniel menolak. "Itu terlalu menguntungkan di sisiku dan merugikan di sisimu."

"Kamu bisa bayar sepertiga dari biaya listrik dan segalanya," usul Seongwoo. "Tentu saja sepertiga karena aku menampung dua orang. Dan Woojin juga akan senang sekali, kamu orangnya aktif mengajak dia jalan-jalan dan mengobrol. Jadi kita sama-sama menguntungkan." tambahnya.

Daniel bimbang sekali. Dia menatap Seongwoo. "Seriusan?"

Seongwoo mengangguk. Daniel mendesah dan akhirnya bangkit dari kursi. Dia berjalan ke arah pintu keluar.

"Jadi bagaimana?" tanya Seongwoo, mengikuti figur Daniel. Masa dia mau pergi sebelum menjawab tawaran Seongwoo?

Daniel menoleh, menggaruk belakang kepalanya. "Aku ambil barang-barang dan sisa bajuku dulu di kafe."


Author's Note:

- Update yang lebih awal karena proses penulisannya berjalan pesat, aku juga kaget hahahahah.

- Kalian mau smut tida? Adegan itu (kalau jadi ada) akan muncul masih lama, tapi aku tetap butuh pendapat kalian. Aku merencanakan adegannya tidak eksplisit dan dibuat seperlunya untuk melengkapi dan memanaskan(uhuk) jalan cerita. Dimohon pendapatnya!

- Aku jadi kepincut adek-adek NCT. Racuni aku racuni saja hahahaha aku mau banget diceritain dong soal OTP mereka dan apa-apanya yang spesial. Hit me up! Siapa tahu ntar aku bersedia brojolin cerita tentang mereka.