Mas-Dongo Kembali :D

Nulis fic sampai goblok, besok UN malah ogah-ogahan belajar, otak ngayal sampai dimarahin emak. Maaf baru sebulan update, tetapi satu bulan ini bukan berarti saya sibuk. Sudah 10k tuh ngetiknya. Puas? Mungkin ada ketidakaruan dalam EyD. Tetapi, saya sudah berusaha yang terbaik.

Baru kepikiran untuk ganti nama menjadi Arppegio : Quintuple Pom-Pom. Karena mbok ada misjudul dengan KanColle : Quintuple Pom-Pom yang mungkin– saya BIU sekali lagi, Mungkin akan diterbitkan. Soal teknologi, SKL UN SMP IPA bicara tentang resultan gaya, karena fic ini saya dipaksa memperdalam ilmu fisika gila seperti Teori Relativitas Umum, Teori Gerak Jatuh Bebas, bahkan Teori Mekanika Kuantum dan Teori Pegerakan Partikel.

BTW, besok tanggal 9 mau UN, mungkin updatenya sedikit molor. Doakan saya agar bisa mengerjakan dengan tenang dan mendapat nilai sempurna, amin.

Langsung saja, ke fanfic-nya. Ini dia!


Arpeggio : Quintuple Pom-Pom

Author : Мас Донго

Disclaimer by : Yang buat LOL


Yokosuka, 29 Februari 2056, 16.43

'Krakk!'

Flashdrive putih 1 GB hancur oleh sepatu hitam. Penggunanya adalah seorang gadis SMA dengan pakaian putih dan rok pendek berwarna biru. Rambutnya lurus namun hiasannya begitu nyentrik dengan lipstik merah menyala.

Disekitar gadis tersebut terdapat 6 gadis berpakaian dan style sama. Mereka tampak menatap tak bersahabat.

Bukan itu masalahnya, gadis satunya yang tengah jatuh terduduk tak mempermasalahkan harga benda tersebut. Toh, orang yang sama telah menghancurkannya berkali-kali. Hanya ia lupa menduplikat isinya. Itu adalah presentasi hasil penelitiannya selama 3 bulan mengenai teknologi hulu ledak korosif kapal fog. Ditambah harus dipresentasikan besok hari.

"Ups, maaf! Aku tidak sengaja," ucapnya seraya cekikikan.

Ekspresinya itulah yang membuatnya ingin menghajarnya habis-habisan, namun tubuh pucat yang lemah tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk mempertahankan dari flu saja ia tak mampu. Terlebih, posisi keluarganya yang penting tak akan mampu menjeratnya.

Ia masih tak percaya bila tugas yang telah dikerjakan lama hancur begitu saja. Rasanya, ruang hatinya hancur menyisakan jurang kosong yang dalam. Sekarang, dia harus melakukan apa sekarang?

Ia kemudian bangkit. Timbul amarah yang sangat pada dirinya. Mengapa ia harus terpuruk diantara pelacur-pelacur itu? Mengapa sekolahnya dan impiannya hancur karenanya? Ia sudah siap membayangkan tinjuannya yang mampu mematahkan rahangnya. Persis seperti film tinju yang pernah ditontonnya.

"Hey-hey lihat! Si kecil Yuki bangkit!"

"Aku takut~~"

Ia tak memperdulikannya. Matanya sudah menyala-nyala dan surai pirang dengan ikat 2 rendah melambai-lambai bak api. Tinjunya mengepal erat menyimpan dendam sangat yang akan terlampiaskan dengan cepat. Inilah, langkahnya yang akan menjadi titik balik kekerasan mental dan fisik oleh seluruh siswa -terutama mereka- disekolahnya.

"Dasar sialan!"

Namun, pemimpin dari kelompok tersebut dengan mudahnya menangkap tinjunya. Kemudian tangan satunya menampar pipi kanannya hingga merah. Rasanya sakit, sangat sakit ditambah menelan kekecewaannya sangat. Mengapa ia tak sanggup untuk sekadar menyemtuh pipinya saja?! Sial, ia terlalu le

Seketika tubuhnya dihempaskan ke belakang. Ia lemas terhuyung-huyung hingga tak sadar ia jatuh terduduk di kolam ikan. Rasa dingin begitu menusuk hingga ke tulang-belulang.

Wanita tersebut mengambil sesuatu dari tasnya yang merupakan 2 buah tisu basah. Tangannya dilap beberapa kali kemudian tanpa belas kasihan tisu tersebut dilemparkan dan tepat mengenai kepalanya.

"Gadis menjijikkan sepertimu ingin menghajarku? Ingat, semua orang tak sudi hanya bersentuhan denganmu! Dasar tikus selokan!" serunya keras dan meninggalkannya diselingin candaan dan obrolan mereka.

Lengkap sudah penderitaanya. Dulu dipuja sekarang dicaci-maki. Sudah sejak SMP, Namun tak pernah separah di sekolah ini. Sekarang, cita-citanya untuk mengalahkan semua fog yang ada di dunia pantas ditertawakan.

Gadis itu perlahan menitikan air matanya. Mengapa ia begitu lemah? Apa yang sudah diperbuatnya? Dan terlebih, bagaimana presentasinya besok? Sudah! Ia merasa segalanya telah berakhir. Ia tinggal meratapi nasib dan menangis sejadi-jadinya.

Ia tak mungkin meminta sedikit kopian data bahkan tanpa mengklaimnya, semua orang jijik kepadanya. Bahkan, gurunya sedikit sekali berempati dan ia sebenarnya tak dianggap di sekolah tersebut.

Matanya makin sembab. Tetes demi tetes air matanya jatuh ke kolam ikan. Suara tangisannya makin jelas. Ia ingin menumpahkan segala uneg-uneg-nya sekarang. Namun, sekeras apapun ia meraung-raung tak akan ada yang peduli.

Akhirnya, dia berpikir bila hal itu sia-sia untuk dilakukan.

Ia harus bergerak sekarang. Melakukan rencana darurat yang sekilas terlintas. Mengelap matanya yang basah, ia segera mengambil Flashdrive yang sudah remuk dan berlari. Pakaiannya yang basah mempengaruhi gerakannya. Namun ia tak peduli dan terus berlari di saat ini.

Menaiki tangga di sebuah rumah kos, Ia buru-buru mengambil kunci dan memasuki ruangan yang bisa dibilang cukup berantakan. Diambil laptop kecilnya dan diambilnya beberapa kabel dan disambungkan ke bagian dalamnya yang sudah terbuka.

Laptopnya booting cukup lama. Saat selesai, kursor segera membuka file manager tanpa basa-basi. Ia berharap sekali kepada tuhan bahwa ia masih bisa menyelamatkannya.

Dan harapannya terkabulkan.

Drive F dengan logo berbeda muncul. Tak lupa segitiga kecil juga ada.

Namun, ia tak mengharap sampai di situ saja. Diarahkan kursor ke logo tersebut dan munculah berbagai file didalamnya. Ia akhirnya bisa menarik nafas lega. Tak sadar embun terlihat di sudut matanya.

"Syukurlah tuhan," ucapnya dengan pelan.

Tak lama, semua file tersebut segera dikopi dan dipaste di direktori Harddisk. Jendela transfer segera muncul, itu cukum membuat kekhawatiran dalam dirinya. Tak butuh waktu lama, akhirnya selesai.

Sekarang ia benar-benar terkulai lemas. Tak menyangka tuhan masih mengijinkannya untuk mengejar impiannya. Rasa puas sekaligus kecewa terpancar di raut wajahnya yang pucat bermata cokelat.

Diambil sebuah foto. Gambar tersebut menunjukan sepasang paruh baya dengan latar musim gugur. Sang pria memakai pakaian laut dan wanita memakai sweater. Tangannya yang lembut mengelus kaca foto tersebut yang mulai berdebu.

Ia menatap kalender yang tergantung sekarang tanggal 29. Hampir semua tanggal sudah ia silangi dengan spidol merah. Kecuali 30, ia tak disilang namun dilingkari.

"Ibu, Ayah, tuhan masih mengijinkanku untuk hidup. Mungkinkah semua ini akan berakhir? Semua siksa pedih ini, dan fog, apakah semua yang kakek katakan tentang keindahan laut itu benar, ayah? Ibu, maaf telah mengecewakanmu. Kini aku sudah menyerahkah semua ke tuhan besok. Bila Aku mati, apakah aku dibangkitkan lagi menjadi fog?"

Tak sadar, sebuah tetesan air membasahi foto tersebut. Sebuah tetes lagi jatuh dan jatuh lagi. Mengingat semuanya membuat gadis itu tak kuasa menahan air matanya. Tangannya mencoba mengelap, namun tetap saja mengalir deras.

Tangannya lemas, benar-benar lemas. Tangannya yang tadinya menggengam erat foto kedua orang tuanya kini rela melepaskan foto tersebut jatuh ke lantai yang berlapis karpet. Tak pecah karena terlalu rendah, namun foto tersebut terkulai di samping bungkus obat bertuliskan AZT yang harus ia minum nanti.


Suasana Kota Kure dini hari tak seindah dulu semenjak fog ada. malam yang dingin ini, tak ada aktivitas apapun yang bisa terlihat. Dari atas hotel ini, orang-orang yang berlalu-lalang bisa dihitung dengan jari. Lampu-lampu yang menyala belum cukup untuk menerangi setiap ruas jalan.

Itu juga yang terpikirkan oleh gadis berambut hitam legam yang memakai piyama satin berwarna merah menyala. Ia baru bangun 5 menit yang lalu pada saat Orenburg dan Losharik tidur amatlah lelap di ranjang sebelahnya -dengan posisi berpelukan-. Matanya menandang indahnya suasana kota dari jendela. Sungguh tenang dan sepi, seperti hatinya. Mengapa ia tiba-tiba terbangun? Mungkin "apapun itu" membangunkannya untuk melakukah hal ini.

Tiba-tiba, di langit muncul kilatan cahaya yang lenyap. Itu bintang jatuh. Kata orang, bila mengucap sebuah impian ke bintang jatuh, maka impian itu terkabul. Entah Ra percaya atau hal itu, ia menarik nafas dan bergumam perlahan, "Semoga Kami selalu bersama."

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba tubuhnya terasa seperti terkena listrik tegangan kecil. Sepertinya ada yang memanggilnya. Mungkinkah ini Kursk? Tidak, dia tak yakin itu. Kursk sendiri biasanya tak menghubunginya kalau langsung ke base. Lagipula bila ia disini, mengapa ia tak langsung mengetuk pintu? Tetapi siapapun itu, ia akan memanggilnya.

Dunia di matanya berubah memutih. Perlahan cahaya putih itu lenyap dan menampakan jelas ruangan yang dibatasi meja sepertiga tinggi dan sisanya kaca fixed glass sampai atas. Ruangan itu bercat hijau dan sekat kecil yang membagi meja dan kaca tersebut menjadi beberapa bagian. Tak lupa di setiap sekat terpasang 2 gagang telepon; yang satu dibagiannya dan satunya lagi di seberang kaca. Tak salah lagi, ruangan ini persis seperti tempat untuk penjenguk dan penghuni penjara untuk bertemu dan dapat saling berkomunikasi.

Ia terkejut melihat siapa yang menghubunginya.

Di sana tepatnya bilik tengah, sudah terdapat wanita bersurai hitam dan poni rata yang dihiasi simpul tali sepatu di atas kepalanya. Ia memakai gaun kerah balon berwarna putih. Bibirnya menyunggingkan senyum ke arahnya. Ia berada di pihak penjenguk. Sementara dia sendiri? Tentu, 2 lapis pintu tralis besi di belakangnya itu sudah cukup menunjukan bahwa ia seperti penghuni tahanan.

Ra ikut membalas senyumnya dan duduk dihadapannya. Pikirannya siap dengan berbagai argumentasi yang akan dilontarkan. Tangannya mengangkat gagang telepon dan diletakan di samping telinganya, begitu juga dengan gadis itu.

"Yamato. Ternyata Kau. Kau sudah bosan bertapa terus lalu Kau mencari angin. Bukankah begitu?" buka Ra.

"Begitulah, Prototype Improvisasi Nomor 3 'Oktober Merah'. Oh, atau aku harus memanggilmu dengan nama Krasny Oktyabr?" balas gadis itu.

"Ra saja cukup, daripada lidahmu keseleo. Ngomong-ngomong, bagaimana Kau bisa menemukanku?"

"Hahaha… justru aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Aku tepat dibawahmu sekarang. Jadi begini, aku jalan-jalan ke kota ini. Saat ingin ke hotel ini, entah mengapa aku merasa ada pelindung di sini. Ditambah ada 3 mental model. Dari kekuatannya, aku kira Musashi dan kawalannya. Ternyata begini kejadiannya. Aku bertemu armada terkutuk."

"Begitu ya," ia menyilangkan tangan di depan dada. Yah, ngomong-ngomong di bawah kamarnya adalah ruang tunggu di lobi hotel, "mengapa aku tak bisa menemui mereka berdua?"

"Antri mba! Saluran komunikasi ini hanya bisa dilalui satu orang saja," ucapnya.

"Baiklah. Kebetulan saja aku bertemu dengan pemimpinnya. Bolehkah kita ngobrol ngalor-ngidul? Umm… apakah Kau baru bangun tidur. Matamu cukup sayu?"

"Begitulah. Entah mengapa rasanya ada alarm yang membangunkanku. Entah aku merasa haus atau apa," Ra tertawa garing. Tiba-tiba, sesuatu melintas dipikirannya hingga ia perlu mengembalikan sikap, "Yamato, menurutmu Kau percaya bila bintang jatuh dapat mengabulkan kita?"

Yamato terdiam sebentar mencoba mencerna apa yang perlu ditanyakannya, "Aku tak tahu. Namun aku percaya bila kita berpikiran positif, apapun yang kita inginkan akan terkabulkan."

"Begitu ya."

"Ngomong-ngomong. Siapa gadis kecil yang sedang tidur di atas sana itu bila bukan Musashi?"

"Itu? AS-12. Atau Kau bisa memanggilnya Losharik. Mengapa?"

Matanya sedikit berputar.

"Losharik ya, panjang hanya 60 meter. Namun aku dapat membaca kekuatannya benar-benar terlampau besar untuk menggerakan mental model sekecil dia," jawab Yamato.

"Itulah mengapa kemarin Nagato tenggelam hanya karenanya."

"Nagato?!" Yamato terhenyak, tak percaya apa yang dikatakannya. Namun, ia mencoba menenangkan diri, "Oh iya, justru aku baru tahu bila ia tenggelam oleh anak itu. Padahal ia sudah berjanji untuk menenggelamkan kalian. Ternyata ironis, ia sudah tenggelam oleh salah satu kapal pengkhianat fog yang bahkan tak mempunyai tabung torpedo," gumam Yamato.

"Oh, apa perlu Aku sebutkan track record-nya waktu itu? Mengendalikan Amagi, menahan 27 torpedo korosif sekaligus, merusak sistem hampir semua seedhund, Menembakan supergravity cannon 2 kali dengan rentang 1 menit, ditambah lagi U-2501 tenggelam akibat kelalaian Nagato sendiri."

"Apa?!"


Laut Filipina, 1073 km Sebelah Timur Laut Pulau Luzon, 17 Mei 2053, 12.03

Semuanya terasa amatlah cepat. Pemandangan ruang keluarga seolah lenyap berganti dengan layar monitor dan beberapa hologram dan lingkaran hitam yang berputar mengelilinginya. Beberapa guncangan dirasakan gadis berambut putih pucat diikat dua.

"Losharik! Sadarlah!"

Ia tersentak mendengar suara tersebut. Itu Orenburg, ia yakin itu.

"Ya Nee-san."

"Kau tahu kan apa yang harus Kita lakukan?"

"Ya. Aku mempersiapkan diri."

Lingkaran hitam bertambah lebar. Sebuah kapal selam kecil di perut bawah kapal selam yang jauh lebih panjang memperlihatkan tribal hitam yang menyala. Pipa yang ada di ujung buritannya menyemburkan arus air dengan deras sama seperti kapal induknya, ini tentu berbeda dengan kebanyakan fog yang menyemburkan roket.

"Eject!"

Kapal selam tersebut terlepas dari kapal selam utama dengan tulisan BS-136 Oreburg di menaranya dan lambang kutukan yang menyala hitam. Wave armor segera menahan 3 gilingan merah Thanatonium sekaligus. Agak jauh di atas mereka, 15 kapal permukaan berjalan sembaring melepaskan torpedonya yang terlihat bagaikan rambut putih yang terurai.

Namun, Losarik dengan berani mengitari kapal tersebut. Torpedo-torpedo segera meledak mengeluarkan puluhan bola merah yang menggema air. Biarpun segitu, ia masih bisa menahannya dengan santai. Lingkarannya tiba-tiba melebar dan kedua telapak tangannya ditempelkan di dada.

Kita ke atas permukaan.

Sebuah kapal jelajah tempur dengan 5 kubah meriam, warna tribalnya tiba-tiba berkedip-kedip. Mental model dengan surai emas dan pakaian kaos tiba-tiba berteriak kesakitan dan memegang kepalanya. Tubuhnya mengeluarkan retakan putih dan lingkaran emasnya juga kedap-kedip.

"Amagi! Apa yang telah terjadi?! Tanya seorang wania dengan kimono merah yang khawatir dengan kapal yang berada 600 meter sebelahnya.

Tiba-tiba, mata gadis itu berubah menjadi abu-abu dan menatap tajam pada mental model itu. Surainya ikut berubah menjadi putih. Lingkarannya berubah warna menjadi hitam dan melebar.

Laut tiba-tiba terbelah sangat lebar hingga beberapa kapal selam dibawah terlihat. Bagian bawah dari kapal tersebuh terpisah ke bawah menjadi 2 menampakan 12 piringan berjajar dengan warna hitam menyala terang. Piringan-piringan itu bergerak ke samping saling berlawanan. 6 pasang piringan yang berjajar di kedua sisi kapal tersebut menyala semakin hitam. Kilatan listrik hitam menyala di bawahnya dan seketika 2 semburan hitam menyembur ke arah depan. Supergravity cannon tanpa diduga ditembakan dari kapal tersebut

"Amagi! Apa yang kau lakukan! Sadarlah!" teriak wanita itu sekali lagi.

"30 detik untuk tabrakan," ucap salah seorang di otaknya. Itu bukanlah suara Oreburg, namun Ra.

Ia tak bergeming dan terus bergerak. Roket di haluan mengarahkan kapal hingga semburan menebas 15 kapal berbagai jenis sekaligus. Tak lama ledakan hebat segera menghiasi lautan.

Semburannya masih berlanjut menuju Nagato sekarang. Beberapa bagian kapal tersebut terbelah membuat air laut semakin luas terbuka. 6 buah lubang hitam terbentuk di sekitar kapal dan semburan tersebut segera terhisap.

Perlahan. Semburan semakin menciut dan musnah. Gadis yang berubah tersebut kembali seperti semula. Warna tribalnya juga menjadi emas. Ia segera jatuh terduduk di atas deknya dengan lemas.

"Sialan! Apa yang kau lakukan, Amagi?!" teriak gadis itu.

"Ap- apa yang sudah terjadi?" ia tak percaya apa yang ia lakukan.

"Kau menembakan supergravity cannon-mu diluar kesadaran!"

"10 detik untuk tabrakan."

Kita segera saja ke atas. Seorang wanita dengan surai hitam dan kimono kemerahan menyadari suatu bahaya. Ia terkejut bila serangan dari atas mendekat dengan kecepatan luar biasa.

"Amagi! Diatas!"

Ia segera mendongakan kepala ke atas mencoba melawan dengan energi dengan yang masih tersisa.

Namun, baru saja matanya menangkap apa yang terjadi, sebuah kilatan hitam membelah semua awan. Kita masuk mode diperlambat sangat pangkat 1000, wave armor yang otomatis muncul hancur dengan mudahnya. Benda itu bablas menembus cerobong belakang. Walaupun sudah dilindungi klein field, tetap saja mampu menghancurkan cerobong tersebut dan proyektil masuk ke dalam. Oh tunggu, tak hanya cerobong, lambung kapal bahkan ikut patah ke arah dalam dan haluan serta buritan terangkat dengan kecepatan ekstrem.

Tak ada seperbiliun detik, kapal segera meledak sangat hebat melululantahkan segala yang ada di apinya. Untung, Nagato di sampingnya masih kuat perlindungannya. Tentu, kedua mental model masih tak percaya apa yag telah terjadi.

Itu sekaligus menghilangkan jejak kedua kapal selam.

Kita ke bawah air.

"Kena kau!" gumam Ra agak keras.

Sementara itu, sebuah kapal selam raksasa agak mirip dengan Kelas Thypoon namun terdapat punuk di depan dan lebih panjang 35 meter berhasil menyemburkan radiasi graviton ke sebuah- bukan, bahkan 5 kapal selam sekaligus berwarna merah dan salah satunya lebih besar dengan tribal putih.

Kapal selam raksasa itu memiliki tanda angka 3 di bagian menaranya dan lambang kotak dengan 4 daun Anthurium yang saling menyatu. Logo itu tepat dibawah menara. Haluan kapal selam raksasa yang terbelah memperlihatkan benda hitam berbentuk mirip seperti mesin turbin dan dikelilingi 8 buah benda berbentuk seperti keping sel darah merah namun berwrna hitam pekat dan kilatan listrik berwarna sama. Sebagian lautan terbelah akibatnya.

"Hmm… tampak seperti yang diharapkan untuk Prototype Improvisasi. Aku sungguh kagum dengan kekuatanmu," gumam seorang dengan rambut piran yang diikat ke belakang dengan mata biru. Itulah Zordan Stark, kapten kapal U-2501, "Romuald, serang dia dengan kapal selam mini! Siapkan mirror-ring system!"

"Baik!"

Beberapa kapal selam berukuran lebih kecil berdatangan dan puluhan torpedo meluncur dari berbagai arah. Namun, Ra tersenyum lebar walaupun di hologramnya beberapa titik mendekatinya beberapa detik lagi.

Otaknya sudah berpikir lama tentang strategi ini. Biarpun kapal ini memiliki ribuan Hegdehog yang rasanya seperti APS versi kapal, Ia yakin dengan mengorbankan tenaga untuk pemrosesan, namun hasilnya pasti kena. Ditambah ia sudah memiliki semua spesifikasi terkini yang diperolehnya dan menunggu momen ini bersama Nagato, dimana kapal bendera tersebut baru kali ini .

Dan untuk pertama kalinya, beberapa hal keanehan terjadi yang membuatnya mind blown. Sebagiannya benar-benar diluar dugaan. Walau beberapa hal tak menyangkut kapal bergelar Pemimpin Armada Terkutuk namun beberapa pengawalnya.

"Matilah karena kebodohanmu sendiri!" teriak pria itu.

2 buah cincin terbentuk di atas kapal selam paling belakang. Beberapa bagian kapal membuka. Lautan terbelah semakin luas. Namun tiba-tiba radiasi graviton dari Ra melemah bahkan seluruh peralatan dari supergravity cannon kembali tersimpan dan haluan kembali ke bentuknya.

"Sudah terlambat."

Ra semakin tersenyum lebar berbanding terbalik dengan apa yang Zordan pikir dan…

'PING! Zwozzozoz…'

Sebuah ledakan gelombang suara terjadi di depan Ra diikuti nyala kembang api dan semburan nanomaterial. Semua torpedo yang akan sudah tinggal beberapa meter lagi segera berbelok ekstrem dan mengarah ke benda itu. Tak hanya itu, gelombang ledakan suara juga mengenai kru sonar U-2501. Ia segera berteriak dan reflek mematikan headset. Telinganya berdenging.

"Ap-" ia benar-benar tak menduga akan terjadi seperti ini.

Kini masalahnya, puluhan torpedo dengan Thanatonium bablas melewati pengecoh. Satu per satu kapal selam kecil yang ada di depan topedo tergilas dan hancur. Kini, total 19 torpedo mengarah ke U-2501.

"Pintar! Ternyata kau memang tak boleh diremehkan! Aku suka gayamu. Tetaplah mempertahankan mirror-ring system!"

Tentu, saat mendekati U-2501, semua torpedo terhisap oleh gravitasi dari kedua lubang hitam tersebut. Beberapa kali cahaya merah tampak dari cincin tersebut. Setelah semua torpedo terhisap, lubang hitam runtuh diikuti ledakan hebat yang mengguncang lautan. Gelombang radial memusnahkan apa yang melewatinya, termasuk beberapa kapal selam mini.

Sementara Ra? Ia sudah menghilang entah kemana.

Kita ke permukaan air sekarang.

"Dimana kau, kapal selam kecil?" kata seorang wanita dengan surai hitam dan kimono putih ditambah 2 lingkaran yang berputar berwana abu-abu. Ia diatas dek depan kapal tempur raksasa berwarna senada.

Sementara itu, tepat dibawahnya, kapal selam yang sedang diincar mereka, AS-12 berdiam di bawah air beberapa kilometer. Kedua sisi kapal membuka menampakan ratusan lubang yang mengarah miring ke depan atas. Setelah itu bunyi air amat keras dan puluhan peluru meluncur amat cepat ke atas hanya dalah hitungan 1 detik. Jejaknya persis seperti duri landak berwarna putih.

"Nee-sama! Sebuah objek terdeteksi mengandung Thanatonium meluncur ke arah kita!" kata gadis lainnya dengan 2 cincin yang terus berputar dan berada di dek belakang.

"Jatuhkan decoy charge!"

Bagian bawah kapal tempur dengan 4 kubah tersebut terbuka dan puluhan benda kecil terlepas ke dalam laut. 37 hegdehog menyambar benda tersebut dan meledak hebat.

"Nee-sama! Sekarang waktunya!" pekiknya lagi.

"Target terdeteksi. Waktunya penghancuran!"

Sisi bawah kapal terpisah dari badan. Tak ayal lautan terbelah hingga kapal selah itu terlihat. Benda berbentuk mesin jet dan 12 buah pod menyebar seperti pola Amagi menyembukan ratusan kilatan listrik yang menyertai Losharik dan membuatnya terangkat.

"Ra! Nee-san! Supergravity cannon menyala!" pekik gadis bersurai kuncir dua di dalam kapal dengan 2 cincin hitam yang mengitari tubuhnya. Didalamnya benar-benar terasa guncangannya.

"Kami siap di posisi. Lakukan sesuai rencana!"

"Baik!"

Sementara itu…

"Zordan! Pastikan tak ada apapun yang menuju ke arah Kami!" kata salah satu mental model.

"Tentu. Pastikan kau menggunakan output tertinggi. Jangan sampai ada yang tersisa," kata Zordan dengan raut tersenyum, "Romuald, kerahkan pertahanan ke Nagato. Dengan kondisi seperti itu, ia lemah terhadap target tembak. U-2501, kita akan mencari mereka. Hey, aktifkan sonarmu!"

U-2501 segera bergerak menjauh mencoba mencari Ra dan Orenburg.

Graviton di supergravity cannon semakin meningkat. Pipa yang ada di belakang Losharik segera berubah menjadi sebuah roket. Beberapa bagian kapal Losharik membuka.

"Huh? Kau sudah tak ada tenaga lagi untuk menembakan meriam ini? Sayang, kau sama saja dengan stromtrooper!" Salah satu yang lain menyindir kesalahan tembakannya tadi yang meleset.

"Bukan, bukan itu yang Aku inginkan," Losharik seolah mendengar apa yang ia dengar.

"Selamat tinggal."

"Koordinat 234 212 543," ucap Ra.

"Diterima!"

2 semburan abu-abu segera menyembur amat kuat membelah air. Supergravity cannon dengan kekuatan sama seperti Amagi berhasil ditembakan tanpa ada serangan balasan.

Serangan itu secara teknis terlampau mumbazir untuk kapal sekecil itu. Ditambah, Losharik tak punya mirror-ring system. Tetapi ia punya yang lebih baik. Tampaknya ia senang karena apa yang disampaikan Ra tampaknya berhasil.

Sebuah lubang hitam terbentuk di depan kapal. Berputar menyedot air dan semakin besar menutupi kapal. Semburan meriam tersebut segera masuk ke dalam lubng hitam. Dalam waktu seperseratus detik, lubang lain berwarna putih terbentuk dengan posisi ke depan namun condong 45 derajat ke bawah dan ke kanan. Dari situ, semburan berwarna abu-abu itu keluar dengan cukup kencang.

"Apa itu?" pekik salah satu mental model.

"Ini… Redirect Loop…" ucapnya terbata-bata.

Supergarvity cannon menyembur ke dalam laut. Tepat di jalur penembakan, kapal selam U-2501 berjalan untuk mencari keberadaan Ra dan Orenburg.

"Zordan, sebuah semburan graviton terdeteksi dari atas dan semakin mendekat," ucap pemandu sonarnya tersebut.

"Apa ini… ohh," ia menyadari sesuatu, "Geser ke kanan!"

Kapal tersebut menyemburkan roket ke samping kanan untuk menggeser posisi. Tak lama, aliran tadi tepat menyembur di sisi kiri kapal. Pelindung hijau menyala dengan terang melindungi kapal. Tak hanya itu, guncangan keras menggoyang kapal tersebut.

Aliran tersebut bablas ke dalam laut. Tepat di jalurnya ada kapal selam raksasa yang telah menunggu. Lubang hitam juga terbentuk siap menangkapnya. Saat masuk ke lubang tersebut, lubang lain berwarna putih terbentuk seketika dan semburan graviton diarahkan lurus dengan kapal.

Satu lagi, lubang hitam terbentuk di belakang propulsi Orenburg. Semburan itu kembali terserap dan lubang putih menyemburkannya tepat ke arah U-2501 yang telah lumpuh.

"Dibawah!"

Jaraknya terlampau dekat untuk menghindar, semburan itu menghancurkan wave armor dan menembus badan tengah kapal tersebut. Mirror-ring system tak mampu terbentuk. Ledakan hebat bergema di dalam lautan. Kapal selam mini yang bergerak kehilangan cahayanya dan perlahan tenggelam

"Zordaan!"

Tak ada jawaban.

Mereka mematikan meriam supernya dan lautan kembali seperti semula. Bagian yang telah terbelah kembali menyatu

"Bagaimana ia bisa tenggelam?!"

Belum selesai tanda tanya mereka. Kapal selam kecil di depannya terbelah sisi atas haluannya. 6 keping pod melayang mengintari kapal dan aliran listrik segera terbentuk. Air laut juga kembali terbelah.

"Tidak mungkin?!" mereka terkejut, "bagaimana kapal kecil itu bisa menembakan meriam supergravitasi hanya sesaat setelah menggunakan Redirect Loop?!"

"Good damage, suka!"

6 buah semburan graviton hitam segera membelah lautan.


"Kami berhasil meretas jaringan dan cloud Joint Tactical Network untuk aliran data Kapal Fog Prototype Improvisasi. Benar-benar rahasia. Sulit? Sangat. Mereka memakai bahasa yang sellu berganti tiap file dan memakai aksara Axor. Kau pernah dengar tulisan Axor?" tanya Ra.

Yamato terdiam sebentar. Namun akhirnya, ia menggelengkan kepalanya kecil dan wajah yang menandakan bahwa ia benar-benar tidak tahu.

"Aku saja baru tahu itu," ucap Yamato.

"Baguslah, tulisan Axor memang benar-benar rahasia. Tak hanya itu, pola tulisan Axor kemudian dienskripsikan ke dalam kalimat dalam bahasa Proto-Indo-Melayu dengan huruf alfabelt. Huruf tersebut lalu dienskripsikan lagi ke dalam angka biner tanpa spasi. Jadi, hanya deretan angka nol dan satu sehingga hanya yang berkenanlah yang bisa mengakses. Tak hanya soal menerjemah sandi, meretasnya pun hampir mustahil. Ada 3 lapis virus pelindung yang salah satunya bernama Bot Kill. Virus ini akan memakan semua data yag ada di dalam peretas hingga habis."

"Dengan kata lain, virus itu akan mereset Union Core?" tanya Yamato

"Secara kasarnya begitu."

"Kudengar Kau punya flagship equipment yang bisa mengambil alih segala sesuatu seperti sitem komputer manusia atau mungkin tetangga sebelah. Mengapa tak digunakan?"

"Terlalu beresiko. Biarpun bisa meretas hingga superkomputer inti dari seluruh armada fog di dunia, lokasi peretasan akan dengan mudah diketahui. Itu sama saja cari mati," kata Ra.

"Jadi, bagaimana Kau bisa meretasnya?"

"Memanfaatkan union core dari kapal yang pernah ditenggelamkan."

Yamato berpikir sebentar dengan ide yang dilakukan Ra. Cukup pintar, namun ia menemukan keraguan dalam caranya. Mungkin karena belum dijelaskan.

"Sebelum update server tanggal 19 Juli 2055, semua yang mengakses data tersebut bersifat anonim. Jadi, siapapun hanya diberi ID secara acak dan lokasi aksesnya. Sementara itu tak disebutkan jenis kapalnya. Ini memang memiliki keuntungan yaitu pengaksesannya lebih cepat, itu juga yang menjadi titik kelemahan utama. Memakai lubang dari bug server, Aku dan Losharik mengendalikan union core dari jarak jauh dan menggali sebanyak-banyaknya data yang ada di JTN tersebut. Bila masuk lewat pintu depan akan sangat sulit karena setiap ID harus diperiksa sebelum masuk. Tetapi setelah masuk, tak ada pengecekan apapun," ulasnya

"Jadi dengan cara tersebut, Kau bisa mengambil data tanpa ketahuan?" tanya Yamato.

"Tentu tidak. Bahaya akan terdeteksi sebagai penyusup tetap terjadi karena tingkat perlindungannya begitu tinggi. Tetapi agaknya tidak menjadi masalah karena hanya union core kapal lain beserta komputer pengaksesan dari kita yang akan diserang Bot Kill," Ra berkata sepeti itu dengan santai.

"Lha, bagaimana bisa data yang sudah terhapus oleh Bot Kill dapat dibaca?"

"Ya direkam lah mba! Kalau terhapus, yang penting data seperti cetak biru dan rumus sudah didapat dengan video yang dapat diputar ulang," tandas Ra.

"Lalu dengan enkripsi kode yang rumit itu?"

"Kau lupa aku ini Prototype Improvisasi?"

Yamato kemudian tertawa kecil, ia tak percaya mereka cukup jenius. Benaknya terjawab dengan cara yang bisa dibilang benar-benar diluar nalarnya. Tak pernah ia menemukan fog sepintar ini.

"Hebat. Oke, kita kembali ke pokok pembahasan utama. Lalu apa yang yang Kau akses di Joint Tactical Network dan hubungannya dengan AS-12?"

Ra berdeham.

"Salah satu data yang berhasil kami peroleh, Prototype Improvisation Number 2 Assault and Supremassion Battleship Kentucky, memiliki transmisi graviton generasi baru yang disebut Direct Elementer Transmission. Detailnya aku lupa, namun dibanding dengan transmisi graviton pada kapal fog lain, transmisi ini memiliki efisiensi 5000% lebih baik dalam segala hal. Dengan kata lain, tanpa mengubah spesifikasi mesin kecepatan pemrosesannya meningkat 10 kali lipat dibanding kapal yang setara. Ditambah ia memiliki 2 mesin sehingga kecepatan pemrosesannya pun tak terhingga bila Kau mengambil sudut pandang kapal destroyer. Atau kau boleh menyebutnya, kecepatannya 30 kali lebih cepat darimu. Hanya kelemahannya, sulit untuk diproduksi massal karena terpaku cara pembuatannya yang teramat susah dan perawatannya begitu mahal. Namun, bukan berarti AS-12 tak mampu membuatnya. Ia penggemar berat Kentucky malahan, sehingga untuk percobaan ini ia yang mengambil resiko. Untung sukses dengan baik. Aku ingat itu pada saat sebelum Vlad tenggelam. Kecepatan pemrosesannya meningkat hingga 5 kali lebih kuat darimu dan juga memiliki 2 mesin kapal penjelajah berat. Didukung ia memiliki supergravity cannon dengan 6 pod, 220 sel hegdehog, dan pembangkit wormhole untuk redirect loop. Kau jangan pernah meremehkannya," Ra mengambil nafas sebentar. Ia sudah begitu panjang lebar bercerita dan lawan bicaranya merupakan pendengar yang baik.

"Ia mampu menembakan meriamnya sambil berjalan atau bahkan dengan klein field menyala dan mampu menembakan kembali paling cepat secepat kau menembakan photon cannon. Sementara Kau? Aku duga bila dipaksakan 3 menit cukup. Hanya 0.1% dayanya digunakan untuk menggerakan kapal dan Mental Model, sisanya masih banyak seperti untuk menjalankan mesin riset dan tambang, peretasan tingkat sulit, laboratorium, atau mode ofensif. Sampai sekarang ia memegang rekor dengan wave armor terkuat pada kelasnya," lanjutnya.

Yamato tampak terdiam mendengar penjelasannya dan berpikir sebentar. Bagaimana kapal sekecil itu bisa memuat hal yang sedemikian gilanya? Ternyata seperti yang pernah ia pikirkan, tentu ada yang lebih kuat darinya. Namun ia bukanlah Prototype Improvisasi atau Mega Battleship yang memang dimaklumi harus lebih kuat darinya. Ia justru terkejut akan sosok kecil ini. Akhirnya, ia mengarah kepada satu kesimpulan.

"Jadi, ia lebih kuat dariku? Atau dengan kata lain dapat menguasai seluruh sistem pada union core-ku?" tanyanya.

"Secara keseluruhan, Ya. Bahkan bila Kau memakai flagship equipment," jawab Ra yakin, "sekarang giliranku, sebenarnya siapa mental model Mirai? Dimana mental model-mu yang lain?"

Ia menggelengkan kepala.

"Dari dulu mental model-ku hanya satu."

"Sebentar, apa?" Ra mengubah posisinya dari santai bersender menjadi tegak akibat keterkejutannya, "bukankah terakhir aku mengakses Joint Tactical Network mental model-mu ada 2?"

"Sejujurnya ya, itu ulah Mirai yang meretas Union Core-ku selama 1 minggu penuh. Aku ingin meralat data yang diupload tersebut, tetapi Hiei tak memperbolehkanku untuk menggantikannya, ini demi propaganda dan menjaga kerahasiaan. Ah biarlah, tak apa. Toh, tak ada pengaruhnya bila diubah."

"Oh begitu, ya ya. Tetapi bila aku pikir memang hal itu bukan hal yang harus menjadi alasan untuk menjaga kerahasiaan," gumam Ra seraya tersenyum.

"Lalu, mental model Mirai diambil dari manusia. Ia diselamatkan dari kebakaran di Yokosuka oleh I-400 tepatnya-"

"Stop! Jangan dilanjutkan, aku sudah maksud sekarang," Ra tampak mengelus dagunya yang tak ada jenggotnya sama sekali, "berarti bila begitu sudah jelas penelitian Kami bahwa semua mental model fog berasal dari manusia khususnya perempuan. Mereka di-reset semuanya termasuk otak dan ingatan namun ada 3 hal yang tak akan dihilangkan: akal, pembawaan asli, dan tubuh. Mereka lalu dipasang Union Core dan digunakan untuk mempelajari pola pikir manusia. Adapun sebuah Project Abakan. Daripada mempelajari manusia, mengapa tak membuat mereka jadi manusia? Kau tahu kan, bila mental model dipengaruhi manusia bisa membelot dari Admiralty Code, apalagi bila hal tersebut menjadi manusia. Hasil produknya? Kami semua, Black Fleet."

"Hmm… nama yang bagus. Apakah Engkau ingin memplesetkan nama armada yang dipimpin Admiral Shouzou dan dipakai untuk nama armada kalian?"

"Totally no, Black Fleet berasal dari asal Kami berada, Armada Laut Hitam. Namun, untuk mencegah kebingungan, Kami sengaja mempersingkat. Ditambah, Kami armada terkutuk memiliki aksen hitam."

"Oh, jadi begitu."

"Lalu, bagaimana kabar Mirai?"

"Mirai? Prototype Improvisasi Nomor 4?"

"Ya."

Ia mengumpulkan seluruh ingatannya dan menyusun kata. Matanya menatap semakin dalam kepada Ra. Seakan tak ada yang membatasi mereka. Namun, rautnya tetap tenang. Entah mengapa ia selalu seperti itu dari tadi, pikir Ra.

"Aku tak menahu secara detail. Yang pasti ia lebih suka mengurung diri saat ini. Bahkan, Hiei pun tak berani mengganggunya," kata Yamato pelan, "Kalau tidak salah semenjak ia melawanmu dan imbang."

"Ia terlalu gegabah. Kalau saja ia menghiraukan rudal dari K-108, mungkin gravity-shock cannon-nya tak mungkin dilumpuhkan dengan 2 peluruku." tukas Ra, "Kau pernah melawannya?"

"Pernah. Ia malah menantangku, siapa yang berhasil menanamkan 3 hulu ledak korosif dia yang akan menang. Ku kira kapal sebesar itu akan seperti bebek duduk. Ternyata rudalnya terlalu banyak daripada yang aku kira. Aku kalah."

"Ia tak menembakan gravity-shock cannon?"

"Hanya rudal saja. Memangnya apa yang bisa dilakukan benda itu? Apa sesuatu yang hampir sama dengan supergravity cannon?"

Ia menggelengkan kepala beberapa kali.

"Serupa namun berbeda. Bentuknya seperti setengah bola yang muncul dari dalam superstructure dan bisa diarahkan 360 derajat dengan elevasi hingga 85 derajat. Inputnya tak sekuat supergravity cannon. Namun kekuatannya jauh lebih mengerikan. Prinsip hampir sama dengan supergravity cannon, yaitu memancarkan dan memperkuat gravitasi. Namun bedanya, bila supergravity cannon memakai mesin kapal yang berasal dari dekomposisi Thanatonium sebagai inputnya, gravity-shock cannon memakai radiasi bahan yang disebut Valiantonium. Valiantonium adalah bahan pertama kali yang dihasilkan dari nanomaterial aktif. Setelah dilakukan penganyaan beberapa kali dihasilkan apa yang disebut Thanatonium. Valiantonium berbeda dengan Thanatonium yang sangat tidak stabil, ini salah satu zat mulia. Sangat stabil bahkan benar-benar impoten untuk sebuah bahan peledak. Makanya, membuat reaktor kapal fog dengan bahan bakar Thanatonium jauh lebih sulit. Namun, radiasi yang dihasilkan luar biasa besar, radiasinya dalam bentuk gelombang supergravitasi tak beraturan, sehingga tidak bisa digunakan untuk bahan bakar bila diambil radiasinya. Untuk ukuran 4x4x4 cm mampu membuat air terurai dari radius 200 meter, magnet segera kehilangan daya tariknya dari radius sekitar 4 kilometer, atau dengan jarak yang sama semua sistem kelistrikan akan rusak parah. Walau Thanatonium juga masih ada radiasi tak beraturan yang bisa terdeteksi, namun 1000 kali lebih kecil dari radiasi Valiantonium dengan ukuran sama. Hasil dekomposisinya juga sama dengan Thanatonium yaitu partikel Graviton, tentu dengan energi yang dihasilkan jauh lebih kecil dan prosesnya jauh lebih cepat, sehingga membuatnya benar-benar tak berguna untuk hulu ledak ataupun mesin kapal."

"Jadi kesimpulannya, bila supergravity cannon memakai energi graviton yang sifat radiasinya stabil, lalu gravity-shock cannon memakai pancaran gravitasi Valiantonium yang pancarannya tidak beraturan. Begitu?"

"Ya. Secara kasarnya begitu."

"Jadi, kalau meriam ini memakai radiasi dari bahan yang belum diaktifkan, berarti durasi penembakan meriam ini tak terhingga?"

"Bukan tak terhingga, sampai mental model-nya puas," sahut Ra dengan sedikit tertawa.

Yamato jadi ikut tertawa sipu.

"Ah… bilang saja 'ya'. Sulit sekali."

Ra mengambil nafas panjang sembaring mengistirahakan mulutnya sebentar. Otaknya menyiapkan kata-kata yang akan dilanjutkan, maklum dia tidak sedang berbicara dengan engineer. Kemudian ia kembali berbicara.

"Sekali lagi, gelombang radiasinya amat mematikan. Bila Kau terkena meriamnya, hal yang pertama terjadi adalah kehilangan kemampuan memancarkan wave armor secara total. Lalu semua sistem kelistrikan dan persenjataan akan lumpuh total, pada saat seperti ini Kau tak bisa menembakan sekedar photon cannon atau roket sekalipun. Reaktor akan mengalami gangguan hebat dan mental model menjadi gila karena inti union core terkena dampak radiasi supergravitasi sehingga kecepatan perosesannya berkurang drastis. Dampak parahnya nanomaterial pada kapal akan meluruh dan Thanatonium pada reaktor menjadi liar dan mengalami keruntuhan gravitasi-"

"Setelah itu meledak?" potong Yamato.

"Tepat sekali. Lama reaksi tersebut terjadi tergantung kekuatan pemrosesan kapal. Anggota keluargaku pernah tenggelam karena meriamnya. K-209, lama hingga ia meledak hanya 30 detik. Efeknya kurang lebih sama dengan Prototype Tesla Death Ray namun jauh lebih kuat dan lebih murah. Penggunaan Valiantonium mampu mengurangi beban mesin hingga 80%-95% dibanding supergravity cannon. Wave armor bahkan masih kuat menahan hulu ledak korosif. Hanya cara penyimpanannya yang memang rumit."

"Hebat!" gumamnya terkejut, "Benar-benar efisien dan efektif untuk sebuah senjata. Terlebih Kau yang tak pernah mengenal lebih jauh darinya bisa mengetahui persenjataannya!"

"Itulah kelebihan Kapal Prototype Improvisasi. Semua persenjataannya benar-benar tak pernah dikenal sebelumnya. Tunggu, sepertinya kita terlalu jauh. Kembali ke topik, mengapa Kau tak ajak ia untuk ikut bertapa?"

"Aku pernah. Admiral melarangku. Eksitensinya harus tetap dirahasiakan dari manusia," jawabnya.

"Kalau begitu, toh untuk apa repot-repot membangun platform untuk persenjataan ekperimental bila hanya menjadi 'perawan kamar'? Toh persenjataan seperti universal projectile berjumlah ratusan ribu dan gravity-shock cannon tidak akan teruji kehandalannya bila tak pernah digunakan. Padahal Kau tahu sendiri kemampuannya. Kalau ada perang apakah monster sepanjang 468 meter itu harus tetap disembunyikan?"

"Kau salah!"

Ra terkejut. Ia mendengar nada Yamato meninggi. Raut wajahnya juga mulai berubah, alisnya turun. Ia tampak lebih menakutkan daripada Sadako yang pernah ia tonton. Ra berpikir ia sudah berlebihan dalam berucap hingga sosok tenang sepertinya bisa terbakar emosi.

"Admiral sudah mengambil tindakannya yang terbaik untuk tetap menyembunyikannya. Bila Kau masih ragu mengapa tak berbicara kepadanya langsung?" kata Yamato pelan.

Ra menghela nafas panjang.

"Baiklah. Maaf bila sudah membuatmu tersinggung."

Perlahan gadis ini tenang kembali. Suasana kembali sunyi. Wajah gadis itu masih merona bercahaya. Senyum dibibirnya terangkat kembali. Ia kemudian melanjutkan, "Menurut Admiralty Code, Apa aku perlu membunuh kalian sekarang?"

Sebentar! Tadi ia biang apa?! Demi tuhan, ia tanpa sadar merusak suasana yang sudah dibangun. Ra yang tadinya tenang hatinya mulai bergejolak. Mulutnya menganga lebar dan membeku seolah masih tak percaya apa yang ia katakan tadi. Hanya satu yang ingin ia katakan, "What the f*ck did you say mate?!" Argumen yang tadi sempat dibuat dan hampir dilupakannya muncul lagi seakan tanpa diundang.

"Kau tak akan pernah bisa mencariku dengan sonar ecek-ecekan seperti itu. Graviton kapal Kami tak ada yang bocor. Bila Kau dapat mendeteksiku semuanya sudah terlambat."

"Aku tinggal memerintahkan Zuikaku untuk meluncurkan pesawat dan mencarimu," balas Yamato.

Dua lingkaran transparan dengan ornamen heksagon hitam tiba-tiba muncul membesar dari badan Ra. Sebuah hologram muncul diatas lingkaran tersebut dan disapukan menghadap Yamato. Hologram itu menampakan sebuah foto satelit sebuah obyek persegi panjang hitam dengan garis luar tebal kuning di tengah laut hitam karena malam. Di pojoknya lengkap dengan koordinat dan waktu yang menunjukan 25 Februari 2056 pukul 02.14 AM.

"Ini Zuikaku sekarang, kan? Cukup jauh dari pulau."

Tentu, Yamato tersentak melihatnya. Bagaimana bisa ia melakukan hal tersebut? Ia meretas satelit manusia kah? Padahal seharusnya semua satelit di bumi mati total. Namun, ia bisa menampilkan foto- bukan, lebih tepatnya live streaming dengan sudut pandang atas.

"Bila ia berulah, akan kukirim Depth Penetator Bomb seberat 10 ton dari ketinggian 1000 km dari satelit ini. Tak ada wave armor bahkan sekuat Kentucky yang tahan dengan energi tumbukan 1 tera joule ditambah isi nuklir dengan daya ledak 5 kiloton TNT. Hey, aku ingin tahu apa yang bisa dilakukannya untuk selamat dari benda ini dalam waktu 2,5 menit. Lagipula, capung itu lebih mudah ditembak daripada pesawat Kentucky yang memiliki wave armor sekuat kapal perusak. Jadi, jangan pernah main-main dengan Kami," Ra berbicara dengan nada mengintimidasi.

"Bila begitu, aku cukup untuk membombardir kawasan ini dan membunuhmu."

"Enak saja, Engkau pikir membunuh mental model-nya saja sudah cukup?" balas Ra, "toh, bila Kau memutuskan untuk membombardir wilayah ini, 2 hal perlu Kau ingat: 1, Kami bisa membuat bentuk mental model sendiri walau sudah musnah karena struktur Union Core Kami berbeda dengan kalian. Union Core Kami ada 2 dan saling tersinkronisasi. Itu sudah ada semenjak sebelum K-420 tenggelam. Dan 2, bukankah itu malah melanggar Admiralty Code karena menyerang daratan?"

Yamato terdiam seperti sudah di-skakmat dalam catur. Perkataanya ada benarnya juga. Ia memang tak perlu mencari konfrontasi dengannya, toh ia tak pernah berulah yang parah selama tak diserang. Yamato tak menunjukan tanda-tanda marah atau hal negatif apapun. Ia hanya memejamkankan matanya dan mendesah.

"Maaf bila tersinggung. Mengapa kalian hanya tinggal 4 orang saja?"

Sejenak Ra terdiam, sama seperti Yamato tadi. Ia mengarahkan matanya ke arah bawah. Sepertinya banyak pikiran berkecamuk di kepalaya.

"Aku sudah bilang. 4 keluarga Kami sudah tenggelam sebelum AS-12 menemukan cara untuk menggabungkan 2 Union Core yang terpisah. Lalu K-420 dan Pskov, mereka semua musnah tak bersisa, Union Core-nya rusak berat dan habis," ia kembali menarik nafas panjang, "Untunglah, Kami masih mempunyai Union Core Vladimir Monomakh. Sayangnya, ada kerusakan sistem kecil dan sampai saat ini AS-12 terus memperbaikinya. Namun, berdasarkan data yang masih selamat, aku dan AS-12 sudah menyiapkan kapalnya dengan Union Core sekunder dari Maya yang pernah Kami tenggelamkan dulu. Tinggal Union Core utama dan mental model."

"Jadi, dalam waktu dekat ia bisa dibangkitkan kembali?"

"Entahlah. Bila dibangkitkan sekarang, aku tak yakin ia dapat kembali normal. Masih banyak bug yang harus diperbaiki. Namun AS-12 sudah melakukan yang terbaik," Ra tersenyum seolah menemukan harapan baru.

Melihatnya tersenyum, entah mengapa ia jadi sedikit tenang. Bukankah ia seharusnya khawatir karena Black Fleet bertambah menjadi 5 kapal selam siap tempur? Terlebih Vladimir Monomalh merupakan kapal selam fog kelas Borei yang dikenal amat berbahaya.

"Biarpun begitu, aku yang mendeteksi kehadiran kapalmu."

Yamato tiba-tiba tertegun mendengarnya. Arah pembicaraannya berubah frontal.

"Memangnya Engkau tahu kapalku di mana?"

"34 derajat 4 menit 4.5 detik lintang utara dan 132 derajat 20 menit 24.6 detik bujur timur berbaring di dasar laut. 5 km sebelah barat laut Pulau Ha," ia membaca hologram yang lain.

Sejenak Yamato terdiam. Sedikit terkejut akibat perkataannya.

"Aku kira Kau cukup menebak di sekitar Laut Aki. Ternyata Kau malah menyebutkan koordinatnya hingga posisinya. Sungguh di luar dugaan," kata Yamato terkesan.

"Kau terlalu berisik saat berlayar. Sonar dengan kualitas rendah saja bahkan dapat mendeteksimu," lingkaran hitam itu kembali menciut dan lenyap kedalam tubuh Ra.

"Berarti Engkau cukup dekat dariku kan?"

"Cukup dekat hingga Kau tak menyadarinya. Cukup rentetan peluru meriam 16" sudah bisa menghajarmu."

"Biar ku tebak, Kau tak selera memakai photon cannon."

"Aku memang tak punya dan tak pernah berminat dengan Photon Cannon."

"Wow. Kapal Prototype Improvisasi sekuat dirimu tak punya Photon Cannon?! Sungguh mengejutkan! Padahal itu barang wajib di kapal fog," ucap Yamato.

"Kami memang tak punya Photon Cannon. Namun Kami punya yang lebih baik, V-tipped Penetrator. Jangan pernah meremehkan kapal prototype improvisasi," kata Ra enteng.

"V-tipped? Apa itu dan yang bisa dilakukannya?"

"V-tipped hanyalah alat kecil yang dipasang pada ujung proyektil seperti rudal dan peluru Kami. Namun itu adalah racun bagi wave armor. Di dalamnya terkandung Valiantonium. Kau tahu kan tadi sudah aku jelaskan. Nah, intinya memanfaatkan kekuatan radiasinya untuk mengacaukan medan gravitasi dalam wave armor sehingga benar-benar membuatnya tak berguna. Lubangnya tak besar, hanya berdiameter 65 cm. Tetapi sekuat apapun wave armor, ia tidak bisa dipusatkan kekuatannya hingga dibawah 1 meter. Teknologi yang sama juga dipakai untuk gravity-shock weapon yang dipakai Lutjens dan Mirai. AS-12 berhasil memproduksi massal. Kalau Kau mengakses Joint Tactical Network, Pensacola 3 hari yang lalu tenggelam hanya karena 2 rudal. Entah siapa yang mengungah. Dan, 1 tahun kemarin, Kami sudah menjual teknologi ini ke sebuah negara kepulauan. Seperti Jepang, namun jauh lebih besar."

"APA?! Kau menjual teknologi fog? Maksudmu negara kepulauan besar, Indonesia?!"

"Tepat sekali."

Yamato seolah tak percaya apa yang ia katakan. Bagaimana bisa hal ini tak diketahui oleh siapapun? Pantas saja fog area Samudera Hindia, Laut Jawa, dan sekitar Laut Banda musnah tak bersisa. Ia terdiam sebentar. Namun, rasanya ia ingin marah.

"Hey! Kau tak berpikir bila hal ini amat sangat berbahaya? Walaupun aku tahu tujuan kalian untuk menghapuskan peta kekuatan fog, apa kalian tak berpikir bisa saja itu berbalik kepada kalian?" Yamato sedikit berapi-api.

"Kami punya pakta perjanjian kepada mereka. Mereka tak boleh membocorkan kepada negara manapun. Aku berkata pada saat itu bahwa bila kalian merahasiakan teknologi ini, kalian akan menjadi negara supremasi militer terbaik di dunia jauh melebihi Amerika Serikat yang nuklirnya tak mampu menembus sekadar wave armor kapal penjelajah. Ditambah mereka tidak boleh menggunakan teknologi itu di luar wilayah mereka. Sedangkan keuntungan Kami? 500 ton U-238 murni, lumayan untuk membuat senjata nuklir. Bukankah itu sangat menggiurkan? Bahkan Exocet dengan V-tipped Penetrator jauh lebih efektif dan terbukti lebih battle proven dibandingkan Vibration Warhead yang baru saja terdengar gaungnya? Intinya, Kau suruh anak-anakmu untuk tidak datang ke sana, mengerti?"

Ia mendesah merasa sedikit lega mendengarnya, "Pantas saja, kalian amat sangat berbahaya hingga harus dimusnahkan. Membocorkan tentang nanomaterial secara umum saja sudah melanggar, terlebih yang seperti ini. Bila aku adalah Kongou, aku sudah pasti membombardir kawasan ini."

"Semoga radiasi Valiantonium tak membawa dampak buruk bagi mereka. Oh ya, 50 orang sudah tewas akibat radiasinya," Ra ikut bergumam

Sejenak Yamato terdiam. Ia mencoba mengevaluasi keseluruhan pembicaraan ini ini. Sembaring membenarkan posisi tempat duduknya dan mencari posisi yang nyaman, ia berpikir mengapa Ra memberikan terlalu banyak informasi sensitif kepadanya? Apa mungkin ia berpikir ia tak menyebarkan informasi kepada siapapun.

"Kau sedang memikirkan mengapa aku terlalu ember dalam percakapan ini. Bukankah begitu?" Ra menyunggingkan senyum sinis.

Jelas saja, Yamato terhenyak mendengarnya. Bagaimana ia bisa menebak apa yang baru saja ia pikirkan. Ia benar-benar tak boleh meremehkan kecepatan pemrosesannya. Ia yang bisa mengendalikan kapal saja mampu dibaca isi pikirannya apalagi lebih dari itu, "Kau bisa membaca pikiranku?"

Tiba-tiba rasanya otaknya blank total. Seluruh tubuhnya membeku. Ia tak merasakan inderanya. Ada apa ini, "Mungkin saja sake dicampur dengan Vodka lebih enak?"

Tetapi, Yamato masih bisa mendengar mendengar mulutnya berucap tanpa kesadaran. Tadi ia bicara apa? Akhirnya, semua itu kembali lagi seperti semula. Tangannya refleks menutup mulutnya, takut bila ia bicara di luar kesadaran.

"Bila Kau memberitahukan percakapan ini ke Admiral, Kau bisa dihukum atas nama Admiralty Code. Bukankah begitu? Memang tak baik membocorkan urusan pribadi orang lain." tangannya menyangga kepalanya yang miring.

Yamato benar-benar tak berkutik. Lingkaran setan apa yang sudah dialaminya. Padahal ia sudah mendapatkan banyak sekali data rahasia dari pemimpin Armada Hitam. Tetapi bila Admiral menanyakan darimana ia mendapatkan informasi tersebut, dia bingung harus menjawab apa. Kenapa tidak bilang ia tak sengaja menguping? Tidak! Mereka dengan mudah mengetahuinya bila ia berbohong.

"Aku pikir Kau orang yang pendiam," tambah Ra.

Yamato menggeleng dengan mata sayu dan melepaskan dekapan mulutnya, "Sejujurnya tidak. Semua rahasia yang Kau katakan terlalu sulit untuk disimpan."

"Aku tak berpikir itu adalah rahasia. Bila Kau terus mengamatiku Kau akan mengetahui fakta tersebut."

Yamato terdiam menatapnya. Ia memejamkan matanya dan menaruh gagang telepon di tempatnya. Ekspresinya yang tadi murah senyum kini datar. Ia ingin mengakhiri percakapan ini. Terlalu banyak hal yang berkecamuk di pikirannya hingga ia tak berniat melanjutkan. Ia segera berjalan menuju pintu keluar.

"Hey! Kau tak punya pertanyaan terakhir?! Tak baik membuat lawan bicaramu kecewa hanya karena hal sesederhana itu!" teriak Ra cukup keras menghentikan Yamato yang sudah menarik setengah pintu keluar.

Ia terdiam cukup lama di sana. Cukup lama hingga derit pintu yang dipegangnya bisa terdengar cukup keras. Ra dengan santainya menunggu apa yang akan dilakukan lawan bicaranya.

Ia sebenarnya sudah membulatkan tekad untuk pergi dari sini. Tak, ia tak merasa kecewa dengannya. Hanya sekali lagi, ia sudah tak merasa berminat lagi. Entah karena memang sudah cukup atau karena peristiwa tadi. Namun, Ra masih ingin ia berbicara lagi.

Menarik nafas dalam-dalam dan mencoba mengosongkan pikiran agak lama, ia akhirnya menemukan pertanyaan yang selama mengganjal di pikirannya. Oke, ini untuk yang terakhir. Perlahan ia menyunggingkan senyum masam.

Akhirnya, ia berbalik menutup pintu dan kembali ke biliknya. Itu cukup membuatnya tersenyum senang. Kembali duduk dan mengangkat kembali gagang telepon. Dengan agak berat hati mulutnya tersenyum kembali. Mungkin bila ia menanyakan hal ini bisa menenangkan dirinya.

Well, lawan bicaranya masih dalam posisi yang sama.

"Terima kasih," kata Ra perlahan.

"Baiklah, ini untuk yang terakhir kalinya Ra. Sekaligus mewakili semua keraguan tentang eksitensi kalian dan seluruhnya. Sebenarnya apa tujuan manusia hidup di bumi hingga kalian membela mereka?" Ia benar-benar berat suaranya.

Sejenak, Ra memperbaiki posisinya kembali duduk tegak. Matanya tak kalah menatap tajam pada Yamato. Ekspresinya yang sinis berubah menjadi serius dengan alis turun. Ia menghela nafas cukup panjang, "Manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin di bumi."

Cukup singkat, pikir Yamato, "Itu kata-kata bijak Kau kutip darimana? Manusia? Filosofis terkemuka? Pengkhianat Admiralty Code? Atau Admiralmu dulu?"

"Kitab lama manusia," jawabnya pelan, "ceritanya panjang. Sebelum aku mendapat kutukan ini, aku tak sengaja membaca yang kukira manuskrip yang ternyata kitab lama manusia. Tak sengaja aku membaca bagian tersebut. Setelah ditelaah lebih jauh, akhirnya aku sadar, mengapa fog harus diciptakan? Aku lalu bertanya kepada Admiral Tertinggi tentang eksitensi fog dan alasannya ia berada di pihak fog."

Ia menghentikannya sampai di situ, menunggu reaksi dari lawan bicaranya.

"Lalu apa?"

"Ia hanya mengatakan bahwa aku hanyalah senjata yang dibuat untuk berperang. Tentang alasannya ia berperang tak dijawab olehnya. Suatu saat tersebut aku paham apa maksud dari perkataannya," ia setengah berbisik.

"Tunggu, tadi Kau bilang manusia diciptakan untuk memimpin di bumi. Tetapi Kau lihat faktanya kan? Bukankah mereka semua merusak dan saling membunuh?"

Ia menggelengkan kepala, "Aku tak percaya hal itu. Karena Kau ataupun Admiral manapun tak tahu apa yang akan terjadi dalam keadaan sejarah selanjutnya dan bagaimana terjadi karena Kau bukan seorang peramal terlebih tuhan. Coba Kau pikir, bila tak ada Perang Dunia, praktik budaya fasisme dan imperialisme akan merajalela. Terlebih beberapa teknologi penting bagi umat manusia ditemukan pada saat perang. Ingatlah, di setiap jejak kotoran ada bunga indah yang tumbuh. Mereka sudah diberi akal dan nafsu, mereka harus bisa mengatasi konflik tersebut karena memang itu tujuan hidup manusia.

Aku menyimpulkan sejak itu bahwa Admiral ertinggi kita juga manusia, ditambah Pertempuran Besar tahun 38. Mereka akan menciptakan kedamaian dengan caranya sendiri namun pada dasarnya tak ada bedanya dengan kebanyakan manusia, dengan perang. Memang terlihat baik saat mereka beralasan, namun kita juga tidak tahu mungkin saja akan merugikan seluruh umat manusia atau ada konspirasi yang sedang terjadi. Ditambah, Kau tak bisa membunuh sebuah tikus dengan membakar seisi rumah. Dengan kata lain, Admiral kalian semua adalah orang yang egois demi memuaskan keinginan mereka tanpa pernah peduli akibatnya dan kalian telah berhasil didoktrin untuk chauvinisme terhadap Admiralty Code dan digunakan sebagai tangan kanan mereka, bukankah begitu?"

Ra menarik nafas sebentar

"Makanya, Kami melakukan kudeta terhadap Admiral Tertinggi dan inilah hasilnya," ia menunjukan tangan kirinya yang terdapat corak persegi hitam dengan siluet 4 daun anthurium yang saling bersilangan didalamnya, "Semenjak itu, Proyek Abakan dihentikan total, Kau tahu mental model Mirai? Ia dicabut sisi kemanusiaanya. Bahkan dalam pertempuran dulu, aku dapat melihat tatapan matanya yang tanpa jiwa."

Yamato benar-benar terdiam. Otaknya hampit sulit mencerna apa yang telah disampaikannya karena ia tak pernah berpikir sampai ke situ. Semua ini rasanya benar-benar sulit diterima. Ia yang sudah bertapa bertahun-tahun hanya bisa terdiam oleh penuturan kapal pengkhianat yang telah bertahan hidup selama 5 tahun lebih. Biarpun begitu ternyata ia amatlah bijak. Ini lebih dari yang dikatakan Nagato saat menanyakan alasan mereka berkhianat. Ini tidaklah sebatas Admiralty Code atau kedamaian dan kebebasan yang sering diungkapkan berbagai kapal penentang peraturan tersebut, ini sudah masuk ranah eksitensi dan Admiral Tertinggi.

"Aku hanya menceritakan semua apa yang bisa kujawab. Selebihnya itu pilihanmu, Yamato sayang. Kau ingin terus bertahan dengan Admiralty Code atau hidup bebas itu bukan urusanku. Bila Kau ingin tetap tunduk pada peraturan tersebut, silahkan. Toh, kalian semua hanyalah senjata yang bisa dor tanpa berpikir yang lain. Tetapi bila ingin melanggar, semoga Engkau masih hidup saat diburu sekonyong-konyongnya Ishikari, Chitose bersaudara, atau bahkan Mirai sekalian. Namun, pintu untuk masuk ke Black Fleet masih terbuka. Bebas siapa yang mau ikut, asal datang dengan cap di tangan dan… bisa menyelam," suaranya kini benar-benar lembut. Lebih lembut daripada sutera.

Yamato terdiam sebentar, ia benar-benar punya pikiran jernih tanpa doktrin apapun. Inikah kemampuan dari add-on terlarang: manusiawi? Inikah jalan pikiran manusia? Ia benar-benar ingin geleng-geleng kepala. Ia sudah pada tingkat pemahaman tertinggi. Yamato tak bisa memungkiri bila ucapannya ada benarnya. Ditambah ia tak pernah berpikir sampai di situ. Bagaimana kemampuan berpikir ini diterapkan pada perang ditambah kemampuan luar biasanya?

"Terima kasih, aku merasa puas, semoga suatu hari kita dapat bertemu lagi." kata Yamato.

"Terima kasih juga. Semoga Engkau diberi universal projectile," ia bangkit dari tempat duduknya dan menaruh gagang telepon. Ia membungkukan badannya dan tersenyum kepadanya. Ra juga meletakan gagang telepon pada tempatnya dan berdiri.

Yamato berjalan menuju pintu keluar. Namun, kali ini dengan wajah puas dan hati yang tenang. Namun saat ia membuka pintu, ia hampir melupakan satu hal yang penting. Ia segera membalikan kepalanya ke wanita berpiyama tersebut.

"Krasny Oktyabr, Lutjens dan 2 pengawalnya berada di lautan pasifik 3 hari yang lalu."

"Apa?!" Ra kini benar-benar terkejut. Telinganya tak percaya apa yang ia tiba-tiba katakan

"Kau pasti tahu apa yang akan mereka lakukan disana. The Hunt Of Red October baru saja dimulai. Jadi, persiapkan dirimu. Oh, akhirnya Kau bertemu dengan teman lama."

Ra akhirnya tersenyum sinis, "Okelah. Tapi aku lebih suka adaptasi Novel Black Ships." sindirnya balik.

Yamato benar-benar menutup pintu dan keluar. Cahaya putih menyerang matanya dan tahu-tahu ia tersadar bahwa sebenarnya matanya masih menatap jendela hotel. Persis seperti ia bangun dari tidur saat bermimpi jatuh tersandung.

Diluar sana masih gelap. Rasanya ia tak bisa tidur kembali. Namun, ia melihat sesosok wanita dengan surai hitam berjalan meninggalkan tempat ini. Ia berhenti sebentar dan berbalik. Matanya tepat menatapnya sembaring tersenyum kecil.

Ia hanya membalas senyumannya tersebut ringan dan wanita itu pergi ke arah barat, lenyap dari pandangan dan entah kemana lagi tujuannya.

Ia berpikir, ia menjebol pintu dan menghancurkan kapal manakah hingga kapal sebesar dan semenakutkan itu ada di Perairan Dalam Jepang bahkan hanya beberapa puluh kilometer dari kota penting Kure? Kenapa keberadaannya tak diketahui? Mereka -Ra dan kronik-kroniknya- saja sebenarnya berada di luar Kepulauan Utama Jepang dan berjarak 186 km dari Kure dan 56 km dari daratan Jepang paling dekat.

Dengan kata lain, ia berbohong tentang keberadanya yang amat dekat dengan Yamato. Padahal ia berada di Lautan Pasifik sementara Yamato sudah masuk ke dalam. Walau begitu, peluru SLRBT berbentuk panah masih mampu mencapainya meskipun harus melewati sebuah pulau.

Dan, soal Lutjens. Ia sudah berapa tahun tak bertemu semenjak Pertempuran Laut Utara? Fog itu pasti sengaja datang bukan untuk pindah Admiral, tetapi untuk mengejarnya. Namun, ia tak seperti yang dulu yang temannya harus bahu membahu. Sekarang, Kursk, AS-12, dan Orenburg telah dipersenjatai senjata mematikan dari basis senjatanya. Tetapi, apakah Hegdehog yang dimiliki Lutjens dan kawan-kawannya bisa menembus wave armor dan menembak berondong bagaikan hujan deras seperti dirinya? Apakah ia sudah memakai gravity-shock cannon improvisasi dari Mirai? Entahlah.

Dan keesokan harinya, saat Orenburg dan Losharik terbangun, mereka kaget melihat Ra dengan mata sayu sedang mengaduk kopi di meja makan. Dari penampilannya saja bisa ditebak bila ia bangun terlebih dahulu dari mereka. Matanya mengarah ke pusaran air dan pakaiannya? Masih memakai piyama satin.

"Ra, Kau tidak tidur?" tanya Losharik bingung.

"Sangat lama," jawabnya lemas seraya menyeruput kopi tersebut.


43 Derajat 9 Menit 53 Detik Lintang Utara, 159 Derajat 17 Menit 22 Detik Bujur Timur, sekitar tenggara Laut Okhstok. 02.04. 25 Februari 2056

"Status aman, tak ada fog terdeteksi."

Suasana dalam kapal berbentuk ikan pari itu amatlah sunyi dan tegang. Setiap kru fokus pada pekerjaannya masing-masing. Walau, situasinya masih cukup aman untuk bernapas seperti biasanya.

Mereka semua ditugaskan hanya satu, untuk memaksa I-401 untuk pulang kembali. Awalnya, Komaki Daisaku yang menjadi komandan di kapal Hakugei 3 ini tak setuju. Namun, karena alasan tertentu ditambah I-401 terdeteksi melewati selatan Laut Bering dengan kondisi rusak, ia terpaksa angkat jangkar.

Matanya yang tenang ditambah kacamatanya menambah wibawa sosok tersebut. Sedikit demi sedikit ia mencoba memasak rencana yang akan dia lakukan.

"Komandan, sonar mendeteksi 3 sumber pancaran suara yang tersebar sekitar 23 km." kata salah satu kru kapal.

"Apakah target merupakan kapal selam?"

Jeda agak lama yang sekaligus membuat kru yang lain tegang, sekitar 5 detik.

"Bukan! Kapal selam tak ada yang memiliki ukuran 1 meter. Ini sonobuoy."

Apa gerangan hal itu? Mungkinkah ini sinyal yang dikirimkan I-401 kepada dirinya? Ataukah itu adalah alat dari manusia atau fog? Ia menelan ludah. Ia akan mengambil keputusan sekarang.

"Segera lakukan penyelaman dan kirimkan drone untuk menyelidiki benda itu. Aktifkan mode penyamaran." perintahnya.

Kapal berbentuk ikan pari tersebut mulai menghilang dibalik air. 3 buah benda meluncur dari tabung torpedo dan meluncur dengan roketnya. Gelembung gas yang menyelimuti kapal makin banyak dan kecepatannya bertambah.

"Komandan! 13 objek datang dari atas air. Diperkirakan sebuah roket antikapal selam! Mengandung Thanatonium!"

Apa? Apalagi ini? Ya, dia yakin bahwa ini adalah ulah fog. Mereka sengaja menyebar sonobuoy untuk perangkap dan pendeteksi. Hanya masalahnya, darimana roket yang datang ini berasal? Padahal ia tak mendeteksi graviton atau bahkan selain 3 buah objek tadi. Kontur dasar laut masih sesuai seperti yang ada di Peta Inersia.

"Luncurkan rudal dan torpedo pemburu! Masukan 2 tabung torpedo dengan Torpedo Sonik dan ledakan sesegera mungkin. Segera menyelam lebih dalam."

Hey-hey! Sebelum mengetahui lebih jauh lagi, saya sarankan untuk melihat apa yang telah terjadi di atas sana. 31 mil arah timur laut dan beberapa puluh detik yang lalu, 3 buah kapal fog terombang-ambing di lautan. Mereka memiliki tribal warna merah dan meriam yang terarah ke sonobuoy. Itulah, armada yang dipimpin oleh Lutjens.

Seorang gadis bersurai kekuningan pendek dan memiliki sebuah pita kupu-kupu biru di samping rambut. Pakaiannya merupakan pakaian khas pelayan jerman. Ia tengah memasang kuda-kuda tunduk berada di dek kapal tempur Scharnhorst. 2 Lingkaran merah terus berputar. Kepalanya yang tunduk tiba-tiba terangkat menyadari ada sesuatu yang terjadi.

"Ibu. Sonobuoy mendeteksi sebuah objek di dasar laut," ucapnya.

"Saya juga." kata perempuan lain dengan surai oranye yang sebagian dikuncir samping. Ia berada di atas Rangefinder Graf Spee dan pakaian sailor. Posisinya sama dengan cincin merah yang terus berputar.

"Kita semua merasakannya. Kini pancingan kita dimakan," kata gadis bersurai merah menyala tersebut dengan posisi yang sekali lagi sama.

"Namun tanpa jejak graviton, Bu," tambah Scharnhorst.

"Benda sebesar ini. Ini tidak mungkin Oktober Merah. Ini, buatan manusia? Oh ya, aku tahu signature benda ini," gumam Lutjens melihat hologram diatas lingkaran yang berputar dan berpikir sebentar, "kita hanya ditugaskan untuk memburu Armada Terkutuk. Namun, bila manusia berani di tengah laut, itu merupakan tindakan cari mati. Mari kita lumpuhkan."

""Roger!""

Meriam tengah setiap kapal segera menaikan elevasi. Tak lama, dentuman keras terdengar bersamaan hingga memecah riak ombak. Peluru berkaliber 28cm dengan pucuk merah meluncur menembus semburan api dan kecepatan 1200 m/s ke arah atas. Butuh waktu puluhan detik untuk peluru menukik ke bawah, ke arah Hakugei 3 berada.

Mari kita ulangi salah satu scene tadi.

"Komandan! 13 objek datang dari atas air. Diperkirakan sebuah roket antikapal selam! Mengandung Thanatonium!"

Apa? Apalagi ini? Ya, dia yakin bahwa ini adalah ulah fog. Mereka sengaja menyebar sonobuoy untuk perangkap dan pendeteksi. Hanya masalahnya, darimana roket yang datang ini berasal? Padahal ia tak mendeteksi graviton atau bahkan selain 3 buah objek tadi. Kontur dasar laut masih sama seperti yang ada di Peta Inersia.

"Luncurkan rudal dan torpedo pemburu! Masukan 2 tabung torpedo dengan Torpedo Sonik dan ledakan sesegera mungkin. Segera menyelam lebih dalam."

Hakugei segera menukik ke bawah air sementara puluhan proyektil yang dikeluarkan meluncur ke atas. Benar-benar muncul di air dan mengejar target.

Namun, peluru tersebut tiba-tiba mengeluarkan kembang api yang jejaknya berputar di ekornya. Rudal-rudal yang datang malah mengarah ke kembang api tersebut. Walau, beberapa rudal berhasil mengenai beberapa peluru dan bola-bola merah sebesar peluru itu yang menyedot aura hitam terbentuk di langit, meskipun cepat sekali hilang.

Total 7 peluru yang lolos segera tercebur ke dalam air dengan persebaran 100 meter. Melambat dan semakin melambat. Torpedo pendeteksi segera mendekati benda itu. Tiba-tiba, casing peluru memperlihatkan garis-garis belahan berwarna merah dan…

'BWUUUZZZZ!'

Seketika saat semua casing peluru terbuka menampakan sebuah tabung berwarna merah, laut terbelah sangat luas. Motif heksagonal menghiasi dinding laut. Ribuan kilatan listrik merah dari mereka segera menyertai seluruh area terutama Hakugei yang tengah menyelam. Torpedo yang mendekatinya malah menyasar ke arah lain akibat sistem kendali rusak.

Sontak, semua kru berteriak panik. Kapal berguncang amat hebat dan perlahan terangkat. Seluruh layar tiba-tiba seperti mengalami kerusakan seperti buras dan mati hidup. Sirine segera berbunyi amat keras dan lampu berkedip berwarna orange menyala

"Sial! Segera tembak benda itu dan laporkan kerusakan!" perintah Daisaku.

"Sistem persenjataan mengalami kerusakan akibat ketidakstabilan pasokan listrik."

"Reaktor kapal mengalami fluktuasi hebat dan mesin lumpuh!"

Tiba-tiba, pencahayaan di ruangan mati menampakan kegelapan total

"Sistem kelistrikan dan superkomputer rusak berat!"

"Sistem komunikasi dan navigasi juga lumpuh komandan!"

Sial! Benda apa itu? Itu bukanlah hulu ledak korosif atau rudal petir. Bahkan ini bukanlah sejenis supergravity cannon, energi gravitasi yang dipancarkan tidak stabil. Baru seumur hidup ia melihat benda semenakutkan itu dan situasi yang tak pernah diharapkan ini.

"Segera nyalakan back-up!"

"Maaf pak, seluruh sistem hidropneumatik rusak!"

"Apa?!"

Kita kembali ke mereka bertiga.

"Fufu, sepertinya memang benar itu Hakugei yang pernah dibicarakan, kalian masih ingat data KN1739 di Joint Tactical Network?"

"Kapal selam itu. Oh, yang pernah tenggelam itu ya?" Scharnhorst menjawab pertanyaan Lutjens.

"Tidak sepenuhnya benar. Ada 3 buah yang dibuat, itu yang terakhir. Pernah bertempur bersama I-401. Tak kusangka benda itu amat sensitif dengan radiasi Valiantonium."

"Atau mungkin ia sedang menjemput I-401?"

Mereka berdua segera mengarahkan ke Graf Spee yang berdiri mematung menatap hasil yang telah mereka buat. Mereka terkejut dengan pendapat frontalnya.

"Pergerakan I-401 luput dari perhatian kita. Padahal ia melewati jalur utara alias searah dengan kita," tambah Graf Spee.

Lutjens segera meluruskan posisi kepalanya. Matanya memejam dan senyum seperti mendapat angin segar, "Itu bukan urusan kita. Bila kita tak dirugikan kenapa harus menghancurkan mereka?"

"Graf benar, Bu. Bila ia sampai ke base dan siap bertempur, bukankah kita yang akan jadi sasaran selanjutnya?"

Lutjens membuka kelopak matanya menatap badai listrik yang dapat terlihat, "Kita sekarang jangan memikirkan hal itu. Bagaimana dengan mereka?"

"Fufufu, biarlah mereka mati mengenaskan seperti itu. Aku amat menikmatinya," kata Graf Spee seraya menjilat bibirnya.

"Jangan begitu. Saya malah jadi tidak enak melihatnya. Scharnhorst!"

"Ja mom!"

"Feurer."

"HE order T?"

Lutjens menarik nafas panjang dengan kesal. Mengapa anak itu selalu bertanya hal seperti itu?

"Mach es einfach!"

Lingkaran merah gadis bersurai pendek itu membesar selagi ribuan partikel cahaya yang membentuk sebuah benda yang merupakan Parallax Rangefinder dengan panjang 3 meter. Sementara itu ketiga kubahnya menampakan garis merah dan bagian kubah dengan atap miring segera terpisah menjadi 3 meriam utama setiap kubah dan meriam itu melayang di udara. Arahnya masih sama kemudian larasnya terbelah lagi menampakan pipa menyala merah yang merupakan Photon Cannon.

Sementara itu, kubah menyisakan sisi berbentuk kotak dengan atap datar yang terdapat rangefinder dan isi kubah yang terbuka. Tak lupa gundukan dengan lingkaran bersisi putih. Tepat dibawah lingkaran keluarlah laras meriam dengan sudut 20 derajat dan sebuah logam di atas lingkaran menangkapnya sekaligus meluruskan meriam ditambah 2 buah logam keluar dengan sudut 45 derajat ikut memperkuat juga meluruskan. Suara mekanis terdengar cukup keras. Bersamaan dengan itu beberapa batang lagi keluar dari dalam memperkuat meriam itu dan ada yang membentuk perpanjangan ke belakang jauh melebihi pinggir kiri kapal. Sisa kotak kubah juga sudah hilang memperkuat meriam. Tiga titik yang berada di ujung laras mengeluarkan laser bidik berwarna merah. Transformasi dan bentuk meriam ini persis seperti meriam Lockdown di Transformers 4, hanya yang ini jauh lebih besar.

Kini, 3 meriam raksasa berkaliber 600mm dengan panjang keseluruhan 35 meter ditambah 9 photon cannon yang melayang siap untuk ditembakan dari Scharnhorst. Mental model itu segera menaruh matanya di 2 lensa yang tersedia. Tangan kanannya memegang engkol untuk berputar dan satunya lagi untuk mencari dan mengukur jarak. Ketiga meriam ini segera menaikan elevasi maksimal yaitu 20 derajat.

Tak lama, dentuman amat sangat keras terdengar diikuti 3 selongsong raksasa yang terlontar ke belakang. Kekuatannya mampu membelah air di bawahnya hingga radius 100 meter. Semburannya bagaikan nafas naga raksasa hingga burung camar yang nahas lewat agak jauh dari kapal segera musnah. 3 peluru berbentuk seperti tetesan air dengan sirip di belakangnya dengan panjang 3 meter dan diameter 600mm terbang begitu cepat dan konstan pada 950 m/s.

"Kapten!"

"Siapkan evakuasi! Tinggalkan kapal ini!"

Lorong berguncang begitu kencang membuat Daisaku menyadari sesuatu. Di jendelanya, ada 3 cahaya yang berada di atas laut. Semakin lama semakin mendekat. Itu peluru. Daisaku berpikir butuh puluhan peluru untuk menenggelamkan kapal ini. Bila hanya 3 peluru, ia menyimpulkan peluru itu berbahaya.

Dan matanya tersadar menangkap peluru raksasa itu sudah tepat didepan matanya.

"Pegangan!"

Hakugei yang tengah melayang tak berdaya mendapat sambaran 3 peluru. 3 bola merah dengan aksen hitam terbentuk amat besar menyerap apapun yang ada di dekatnya, bahkan listrik dari radiasi Valiantonium. Radiasi itu membuat semua bola musnah lebih cepat meninggalkan bekas gilingan bola berwarna merah. Namun, itu lebih dari cukup.

'DBUUUMMMMM!'

Kapal itu meledak hebat. Saking hebatnya, gelombang kejutnya meledakan Valiantonium yang ada 600 meter darinya dan terurai menjadi bola merah dan menghilang. Tak ada yang tersisa karena air laut kembali menyatu menghilangkan semua jejak.

"Last Hakugei done!"

"Well! Tidak buruk juga," gumam Lutjens.

"Mungkin aku mencatat sejarah dunia fog untuk pertama kalinya menembaki kapal manusia dengan Thanatonium," gumam Scharnhorst yang telah kembali ke kondisi semula.

"Mengapa Kau memakai Thanatonium, Scharnhorst?" tanya Lutjens.

"Lho, bukannya Ibu sendiri yang menyuruh 'tembak saja'?" tandasnya.

"Ah… baiklah. Toh, tak ada ruginya."

"Padahal sedang bagus-bagusnya. Coba bila kita membiarkan gravity-shock membunuh mereka? Jarang-jarang kita bisa menyiksa manusia."

"Hus! Jangan begitu, Graf. Aku tahu kau tak suka manusia tetapi… gunakan pada tempatnya. Kau bisa menembakan Flakvierling 38 sepuasmu bila ada kesempatan."

"Ah, baiklah bila begitu."

"Oh ya, Scharnhorst. Armada ASW Gelombang 2 akan datang 4 hari lagi. Bila anda berpikir, apa cukup untuk menghancurkan Oktober Merah?"

Scharnhorst tampak berpikir. Ia terdiam dengan bertopang dagu.

"Aku tidak tahu, Bu. Kita belum tahu sejauh mana performanya. Tetapi dari pengamatan selama 5 tahun ini, mereka mampu menembakan supergravity cannon secepat itu. Beberapa kali dikabarkan fog kelas kapal tempur bisa dipengaruhi oleh mereka. Ini menandakan kecepatan pemrosesannya yang luar biasa."

"Direct Elementer Transmission. Tidak salah lagi," gumam Graf Spee.

"Terima kasih, Scharnhorst. Ini diluar perkiraan kita. Mungkinkah Tuan Shouzou akan membantu kita?"

"Kabar burung, Kapal Tempur Cepat Kelas Number 13 telah berhasil diuji coba dengan teknologi Prototype Improvisasi. Dari yang aku terima. Ia menerima teknologi gravity-shock cannon, unrotated projectile, ASW supersonic torpedo, dan bahkan Direct Elementer Transmission. Bisa saja mereka digunakan untuk membantu kita."

"Tak ada teknologi dari Nomor 3?"

"Kelihatannya tidak ada, server tak mempunyai cetak biru teknologi dari Oktober Merah. Semuanya termasuk salinan telah dihapus saat 30 September," jawab Graf Spee, "tetapi server mengindikasi adanya teknologi yang digunakan manusia darinya."

Lutjens kaget.

"Jangan-jangan yang di Asia Tenggara? Semua fog yang tenggelam itu ada hubungannya dengan transfer teknologi Oktober Merah?"

"V-Tipped Penetrator. Mereka menjualnya."

"Sebenarnya apa tujuannya itu? Tetapi ini kesempatan bagus. Kita bisa meminta seorang mental model untuk mencurinya dari sana. Toh, bila Kita punya penembus wave armor itu, Kita bisa dengan mudah menyainginya."

"Ide bagus. Lalu kita mulai dari mana?" Graf Spee melompat menghampiri sebuah senapan anti pesawat kaliber 20mm. Ia duduk di bangku yang ada dan kedua tangannya memutar engkol.

"Saya akan mengakses Joint Tactical Network segera dan meminta seseorang ke sana."

Graf menekan pedal dan senapan itu menyalak menghiasi langit dengan warna merahnya. Bidikannya mengarah mencoba menjatuhkan burung camar yang berteriak minta tolong di angkasa.


Fact and Trivia

- Logo Black Fleet (Siapkan kertas dan pulpen jika anda pelupa) goo&gl/oVyPIl

(Ingat! tanda "&" diganti titik)

- Nama panjang Ra adalah Prototype Improvisation No. 3 Submarine Battleship Krasniy Oktyabr. Nama ini terinspirasi dari film The Hunt of Red October dimana sang protagonis mengejar kapal selam dengan nama yang sama.

- Hegdehog sebenarnya adalah mortir antikapal selam.

- Propulsi yang dipakai Ra dan teman-temannya bukanlah roket, namun Magnetohydrodinamic. Sama seperti Ra dalam film The Hunt of Red October (Wikipedia : Magnetohidrodinamik).

- Tidak tahu AZT? Cari di Google

- Lutjens dan kawan-kawan mempunyai 2 mode serangan: ASW dan Surface.

- Alur certa ini dititikberatkan pada Anime yang dimana Hakugei dan beberapa kapal lain tak ditampilkan (Terlebih U-2501) Jadi, saya hancurkan saja mereka :P

- Saya belum melihat secara keseluruhan Arppegio DC. Jadi, saya baru mau klaim kalau cerita Yamato ternyata punya 1 mental model kalau mau ada yang konfirmasi.


Dan begitulah, saya akan secepatnya memberikan cetak biru 3 Kapal Prototype Improvisation pertama untuk update selanjutnya. Yang siap untuk diposting adalah No. 2 (Kentucky), sementara Ra belum benar-benar selesai. Termasuk sampul fic ini akan dipasang pada update selanjutnya. Update selanjutnya semoga lebih menegangkan lagi. Terima kasih.


Мас Донго 2016