1 tahun kemudian
"Sehun."
"Sehunnn"
"Sehunnie sayang ayuk bangun, nanti telat"
Hening
"Hunni-"
"Aku sudah bangun sayang" Sehun membuka matanya lebar-lebar menunjukkan kalau dia sudah bangun
"Dipanggil gitu aja bangun. Ayuk sarapan"
"Morning kiss dulu."
"Manja." Tapi lelaki manis itu tetap mencium sekilas bibir sehun lalu menarik tangan Sehun agar duduk
"Bangun, mandi, lalu sarapan. Wangi mu sangat amis tau"
"Amis begini kan karena bekas sperma mu."
"YA! Cepat mandi atau aku akan menendang bokongmu"
"Baik ibu tiri Luhan. Aku akan mandi tapi sebelum itu.."
Sehun mencium Luhan dan sedikit mengigit bibir bawahnya. Saat dia merasa Luhan mulai kesal, ia melepas pungutan bibir itu lalu berlari ke dalam kamar mandi.
Luhan yang melihat sikap keanakan Sehun hanya tertawa. Dia berdiri lalu mulai merapihkan tempat tidur yang berantakan sehabis kegiatan semalam
"Ibu Luhan tidak ingin mandi bersama anak tirinya?"
"Mati kau Oh Sehun" dan Sehun berhasil masuk sebelum lemparan bantal mengenai wajahnya yang tampan
Sehun dan Luhan terlihat sedang menyantap sarapan mereka dengan tenang. Tidak ada keributan karena ulah konyol mereka. Mereka berdua paling tidak suka ada suara saat makan.
Saat Sehun terlihat sudah selesai menyantap nasi gorengnya, dia melihat Luhan yang masih fokus pada pancakenya. Sehun menggelap pinggir mulut Luhan yang terkena saus strawberry dan itu sukses membuat Luhan tersipu merah. Sehun hanya bisa menggelengkan kepala dan mengusak rambut Luhan. Sehun menatap Luhan dengan tatapan lembut yang sukses membuat Luhan memerah
"Kau sudah selesai makan?" Luhan mengalihkan pembicaraan. Tatapan sehun itu...
"Sudah. Sarapan hari ini sangat enak. Pasti kau semangat sehabis kegiatan kemarin kan?"
Luhan hanya bisa melotot dan meminum air putihnya sambil pura-pura tersedak
"Memang masakan ku enak. Kau saja yang pergi terus."
"Uuu Luhan ku ngambek ya sekarang? Maaf yaaa" sehun mengacak rambut luhan dan lagi sukses membuat luhan tersipu
"Baiklah, waktunya berangkat ke kantor. Cepat sebelum kau terlambat." Luhan bangkit dari duduknya dan mengambil piring sisa makan sehun dan dia. Dia meletakkannya di bak cuci piring, lalu menghampiri sehun. Membereskan kemeja kekasihnya yang akan berangkat ke kantor
"Kau sudah seperti istri ku saja lu."
"Kau tidak mau?"
"Tentu saja mau. Sangat mau. Uuu luhannie kau sensitif sekali, Kau sedang PMS?"
"Aku lelaki bodoh" luhan memukul lengan sehun dengan keras dan membuat sehun pura-pura mengaduh kesakitan. 'Huh pukulan seperti ini tidak ada apa-apanya' batin sehun
"Hehe aku hanya becanda sayang." Sehun pun memeluk luhan erat dan menggoyangkan badan mereka berdua kekiri dan kekanan
"Sehunnie"
"Ya?"
"Besok aku ingin pulang ke Beijing, bolehkah?"
Terjadi hening panjang. Sebenarnya sehun tau bahwa perubahan sikap Luhan yang seperti wanita pms ini karena merindukan orang tua dan kampung halamannya namun sehun tidak yakin bisa menemaninya karena pekerjaannya yang mulai sibuk sekarang.
"Kau rindu ayah mu?" Sehun pun mengendurkan pelukannya dan menatap mata luhan.
Penuh kerinduan
"Ya begitulah. Ibu sering telepon, bilang kalau dia merindukanku. Sempat ayah sampai menangis dan mengeluarkan ingusnya. HAHAHA aku tertawa saat mendengar cerita itu. Namun aku bilang bahwa sehun tidak bisa karena sedang sibuk, jadi aku akan-"
"Kau bisa pulang Lu."
"Hah apa?"
"Kau bisa pulang ke Beijing. Bertemu dengan ayah dan ibu mu. kalian saling merindukan." Sehun tersenyum manis kearah Luhan
"Tapi, kau bagaimana? Siapa yang akan mengurus mu hei bayi besar?"
Luhan menggelitik perut Sehun ringan. Selalu seperti ini. Pembicaraan serius dihadiri kejailan mereka
"Sepertinya besok aku akan pergi. Ada acara di Jepang beberapa hari. Dan kau akan pulang ke Beijing, jadi ya, kita sama-sama pergi bukan?"
"Kau ke Jepang?"
"Ya" sehun mengganguk mantap.
Rencanannya dia akan menolak perintah ke Jepang besok, dia tidak tega meninggalkan Luhan sendiri. namun mungkin ini pilihan yang benar.
mungkin
"Kau yakin kan sayang?"
Luhan membelai pipi Sehun lembut dan membuat mata Sehun terpejam. Tangan Luhan memang halus dan dia suka
"Aku yakin. Hari ini aku akan pulang jam 5 sore. Malam ini tidak ada adegan kuda tapi persiapan liburan kita masing-masing." Sehun tersenyum meyakinkan. Ya ini keputusannya
"Kau yakin tidak akan berkuda dengan ku?" Luhan tersenyum jahil.
"Akan kucoba hehe" Sehun pun mencium kedua pipi luhan, lalu ke dahi, hidung, dan mencium bibir Luhan. Hanya ciuman lembut tanpa gigitan dan hisapan
"Baiklah sayang, sepertinya aku sudah telat, aku pergi dulu. Aku berjanji hari ini akan pulang pukul 5 sore, jika jam segitu aku belum pulang, kau taukan harus apa?" Sehun melepas pelukannya dan menggandeng tangan Luhan pergi ke garasi rumahnya
"Ehmm, menelepon mu? Mengirim pesan sampai 99 kali? Menarik juga. Pergilah"
Sehun masuk ke dalam mobil dan menyalakannya. Membuka kaca dan melambaikan tangannya pada luhan dan melesat menggunakan mobil mercedes kesayangannya
"Bye istriku yang manis"
"Bye suamiku yang cadel"
Luhan melambai pada mobil sehun yang sudah pergi dan menatapnya penuh dengan senyuman
"Semoga kau benar akan menjadi suamiku" batin Luhan dalam hati
Dilain tempat, seorang laki-laki baru saja keluar dari kamar mandinya. Rambutnya yang basah dan badan dengan kulit tan dan tubuh sexy. Para lelaki manis maupun wanita pasti menyukainya.
Dia mengambil kemeja bewarna biru tua dan celana hitam. Memilih dasi bewarna hitamnya. Melihat tampilannya dicermin lemarinya
'Jonginnie tampan sekali. Huh'
Suara dia lagi. Pria itu menghela napas lalu pergi keluar kamarnya. Berjalan ke arah dapur dan memeriksa kulkas, sarapan apa yang akan dibuatnya hari ini. dia memutuskan mengambil sebutir telur dan bacon beserta sekotak susu cokelat
biasanya disebelah susu cokelat itu terdapat 2 kotak susu rasa lain, vanilla dan strawberry.
Saat masakannya selesai, pria itu duduk dan menelepon orang yang berada paling atas di daftar panggilan, Kyungsoo.
"Selamat pagi sayang"
"Hai, pagi. Aku baru saja akan menelpon untuk membangunkanmu. Ternyata kau sudah bangun rupanya."
"Aku hari ini bangun pagi. Semalam aku pulang cepat dan langsung tertidur, and see. Aku bangun pukul 7 pagi. Tanpa alarm"
"Benarkah? Wah Jongin sudah jadi anak pintar ya" terdengar suara kekehan disebrang sana
"Hehehe, Apakah kau sudah sarapan?"
"Sudah, hari ini aku memasak sandwich segar."
"Pasti enak."
"Hahaha. Kau saja yang tidak ingin tinggal disini. Padahal eomma dan appa telah membujukmu"
Jongin terdiam. Dia bukannya tidak ingin tinggal bersama Kyungsoo, namun ia tidak bisa tidur bersama orang lain. Dia pernah mencoba tidur bersama temannya, Chanyeol dan berakhir dia yang tidak tidur semalaman. Kecuali dengan keluarga dan satu orang
Orang di masa lalunya
"Kau akan berangkat jam berapa nanti?" Jongin mengalihkan pembicaraan dan menyantap sarapannya kembali
"Pesawatku pukul 9 malam, kenapa?"
"Siang ini kau ada acara?"
"Tidak"
"Ayo kita makan siang bersama. Aku akan menjemputmu di dapur."
"Baiklah. Aku menunggumu"
"Okey"
"Jongin, aku harus pergi. Aku ingin ke supermarket, bahan makanan di rumah habis."
"Baiklah,hati-hati sayang. Jangan terlalu ngebut"
"Iya iya aku tau. Sudahlah, selamat berkerja nini sayang."
"Bye honey"
Jongin mengakhiri teleponnya lalu langsung meminum susu nya. Berdiri dan meletakkan piring dan gelas kotor ke tempatnya.
'Sesudah makan, letakkan piring dan gelas kotormu ditempatnya. Jangan jorok jika tinggal denganku'
Jongin terdiam menatap tempat cuci piringnya..kembali dia mengingat orang di masa lalu, yang sejujurnya belum bisa dia lupakan.
Dia menghela nafas lalu berbalik pergi ke kamarnya dan mengambil tas dan kunci mobil. Mengendarai mercedes warna putih miliknya ke kantor
'Cobalah lupakan dia. Kau yang merelakannya'
Hello kembali lagi dengan ff ini
Belom keliatan banget ya konfliknya? Disini masih pengenalan dengan pasangan masing-masing. Dan si Jongin hobbynya flashback mulu yak wkwk. Gagal move on nih ceritanya
Semoga di chapter selanjutnya sudah terlihat konfliknya.
Kritik dan Saran sangat diterima. Makasih untuk semua reviewnya, semoga ga kecewa dengan lanjutan ini ya.
Review, Favorite, dan Follow juga yaa. Hehe
Maafkan tadi di repost, karena ada salah dalam peng-editan
