North Boulevard, sore, 25 Agustus—2005
Aunty jahat yang baru saja menjewer telinganya itu berkata bahwa dia akan merawatnya.
Merawat siapa?
Katanya harus tanggung jawab karena sudah merusak kebun bunganya.
Ah, itu aku! Oh, iya, mama memang berkata aku akan dititipkan pada seseorang...tapi...
Aunty itu sangat menakutkan, menatapnya lekat dengan mata memicing. Ia merinding. Ingin rasanya berlari dan bersembunyi di belakang ibunya. Akan tetapi, saat menoleh, ibunya telah berbalik dan menghilang.
Dan ia pun hanya bisa menatap tempat yang telah kosong itu.
Bergumam, "Mama..."
...tanpa bicara dulu...mama langsung pergi...
"'Mama'?" Suara bibi itu mengejutkannya. Mencondongkan badan untuk melongok ke bawah, melihatnya. Anak itu menengadah, takut dan gugup. Apa salahnya lagi sekarang? batinnya. Namun, wanita itu malah bertanya lagi. "Yang kau maksud ibu kandungmu atau wanita tadi?"
Anak itu memiringkan kepalanya. "'Ibu kandung'?"
"Oh ya, apa Granger yang kau maksud? Memangnya sudah berapa lama kau tinggal bersamanya?"
Anak berambut hitam itu mengerutkan dahi, tidak mengerti. "Huh?"
"Kupikir dia baru saja memungutmu."
"'Memungut'?" Makin tidak mengerti saja.
"Oh, gawat. Apa ini rahasia? Mungkin seharusnya aku tidak banyak bicara."
"Hah?"
Pansy memutar bola matanya. "Baiklah, nak," ucapnya, "siapa namamu?"
"Apa—oh!" Anak menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menghilangkan kebingungannya. Lalu ia tersenyum lebar, menjawab dengan sopan dan riang.
"Orphe," katanya, "namaku Orpheus!"
.
.
The Child who Vanished along with the Past
Rozen91
Harry Potter © J. K. Rowling
~days with Pansy~
.
.
"Namaku Pansy Parkinson, dan aku tidak mengizinkanmu memanggilku 'bibi'," ucap Pansy. Kau membuatku terdengar tua, batinnya kesal. "Panggil aku 'Pansy'."
"Baik."Orpheus mengangguk. "Halo, Pansy."
Sudut bibir wanita di depannya berkedut. "Halo, Orphe," ujarnya dengan gestur yang tidak menunjukkan kepedulian saat ia menoleh ke samping, melihat langit sore. Ia sedang mengira-ngira waktu. "Sebentar lagi makan malam. Aku akan menunjukkan kamarmu, dan kau sebaiknya sudah mandi saat aku datang lagi ke kamarmu. Kau mengerti?"
Orphe setengah berlari saat berusaha mengikuti langkah Pansy yang cepat. "Uh-hum," jawabnya.
Pansy memanjat ke teras, lalu menaruh tangan di handle emas pintu besarnya. Ia menghentakkan dagunya. "Ayo, masuk."
"Ah..." Orphe melangkah masuk, memandang ke langit-langit tempat chandelier kaca tergantung cantik. "...Permisi..."
Rumah besar ini ternyata memang tidak seperti rumahnya yang ada di lembah.
pagi, 26 Agustus 2005
"Apa yang kau lakukan!?" seru Pansy, jengkel. Orpheus berjengit.
"Kau harus menariknya lebih keras lagi!"
"Uh, rumput ini sangat keras...seperti ini?"
"Bukan," sambar Pansy gusar, menaruh tangannya di atas tangan Orphe, lalu menarik rumputnya kuat-kuat, "tapi, seperti ini!"
"Uwaaaah!"
Kedua terguling ke tanah.
Pansy berdiri dan menghembuskan nafas keras-keras. Terlihat sangat tidak senang. "Tenagamu kurang. Lihat saja tanganmu yang kurus itu."
Orpheus memeluk kedua lengannya, merasa tidak terima dikatai kurus walaupun itu memang benar. "Mau bagaimana lagi, umurku baru 6 tahun. Aku masih dalam masa pertumbuhan."
"Yeah, yeah." Pansy mengibas-ngibaskan tangannya tidak peduli. "Kau harus makan banyak selama tinggal di sini atau aku yang akan tersinggung jika kau pulang dalam keadaan yang masih sama seperti saat kau datang."
"Oh!" Mata hitam Orpheus berbinar riang. "Aku tidak keberatan! Makanan di rumahmu sangat enak, Pansy!"
Pansy memutar bola matanya.
malam, 27 Agustus 2005
"U—uwaaaah..." ujar Orpheus, terperangah. Menatap dengan bola mata membelalak. Ia baru saja turun dari tangga saat melihat meja dan kursi serta beberapa perabotan di dekat perapian melayang-layang."Apa ini semua perbuatan hantu!?"
"Pansy!" teriaknya, terdengar sangat bersemangat dan heboh. Pansy yang dari tadi sudah ada di sana, berdiri dengan tongkat sihir di tangan, meliriknya kesal. "Hantu melakukan semua ini!"
Pansy menoleh, menatapnya aneh dari bahu. "Hantu? Ini semua sihir."
"'Sihir'!?" jerit Orpheus, "Hebat!"
Pansy memiringkan kepalanya ke satu sisi, bertanya-tanya bahwa apakah mungkin Granger tidak pernah memperlihatkan sihir pada anak yang ambil dari jalanan ini, atau memang Orpheus adalah muggle yang baru saja tinggal dan belum sempat diperkenalkan pada sihir oleh wanita itu?
Pansy terlalu malas menanyakannya. Lagipula, perutnya sudah lapar dan ia butuh Peri Rumah untuk menyiapkan makan malam di meja untuk mereka berdua.
pagi, 28 Agustus 2005
Pansy melihatnya lagi.
Orpheus hari ini juga berdiri di depan pintu yang terbuka lebar.
Setiap kali melintasi ruang depan, Pansy sering melemparkan lirikan yang sebenarnya agak terkesan khawatir (tapi dia tidak akan mengakuinya). Dari kemarin ia melihat Orphe melakukan hal itu. Setelah berkali-kali berjalan bolak-balik padahal urusannya selesai, akhirnya Pansy menghela nafas dan membatin bahwa ia mengaku kalah. Wanita itu berjalan dengan sepatu hak tinggi yang mengetuk-ngetuk lantai, mendekati anak itu.
"Kau menunggu ibumu?" tanya Pansy, membuka topik pembicaraan, "apa menurutmu dia akan kembali hari ini?"
Orphe tidak menoleh, namun Pansy bisa melihat bahwa anak itu tersenyum.
"Mungkin," jawabnya singkat. Pansy berpikir bahwa Orphe tidak akan mengatakan apapun lagi, namun anak itu tiba-tiba menarik nafas panjang-panjang. Dan mulai bercerocos seperti kereta uap. "Kau tahu, mama selalu melakukannya. Aku tidak apa-apa ditinggal sendiri. Dulu granny yang tinggal di suatu tempat di kaki gunung selalu menemaniku jika mama pergi, tapi sekarang tidak lagi. Tapi, aku tidak apa-apa ditinggal sendiri. Aku sudah besar dan bisa mandiri. Mama selalu pergi, tapi pasti akan kembali."
Pansy mulai merasa tertarik. "Kau tahu dia pergi kemana?"
"Tidak tahu. Granny pernah bilang mama pergi menangkap bintang jatuh."
Pansy tak mampu menahan senyum geli. "Oke, well, berapa hari dia pergi?"
"Aku tidak pernah menghitungnya."
Pansy mengerutkan kedua alisnya. "Seharusnya kau menghitungnya."
"Aunty," ucap Orpheus dengan nada yang digunakan orangtua pada anak kecil yang salah memahami perbedaan batu dengan kepiting, "kalau aku menghitungnya, maka waktu akan terasa sangaaaat laaaama."
Alis Pansy terangkat tinggi. Apakah maksudnya lebih dari 3 hari? Satu minggu? Belasan hari? Pansy tidak mampu menebak.
"Sudahlah, aunty," ujar Orpheus memunggungi teras dan berjalan menuju tangga sembari berkata, "nanti mama akan kembali. Membawa banyak makanan enak. Lalu kami berdua akan kembali pulang ke rumah."
Orpheus memamerkan senyum bocah tengilnya saat berkata demikian.
_bersambung_
Doi Ganteng : yaah begitulah,, hahaha =w=
Riska : anak Dramione? au ah gelep,,, di genre-nya udah kata 'tragedi' loh, =w=,, kamu ini,,, nanti kupertimbangkan deh,,, =w=
reader : ini dia lanjutannya, silahkan dinikmati~
yosh, makasih atas review-nya, and thanks for reading!
bubay, beibeh!
