Author's note : Dedikasi kepada Oishi yang telah melimpahkan kasih sayang dan segenap perhatian kepada teman lamanya.


Letter for Oishi


Desclaimer : saya adalah orang paling bahagia di dunia jika memiliki ibu seperti Oishi. Karena saya tidak sebahagia itu, Oishi jelas bukan ibu saya….

Main Character : Buat apa saya daritadi nyebut 'Oishi', 'Oishi'??

Genre : drama, angst, slightly humour.

Summary : Pesawat pagi menjelang siang, tiket di tangannya, tidak ada yang bisa menghalanginya. Dan surat itu sudah berada di kotak posnya. Kepergiannya harus direlakan.

A/N :saya tidak menjamin fic ini bebas dari Shonen-ai karena beragamnya interpretasi pembaca. Tapi dari sudut pandang saya sendiri, saya menyatakan fic ini BEBAS shonen-ai. Anda boleh percaya atau tidak, silakan baca untuk keterangan lebih lanjut : p.


Hari sudah malam saat pertandingan kaptennya dan juniornya selesai. Awan gelap bergelung mengirim sinyal mimpi menjelang tidur, namun mereka baru saja selesai membenahi diri mereka yang bau keringat dan kelelahan.

Satu persatu selesai dan keluar dari pintu ruangan klub tenis Seigaku. Yang ramah, semacam Eiji dan Kawamura, berpamitan saat mereka memutuskan bukan waktunya lagi mereka bertahan di klub. Yang kurang ramah ( boleh dibilang anti-sosial ), Kaido, menyosor pergi tanpa berkata apa-apa. Ryouma dan Momoshiro menyusul pada kloter ketiga. Desisan Ryoma tertimpa seruan selamat tinggal Momoshiro, di luar terdengar keluhan protes Ryoma yang khas, ditimpali seratus juta frase dan kata oleh Momoshiro.

Fuji tersenyum tenang, sementara Oishi melongo menangkap percakapan tidak akrab dua orang itu, berjaga-jaga untuk segera berlari ke arah mereka dan menengahi pertengkaran, bila terjadi. Tapi sampai jauh pun kedua orang itu cuma menerima dan mengembalikan cercaan. Tidak ada yang berniat mengirim sejurus tinju. Barulah Oishi bernafas lega, "Mereka di mana dan kapan saja selalu bertengkar."

Fuji melihat ke arahnya, tampak cukup terkejut, "Benarkah? Aku tidak melihat ada yang lebih akrab dari mereka, selain golden pairing kita."

Senyum ragu muncul di wajah Oishi, "Menurutmu mereka cukup akrab? Syukurlah, aku pun berpikir begitu, Tapi aku tidak pernah bisa berhenti berpikir di sela-sela mereka bercanda saling menghina, suatu saat akan ada hinaan yang mengena dan akhirnya malah timbul pertengkaran."

Fuji tertawa, dia menyandang tasnya, "Oishi, kau memang keibuan. Iya kan, Tezuka?" Fuji pergi diiringi kegelisahan Oishi,"Tu-Tunggu, Fuji! Bukan maksudku jadi pencemas, tapi-."

Orang itu menghentikan langkahnya, berbalik ke arah Oishi. Sosok Fuji yang berdiri di balik bulan seperti malaikat utusan pemimpi. Seulas senyumnya selalu menenangkan, "Lihatlah mereka baik-baik. Mereka tidak sedang bertengkar serius. Kadang komunikasi terjadi lewat cara yang sangat aneh. Misteri itu tidak bisa kita pecahkan, tapi bisa kita pahami. Cukup dengan melihat."

Oishi sempat tertegun sejenak. Mencerna kata-kata Fuji, dia seperti orang awam mendengarkan nasihat dari filsuf besar. Satu kata pun tidak mengait di benaknya. Apa itu melihat? Apa yang perlu dilihat?

Senyum Fuji hanya semakin lebar melihat kebingungan Oishi. Dia memiringkan badannya supaya bisa melihat Tezuka yang masih ada di dalam, "Sampai jumpa, Tezuka." Dan pria itu berlalu seperti angin sejuk.

Oishi mengerjap sekali. Fuji sudah tidak ada di hadapannya. Dia kebingungan, seolah baru saja dia menatapnya sedetik lalu ( kalau boleh menyadarkanmu, Oishi, kau sudah bengong selama lima menit! ). Dia menoleh untuk bertanya pada Tezuka, tapi dia seperti berkonsentrasi pada hal lain.

Keringat dingin mengalir di sisi dahi Tezuka, berkilau seperti embun pagi. Tapi maknanya tidak seindah itu kalau muncul di wajah kaku yang menahan rasa sakit. Oishi segera melompat ke sisi Tezuka dalam satu langkah besar, "Tezuka! Tanganmu baik-baik saja? Apa terasa sakit?"

Tezuka memejamkan matanya, menelan ludah seolah bisa menelan rasa sakitnya juga. Dia tidak menyangka tangannya akan terasa sakit meskipun sudah menggunakan tangan kanan saat bertanding dengan Ryouma. Bahunya seperti dipalu dan ditarik keluar dari persendiannya. Kadang rasa sakit ini mampir di tengah tidurnya. Seperti bom yang siap meledak kapanpun. Dia bukan dokter ahli sehingga dia sendiri pun tidak mengerti kenapa bahunya bisa sakit walaupun tidak banyak digunakan. Dia hanya bisa sampai pada kesimpulan sakit itu sendiri.

"Sudah kubilang, kau jangan memaksakan dirimu! Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada tanganmu?"

"Oishi, diam."

"Tezuka, aku bukan mengguruimu! Tanganmu itu sangat penting! Bukankah kita sudah berjanji akan ke pertandingan Nasional bersama-sama?"

"Oishi...," satu lagi tetes keringat mengalir di dahi Tezuka. Bukan karena rasa nyeri di bahunya, tapi karena Oishi yang terus berceloteh. Pokoknya adalah dia jengkel, terserah apapun penjabaran deskriptif bertele-telenya.

"Tanganmu jauh lebih penting dari apapun! Bahkan dari...," bola mata Oishi bergetar, mencari analogi paling tepat baginya. Dan baginya tangan Tezuka lebih penting daripada, "Nyawaku!"

Cukup, Tezuka mendelik marah, tanpa bisa dan mau dikendalikannya, nada suaranya naik, "Diam, Oishi! Jangan bicara lagi!"

Oishi tersentak. Menatap Tezuka, ekspresi temannya tidak kurang dari kata marah dan semua relatifnya. Suatu yang membara membakar hatinya. Apa yang dikatakannya adalah demi kebaikan Tezuka. Apa yang dikatakannya adalah demi mewujudkan mimpi Tezuka. Apa yang didapatnya?

Sebuah dampratan.

Kening Oishi mengernyit seketika kemarahannya tersulut, "Baik! Terserah kau saja! Aku akan diam, tidak peduli tanganmu putus atau apapun!" Dia bangkit dari sisi Tezuka, menarik tasnya dengan kasar, lalu membanting pintu tertutup.

Kaca panel pintu bergetar, begitu juga hati Oishi yang ricuh.

--HF-Smile--

"Shuichiro, tidak makan dulu?"

Oishi berjalan terus menaiki tangganya. Laparnya sudah hilang tertimpa emosi yang masih membara, "Aku tidak makan malam!" putusnya.

"Shuichiro!" ibunya melongokan kepala, melihat punggung putranya di anak-anak tangga. Sudah hampir seumur hidupnya dia tidak melihat sikap kekanakan dan kurang ajar dari putranya, maka dia bisa segera mencium gelagat aneh Oishi, "Kenapa dengan kau ini?"

Oishi berhenti di bordes. Dia terhenyak dengan sikapnya. Tidak sepatutnya dia melampiaskan pada orang yang tidak ada hubungannya. Dia pun tidak suka diperlakukan seperti itu. Maka Oishi menatap ibunya dengan pandangan menyesal, "Maaf, Kaa-san. Aku tidak apa-apa, cuma kelelahan."

Ibunya menghela nafas, "Baiklah. Kalau kau tidak bersemangat makan, aku akan membuatkan susu hangat untukmu. Nanti kuantar ke kamarmu. Sementara itu, pergilah mandi."

Oishi tersenyum lemas, untunglah ibunya tidak membahas permasalahan lebih jauh. Dia tidak punya modal untuk menjelaskan apapun, apa yang diinginkannya adalah merenung sendiri. "Ya, terima kasih."

--HF-Smile--

Sesuai janji ibunya, Oishi mendapatkan susu hangatnya pada pukul sembilan. Dia baru saja keluar dari kamar mandi. Dalam sekali teguk, dia menghabiskannya. Tidak ada minat membawa gelas itu kembali ke dapur, dia meletakan di meja samping tempat tidurnya.

Sementara dia sendiri mengeluarkan raket tenisnya dan mulai memeriksa ketegangan kawatnya satu per-satu.

Pikirannya berkelana.

Dia ingat dia bertengkar dengan Eiji karena Eiji meleluconkan fakta buruk yang tidak sepatutnya. Perlu beberapa hari memperbaiki hubungannya dengan Eiji. 'Bahkan golden pairing pun bertengkar,'mata Oishi begitu kosong, dia tidak ingat sedang menarik-narik senarnya. Apa yang dilihatnya hanya warna suram yang membutakan.

Dia sadar dengan sifat serius dan pencemasnya. Sadar sepenuhnya akan batas-batas yang dianggapnya tidak boleh dilaluinya. Menganggap dunia ini memiliki batas seperti pembatas garis kuning pada jalur kereta bawah tanah. Karena selalu ada konsekuensi ketika terjadi pelanggaran. Mudahnya, pada saat kau melanggar garis kuning, mungkin kau akan tersedot dan tertabrak kereta yang bergerak secepat peluru. Hubungan pertemanan pun seperti itu. Ada batas-batas yang tidak boleh dilalui. Mempermainkan orang yang dirundung duka, menjadikannya lelucon, itu hal yang tidak terpuji!

Pembelaan untuk khasus Eiji.

Tezuka telah menjadi temannya sepanjang sekolah menengah. Teman atau bukan, siapapun yang telah hidup bersamanya sekian tahun seperti itu tidak akan luput dari perhatiannya. Apalagi setelah Tezuka memberinya mimpi-mimpi yang sepertinya tidak jauh lagi dari gapaiannya.

Saat kita memegang tenis, kita akan pergi ke Kantou...Nasional!

Oishi sejauh ini telah bersabar, menunggu dengan setia terhadap segala keegoisan temannya itu. Membiarkannya melawan Atobe sampai akhir meskipun tangannya serasa akan patah. Membiarkannya melawan Ryouma pada detik-detik terakhir keberangkatannya ke Jerman. Selama ini sudah berapa banyak kepercayaan dan kesetiaan, kesabaran serta perhatian yang diberikannya pada Tezuka? Tidak terhitung.

Bukan congkak, tapi Oishi selalu melakukannya dengan kesediaan. Kesediaan membawa Tezuka menggapai mimpinya. Dia bersedia memberi tangannya bila Tezuka membutuhkannya, dia bersedia menjadi tangga bila Tezuka kurang tinggi untuk meraih mimpinya, Dia bersedia melakukan apa saja karena dia ingin melihat Tezuka berdiri di akhir sebagai pemenang, sebagai orang yang hidup dalam realita, bukan pemimpi.

Alasannya mudah saja, karena Oishi percaya Tezuka mampu mencapainya. Di balik mata itu ada kekuatan dan tekad, di kedua tangannya ada harapan, di kedua kakinya ada langkah besar yang bisa digapainya. Seluruh dirinya berpotensi besar sehingga orang seperti dirinya bisa menumpangkan tangannya di punggung tegar itu untuk mencapai mimpi bersama yang diharapkan.

Apakah dia terlalu muluk kalau menyatakan tangan Tezuka lebih berharga dari nyawanya?

Tentu tidak.

Itu nilai tukar yang sepadan. Dia justru meletakan nyawanya di bahu Tezuka, agar orang itu membawanya menyatakan mimpi. Mimpi yang seharusnya tetap berada di angan-angannya bila Tezuka tidak bersama dengannya.

Oishi kembali geram. Menarik senar raketnya dengan sangat kuat.

'Siapa yang mendoktrin orang dengan pertandingan nasional dan sebagainya? Siapa yang membuatku kalang kabut karena menjadi wakil ketua? Siapa yang membuatku harus bolak-balik rumah sakit untuk check-up?

...Sadarkah kau, Brengsek!?'

Lentingan tipis namun melecut mengembalikan Oishi ke alam kesadarannya.

Hal pertama yang dilihatnya adalah senarnya putus. Semakin geram, namun tidak bisa berbuat apapun, Oishi meletakan asal raketnya kembali ke dalam tasnya.

'Besok harus ke tukang senar...Sial...'

--HF-Smile--

Pagi menjelang, suasana santai sangat kentara di rumah keluarga Oishi. Tidak ada orang yang suka bangun terlambat, pukul setengah tujuh tepat semua sudah berkumpul di meja makan. Kadang Oishi suka terlambat, tapi hanya lima sampai sepuluh menit. Implikasinya tidak besar.

Dia adalah orang yang bertanggung jawab, sebagai wakil ketua klub, dia akan datang paling pagi untuk membuka kunci. Sementara latihan pagi ditiadakan, dia bisa sedikit bernafas di rumahnya dan melupakan kaptennya yang egois. Oishi baru saja turun dari kamarnya, lengkap dengan seragam dan tasnya.

"Tidak ada kegiatan klub hari ini, Shuichiro?"

"Tidak ada, Otou-san."

"Baguslah kalau kau sarapan bersama kita. Sepertinya Otou-san sudah lama tidak melihatmu ikut makan pagi," ayahnya tetap fokus pada koran, tapi nada senang tidak bisa disembunyikan.

Oishi tersenyum di balik ayahnya, "Aku periksa kotak surat dulu."

Dia berjalan melalui halaman mungilnya. Di sana anjing Golden Retrievernya menggonggong sambil mengibaskan ekornya. Dia menunggu kapan Oishi mengajaknya main bola di pinggir sungai.

"Tidak hari ini, Berlin. Akhir minggu, aku janji," Oishi mengusap leher anjingnya sambil diiringi senyum lebar. Beberapa titik liur membasahi tangannya, tapi itu cara lain bercengkrama dengan anjingnya. Berlin menjilat, setidaknya berusaha menjilat wajah Oishi. Tapi untunglah Oishi cepat menghindar, "Aku baru saja mandi!"

Anjingnya mendengung sedih, menunduk dengan ekor melipat ke dalam. Kesedihannya itu tidak ada artinya begitu Oishi memberinya cemilan pagi. Tanpa rasa berdosa, Berlin mulai melahap cemilan paginya.

Oishi mengeluarkan surat dari kotaknya, memeriksa dengan membalik-baliknya.

Tagihan listik, tagihan air, surat undangan,...

Selembar amplop putih ditujukan kepadanya. Hanya ada namanya di depannya, tidak ada perangko dan tidak ada alamat pengirimnya. Seolah dimasukkan langsung ke dalam kotak pos tanpa dikirim melalui biro pengiriman surat.

Penasaran, Oishi membukanya di tempat.

Oishi, aku tahu aku bersikap keras padamu. Tidak hanya padamu, tapi pada semua anggota tim, termasuk diriku sendiri.

Tiga tahun bersamaku, kupikir kau sudah mengerti caraku. Maka aku tidak ragu menunjukmu sebagai wakil maupun peggantiku. Karena kau adalah orang pertama yang kubagikan mimpiku dan percaya pada kapasitasku. Aku tidak pernah ragu kau mengerti itu.

Sampai kemarin, aku baru sadar, kau terlalu banyak membebani dirimu dengan hal-hal yang tidak perlu kau pikirkan. Benar kata Fuji. Kau terlalu keibuan. Ini bukan hinaan untukmu, tapi mediamu mengintrospeksi diri. Kau pintar dan berkemampuan, siapapun akan setuju dengan pernyataanku. Hanya saja kau terlalu dirundung kecemasan. Kegelisahan kadang membutakanmu sehingga kau sulit melihat obyektif. Sementara sebagai seorang temporari kapten, apa yang kau butuhkan adalah menilai dengan obyektif.

Hal itu pun penting untuk masa depanmu. Terlalu banyak memikirkan orang lain tidak akan membuatmu bahagia dan merasa tenang. Ada hal-hal yang harus kau biarkan orang lain mengurusnya sendiri dan percaya saja bahwa mereka tidak akan mengecewakanmu. Jawab pada dirimu sendiri, apa kau tidak percaya pada Fuji, Eiji, Kawamura, Kaido, Momoshiro, Echizen ( bahkan anak kelas satu pun mengerti keinginanku dan menjawab dengan baik ), dan anak-anak lainnya? Apa kita bukan satu tim? Apa kau tidak percaya padaku jika kukatakan aku akan bersama kalian di pertandingan nasional?

Aku memutuskan ke Jerman adalah jawaban dari semuanya. Aku tidak berniat memutuskan tanganku, kukatakan ini supaya kau jelas mengerti. Sudah kubilang aku tegar dalam pendirianku. Sementara itu aku pergi menyembuhkan tanganku, aku menitipkan Seigaku padamu. Kutekankan karena aku percaya padamu dan aku tidak mau membebani diriku dengan hal yang tidak perlu kupikirkan sementara ada kau yang membantuku mengawasi anak-anak itu.

Kunimitsu Tezuka.

Oishi mendapat bentakan kedua dari Tezuka. Namun dia tidak merasa marah.

Kesadaran berbalut penyesalan sampai membuat tangan Oishi bergetar, jemarinya seolah akan luluh lantak. Semua pemikiran Tezuka tertuang dalam tindakannya. Sudah tiga tahun dia bersama Tezuka, apa perlu dia menulis surat sampai sepanjang ini? Dia ini bodoh atau bagaimana?

Idiot juga, bukan hanya bodoh, Oishi berkesimpulan.

Dia bukan teman yang cukup baik, bukan tangan kanan yang kompeten. Dia merasa dirinya berada di awang-awang, sulit meraih dirinya sendiri. Tezuka sangat percaya padanya, sebaliknya kepercayaannya dibalas dengan kekhawatiran yang membabi buta. Tidak heran Tezuka membentaknya kemarin. Dia pantas dibentak karena dia tidak sadar Tezuka justru sangat mengerti banyaknya titipan harapan bertumpu padanya hingga dia selalu berbicara prioritas. Tindakannya selalu tepat dan pada waktunya. Walaupun dia kalah dari Atobe dengan cidera menggenaskan, harapannya adalah membakar semangat juang teman-teman setim untuk tidak pernah berhenti berjuang. Dia tidak mau meninggalkan kesan lemah pada tim Seigaku selama kepergiannya, juga tidak mau melihat timnya putus asa dan merana karena ditinggal kaptennya.

Kenapa dia tidak bisa melihat itu?

Pertandingan dengan Ryouma kemarin salah satu cara Tezuka menyampaikan pesannya pada Ryouma. Bahkan anak kelas satu lebih pandai mengharafiahkan Tezuka daripada dirinya!

Buta, tolol, dan idiot!

Oishi mau tidak mau tersenyum kecut.

Kadang komunikasi terjadi lewat cara yang sangat aneh. Misteri itu tidak bisa kita pecahkan, tapi bisa kita pahami. Cukup dengan melihat.

Kali ini perkataan Fuji merasuk dalam jiwanya dan menjadi kesadaran baru baginya. Bara tekad kembali membara di matanya yang sempat pudar.

Tezuka menitipkan Seigaku padaku. Aku tidak akan mengecewakannya.

Kertas di tangannya berkeretak karena diremas dalam cengkramannya. Keinginannya untuk segera bertemu Tezuka tidak terbendung. Keinginan untuk menyampaikan;

Saat kau kembali, aku menjanjikan tiket tunamen nasional.

Dia segera merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel dan menekan sebuah nomor. Nomor milik Ryuzaki-sensei.

"Ada apa, Oishi?"

"Sensei, di mana Anda sekarang? Di mana Tezuka?"

"Tezuka? Sudah ada di bandara. Saat ini sudah hampir boarding."

"Jam berapa dia berangkat?"

"Kukira masih ada sejam lagi…Kau tidak bermaksud bolos kan?" nada suara Ryuzaki-sensei menajam.

"Ah, maaf, Sensei! Tidak kedengaran!" Oishi terus membuat suara ribut, "Aku tutup dulu teleponnya!" Dan segera menutupnya dengan intrik.

Ryuzaki menutup ponselnya, mendesah kesal, "Dasar, pura-pura."

Oishi melesat ke dalam bagai cambuk. Hatinya seringan bulu dan seperti kendaraan yang baru saja diisi bahan bakarnya. Ayah dan ibunya bahkan tidak sempat menanyakan apa yang mau dilakukannya, pria itu sudah menyandang tasnya dan berlari keluar.

Perjalanan ke bandara akan memakan waktu setengah jam…Sempat, masih sempat.

Oishi terus berdoa demikian selama berada di dalam taxi.

--HF-Smile--

Tidak ada hambatan menuju Bandara Narita. Tapi dua puluh menit dihabiskannya untuk mencari pintu keberangkatan.

Kecerobohannya tidak menanyakan pada Ryuzaki-sensei saat di telepon. Itu akan disesalinya nanti saja, jika dia punya waktu lebih banyak dan sudah bertemu Tezuka.

Oishi menemukannya.

Punggung kaptennya yang tegap, dia tidak mungkin salah mengenali profil Tezuka. Tinggi dan tegar, selalu penuh kekuatan.

Dia menarik koper besar dan tas raket bertulisan 'Seigaku' tersandang di bahunya. Menuju pintu boarding. Pesawat pagi menjelang siang, tiket di tangannya, tidak ada yang bisa menghalanginya. Dan surat itu sudah berada di kotak posnya. Kepergiannya harus direlakan.

Situasi sekitarnya meluntur, atau bergerak dipercepat, hanya dia yang terasa begitu lama dan punggung Tezuka di depannya. Intensitas ketegangan menyabut logikanya.

"TEZUKA! KAU TIDAK PERLU CEMAS! AKU PASTI AKAN MENJAGA ANAK-ANAK!"

Keluar! Keluar sudah sepatah yang ingin dikatakannya meskipun masih ada berjuta-juta lagi yang ingin disampaikannya.

Tezuka sempat berhenti, semua orang sempat berhenti dalam satu tarikan nafas.

Desas-desus dan keributan langsung merebak pecah, sementara Tezuka buru-buru menarik kopernya, mempercepat langkahnya dua kali lipat. Sekaligus berharap semoga ada Tezuka yang lain.

--HF-Smile--

"Lihat, dua pemuda itu, yang di sana!"

"Tidak sangka, mereka sudah bertindak sejauh itu...Maksudku, kau dengan teriakannya tadi? Anak-anak!"

"Anak muda zaman sekarang. Apa di dunia ini sudah langka wanita cantik?"

Orang-orang yang melewati mereka, meskipun berusaha tidak melirik, mereka tidak bisa menyembunyikan ketertarikan overdosis mereka. Mereka bahkan melambatkan langkah mereka ketika berada dalam zoning terdekat, seolah menunggu kapan Oishi dan Tezuka akan mulai berangkulan dan melakukan pertunjukan sesuai yang ada di benak mereka.

Semburat merah menyala menyapu pipi Oishi. Kerutan di kening Tezuka samar, tapi ada di sana.

"So-Sori," Oishi lebih seperti bergumam pada diri sendiri.

"Aku juga baru tahu keberangkatanku akan ditunda setengah jam," cerukan di kening Tezuka semakin dalam waktu dia menangkap suara-suara membawa isu. Sayang dia harus menerima takdirnya, tidak ada Tezuka lain, selain dirinya.

Ryuzaki-sensei menghampiri, awalnya dengan pandangan marah, "Oishi! Kau benar-benar bolos kan?"

"I-Iya," Oishi tergagap, "Habis...Aku perlu mengatakan sesuatu pada Kapten."

"Apa wanita tua itu mertuanya? Orang tua pun sekarang sudah gila, merestui hubungan macam itu."

Kepala Ryuzaki-sensei berputar ke kiri dan kanan, beberapa orang yang tertangkap basah memandangi mereka langsung berpura-pura melihat ke arah yang lain, seperti papan pengumuman keberangkatan, atau sekedar mengecek ventilasi di bagian atas dinding.

"Ada apa ini?" Ryuzaki-sensei menuntut penjelasan. Dia memandang Oishi dan Tezuka bergiliran.

Oishi menggaruk pipinya dengan telunjuknya, sementara Tezuka tidak ingin menjelaskan apapun, "Sebaiknya kita pindah ke tempat yang lebih sepi."

--HF-Smile--

Panggilan kepada penumpang pesawat keberangkatan ke Jerman dengan waktu yang cocok dengan yang tertera di tiket Tezuka berkumandang kesekian kalinya. Kali ini Tezuka harus pergi.

"Kutitipkan Seigaku kepadamu," Tezuka menatap Oishi dengan ketegasan baja. Dia sudah menyebutkan juga dalam surat, tapi tidak ada salahnya mengeluarkan pernyataan langsung dari mulutnya.

Oishi membalas tatapan itu dengan tekad yang sama, "Tenang saja, Tezuka. Aku pasti akan menjaga mereka."

"Jagalah dirimu baik-baik, Tezuka," Ryuzaki-sensei menimpali.

Tezuka membungkuk dalam sebagai tanda terima kasih dan penghormatan yang dalam, "Ittekimas."

Roda di bawah kopernya mulai bergulir seperti juga waktu bergulir membawa mereka maju pada masa depan misterius. Namun mereka akan menyambutnya dengan kesolidan dan kekuatan baru. Dengan keyakinan sebagai tonggak dan jangkar untuk berlabuh supaya tidak pernah kehilangan arah.

"Tezuka!" Oishi meneguhkan hatinya. Dia akan membuat sumpah dengan setiap tetes darah dan keringatnya. Sumpah antara dia dan kaptennya, sumpah antar lelaki.

Tezuka berhenti untuk mendengarkan.

Ini sumpahku, dengarkan...

"Aku menjanjikanmu tiket ke turnamen nasional. Aku akan membawamu ke sana. Pada saat itu, kau akan bersama kami kan?"

Dia tidak punya ekspresi valid untuk menunjukkan betapa besar sekarang keyakinannya. Dia, bersama Oishi, dan teman-teman setim lainnya sedang menapaki tangga menuju kepastian. Anak-anak tangga di depannya semakin jelas terlihat, dan dia sudah bisa melihat akhirnya. Tidak ada yang menghalangi mereka sampai di sana pada akhirnya.

"Tentu saja," afirmatif.

Seulas senyum lega sekaligus penuh tekad dan percaya diri mewarnai wajah Oishi. Tezuka semakin menjauh dalam pandangannya, tapi dia akan tetap bersama mereka selama menghadapi sisa pertandingan pada Turnamen Kantou.

Oishi dan Ryuzaki-sensei tidak melepaskan pandangan sedikitpun dari pesawat yang ditumpangi Tezuka mulai dari menderum sebagai tanda mesin telah distarter, bergerak lamban dan semakin diakselerasi hingga mencapai laju tertentu di lapangan, akhirnya lepas landas ke udara.

"Ayo kembali ke sekolah, Oishi. Anak-anak yang lain perlu tahu target kita selanjutnya," Ryuzaki-sensei menepuk pundak Oishi. Sepertinya Oishi belum rela pergi bila tidak diseret segera dari sana.

Oishi mengangguk dalam. Perlu lima detik untuk mengalihkan matanya dari pesawat yang sekarang nampak seperti burung di angkasa. "Ya, ayo kembali."

--HF-Smile--

Di lapangan tenis Seigaku, anak-anak memulai latihan mereka dengan pemanasan. Tidak ada pengecualian untuk reguler.

Tanpa Tezuka pun, mereka tidak akan menangis seperti bayi.

Pertandingan akan menjadi lebih berat tanpa kapten mereka yang superb, tapi bukan berarti tidak bisa mereka hadapi.

Ryouma baru saja menarik tangannya ke sisi tangannya yang lain ketika mendengar dengung pesawat meluncur di telinganya. Dia menengadahkan kepalanya, melihat burung besi melintas tepat di atas kepalanya.

Apa itu pesawatnya Kapten?

Sudut bibirnya tertarik.

Pulanglah, Kapten. Saat itu aku akan meraih kemenangan darimu.

Dengan tenisku sendiri.

--HF-Smile--