Chapter 1: Broken Pieces
•••
Pada detik menuju pukul tujuh, Wonwoo baru tersadar dari alam mimpi. Dengan penuh ketergesaan dia menuju kamar mandi sekadar menggosok gigi dan mencuci muka. Kemudian memakai seragam sekolahnya tanpa memedulikan kerapian. Di antara lainnya, Wonwoo lebih dulu mementingkan tatanan rambutnya yang acak-acakan. Jika biasanya dia memoles sedikit eyeliner di ujung matanya, maka kali ini dia hanya sempat untuk menyapukan lipbalm pada bibir pucatnya.
Ibu Jeon yang baru saja melihat Wonwoo keluar dari kamar langsung menyodorkan dua lapis roti berselai cokelat.
"Eomma, kenapa tidak membangunkanku?" Wonwoo memekik panik, roti yang diterimanya langsung dimasukkan ke dalam mulut tanpa pikir panjang.
"Bukankah kau bilang tidak ingin dibangunkan lagi? Eomma pikir kau memang sengaja bangun lama." tukas Ibu Jeon enteng.
Wonwoo mendengus. "Mana appa dan Bohyuk?"
"Appa sudah berangkat dari tadi. Bohyuk demam, semalam dia hujan-hujanan."
"Astaga. Kalau begitu aku akan berangkat sekarang." Wonwoo beranjak kemudian memakai sepatunya secepat yang dia bisa. Ketika melihat arloji yang melingkari pergelangan tangannya, dia tersedak dan hampir memuncratkan roti yang telah dikunyahnya. Pukul tujuh lewat dua puluh menit. Wonwoo harus mencapai halte dalam waktu lima menit agar tidak ketinggalan bis.
Penampilannya masih tidak beres. Jasnya dibiarkan tersampir di lengan beserta dasi hitam yang terulur ke tanah. Kali ini Wonwoo sedang dalam misi mengejar waktu. Dia tidak ingin terlambat di hari kedua sekolah. Beruntungnya selama dua tahun menimba ilmu di sekolah menengah atas belum pernah sekalipun Wonwoo berurusan dengan petugas kedisiplinan. Dan dia bahkan tidak ingin berhadapan dengan mereka.
Tepat ketika Wonwoo berbelok, bis tujuannya baru saja tiba di halte. Beberapa orang mulai naik, membuatnya semakin mempercepat laju kedua kakinya. Untungnya dia tidak ketinggalan dan sialnya dia hampir tersandung ketika naik jika saja tidak ditahan oleh salah seorang penumpang.
Sejenak Wonwoo mengendalikan rongga pernapasannya. Merehatkan sendi-sendi kakinya yang terasa pegal meski dia sama sekali tidak mendapat tempat duduk. Bisnya agak penuh hari ini, Wonwoo tidak bisa memasang dasinya. Untuk berdiri pun rasanya sudah tidak sanggup akibat kelelahan berlari. Oleh karena itu, bersandar pada tiang bis sedikit banyak bisa menumpu beban tubuhnya.
"Betapa sialnya hari ini..." gumamnya kesal.
"Apa tidak apa-apa?" suara wanita menyahut. Wonwoo sontak menoleh. Wanita yang berdiri tak jauh darinya tampak berbincang dengan seorang pemuda. Kemudian mereka saling bertukar tempat. Sepertinya pemuda itu memberikan bangkunya kepada sang wanita.
'Seharusnya dia menawariku! Rasanya aku akan mati berdiri!'
Setelahnya Wonwoo dibuat terperangah karena mengetahui bahwa pemuda itu adalah Kim Mingyu. Dia menggantikan posisi wanita tadi dan tampak fokus dengan layar ponselnya, sama sekali tidak memedulikan sekitar. Dalam kesempatan tersebut, Wonwoo menyalip di antara penumpang lain sembari meminta maaf. Bergerak mendekati Mingyu hingga berada tepat di belakang pemuda itu.
Wonwoo baru menyadari kalau tubuhnya terlihat pendek jika berhadapan dengan Kim Mingyu. Bahkan mungkin ini tidak bisa dikatakan berhadapan, karena hanya Wonwoo saja yang menghadap ke arahnya. Kepalanya agak dicondongkan ke depan, berusaha melihat apa yang Mingyu lihat di layar ponselnya. Namun dewi fortuna tidak sedang berpihak kepadanya. Sopir bis menginjak rem secara mendadak karena seekor kucing yang muncul tiba-tiba, membuat para penumpang kehilangan keseimbangan. Termasuk Wonwoo yang bahkan tidak berpegangan sama sekali. Dia menubruk punggung Mingyu sebelum mencium ubin, refleksnya yang menarik jas Mingyu pun menarik atensi penumpang lain. Wonwoo dengan segala kesialannya hampir membuat Mingyu jatuh menimpa dirinya.
"Apa semuanya baik-baik saja?" sang sopir bertanya dengan keras.
Seorang penumpang menyahut jika ada siswa yang terjatuh. Sementara itu Wonwoo dibantu oleh penumpang lain untuk berdiri. Dia kesakitan, namun di sisi lain merasa malu. Wonwoo bersumpah ini adalah hari terburuk sepanjang hidupnya.
"Apa kau baik-baik saja?"
"A-aku baik—" Wonwoo mendongak dan menemukan Mingyu di hadapannya.
Ekspresi terkejut terlihat ketara di wajah Mingyu. Dalam sepersekian detik dia kembali pada mode dingin yang biasa ditunjukkan.
"Lain kali hati-hati." katanya kemudian kembali pada posisinya yang membelakangi Wonwoo.
Pagi yang buruk, pikir Wonwoo. Dia menepuk-nepuk seragamnya dari debu yang menempel, lalu mengusap kepalanya yang sempat terantuk tiang bis yang sialnya terbuat dari besi.
Sungguh memalukan.
•••
Kim Mingyu tidak lagi membolos. Setelah sempat memperbaiki seragamnya di toilet, Wonwoo terkesima saat menemukan sosok Mingyu di bangkunya, masih dengan ponsel yang berada di genggaman. Mereka tidak saling bertukar sapa layaknya teman sebangku. Wonwoo pun tak mempermasalahkan hal itu.
Ketika jam istirahat, Jeonghan bertanya apa yang terjadi hingga Wonwoo terus memukul kepalanya sendiri. Wonwoo berdalih jika dia merasa agak pusing. Sebenarnya Wonwoo sedang tidak berdusta. Kepalanya memang terasa denyut sehabis berciuman dengan tiang besi. Hoshi menawarinya untuk mengambil obat di unit kesehatan, namun Wonwoo menolaknya secara halus.
"Lebih baik kau pergi sekarang Wonwoo. Kau tampak buruk." Jeonghan menasehati.
Karena paksaan dari keduanya, Wonwoo beranjak menuju unit kesehatan. Meminta petugas untuk mengambil obat sakit kepala. Wonwoo sempat ditawari untuk berbaring sebentar sebab wajahnya tampak sangat pucat. Namun dia kembali mengucapkan penolakan. "Aku baik-baik saja. Hanya sakit kepala. Sedikit."
Sejak kemarin Wonwoo merasa tidak enak badan. Hanya saja Wonwoo bisa mengontrol kondisi badannya dengan meneguk beberapa butir obat pereda. Pagi ini sudah tidak separah kemarin, tapi sepertinya kembali kambuh setelah berlari dan terantuk tiang bis.
Sebuah pesan masuk ke dalam perangkat ponselnya. Dari Leeteuk hyung, kenalan Wonwoo yang bekerja sebagai penjaga perpustakaan di sekolah ini.
Fr: Leeteuk hyung.
Aku mendapatkannya. Kau ingin mampir?
Wonwoo bergegas menuju perpustakaan tanpa perlu membalas pesan tersebut. Semalam dia bertanya pada Leeteuk mengenai kumpulan folder yang berisi biodata seluruh siswa. Tentu saja ini menyangkut sebuah hal yang ingin Wonwoo ketahui. Secara diam-diam dia meminta kopian folder milik Mingyu.
"Kau sedang terobsesi dengannya atau mencari tahu karena jatuh cinta?" Leeteuk bertanya demikian kala Wonwoo menghadap kepadanya.
"Apa?"
"Kau ingin menjadi stalker Kim Mingyu ya?" goda Leeteuk lagi.
Meski baru saja mengenal Wonwoo dua tahun belakangan, Leeteuk bisa memahami kepribadian Wonwoo. Pemuda satu itu tidak mudah tertarik dengan suatu hal, kecuali hal itu benar-benar serius. Rasa penasarannya sudah mencapai tahap yang perlu diwaspadai. Semestinya Leeteuk tak perlu susah payah menuruti permintaan Wonwoo ketika pemuda itu menghubunginya hanya untuk menanyakan folder khusus milik Kim Mingyu. Dia sedikit bingung dalam hal ini, antara Mingyu yang perlu waspada atau Wonwoo yang harus berhati-hati. Mereka berdua seperti saling membahayakan.
"Hyung, aku tahu kau bercanda." Wonwoo memutar bola matanya. "Aku bawa ini, terima kasih atas kerjasamanya, hyung!"
Leeteuk hanya bisa menggelengkan kepala saat memandang kepergian Wonwoo. Berharap tidak terjadi sesuatu pada remaja itu.
•••
"Sepertinya aku akan singgah ke perpustakaan kota. Kalian duluan saja."
Pernyataan tersebut diangguki oleh Jeonghan dan Hoshi. Tanpa basa-basi Wonwoo berbelok ke arah berlawanan dengan keduanya. Sedikit mempercepat langkah demi menghemat setiap detik yang terlewat. Saat tiba di sana, Wonwoo disapa oleh salah satu petugas. Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk duduk di pojok dekat jendela. Mengeluarkan folder yang diberikan oleh Leeteuk dan mulai membacanya kata demi kata.
"Tiga bersaudara dan hanya mempunyai seorang ayah."
Tidak banyak yang bisa dijadikan informasi. Beberapa poin tidak terisi seakan sengaja ditutup-tutupi. Lusa merupakan hari ulang tahun Mingyu, dia berasal dari Anyang dan mempunyai dua orang kakak yang tidak diketahui namanya. Alamatnya sama sekali tak tertera, begitu pun nomor ponsel dan alamat e-mail. Sepertinya Mingyu memang berniat menghalau siapapun untuk mendapatkan informasi mengenai seluk beluk keluarganya bahkan kepada pihak sekolah.
Wonwoo menegakkan punggung, menarik napas dalam kemudian menyimpan foldernya ke dalam tas. Satu hal yang dia dapat. Mengenai persepsi orang-orang yang mengatakan Mingyu berkelahi karena menjadi korban broken home kedua orang tuanya. Dari yang dibacanya, Mingyu hanya memiliki ayah, tidak dengan ibu. Sepertinya rumor yang menyebar di kalangan siswa adalah sebuah omong kosong belaka. Namun Wonwoo belum bisa memastikan apakah ibunya meninggal dunia atau kedua orang tuanya telah bercerai. Folder ini telah terhitung sejak tahun pertama Wonwoo masuk sekolah menengah atas. Wonwoo pikir opsi pertama lebih tepat. Akan tetapi, banyak kemungkinan yang tidak bisa diprediksi. Bisa saja ada alasan lain. Apapun itu, Wonwoo akan mencari tahu.
Sekitar tiga jam Wonwoo habiskan di dalam perpustakaan. Dia selesai pukul delapan, lantas menghirup banyak udara setelah melewati pintu utama. Demi memangkas waktu menuju tempat tinggalnya, Wonwoo mengambil jalan pintas yang biasa dia lalui. Jalan itu berada di antara dua gedung menjulang yang sangat sunyi serta minim cahaya. Namun tidak pernah terjadi sesuatu yang buruk selama Wonwoo melewatinya. Tentu saja tidak ada lagi secuil keraguan yang mendera.
Siulan rendahnya mulai mengisi udara kosong. Bulan telah menunjukkan eksistensinya pada langit kelam. Sinarnya samar-samar membias lewat celah sempit di atas bangunan. Memberikan secercah cahaya pada perjalanan Wonwoo yang sepi.
Angin berembus kencang. Menerbangkan beberapa helai rambut Wonwoo, melambai lembut mengikuti gerak angin. Perasaan tak nyaman mulai melingkupi dirinya saat suara derap langkah saling menggema bersahutan dari belakang. Terdengar samar dan cukup banyak. Wonwoo meyakinkan diri bahwa itu hanyalah bagian dari perasaan semu yang dirasakannya. Namun suara-suara itu justru malah semakin jelas.
Wonwoo menoleh. Tetapi tubuh ringkihnya tiba-tiba mendapat sebuah kejutan tak terduga. Wonwoo hampir terjerembab saat seseorang yang asing menarik lengannya untuk menepi. Mereka berada di jalan pintas yang lebih sempit lagi, seperti gang kecil dengan lebar hanya satu jengkal tubuh Wonwoo. Punggungnya semakin tenggelam jauh ke tembok dan tidak ada sepatah kata pun yang bisa mewakili keterkejutannya. Mulutnya dibekap erat, sebuah lengan melingkari perutnya. Wonwoo tidak lagi bisa berpikir jernih kala hembusan napas berat mulai menerpa tengkuknya. Ia bergidik ngeri, debaran jantung di balik dadanya tak lagi bisa terelakkan.
Di lain sisi, suara gema hentakan kaki lain segera menyahut disusul dengan sekumpulan orang yang berlari seperti kesetanan. Mereka menendang apapun yang menghalangi akses jalan, menimbulkan kebisingan yang membelah kesunyian malam. Tidak seorang pun dari mereka menyadari keberadaan Wonwoo. Setelah keadaan dipastikan aman, Wonwoo menjauh saat orang itu lengah. Dia meraup banyak oksigen untuk melakukan respirasi secara normal. Kemudian obsidiannya mengarah pada seseorang yang telah lancang membawanya dalam situasi semacam ini. Pada hitungan kedua, orang itu berlari meninggalkan Wonwoo yang terperangah sebab mengenal wajah familiar dalam ingatannya tersebut.
Kim Mingyu.
Seketika muncul banyak pertanyaan baru dalam benak Wonwoo. Siapa orang-orang tadi, apa yang mereka mau, dan—apa mereka sedang mengejar Mingyu?
Jika saja pemikiran terakhir benar, maka kemungkinan besar Mingyu memiliki suatu masalah pelik yang jelas mengancam nyawanya. Tanpa perlu menganalisis lebih dalam perihal asal luka-luka yang Mingyu dapatkan, Wonwoo tentu bisa menerka itu semua akibat perkelahian dengan orang-orang tersebut.
Dengan bersandar pada tembok, Wonwoo mulai mengatur detak jantungnya yang berdebam keras. Langit semakin gelap di atas sana dan Wonwoo tidak ingin berlama-lama di daerah ini.
Lalu dia menyadari satu hal.
Mingyu baru saja menyelamatkannya.
—To Be Continued—
Holaaaa!
Beruntungnya aku udah selesai ujian, tinggal menunggu hasilnya.
Anyway, Wonwoo makin cantik, duh. Aku speechless.
P.s. chapter sebelumnya (prolog) aku ubah sedikit supaya nggak buat sakit mata. Kalau mau baca ulang silakan, kalau enggak juga gapapa.
P.s. kenapa LATATA-nya (G)I-DLE begitu addicted di telinga? You And I-nya Dreamcatcher juga!
Ayo review lagiiii. Komentar kalian adalah penggubah mood hehe.
Terimakasih:
seonbaenim, Kyunie, KimAnita, Beanienim, Alpha Wen, kimatun.
