Ia sangat anggun. Rambut putih lurus yang menjuntai di punggungnya, serta caranya menyunggingkan senyum sangat berbeda. Kerlingan di permata kelabunya seakan berbicara tentang hal yang lebih daripada apa yang terlihat. Atropa Malfoy memang sangat menawan.

Arianna menyampirkan jubah hitam di pundaknya.

"Apakah kau akan berseang-senang hari ini, Atropa?" tanyanya.

Atropa tertawa kecil. "Tentu saja."

Leverata mengulas senyum. "Adik kesayangannya sudah tiba. Pasti inilah kabar gembira itu."

"Hmm." Atropa hanya tersenyum tipis saat berjalan melewatinya.

"Aku tidak sabar, Atropa!" Sasha berseru dari anak tangga paling bawah. Melembarkan kedua tangannya dengan sorot mata berbinar-binar. "Apa yang akan kau lakukan pada adikmu itu? Pastikan aku bisa melihatnya!"

Hanya senyum yang menjawab saat gadis berambut putih melewatinya juga.

Lalu ketiga gadis itu berdiri di belakang Atropa Malfoy. Mengikuti jalannya selayaknya sekumpulan pengikut.

Sementara senyum dingin dan tatapan culas menghiasi wajah sang Malfoy tertua.

"Aku juga sangat tidak sabar, Sasha."

.

.

Hanya Mimpi Buruk di Tengah Malam Berbadai

an 'Atropa Malfoy' spin off—

[ketika Atropa tenggelam ke dalam rasa iri dan amarahnya]

Rozen91

Harry Potter © J. K. Rowling

.

.

Kegaduhan yang tercipta itu sangat familiar dan membuatnya tertekan. Scorpius mengepal-ngepalkan tangannya yang berkeringat dan terasa dingin. Berkali-kali ia menelan ludah saat satu persatu nama murid tahun pertama mulai disebut untuk maju ke kursi pemilihan. Sebenarnya ia sedang sangat beruntung. Sekali lagi ia menelan ludah, mengedarkan pandangannya ke arah meja Slytherin. Ia menghela nafas lega saat tak melihat gadis berambut perak di barisannya.

Mungkinkah Scorpius sedang sangat beruntung sekarang?

Ataukah Atropa sedang berbaik hati dengan membuat adik tirinya bernafas lega untuk saat ini?

Entahlah.

Akan tetapi, rupanya Atropa Malfoy tidak berniat membuat ketenangan di hati Scorpius bertahan untuk selamanya. Kelompok kecil murid-murid Slytherin mengikut di belakang prefek yang hendak mengantar mereka ke asrama. Sangat disayangkan bagi Scorpius yang malang.

Di lantai dasar, kelompok itu berpapasan dengan Atropa Malfoy di koridor. Seolah terlihat natural bahwa semua itu hanyalah kebetulan, bukan perencanaan. Namun, Scorpius tercekat nafasnya dan tidak terlihat akan menarik atau menghembuskan nafas lagi. Dengan mudah, mata jeli kakak tirinya bertemu dengan iris kelabunya yang melebar dan bergetar.

Ketakutan itu tampak jelas. Mau tak mau Atropa harus tersenyum karena ia ta mampu menahan gejolak di dalam hatinya yang hitam.

Ini menyenangkan, bukan?

Scorpius, adik tiri dari Atropa Malfoy yang sangat disegani, pertemuan ini sangat berharga karena inilah pertama kalinya semenjak 2 tahun yang lalu mereka akhirnya bertemu kembali. Atropa mendekat sembari menebar senyum pada prefek yang bertugas dan murid-murid yang memandangnya dengan sinar mata penuh kekaguman.

Kecuali, Scorpius, tentu saja, yang memilih menatap sepatunya.

Sekejap senyum dingin itu terlewatkan.

Ah, Scorpius.

Di Hogwarts ini, dimana kini kau tak bisa berlindung di belakang kaki kedua orangtuamu, dimanakah kau akan berlari?

Atropa berjalan dan orang-orang memberikannya jalan.

Dimanakah kau akan berlindung?

Di sinilah Atropa Malfoy bisa mencengkerammu dengan leluasa.

Inilah kerajaan Atropa Malfoy.

Dimana para penghuninya menganggap sang half-blood sebagai wujud dari kesempurnaan.

Dimanakah kau akan mencari perlindungan, Scorpius Malfoy?

"Hey." Gadis itu telah berdiri di hadapannya. Scorpius melihat ujung sepatu hitamnya yang mengilap. Dengan nada yang sangat menyakitkan di telinga Scorpius, gadis itu berkata, "Aku sangat merindukanmu."

Scorpius tidak bisa menahan getaran di kedua lututnya. Perlahan mengangkat wajahnya.

Lantas permata kelabu Atropa bergulir ke bawah, memandang Scorpius dengan dagu terangkat tinggi.

"Kita akan bersenang-senang di sekolah ini. Bukankah begitu, Scorpius?"

Pernakah kau melihat seringai mengerikan di wajah Draco Malfoy?

Nah.

Seperti itulah yang tampak di wajah anak perempuannya.

Scorpius langsung ambruk tak sadarkan diri.

xxx

"Dia kenapa!?"

Prefek yang bertugas berjalan mendekat, panik. Atropa hanya menatap diam tubuh adiknya yang tergeletak tak berdaya di lantai batu. Murid-murid baru mulai berbisik, bertanya-tanya apa sudah membuat adik Atropa Malfoy itu pingsan. Apa yang dua saudara bicarakan hingga membuat anak itu hilang kesadaran?

Murid-murid itu langsung diam saat Atropa tersenyum ke arah mereka. Terlihat getir dan dipaksakan. "Maafkan saya," ucapnya pada prefek yang bertugas, tengah mencoba membangunkan Scorpius. Suara Atropa cukup lantang hingga semua orang yang menyaksikan bisa mendengar. Raut wajahnya berubah agak malu dan sedih. "Adik saya...Scorpius tidak suka dengan saya. Dia pasti berpikir saya sangat menjijikkan dan...maaf. Lebih baik saya pergi."

Air mukanya terlihat sangat terluka hingga orang-orang yang tak sengaja melihatnya menjadi sangat iba dan tidak tega. Keadaan sangat hening sampai Putri Slytherin itu tak terlihat lagi.

Lalu mata-mata menuduh dan gusar tertuju pada satu orang. Yang bahkan sedang tidak sadarkan diri. Bahkan Prefek yang bertugas itupun mengangkat tubuhnya dengan penuh dendam dan terpaksa. Seolah ia lebih baik membuangnya ke Danau Hitam daripada membawanya ke Hospital Wing.

"Kau tahu, dia memang sombong." Salah seorang murid melemparkan tatapan mencela seraya berkata pada temannya. Temannya mengangguk setuju. Tangan terkepal erat dan penuh amarah.

"Dia memang tidak seperti Nona Malfoy," balasnya.

"Dia pasti membanggakan darahnya. Brengsek," desis yang lain.

"Apa, sih, yang Malfoy pikirkan?" ujar salah seorang lagi, bersedekap dengan tatapan tidak senang. "Dia tidak perlu berbuat seperti itu. Kita bukan anak-anak lagi yang bisa dikontrol oleh orangtua kita yang kolot. Nona Malfoy jelas berbeda daripada apa yang mereka katakan. Darah murni, darah murni... sebagai penyihir darah-murni, sikapnya sudah membuat kita sangat malu."

"Menyebalkan."

"Apa dia pikir hebat, eh?"

Seolah telah berubah menjadi orang lain, para murid tahun pertama itu berbicara seperti sedang berjanji. Haus darah dan penuh nafsu membunuh.

"Kita akan membuat hidupnya seperti di neraka."

Albus menelan ludah. Entah apa yang terjadi, namun semua murid sudah sangat marah sekarang. Sangat mengerikan. Jantungnya seolah jatuh merosot ke perut. Scorpius Malfoy benar-benar dalam bahaya.

Sebisa mungkin Albus berusaha tak menarik perhatian. Perlahan-lahan meninggalkan kelompoknya sebelum prefek pengganti datang. Di belokan koridor, setelah jauh dari grupnya, ia memacu kakinya sekuat tenaga.

James!

Ia harus memberitahu James!

Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan!

xxx

Sudut mata James mengejang. Tidak lama senyum tipis tersungging di bibirnya. Terkesan palsu karena ada kerlingan misterius di matanya. Kalau bisa memilih, sebenarnya James tidak mau berurusan dengan gadis itu. Namun, bukan sifat James untuk melewatkan kesempatan emas, bukan?

"Selamat malam, Malfoy," sapanya pada seseorang yang berjalan dari ujung koridor. "Tidak biasanya kau sendirian. Ah, tidak baik, tidak baik. Kau ini seorang bintang, bukan? Kalau kau sendirian, orang-orang akan memikirkan skandal macam apa yang bisa kau sajikan untuk mereka."

Tap. Tap. Tap.

Tidak ada jawaban. Gadis itu bahkan tidak meliriknya. James kemudian mengalihkan matanya. Malas.

Sebentar lagi mereka akan saling melewati. Seperti orang asing yang seolah baru saja salah seorangnya sama sekali tak mencoba menyapa.

Dan sangat halus, suara itu terdengar di telinganya.

"Heh." Seperti dengusan.

James lantas menoleh cepat. Hanya punggung perempuan itu yang tampak. Apa artinya tadi?

Terdengar licik dan puas. Entah terhadap apa.

"James! James!" Mendengar namanya dipanggil oleh suara yang cukup familiar, James kembali menoleh ke depan. Membelalak.

"Albus?" tanyanya heran, "Apa yang kau lakukan di sini? Dimana kelompokmu?"

"Sekarang itu tidak penting!" tukas Albus, terengah-engah. Ia menarik lengan James. "Kau harus menolongnya! Scorpius Malfoy dalam bahaya! Aku tidak tahu apa yang bisa saja terjadi padanya sekarang!"

"Apa maksudmu?"

"Kuceritakan sambil jalan," desak Albus, terus menarik-narik lengannya. James menurut.

"Awalnya Atropa Malfoy menghampiri kelompok kami, lalu berbicara pada Scorpius Malfoy. Namun, gelagat Scorpius Malfoy—aagh! kusebut saja Malfoy B! Gelagatnya sangat -tiba saja dia langsung pingsan."

"Demi Tuhan," gumam James. Bulu-bulu tengkuknya berdiri semua.

"Lalu, Malfoy A berkata bahwa Malfoy B jijik dengannya. Semuanya langsung jadi kacau setelah itu! Mereka sangat marah. Aku khawatir mereka akan melakukan sesuatu yang buru—uph!" James menutup mulutnya sebelum ucapannya selesai. Raut wajahnya datar, tapi Albus tidak bisa mendongak untuk melihatnya.

"Dia di Hospital Wing sekarang?"

Albus mengangguk—berusaha melepaskan tangan James dari mulutnya.

"Ayo, ke sana." Sekarang James menarik tangan Albus, sama sekali tak sadar bahwa langkah cepatnya sama dengan Albus yang harus berlari-lari kecil untuk menyamai temponya.

Bulir-bulir keringat jatuh dari pelipis Potter sulung itu.

Kabar buruk.

Benar-benar kabar buruk.

Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa Atropa Malfoy berani untuk berbuat sejauh ini.

Akibatnya bisa sangat fatal. Apalagi memikirkan obsesi dan kepatuhan para murid terhadap Atropa Malfoy.

Sinting!

Apa yang sebenarnya perempuan itu pikirkan!?

Nyawa adik tirinya bisa melayang!

_bersambung_