Disclaimer

Naruto milik MK

.

.

Namaku Hinata, aku seorang gadis 15 tahun yang menurut adikku aku sangat manis, meskipun memang aku merasa begitu. Aku hanya punya seorang adik laki-laki, dia bernama Naruto. Ibu kami meninggal saat usiaku 11 tahun dan adik laki-lakiku 10 tahun. Mereka mati dibunuh tetangga kami Kabuto.

Kejadian saat mereka meninggal, waktu itu aku dan adikku baru pulang sekolah. Aku dulu masih duduk di sekolah dasar, jadi saat pulang waktu masih siang. Orang tua kami tak pernah menjemput kami saat pulang karena mereka dari pagi sampai malam harus bekerja.

Siang itu mereka ternyata ada di rumah. Saat kutanya kenapa mereka sudah pulang, mereka bilang kantor menyuruh mereka pulang karena bos mereka baik. Alasan yang aneh saat mereka bilang seperti itu, waktu itu aku tidak tahu benar atau tidak alasannya. Dan aku tidak mau memikirkannya, memang bagus mereka pulang cepat karena aku rindu bersama mereka.

Tiba tiba pintu rumah di ketuk oleh seseorang, aku ingin mengeceknya tapi ayahku bilang padaku untuk cepat ganti baju lalu makan. Aku pun menurut karena memang aku sudah lapar. Adiku dan aku lalu pergi ke kamar untuk ganti baju setelah ganti baju kami keluar kamar untuk segera makan.

Aku mendengar teriakan yang berkata jangan dengan keras di depan, aku dan adiku segera mendekat ke sumber teriakan itu untuk mengecek apa yang terjadi. Betapa terkejutnya aku melihat Ayahku dan Ibuku tergeletak penuh darah di lantai. Aku syok saat itu, bayangkan anak 11 tahun melihat kejadian mengerikan, Ayah dan Ibunya tewas didepan mata tergeletak dengan anggota tubuh yang tidak lengkap. Ayahku kehilangan tangan kanannya dan Ibuku tangan kirinya. Aku lihat seorang di dekat tubuh mereka, dia tersenyum sambil memegang arung yang kuduga adalah tangan orang tuaku.

Kulihat adiku nampak ketakutan, aku juga tegang mengingat orang yang membunuh mereka ada di depan kami. Aku tidak menangis begitupun adiku kami masih syok, yang kurasakan adalah ketakutan sekarang. Tapi si pembunuh pergi begitu saja setelah tersenyum memandang kami.

Tak lama, paman kami datang mungkin karena mendengar teriakan orang tua kami tadi, dia kaget melihat tubuh orang tua kami tergelatak di lantai. Aku dan adiku yang saat itu sedang menangis di datanginya.

"Paman akan menjaga kalian." dia mengatakan itu setelah sebelumnya memasang wajah bingung. Mungkin dia berpikir apa yang harus dikatakannya untuk menenangkan kami.

Setelah kejadian itu, pamanku tinggal bersama kami. Dia juga bersama Istrinya. Nama pamanku adalah Jiraya dan Istrinya bernama tsunade. Mereka memperlakukan kami seperti anak mereka sendiri, walaupun terdengar basi tapi memang mereka memperlakukan kami seperti itu. Tiap malam Paman Jiraya akan menceritakan dongeng sebelum kami tidur. Dongeng tentang manusia yang mempunyai kekuatan khusus, manusia itu ingin menguasai dunia dengan kekuatannya. Tapi sebelum dia berhasil menguasai di dunia dia di gigit nyamuk karena tidur terlalu malam dan akhirnya mati karena DBD. Adiku sangat antusias mendengarkannya, dan dari wajahnya aku yakin dia percaya, percaya kalau dia tidur terlalu malam dia akan mati sebelum menguasai dunia.

Paman Jiraya selalu bilang ingin tidur bersamaku dengan alasan menjagaku bila ada nyamuk. Tapi Bibi Tsunade selalu memarahi Pamanku itu. Entah sifatnya atau apa, dia selalu mencuri curi untuk memegang ku, saat sedang berjalan dia akan memegang tanganku dengan alasan takut aku hilang. Saat di dalam angkutan dia akan memangkuku katanya tidak ada tempat duduk lagi walaupun aku melihat ada yang kosong tempat duduknya aku sungkan ingin menolaknya. Bagaimanapun dia telah mengurusku setelah orang tuaku tiada.

Sekali aku pernah menanyakan siapa yang membunuh Ayahku dan alasan kenapa dia membunuhnya. Dia bilang orang itu adalah orang gila, itu saja.

.

.

Saat usiaku 14 tahun Paman Jiraya hilang. Aku tidak tahu mengapa bisa hilang dan apakah dia benar benar hilang? Tidak mungkinkan orang tua seperti dia diculik? Tapi kenyataannya dia memang hilang. Dia tak pernah kembali lagi sejak dia pergi hari itu. Dia mengatakan bahwa hari itu dia ada tugas mengawas perkebunan pemerintah. Perkebunan itu terletak di sebuah bukit yang tak jauh dari rumahku. Tapi 1 bulan kemudian dia tak pernah pulang. Setelah itupun Bibi Tsunade pergi untuk bekerja di luar negri. Aku dan adiku di tinggal mereka sendirian, dan dari hari itu kami hidup berdua saja di rumah itu. Tiap bulan Bibi akan mengirim uang untuk bekal hidup kamu. Itupun berlangsung sampai sekarang.

.

"Kak Hinata apa kau tahu Bibimu bekerja sebagai apa?"

"Aku tidak tahu, mungkin seorang pembantu pengusaha kaya?"

"Mendengar pengusaha kaya memang terasa keren tapi saat ada kata pembantunya itu jadi tidak keren"

"Mau apapun kan tidak masalah Hanabi. Yang penting Bibiku bisa mengirim uang dan aku disini bisa berfoya-foya dengan uang itu, hhaha."

"Dasar kau ini Naruto!"

"Aduh kak Hinata, kenapa kau memukul kepalaku?!"

"Habisnya kau bodoh."

Hanabi hanya tersenyum melihat kelakuan kakak beradik tersebut. Hari ini dia dipaksa mampir oleh kak Hinata dengan alasan dia ingin Hanabi mencoba masakannya. Tentu Hanabi ingin menolak karena sudah sore, tapi dia sungkan berkata tidak dan juga ini kesempatan untuk melihat apa saja yang dilakukan Naruto pada kakaknya itu. Dia ingin membuktikan kata kata Naruto yang berbunyi "Aku tidak akan melakukan hal mesum pada kakakku meski aku sangat ingin, karena itulah jalan ninjaku!" aneh sekali pernyataannya itu pikirnya. Padahal dia hanya bertanya kenapa di buku tulisnya dan di semua alat tulisnya ada nama kakaknya dan juga di galeri handphonenya kenapa ada foto kakaknya yang hanya memakai Handuk, hanya itu yang ditanyakan. Tapi Naruto malah bilang dia tidak mesum, dia hanya melakukan hal normal. Dan tanpa aba aba langsung membuat pernyataan seperti yang di atas tadi. Alasan Hanabi hanya itu, tapi mungkin dia juga ingin melihat kelakuan manja Naruto pada kakaknya yang langka bagi Hanabi melihat tingkah manja Naruto. Ya hanya itu.

"Hanabi, setelah kau makan masakan kakakku dan beranjak pulang jangan lupa untuk meninggalkan buku catatan kimiamu di sini. Kau ingatkan tadi aku bilang ingin meminjamnya, aku mau mandi. Jangan lupa ya" Naruto pergi ke belakang yang merupakan tempat kamar mandinya berada setelah Hanabi berkata iya bodoh.

"Hanabi kau mau beri tahu rahasia memalukan Naruto?" Hinata memandang Hanabi yang tengah berpikir setelah dia berkata seperti itu.

Di pikir-pikir itu memang tidak penting, tapi untuk dijadikan bahan bila dia bertindak menyebalkan bagus juga

"Ok aku terima kepercayaanmu kak Hinata."

Memangnya kau pikir ini apa Hanabi? hah..

"Baiklah, rahasia memalukan dia adalah... dia hanya memakai satu dalaman dalam 3 hari."

"Ap-Apa?" muka Hanabi memerah mendengarnya.

"Kak Hinata ternyata mesum!"

"Eh?" Hinata bengong melihat Hanabi yang pergi dengan langkah buru buru. Sekilas dia melihat wajah Hanabi yang merah karena malu.

"Eh, Hanabi sudah pulang kak?"

Naruto yang sudah selesai mandi langsung duduk di kursi meja makan.

"Iya, sepertinya dia buru-buru." ia mengatakan itu sambil tersenyum senang, yang menurut Naruto mencurigakan. Hinata lalu duduk.

"Entah apa yang terjadi, tapi yang kuingin tahu adalah dimana buku Kimia yang kupesan tadi?"

"Eh? Sepertinya dia belum memberikannya." Ucap Hinata sambil telunjuknya menyentuh dagu, yang terlihat sangat imut.

"Nani?!!!" wajah Naruto nampak syok lalu setelah itu dia meneriakan tidak dengan panjang.

...

...

makasih udah baca. review ke satu biar semangat.