Sulay fanfiction Indonesia
Flying White Unicorn
Mirror Of Soul
(The Killers Series)
Kim Junmyeon
Zhang Yixing
e)(o
BxB
Yaoi
Many typo(s)
Rate M
Various hell gates are open, demon are pouring out of them, we need your help!
...
Baju tiga helai, satu celana pendek, parfum yang tinggal setengah isinya dan yang terakhir adalah alat mandi. Yixing menyusun semuanya dalam satu ransel kecilnya. Walau sudah berapa kali Junmyeon katakan padanya untuk tidak usah membawa apapun jika mengunjunginya. Namun Yixing tetaplah Yixing, seakan arti menyebrang negara itu berati membawa serta gosok gigimu.
Yixing akan pulang kembali ke negara nya China, sejak kepulangan kembali Junmyeon, setidaknya Yixing menunjungi Korea dalam dua minggu sekali. Uang hasil dagangan rotinya yang lumayan laku tampaknya habis percuma oleh tiket-tiket penerbangan itu. Yixing selalu menolak uang apapun itu dari Junmyeon. Merasa dirinya mampu membayar apapun dari hasil racikan ragi, tepung dan putih telur. Junmyeon tidak bisa memaksa, begitu Yixing mengatakan dia tidak akan mengunjungi Junmyeon lagi jika ada sepeser uang Junmyeon yang masuk dalam rekening nya.
Sejak penolakan untuk tinggal kembali di Korea, Yixing yang lebih memilih mengurus tiga cabang toko rotinya. Mengatakan bahwa kembali ke China membuat dirinya merasa nyaman. Semua memori masa kecil dan ibunya tertinggal di negara tembok raksasa itu. Junmyeon tidak bisa memaksa, jika dirinya tidak memikirkan keselamatan Yixing mungkin saat ini dia sudah di dapur membantu mengadoni setumpuk cetakan roti bersama Yixing. Pembunuh bayaran yang turun derajat harus bermain dengan spatula dan celemek di dapur.
Hanya karena sebuah surat yang membuat semua mimpi-mimpi kebebasan seakan di renggut. Bertuliskan tiga kata namun lebih menyerupai surat penantian ajal. Seseorang yang di khianati Junmyeon dan kedua saudara angkatnya telah kembali. Seseorang yang bukan tandingan ketiganya. Guru dari semua guru, iblis dari semua setan. Jae Jin masih hidup, entah bagaimana caranya. Bukan mati akibat racun buatan seperti triple Kim namun mati tertancap pisau di dadanya. Junmyeon yakin betul itu adalah posisi jantung berada.
Namun kini meyakinkan semua orang bahwa Kim Jae Jin telah mati, sama saja dengan membuat lelucon yang tidak lucu. Orang-orang menatapmu dengan antara geli dan kasihan. Junmyeon kembali ke latihan-latihan dasarnya, mencoba menangkap rusa di minggu pagi. Berakhir dengan tidak ada satupun sasaran tembak yang dia dapatkan. Begitu juga Jongdae dan Jongin, mencoba segala macam keahlian mereka, mirip dengan mobil balap tua yang dipaksa kembali ke area balapan. Meledak kemudian menjadi rongsokan.
Andai di dunia pembunuh bayaran ada news media maka headline mereka akan terisi dengan Triple Kim, yang sudah bukan apa-apa lagi. Lengkap dengan foto mereka bertiga yang baru pulang dari hutan dengan tangan kosong.
Junmyeon tidak lagi seorang yang sanggup menjaga Yixing. Menyimpan Yixing atau memastikannya berada jauh dari Korea adalah salah satu upayanya. Menjaganya untuk tetap diam di kamar dengan setengah telanjang mungkin juga upaya nya. Yang penting Yixing tetap selamat. Apapun. Junmyeon tahu target bukan lagi Yixing seorang. Kini ketiga mereka telah masuk dalam daftar the most wanted Kim Jae Jin.
Jongin pernah bertanya, mengapa mereka masih nyaman berada di tempat yang sangat diketahui oleh pemburu mereka. Rumah tempat mereka membesar dan berlatih. Namun Jongdae beranggapan bahwa rumah inilah tempat paling aman untuk mereka bertiga saat ini. Paling tidak Jae Jin tidak akan mengotori rumahnya dengan darah dan bekas tembakan. Jongdae tahu betul rumah ini sudah seperti nyawa Jae Jin. Tempat dimana pertama Jae Jin benar merasa rumah. Tempat dimana dia merasa nyaman dan aman berada disebuah bangunan yang disebut rumah. Menduduki rumah itu berarti sama memperlambat hitungan ajal mereka. Satu-satunya yang tidak ingin dimusnakan oleh Jae Jin.
Pintu terbuka, Junmyeon masih berada di depan pintu. Menyenderkan badannya sambil memperhatikan Yixing. Laki-laki yang dahulu memiliki tatapan takut kepada dirinya. Kini Yixing telah banyak berubah, banyak bercerita tentang aktivitasnya di China bahkan beberapa resep roti menjadi topik pembicaraannya. Yixing seakan tidak ingin Junmyeon mulai berbicara tentang dirinya sekarang. Junmyeon sadar, bahkan dia tidak mampu melindungi dirinya sendiri. Menjaga Yixing dari intaian maut, hanya sebatas menyembunyikanya.
" Minseok akan mengantarkanmu ke airport." Ucap Junmyeon
" Tidak masalah." Ucap Yixing tersenyum
" Yixing."
" Ne?."
Junmyeon masuk ke dalam dan menutup pintu, Yixing tahu ada sesuatu hal yang sangat penting akan diucapkan oleh Junmyeon. Yixing naik dan duduk di tepian kasur.
" Kurasa.. Tidak ini seharusnya, kita tidak bisa bersama lagi."
Ada kesunyian yang dirasa Yixing, inilah yang ditakutkan Yixing. Inilah topik yang paling Yixing hindari. Karena itu jika ia bersama Junmyeon ia lebih suka berbicara dibanding Junmyeon. Karena Yixing tahu cepat atau lambat Junmyeon pasti akan mengatakan hal ini.
" Tidak.. Maksudku kita tidak punya masalah apapun Junmyeon."
" Aku masalahnya. Yixing, aku bukanlah Junmyeon yang dahulu. Yang mampu mengajarimu segalanya dan melindungimu."
" Lalu apa peduliku!." Yixing berteriak seakan meminta Junmyeon menghentikan perkataannya.
" Aku yang peduli Yixing!. Hiduplah dengan tenang, menjauh lah dari kami. Kurasa ayah tidak akan mendekatimu hingga dia membunuh kami, si pengkhianatnya."
" Lalu? Apa dengan aku tidak bersamamu aku akan terbebas dari semuanya?! Sungguh tidak masuk akal."
" Paling tidak aku tidak membebanimu?."
" Lalu apa selama ini aku menjadi beban untukmu? Apa setiap kedatanganku hanyalah sebagai kunjungan yang tidak kau harapkan?."
" Kau tahu bukan seperti itu maksudku. Keputusanku sudah pasti Yixing. Kuharap ini terakhir kalinya kau ke Korea. Disini tidak aman untukmu." Junmyeon membuka pintu dan keluar. Pergi seperti pengecut yang meninggalkan Yixing dengan airmatanya.
" Kalau begini, kenapa tidak dari awal kau menjauhiku." Seguk Yixing dalam tangisnya.
Every single question will be answered all by you
Cause all I need is you
Jeonghan tidak berani menegur Yixing yang berusaha mengecil di kursi sebelahnya. Ia terus membawa mobil dengan diam seakan menghormati Yixing yang sedang berkabung dengan hatinya. Minseok tidak dapat mengantarkan Yixing karena ia baru saja mendapatkan info penting dan pergi dengan cepat. Yixing yang tahu diri bukan lagi menjadi seseorang yang penting bagi siapapun disana menerima tawaran Jeonghan untuk mengantarkannya ke airport.
" Yixing.. Berhentilah menangis…" Ucap Jeonghan lembut
" Jeonghan. Apa kau tahu ketika Junmyeon muncul di depanku kembali apa yang ada di pikiranku?."
" Ne?."
" Aku berpikir dia akan selalu ada untukku, aku berpikir Tuhan berpihak kepadaku, tapi kini dia tidak lagi direnggut dariku. Dia pergi dariku Jeonghan."
" Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran hyung, Cuma satu yang kutahu dan bisa kupastikan. Dia sangat menyayangimu."
" Lalu mengapa dia pergi dariku… Lagi?."
" Dia hanya tidak percaya dengan dirinya sendiri. Dia merasa dia menjadi beban untukmu Yixing. Kau mempunyai kehidupan yang indah. Di China kau mampu menciptakan duniamu. Dunia yang tidak mungkin untuk dia berada disana."
Yixing terdiam, teringat akan Junmyeon yang bahkan tidak berani berjauhan dari rumah Jae Jin. Latihan yang terus dianggap gagal. Tatapan panik dari Jongin kepadanya, seakan mengatakan bahwa pimpinan mereka telah tumbang.
" Apa kau tahu penyebab mereka kehilangan semua keahlian mereka?." Tanya Yixing
" Aku tidak tahu pasti. Mungkin psikis mereka yang mempengaruhinya. Bisa kau bayangkan Yixing, jika semula kau sudah menganggap menang di atas menang. Namun selembar surat mematikan euforia itu. Triple Kim telah menang melawan maut Yixing, namun mereka tidak sanggup menghadapi kehidupan."
" Maksudmu?."
" Bukankah semestinya kehidupan lebih susah daripada sebuah kematian?. Sampai, aku akan mengantarkanmu sampai ke dalam."
" Tidak.. aku bisa sendiri. Terimakasih Jeonghan."
" Pulanglah kembali ke Korea, jangan semua yang dikatakan Hyung kau ambil hati."
" Pasti."
Yixing keluar dan menghilang di antara kerumunan orang, Jeonghan menghelakan napasnya. Ia sudah dapat memprediksi hubungan antara Yixing dan Junmyeon tidak akan pernah mulus.
.
Di meja hitam yang sedang dikelilingi setidaknya empat orang itu. Berikut dengan senjata api rakitan yang tengah di pereteli satu persatu. Tampak menjadi pemandangan paling menarik di dalam rumah yang sunyi itu. Kyungsoo dan Jongin masing-masing di depan mereka terdapat dua senjata rakitan bentuk yang sama hingga peluru sama yang sedang di elus Kyungsoo.
" Mulai." Ucap Junmyeon pelan
Junmyeon memastikan kedua orang tersebut dengan cekatan langsung merakit senjatanya. Sedangkan Jongdae memastikan waktu lewat alat penghitung waktu yang dipegangnya.
" Selesai." Ucap Kyungsoo pelan
" Shit!." Jongin meletakkan setengah senjata yang telah dirakitnya. Masih ada dua peluru yang belum dimasukkannya.
" Lebih cepat tiga detik dari yang kemarin." Ucap Jongdae mencatat perolehan waktu di ponselnya.
" Progress mu cepat Soo." Puji Junmyeon
" Mungkin karena kebiasaan." Kyungsoo merendah
" Kebiasaan atau kemampuan ku yang sudah seperti laki-laki tua." Ucap Jongin putus asa
" Kita bisa mencoba nya lagi." Ajak Kyungsoo
" Tidak. Aku capek. Junmyeon mungkin mau."
" Boleh."
Kyungsoo melepas kembali senjata rakitannya, Junmyeon ikut melepasi setengah pekerjaan Jongin.
" Mulai." Ucap Jongdae
Jongin sudah bisa menebak pemenangnya. Junmyeon memang cepat namun Kyungsoo kini lebih cepat.
" Selesai."
" Bahkan rakitanku lebih mendekati sempurna daripada milikmu." Ucap Jongin menatap hasil Junmyeon.
Junmyeon meletakkan senjatanya, pikirannya tidak memintanya untuk menang. Pikirannya hanya meminta disibukkan agar dia ada Yixing yang terus melintas.
" Kau kenapa? Apakah perkataanku terlalu pedas?." Tanya Jongin menatap wajah Junmyeon yang sendu
" Bukan Jongin, hyung tengah memikirkan perkataannya lah yang lebih pedas kepada Yixing. Tidak bisakah kau mengucapkan good bye dengan lebih baik lagi hyung?." Ucap Jeonghan yang langsung datang menatap Junmyeon.
" Perkataan apa?." Tanya Kyungsoo tidak mengerti
" Dia memutuskan hubungannya dengan Yixing." Ucap Jeonghan
" Junmyeon? Apa itu benar?." Tanya Kyungsoo
" Ne. Kurasa itu yang terbaik untuk saat ini."
" Apa kau lupa Sehun sedang menuju kemari? Dan seingatku dia adalah mantan Yixing. Mungkin hingga saat ini dia masih mengharapakan Yixing." Ucap Jongin
" Dia tidak akan mendekati Yixing. Targetnya adalah aku." Ucap Junmyeon
" Entahlah tapi berapa banyak sasaran tembak kini mengepung tubuhmu dan kau lihat? Bahkan merakit senjata pun kau kalah." Ucap Jongin pedas
" Hyung, aku tidak bermaksud ikut campur. Tapi menurutku caramu salah, kau tidak akan bisa menghindari Yixing selamanya."
" Lalu apa kau memiliki saran?." Tanya Jongdae malas
" Ya. Berlatih la dengan yang yang lebih master daripadamu."
" Apa aku salah jika ingatanku mengatakan orang yang kau maksud itu sedang memburu kepala kami bertiga?." Ucap Jongin
" Selain dia." Ucap Kyungsoo menyemangati
" Tidak ada Soo. Tidak ada lagi diatasnya." Ucap Junmyeon meninggalkan meja hitam untuk berjibaku di dalam kamarnya.
Jongin dan Jongdae menghela napas, tinggal menunggu kedatangan Kris dan Sehun yang menertawakan kemampuan mereka yang lebih buruk dari seorang pemula. Atau menunggu datangnya lebih cepat Kim Jae Jin, yang kebangkitannya seakan menyedot habis kemampuan ketiga anak asuhnya itu.
TBC
*JANGAN LUPA REVIEW KAKA^^*
