Sebelumnya di season pertama :

Aku sudah membunuh Taito?

Aku pulang kerumah dengan masih meninggalkan luka yang cukup mendalam.

Mata bengep(?) ini seakan memperlihatkan betapa aku merasakan kehilangan sosok Taito.

Andai saja aku bisa mencegah Taito.

Aku tak perlu lagi menunjukan rasa sayangnya padanya, seandainya ia tau betapa menderitanya diriku saat ini.

*tutututttt... tutututttt...

Terdengar bunyi dering dari handphone kesayanganku.

Aku sengaja memilih ringtone yang berbeda untuk pacarku jika dia menghubungi aku...

Ekh? Pacar aku?

Dengan tangan gemetar tak menentu penuh ketidak percayaan, segera aku ambil handphone tersebut sambil melihat nama yang tercantum di layar.

| My lovely Taito |

ehk?

Taito?

Segera kuangkat telpon tersebut dengan penuh keraguan.

Karena seingat aku Taito baru meninggal kemarin di depan mataku dan handphonenya remuk di lokasi kecelakaan.

"ha...hallo~ ?" lirih aku menjawab telpon tersebut.

"loh kok suara sayang pelan? Lagi sakit ya?" tanya Taito tak aku percayai.

Aku masih tak percaya itu suara taito.

"nggak ada apa-apa kok" jawabku agak terkejut.

"oh iya, besok kita ke taman yuk ! Ku tunggu di halte Tokyo ya?"

"i...iya"

obrolan kamipun terputus, jelas masih ku ingat obrolan ini pernah aku lakukan sebelumnya.
Aku melihat tanggal yang ada di laptop yang sedari tadi berada tepat di depan ku.

Tanggal 15 juli 2007 jam 9 malam?

Loh ini bukannya tanggal satu hari sebelum Taito meninggal?

Bukannya sekarang harusnya tanggal 17 juli 2007?!

Ah hah... Abaikan saja dahulu, aku terlalu lelah untuk memikirkan ini semua.

Sebelum tidur aku sms-an ke Taito dengan mengetik [oyasumi sayang~]

pagi harinya, tepat tanggal 16 juli 2007.

Aku menunggu berharap cemas penuh dengan ketidak pastian.

Berharap ini bukan mimpi belaka.

Kemudian Beberapa menit kemudian terlihat seorang laki-laki yang entah mengapa membuat aku tersenyum, menangis terharu.

"taito...?" ucap aku sambil memeluknya dengan sedikit terhiksu-hiksu(?)

"kenapa?" tanya taito heran melihat kelakuan aku.

"taito...?" ucap aku sambil memeluknya dengan sedikit terhiksu-hiksu(?)

"kenapa?" tanya taito heran melihat kelakuan aku.

Kami berjalan setapak-demi setapak :3

aku harus mengubah takdir...

Begitulah yang ada dalam benak ku saat ini.

Telah kulihat mobil truk yang akan menabrak Taito tidak jauh dari perempatan.

"tunggu Taito..." ucapku menghentikan langkah kami berdua, tanpa berpikir panjang aku langsung memegang pipi Taito dan menciumnya.

Aku berharap dengan menghentikan langkah kami ini dapat mencegah kecelakaan itu.

AKAN KUUBAH TAKDIRMU!

Begitulah pikir aku saat ini.

*whusss...

Truk itu pun telah melewati kami yang sedang berciuman.

Aku tidak perduli lagi dengan orang-orang yang melihat kami berdua, yang penting aku telah berhasil merubah takdir.

"ma... Maaf Taito... Mendadak a..aku..." aku membeku bingung harus berkata apa lagi setelah kejadian itu.

"tidak apa-apa, aku sayang kamu, aku berjanji akan selalu menjagamu" Taito memberikan senyuman yang indah, senyuman yang seharusnya tidak bisa ku lihat lagi.

setelah kejadian itu, aku bertanya-tanya dalam hati.

File dokumen apa itu?, kenapa aku bisa kembali kewaktu yang lampau?

Apa mungkin cuma mimpi...

Aku sadar bahwa sampai kapanpun sebuah trauma tragedi tidak akan bisa hilang begitu saja...

Tapi ingin rasanya me remove memory BUG hitam kelam yang begitu pahit di otak ini...

Tapi semua hal itu telah terjadi, aku telah melihat file video dan telah merubah takdir yang ada. Apa itu salah?

Apa ada efek sampingnya?

Aku terlalu lelah memikirkan itu semua hingga akhirnya aku terjatuh pulas dalam tempat tidurku yang empuk dan nyaman.

dipagi harinya aku kembali mengecek file dokumen yang ada di laptopku.

Eh? Nama foldernya berubah jadi -17 juli 2007-

what the hell!

Apa yang akan terjadi hari ini?...

Aku takut untuk membuka file video ini... Tapi... Tapi...

*klik klik

eh hutan?

Kita memangnya mau kepuncak ya?

Gumam ku sambil tak berkedip melihat videonya.

terlihat di video itu kami berdua jatuh dari jurang di mobil, dan bahkan mati.

Darah bercucuran di sana sini, tangan aku terpisah dari tempatnya dan otak ku pun keluar dari tempurungnya.

Beberapa menit kemudian ledakan besar terjadi, mobil yang kami tumpangi bersama kedua orang tua Taito meledak.

Meninggalkan serpihan dan beberapa percikan darah.

*brak

tak kuat aku melihatnya, tanpa sadar aku langsung menutup layar laptop ku.

Nggak nggak nggak nanti kita kan gak mau ke puncak, tapi ke mall!.

Di keheningan lamunanku karena masih syok aku terkejut mendengar dering di handphone ku.

Eh Taito?

"halo sayang~" ucap Taito lembut.

"i.. iya..." jawab ku singkat.

"jadi berangkat kan?" ucap Taito dengan suara disekelilingnya yang terdengar ramai oleh lagu yang mungkin diputar di kamarnya.

"jadi kok, kita ke mall kan?" aku menanyakan untuk meyakinkan agar video itu tidak terjadi.

"ng ng... Orang tua aku ngajak kita ke puncak, kamu mau kan? Ga apa apa kan?"

aku teringat dengan kejadian yang ada di video.

WHAT?! Puncak!

Nggak nggak nggak, ini gak boleh terjadi!

"Taito..."

"ya?"

"aku gak bisa pergi ke puncak..." ya aku telah memutuskan untuk menolaknya, berharap dia dapat mengerti alasan aku.

"eh kenapa?" ucap Taito dengan nada kecewa.

"POKOKNYA AKU TIDAK BISA!" tanpa sengaja aku berteriak dengannya.

AKU KECEWA SAMA KAMU! Itulah kata-kata terakhir dari Taito sebelum akhirnya ia menutup teleponnya.

Sejak saat itulah negara api menyerang... Eh eh eh salah =.='a

ya benar, sejak saat itulah Taito berubah sikap terhadap ku.

Dia mulai membelenggu diriku.

Bahkan cuma berbicara dengan orang asing pun langsung menghardik aku.

Taito telah berubah...

Sekarang dia menakutkan...

Tapi aku tak bisa menyalahkannya, karena aku suka padanya, aku sayang, aku cinta.

Karena dialah cinta pertama ku.

"Rin, sebenernya kamu suka gak si sama aku?" sudah lima kali Taito menanyakan hal ini padaku, aku tau jelas semenjak aku menolak kepuncak sikapnya berubah 170km/jam.

Ini sangat menyakitkan bagiku, aku harap dia tau kalau aku benar-benar mencintainya.

Tapi haruskah aku menjadi burung dalam sangkar bila mencintai seseorang?

Haruskah cinta itu dipertanyakan?

Ya... Hanya tuhan yang tau kucinta kau, dan ku harap kamu juga tau akan hal itu.

Sudah dua minggu sejak perubahan sikap dari Taito dan barulah saat itu aku menemukan file video baru di laptop ku.

Aku sangat takut...

Aku takut untuk melihatnya...

Tapi...

Tapi...

*klik

terlihat Taito di video itu, dia sudah terlihat sangat dewasa.

Tersenyum, benar dia tersenyum.

Sudah lama aku tidak melihat senyuman itu.

Eh?

Ada orang yang terbaring di depan Taito yang sedang berdiri?

Cairan?

Cairan DARAH?!

Taito membawa PISAU!

JANGAN-JANGAN!

APA?

apa?! Itu aku?

Aku terbaring lemas berlumuran darah?

Taito membunuhku?

Apa-apaan ini?

Kenapa!?

Kenapa Taito, pacar ku sendiri membunuhku?

Bahkan dia terlihat senang sesambil melihat tetesan cairan merah kental pekat di sekitar pisaunya.

Siapa yang membikin video ini?

Aku bingung, aku resah, takut akan hal itu terjadi.

Video itu menunjukan tahun 2014, kejadian ini menunjukan tujuh tahun mendatang.

Di akhir video itu ada nama pembuatnya dan namanya adalah...

Rin kagamine

a...apa? Itu namaku?

Jadi aku yang membuat semua video mengerikan ini?

Aku tak ingin ini terjadi...

Aku tak ingin masa depan yang seperti ini...

Aku menjerit cukup keras sehingga aku jatuh pingsan di kasur ku yang empuk.

Hingga aku baru tersadar oleh dering suara handphone.

Dering ini...

Taito?

"oh iya, besok kita ke taman yuk! Ku tunggu dihalte tokyo ya?" ucap Taito dengan suara ceria.

"i... Iya... Aku mau" jawab ku singkat.

Aku langsung menekan tombol merah untuk memutuskan obrolan kami.

Jelas aku masih ingat betul ini adalah obrolan kami saat tanggal 15 juli 2007 malam.

Esoknya pas tanggal 16 juli pun kami bertemu di halte Tokyo.

Sudah tiga kali aku merasakan kejadian yang sama seperti ini terus menerus, aku harap tidak ada yang ke empat kalinya.

"selamat pagi Taito" ucap ku tersenyum saat melihat Taito datang.

"Rin!, kau manis sekali" Taito membalas senyumanku.

"yuk kita pergi" ucap Taito memegang tangan kanan ku.

"iya~" jawabku singkat.

Ya inilah saatnya...

Aku segera membetulkan tali sepatuku yang terlepas.

Saat itu juga Taito yang mendahului aku tersandung dan terjatuh dijalan.

*BRAAAAAKKKK!

Suara keras yang memilukan terdengah saat Truk besar datang.

Dengan tatapan sayu, kulihat Taito sudah berlumuran darah disekitar tubuhnya.

Dia meninggal seketika.

Aku sudah tau kalau itu bakalan terjadi.

Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.

Semua orang terkejut dan panik saat melihat kecelakaan tersebut.

Aku cuma bisa melihatnya dengan tatapan kosong.

Benar...

Aku tak berbuat apa-apa...

Sejak awal memang beginilah takdirnya.

Karena takdir kematian itu tidak bisa di ubah oleh aku, bahkan mungkin semua orangpun tidak bisa.

Selamat tinggal 15 juni 2007.

Aku tak akan kembali ketanggal itu.

Aku tak akan melupakan mu.

Selamat tinggal Cinta dan Pacar Pertamaku.

Kalaupun kita berjodoh, mungkin kita akan bertemu kembali disurga nanti.

Kuraharap kamu dan aku akan bahagia.

Ku tak akan melupakan janji kita saat seharusnya umur aku 27 tahun dan umur kamu 25 tahun.

Sekali lagi, selamat tinggal cinta pertamaku.

:) :) :')