-oo- OPERA -oo-

Main Cast:
- Cho Kyuhyun
- Lee Sungmin

Warning:
YAOI - NC - Typo(s) - Tak sesuai EYD - Alur berantakan - Bahasa sulit dimengerti - Umur tak sesuai

Disclaimer:
Kyuhyun milik Sungmin dan begitupun sebaliknya. Dan FF ini milik KAMI (H & F)

No copast! :)

Dont LIKE Dont READ!

~ Happy Reading ~

Pagi ini sungguh terasa berat bagi Sungmin, fisik dan batinnya serasa dihantam batu besar, membuatnya pusing dan kewalahan sendiri. Ada apa, kenapa, bagaimana, itulah sedari tadi pertanyaan - pertanyaan yang mengganggu benak Sungmin.

Ditambah lagi dengan pernyataan barusan yang sangat mengejutkan dari namja yang bahkan tak Sungmin kenal. Pertanggungjawaban? Tapi kenapa?

Sungmin tahu apa yang terjadi, walaupun ingatannya masih samar - samar atas kejadian kemarin, namun Sungmin tahu. Dilihat dari ketelanjangannya, seluruh tubuhnya yang terasa sakit terutama dibagian belakangnya, kamar yang terlihat begitu acak - acakan, lalu kalimat pertanggungjawaban itu. Semuanya terlihat jelas, namun Sungmin sendiri berusaha membuat matanya buta akan seluruh hal yang telah terjadi. Ia.. tak ingin mengingatnya.

"K-kau siapa?" Sungmin bertanya ditengah - tengah degup jantungnya yang semakin cepat.

"Cho Kyuhyun." Jawab Kyuhyun datar, ia masih menatap Sungmin, walaupun Sungmin sendiri tak tahu arti dari tatapan itu. Sungmin tak mau tahu.

Dengan susah payah, akhirnya Sungmin kembali mengeluarkan suaranya. "A-apa yang t-terjadi? Malam itu?" Sebuah pertanyaan konyol ia lontarkan. Oh percayalah! Ingin sekali ia mengutuk dirinya atas pertanyaan itu.

Sepercik ekspresi menghiasi wajah tampan Kyuhyun, kesedihan kah itu? "Maafkan aku, tadi malam kita sama - sama mabuk." Kata Kyuhyun. "Yah semuanya terjadi tanpa bisa dicegah."

Deg!

Jadi semua hal itu benar, semua perkiraan yang sangat ia takuti itu ternyata benar. Hanya sepatah kalimat singkat dari Kyuhyun cukup membuat semuanya terlihat jelas. Sangat jelas.

"Benarkah?" Suara Sungmin semakin terdengar serak ditelinganya.

Kyuhyun menghela napas. "Aku akan bertanggungjawab." Ucap Kyuhyun final, ia beranjak dari duduknya lalu melangkah kearah jendela besar disebelah ranjang. "Aku akan bertanggungjawab." Kyuhyun mengulang ucapan, seakan - akan berusaha meyakini diri sendiri bahwa ia memang harus melakukan hal itu.

"Tidak."

Kyuhyun menoleh, ia mendengar suara Sungmin yang begitu lirih. Terdengar begitu lirih, hampir berbisik. "Apa?" Tanyanya, mungkin Kyuhyun salah dengar.

"Tidak, kau tak perlu bertanggungjawab, anggaplah ini kecelakaan, lagipula malam itu kita sama - sama mabuk." Jelas Sungmin, ia sama sekali tak ingin memberatkan namja itu, bagaimanapun juga ini kecelakaan. Pikirnya.

Lidah Kyuhyun terasa kelu, ia tak bisa mengucapkan apapun untuk mencegah Sungmin melakukan keputusannya. Itu bukan kecelakaan. Teriak batin Kyuhyun. Namun sekali lagi, ia tak bisa mengucapkannya. Ia hanya bisa melihat Sungmin yang perlahan bangkit dengan tertatih - tatih, memakai pakaiannya, dan tanpa mengucapkan sepatah katapun ia pergi.

.
Semua itu kecelakaan. Semua itu kecelakaan. Semua itu kecelakaan. Sungmin terus merapal mantra tersebut dalam hati, ia harus bisa melupakan malam itu, walaupun sebenarnya ia hanya mengingatnya samar - samar, namun entah kenapa ia sendiri terus saja memutar memori kabur tersebut dalam otaknya. Oh ingin ia membuang otaknya sekarang juga.

Ia hanya bisa berjalan lesu menuju rumahnya, ia merasa kotor sekarang. Sangat kotor, ia sudah disentuh oleh orang yang tak Sungmin cinta, malah tak ia kenal!

Langkah demi langkah ia lalui, membawa tubuhnya menuju apartemen-nya yang memang berjarak tak jauh dari hotel tadi. Ia hanya ingin segera pulang, mandi sebersih - bersihnya lalu berpikir. Yah, namja imut ini butuh pemikiran yang jernih, tanpa gangguan dan tanpa tekanan.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan memakan tenaga mengingat tenaganya yang sudah terkuras kemarin, Sungmin sudah berada didepan gedung putih sederhana. Sebenarnya gedung itu tak bisa dikatakan apartemen juga, karena itu hanyalah sebuah gedung kecil nan tua, yang memiliki 2 tingkat.

Tingkat pertama memiliki 2 kamar apartemen dengan nomor kamar 134 dan 135, kamar nomor 134 ditempati oleh sepasang suami-isteri Lee, mereka sangat baik terhadap Sungmin dan seluruh anggota rumah lainnya, hanya saja Lee Ahjussi agak cerewet jika mengenai keselamatan semuanya. Oh Sungmin sama sekali tak ingin mendengar Lee Ahjussi menceramahinya jika beliau tahu Sungmin sudah diperkosa oleh namja tampan nan misterius.

Eh sebentar! Tampan nan misterius? Kening Sungmin tiba - tiba mengerut. Kenapa dia berpikiran seperti itu? Namun jika diingat - ingat lagi, namja tadi memanglah sangat tampan. Wajahnya begitu tampan, dengan mata tajamnya yang seakan menelan Sungmin hidup - hidup. Jika saja boleh jujur, Sungmin agak sedikit senang, ternyata yang memperkosanya adalah seseorang dengan rupa setampan dewa - dewa Yunani.

Dengan cepat Sungmin menggeleng - gelengkan kepalanya keras, berusaha menghalau pemikiran aneh tadi, untuk apa ia memikirkan hal itu. Tidak ada gunanya.

Tanpa membuang banyak waktu, namja imut ini langsung melangkahkan kakinya memasuki gedung tersebut. Saat berada ditangga, hendak menuju kamarnya, Sungmin berpapasan dengan Victoria. Seorang yeoja cantik yang menempati kamar nomor 136 tepat disebelah kamar Sungmin. Ah ya! Sungmin dan Victoria menempati lantai 2. Victoria termasuk golongan tetangga baru, karena yeoja itu baru setahun menempati apartemen-nya. Sedangkan penghuni - penghuni lain sudah menempati kamar mereka lebih dari 5 tahun. Termasuk Sungmin, ia sudah tinggal diapartemen itu selama 6 tahun.

"Darimana saja, Oppa?" Tanya Victoria lembut, seperti biasa. Victoria selalu menegur seseorang yang ia kenal dan kebetulan berpapasan dengannya. Gadis yang baik.

Sungmin mendehem, merasa suaranya begitu serak sekedar untuk menjawab pertanyaan Victoria. "Kemarin aku ada urusan." Jawab Sungmin seadanya, dan diakhiri dengan senyum manisnya, yang menegaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk saat ini.

"Malam tadi Lee Ahjussi sudah sangat repot mencarimu. Ia hampir saja menelepon polisi, dan untungnya ada seseorang yang memberitahu bahwa kau baik - baik saja."

Kening Sungmin mengerut. Ia menatap Victoria heran. "Siapa?" Tanya Sungmin.

Victoria mengendikkan bahunya. "Kami tak tahu." Kata Victoria. "Dia tak menyebutkan namanya. Setelah ia mengatakan kau baik - baik saja, ia langsung memutuskan sambungan sepihak. Lee Ahjussi benar - benar panik, ia kembali ingin melapor polisi, namun kami semua dapat menenangkannya, dan mengatakan kita akan melapor ke pihak polisi jika kau tidak pulang juga sampai hari ini. Dan ternyata kau pulang." Tambah gadis ini dengan senyum manis yang mengakhiri kalimatnya barusan.

Sungmin masih tak bisa mencerna seluruh kalimat Victoria, otaknya masih sibuk menelaah siapa yang menelepon Lee Ahjussi? Kenapa ia tahu nomor telepon gedung ini? Dan akhirnya Sungmin hanya bisa membalas penjelasan Victoria dengan gumaman singkat, lalu tanpa mengucapkan apapun, Sungmin berjalan lunglai kearah kamar nomor 137, kamarnya.

Cklek!

Pintu kamarnya terbuka, Sungmin masuk, lalu menutup kembali pintu tersebut. Ia berjalan kearah sofa diruang tengahnya dan menghempaskan tubuh lelahnya disana.

Sungmin memijat pelipisnya yang tiba - tiba berdenyut. Begitu banyak keganjalan disini, dan Sungmin sama sekali tak tahu ini berasal dari mana. Apa lelaki itu?

Sontak saja mata Sungmin yang tadinya tertutup menjadi terbuka lebar, apa lelaki itu? Tapi ia tampak biasa - biasa saja. Tak ada yang aneh. Dan lagi, ia terlihat begitu sedih plus seperti tak mengenalnya. Kenapa jadi dia yang menelepon? Bahkan Sungmin ingat, ia sama sekali tak memiliki nomor telepon gedung apartemen ini. Jadi dari mana pria itu mendapat nomornya kalau tidak dari ponsel Sungmin sendiri?

Ah itu tak mungkin. Ucap batin Sungmin. Yah itu tak mungkin. Kembali Sungmin membatin untuk memantapkan keyakinannya.

Lelaki tadi hanyalah lelaki super tampan yang tak sengaja melakukan kesalahan dengannya. Ia pantas dimaafkan dan pantas untuk dilupakan. Anggaplah ini sebagai pengalaman liar baru bagi Lee Sungmin.

Ya, hanya itu.

-oo- OPERA -oo-

Ruangannya begitu gelap, hanya ada ia seorang diri dikamar. Ditemani dengan segelas cairan merah pekat yang kini berada digenggamannya, ia tersenyum licik. Bodoh. Satu kata yang keluar dari bibir seksinya.

Kembali, namja itu mengarahkan gelas tinggi kaca kearah hidungnya, dihirupnya bau yang begitu menenangkan otak dan seluruh saraf namja tampan ini sebelum meneguk habis isinya.

Ada rasa kepuasan tersendiri ketika selesai menegak cairan merah pekat itu. Membuat seluruh sistem dalam tubuhnya kembali bekerja maksimal. Merancang berbagai rencana licik yang akan membawa orang itu kedalam rengkuhannya.

Dan kali ini pasti berhasil. Dibumbui oleh sedikit akting darinya, ia pasti akan luluh dan akan masuk kedalam kungkungannya.

.
Sungmin terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan matanya berkali - kali. Jam berapa ini? Tanya Sungmin dalam hati. Ia mengedarkan pandangannya kesegala penjuru arah, dan mendapati kenyataan bahwa sekarang sudah hampir malam.

Mata Sungmin terbelalak. Apa? Hampir malam? Tanpa sadar, namja imut ini sudah terduduk tegak diatas sofanya. Bahkan ia pun tertidur disofa. Oh dan ia belum mandi!

Dengan gerakan cepat Sungmin berlari menuju kamar mandi, memandikan tubuhnya yang sudah terasa begitu lengket dan kotor.

Ketika Sungmin sudah melepaskan seluruh pakaian yang melekat ditubuh mungil itu, ia baru sadar bahwa begitu banyak tanda kemerahan terdapat dikulitnya yang putih mulus. Di leher, dada, pinggul, dan butt?!

Astaga! Sungmin terperangah. Apa sebegitu bergairahnya kah lelaki itu? Sungmin membatin. Untuk beberapa detik ia terdiam ditempat, dan akhirnya memutuskan agar tidak memikirkan hal itu.

Lambat - lambat ia melangkahkan kakinya menuju bathup yang sudah terisi air panas dan sabun yang berbau vanilla. Satu kaki Sungmin memasuki bathup tersebut, memastikan bahwa air yang ia isi tak begitu panas dan juga tak begitu dingin. Dan setelah memastikan pas, Sungmin akhirnya memberanikan diri untuk mencelupkan seluruh tubuhnya disana.

Aroma vanilla langsung menyapa indra penciuman Sungmin ketika ia menenggelamkan tubuhnya lebih dalam. Air hangat sungguh media yang tepat untuk menghilangkan setidaknya setengah pegal - pegal yang mendera tubuhnya.

Ingin rasanya Sungmin tak keluar dari bathup tersebut jika dirinya tak mengingat bahwa masih begitu banyak naskah novel yang harus ia selesaikan secepat mungkin. Ia tak boleh membuang banyak waktu. Dan dengan berat hati Sungmin bangkit dari bathup, lalu membasuh bersih tubuhnya.

20 menit kemudian, Sungmin sudah keluar kamar mandi dengan tampang yang lebih segar. Rambut blonde-nya yang masih sedikit basah, dan hidung mancungnya yang memerah juga rona merah dipipi chubby-nya makin menambah nilai plus untuk makhluk imut satu ini.

Lalu Sungmin berjalan pelan - pelan menuju lemari yang terletak tak jauh darinya, namja ini mengambil sepasang piyama atas bawah berwarna pink dengan motif kelinci putih untuk dipakainya malam ini. Oh lihatlah! Betapa imut dan manisnya ia.

Tak lupa, Sungmin mengambil sebuah penjepit rambut kecil untuk menjepit poni-nya yang memang kadang mengganggu penglihatan Sungmin karena poni itu sudah lumayan panjang.

Setelah semuanya dirasa sudah, namja imut ini mendudukkan dirinya diatas ranjang, membuka laptop hitamnya dan mulai menulis berbagai kata demi kata yang akan membentuk menjadi sebuah novel indah. Sungmin tersenyum. Novel kali ini akan berbeda dari sebelumnya.

.
Kyuhyun mengerutkan keningnya samar saat ada beberapa file yang begitu membuatnya bingung juga muak. Moodnya benar - benar hancur sekarang. Hari ini tepat seminggu kejadian itu berlangsung dan sudah hampir seminggu pula namja tampan ini tak dapat tidur tenang hanya karena memikirkan bagaimana nasib korban dari perlakuan kejinya. Ia harus bertanggungjawab.

Tanpa sadar seseorang mendekatinya, Kyuhyun mendongak. Menatapnya sinis dan penuh kebencian. "Buat apa kau kemari?!" Sembur Kyuhyun langsung tanpa mau basa - basi. Ia tak butuh basa - basi setelah apa yang dilakukannya.

"Hey! Kenapa begitu kasar?" Senyum licik terukir dibibir orang itu, ia menatap Kyuhyun meremehkan. "Kau mau jadi pengecut disini? Atau kembali mengajukan pertanggungjawabanmu?"

"Dasar brengsek! Ini semua ulahmu!" Bentak Kyuhyun yang langsung bangkit dari meja kerja besarnya, ia menatap lawannya dengan tatapan mematikan.

Orang dihadapannya tertawa, "Kau juga ikut andil dalam hal ini." Jawabnya santai. "Ok, aku malas berdebat denganmu, aku akan kembali ketempatku. Menunggumu hingga aku bisa menguasainya." Diakhir kalimat orang tersebut kembali tersenyum, lalu berjalan menjauh dari Kyuhyun.

Tangan Kyuhyun mengepal erat, sampai buku - buku jarinya memutih, sangat terlihat ia begitu menahan seluruh emosinya. "Dasar bajingan!" Geramnya tertahan.

Semua bukan salahnya, ia hanyalah namja yang luar biasa tampan juga luar biasa kaya raya, walaupun ia memiliki sifat yang agak tempramental, namun ia bukanlah lelaki brengsek yang meniduri pria sembarang. Ia bukan orang seperti itu.

Dan ia harus bertanggungjawab, ia tak ingin dianggap sebagai namja kurang ajar yang dengan mudahnya lari dari tanggung jawab. Cho Kyuhyun, seorang pria sempurna yang memang dididik untuk menjadi lebih sempurna oleh keluarganya.

Tanpa ragu Kyuhyun mengangkat gagang telepon yang berada disampingnya, setelah mendial beberapa digit angka akhirnya Kyuhyun menempelkan gagang telepon tersebut tepat ditelinganya.

Cukup sabar ia menunggu panggilan tersebut tersambung sampai pada akhirnya ia mendengar suara seseorang diseberang sana.

"Annyeonghaseyo? Nuguseyo?" Sapa orang tersebut, Kyuhyun yakin bahwa itu suara Sungmin, korbannya kemarin.

"Oh, annyeonghaseyo. Cho Kyuhyun imnida. Sungmin-ssi?" Tanya Kyuhyun langsung. Ia ingin segera menyelesaikan semuanya agar tak ada lagi perasaan gundah yang selalu menderanya akhir - akhir ini.

Kyuhyun menyadari bahwa Sungmin terdiam beberapa saat, kemudian ia menghela napas panjang. "Ye, wae Kyuhyun-ssi?"

"Bisakah kita bertemu?"

"Untuk apa?"

"Banyak yang ingin aku bicarakan. Tentang malam itu, dan yang lainnya. Waktu itu kita belum berbicara banyak, mungkin sekarang pikiran kita sudah sama - sama tenang, dan bisa berpikir lebih jernih. Bagaimanapun juga aku masih merasa bersalah padamu."

"Aku tidak apa - apa Kyuhyun-ssi." Jawab Sungmin tenang.

"Kalau kau tidak apa - apa. Akunya yang tidak baik - baik saja. Aku mohon. Anggaplah ini sebagai tanda permintaan maafku kemarin."

Sungmin kembali terdiam, sepertinya ia sedang mempertimbangkan permintaan Kyuhyun.

"Dimana?" Tanya Sungmin.

Kyuhyun tersenyum puas. "Dirumahku." Jawabnya mantap.

"Apa?! Kenapa mesti dirumahmu?" Kembali Sungmin bertanya, namun kali ini lebih terkesan sinis. Ia tak ingin kejadian aneh - aneh menerpanya lagi, cukup sudah kecelakaan waktu itu.

Kyuhyun menghela napas lelah. Ia bisa memaklumi kalau Sungmin takut padanya, ia sangat maklum. Dan ia harus bisa menghapus ketakutan itu dari benak Sungmin. Bagaimanapun juga malam itu bukan dirinya. Hey! Bukan dirinya! Ingat itu! "Aku tidak bisa keluar rumah tanpa penjagaan ketat. Lebih - lebih jika kita harus pergi kesuatu tempat hanya berdua. Para paparazzi itu akan memotret kita dan mengatakan sesuatu yang membuat kondisi kita semakin terpuruk. Terserah kau mau mengatakan aku ini sombong atau yang lainnya, tapi percayalah, aku masih keturunan keluarga Old Money, dan aku tak ingin melibatkanmu dalam suatu masalah lagi." Jelas Kyuhyun panjang lebar. Entahlah Sungmin mau percaya atau tidak, yang jelas ia sudah berkata jujur.

"Baiklah, kapan kita bertemu?" Sungmin tak bisa membantah, perkataan Kyuhyun tadi seratus persen benar, ia sendiri juga sudah tahu seluk beluk keluarga Kyuhyun. Yah walaupun tak secara rinci, tapi Sungmin tahu kalau Kyuhyun memanglah berasal dari kalangan Old Money. Ayah dan Ibu Kyuhyun, Cho Hankyung dan Cho Heechul masih menetap di Hawai. Mereka berlibur disana bulan kemarin. Sedangkan Kyuhyun sendiri adalah anak tunggal. Ia sudah memegang penuh perusahaan sang ayah.

Kyuhyun dan orang tuanya tak pernah hidup layaknya keluarga kebanyakan. Orang tuanya sangat dan sangatlah sibuk, tak pernah ada sedikitpun waktu untuk Kyuhyun kecil, ia hidup didalam istana mewah dan dikelilingi oleh penjagaan ketat. Kyuhyun kecil juga dilatih dengan sistem disiplin yang ketat sejak kecil, ia dilatih untuk menjadi seorang yang sempurna kelak. Dan hal itu berhasil. Ketika umurnya yang masih menginjak usia 22 tahun, Kyuhyun sudah mendapat gelar professor di Oxford University. Sebuah prestasi gemilang lagi diraih Kyuhyun, ia bahkan dijuluki anak jenius.

Namun itu tak ada gunanya, bahkan saat wisuda pun orang tua Kyuhyun tak datang. Mereka hanya mengirimkan sebuah kartu ucapan selamat singkat dan hadiah mobil sport mewah bermerk Lyka Hypersport. Namun Kyuhyun hanya bisa menatap mobil mewah itu dengan miris. Hanya bernilai seginikah segala usahanya untuk mendapat gelar jenius itu?

Jujur ia tak ingin mendapatkan mobil itu, ia hanya ingin orang tuanya datang. Mengucapkan selamat, pelukan kasih sayang yang memang tak pernah ia dapatkan selama ini. Kadang ia merasa semua usahanya untuk mendapat perhatian dari orang tuanya itu sia - sia.

Hingga saat ini Kyuhyun sudah dewasa, umurnya yang sudah menginjak angka 27 tahun membuatnya harus memegang seluruh kendali perusahaan yang diberikan ayahnya. Dan untuk kesekian kalinya ia menataati petuah itu. Ia hanya bisa menurut.

Kyuhyun melirik jam tangan rolex-nya sekilas. "Jam 4 sore. Bisa?" Tanya Kyuhyun memastikan.

"Ya baiklah, bisakah kau mengirim alamat rumahmu?"

"Tidak perlu, nanti kau akan dijemput oleh supirku. Kau tinggal duduk manis disana, dan menunggu supirku menjemputmu."

"Tapi-

"Tak ada tapi - tapian Ming. Baiklah, sampai ketemu nanti." Sela Kyuhyun cepat. Tanpa menunggu jawaban dari Sungmin, ia langsung menutup telepon tersebut dan memijat pelipisnya sekilas. Apa yang kulakukan? Batin Kyuhyun.

.
Sungmin menutup gagang teleponnya dengan perlahan. Pikirannya masih berkecamuk, salah besar jika ia bisa berpikiran jernih sekarang, karena pada kenyataannya ia sama sekali tak bisa berpikir jika berada didekat Kyuhyun. Entahlah mengapa. Dan jujur, selama seminggu ini ia sama sekali tak bisa tenang, benaknya dihantui oleh Kyuhyun Kyuhyun dan Kyuhyun. Bagaimana raut kesedihan Kyuhyun pagi itu, dan bagaimana liarnya tubuh Kyuhyun saat berada diatasnya malam itu. Yah walaupun Sungmin tak ingat secara keseluruhan kejadian malam itu, tapi gairah akan seorang Cho Kyuhyun begitu membekas untuknya, semuanya terasa nyata, dan semuanya berbanding terbalik, hal itu justru tambah membuat kepala Sungmin serasa akan pecah.

Sungmin berjalan kearah dapur, ia tak ingin memikirkan hal itu sekarang. Cukuplah ia bersantai sampai jam 4 sore nanti. Dan ia akan mulai berpikir keras lagi ketika menghadap seorang Cho Kyuhyun.

Ketika berada didepan kulkas, Sungmin mengambil sekotak sereal dan segelas susu putih yang ia buat tadi.

-oo- OPERA -oo-

"Ada apa?" Tanya Sungmin langsung, kini ia sudah berada diistana mewah milik Kyuhyun, dan lebih parahnya kini ia berada didalam kamar mewah Kyuhyun. Ia sempat menolak ketika Kyuhyun mengajaknya ke kamar, namun untuk kesekiankalinya Sungmin kalah dengan penjelasan logis yang Kyuhyun lontarkan. Yah Sungmin memang selalu kalah dengan Kyuhyun.

"Aku minta maaf." Kata Kyuhyun dengan tampang sedihnya, ia menatap Sungmin lekat.

"Aku tak apa - apa." Jawaban Sungmin masih sama. Ia tak apa - apa.

"Berarti kau belum memaafkanku." Kembali Kyuhyun membuka suaranya, matanya sudah beralih menatap kearah jendela kamarnya. Ia gagal untuk meminta kata maaf dari bibir plum Sungmin, namun ia tak akan menyerah.

Sungmin menghela napas, sulit juga untuk meyakinkan Kyuhyun bahwa ia baik - baik saja, dan lebih sulitnya lagi, ternyata namja itu sangat pintar membaca arah pikiran Sungmin. Ya, ia memang belum memaafkan Kyuhyun. "Sulit untuk memaafkanmu Kyuhyun-ssi. Jujur aku amat kecewa ketika mendapati tubuhku sudah kotor, dan dikotori oleh orang yang bahkan belum aku kenal. Namun kau tenang saja, aku tak menuntut apapun, dan juga aku akan memaafkanmu cepat atau lambat." Aku Sungmin jujur.

Kyuhyun kembali memandang Sungmin. Matanya berkilat, ada seringaian mengerikan yang dikulum namja ini. "Kalau begitu, tinggallah dirumahku sebagai bentuk penebusan dosa yang sudah aku lakukan." Ucapnya dingin dan datar, aura kegelapan mulai melingkupi sekitar mereka. Tubuh Sungmin pun langsung merinding, ini bukan Kyuhyun yang tadi! Teriak alam bawah sadar Sungmin.

Tanpa sadar Sungmin menautkan jari - jari tangannya erat. Kegelisahan mulai menyergap namja imut ini, dan ia ingin segera pulang.

"Sebaiknya aku pulang." Ucap Sungmin berusaha untuk tetap tenang, tanpa menunggu jawaban dari Kyuhyun, ia langsung melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.

Tetapi...

Brak!

Sungmin kalah cepat! Pintu itu sudah dijegat oleh Kyuhyun, ia menyeringai dihadapan Sungmin, membuat tubuh Sungmin gemetar karena ketakutan. Oh Tuhan! Tolong aku! Teriak batin Sungmin, ia mundur selangkah untuk menjauhi Kyuhyun, namun namja itu malah melangkah selangkah mendekat kearahnya.

Ketika jarak diantara mereka semakin dekat, dengan gerakan cepat Kyuhyun menarik tangan Sungmin, tubuh mereka bertabrakan, tubuh mereka menempel, dan bibir Kyuhyun tepat disamping telinga kanan Sungmin. Ia berbisik.

"Kau milikku Lee Sungmin."

.
.
TBC

AN: Hay guys! H imnida! Ok, gue mau minta maaf atas keterlambatan update kali ini. Sumpah! Gue lupa kestau kalian kalau mulai dari senin kemaren gue sama F itu udah mulai menjalani UKK, jadi kami sama2 gak bisa lanjutin nih ff, daaaannnn pada akhirnya saat yang paling menyenangkan, yaitu LIBUR akhirnya gue bisa santai walau sehari untuk lanjutin salah satu ff kami.

Well ~ gue gak bisa ngomen apa2 tentang review kalian, karena ini ff memang sangat gue misteriuskan(?) walaupun ada sebagian reader dengan mudahnya dapat menebak jalan ceritanya ._.
Tunggu ajalah dan terus simak(?) ff aneh bin ajaib dari kami.

Satu hal lagi, TERIMAKASIH atas review kalian, semuanya sangat membantu kami dalam melanjutkan ff ini, terus review dan kami akan semakin bersemangat untuk melanjutkannya ^^

Jika review mencapai target, kami akan update secepat mungkin~ :)

Ok, kira2 chap depan ada NC-nya gak ya? *MikirKeras*

Thankyou my Lovely Reader ^^

See you next chap :) bye ^