Child ~Tomino no Jigoku~ 1

A/N: Yup, lanjutan dari proyek tetralogi Dementia. Ceritanya masih melanjutkan dari cerita sebelumnya, Flesh. Namun, dalam part Child ini, akan dibahas masalah lain. Namun tetap gak menghilangkan ciri pokok tetralogi Dementia yang gue rancang dari awal. Inspired by Junji Ito's mangas (swear, manga karya Junji Ito bener-bener keren, meski ada beberapa hal yang absurd).

WARNING: abal, typo, gaje, hurted character, kurang serem!

Disclaimer: Vocaloid by YAMAHA


Sebulan setelah tragedi berdarah itu, kehidupan Kiyoteru mulai kembali normal. Keadaan Yuki juga sudah mulai membaik semenjak alat bantu pendengaran sudah dipasang di telinga kirinya yang terluka. Kasus kematian Miku dan Kaito, juga pembantaian massal yang dilakukan dua sejoli itu sebelumnya telah diserahkan ke polisi. Kiyoteru, yang sempat dijadikan tersangka dan ditahan selama dua hari, dibebaskan kembali dengan alasan gangguan psikologis.

Memang benar, Kiyoteru merasa ada yang aneh pada dirinya. Perubahan karakternya ketika pembantaian terjadi jauh di luar dugaan. Belum lagi rasa mualnya ketika ia mencium dan menelan daging dan darah manusia, juga yang paling membuat penasaran adalah bekas luka di kepala Kaito dan Miku. Apa gerangan yang terjadi pada Miku dan Kaito dalam waktu sebulan sebelum 'pesta' itu diadakan?

Ini menjadi teka-teki menarik.


Sekolah Hachigata-jou Minami tampak ramai. Kiyoteru dan Yuki berangkat bersama sembari berpegangan tangan. Tampaknya, pria itu ingin melindungi Yuki, semenjak nyawanya dan nyawa Yuki terancam dalam kasus berdarah sebulan lalu.

"Sensei, nggak lupa bawa bekal kita, 'kan?" Tanya Yuki dengan suara manisnya.

Kiyoteru tersenyum ramah. "Iya, sayang. Kamu, 'kan, kemarin sudah wanti-wanti sensei buat bikin apel panggang kesukaanmu. Sudah capek-capek buat, ya, kalo sampe lupa dibawa, 'kan sayang."

Yuki tertawa renyah, tawa yang mampu membuat Kiyoteru mampu melupakan kegelisahannya akan kejadian-kejadian aneh yang menimpanya. Yuki, muridnya yang masih polos, benar-benar seperti malaikat. Seketika, ada desiran halus yang masuk melalui lubuk hatinya. Kiyoteru menatap Yuki sembari membetulkan posisi kacamatanya. Gadis mungil ini, benar-benar ingin ia jaga dan lindungi…


Kiyoteru dan Yuki berpisah di lobi utama sekolah, karena pria itu harus mengambil daftar absensi di ruangan guru. Begitu ia mendapatkan apa yang ia cari, Kiyoteru bergegas melangkah menuju kelas 5-1, kelas Yuki. Hari ini, ia mengajar matematika di kelas tersebut. Agar cepat sampai, Kiyoteru mengambil jalan pintas yang tak banyak dilalui orang. Ia melewati ruang laboratorium bahasa lama yang sepi dan angker, karena jarang digunakan.

Ane wa chi o haku, imouto wa hihaku…

(Kakak memuntahkan darah, adik meludahkan api…)

Sayup-sayup, Kiyoteru mendengar seorang anak melantunkan semacam puisi. Sangat lirih, namun cukup tertangkap oleh telinganya.

Kawaii Tomino wa tama o haku…

(Tomino yang lucu meludahkan permata yang berharga…)

DEG! Kiyoteru merinding. Puisi ini, rasanya pernah ia dengar, tapi lupa apa judulnya. Puisi yang katanya bisa membawa akibat buruk bagi orang yang membacanya dengan lantang. Kenapa puisi ini bisa terdengar di sekolah ini?

Hitori jigoku ni ochiyuku Tomino…

(Tomino jatuh sendirian ke dalam neraka…)

Jigoku kurayami hana mo naki…

(Neraka berselimut kegelapan dan bahkan bunga-bunga tiada yang bermekaran…)

Kiyoteru menajamkan pendengarannya. Suara itu berasal dari laboratorium bahasa lama. Tapi, bukannya pintu laboratorium ini selalu terkunci rapat dan tak pernah terlihat seorang pun memasuki ruangan ini? Mata kejora Kiyoteru menangkap ada keanehan pada pintu laboratorium itu. Gembok pengunci ruangan itu telah dirusakdan pintu laboratorium terbuka sedikit. Kiyoteru mengasumsikan bahwa ada yang membuka paksa ruangan ini, entah dengan apa caranya.

Muchi de tataku wa Tomino no ane ka.

(Apakah itu kakak Tomino yang membawa cambuk?)

Perlahan, Kiyoteru mendekati pintu laboratorium itu. Jantungnya berdegup kencang, memikirkan apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Ia menggenggam gagang pintu laboratorium itu dan membukanya, seiring dengan berhentinya suara anak itu membacakan puisi.

Tidak ada apa-apa. Hanya ruangan laboratorium yang sunyi dan tak terawat, juga suram. Kiyoteru melangkah memasuki laboratorium. Tiba-tiba, terendus bau amis yang menyengat. Bau amis ini… bau darah. Kiyoteru merasakan kepalanya pening luar biasa. Tapi, ia mencoba untuk bertahan dan menguatkan diri serta keseimbangan tubuhnya. Ia kembali melangkah, menyelidiki asal muasal bau tersebut, hingga akhirnya Kiyoteru menginjak sesuatu yang lunak sampai pecah. Kesuraman ruangan tersebut membuat Kiyoteru kesulitan melihat apapun. Ia mengambil handphone-nya dan menyalakannya. Cahaya dari handphone itulah satu-satunya cara agar ia bisa mengetahui apa yang barusan diinjaknya. Ketika layar handphone itu diarahkan ke dekat sepatunya…

"AAAAAAAHHHHH!" Kiyoteru menjerit, tatkala ia melihat bola mata manusia yang sudah hancur berada di dekat sepatunya. Bola mata itu memuncratkan isinya yang kenyal seperti agar-agar dan darah segar. Tampaknya, bola mata itu baru saja diambil dari seseorang secara paksa, terlihat dari otot-otot bola mata tersebut yang terpotong tidak rapi, seperti baru dicabik. Lalu, layar senter Kiyoteru mengarah pada sesosok tubuh yang terbaring tak berdaya di dekat tempat Kiyoteru berdiri. Sosok itu… Ann, pengajar bahasa Inggris di sekolah Hachigata-jou Minami. Ia tampaknya pingsan. Namun, yang lebih mengerikan, mata kiri Ann berlubang dan banyak mengeluarkan darah. Kiyoteru bergidik, ternyata mata yang diinjaknya itu adalah mata Ann. Dan tak jauh dari tempat Ann pingsan, Kiyoteru melihat tulisan kanji yang ditulis dengan darah di dinding laboratorium.

TOMINO NO JIGOKU… NERAKA TOMINO…


Polisi datang satu jam kemudian. Sekolah dibubarkan secara mendadak guna kelancaran penyelidikan. Ann yang terluka pun dilarikan ke rumah sakit secepat mungkin. Kiyoteru pun diperiksa secara khusus di ruang Kepala Sekolah sebagai saksi atas kejadian misterius tersebut. Dengan sabar, dijelaskannya sedetail mungkin mengenai apa yang baru saja dialaminya, sampai dengan ditemukannya Ann tergeletak pingsan dan tulisan darah di dinding.

"Kami akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Sebagai antisipasi, lebih baik kegiatan belajar mengajar di sekolah ini harus dihentikan selama satu minggu. Kami khawatir, kejadian ini akan berdampak pula bagi warga sekolah dan orang tua murid. Dan karena semua keterangan Hiyama-san selaku saksi sudah kami anggap cukup, Anda boleh keluar," jelas seorang polisi kepada Kiyoteru.

"Baik, akan saya sampaikan. Terima kasih," ucap Kiyoteru.

"Sama-sama, dan terima kasih karena Anda mau bertindak kooperatif guna menyelesaikan kasus ini sesegera mungkin."

"Ya, sama-sama."

Usai berjabat tangan, Kiyoteru keluar dari ruangan Kepala Sekolah. Yuki sudah menunggu dari luar, karena mereka akan pulang bersama.

"Sensei, ada apa?" Tanya Yuki polos.

Kiyoteru menggeleng lemah. "Nggak apa-apa. Oh, iya, bilang sama teman-temanmu kalau sekolah akan diliburkan selama seminggu."

Mata kejora Yuki berbinar. "Yang bener, sensei? ASYIIIIIKKKK! Libuuurrr!" Yuki berjingkrak-jingkrak kegirangan.

"Eeehhh… sudah, sudah. Oke, karena kita pulang cepat, kita pergi ke café Iroha-san saja, ya? Sensei mau minum kopi."

"Eh? Bukannya kita bawa bekal, ya?"

"Ya, sekalian makan bekal di sana. Oh, iya. Iroha-san menjual apple truffle, lho. Nanti kita beli buat camilan di rumah."

"Oke, sensei!" Yuki tertawa renyah.

Desiran halus itu kembali terasa. Tawa renyah Yuki membuat pipi Kiyoteru merona merah. Perasaan ini, apa ini yang disebut dengan jatuh cinta? Eh? Jatuh cinta dengan anak semungil Yuki? Konyol sekali. Jika benar, Kiyoteru bisa disangka pedofilia. Tapi, bukankah cinta adalah cinta, tak peduli status maupun usia?

Ah, Kiyoteru jadi benar-benar bingung. Ia jadi salah tingkah. Dan tanpa sadar, bibir lembutnya sudah mengecup pipi Yuki. Gadis mungil itu kontan kaget, tapi ia menafsirkan ciuman gurunya tersebut sebagai ciuman kasih sayang layaknya seorang ayah kepada anaknya. Kiyoteru langsung menyadari hal tersebut dan menghentikan ciumannya. Ia mengatur ekspresi wajahnya agar tampak biasa.

"O… oke…," Kiyoteru menggamit tangan Yuki. "Ayo kita pergi."

"Oke!" Yuki tersenyum manis.

Mereka pun berjalan bersama meninggalkan sekolah Hachigata-jou Minami, tanpa menyadari ada mata yang tengah mengawasi mereka, mengintai setiap langkah kaki mereka.


To be Continued…