Static
.
.
Pandora Hearts (c) Jun Mochizuki
This Fic (c) Aline no Tandoku
.
.
Chapter 2: Vincent's Noise
Pria itu mendengus saat mendengar pintunya diketuk. Ia membuka pintu, dan terlihat seorang gadis yang telah menjadi pelayannya bertahun-tahun. Ia memutar bola mata. Kalau boleh dibilang, ia tidak mempedulikan gadis ini—tidak sedikitpun.
"Echo, kenapa kau kesini?" tanyanya dengan suara yang diramah-ramahkan. Ia tersenyum kepada pelayannya.
"Apakah Echo dapat membantu anda, Vincent-sama?" Echo balas bertanya dengan nada formal. Ia tampak gugup, dan berkali-kali melirik ke lorong dekat dengan kamar Glen yang baru, Reo. "Echo ingin membantu anda, Vincent-sama." Melirik lagi, kali ini tampak agak tersipu. Vincent mengernyit.
"Apakah ada yang salah dengan lorong itu, Echo?" Vincent menunjuk lorong yang dari tadi dilirik Echo dengan dagunya. "Atau… apakah ada sesuatu? Maukah kau memberitahukannya kepadaku?" pria itu mendorong Echo masuk ke kamarnya, kemudian menutup pintu kamarnya. "Kebetulan tidak ada yang bisa kaubantu, sayangnya. Aku lebih memerlukan Zwei saat ini." Sang pemilik mata emas dan merah itu tersenyum licik.
Echo menatapnya dengan pandangan seakan-akan ia patah hati.
"Jadi… kalaupun kau ingin membantuku, Echo, lebih baik kau berganti tempat dengan Zwei sekarang. Ya, Echo. Sekarang!" bentaknya. Sang pelayan terbatuk sebentar, kemudian mengejang, dan akhirnya, saat ia membuka kedua matanya, warnanya sudah berubah menjadi abu-abu. Auranya telah berubah, dan sebuah senyum riang terukir di wajahnya. Zwei. Kepribadian ganda Echo. "Yo, Zwei! Apa kabar?" sifat Vincent berubah seratus delapan puluh derajat. Ia terlihat seperti seorang pria yang sedang bertemu dengan sahabat karibnya saat masih sekolah.
"Baik, Tuan Vincent! Zwei sangat senang bertemu dengan Tuan Vincent!" Zwei berteriak senang. "Si Echo itu memintaku bertukar dengan tiba-tiba, sih… ia kelihatannya terpukul. Tuan Vincent tahu kenapa?" tanya Zwei tanpa menghilangkan nada riang perkataannya. "Tuan Vincent pasti tahu, kan?"
Vincent memutar bola matanya. Ia tidak menyukai keduanya—Echo dan Noise. Tidak pernah sekalipun. Tapi karena Zwei sangat mencintainya, ia sangat ingin memanfaatkannya. Apa lagi Echo juga memiliki kemampuan yang luar biasa dalam bertarung. Dan Zwei juga memiliki Doldum, yang sangat berguna untuk memanipulasi hati orang-orang. Bagi orang seperti Vincent, Echo dan Zwei bagai dua boneka yang tidak di sukainya namun dapat menghasilkan manfaat tersendiri—bila dimanfaatkan.
Pria berambut panjang itu duduk di atas tempat tidur barunya di kamar kediaman Baskerville. Ia memperhatikan Zwei yang tampak riang sambil duduk di sofa panjangnya. Dengan rencana tersembunyi, ia tersenyum kepada gadis berambut putih itu. Seakan-akan si lawan bicara mengerti bahwa percakapan akan dimulai, ia langsung duduk tegak dan tampak antusias. Matanya melotot, dan bibirnya tersenyum penuh semangat. Entah kenapa, meihat betapa antusiasnya Zwei, Vincent meneteskan keringat dingin.
"Jadi, Zwei… apa yang kau pikirkan tentang Glen Baskerville yang baru itu?" tanya Vincent. "Atau harus kupanggil Glen-sa—"
"Ia tidak pantas menggantikan Glen-sama yang dulu," potong Zwei sambil menggeram. "Ia masih anak-anak, bahkan lebih tua Lotti daripada dia. Dan tampangnya yang sombong dan memuakkan itu…" Zwei memicingkan matanya tanda tak suka. Lebih tepatnya, kalau dilihat dari tatapannya, ia membenci 'Glen yang baru' itu.
Vincent tersenyum lagi. "Ya, kupikir juga begitu. Ia menyebalkan sekali, kan? Ia juga kasar, benar-benar tidak pantas untuk medapatkan kedudukan tertinggi di keluarga Baskerville ini, kan?"
"Iya, Tuan Vincent benar…" kata Zwei menyetujui. Ia memandang jendela dengan pandangan menerawang sambil bertopang dagu. "Tapi… entahlah. Echo sepertinya menyukainya. Ia akhir-akhir ini sering berpikiran tentang anak aneh itu, kalau tidak… ya, si B-Rabbit itu."
"Kau dapat mengetahui pikiran Echo?" alis Vincent terangkat. Ia tampak mulai tertarik dengan pembicaraan mereka.
"Ya, tentu saja. Aku kan pemilik asli tubuh ini. Lagipula, akhir-akhir ini ia juga lebih sering menutup diri, tak seperti bisasanya. Dan itu memudahkanku, tentu saja…"
"Kalau begitu," Vincent menarik nafas panjang, "apa yang Echo pikirkan tentang Glen kita yang baru ini?"
Selama beberapa saat, tubuh Zwei seakan-akan tidak hidup. Matanya masih menerawang ke jendela, namun bagian tubuh lainnya seakan-akan tidak berfungsi. Kemudian matanya tertutup, dan tangannya mulai bergetar-getar. Mata anak itu terbuka, dan menampilkan mata biru Echo—yang segera berubah menjadi warna abu-abu. Kemudian tertutup lagi. Begitu terus sampai kira-kira lima belas menit. Keduanya bersaing sengit untuk mengendalikan tubuh tersebut.
"Echo menyukai anak aneh itu," gumam Zwei tidak percaya, saat ia kembali membuka matanya, dan menjadi dirinya lagi. "Ia berusaha merebut tubuhku, Tuan Vincent. Ia mendesakku dengan keras. Tanganku sampai luka-luka…" ia memegangi lengannya yang sebenarnya tidak apa-apa. Namun, sepertinya ada tubuh lain miliknya yang di lengannya luka.
"Apa yang ia katakan selanjutnya, Zwei?" pancing Vincent.
"Ia mengatakan… bahwa aku harus memanggilnya 'Reo', bukan anak aneh. Katanya anak itu tidak aneh, cuma sedikit kasar saja—" Vincent mengernyit seperti sedang menatap orang yang bilang bahwa bangsat itu sama lucunya dengan kucing, "—namun aku tidak percaya. Dan kami mulai berkelahi.
Zwei menjambak rambutnya, dan dia balas mencakar wajahku. Aku menendangnya, dan ia memukulku. Kami terus seperti itu, jambak-cakar-tendang-pukul sampai akhirnya ia mengatakan sesuatu yang sangat amat parah. Parah sekali, Vincent-sama,"
Vincent mengangkat satu alisnya, tampak tertarik. "Apa yang ia bilang, Zwei?"
"Ia bilang… ia bilang bahwa ia tidak mau lagi menjadi pelayan Tuan Vincent lagi."
