" kau tak seharusnya berada di toilet lelaki naru, ingat kau mempunyai... vagina ?"

Sasuke menyeringai melihat wajah terkejut Naruto yang dipantulan cermin besar dihadapannya, diarahkan wajahnya kecekuk leher pemuda dipelukannya, membuat seluruh badan namikaze bungsu bergetar. Ia arahkan tanganya ke perut Naruto yang masih tertupi kemeja putih tipis, membuat gerakan menggoda dengan sengaja memasuki jarinya kesela sela kancing kemeja naruto.

Sementara Naruto masih terdiam, menunduk dengan tangan terkepal erat. Sungguh ia sangat ingin melawan tapi tangannya bergetar hebat. Ia merasa dirinya yang sekarang tak ada bedanya dengan dirinya yang dulu, yang hanya berdiam diri tak bisa melawan. Matanya membulat lebar ketika merasakan sebuah tangan merambat menuju daerah bawah tubuhnya.

"Brengsek, lepaskan tangan kotormu "

Dengan cepat ia arahkan sikunya kearah belakang, membuat sikunya membentur wajah seseorang dibelakangnya dengan keras.

Sasuke memegang sudur bibinya yang mengeluarkan darah. Menyeringat pelan setelah rasa asin mendominasi indera pengecapnya. Ia menarik Naruto yang hendak pergi dan mendorong pemuda itu hingga membentur tembok, Menatapnya tajam seakan ia pelaku kejahatan walau sebenarnya disini sasuke lah yang pantas dibilang pelaku pelecehan seksual.

Kedua tangan sasuke mengunci pergerakan masing masing lengan naruto. Membuatnya terhimpit tak ada pilihan. Satu kakinya ia arahkan ke selangkangan naruto, menekan lututnya kebagian pribadi Naruto.

Naruto menunduk dengan tangan yang terkepal erat, ia merasa harga dirinya hancur mendapati semua bagian tubuhnya terasa lemas tak kala pemuda dihadapanya kembali menjamah tubuhnya.

" Lepaskan aku hiks...ku mohon lepaskan. A-aku berjanji akan menjauhi mu... tolong lepaskan aku"

Naruto merasakan cengkraman dilenganya mengendur. Tak menyiakan kesempatan pemuda pirang bergegas meninggalkan toilet tanpa menatap sedetikpun raut muka kaget sekaligus bingung pemuda yang masih terdiam ditempatnya.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : BL ( boys love ), Alternate Universe and Disorders of sex development ( just for now )

.

.

.

.

.

" Jadi, bagaimana hasil rapat kemarin ?"

Gaara menaruh secangkir ristretto dihadapan bos besarnya. Tangan lihainya menambahkan sedikit krim kedalam cangkir berwarna putih tersebut, menetralisir rasa pekat sempurna.

"Sesuai yang kukatakan semalam, kita menang atas pembangunan resort di Minami. Sekarang kita hanya perlu sedikit persiapan dan selebihnya menunggu proposal lanjutan dari U&F Corp" jawab Neji seraya mengambil sebuah dokumen disampingnya dengan senyum yang senantiasa merekah diwajahnya.

"Dari wajahmu kurasa kau lebih senang melihat wajah kekalahan Orochimaru dibanding memenangkan proyek ini, Neji-sama" dengus Gaara yang hanya ditangapi kekehan kecil oleh kekasihnya.

"Lalu bagaimana denganmu, Sakura?" tanya Gaara kepada satu-satunya perempuan yang dengan santai merebahkan diri di sofa yang sama dengan bos besarnya.

"Tak ada masalah yang berarti, semuanya berjalan sesuai yang direncanakan" jawabnya santai. Gaara hanya mengangguk mendengarnya, memang tak ada yang perlu dikhawatirkan dari seorang Haruno Sakura. Perempuan berotak kelewat cerdas –sedikit licik- jika menyangkut urusan perkerjaan.

Tapi, yang saat ini perlu dikhawatirkan adalah pemuda berambut pirang yang tengah menengelamkan diri di sofa bed.

"Lalu jika semua berjalan diatas kendali, mengapa naruto seperti orang yang baru kehilangan nyawa? apa seseorang mengambil semua jatah ramennya ?" tanya Gaara kembali yang membuat kedua orang berbeda gender melirik kesudut ruangan bersamaan.

"Entahlah, kurasa ia baik baik saja kemarin. Hey Naru, kau bisa pulang jika memang kondisimu belum terlalu baik" ujar Neji sedikit khawatir dengan pemuda yang sudah ia kenalnya selama 5 tahun belakangaan ini, yang tentunya membuat ia hapal betul dengan semua perilaku Namikaze bungsu.

Namun bukan berarti ia tau segalanya tentang Naruto, terkadang ia merasa ada tembok tak kasat mata yang Naruto ciptakan untuk mencegah seseorang untuk masuk lebih dalam ke kehidupan pribadinya. Ia sendiri pun tak terlalu mempermasalahkan bagaimana kehidupan pribadi sahabatnya.

Disisi lain Naruto hanya terdiam menganggapi tawaran menggiurkan Neji, pulang ke apartemennya, menggulung diri dengan selimut hangat dan kembali tidur di ranjang nyamannya. Namun kenyataan bahwa Kyuubi sedang berada di sana membuatnya mengurungkan niat tersebut. Semalam Naruto pulang kerumah dengan keadaan senormal mungkin, di kantor bahkan tak ada yang menyadari bahwa ada yang salah dengan si pirang, penyamaran hampir sempurnanya runtuh seketika dua detik Kyuubi menatap matanya, bagai rubah dengan instingnya yang kuat. Sebisa mungkin Naruto menghindari pertanyaan menusuk Kyuubi namun ia pun tahu bahwa Namikaze Kyuubi bukanlah orang yang gampang menyerah, ia tak akan berhenti bertanya sebelum mendapat jawaban yang membuatnya puas.

"Neji, aku pinjam kamarmu, kepalaku terasa sangat berat"

Naruto melangkahkan kakinya menuju pintu arah selatan ruangan bos besarnya. Mengistirahatkan tubuhnya sejenak mungkin pilihan yang sangat tepat mengingat semalaman ia terjaga penuh.

" T-tunggu Naruto! K-kamarnya sangat berantakan, kau tak akan bisa tidur nyenyak didalam sana" Cegah Gaara panik sesaat Naruto ingin memasuki ruangan istirahat pribadi Neji di kantor.

"Kau fikir sudah berapa lama aku berteman dengan Neji? Aku sudah sangat terbiasa dengan kebiasaan joroknya itu" Naruto mengibaskan tangannya tak peduli, ingin kembali memasuki kamar dihadapannya sebelum kembali dicegah oleh Gaara.

Neji memijit keningnya pelan, mengakui kebodohannya yang tak langsung membersihkan 'sisa-sisa bekas' koneksi-nya dengan Gaara tadi pagi. Sprei yang sudah tak lagi berbentuk, 'mainan' kesukaan Neji yang bisa membuat Gaara tak berkutik, bekas cairan yang tersebar di ranjang, meja cermin dan ditempat tempat yang hanya diketahui Neji dan Gaara.

Walau Naruto mengetahui hubungan menyimpang Neji dan Gaara, tapi tetap saja ia masih mempunyai urat malu jika Naruto melihat hasil pergulataan panasnya dengan kekasihnya.

"Daripada itu Naruto, bukankah hari ini kau harus melakukan check-up mu?" Tanya sakura yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya

" Kurasa itu tak perlu, aku sangat baik baik saja sekarang" jawab Naruto sambil menggaruk kepalanya, sedikit banyak tak peduli.

" Kau berbohong. Aku tau belakangan ini kau selalu memegang bagian bawahmu dan wajahmu itu menunjukan raut kesakitan kan? Sudahlah jika kau tak nyaman dengan dokter disini aku bersedia mengantarmu ke AS, sekaligus berlibur sebentar, benarkan Neji?"

"Hei, Hei sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berlibur, ada setumpuk pekerjaan yang menunggu untuk segera diselesaikan"

Naruto menghela nafasnya, sedikit takjub dengan kemampuan pengamatan Gaara, orang kedua yang tak bisa tertipu dengan senyuman Naruto.

"Iya aku tahu, lagi pula Kyuu-nii sudah mengancamku bila aku tak datang check-up" gerutu Narutu dengan nada merajuk

"Uuuuu apa sekarang Naru-chan sedang merajuk? Apa perlu Gaara-nii menemani mu ke rumah sakit?"

Gaara mencubit pipi Naruto, setengah gemas setengah kesal dengan sikap Naruto yang kadang tak peduli dengan kesehatannya. Tapi setidaknya ia bersykur Naruto-nya tidak semuram tadi pagi. Tak peduli apa yang terjadi dengan Naruto, ia tak akan memaksa Naruto untuk bercerita dengannya, Namun ia siap kapanpun menjadi sandaran bagi seorang Namikaze Naruto.


Seorang lelaki diawal umur tiga puluhan menyandarkan tubuhnya di kursi panjang miliknya, tangannya mengambil secangkir ocha dan menghirupnya dengan hikmat. Meliburkan diri setelah sekian lama berkelut dengan berkas berkas dokumen yang menjerit meminta tanda tangannya.

Ah- ia merasa mukanya terlalu cepat menua gara gara dokumen dokumen sialan itu. Mungkin ia akan membuat catatan untuk lebih memerhatikan kondisi kulitnya, tentu saja hal ini sangat penting mengingat sampai sekarang ini ia masih berstatus single atau sendiri atau jomblo kalau bahasa gaulnya.

Bukannya ia tidak laku atau karna mukannya yang sudah terlihat keriput, namun entah mengapa ia tak mudah tertarik dengan seseorang, baik itu wanita maupun pria.

Dan ia memang seorang bisexual, ia tak peduli gender yang terpenting adalah seseorang yang dapat menarik perhatiaanya, seseorang yang bisa membuatnya berjuang untuk mendapatkan seluruh raga dan jiwa orang itu, seseorang yang tak melihat marga Uchiha di namanya namun-

"Itachi, biarkan aku yang memegang proyek pembangunan resort Minami"

Itachi tersentak tak kala seseorang menginterupsi lamunan tentang masa depannya.

"Loh sasuke? Bukankah hari ini kau seharusnya berada di kantor menggantikanku?"

"hm, jawab dulu pertanyaanku" jawab sasuke dengan wajah stoic namun tampak segaris rasa ketidaksabaraan terlukis diwajahnya.

" tsk itu bukanlah pertanyaan namun pemaksaan kau tahu"

Itachi membenarkan duduknya, tidak lagi menyenderkan tubuhnya. Ia menunjuk bangku sebelah, isyarat menyuruh sasuke duduk terlebih dahulu.

"Apa yang membuatmu ingin memegang kendali proyek di Minami? Itu bukanlah proyek besar namun juga penting mengingat kita akan menanam banyak pundi uang disana" tanya Itachi dengan nada serius, tentu saja yang dibahas sekarang adalah tentang perkerjaan, ia harus bersikap profesional walau dengan adiknya sendiri.

"Aku tertarik dengan pembangunan disana" jawab sasuke singkat.

Itachi memandang adiknya dengan tatapan curiga. Sasuke bukanlah orang yang mudah tertarik dengan pembangunan di pelosok pulau. Ia tahu betul adiknya lebih tertarik dengan pembangunan gedung mewah pencakar langit.

"Lalu bagaimana dengan cabang perusahaan di Hongkong? Tidakah kau harus kembali ke sana?" tanya itachi

" Aku tetap mengurusnya, proyek Minami dan perusahaan di Hongkong" jawab sasuke penuh keyakinan.

"Tidak kuizinkan"

Itachi kembali merebahkan dirinya dan kembali menutup matanya seolah mengusir sasuke dengan cara halus.

" Kau meremehkanku, Itachi?"

Lelaki yang lebih tua menghela nafasnya kasar, kembali bangkit dari 'pura-pura tidurnya' dan menatap si bungsu yang masih setia dengan pandangan menuntut.

" Tidak. Aku tau kau bisa memegang dua pekerjaan ini otouto, namun tidak dengan tubuhmu, kau juga manusia biasa yang sewaktu waktu bisa terjatuh sakit"

Tidak ada lagi nada serius dari ucapan Itachi, yang ada hanya ucapan lembut namun tegas seorang kaka yang sedang memberi nasihat kecil kepada adik lelakinya.

"Kau tak perlu mengkhawatirkan tentang itu, aku masih cukup kuat" ujar Sasuke yang langsung pergi dari hadapan Itachi tanpa mengatakan apapun lagi, tanda final yang berarti kali ini ia tak ingin ditentang.

Itachi mengusap wajahnya pelan, berdoa didalam hati semoga wajah mulus adiknya tak berakhir keriput karna terlalu banyak menyibukan diri dengan bekerja, seperti dirinya.


Jam menunjukan pukul 02.45pm, sehabis melakukan perjanjian dengan salah satu cabang perusahaan, Naruto memutuskan untuk datang ke rumah sakit tempat dimana ia mempunyai janji dengan salah satu dokter disini.

Ia terduduk bosan dihadapan meja bertuliskan nama dokter yang sudah ia hapal diluar kepala.

" Oh Naruto kau sudah datang? Maaf aku harus menyeselesaikan operasi dulu"

Seorang perempuan berumur sekitar 50an masuk dengan pakaian operasi yang masih melekat ditubunya.

Naruto menggeleng dengan senyuman "Tak apa, dok. Seharusnya aku yang meminta maaf karna membuat janji yang terlalu mendadak"

"kau terlalu formal, Naru" jawab dokter yang kini sudah duduk di mejanya.

" heeeeh padahal aku sudah berusaha untuk sopan, baa-chan"

Naruto kembali memasang senyumnya, namun kali ini tersenyum jail yang membuat perempuan dihadapannya mendegus geli.

" Jadi, bagaimana keadaanmu ?" tanya Tsunade, nama dokter yang kini menautkan tanganya, siap untuk mendegar keluhan sang pasien.

"Humn baik baik saja. Tak ada hal serius yang berarti" jawab Naruto santai sambil memainkan pulpen ditangan kanannya

" Tidak serius untukmu tapi itu serius untukku, Naruto. Akhir akhir ini apa yang kau rasakan? Apa ada rasa sakit didalam atau semacamnya?"

"Mungkin? Saat otot otot paha bagian dalam menegang sehabis berlari, rasanya sedikit ngilu" ujar Naruto pelan

" bagaimana dengan bekas jahitannya? Apa sudah menghilang sepenuhnya?"

Naruto menggeleng "Terkadang disaat aku terlalu sibuk hingga kelelahan, dibagian dalam terasa sangat nyeri"

" Itu namanya penting, bocah"

Tsunade memukul kepala Naruto pelan dengan gulungan kertas. Ia tak memperdulikan rengekan Naruto yang mengeluh sakit. Ck bocah itu, setelah semua yang ia alami dilalui dengan tegar bisa bisanya ia merengek sakit hanya karna gulungan kertas.

" Minum obat ini sehari sekali, jika kau masih tetap merasakan sesuatu hubungi aku"

Tsunade memberikan secarik kertas bertuliskan nama obat yang harus Naruto tebus.

"Terima kasih, baa-chan!"

Naruto melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Tsunade setelah mengucapkan terima kasih. Ia melirik jam tangannya

'masih terlalu dini untuk pulang' pikirnya.

Naruto memutuskan untuk kembali kekantornya, merasa tidak enak jika ia langsung pulang ke apartemennya walaupun Neji sendiri yang menyuruhnya untuk istirahat setelah kembali dari rumah sakit.

Tringg...tringgg

Setengah kaget ia mengambil handphone-nya, tertera nama Sakura disana.

'Naruto kau masih berada di Rumah Sakit?'

Suara perempuan langsung menyelak sebelum naruto mengucapkan kata hallo

"Aku baru saja keluar-"

"Aku sudah menunggumu di depan, cepatlah. Kita harus segera kembali ke kantor"

Naruto menjauhi handphone-nya setelah sakura mematikan sambungannya dengan sepihak. Dari nada suara Sakura yang terkesan terburu buru, Naruto tahu jika ada sesuatu yang penting telah terjadi, Ia bergegas keluar rumah sakit yang saat ini masih lumayan ramai.

Langkahnya makin cepat setelah dilihatnya mobil yang biasa Sakura pakai untuk kebutuhan perjalanan perusahaan. Tanpa mengetuk, Naruto langsung masuk begitu saja ke pintu tengah yang saat ini juga tengah diduduki Sakura.

"Kita kembali ke Kantor" ucap Sakura kepada supir didepannya.

Sementara Naruto tengah mengatur kembali nafasnya yang tersegal. Sepertinya ia butuh 'memanaskan' kembali tubuhnya. Bagaimana bisa tubuhnya sudah lelah hanya karna berlari dengan jarak tak lebih dari 200 meter? Sementara saat sekolah dulu ia sanggup berlari 4km tanpa istirahat.

"Jadi, ada apa?" Tanya Naruto setelah nafasnya kembali teratur

"U&F Corp telah mengirim proposal mereka mengenai pembangunan Minami" ujar Sakura sambil menyerahkan tablet miliknya

"ah, ya" jawab naruto sedikit tak peduli, ia sedang tak ingin membahas topik apapun yang bersangkutan dengan lelaki itu

Matanya membulat mendapati namanya tertuliskan diproposal U&F Corp, menjelaskan kembali pandangannya, barang kali ia salah lihat.

"A-apa ini? Aku sebagai penanggung jawab pembangunan? Bukankah kau yang ditunjuk Neji untuk menjadi penganggung jawab, Sakura?"

Suara Naruto sedikit bergetar mengetahui kejutan selanjutnya,

Nama Uchiha Sasuke yang menjabat langsung sebagai direktur dan perwakilan dari U&F Corp.

.

TBC

.

.

Haiiiii

Saya author baru di fandom Naruto, Urasa Yuzuki-desu. Salam kenal semuanya~

Terima kasih yang sudah me-review, follow, favorite Still The Same. ( Saya terharu loh ternyata masih ada yang baca fanfic saya yang penuh typo ini huhu)

Bagi yang nanya tentang masa lalu Sasuke dan Naruto atau tentang Naruto yang intersex , jawabannya di chapter berikutnya, full flashback SasuNaru! Hohoho

Saya akan berusaha meng-update fanfic ini secepat mungkin, so mind to give me some review?