Re : The Greatest Monster

Pair : Naruto x ...

Rate : M

Genre : Fantasy, Adventure, and etc.

Warning : AU, EatEverything!Naru, OOC, OC, Strong!Naru, Monster!Naru, RPGTheme, POV! Naru, Typo, Miss-Typo, and etc.

Summary :

Naruto adalah pemuda biasa dengan hobi bermain game. Tidak memiliki orang tua dan hanya hidup dengan pamannya, ia terpaksa mati karena alasan yang tidak diketahui. Mendapatkan kesempatan kedua, Naruto lahir ke dunia fantasy penuh sihir. Tapi ...

Chapter 2 : Perburuan pertamaku.


Cuaca hari ini terlihat begitu cerah, apalagi dengan hanganya sinar mentari dari ufuk barat. Tunggu, tidakkah menurut kalian itu aneh? Matahari terbit dari barat? Jika di duniaku dulu ini pasti akan di anggap sebagai tanda-tanda kiamat. Tapi mulai sekarang kalian harus membiasakanya. Karena itu adalah hal yang wajar disini.

Tidak hanya mataharinya yang aneh. Bulan di dunia ini juga tidak kalah anehnya. Jika di bumi hanya memiliki satu satelit alami yang mengitarinya, maka di dunia ada sekitar 3 buah dengan bentuk yang berbeda satu sama lain.

Tapi kesampingkan hal itu karena ada hal yang lebih mengagumkan lagi ... yakni pertumbuhan goblin, padahal aku baru lahir kemarin lusa dan sekarang sudah harus mencari makan sendiri. Mungkin karena lingkungan yang sangat berbahaya membuat para goblin diharuskan hidup mandiri dengan cepat. Keadaannya berbanding terbalik dengan para manusia yang masih bisa hidup nyaman di lingkungannya sampai beberapa tahun setelah kelahirannya.

Ck, sekarang aku benar-benar iri dengan mereka.

Tapi setidaknya ... meskipun aku sudah terlahir kembali menjadi goblin pikiranku masihlah seperti manusia. Aku tahu apa yang harus di lakukan, bagaimana melakukannya, dan konsekuensi dari tindakanku. Ini cukup membantu dalam mengambil keputusan.

Ngomong-ngomong, ini adalah hari pertama kami berburu dan semua goblin muda sudah pergi keluar goa. Aku juga sebentar lagi akan pergi setelah menyelesaikan senjataku. Ya ... aku membuat senjata sendiri dari beberapa kayu tipis yang ku satukan menjadi satu.

Konsepnya ku ambil dari shinai dalam bela diri kendo. Tapi karena ini adalah kali pertamaku membuat sesuatu seperti ini, maka bentuknya tidak sebaik apa yang kupikirkan.

Terserahlah, lagian ini hanya untuk sementara.

Oh, dan perlu diketahui. Tinggi tubuhku ini setara dengan seorang anak 10 tahun. Kecil ya? Memang.

"Sudahlah."

Rasa lapar yang sangat amat membuat kakiku melangkah maju tanpa ragu. Sebelum aku pergi, mataku tertarik pada sebuah goa yang tak jauh dari goa utama, kakek goblin menyebutnya ruang harta.

Di dalamnya terdapat berbagai harta yang para goblin dewasa kumpulkan sebagai koleksi atau pajangan. Tapi yang menarik perhatianku bukanlah benda-benda itu, melainkan para wanita yang duduk tidak berdaya disana.

Melihat kondisinya. Mata yang mati, badan yang hanya di tutupi sehelai kain, keadaan yang lemas tak berdaya, dan noda putih yang menempel di seluruh tubuh. Mereka pasti manusia yang kakek goblin sebut sebagai 'wadah', wanita-wanita yang digunakan untuk memuaskan nafsu para tetua goblin dan melahirkan anak-anak sepertiku.

Jadi, salah satu dari mereka adalah ibuku? Memikirkannya saja sudah membuatku depresi.

.

.

.

Petualangan baru, mungkin bagi sebagaian orang ini akan di anggap menyenangkan. Tapi dengan perut yang kelaparan? Ini benar-benar menjengkelkan.

Sudah 1 jam lamanya aku mengelilingi hutan, tapi tidak banyak yg ku temukan. Hanya pohon yang tak ubah menjadi sarang bagi serangga-serangga kecil.

Tapi setelah semua perjalananku bisa ku katakan kalau hutan ini benar-benar nyaman. Sungguh. Pepohonan rindang dengan tinggi lebih dari 10 meter. Kicauan burung yang saling mengejar satu sama lain. Udara yang sangat segar, lebih segar dari udara rumahku dulu yang terus-terusan di cemari oleh asap rokok. Belum lagi dengan cahaya matahari yang lewat melalui celah dedaunan.

Itu mengagumkan.

Terbius akan suasana hutan, aku berhenti di sebuah danau dengan air yang begitu jernih. Kakiku lalu membawa diriku mendekat dan secara naluriah kulihat pantulan diriku karena penasaran. Kepala bundar berwarna hijau dengan mata putih kosong.

"Huuft~"

Aku tidak menghela nafas karena mukaku jadi begini. Tapi karena tampangku persis sama seperti semua goblin muda. Apalagi jika kami duduk bersandingan ... mustahil bagi orang lain untuk membedakannya. Kalian mungkin tidak memahami bagaimana perasaanku, tapi ini benar-benar mengganggu, kau tahu?

Kresek..

Aku mengambil jarak beberapa meter dari tempat awalku dan memperhatikan sekitar dengan waspada. Tak lama kemudian, muncul dua ekor babi hutan dengan besar menyamai seekor sapi. Tubuh mereka tambun dengan punggung di penuhi lumut, lalu ada juga satu objek yang menarik perhatianku.

Itu tanaman?

Tepat di antara lumut yang tumbuh mencuat sebuah tanaman setinggi 20 sentimeter lengkap dengan daun dan kuncup bunganya.

"Kalau di game tanamannya pasti termasuk barang langka kan?"

"Grrr..."

Tak memperdulikan keadaanku, kedua babi hutan menerjang ke arahku dengan gading yang mengarah ke depan. Aku berkelit ke samping dan memanfaatkan momen terjangan Babi hutan untuk menghantamkan batang kayuku ke tubuh salah satu dari mereka.

Baag!

'Bagus.'

Pertarungan kami berlanjut hingga memakan waktu cukup lama, aku terus-terusan menghindari serangan demi serangan yang di lancarkan oleh dua babi hutan itu. Karena pola serangan mereka yang sangat sederhana (menyeruduk, menendang) aku bisa mengimbanginya tanpa masalah bahkan dengan tubuh goblinku.

Tapi sebagus apapun aku menghindari serangan yang datang, itu tak membuatku bisa menghindari tiap serangannya.

Beberapa lecet tercipta di tubuhku yang hanya di balut oleh kain cawat. Keadaan dua babi hutan itu pun tidak berbeda jauh. Tubuhnya sudah memar-memar dengan darah yang mengalir melewati kepala.

Itu hasil pukulanku tadi.

Aku saja cukup kaget dengan kemampuanku. Tidak ku sangka tubuh goblin ini punya reflek yang bagus. Padahal dulu menghindari lemparan bola saja aku tidak bisa, tapi sekarang malah bisa menghindari serudukan babi hutan.

Aneh ...

Ini akan jadi serangan terakhir. Aku ambil sebuah dahan kayu lumayan besar, panjangnya 70 cm dan terlihat kuat.

'Kalau kalian menginginkan nyawaku, maju sini.. daging cincang.'

Aku menyeringai, sesuai dengan perkiraanku. Kedua babi hutan itu terprovokasi dan menerjang ke arahku. Inilah saatnya, dengan memberikan tempo yang tinggi aku bisa melancarkan serangan kejutan yang pastinya akan sulit untuk ditangani orang yang baru pertama kali melihatnya.

Buaaagh!

Kayuku tepat mengenai wajah salah satu babi, bagaikan bola yang di pukul oleh pemain bisbol, babi itu terlempar beberapa meter ke belakang dengan wajah yang membekas sebuah cekungan seukuran pemukulku.

Aku membulatkan mata dan menjatuhkan senjataku. Ku tatap kedua tanganku tidak percaya.

'Kekuatanku sebesar ini? bukannya ini sangat aneh.'

Dengan tubuh dan ras-ku yang hanyalah seekor goblin, apa mungkin pukulanku saja bisa mementalkan seekor babi puluhan kilogram!?

Sungguh. Ini benar-benar aneh. Tapi aku tidak bisa lengah. Masih ada satu babi lagi.

Babi hutan yang masih hidup tidak tinggal diam, dia yang menyadari kelengahanku langsung menerjang dengan kecepatan tinggi.

Aku mengelak dengan berguling ke samping, serangan tadi berhasil aku hindari. Tapi itu tidak membuat sang babi hutan gentar, ia kembali berlari ke arahku dengan niat membunuh.

Tangan hijauku dengan panik mencari-cari sesuatu yang kiranya bisa digunakan sebagai senjata.

Sreet ...

Ini batu, apa bisa dipakai?

MASA BODOH!

Aku melemparkan batu itu sekuat tenaga. Tapi tunggu!? Dilempar juga tidak mungkin berpengaruh! Pikirkan sesuatu yang lain Naruto. Apa yang kiranya bisa menjadi pengakhir dari pertarungan ini.

!

"Benar, mungkin bisa kalau seperti itu."

Aku dengan susah payah menghindari serudukan si babi hutan. Ia sekilas melirikku dengan mata yang kelihatan marah. Tapi tidak ku pedulikan karena aku ...

Hap

"Horaaaah!"

... melompat ke punggungnya dengan mulus. Babi hutan ini mengerti kalau aku menungganginya dan dengan kekuatan yang besar ia memaksaku untuk jatuh.

Tapi aku juga tidak mau kalah!

Ku remas kuat kulit beserta lumut di punggungnya agar tidak jatuh, lalu manghantamkan batu di genggamanku sekuat tenaga ke bagian belakang kepalanya.

Buag!

Buag!

Buag!

Buag!

Ngiiikk!

Buag!

Buag!

Ngiiiiik!

Tak ku pedulikan erangan penuh sakit yang keluar dari mulutnya. Tanganku terus berayun menghantamkan batu sebesar genggaman tangan tepat ke belakang kepalanya.

Darah mengucur dari tempatku memukul. Si babi terus melawan dengan tenaganya, tapi setelah pergulatan selama belasan menit lamanya aku berhasil membunuhnya dengan menghancurkan tulang belakangnya.

"Hah ... hah ... hah ..."

Itu hasil yang bagus untuk pertarungan perdanaku.

Kling!

(Selamat! Naik ke level 37)

(Mendapatkan title, 'Bulldrome Hunter', menaikkan VIT sebesar 5% ketika title dipakai.)

Tunggu ... APA INI? Kenapa ada konsol yang keluar di depan wajahku. Jangan bercanda. Ini tidak mungkin kan? Jangan-jangan ...

"Menu."

Kling!

[Menu Utama]

(Party)

(Friend List)

(Info Player)

(Invetory)

(Quest)

(Map)

(Skill)

Sekarang aku benar-benar ingin membenturkan kepalaku ke benda tumpul apapun. Ini benar-benar membuatku gila, aku telah mati lalu terlahir kembali di dunia penuh fantasy dan yang lebih hebat lagi, aku punya konsol seperti di game. Kira-kira apa yang lebih aneh dari pada ini?

Faktanya aku depresi, tapi juga merasa lega karna ada sesuatu yang tak asing bagiku.

Kira-kira bagaimana cara kerjanya ya. Aku sentuh konsol bertuliskan [Info Player]. Seketika itu muncul biodataku lengkap dengan foto goblinku. Namun ada yang menarik perhatianku, ada lambang sebuah tengkorak yang memakai mahkota emas tepat di sebelah namaku.

'Apa ini?' Ku klik dan sebuah keterangan muncul setelahnya.

[Curse Power — Sebuah kutukan dan juga anugrah yang di berikan oleh dewa dunia atas dan iblis dunia bawah, dimana pemiliknya bisa menyerap kekuatan apapun melalui medium benda dengan cara di konsumsi. Ketika 'sesuatu' masuk ke dalam tubuh, tak peduli seberapa beracun atau berbahayanya sesuatu itu. semuanya akan di netralkan dan akan menjadi kekuatan bagi sang pemilik Curse power. Sebuah kemampuan istimewa.]

Bonus Skill : 20% Exp.

Kemampuan istimewa? Begitu ya, ini semacam Absorbtion dan Eater. Kekuatan menyerap langka milik esper.

Cukup bagus memang, tapi sebaiknya aku tidak menggunakannya untuk hal yang tabu seperti memakan manusia ... tunggu, bangsaku sekarang adalah goblin kan? Dan tidak aneh kalau goblin memakan manusia, itu bukan hal yang tabu. Lalu apa masalahnya? Daging manusia sepertinya enak.

Aku menyeringai membayangkan tiap potongan tubuh manusia yang akan ku makan nantinya. Daging merah dengan bau darah yang kental, lalu tekstur lembut ketika dimasak dengan benar. Wow~

Plaaak!

Plaaak!

Plaaak!

"Bangsat! Apa yang kau fikirkan, Naruto !"

Sialan. Rasa lapar ini benar-benar mempengaruhiku. Sepertinya aku memang harus makan sesuatu dan kupikir ... dua babi ini kelihatan enak.

Kling!

(Mendapatkan Bulldrome Tusks – Grade : Normal)

Dua pasang taring milik Bulldrome sepertinya bisa digunakan untuk senjata. Ujungnya memang tidak terlalu lancip dan sisi sampingnya tidak tajam. Tapi kalau digunakan sebagai penggebuk sepertinya tidak masalah.

Kemudian aku memotong-motong bagian tubuh salah satu Bulldrome dan memakannya. Ini adalah eksperimenku, apakah ketika aku berubah menjadi goblin rasa mual dan jijik karena makanan mentah akan mempengaruhiku. Dan ternyata ... masih.

"Hooeek!"

Sangat buruk! Rasanya sangat buruk! Bau tidak sedap yang menyengat hidung, darah yang sangat amis, dan tekstur yang benar-benar menjijikkan. Ini adalah makanan terburuk yang pernah ku makan! Tapi kenapa ... aku masih bisa melahapnya?

Sial. Bahkan jika ini adalah makanan terburuk yang pernah masuk ke mulutku, ini tetap membuat perutku kenyang.

Kling!

(Mendapatkan Animal Instinct — Kemampuan yang membangkitkan insting alamiah pemilik skill. Meningkatkan konsentrasi dan kemampuan bertarung.)

Aku benar-benar bisa mendapatkan kemampuan dari apa yang ku makan. Ini benar-benar hebat. Jadi, jika aku bisa membunuh monster yang kuat dan memakan dagingnya. Maka aku akan bisa mendapatkan kemampuan dari monster itu?

Baiklah. Dengan levelku yang sekarang, seharusnya aku bisa berburu beberapa monster. Lagi pula, dari berkilo-kilogram daging Bulldrome, hanya beberapa kilo daging yang bisa kumakan dengan tingkat kejijik`an sedang. Sisanya benar-benar sampah.

"Hmm ..."

Sebenarnya ada yang membuatku penasaran, tanaman yang ada di atas punggung Bulldrome itu apa? Beracun kah? Atau sejenis tanaman obat?

Entahlah. Tapi itu membuatku penasaran.

Nyamnyam ...

Rasanya tidak terlalu buruk. Seperti tumbuhan pada umumnya dan ada sedikit rasa pedas.

Kling!

(Mendapakan kemampuan Poison Body — Sebuah racun berbahaya yang tumbuh di punggung Bulldrome. Memiliki efek yang sangat mematikan ketika dibuat sebagai ramuan atau dimakan langsung, bahkan satu helai daunnya bisa membunuh seekor wyvern. Skill ini membuat daging dan darah pemilik skill menjadi beracun.)

Jduak!

Aku menepuk jidatku keras-keras. Satu helai daunnya bisa membunuh wyvern?

"Haha ... hahaha ... haha ... HAH!?" Karena rasa penasaranku, hampir saja aku mati.

Pemburuanku pun di lanjutkan, beberapa monster berlevel rendah terus menyerangku hingga sore tiba. Awalnya aku cukup kewalahan, tapi berkat kemampuan dari monster-monster yang ku makan. Aku menjadi semakin kuat dan memiliki beberapa kemampuan mengagumkan.

Seperti Night Eye dari Bloody Bat, kelelawar peminum darah. Jujur, ini adalah hewan yang sangat berbahaya jika menyerang secara berkelompok.

Bayangkan saja jika kalian di serang oleh puluhan kelelawar peminum darah kelaparan dari segala sisi. Bahkan jika aku adalah seorang manusia normal, nyawaku tetap akan berada dalam bahaya. Beruntungnya aku hanya bertemu dua ekor dan keduanya dalam keadaan tertidur.

Lalu kemampuan lainnya seperti : [Detection Sense] dari Snake Hermit, dan kemampuan menyerang dari beberapa hewan yang tak berbeda jauh dengan Snake hermit. Ada juga kemampuan istimewa yang menurutku menarik, seperti : [Appraisal], kemampuan untuk melihat status atau pun info dari sebuah objek entah itu yang hidup maupun mati. Hal teraneh dari skill ini adalah aku mendapatkannya dari seekor monster menyerupai musang.

Tapi dengan semua monster yang ku lawan, levelku hanya bisa naik 10 level. Baru kusadari juga ternyata monster yang ku lawan pertama kali sangat terpaut jauh levelnya.

Ah, hari sudah hampir malam. Aku harus cepat kembali ke goa, berburu pada malam hari di hutan penuh monster benar-benar bukan ide bagus. Apalagi dengan tubuhku yang hanya bagai anak 10 tahun.

Kemudian aku mulai berjalan ke goa temuanku sambil membawa belasan kilo daging hewan di punggungku. Mereka adalah daging yang telah aku pilih secara ketat dari berbagai hewan yang sudah kubunuh, dengan kata lain ... ini adalah bagian-bagian yang paling enak, paling berair, dan yang tidak memiliki racun!

Lumayan lah ... bisa sebagai pelipur lara karena seharian memakan tumpukan sampah yang disebut monster.

Syut...

Perasaan ini. Rasa mual yang di padukan dengan niat membunuh. Kemampuan pasif yang ku terima dari Snake Hermit [Detection Sense] membuatku bisa merasakan kekuatan monster-monster yang ada dalam radius 200 meter. Selama beberapa jam aku telah menggunakannya, jadi tubuhku sudah terbiasa.

Namun perasaan yang sekarang kurasakan sangat berbeda. Kekuatannya berbeda dari monster yang ku lawan tadi. Sial. Bahkan kakiku tidak bisa bergerak karna tekanannya.

Kresk..

Tap

Tap

Tap

Dari balik semak-semak muncul seekor monster serigala. Kali ini benar-benar monster. Wujudnya merupakan serigala dengan besar menyamai sebuah mini van, bulu-bulunya berwarna putih kebiruan bak salju, dan matanya tajam dengan pupil horizontal.

Karena penasaran, aku mengaktifkan skill Appraisal padanya.

[Name : White Dire Wolf | Age : 83 Years | Level : 69]

HP : 15.340 /93.986

MP : 75/400

Aneh. HP dan MP-nya sudah terkuras lebih dari 80%, apa dia baru saja bertarung dengan monster lain? Dan setelah diperhatikan lagi, tubuhnya memang memiliki luka di beberapa tempat.

"Grrrrrrhhhh.." Dia menggeram tertahan sambil melihatku dengan ganas. Eh, lebih seperti dia melihar ke arah daging di punggungku.

"Tunggu dulu! Aku bukannya tidak mau memberikannya, tapi apa kau tahu kesulitan seperti apa yang ku alami hanya untuk mendapatkan mereka!?"

"Grrrhhh!" Sepertinya dia tidak akan mendengarkan ucapanku.

White Dire Wolf berlari menerjang ke arahku. Angin kuat seakan ikut membantunya untuk dapat bergerak lebih cepat. Tubuhku kaku, aku hampir tidak bisa merespon serangannya. Namun aku berhasil menghindari serangannya dengan berkelit ke samping. Semuanya terjadi sangat cepat dan ku sadari kalau dia sudah ada beberapa meter di belakangku.

"Bagaimana aku melakukannya?"

.

.

.

To Be Continue.


Author Note

Oke. Gak mau panjang lebar. Saya cuman mau minta maaf kalau ceritanya kurang menarik. Pengambilan sudut pandang orang pertama memang sengaja dilakukan, soalnya ini masih menceritakan gimana Naruto bertahan hidup.

Mungkin ... setelah adanya interaksi dengan orang lain baru pengambilan sudut pandang akan berubah-ubah.


Jawaban Review

Sai Akuto : Emang inspirasinya dari sana. Jadi di fanfict ini bakalan banyak konten yang berhubungan dengan 'Re : Monster'. Tapi alurnya di jamin beda kok.

Purnama03 : Si abang mah dah sibuk sama urusan dunia. Udah gak ada waktu buat mampir ke depan laptop.

Aansofiyan : Amin ^_^)

Rance-sama : Banyak kok komik genre isekai yang summary-nya mirip-mirip kek gitu ^_^)

Pxeven : Iya, inspirasi aslinya dari Re : monster. Tapi pada perkembangannya malah nyomot konsep dari komik lain ... sebut aja Arifureta, Slime, Isekai Tensei, dll. Rasnya belum pasti ada berapa. Tapi elf, druid, drwarf, human, beastkin, dan iblis eksis di dimensi ini :3

Narutonya tetep cowok, mau dibikin kawai2 kayaknya gak cocok ^_^

XXX : Ceritanya si abang Kasuga Arami saya re-make. Udah dapet izin kok ^_^

Fahzi Luchifer : Sepertinya pandangan kita pada goblin sangat berbeda ya. Goblin itu termasuk monster penganggu, buat onar, bodoh, dan ngerepotin. Di cerita ini bakalan ada beberapa bagian yang menceritakan tingkah laku goblin, termasuk nge-rape cewek (dari komik2) :v

: Inspirasinya emang dari sana ^_^

Trimakasih untuk yang sudah fav, fol, dan review. Semoga ke depannya kita masih bisa ketemu di chapter yang lain, bye ... ^_^


Profil Tokoh

[Name : Naruto | Age : 3 Days | Level : 47]

Title : Bulldrome Hunter

Health Poin : 2.310

Mana Point : 230

Strenght : 150

Agility : 160

Intelect : 88

Vitality : 130

Skill :

Pasif : [Animal Instict], [Curse Power], [Night Eye], [Recovery HP / MP] [Detection Sense], [Poison Body]

Aktif : [Silent Move], [Appraisal]

Item : [Bulldrome Tusks] x4, [Raw Meat] 50 KG, [Hermit Snake Skin] x7, [Briar Weasel Fur] x5, [Bloody Bat Fur] x2, [Bloody Bat Claw] x4.