Naruto © Masashi Kishimoto
Kirin Scandal © Hyuuga Cherry
.
.
Warnings :
AU, ada karakter yang sedikit OOC, GJ, rating-M untuk bahasa yang sedikit kasar dan segala hal yang membuat fic ini jauh dari kata sempurna. Sedikit terinspirasi dari Laskar Pelangi, Sungkyunkwan Scandal, dan Dream High.
.
Summary :
Kirin, Sekolah unggulan dan Kaito, sekolah bangkrut bergabung. Saling meremehkan, diskriminasi, dan permusuhan sudah pasti terjadi. Tapi persahabatan, kesabaran, dan cinta juga menjadi warna yang menghiasai permusuhan mereka.
;::CHAPTER 2::;
.
.
"Waw! Dia tampan sekali."
"Menurutku dia sangat cantik, tapi dia cewek apa cowok ya?"
"Entahlah, aku tidak tahu."
"Wajahnya manis!"
"Ya, kau berani tidak mendekatinya? Hihihi…"
Riuh rendah hampir semua murid Kirin yang berada di koridor lantai dua terdengar antusias. Gadis (atau pemuda) yang menjadi objek pembicaraan hanya diam dan tersenyum manis, seakan menikmati komentar apapun mengenai dirinya. Dia bahkan dengan sengaja mengedipkan matanya pada seorang cowok Kirin tampan yang memandangnya penasaran.
Buku tebal yang dibawa oleh pemuda itu terjatuh dari tangannya. Ia dengan cepat menunduk mengambil bukunya, wajah pemuda itu sangat merah. Pemuda itu melirik-lirik gugup ke arah si merah muda yang mengedipkan matanya tadi, membuat si merah muda menyeringai yang semakin membuat jantung pemuda-pemuda yang ada disana berdetak kencang tak karuan.
Murid-murid Kirin seakan tidak menyadari pakaian usang yang dikenakan si merah muda itu. Mereka semua hanya terpaku pada tampang cantiknya yang terlihat tampan dan cool di waktu yang bersamaan.
.
-oOo-
.
Shiranui Genma memandang penghuni kelas XI bekas murid-murid Kaito dengan masam. Dia sama sekali tidak menduga akan mengajar kelas 'penyusup' ini juga. Lihatlah tampang-tampang mereka yang sama sekali tidak pantas berada di Kirin.
Sebagian besar berpenampilan sembarangan dan kusam, beberapa dari mereka bahkan menunjukkan tampang yang sangat bodoh. Lihat saja contohnya si Akimichi Chouji yang menatapnya dengan wajah yang menurut Genma idiot. Sama sekali berbeda dengan kelas Kirin yang sempurna.
Dia mengabsen satu persatu murid di kelas itu menggunakan catatan di buku kecilnya. Sekolah belum menyiapkan absen khusus mereka, jadi para guru Kirin yang ditugaskan mengajar mereka harus mencatat setiap nama mereka meskipun tidak berdasarkan alphabet.
Sepuluh nama sudah diucapkannya, tinggal nama murid yang terakhir.
"Haruno Sakura."
Sunyi.
"Dimana Haruno Sakura?" Genma mencari-cari murid yang bernama Haruno Sakura, tapi tidak ada di kursi manapun. Teman-teman sekelasnya hanya bisa saling pandang cemas.
"HARUNO SAKURA!" Sekali lagi Genma memanggil.
"Saya hadir, Sensei!"
Suara rendah terdengar dari ambang pintu kelas. Semua murid memandang dengan lega pada orang yang baru masuk itu. Sangat tidak bijaksana membuat guru ini marah, apalagi dari sikapnya yang memandang jijik pada anak-anak Kaito.
Genma melengkungkan bibirnya sinis, akan sangat menyenangkan jika ia bisa melampiaskan ketidaksukaannya terhadap kelas ini pada Haruno itu.
"Bagus sekali, Tuan Haruno. Belum pernah selama aku mengajar di Kirin ada siswa yang terlambat masuk kelas. Aku kira di Kaito kebiasaan ini memang dipelihara, benar?"
Temujin, Zabuza, Kiba, Tayuya, dan Tenten menatap benci pada Genma. Bisa-bisanya ia mengatakan kata 'Kaito' dengan nada seolah-olah itu sampah. Benar-benar guru yang arogan.
Haruno Sakura hanya tersenyum manis. Ia memiringkan kepalanya yang menyebabkan rambut merah muda pendeknya bergerak lembut.
"Maaf, sensei. Saya tadi mencari-cari kelas ini tapi tersesat."
Genma mendengus,"Sudah kuduga. Kaito pastinya tidak mungkin sebesar Kirin, heh? Kau boleh duduk di tempatmu, Tuan Haruno."
"Terima kasih, sensei."
Haruno Sakura berjalan ke bangku paling belakang, tapi dia berhenti dan berbalik menghadap Genma dengan senyum tipis dan terlihat mengejek.
"Maaf kalau saya lancang, sensei. Tapi Anda salah memanggil saya, saya bukan Tuan tapi Nona. Saya cewek lho, biasanya lelaki manapun yang normal pasti akan langsung tahu."
Sebagian besar anak-anak Kaito terkikik, sebagian lagi menyeringai senang melihat muka Genma yang merah padam. Jelas dia marah karena kalimat terakhir Haruno menyiratkan ejekan untuknya.
'Anak-anak sialan!' geramnya.
"Baiklah, sekarang tutup semua buku-buku kalian." Genma memerintah dengan tegas, matanya masih tak lepas dari Sakura yang memandangnya bosan.
Segera saja semua murid menutup buku masing-masing meskipun bingung. Genma mengambil spidol dari mejanya dan kembali memandang murid-murid Kaito itu.
"Kalian tentu sudah tahu bahwa mulai hari ini saya akan menjadi guru Matematika kalian untuk satu tahun ke depan. Nah, saya hanya ingin melakukan tes terlebih dahulu untuk mengetahui seberapa jauh ilmu yang diajarkan kepada kalian di Kaito."
Genma merasa puas dalam hati menyaksikan wajah pucat bekas murid-murid Kaito, ow ow…kecuali si merah muda yang duduk paling belakang. Haruno Sakura masih menatapnya dengan tampang bosan dan tidak tertarik sama sekali seolah-olah yang diucapkannya barusan hanya angin lewat.
Genma menggertakkan giginya kesal, apalagi saat Sakura menggeliatkan tubuhnya dan menguap lebar seakan-akan tidak menyadari ada guru yang berdiri menatapnya tajam di depan kelas. Belum pernah dia dianggap remeh oleh murid manapun dan gadis tomboy sialan ini mencoba untuk menguras kesabarannya.
"Oke, Haruno Sakura! Maju ke depan dan kerjakan soal yang akan kubacakan untukmu. Aku harap kurikulum Kaito tidak terlalu jauh ketinggalan dari Kirin. " Genma berkata dengan dingin, masih saja menyebut kata 'Kaito' dengan nada yang menyiratkan seolah itu sesuatu yang menjijikkan.
Sakura menghela napas bosan dan berdiri dari duduknya. Ia melemparkan senyum pada Tenten yang balas menyeringai. Ia mengambil spidol yang diberikan Genma dan bersiap di depan papan tulis.
"Sekarang dengarkan baik-baik, tolong terjemahkan dalam kalimat integral dan hitung luas wilayah yang dibatasi oleh y=2x dan x=S. Tulis jawabannya sekarang dan aku harap kau menjawabnya dalam lima belas menit." Kali ini Genma tersenyum manis pada Sakura.
"Lima belas menit?" tanya Sakura mengernyitkan alisnya.
"Tentu saja. Kukira itu cukup kan? Anak-anak Kirin bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu sepuluh menit kalau kau mau tahu."
Tatapan benci semakin menghujam ke arah Genma yang berpura-pura tidak peduli. Dia yakin sekali Sakura tidak akan bisa menyelesaikan soal itu, dia sengaja mengambil soal yang baru akan diajarkan di kelas XII.
Tapi alangkah terkejutnya ia saat melihat Sakura berhasil menyelesaikan soal hanya dalam waktu lima menit. Sakura meletakkan kembali spidol ke atas meja guru. Genma memeriksa jawaban Sakura dan bibirnya mengerucut kecewa saat tahu jawaban itu benar. Ia mengangguk enggan pada Sakura dan menyuruh Sakura kembali duduk.
"Terima kasih, sensei. Kukira waktu sepuluh menit terlalu lama untuk murid Kirin yang pintar-pintar hanya untuk soal segampang itu."
Dengan senyum puas Sakura duduk kembali di bangkunya. Sementara itu Genma mengepalkan tangannya kesal. Belum pernah ia dihina seperti ini dan semakin buruk jika yang berani melakukannya adalah murid Kaito yang selalu dianggapnya sekolah 'kampungan'.
.
-oOo-
.
"Nah, Sasuke. Bagaimana informasi yang sudah aku dapat itu? Apa kau merasa puas atau masih ada yang kau ingin ketahui?"
Uchiha Sasuke mendecih pelan dan melempar kertas folio yang berisi sedikit informasi tentang si merah muda waktu itu. Sai dan Naruto terkekeh geli melihat tampang Sasuke. Sebenarnya mereka berdua mencari-cari info tentang 'si merah muda' hanya untuk menggoda Sasuke.
Kejadian memalukan saat Sasuke tidak sadar memuji gadis itu selalu diungkit-ungkit oleh Naruto dan Sai. Meskipun Gaara, Neji dan Shikamaru terlihat tidak terlalu mempedulikannya, tapi mereka juga tidak akan pernah melupakan itu. Dan mereka bertiga senang-senang saja melihat ulah jahil Naruto dan Sai. Kapan lagi bisa membuat si Pangeran Uchiha ini melepaskan sedikit topeng dinginnya?
"Aku sama sekali tidak minta kalian mencari-cari sampah ini!" gerutu Sasuke sambil menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia meraih kertas itu lagi dan meremuknya hingga kusut.
Kelima temannya terkekeh senang melihat ekspresi marahnya. Sasuke sama sekali tidak menyangka teman-temannya yang menyebalkan ini akan terus menggodanya tentang ucapannya tadi pagi. Dia sama sekali tidak sadar saat mengucapkannya dan tidak tahu juga kenapa dia bisa mengeluarkan kalimat menggelikan itu. Dan sialnya hal itu terus dijadikan lelucon oleh si dobe dan di senyum palsu itu.
Saat ini mereka tengah berada di kantin sekolah yang hampir penuh oleh murid-murid Kirin dan beberapa anak bekas Kaito yang duduk di pojok kantin. Seperti biasanya kantin sangat membosankan dan ribut oleh celotehan cewek-cewek Kirin yang sebagian besar terus bergosip sambil sesekali menunjuk-nunjuk ke mejanya dan kelima temannya.
'Membosankan!' Pikir Sasuke. Dengan bosan ia memakai headset ke telinganya dan mengutak-atik Ipod-nya.
Sasuke hampir saja menjatuhkan Ipod saat matanya melihat seseorang yang baru saja tiba di kantin. Naruto dan Sai menyeringai jahil melihat wajah Sasuke yang tiba-tiba saja memerah meskipun sedikit.
Si cantik merah muda yang tomboy baru saja memasuki kantin.
Tapi ternyata tidak hanya Sasuke yang perhatiannya teralih karena gadis itu, banyak anak-anak Kirin yang juga memperhatikan gadis itu dengan terpesona. Yang sangat menggelikan, murid-murid perempuan juga ikut memperhatikan si gadis dengan wajah bengong. Gadis itu melihat kursi di kantin tampaknya sudah hampir terisi semua.
Sasuke mendecih pelan saat si Ketua Murid Kirin, Akasuna Sasori, dengan berani menawarkan kursi kosong di sampingnya saat si merah muda lewat di depannya.
"SAKURA!"
Pemuda bertato segitiga di kedua pipi melambai pada gadis itu. Sakura tersenyum sambil mengangguk singkat pada Sasori lalu berjalan riang ke arah teman-temannya.
Sebagian besar pemuda menahan napas saat Sakura dengan santainya duduk di pangkuan pemuda yang memanggilnya tadi, termasuk Uchiha Sasuke. Apalagi saat pemuda bertato pipi itu menyuapi Sakura dan merangkul pinggangnya dengan posesif. Sasuke merasa seolah api panas ditiup-tiup hingga membesar di dadanya.
'Sialan! Ngapain si cantik itu mau-maunya dipeluk oleh pemuda jelek itu!' Sasuke mengumpat dalam hati.
Sasuke menyeruput jus tomatnya yang tinggal setengah sampai habis. Wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini sedikit cemberut. Teman-temannya yang duduk di dekatnya hanya menyeringai geli.
Sasuke hampir menyemprotkan jus dari mulutnya saat matanya melihat si pemuda bertato itu mencium bibir merah Sakura. Tapi yang membuatnya lebih tercengang, Sakura sama sekali tidak menolak.
Saat melihat tatapan menyelidik Gaara, Neji, dan Shikamaru, serta tampang menyebalkan Dobe dan Sai, wajah Sasuke kembali dingin seperti biasa seperti channel TV yang berubah.
"Jadi Sakura itu pacaran dengan si Tato. Wah, kau terlambat, Sasuke!" Sai menepuk lengan Sasuke pelan. Naruto terkekeh.
"Aku tidak peduli tentang gadis pink itu." Sasuke menanggapi dengan tak acuh.
"Tapi, tampaknya cewek itu benar-benar menarik perhatian cowok-cowok sekolah kita. Lihat saja!" Kelima pemuda itu memandang Shikamaru yang tengah menguap bosan sebelum mengalihkan pandangan mereka ke sekeliling kantin.
Benar saja, aksi vulgar Kiba-Sakura tampaknya menjadi perhatian sebagian besar penghuni kantin. Mereka berdua yang tidak menyadari‒atau pura-pura tidak menyadari‒masih saja mengumbar kedekatan. Kiba tidak tahu bahwa hampir semua pasang mata murid lelaki menatapnya. Ada yang menilainya, ada yang iri, ada yang mencemooh, bahkan ada beberapa yang terang-terangan terlihat kesal, dan ada juga yang biasa-biasa saja.
Mata kelam Uchiha Sasuke kelihatannya masuk kategori pertama hingga keempat, tapi dia tetap berusaha stay-cool agar terlihat seperti kategori yang kelima. Dia memperhatikan Inuzuka Kiba dari ujung kepala hingga ujung kaki, tidak habis pikir kenapa gadis itu mau saja dicium olehnya. Setidaknya Sakura pantas mendapatkan yang jauh lebih baik, mungkin seperti Akasuna Sasori? Pikiran terakhir membuat Sasuke mengernyit kesal.
Tatapannya kembali pada Sakura. Mungkin yang dikatakan Naruto benar, dia sudah naksir cewek maskulin itu, dan itu membuat Sasuke muak.
-oOo-
Ino berjalan riang di koridor sekolah, rambut pirangnya yang indah tergerai halus bergoyang mengikuti langkah anggunnya. Dia tersenyum ramah pada setiap orang yang menyapanya dan sesekali membalas sapaan mereka.
Tentu saja semua orang di Kirin mengenalnya. Dia adalah Yamanaka Ino, putri tunggal Walikota Konoha, Yamanaka Inoichi. Selain itu, Ino adalah salah satu model iklan paling beken saat ini. Cantik, bergelimang kekayaan, pintar, punya banyak teman, dan ramah. Dan yang paling membuatnya disukai adalah sifatnya yang sama sekali tidak pilih-pilih teman. Siapa saja mau berteman dengannya dan Yamanaka Ino tidak akan menampiknya meskipun mereka culun, kutu buku, atau pemalu.
Saat ini dia tidak sabar cepat-cepat sampai di rumah karena mendapat kabar ayah dan ibunya baru saja pulang dari Beijing untuk urusan pekerjaan ayahnya. Ino setengah berlari ke parkiran menuju mobilnya.
Tinggal beberapa meter lagi ia sampai di mobil, Ino terkejut saat sebuah motor hitam besar melintas di sampingnya. Ino merasa tidak asing melihat motor hitam dengan pengemudinya yang memakai helm hitam. Mata birunya membulat melihat stiker lingkaran merah di belakang motor itu.
Pangerannya.
Apakah pangerannya datang menjemputnya?
"HEI!"
Ino berteriak mengejar motor itu, tapi motor itu semakin menjauh. Mendadak motor hitam itu berhenti tepat di depan gerbang Kirin. Pangerannya menoleh ke arahnya dan Ino melihat kaca helm-nya terbuka. Tapi dia tidak bisa melihat keseluruhan wajahnya karena sang pangeran memakai masker yang menutupi mulut hingga hidung.
Jantung Ino berdebar kencang saat mata hijau cemerlang memandangnya intens. Ino sama sekali tidak keberatan meninggalkan mobil mewahnya di sekolah asal dia bisa pulang diantar pemuda idamannya. Baru saja Ino ingin mendekati motor itu, si pengemudi menutup kaca helm-nya dan membawa motornya pergi meninggalkan Ino sendiri.
Ino berlari mengejarnya, air matanya menyeruak sedikit dari kelopaknya. Kenapa pangerannya meninggalkannya begitu saja?
"Kenapa meninggalkanku lagi?" Ino mendesah sedih.
Setelah lama berdiri di pinggir jalan menatap tikungan tempat motor tadi menghilang, ia kembali ke mobilnya. Mencoba menghibur diri dengan pikiran akan melepas rindu dengan orang tuanya nanti, Ino menyetir mobilnya ke rumah.
Yah, setidaknya dia melihat wajah orang yang selama dua bulan ini selalu menjadi malaikat penolongnya, meskipun hanya mata hijaunya yang cemerlang seperti zamrud.
-oOo-
Gadis kecil itu melirik kesana-kemari dengan bingung, takut dengan keramaian yang sangat bising di sekitarnya. Rambut merah mudanya yang panjang diikat dua, sesekali dia memainkan gantungan tas Barbie favoritnya. Ia menunduk takut setiap kali ada mata yang menatapnya penasaran.
Ia ingin sekali beranjak dari kursinya dan mencari ibunya. Sudah lebih satu jam dia duduk sendiri di bangku itu. Memperhatikan setiap orang yang lalu lalang membawa koper dan tas-tas barang. Dimana ibunya? Dia berpikir ketakutan.
Gadis itu memeluk tas ranselnya yang bergambar Barbie lebih erat. Ibu lama sekali! Pikirnya cemas. Tadi ibu menyuruhnya duduk di bangku itu dulu, sementara ibu pergi sebentar membawa kopernya.
Gadis kecil itu mengayunkan kaki-kaki mungilnya karena bosan, mata hijau cemerlangnya menatap burung putih yang sangat besar yang baru saja terbang dari lapangan besar. Matanya menatap kagum melihat burung itu, dia belum pernah melihat burung sebesar itu. Bahkan tadi banyak orang yang masuk ke dalam perut burung itu.
"Sakura?"
Gadis kecil itu tersentak saat seorang pria berkumis dan jangkung memanggilnya. Ia tersenyum senang pada pria itu. Tentu saja dia tidak takut padanya, pria itu tetangga kakek dan Ibunya. Sakura senang karena ada seseorang yang dikenalnya di tengah orang-orang asing.
"Paman Okubo!" teriaknya girang.
Sakura masih terlalu kecil untuk memahami tatapan kasihan yang diberikan Okubo.
"Sakula nungguin Ibu disini, Sakula mau pindah ke Kolea." Teriaknya gembira, memberitahu Okubo yang memandangnya semakin iba.
"Sakura ikut Paman dulu ya, Ayo!" Okubo menggenggam tangan kecil Sakura dan mengajaknya pergi meninggalkan bandara. Tapi Sakura menyentakkan tangannya hingga terlepas.
"Sakula mau ikut Ibu ke Kolea. Tadi ibu bilang Sakula tunggu disitu dulu."
Sekarang pria itu berjongkok di depan Sakura kecil dan mengelus kepalanya lembut.
"Ibu sudah pergi ke Korea, dia sudah naik pesawat, Sakura ikut Paman ya." Okubo berusaha tidak memalingkan wajahnya melihat wajah syok Sakura.
"Ibu sudah pelgi?" Sakura menatap kaget Okubo. Okubo mengangguk.
Sakura kecil diam beberapa saat. Umurnya memang masih lima tahun, tapi dia cukup mengerti apa yang tengah terjadi. Ibunya pergi meninggalkannya, sendirian. Ibunya tidak mau mengajaknya. Sakura mencengkeram tasnya dan berlari mendekati kaca tembus pandang yang memperlihatkan pemandangan landasan pacu di depannya.
Mata hijaunya yang bulat basah memandang burung putih besar yang semakin jauh ke langit. Berarti tadi ibunya juga masuk ke perut burung itu, meninggalkannya sebatang kara di sini. Sakura menempelkan kedua telapak tangannya yang mungil ke kaca, dia terisak.
Ibunya sudah pergi. Burung putih itu lenyap di balik awan-awan, membawa ibunya ke Korea. Meninggalkannya sebatang kara di bandara.
"Hiks..Ibu.."
-oOo-
"HAH!"
Gadis itu terlonjak dari ranjangnya, keringat dingin bercucuran di tubuhnya. Dia mengatur napasnya yang terengah, wajahnya basah oleh air mata. Tangannya melempar bantal yang lembab ke sembarang arah. Dia mencoba duduk dan menenangkan diri.
Mimpi itu lagi.
Sakura menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang. Mengelap wajah dan lehernya yang basah, ia mengumpat dalam hati. Meskipun sudah terbiasa dengan mimpi buruk dari masa lalu, ia tetap tidak bisa terbiasa.
"Huffh.." Dengan kasar ia menghembuskan napasnya.
Sakura meraih gelas di meja di sampingnya dan meminum semua isinya. Ia melirik ke setiap sudut kamarnya. Meja belajarnya berantakan dengan buku-buku. Pakaian kotornya teronggok di sudut kamar. Dinding kamarnya kosong, hanya ada jam dinding dan satu poster besar Barbie Rapunzel yang tertempel di sana. Kamar di panti asuhan tempat dia dibesarkan selama sebelas tahun. Kamar yang dulu menjadi tempatnya menangis tersedu-sedu memikirkan kesendiriannya. Saat dia meringkuk kedinginan dan kelaparan dengan harapan kosong ayah dan ibu menjemputnya suatu hari nanti.
Sakura membanting gelasnya ke lantai hingga pecah. Untung saja dia sendirian di kamar ini dan tidak harus berbagi dengan anak-anak lain. Tentu saja tidak ada yang bersedia sekamar dengannya tanpa harus dikerjai sepanjang waktu. Anak-anak lain di panti sialan ini takut padanya, pikirnya bangga.
Baguslah.
-oOo-
Jam menunjukkan waktu 6.45 saat Sakura keluar dari kamarnya dengan seragam Kirin-nya yang baru. Dia mencoba melihat bayangannya di cermin besar dekat ruang makan dan langsung menyesalinya. Sakura merasa tampak konyol dengan kemeja putih pendek dan rompi biru tua menjijikkan itu, ditambah dia memakai rok biru tua membosankan.
Sakura merasa aneh dan sangat konyol, sudah cukup dia dipaksa Nona Tsunade memakai seragam ini. Tapi jangan harap dia mau memakai dasi kupu-kupu merah putih norak di lehernya. Bahkan rok seragam yang seharusnya panjangnya cuma dua senti di atas lutut, dipermak Sakura menjadi dua belas senti di atas lutut.
Bukannya mau pamer paha, toh dia juga memakai celana pendek lagi, tapi sangat tidak leluasa berjalan dengan rok panjang, apalagi dia kan naik motor ke sekolah.
Setelah cukup memandangi bayangannya di cermin, dia berjalan melewati ruang makan tapi tidak berhenti, melainkan langsung ke ruang depan.
"Sakura!" Dia tidak mempedulikan Bibi Ayame yang memanggilnya.
"Sakura! Jangan mengabaikan seenak kepalamu kalau dipanggil orang!"
Sakura berhenti dan menghadap ke arah Bibi Ayame yang melotot padanya. Dari sudut matanya ia melihat anak-anak lain menatapnya dan Bibi Ayame semangat, seakan menunggu Sakura kena semprot.
"Aku tidak lapar. Aku sarapan di sekolah saja." Jawab Sakura malas.
Bibi Ayame tersenyum sinis,"Aku juga tidak menawarimu sarapan. Cuma mengingatkan tentang hukumanmu, nanti pulang sekolah kau bersihkan halaman belakang. Sudah dua minggu tidak ada yang membersihkannya."
Sakura mengerutkan keningnya,"Kenapa aku yang membersihkan? Kau tahu kan kalau aku nanti kerja di tempat Kiba."
"Jangan bicara padaku dengan kurang ajar seperti itu, itu hukumanmu karena malam tadi kau memecahkan gelas lagi. Oh oh‒" Bibi Ayame menyuruh Sakura yang membuka mulutnya untuk diam,"‒aku lihat di kotak sampah ada gelas pecah lagi. Aku tahu kau yang melakukannya."
"Aku tidak mau, aku mau kerja. Toh kau juga kan yang untung, tiap bulan Bibi juga kuberi sebagian gajiku! Kalau tidak, mana bisa Bibi membeli make-up norak itu tiap bulan!" Sakura membentak Bibi Ayame dengan keras, membuat seisi ruangan terdiam.
Belum sempat Bibi Ayame membalas, Sakura sudah melesat keluar dan kabur membawa motornya. Ayame menutup pintu depan sambil menggerutu kesal melihat kekurang-ajaran gadis itu. Dia kembali ke ruang makan sambil terus menyumpah-nyumpah.
"Kau, Seika, Hanami, nanti pulang sekolah bersihkan halaman belakang! Dan aku tidak mau dengar ada yang bilang 'tidak mau' lagi. Kalau tidak, jangan harap dapat makan malam ini!"
-oOo-
Hyuuga Neji mendelik malas pada Naruto yang dari tadi sibuk memaksanya mengajarinya Matematika. Bukannya ia tidak mau, tapi sudah dari minggu kemarin ia mencoba mengajari kepala bebal Naruto, tapi sama sekali tidak ada hasilnya.
"Hah, kau pelit sekali. Mentang-mentang pintar. Kau tahu lah otakku ini tidak seperti punyamu." Naruto menekuk mukanya kesal.
"Kau minta tolong dengan Sasuke saja, atau Shikamaru, aku sudah capek mengajarimu." Neji menghela napas, risih melihat tampang Naruto yang terlihat frustasi.
Naruto baru saja melirik Sasuke saat pemuda Uchiha itu memberinya tatapan sadis. Naruto bergidik dan beralih ke Shikamaru dan langsung kecewa melihat mata Shikamaru yang tertutup. Naruto membanting pulpennya kesal.
"Shit! Apa gunanya berteman dengan orang-orang jenius kalau tidak dapat untung sama sekali. Mana jam pertama tes pula, Genma-sensei merepotkan." Naruto mencak-mencak sendiri.
Dia tidak mungkin mengganggu Sasuke yang jelas-jelas siap 'memakannya' kalau ia mengusiknya, saat ini Sasuke tengah fokus menatap entah kemana. Saat ini mereka tengah duduk di kelas terbuka menunggu Genma-sensei datang.
Disebut kelas terbuka ya karena memang kelas ini berada di luar ruangan. Genma memang menginginkan kelasnya ditempatkan di gazebo luas di tengah taman sebelah barat Kirin yang sangat cantik. Taman ini terletak di tanah yang tinggi.
Dari tempat mereka sekarang, mereka bisa melihat pemandangan Kirin yang spektakuler, mulai dari air mancur yang mengalir di dekat gedung kantor kepala sekolah, jalan kecil dari pualam putih yang menghubungkan antar gedung yang sekarang dipenuhi murid-murid yang lewat, sampai taman kaktus cantik yang disusun dengan pola yang membentuk kata 'KIRIN' besar di sebelah jalan kecil tersebut.
Dilihat dari sudut manapun, Kirin memang sekolah luar biasa. Bahkan sekolah ini bisa saja menjadi salah satu objek wisata terkenal jika dibuka untuk umum. Dan keluarbiasaan itu menjadi semakin luar biasa saat seorang gadis melewati jalan di pinggir taman kaktus. Saat gadis itu lewat, seluruh perhatian manusia yang ada di sekitarnya terpusat padanya.
Naruto menganga melihat gadis itu, dia langsung memanggil kelima sahabatnya.
"Hei, hei, lihat itu si merah muda yang kemarin!"
Bukan hanya Naruto, Neji, Sasuke, Shikamaru, Sai, dan Gaara yang melongok ke jalan kaktus, tapi teman sekelas mereka juga.
Gadis merah muda. Haruno Sakura. Melenggang cuek melewati orang-orang yang terpana melihatnya. Bukan hanya fisiknya yang unik, tapi juga seragamnya.
Memakai kemeja putih sama seperti yang lain, rompinya dikancing hanya sebatas dada. Kerah kemejanya terbuka hingga dua kancing, memperlihatkan sedikit bagian bawah lehernya yang putih mulus dan dia tidak memakai dasi. Sebagai gantinya, dia memakai kalung platina berbandul lingkarang yang tergantung cantik di lehernya. Rok birunya pendek sekali sehingga sebagian pahanya yang padat, putih, mulus, dan jenjang terlihat. Dia memakai kaus kaki dan sepatu yang hampir sama seperti yang lainnya. Rambut merah mudanya yang pendek sedikit berantakan ditiup angin.
Kemunculan gadis itu di sekolah benar-benar sensasi baru di Kirin. Di hari pertamanya masuk Kirin, dia menarik perhatian dengan tampang cantiknya yang cool dan tomboy. Sekarang di hari keduanya, Haruno Sakura terlihat sisi ceweknya dengan rok, meskipun citra yang terlihat adalah penampilannya yang tomboy, imut, seksi, dan hot di waktu yang bersamaan.
Naruto mengerang.
"Sial! Kenapa sih cewek itu tidak dari dulu saja di Kirin. Kenapa harus muncul sekarang." Naruto menggelengkan kepalanya dan berdecak kagum.
Sasuke sendiri mencoba menelan ludah melihatnya. Dia menarik napas panjang dan baru sadar kalau dari tadi dia menahan napasnya. Gadis itu sudah menghilang masuk ke dalam gedung, langkahnya santai. Dia sama sekali tidak menyadari efek yang ditimbulkannya terhadap pemuda-pemuda Kirin yang melihatnya tadi, termasuk yang berada di kelas Genma ini.
"Hufh, cewek itu benar-benar sensasional." Naruto terkekeh dan kembali memandangi buku Matematika-nya. "Sekarang, siapa pun yang merasa jenius, tolong ajari aku ini."
Naruto mengernyitkan alisnya saat tidak ada jawaban dari teman-temannya. Dia mendongak dan melihat Sasuke, Shikamaru, dan Gaara masih melamun memandangi pintu gedung tempat si hot pinky tadi masuk. Naruto menganga.
Naruto menoleh ke belakangnya, melihat Neji dan Sai yang memutar bola matanya melihat kelakuan ketiga teman mereka.
To Be Continued
LOHA LOHA!
Akhirnya bisa apdet juga. Ha ha, Cherry lagi gak sempat apdet fic yang laen karena terbentur jadwal UAS dan sidang kelulusan..*udah mau lulus lho..hehe**&%&^$# Tapi sempet2in bikin capter 2 buat Kirin Scandal, mungkin ini apdet terakhir sebelum Cherry sidang. Untuk sementara hiatus dulu deh, takut gak sempat luangin waktu buat apdet, tapi pasti fic laen diapdet kok,,, :P
Huh, susah juga bikin karakter Sakura yang tomboy tapi seksi, makluminlah kalau kurang kena karakternya… Namanya juga masih belajar..*9(*^^$ # XD PLAK!
Yeaahh, Cherry bner2 gak nyangka ternyata banyak juga yg suka fic ini, saya kira ide ceritanya sama sekali gak menarik.,,, *(*^$tapi tetap nekat publish..
Ya memang anak-anak Kaito dibikin jadi berandalan, tapi bukan berarti mereka gak punya malu atau perasaan minder dunks,, hehe, untuk pairingnya udah jelas SasuSaku, untuk pair yang lain menyusul dah! XD *ditabok
Kayaknya udah pada bisa nebak siapa cowok yang selalu nolong Ino,, ya ya ya itu Sakura,, pasti udah pada bisa nebak,, tapi tenang aja, ini fic Straight tulen, gak ada Yuri-atau Yaoi… Sakura punya alasan sendiri nolong Ino terus,,
Di chapter ini SasuSaku belum terlalu banyak, di chapter2 selanjutnya bakalan banyak doonkk,,Chapter ini lebih fokus ke Sakura dulu.. hehe..
Well, semoga aja chapter ini memuaskan, cherry udah gali semua ide-ide cerita yang (menurut saya) bagus untuk fic ini.. Dan cherry berharap semoga gak mengecewakan para readers sekalian…
Tengkyu banget buat yang udah baca n review chapter kemaren, cherry ampe mau nangis baca reviewnya saking terharu…*Peluk-peluk ^&% XDditendang..#
xxxkshineiiiga21737, Jessica Sarutobi, cloUdis'ta-chan, Fille Innocente , Burung Hantu, Mey Hanazaki, Reysa J , SRZ , Seisheira , 234567890 , Ucucubi, Ran Murasaki SS , Retno UchiHaruno, Naomi Kanzaki , sasa-hime, SakuraChiha93 , Green Mkys , Miss Devil A , iya baka-san, TomatoCherry, Sakusasu 4ever, Kelinci pink, Ayano Futabatei , feraz, Uchiha Hime is Poetry CeLemoet, GHEIYA , Asakura Ayaka , Arakafsya Uchiha , Guest, cherrysakusasu, .77, Momo Haruyuki, akasuna no ei-chan, taintedIris , Nurul UchihaSakura, Mizuira Kumiko , Sami haruchi, Karasu Uchiha, Erizu Hernandhez , Chintya Hatake-chan, Yukina Itou Sephiienna Kitami , Ai Tanaka, Megucchichan, Amaterasu861015, aswati, Haruno Agatha, Redsans Mangekyou, Anderan Tristan, Sky pea-chan, Kira Hirata, Anka-Chan, Aika Yuki-chan, Yuki Chynta, Iin, Cheriamethyst , endless night, Tsurugi De Lelouch , sakubelle, sakune yuui, WonderWoman Numpak Rajawali , Kiki RyuEunTeuk , Sherry Kurobara, Lee XiuMin, 4everBY, Saku-chan cute, Ryu kun, Lyrth, kissfromheaven, dan anonym19.
So Now, everybody! *alah sok inggris* maukah kiranya para reader memberikan review buat fic yang gak seberapa ini? ^O^ V
